Tampilkan postingan dengan label Jim Yong Kim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jim Yong Kim. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 November 2014

Jaminan Kesehatan Universal

Jaminan Kesehatan Universal

Jim Yong Kim  ;  Presiden Grup Bank Dunia
KOMPAS, 06 November 2014

                                                
                                                                                                                       


PARA  pemimpin di negara berkembang sering mengatakan mereka ingin memperbaiki daya saingnya serta memberantas kemiskinan dan melindungi kelas menengah mereka dari kerentanan kembali jatuh miskin. Apabila kita belajar dari negara-negara seperti Brasil, Tiongkok, Thailand, dan Turki, keinginan itu dapat dijawab dengan menghadirkan jaminan kesehatan universal sebagai investasi terdepan. Dengan memberi masyarakatnya akses terhadap kebutuhan paling dasar, India adalah negara terakhir yang memperkenalkan jaminan kesehatan universal.

Menyumbang pertumbuhan

Manfaat ekonomi dari jaminan kesehatan universal sangat luas. Simak laporan ”Komisi Lancet tentang Investasi pada Kesehatan”, yang berfokus pada ukuran pertumbuhan suatu negara. Laporan ini menemukan bahwa dari tahun 2000 ke 2011, belanja kesehatan yang tinggi menjadi alasan di balik setidaknya seperempat dari pertumbuhan yang terjadi di negara-negara berkembang.

Jaminan kesehatan universal melindungi orang miskin dan hampir miskin dari bencana ekonomi dan sosial yang bisa terjadi akibat tingginya ongkos berobat. Hal tersebut telah memiskinkan sampai 100 juta orang per tahun di seluruh dunia. Dengan meningkatnya pendapatan dan munculnya golongan kelas menengah yang cukup besar, wajar apabila harapan publik semakin tinggi akan hadirnya sistem kesehatan yang baik di negara-negara berkembang. Survei yang dilakukan di Brasil menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan menempati urutan teratas. Tentu memenuhi harapan publik seperti ini bukan masalah kecil.

Teknologi medis yang mutakhir kini sudah tersedia bagi negara-negara berkembang. Yang belum tersedia adalah kemampuan membayarnya. Ketika sistem kesehatan mulai dirasa memberatkan beban, negara harus lebih cerdas lagi dalam mengelola belanjanya, sambil tetap menjaga pengeluaran dalam batasannya.

Unsur demografi juga penting. Di Tiongkok, jumlah orang berusia 65 tahun ke atas akan berlipat tiga kali dari 123 juta menjadi 330 juta pada 2050, atau seperempat jumlah penduduk. Ketika orang semakin menua, dan dengan gaya hidup berubah, beban penyakit berat melonjak hingga 80 persen dari masalah penyakit secara keseluruhan.

Namun, di sisi lain, banyak sistem kesehatan yang tidak siap. Penderita diabetes naik drastis di Indonesia, tetapi hanya separuh dari pusat-pusat kesehatan masyarakat punya alat untuk mendeteksi penyakit tersebut. Banyak negara tak bisa menyajikan akses layanan gawat darurat yang baik untuk penyakit kardiovaskular atau diagnosis dan pengobatan kanker.

Analisis kami tentang program jaminan kesehatan universal di 24 negara menunjukkan bahwa perlindungan dan pelaksanaan pengobatan (coverage and implementation) paling lemah justru terjadi pada penyakit tak menular meskipun penyakit tak menular yang mendominasi masalah kesehatan di negara-negara berkembang.

Mengatasi tantangan

Bagaimana mengatasi ini? Salah satunya melalui pemotongan biaya perawatan rumah sakit (admissions cost) di negara-negara berkembang. Di Tiongkok, biaya perawatan rumah sakit pada 2003 dan 2008 melonjak hampir dua kali lipat. Tren untuk memindahkan pasien luar menjadi pasien dalam untuk memaksimalkan penggantian biaya adalah mahal, tidak efisien, dan tidak adil.

Namun, bagaimanapun, upaya mengurangi biaya dan frekuensi kunjungan ke rumah sakit akan bergantung pada insentif yang diberikan. Pengalaman Brasil dan negara lain menunjukkan bahwa peningkatan anggaran pada layanan dasar kesehatan dapat mengurangi biaya rumah sakit. Layanan dasar yang berbasis komunitas, yang efektif dikoordinasikan dengan jaringan layanan sosial lainnya, dapat mengurangi timbulnya penyakit.

