Tampilkan postingan dengan label Profesor Sajogyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profesor Sajogyo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2012

Jalan Sunyi Prof Sajogyo


Jalan Sunyi Prof Sajogyo
Eko Cahyono, Pengurus Badan Eksekutif Sajogyo Institute (SAINS),
Lulusan Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB,
Asisten Staf Pengajar di Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) IPB
SUMBER : SINDO, 23 Maret 2012



Tepat saat azan subuh berkumandang, Sabtu, 17 Maret 2012, Guru Besar Sosiologi Pedesaan IPB Prof Dr Ir Sajogyo berpulang ke rahmatullah. Dalam rasa kehilangan, beragam ulasan dan pandangan dari kolega, sahabat, murid, dan pengagum beliau dituliskan.

Tentu saja beragam pandangan itu sangat bergantung pada bentuk dan hubungan masing-masing dengan almarhum. Dalam kesempatan dan ruang terbatas ini, saya pribadi ingin ikut bersuara sebagai bagian dari generasi “cicit” yang bukan saja jauh secara usia, melainkan juga tidak pernah mendapat “didikan akademik” secara langsung di perguruan tinggi.

Namun, kami kebetulan mendapat kemewahan untuk bisa “nyantri” dengan Eyang Sajogyo (panggilan akrab kami di lingkaran penggiat Sajogyo Institute). Kami semua berkumpul di “padepokan Sajogyo Institute”yang didirikan oleh para kolega, sahabat, dan para murid beliau untuk meneruskan cita-cita dan idealisme Eyang Sajogyo serta istri beliau, Prof Pudjiwati Sajogyo, pada 2005.

Pada 22 Desember 2011 di kediaman beliau, Jalan Malabar 22, Bogor, dalam suasana yang sederhana namun hikmat telah ditandatangani surat pewakafan lahan dan bangunan beserta isinya (termasuk di dalamnya ribuan pustaka pribadi Prof Sajogyo) kepada badan pengelola wakaf di lingkungan keluarga besar Sajogyo Institute.

Seolah-olah sudah menangkap tanda-tanda alam, Eyang Sajogyo ingin menyelesaikan “tanggung jawab keduniawiannya” secara tuntas. Beliau tampaknya tak ingin ada beban “materialistik” duniawi, yang baginya hanya “titipan” semata. Sekaligus dapat terbaca dengan jelas sebagai sebuah penegasan dari apa yang sering beliau sampaikan dalam banyak kesempatan, “Biarlah apa yang sudah saya lakukan, diambil alih oleh generasi selanjutnya.”

Tentu saja makna “wakaf” material itu belum seberapa dibandingkan “wakaf nilai keteladanan, sikap hidup, buah pemikiran, dan beragam tapak idealisme keilmuannya”. Meski demikian, tapak panjang karya dan dedikasi Prof Sajogyo yang telah diakui oleh beragam kalangan tak pernah membuatnya menjadi sosok intelektual menara gading. Sebab baginya, “Ngelmu iku kelakone kanthi laku..”

Artinya, ilmu itu terbangun-laksanakan oleh karena praktik perbuatan. Sulit bagi Eyang Sajogyo memahami makna “ilmu yang bebas nilai” atau “ilmu untuk ilmu”, beserta turunan watak keilmuan-keintektualan yang ignorance atas realitas ketidakadilan sosial-ekonomi. Dengan dasar ruh semacam ini, bagi beliau, berilmu berarti berpihak. Kepada siapa? Kepada mereka yang tertindas dan termarginalkan, khususnya petani gurem, buruh tani, petani kecil, dan mereka yang miskin dan termiskinkan baik secara kultural maupun struktural.

Karena itulah, banyak kalangan melihat bahwa keprihatinan dan fokus keilmuan Prof Sajogyo berangkat dari persolan “dinamika kelompok miskin pedesaan”. Bagi Prof Sajogyo, persoalan kemiskinan struktural yang multidimensional masyarakat pedesaan harus dilihat pada akar persoalan yang sebenarnya yaitu ketimpangan penguasaan sarana-sarana produksi keagrariaan.

