Tampilkan postingan dengan label Pemimpin Idaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemimpin Idaman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Mei 2014

Selamat Datang Pemimpin Idaman

Selamat Datang Pemimpin Idaman

M Hasan Mutawakkil Alallah  ;   Ketua Tanfidziyah PW NU Jatim
JAWA POS,  13 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
HARI-HARI ini semua orang berbicara tentang pemimpin nasional mendatang. Hampir semua berita di televisi dan koran juga dipenuhi pemberitaan mengenai hal itu. Bahkan, di tempat umum, mulai pusat perbelanjaan modern hingga pasar dan bahkan warung-warung, orang berdiskusi tentang pemimpin masa depan tersebut.

Selesainya Pileg 2014 yang segera diikuti Pilpres 2014 menjadi latar belakang menguatnya pembicaraan dan berita mengenai calon pemimpin mendatang tersebut. Rekap hasil Pileg 2014 yang baru diumumkan beberapa hari lalu memang semakin memperkuat gejala itu. Namun, hasil penghitungan cepat sebelumnya telah memberikan pemahaman tersendiri mengenai peta politik yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi siapa saja yang akan dicalonkan partai-partai peraih suara signifikan pada pileg untuk maju sebagai calon presiden.

Terlepas dari apa pun yang sedang dibicarakan untuk memilih calon pemimpin ke depan, ada baiknya mempertimbangkan beberapa kriteria pemimpin idaman berikut. Pertama, pemimpin Indonesia ke depan harus adil. Prinsip keadilan itu penting untuk menyetir roda pemerintahan dan menyelenggarakan layanan publik bagi seluruh warga bangsa dan negara ini.

Keadilan tidak boleh hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Pemimpin ke depan harus bisa menunjukkan bahwa keadilan adalah milik bangsa secara merata dan setara. Karena itu, penegakan hukum tidak boleh hanya garang untuk warga biasa. Namun, harus pula tegas terhadap semua komponen bangsa ini.

Kedua, pemimpin Indonesia ke depan harus mempunyai wawasan kebangsaan yang mapan. Kepemimpinan mendatang bangsa ini harus menyadari bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara lain, termasuk Barat sekalipun. Pengalaman kebangsaan kita sangat khas. Bangsa dan negara ini didirikan oleh berbagai komponen dari beragam suku, etnis, agama, ekonomi, dan kultur.

Multikulturalisme bukan barang baru di negeri ini. Bukan hasil impor dari Barat. Melainkan murni menjadi kekayaan kebangsaan negeri ini. Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika menjadi bagian tak terpisah dari perjalanan bangsa dan negara ini mulai awal sejarahnya hingga kapan pun. Di tengah masyarakat Indonesia yang beragam ini, kepemimpinan mendatang bangsa ini harus bisa melayani seluruh warga bangsa dari berbagai latar belakang tersebut.

Ketiga, pemimpin Indonesia ke depan harus berani mengambil keputusan tegas dalam kerangka penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedaulatan bangsa dan negara harus menjadi perhatian utama. Terlepas dari apa pun tantangan budaya, ekonomi, politik, dan agama sekalipun.

Globalisasi memang telah memberikan tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Proses menyatunya dunia melalui fenomena globalisasi tersebut, antara lain, telah membuat pertukaran gagasan di berbagai bidang tidak bisa dihindari. Di bidang ekonomi, kekuatan modal finansial telah membuat roda pengelolaan negeri ini terikat kuat.

Bahkan, di bidang keagamaan pun, mulai muncul gerakan-gerakan yang berpotensi mengancam NKRI. Munculnya gerakan transnasionalisasi agama oleh sejumlah kelompok tampak sangat identik dengan gagasan-gagasan agama yang menolak NKRI.

Karena itu, dari sejarah awalnya, Nahdlatul Ulama (NU) telah menjadi bagian dari pengawal NKRI. Melalui pengembangan Islam moderat yang ''ramah lingkungan''. Antara lain, melalui praktik Islam rahmatan lil 'alamin, NU ingin menerjemahkan Islam yang membumi dan menjadi satu dengan kekayaan sosiologis-kultural bangsa ini.

Keempat, pemimpin Indonesia mendatang harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik dalam mengelola semua kekayaan bangsa dan negara ini. Baik kekayaan sumber daya alam maupun manusia. Kepribadian yang baik saja tidak cukup untuk mengelola kewenangan publik. Harus diikuti kecakapan dan keterampilan mengelola pemerintahan yang baik pula.