Selain itu, layanan dasar juga efektif mengurangi komplikasi dan memfasilitasi akses ke berbagai layanan kesehatan dalam sistem. Merekrut dan melatih lebih banyak pekerja kesehatan berbasis komunitas juga akan menciptakan pekerjaan dan meningkatkan peluang ekonomi di komunitas miskin dan terpencil. Hal ini lebih efektif untuk pembagian tugas sehingga dokter dan perawat bisa ditugaskan lebih efisien.

Pemerintah negara-negara berkembang selayaknya juga bekerja sama dengan sektor swasta untuk memotong biaya layanan kesehatan dan memperluas layanan berkualitas. Saya baru-baru ini mengunjungi Grup Aier Eye di Tiongkok yang mengobati secara umum lebih dari dua juta orang per tahun untuk masalah mata, menggunakan prosedur operasional dan teknologi baru. Negara Bagian Uttarakhand di India kini sedang menguji coba sebuah sistem di satu daerah terpencil yang menerapkan jaringan layanan publik dan swasta yang terintegrasi, berbasis komunitas dengan layanan telemedis.

Hal lain, negara-negara berkembang juga perlu mengembangkan model pembiayaan kesehatan yang terjangkau, cerdas, dan berkelanjutan. Thailand dan Turki telah maju beberapa langkah dengan menggunakan skema prabayar untuk mengurangi pembiayaan tunai, skema yang dirasakan lebih menerapkan asas keadilan. Di Filipina, kutipan pajak dari alkohol dan tembakau berhasil menghimpun cukup banyak dana untuk membiayai perlindungan kesehatan universal.

Banyak dari masalah yang dihadapi negara berkembang sesungguhnya serupa dengan negara berpenghasilan tinggi, hanya solusinya yang berbeda. Menyediakan sistem perlindungan kesehatan yang universal membutuhkan pengembangan model layanan kesehatan publik baru serta moda pembiayaan yang mudah beradaptasi dengan kebutuhan yang berubah. Namun, apabila kita bisa menjawab hal tersebut, manfaatnya akan sangat besar. Kesehatan jasmani dan rohani masyarakat akan meningkat dan jalan untuk masa depan ekonomi yang kuat dan sejahtera akan semakin terbuka.

Minggu, 27 Oktober 2013

Menuju Pengakhiran Kemiskinan

Menuju Pengakhiran Kemiskinan
Jim Yong Kim  ;    Presiden Grup Bank Dunia
KOMPAS, 26 Oktober 2013