Bagaimanapun positifnya intervensi negara dalam penaganan kemiskinan dan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat, ketika ketimpangan penguasaan sarana produksi keagrariaan di atas masih timpang, itu tidak membawa penyelesaian sejati, bahkan bisa memperparah ketidakadilan sosial. (Wahono, 2011).

Untuk itu, Prof Sajogyo bersama Dr Gunawan Wiradi dan Prof Tjondronegoro dan para penerus “Mazhab Bogor” lainnya meyakini dan terus mengumandangkan penegakan Reforma Agraria sebagaimana dimandatkan Undang-Undang No 5 mengenai Pokok Agraria Tahun 1960 (UUPA 1960).

Di tengah rezim Orba yang menabukan persolan Reforma Agraria, Prof Sajogyo (1976) menulis,“...Jika pemerintah punya kebijaksanaan berpandangan jauh, potensi golongan buruh tani (kepala keluarga) sebanyak itu di Jawa dapat dimobilisasi. Caranya? Dengan land reform!’ Idenya adalah, pemerintah membeli tanah-tanah pertanian yang kecil-kecil itu untuk kemudian disatukan menjadi satu unit produksi yang dikelola oleh apa yang ia namakan Badan Usaha Buruh Tani (BUBT), yang pengelolaannya ada di tangan petani gurem tersebut”.

Pemikiran Prof Sajogyo yang berwatak Sosialisme Kerakyatan (Wahono, 2011) menempatkannya pada barisan kelompok intelektual sosial kritis Indonesia yang “sepi” dari ingar-bingar selebritas intelektual yang pada zamannya dulu banyak berada di seputar kekuasaan negara (Orba). Sikap ‘emoh’ selebritas itu sangat kuat memancar dalam kesederhanaan dan kebijakan sikap hidup yang ditunjukkannya dalam keseharian.

Tak hanya soal penampilan, sikap, laku tindak, dan ucapnya adalah manifestasi dari integritas dan otoritas keilmuannya. Kini pilihan “jalan sunyi” Prof Sajogyo berhadapan dengan zaman “dol-dolan” (komersialisasi) segala hal demi dan atas nama liberalisasi pasar. Sumber-sumber agraria nasional (tanah, air, hutan, laut, keanekaragaman hayati, dan sebagainya) telah dikapling-kapling oleh kekuatan pemilik modal (national dan trans national corporation).

Belum lagi masalah ketergantungan bahan pangan impor, terancamnya sumber energi, serta sumber daya air. Seiring dengan itu juga terjadi bentuk-bentuk ”komersialisasi intelektualitas” yang bekerja demi legitimasi dan justifikasi ilmiah atas ekstraksi dan eksploitasi sumber daya alam demi akumulasi modal yang mengingkari semangat UUD 1945, khususnya Pasal 33.

Akhirnya, jika kami generasi “cicit” diminta membuat rangkaian kata mengenang kepergian Eyang Sajogyo, beliau adalah “teladan hidup dan sosok intelektual penjaga kewarasan berpikir, bersikap, dan bertindak untuk keadilan sosial-ekologis”. Selamat jalan Eyang, kami akan meneruskan cita-citamu.
●

Kamis, 22 Maret 2012

In Memorium Prof Dr Ir Sajogyo : Temanku, Guruku, Bapakku


In Memorium Prof Dr Ir Sajogyo :
Temanku, Guruku, Bapakku
Gunawan Wiradi, Guru dan Doktor Agraria, Sahabat,
Murid dan “Anak Ideologis” dari Prof. Sajogyo
SUMBER : SINDO, 22 Maret 2012



Sabtu pagi,tanggal 17 Maret 2012, sekitar pukul 06.00 WIB, pagi sehabis mandi, saya membuka telepon seluler (ponsel).Tenyata sudah ada tujuh SMS yang masuk ketika saya sedang mandi.