Kekayaan alam yang berlimpah, mulai daratan hingga lautan, tidak akan bisa dikelola dengan kemampuan serta keterampilan mengelola pemerintahan yang biasa-biasa saja. Kekayaan sumber daya manusia yang kini mencapai hampir seperempat miliar semakin menambah persoalan pengelolaan sumber daya alam yang memiliki tantangan yang tidak ringan.

Ketiadaan kemampuan dan keterampilan dalam mengelola dua sumber kekayaan bangsa dan negara itu akan mengakibatkan terpuruknya bangsa dan negara ini. Padahal, persaingan dunia ke depan tidak saja ditentukan melimpahnya kepemilikan atas sumber daya alam. Melainkan juga oleh kepemilikan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif.

Karena itu, kepemimpinan Indonesia ke depan harus diperkaya dengan kemampuan dan keterampilan pengelolaan yang baik serta efektif terhadap sumber daya alam dan manusia. Antara lain, mengawal agar otonomi daerah bermanfaat bagi bangsa.

Kelima, pemimpin Indonesia ke depan harus mengutamakan kepentingan rakyat secara luas daripada kepentingan sendiri atau kelompok. Dalam bahasa agama, pemimpin Indonesia ke depan harus dituntun prinsip-prinsip altruistik, santun, dan melayani.

Altruistik mengantarkan seorang pemimpin jauh dari pemujaan terhadap kepentingan sendiri. Santun membuat seorang pemimpin mampu mendengar aspirasi rakyatnya. Santun menjauhkan pemimpin dari kepongahan pribadi. Apalagi kekuasaan sering membuat orang pongah. Prinsip melayani juga akan mengantar seorang pemimpin untuk mengelola jabatannya sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa.

Memimpin Indonesia lima tahun ke depan sangat berperan mengantarkan bangsa dan negara ini untuk berbicara lebih banyak dan lebih luas di kancah internasional. Capaian bidang ekonomi yang mengantarkan Indonesia menjadi anggota G-20, stabilitas politik yang mengiringi transisi demokrasi, serta perkembangan sosiologis penuh damai harus ditopang kepemimpinan yang baik serta efektif.

Kriteria-kriteria pemimpin idaman tersebut merupakan sumbangsih untuk menemukan pemimpin yang baik dan efektif. Kita ucapkan ''Selamat Datang'' kepada siapa pun yang bisa memenuhi kriteria sebagai pemimpin idaman tersebut.

Selasa, 27 Agustus 2013

Pemimpin Idaman

Pemimpin Idaman
Herri Kiswanto S  ;    Mahasiswa Program Magister STFT Widya Sasana-Malang
SINAR HARAPAN, 26 Agustus 2013


Sosok pemimpin selalu menjadi sorotan publik yang dipimpinnya. Hal itu tentu hal yang wajar. Aneka bentuk sorotan akan membuat seorang pemimpin mampu menyadari dirinya. Kesadaran diri menjadi satu elemen penting bagi seorang pemimpin untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Kesadaran diri membentuk keterarahan diri akan kehendak, keberanian, dan kejujuran untuk meneliti dirinya sendiri. Tetapi sikap itu sering kali tidak muncul dari sosok pemimpin kita dewasa ini. Justru yang sering kali muncul adalah adanya sikap pembelaan diri atas kesalahan dan kelemahan, serta menutupinya dengan sikap pencitraan diri agar tampak santun dan berwibawa.
Oleh karena itu, aneka sorotan yang dilontarkan atas pemimpin tak jarang menjadi suara-suara yang berlalu begitu saja tanpa ada tanggapan positif dan perubahan konkret yang dapat dilihat serta dirasakan publik.

Yang terjadi adalah pemimpin tidak lagi mendengarkan publik yang dipimpinnya, melainkan mendengarkan dan memuaskan dirinya sendiri. Inilah karakter pemimpin yang kerap dijumpai dewasa ini. Tetapi, di tengah situasi yang demikian pelik dan runyam, masih terdapat orang yang mau memberi diri dan hati untuk memimpin semisal Jokowi-Ahok.

Apresiasi masyarakat luas maupun masyarakat Jakarta terhadap Jokowi-Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta akhir-akhir ini menunjukkan terpenuhinya kehausan publik akan model pemimpin yang mau mendengarkan dan memuaskan dahaga rakyatnya.