Saat ini, lebih dari 1 miliar warga dunia hidup dengan pendapatan di bawah 1,25 dollar AS atau sekitar 12.000 rupiah per hari.
Hal ini membebani hati nurani kita semua. Mereka harus segera dibantu untuk dibebaskan dari kemiskinan, tanpa pandang bulu, apa pun situasi mereka, di mana pun mereka berada. Penghapusan kemiskinan ekstrem sebelum 2030 dan peningkatan kesejahteraan bersama bagi 40 persen penduduk terbawah di seluruh dunia juga menjadi tujuan Grup Bank Dunia yang mengalami pembaruan April lalu.
Pencapaian tujuan pertama— penghapusan kemiskinan ekstrem sebelum 2030—akan menjadi keberhasilan bersejarah, tetapi sangat sulit diwujudkan. Sejumlah kemajuan telah tercapai, tetapi tidak ada yang pasti ketika melawan kemiskinan. Semakin dekat tujuan, semakin sengit perjuangan. Pertumbuhan global mungkin akan melemah. Para investor mungkin akan lebih hati-hati. Ketersediaan dana jangka panjang untuk membangun infrastruktur—yang begitu langka tetapi sangat dibutuhkan—mungkin akan berkurang.
Tujuan kedua—peningkatan kesejahteraan bersama—sangat relevan bagi semua negara, dari kawasan Timur Tengah hingga Afrika, dari kawasan Asia hingga Amerika Latin. Ihwal terjadinya Arab Spring serta gelombang revolusi rakyat yang serupa di Turki, Brasil, dan Afrika Selatan berangkat dari keinginan bersama untuk menjadi bagian dari kelas menengah dunia. Media sosial membuat semacam ”kelas menengah virtual”, meminjam kata-kata Thomas Friedman, yang akan terus mengetuk pintu kesempatan hingga terdobrak. Kita perlu memperhatikan apakah pertumbuhan ekonomi dinikmati seluruh lapisan masyarakat atau terbatas kalangan elite saja.
Kedua tujuan untuk penghapusan kemiskinan ekstrem dan peningkatan kesejahteraan bersama perlu strategi lebih selektif. Pertama, selektif ketika menentukan prioritas. Kemudian, penghentian kegiatan yang tak lagi bersifat prioritas. Grup Bank Dunia sendiri tak akan lagi terlibat di bidang-bidang yang lebih dikuasai pihak lain, ataupun untuk sekadar memenuhi target peminjaman. Bank Dunia akan menjadi bank solusi di mana hasil pembangunan bagi warga miskin menjadi tolak ukur utama.
Arah pembangunan
Kita harus berfokus sepenuhnya pada kedua tujuan. Dukungan akan diberikan pada proyek- proyek yang bisa mengubah arah pembangunan suatu negara atau wilayah meski upaya itu mungkin gagal. Akan diupayakan pula penciptaan mekanisme pendanaan yang dapat membuka peluang bagi pendanaan jangka panjang, yang kini sangat dibutuhkan sejumlah negara.
Ada tiga elemen yang patut disoroti dari strategi baru ini. Pertama, menggandeng sektor swasta untuk memberantas kemiskinan dan membuka lapangan kerja bagi kaum miskin.
Kedua, meningkatkan komitmen kepada negara-negara yang rentan dan terkena dampak konflik. Saya berharap bantuan yang disalurkan melalui International Development Association (IDA) yang diperuntukkan bagi negara-negara termiskin naik 50 persen dalam tiga tahun ke depan. Dukungan IFC bagi negara-negara konflik diharapkan juga meningkat 50 persen tiga tahun mendatang. Sejumlah masalah yang menjadi perhatian dunia, termasuk pemberdayaan perempuan dan mitigasi perubahan iklim, juga harus jadi perhatian.
Jika hendak menghapus kemiskinan ekstrem, daya tahan warga miskin harus ditingkatkan dan dilindungi dari berbagai gejolak, misalnya perubahan iklim. Dengan demikian, warga miskin dapat menikmati kemajuan— dan mempertahankan kemajuan tersebut. Beberapa waktu lalu, 60.000 warga menghadiri Festival Warga Dunia (Global Citizens Festival) di Central Park, New York, guna menyerukan pengakhiran kemiskinan.

Kemiskinan ekstrem merupakan isu moral terbesar dalam hidup kita. Jangan biarkan lebih dari satu miliar penduduk dunia menderita dalam kemiskinan ekstrem jika kita memiliki sarana dan prasarana untuk memperbaiki hidup mereka. Sejumlah masalah, seperti perubahan iklim, berpacu melawan waktu. Martin Luther King Jr mengatakan, ”Waktu selalu tepat untuk melakukan hal benar.” Kini waktunya untuk melangkah. Kita semua dapat menciptakan perubahan. Mari kita wujudkan. ●

Minggu, 19 Mei 2013

Perdamaian Great Lake Afrika

Perdamaian Great Lake Afrika
Ban Ki-moon ;  Sekjen PBB
Jim Yong Kim ;  Presiden Bank Dunia
REPUBLIKA, 18 Mei 2013

Saat ini kawasan Great Lake Afrika memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu yang dapat menghindarkan penduduknya dari perang yang menjemukan selama beberapa dekade. Hal tersebut dapat menghentikan konflik, meningkatkan kepercayaan dan perdagangan antarnegara, mendidik jutaan anak-anak yang putus sekolah, memberdayakan perempuan, dan membuka peluang ekonomi yang akan membantu negara-negara tersebut untuk menempuh jalan menuju kemakmuran, tata pemerintahan yang baik, dan stabilitas yang berkelanjutan.

beberapa hari ke depan, kami akan mengunjungi Republik Demokratik Kongo (RDK), Rwanda, dan Uganda untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin di kawasan tersebut dan mengumumkan berbagai komitmen khusus untuk mem- percepat pertumbuhan dan mengonsolidasikan perdamaian. Kunjungan bersama yang juga perdana ini diprakarsai oleh kesepakatan baru, yakni `Kerangka Kerja Perdamaian, Keamanan, dan Kerja Sama'  bagi RDK dan kawasan sekitarnya.