Tentu saja, ketika ponsel saya buka, yang pertama muncul adalah SMS yang masuk terakhir. Bunyinya,“ Satu jaman telah berlalu, sepertinya kita sudah mandiri. Namun, dengan kepergiaan beliau, rasanya limbung juga, apakah kita benar bisa berjalan sendiri”. Deg... Berdebar hati saya. Apa arti kata “kepergian beliau” dalam SMS itu? Cepat saya buka SMS yang lain. Semuanya memberi tahu bahwa satu jam yang lalu Prof Sajogyo telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Bukan basabasi, terus-terang, air mata saya berlinang seketika. Dengan cepat, setelah berkomunikasi dengan Prof.Tjondronegoro, kami berdua sepakat segera pergi ke rumah duka. Dalam mengenang jasa dan jejak langkah almarhum Pak Sajogyo (panggilan akrab Prof Dr Ir Sajogyo),tentu banyak hal bisa diceritakan dengan panjang lebar. Setiap orang akan menguraikan sesuai dengan pengalamannya masing-masing selama berinteraksi dengan beliau.

Pemikirannya, keberpihakannya kepada kaum lemah, pengembaraan ilmiahnya, strategi perjuangannya, keteladanan sikapnya, dsb, semuanya itu dapat diulas dengan jernih dan kritis. Namun, saya merasa kekurangan katakata untuk dapat melukiskannya dengan baik dan apalagi tak mungkin semua itu disampaikan dalam ruang yang terbatas,dalam surat kabar seperti ini. Karena itu,dua hal pokok saja yang ingin saya sampaikan di sini secara ringkas.

Pertama, makna hakiki dari keberadaan almarhum sebagai ilmuwan, dan kedua, renungan saya pribadi sebagai manusia yang bergaul sekian lama dengan almarhum, pelajaran apa yang saya peroleh dari almarhum. Menurut saya, jasa dan makna kiprah Prof Sajogyo bukan sekadar masalah “garis kemiskinan”, bukan hanya soal Badan Usaha Buruh Tani (BUBT), bukan sekadar masalah gizi, bukan hanya soal “transmigrasi yang memindahkan kemiskinan”, dan lain sebagainya yang sudah banyak diulas oleh ilmuwan lain.

Bagi saya, hakikat dari ketokohan beliau adalah bahwa beliau merupakan personifikasi dari model pejuang yang “melawan ketidakadilan melalui ilmu pengetahuan”. Beliau membela kaum lemah melalui ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, kita turut mencerdaskan kehidupan bangsa.Dengan ilmu pengetahuan, kita menjaga persatuan bangsa.

Dengan ilmu pengetahuan, kita memahami aspirasi rakyat dan bersama rakyat. “Ilmiah, tapi manusiawi”, itulah salah satu petuah yang sering disampaikan kepada murid-muridnya, yang sempat saya catat. Semuanya itu tercermin atau dapat dilacak dari berbagai tema yang dipilihnya dalam penelitian, serta alternatif metodologi yang dikembangkannya.

Di samping sikapnya dalam hal penelitian,ada satu hal yang amat bermanfaat, setidaknya bagi saya; mantan Perdana Menteri Inggris di Akhir Abad ke-17, Disraeli, pernah menyatakan bahwa: “Masa muda adalah masa ketololan. Masa dewasa adalah masa perjuangan. Masa tua adalah masa penyesalan!” Barangkali, pernyataan tersebut didasarkan atas pengalaman hidup Disraeli sendiri.

Tetapi, walaupun secara implisit, petuah almarhum Pak Sajogyo yang dapat saya tangkap adalah berbeda: “Masa muda adalah masa penggemblengan, yaitu masa belajar dan pembajaan diri. Masa dewasa adalah masa perjuangan,dan masa tua adalah masa kearifan.” Begitulah seharusnya!

Renungan Lain

Di tahun 1950-an sistem pendidikan tinggi di Indonesia adalah sistem warisan Belanda, yang kenaikan jenjangnya bukan berdasarkan semesteran, melainkan atas dasar ujian tahunan. Khusus di Fakultas Pertanian Bogor (yang waktu itu masih bernaung di bawah Universitas Indonesia/UI), program studi untuk menjadi insinyur adalah lima setengah tahun, terdiri dari lima tingkatan, masing-masing tingkat satu tahun, kecuali tingkat terakhir satu setengah tahun.

Setiap tahun ada ujian dan yang lulus lalu mendapat ijazah. Ketika saya masuk menjadi mahasiswa di tahun 1953, almarhum Pak Sajogyo (yang waktu itu bernama Kampto Utomo) sudah duduk di tingkat terakhir. Status itu merupakan jarak senioritas yang amat jauh dalam konteks sistem pendidikan saat itu. Walaupun demikian, kami berdua toh masih sama-sama mahasiswa, dan kebetulan sama-sama aktivis,walaupun dalam organisasi mahasiswa yang berbeda.

Kami sering bertemu dan berdebat. Itulah mengapa saya menyebut almarhum sebagai “temanku”. Tahun 1957 beliau sudah menjadi doktor dan menjadi dosen saya, bahkan kemudian tak disangka beliau menjadi pembimbing dalam menyiapkan skripsi saya. Itulah sebabnya saya menyebut “guruku”. Dalam suasana formal, almarhum Pak Sajogyo selalu nampak serius, bahkan terkesan “angker”.

Namun setelah suasana formal itu berakhir, kembali beliau menjadi “temanku”, santai, kadang bergurau, bahkan kadang berdiskusi mengenai soal-soal kehidupan, di luar soal mata kuliah. Dalam suasana demikianlah beliau adalah “guruku” dalam arti luas. Almarhum Prof Sajogyo adalah juga “bapakku”. Ketika suatu saat saya mengalami “puncak kesulitan”, beliaulah yang mengulurkan tangan menolongku.

Ketika saya belajar di Malaysia, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi saya, bahkan tiduran di ranjang dalam kamar saya di asrama, sambil berkata: “Jika engkau setelah lulus dari sini tak ada instansi yang mau menerima tenagamu, tak usah khawatir, bilang saya!” Peristiwa itu tak akan pernah saya lupakan. Demikianlah sekelumit renungan. Jasa almarhum bagi masyarakat, khususnya bagi pengembangan ilmu dalam dunia akademik tak diragukan telah diakui oleh banyak kalangan.

Sumbangan pemikirannya bagi kemajuan dan perkembangan bangsa ini juga telah terbukti dengan dijadikannya gagasan-gagasan beliau menjadi bahan pertimbangan bagi para penentu kebijakan. Kini, tokoh ilmuwan-pejuang itu telah tiada. Semoga amal baktinya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan segala kesalahannya diampuni-Nya. Selamat jalan Pak Sajogyo.
●

Senin, 19 Maret 2012

Bukan Sekadar Garis


Mengenang Prof Sajogyo (1926-2012) :

Bukan Sekadar Garis
Bayu Krisnamurthi, KETUA UMUM PERHEPI 2011-2014; WAKIL MENTERI PERDAGANGAN RI
SUMBER : KOMPAS, 19 Maret 2012



Ketika wartawan menanyakan bagaimana menggambarkan sosok almarhum Profesor Sajogyo dalam dua kata saat pemakaman beliau, Sabtu (17/3) lalu, saya menjawab, ”Lurus, sederhana!” Yang lurus dan sederhana adalah sebuah ”garis” sesuai karya Prof Sajogyo yang paling dikenal: Garis Kemiskinan Sajogyo.

Konsep Garis Kemiskinan masih terus dipergunakan—dengan beberapa modifikasi—bahkan hingga hari ini, saat kita membicarakan realokasi subsidi bahan bakar minyak ke program-program yang lebih langsung diterima masyarakat berpendapatan rendah.

Namun, karya Prof Sajogyo bukan hanya Garis Kemiskinan. Lahir di Karanganyar, Kebumen, 21 Mei 1926, dengan nama Sri Kusumo Kampto Utomo, Sajogyo lulus sarjana tahun 1955 dan mendapat gelar doktor 2 tahun kemudian pada umur 31 tahun. Menjadi guru besar pada usia 37 tahun, Prof Sajogyo menjadi rektor IPB pada masa-masa sulit, 1965-1966, sekaligus memimpin (1963-1965) Program Bimas SSBM, yang menjadi cikal bakal dari pencapaian swasembada beras tahun 1985.

Tahun 1969, Sajogyo yang sosiolog itu juga menjadi pendiri Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, yang menegaskan bahwa dalam memandang berbagai masalah pertanian dan pedesaan dimensi sosial ekonomi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Prinsip itu masih dipergunakan banyak ahli hingga saat ini, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di banyak negara.