Pakta ini merupakan hasil dari upaya terpadu antara Perserikatan Bangsa-Bangsa, Konferensi Internasional untuk kawasan Great Lakes (the International Conference on the Great Lakes Region), Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (Southern African Development Community), serta Uni Afrika. Pakta ini menyadari bahwa untuk mengakhiri lingkaran konflik dan bencana di RDK bagian timur, diperlukan pendekatan baru. 

Mengelola krisis dan menangani daerah pascakonflik tidaklah cukup. Kita harus mengatasi penyebab konflik yang paling dasar. Sesuai dengan yang telah ditandatangani oleh 11 negara, kesepakatan tersebut mengharuskan adanya tindakan dari pemimpin-pemimpin daerah, dengan dukungan dari komunitas internasional untuk menangani tantangan keamanan dan pertumbuhan bersama. Dan, karena janji yang terucap haruslah ditepati, kesepakatan ini juga mencakup mekanisme pemantauan yang ketat untuk meyakinkan bahwa tolok ukur yang ada akan dicapai.

Kami percaya pendekatan baru yang menyeluruh ini memberikan RDK dan daerah Great Lakes kesempatan yang terbaik bagi perdamaian dan pertumbuhan ekonomi di tahun-tahun mendatang. Hanya saja, framework of hope ini, julukan yang diberikan oleh Mary Robinson, utusan khusus PBB untuk kawasan Great Lakes, membutuhkan kerja keras.

Yang mengejutkan, 70 persen dari penduduk RDK hidup dengan penghasilan 1,25 dolar AS per hari. Lebih dari 7 juta anak-anak --sepertiga dari mereka yang seharusnya bersekolah-- tidak memiliki akses pendidikan. Sebanyak 2,4 juta anak-anak menderita kekurang an gizi akut. Malaria, kolera, dan campak menja- di ancaman besar karena akses kesehatan, air dan kebersihan yang tidak memadai. Jalan-jalan masih berantakan dan lis trik merupakan hal yang langka juga mahal. Komoditas dasar harus diimpor. Sebanyak 6,3 juta penduduk membutuh- kan bantuan pangan.

Pelecehan seksual terus berlansung dengan tingkat yang mengerikan di seluruh negara, dan sering digunakan sebagai senjata perang bagi kelompok bersenjata yang beroperasi di timur. Kurangnya lapangan pekerjaan membuka lahan bagi kriminalitas. Lebih dari tiga juta penduduk Kongo telah melarikan diri dari rumah mereka demi keselamatan, termasuk 2,6 juta pengungsi internal dan 450 ribu pengungsi di negara-negara tetangga.

Para pemimpin di kawasan Great Lakes akan menjadi kunci penggerak perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, dan seluruh komunitas internasional harus mendukung mereka. Kami berjanji bahwa kedua organisasi akan bekerja sama dengan erat menggunakan cara-cara baru dan lebih rinci agar implementasi aspek politik dan keamanan dari framework tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang penting bagi kedamaian dan stabilitas yang berkelanjutan.

Dengan memulai kembali aktivitas ekonomi dan meningkatkan mata pencaharian di kawasan perbatasan dan perdagangan lintas batas, kita bisa terus membangun kepercayaan dan memperbaiki kesejahteraan, pendapatan, dan kesempatan. Langkah tersebut juga diiringi upaya meningkatkan ketergantungan ekonomi, dengan memberantas korupsi, dan dengan memastikan bahwa semua sumber daya alam dikelola bagi manfaat bersama.