Prof Sajogyo, atas tugas Prof Widjojo Nitisastro dan Prof Saleh Afiff di Bappenas, menjadi Ketua Evaluasi Program Usaha Peningkatan Gizi Keluarga (1972-1973). Tugas ini melahirkan pemahaman bahwa antara gizi—khususnya asupan kalori—dan kemiskinan berkorelasi kuat. Kemiskinan menimbulkan asupan gizi yang buruk, dan gizi yang buruk dapat melanggengkan kemiskinan.

Inilah yang kemudian (1977) mendasari pemikiran bahwa ”batas kemiskinan” dapat diukur dengan tingkat asupan kalori tertentu (2.100 kkal), yang kemudian dapat ”disetarakan” dengan jumlah konsumsi beras. Belakangan, dengan memasukkan harga beras setempat, dapat dihitung jumlah rupiah pengeluaran sebagai indikator batas kemiskinan itu, atau yang dikenal dengan garis kemiskinan.

Sosiologi Pedesaan

Kesadaran bahwa masalah kemiskinan dan pedesaan merupakan masalah sangat penting dan kompleks mendorong Prof Sajogyo mendirikan Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan IPB, tahun 1973, yang kemudian menjadi Pusat Studi Pembangunan tahun 1983. ”Belajarlah dari masyarakat”, itu selalu pesan beliau kepada murid-muridnya, terutama di Program Studi Sosiologi Pedesaan yang diketuainya dari tahun 1975 hingga 1991.

Dari kajian di Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan dan Pusat Studi Pembangunan, (almarhum) Prof Sajogyo—bersama istrinya, (almarhumah) Prof Pudjiwati Sajogyo, dan para koleganya seperti Prof SMP Tjondronegoro beserta murid mereka—telah melahirkan sejumlah rintisan studi dan bangunan teori tentang studi wanita, kajian agraria, dan kajian industrialisasi pedesaan.

Interaksi Prof Sajogyo dan koleganya itu dengan pemikir dan pakar internasional juga melahirkan pemikiran dan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai fenomena masyarakat, seperti involusi pertanian, transformasi struktural tenaga kerja pedesaan, efektivitas subsidi, dan dampak mekanisasi.

Karya dan sumbangan pemikiran Prof Sajogyo yang luas dan benar-benar berarti bagi masyarakat tidak hanya diakui oleh pemerintah—yang ditandai dengan Penghargaan Satya Lencana Karya Satya Tingkat I (Presiden Soeharto, 1989), Penghargaan Bintang Jasa Utama (Presiden Soeharto, 1993), Penghargaan Satyalencana Pembangunan (Presiden BJ Habibie, 1998), dan Penghargaan Bintang Mahaputra Utama (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2009)—tetapi juga diakui oleh berbagai elemen masyarakat, antara lain BJ Habibie Award, Achmad Bakrie Award, dan penghargaan dari IPB/HA-IPB.

Karya Sajogyo jelas bukan sekadar ”garis”, juga kepribadiannya. Dengan jenggot putih panjang yang menjadi ciri khasnya, dengan suara yang sangat lembut, dan dengan kesederhanaannya yang luar biasa, Prof Sajogyo ternyata juga piawai membakar semangat.

Ketika saya pernah ragu untuk mempresentasikan suatu makalah di luar negeri, karena merasa makalah itu kurang bagus, dengan lembut beliau mengatakan, ”Masak ’merah putih’ takut berdiskusi dengan negara lain.” Sebuah ”pecutan tajam” yang tak bisa dibalas kecuali dengan ”Terima kasih, Pak Sajogyo”. ●

Selasa, 20 Desember 2011

Warisan Profesor Sajogyo untuk Studi Agraria Indonesia


Warisan Profesor Sajogyo
untuk Studi Agraria Indonesia
Endriatmo Soetarto, GURU BESAR TETAP PADA FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA IPB, BOGOR; KETUA SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL, YOGYAKARTA
Sumber : KORAN TEMPO, 19 Desember 2011



Penghargaan Habibie Award 2011 untuk Profesor Sajogyo untuk kategori ilmu sosial pada 10 November 2011 adalah satu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya pribadi sebagai salah seorang yang sangat beruntung mendapatkan kemewahan berinteraksi cukup intens dengan Profesor Sajogyo untuk waktu yang relatif panjang. 