Rwanda dan Uganda telah menunjukkan bahwa memungkinkan untuk dapat pulih dari konfl ik dan maju menuju Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals). Kita sekarang ini sedang melihat setelah batas waktu Tujuan Pembangunan Millenium 2015 dan menuju agenda pembangunan berkelanjutan baru yang akan meng akhiri kemiskinan yang ekstrem. Banyak negara Afrika sedang mengambil langkah ke depan yang dinamis. Penduduk RDK layak mendapat kesempatan penuh untuk kemajuan. 

Kesepakatan damai harus memberikan hasil yang damai pula. Kami berutang kepada penduduk kawasan Great Lakes untuk membantu visi yang sejak lama mereka miliki: akhir dari konflik, anak-anak yang bersekolah, rasa hormat terhadap hak-hak perempuan, akses terhadap kesehatan dan energi yang berkelanjutan, dan pendapatan serta kesempatan bagi semua. Itulah mengapa kami melakukan kunjungan ini. Kami melihat harapan pada penduduk kawasan Great Lakes, dan kami bertekad untuk membantu dalam setiap langkah mereka. 

Perdamaian Harus Diikuti Kesepakatan Damai


Perdamaian Harus Diikuti Kesepakatan Damai
Ban Ki-moon ;  Sekjen PBB
Jim Yong Kim ;  Presiden Bank Dunia
MEDIA INDONESIA, 18 Mei 2013

SAAT ini kawasan Great Lake Afrika memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu yang dapat menghindarkan penduduknya dari perang yang menjemukan selama beberapa dekade. Hal tersebut dapat menghentikan konflik, meningkatkan kepercayaan dan perdagangan antarnegara, mendidik jutaan anak-anak yang putus sekolah, memberdayakan perempuan, dan membuka peluang ekonomi yang akan membantu negara-negara tersebut untuk menempuh jalan menuju kemakmuran. Di sisi lain juga membantu tata pemerintahan yang baik dan stabilitas yang berkelanjutan.

Dalam beberapa hari ke depan, kami akan mengunjungi Republik Demokratik Kongo (RDK), Rwanda, dan Uganda untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin di kawasan tersebut dan mengumumkan berbagai komitmen khusus untuk mempercepat pertumbuhan dan mengonsolidasikan perdamaian. Kunjungan bersama yang merupakan hal yang dilakukan untuk pertama kalinya ini diprakarsai oleh kesepakatan baru, yakni Kerangka Kerja Perdamaian, Keamanan, dan Kerja Sama bagi RDK dan Kawasan Sekitarnya.

Pakta itu merupakan hasil dari upaya terpadu antara Perserikatan Bangsa-Bangsa, Konferensi Internasional untuk Kawasan Great Lakes (the International Conference on the Great Lakes Region), Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (Southern African Development Community), serta Uni Afrika. Pakta itu menyadari bahwa untuk mengakhiri lingkaran konflik dan bencana di RDK bagian timur, diperlukan pendekatan baru.

Mengelola krisis dan menangani daerah pascakonflik tidaklah cukup. Kita harus mengatasi penyebab konflik yang paling dasar. Sesuai dengan yang telah ditandatangani oleh 11 negara, kesepakatan tersebut mengharuskan adanya tindakan dari pemimpin-pemimpin daerah, dengan du kungan dari komunitas interna sional, untuk menangani tantangan keamanan dan pertumbuhan bersama. Karena janji yang terucap haruslah ditepati, kesepakatan ini juga mencakup mekanisme pemantauan yang ketat untuk meyakinkan bahwa tolok ukur yang ada akan dicapai.

Fakta mengejutkan

Kami percaya pendekatan baru yang menyeluruh ini memberikan RDK dan daerah Great Lakes kesempatan yang terbaik bagi perdamaian dan pertumbuhan ekonomi di tahun-tahun mendatang. Hanya saja, framework of hope ini, julukan yang diberikan Mary Robinson, utusan khusus PBB untuk kawasan Great Lakes, membutuhkan kerja keras.

Yang mengejutkan 70% dari penduduk RDK hidup dengan penghasilan US$1,25 per hari. Lebih dari 7 juta anak-anak-sepertiga dari mereka yang seharusnya bersekolah--tidak memiliki akses pendidikan.
Sebanyak 2,4 juta anakanak menderita kekurangan gizi akut. Malaria, kolera, dan campak menjadi ancaman besar karena akses kesehatan, air, dan kebersihan yang tidak memadai. Jalan-jalan masih berantakan dan listrik merupakan hal yang langka dan mahal. Komoditas dasar harus diimpor. Sebanyak 6,3 juta penduduk membutuhkan bantuan pangan.