Dalam hal ini, saya pernah berkiprah dalam beragam posisi akademis yang berbeda-beda di hadapan beliau. Dalam sudut pandang subyektif, tampak terlihat perguliran pemikiran Profesor Sajogyo yang datang dari waktu ke waktu, dari yang semula beraksen sosiologi pedesaan Indonesia yang empiris-kritis berlanjut menjadi sosiologi pedesaan Indonesia kritis-aplikatif bagi kebijakan dan praktek pembangunan pedesaan.

Profesor Sajogyo dikenal sebagai Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia atau Bapak Ekonomi-Sosiologi Indonesia sebagaimana disebut oleh Profesor Mubyarto, yang bukan hanya meletakkan fondasi bagi tersedianya pengetahuan, alat-alat konseptual, dan pendekatan yang memadai untuk memahami perubahan agraria di pedesaan Indonesia, lebih dari itu, menunjukkan bagaimana sosiologi pedesaan Indonesia dapat memberi sumbangan konkret yang layak dan bisa dikerjakan oleh para praktisi pembangunan pedesaan. Beliau telah menunjukkan cara bagaimana kelangkaan pengetahuan tentang masalah-masalah agraria di Indonesia, khususnya mengenai kehidupan lapisan terlemah di pedesaan, dapat diisi dengan penelitian dan keterlibatan langsung secara partisipatif bersama mereka yang lemah itu, sekaligus mengembangkan kemampuan berdialog dengan segenap pihak yang memberi pengaruh bukan hanya pada kalangan akademisi, tapi juga para praktisi lapangan dan pemegang kebijakan pemerintahan. Dengan demikian, mudah dimengerti jika sosiologi pedesaan Sajogyo dapat diterima dengan baik dalam proses-proses kebijakan di sejumlah badan pemerintahan.

Ilustrasi mengenai hal ini adalah andilnya kebijakan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Pada 1972, ia memimpin survei UPGK selama dua tahun dengan melibatkan peneliti-peneliti berbagai perguruan tinggi, bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan UNICEF. Hasil kajiannya antara lain disajikan menjadi panduan para kader program Taman Gizi, yakni kumpulan orang yang berorganisasi meningkatkan gizi anak balita dan keluarga. Perhatiannya ini mengantarkannya menjadi Ketua Pergizi Pangan Indonesia pada 1978, yang berafiliasi dengan International Union of Nutrition Science. Dari riset UPGK ini pulalah pada 1977 ia merumuskan pengukuran garis kemiskinan: Garis Kemiskinan Sajogyo. Sumbangsih ini berhasil mengatasi kemacetan metodologis dalam menilai dan mengukur kemiskinan, satu konsep penting dalam kajian ekonomi dan sosial. Pengukuran berdasarkan kecukupan pangan ini kemudian berkembang dan diadopsi sebagai kebijakan pemerintah dalam rumusan lain sebagai food basket atau yang sering dikenal sebagai paket kebutuhan dasar pangan empat sehat lima sempurna.

Fokus dan tema gagasan Sajogyo selalu memperkaya dan mempertajam kerangka pembangunan yang diagendakan pemerintah serta berusaha mempengaruhi arah dan keberpihakannya. Namun tentu saja ia juga mengkritiknya dengan mengemukakan nasib golongan paling lemah di pedesaan. Di sinilah kita menyaksikan Profesor Sajogyo sangatlah peduli dan prihatin terhadap apa yang ditengarai oleh gurunya, Profesor W.F. Wertheim, sebagai sociology of ignorance dari kebanyakan akademisi Indonesia dalam memahami dan memposisikan lapis termiskin masyarakat pedesaan Indonesia,
yaitu mereka yang tidak bertanah.