Pelecehan seksual terus berlangsung dengan tingkat yang mengerikan di seluruh ne gara, dan sering digunakan sebagai senjata perang bagi kelompok bersenjata yang beroperasi di timur. Kurangnya lapangan pekerjaan membuka lahan bagi kriminalitas. Lebih dari 3 juta penduduk Kongo telah melarikan diri dari rumah mereka demi keselamatan, termasuk 2,6 juta pengungsi internal dan 450 ribu pengungsi di negara-negara tetangga.

Para pemimpin di kawasan Great Lakes akan menjadi kunci penggerak perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, dan seluruh komunitas internasional harus mendukung mereka. Kami berjanji bahwa kedua organisasi akan bekerja sama dengan erat menggunakan cara-cara baru dan lebih memerinci agar implementasi aspek politik dan keamanan dari frame work tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang penting bagi kedamaian dan stabilitas yang berkelanjutan.

Kita bisa terus membangun kepercayaan dan memperbaiki kesejahteraan, pendapatan, dan kesempatan. Caranya dengan memulai kembali aktivitas ekonomi dan meningkatkan mata pencaharian di kawasan perbatasan, dan perdagangan lintas batas. Selain itu terus meningkatkan ketergantungan ekonomi dengan memberantas korupsi, dan dengan memastikan bahwa semua sumber daya alam dikelola bagi manfaat bersama.

Rwanda dan Uganda telah menunjukkan bahwa memungkinkan untuk dapat pulih dari konflik dan maju menuju Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals). Kita sekarang ini sedang melihat setelah batas waktu Tujuan Pembangunan Milenium 2015 dan menuju agenda pembangunan berkelanjutan baru yang akan mengakhiri kemiskinan yang ekstrem. Banyak negara di Afrika sedang mengambil langkah ke depan yang dinamis. Penduduk RDK layak mendapat kesempatan penuh untuk kemajuan.

Kesepakatan damai harus memberikan hasil yang damai pula. Kami berutang kepada penduduk kawasan Great Lakes untuk membantu visi yang sejak lama mereka miliki: akhir dari konflik, anak-anak yang bersekolah, rasa hormat terhadap hak-hak perempuan, akses terhadap kesehatan dan energi yang berkelanjutan, dan pendapatan dan kesempatan bagi semua. Itulah mengapa kami mela kukan kunjungan ini. Kami melihat harapan di penduduk kawasan Great Lakes, dan kami bertekad untuk membantu dalam setiap langkah mereka.

Jumat, 02 November 2012

Kemiskinan dan Ketidakpastian Global


Kemiskinan dan Ketidakpastian Global
Jim Yong Kim ;  Presiden Grup Bank Dunia
KOMPAS, 02 November 2012


Para pemimpin dunia sewajarnya khawatir akan kerentanan krisis ekonomi global sekarang ini. Banyak di antara mereka terus mengikuti perkembangan yang terjadi di zona Eropa, terutama dengan situasi yang kian genting di Yunani dan Spanyol.
Namun, tidak hanya zona Eropa atau negara-negara maju lain yang terancam. Negara-negara berkembang pun ikut terancam, terutama mereka yang tergolong rentan, seperti negara-negara Sub-Sahara Afrika dan Haiti.
Kita tidak bisa kehilangan fokus terhadap negara-negara seperti ini. Kita harus fokus pada dua tujuan yang saling berkaitan, yaitu mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam jangka waktu yang lebih singkat dan mendorong pemerataan kemakmuran di tiap-tiap negara.
Banyak pihak menganggap tugas ini terlalu berat. Namun, lebih dari 1 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem dan mereka tidak mampu menunggu lebih lama.
Selama beberapa tahun terakhir, lebih dari 50 persen pertumbuhan dunia berasal dari negara-negara berkembang. Dan, ketika negara-negara yang rentan menjadi semakin terpuruk akibat konflik atau perselisihan, kita kehilangan kesempatan untuk mengangkat mereka dari jerat kerentanan dan membawa mereka ke jalur pertumbuhan yang lebih stabil, di mana mereka bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi global.
Tiga Pilar
Jalan menuju penghapusan kemiskinan dan peningkatan kemakmuran harus bertumpu pada tiga pilar. Pertama, pembangunan harus didasari solusi-solusi berbasis bukti yang baru. Di tengah pesimisme global beberapa tahun terakhir, harus diingat bahwa persentase penduduk termiskin turun sebanyak 50 persen dalam 25 tahun terakhir. Ini merupakan rekor bersejarah dalam membawa penduduk dunia keluar dari kemiskinan ekstrem.
Mari kita lihat perkembangan di Afrika. Menjelang 2015, sekitar 41,2 persen penduduk Afrika diperkirakan masih hidup dengan pendapatan kurang dari 1,25 dollar AS per hari. Bandingkan dengan di Asia Selatan yang 24 persen serta di Asia Timur dan Pasifik yang 7,7 persen. Angka-angka ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi oleh Afrika, meski harus diakui benua ini mulai bergerak ke arah yang benar mengingat pada tahun 2008 jumlah penduduk Afrika yang hidup di bawah garis kemiskinan masih 47 persen.
Kita harus segera mencari jalan untuk mempercepat kemajuan ini. Satu dekade sebelum krisis finansial global (2008- 2009), pertumbuhan ekonomi negara-negara Sub-Sahara Afrika rata-rata mencapai 5-6 persen per tahun. Kini, sebagian besar perekonomian negara-negara Afrika telah pulih dan melampaui tingkat prakrisis. Jika pertumbuhan rata-rata ini dapat terus dipertahankan, PDB Afrika bisa meningkat dua kali lipat dalam kurun sekitar 12 tahun.
Kedua, kita perlu lebih memperhatikan masalah kesetaraan dan keadilan dalam proses pembangunan ekonomi. Kita perlu mengambil langkah aktif untuk memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dapat dirasakan masyarakat tingkat bawah dan menengah. Kita perlu menyadari bahwa lapangan pekerjaan adalah dasar dari pembangunan dan 90 persen dari seluruh lapangan pekerjaan di dunia berkembang berasal dari sektor swasta. Pemerintah harus menciptakan iklim usaha terbaik untuk mendorong pertumbuhan inklusif.
Ketiga, kita perlu lebih fokus pada hasil dan implementasi dalam segala upaya pembangunan. Kita perlu membuahkan lebih banyak hasil dengan sumber daya yang terbatas. Karena itu, kita perlu berpikir secara lebih ilmiah dalam memberikan pelayanan publik dengan membangun sistem-sistem kuat yang dapat diandalkan dan mampu bertahan.
Bank Dunia sendiri dituntut untuk berubah, yakni menjadi bagian dari solusi. Menjadi bank solusi. Saya tidak mengatakan bahwa kita memiliki semua solusi; memang tidak. Namun, kita dapat membantu mengumpulkan dan menyebarkan solusi-solusi untuk isu-isu tersulit seputar pertumbuhan dan pembangunan di seluruh dunia.
Upaya Global
Ide-ide terbaik dalam pembangunan datang dari segala penjuru dunia. Apa yang perlu kita lakukan sekarang adalah membantu mengumpulkan solusi-solusi berbasis bukti dari segala penjuru dunia, membangun suatu ”ilmu pelayanan” (science of delivery), dan menerapkan solusi-solusi ini di lapangan. Bank Dunia menyumbang lewat segudang data pembangunan, kemampuan analisis, dan pengalaman di lapangan selama puluhan tahun yang dimilikinya.
Dalam perekonomian global sekarang ini, kita harus bersatu padu. Kita perlu membuka jalur yang mengarah pada kemakmuran dan tidak meninggalkan siapa pun. Martin Luther King Jr menggambarkan ambisi universal untuk meraih kemajuan dan harga diri ini dengan kutipan berikut: ”Lengkungan busur moral dari alam semesta berada pada lengan keadilan.” Sudah tiba saatnya melengkungkan busur sejarah. Dengan solidaritas global dan dorongan kuat mencapai hasil pembangunan, kita bisa, kita harus, dan kita akan mengakhiri kemiskinan dan membangun kemakmuran setara.