Karya klasiknya pada 1973 berjudul Modernization without Development in Rural
Java melakukan evaluasi-kritik terhadap Revolusi Hijau. Telaah yang diajukan untuk acara badan dunia FAO di Bangkok ini menunjukkan Revolusi Hijau—di sisi lain kesuksesan dari swasembada beras waktu itu—ternyata hanya menguntungkan petani golongan atas dan mempercepat proses hilangnya akses terhadap tanah para petani gurem dan jatuhnya kebanyakan mereka menjadi lapis termiskin di pedesaan: petani tak bertanah. Karya ini menjadi rujukan utama dalam kajian Green Revolution yang terjadi di berbagai benua.

Selanjutnya, pada 1976, tatkala isu Reforma Agraria atau land reform masih dianggap tabu, Sajogyo secara halus tapi teguh mengusulkan kembali perlunya pemerintah memberikan akses permanen buruh tani di desa-desa pada tanah melalui program penyediaan tanah kolektif. Profesor Sajogyo menulis, “... (J)ika pemerintah punya kebijaksanaan berpandangan jauh, potensi golongan buruh tani (kepala keluarga) sebanyak itu di Jawa dapat dimobilisasi. Caranya? Dengan land reform!”

Pada 1980, Sajogyo memberi kontribusi gagasan yang disebut dengan Ekologi Pedesaan. Melalui buku ini, beliau hendak menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa untuk memahami pedesaan di Indonesia, selain keniscayaan keragaman sejarah, karakteristik, serta lapisan dan dimensi sosial ekonomi dan budayanya, diperlukan pemahaman relasional yang baik antara “bentang alam”dan “bentang sosial”sebagai potret utuh pedesaan di Indonesia itu sendiri. Kedua, bahwa segala bentuk usaha untuk tujuan pembangunan ekonomi pedesaan mesti bertumpu pada swadaya dan “tenaga dalam” yang ada di pedesaan. Artinya, dengan pemahaman semacam ini, Profesor Sajogyo ingin mengingatkan pentingnya memastikan keberlanjutan “siklus reproduksi” (sosial, ekonomi, dan budaya) di pedesaan.

Di akhir karier akademisnya sebagai intelektual paripurna, Sajogyo menuliskan suatu refleksi perjalanan hidupnya Dari Praktek ke Teori dan ke Praktek Berteori.
Dengan merujuk pemikiran Robert Chambers, beliau menunjukkan jalan hidupnya “mendahulukan yang terbelakang”, yang menurut saya ini uraian paling jelas mengenai kiprah Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia tersebut. Lebih dari itu, ia melintasinya dengan menganjurkan metode kerja praksis intelektual untuk perubahan nasib “golongan paling lemah”di pedesaan, yakni mengedepankan hubungan dialektika yang tak pernah henti antara teori dan praktek atau praktek dan teori.

Dalam perspektif bidang keilmuan yang ditekuninya, sosiologi pedesaan, Sajogyo mengajak para ilmuwan dan intelektual memiliki wawasan yang utuh dan komprehensif memahami masyarakat di Indonesia. Ungkapannya yang sangat populer, mewakili watak metodologis lain dari Profesor Sajogyo, adlah,“If you want to understand the economy of my country... study my culture and our political system. If you want to understand our culture and political system...study our economy.”

Warisan intelektual Sajogyo adalah untukmasa depan studi agraria Indonesia. Untuk mendukung cita-citanya itu, pada 2005, para murid, pengagum, kolega, dan keluarganya berprakarsa mendirikan Sajogyo Institute, yang berkedudukan di kediamannya, Bogor. Profesor Sajogyo mewakafkan harta benda melalui lembaga ini. Ia tak henti-hentinya menjaga imajinasi dan selalu menyadarkan bahwa dunia agraris adalah pelahir Indonesia, penghidup bagi sekian juta penduduk, baik di desa maupun kota. Menyelamatkan Indonesia adalah membangun desa dengan segenap kedaulatan manusia dan alat-alat produksinya.

Cita-cita Sajogyo ini berkesinambungan dengan cita-cita para pendiri bangsa ini.
Cita-cita itu adalah cita-cita besar kita semua, membangun Keindonesiaan yang Cerdas dan Merdeka: “slamatkan tanahnya, slamatkan puteranya, pulaunya, lautnya semuanya. Indonesia Raya, merdeka merdeka, hiduplah Indonesia Raya”. ●