Pemimpin yang mau mendengarkan dan memuaskan dahaga rakyat menajdi suatu model pendekatan yang sangat dinginkan oleh masyarakat pada umumnya. Inilah model pendekatan ditawarkan dan dijalankan oleh Jokowi-Ahok sebagai karakter kepemimpinannya.

Ternyata, model pendekatan ini cukup ampuh untuk memuaskan dahaga publik Jakarta. Roda pemerintahan memang belum selesai hingga masa bakti, namun ukuran keberhasilan sudah mulai menampakkan wajahnya. Indikasi akan harapan untuk mau dan mampu mendengarkan serta memuaskan publik itulah yang membuat rakyat Jakarta begitu mengagumi Jokowi-Ahok sebagai sosok pemimpin idaman mereka.

Sesungguhnya, keberhasilan Jokowi-Ahok tidak semata-mata mau menunjukkan kehebatan pendekatan politik yang ditawarkan pasangan ini, tetapi juga menjadi bukti akan kehausan publik terhadap model pemimpin yang diharapkan untuk zaman sekarang, yakni pemimpin yang mau mendengarkan dan memuaskan dahaga publiknya.

Model pemimpin demikian sesungguhnya tidak hanya dimimpikan masyarakat Jakarta, melainkan juga rakyat Indonesia pada umumnya. Banyak situasi dan kondisi rakyat Indonesia saat ini yang menuntut munculnya pemimpin yang mampu untuk mendengarkan dan memuaskan dahaga rakyat Indonesia saat ini.

Mendengarkan dan memuaskan dahaga rakyat bukan semata-mata merujuk pada perkara psikologis. Kemampuan untuk mendengarkan dan memuaskan dahaga rakyat memaksudkan kemampuan holistik seorang pemimpin untuk merealisasikan kapasitas dirinya sebagai pemimpin, yakni pemimpin yang tampil sebagai seorang hamba yang mau melayani.

Menjadi seorang pemimpin berarti juga menjadi hamba atas publik yang dipimpinnya. Pada saat yang sama, seorang pemimpin hendaknya menjadi pelayan yang mau melayani dan bukan untuk dilayani, seorang pemimpin yang mau mengangkat harkat dan martabat rakyatnya dan bukan mengangkat harkat dan martabatnya sendiri!

Tiga Kemampuan

Mengutip terminologi yang digunakan Dr Anthony D’souza, seorang pemimpin ideal yang dimimpikan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk meng-ennoble, enable, dan empower rakyatnya.

Tiga kemampuan tersebut tidak dimaksudkan untuk dimiliki oleh seorang pemimpin bagi dirinya sendiri demi prestise dan gengsi di mata dunia, melainkan diperuntukkan untuk kepentingan rakyat. Apa artinya prestise dan gengsi bagi seorang pemimpin yang hanya mampu untuk meng-ennoble, enable, empower dirinya sendiri, sedangkan rakyatnya merintih dan meraung-raung karena dihiraukan, dilemahkan, dan diperdaya?

Suatu kenyataan yang ironis di mana seorang pemimpin mampu meraih prestasi dan penghargaan di atas kertas sebagai pejuang lingkungan hidup dan ekonomi di mata dunia, sedangkan kenyataan lingkungan hidup di berbagai provinsi di Indonesia semakin hancur akibat perambahan hutan dan eksploitasi alam sebagai wujud investasi yang dikomersialkan demi kepentingan para pemilik modal dan kelompok yang terlibat di dalamnya.

Pada saat yang sama, tingkat ekonomi rakyat Indonesia pun belum mencapai titik kesejahteraan yang diharapkan. Quo vadis Indonesia?

Perkara menjadi pemimpin adalah soal memperjuangkan tata hidup bersama. Selama kekuasaan semasa kepemimpinan diarahkan hanya untuk kepentingan diri dan kelompok tertentu, selama itu pula sang pemimpin telah menodai nilai-nilai luhur kepemimpinan itu sendiri.

Munculnya pemimpin dalam peradaban manusia ditujukan pertama-tama adalah untuk menciptakan kebaikan dan kesejahteraan bersama. Dengan kata lain, menciptakan kebaikan dan kesejahteraan bersama berarti juga mau dan mampu mendengarkan dan memuaskan dahaga rakyatnya.

Maka perlu suatu perubahan pemahaman yang radikal akan makna kepemimpinan bagi siapa saja yang memiliki hasrat untuk menjadi pemimpin pada pilgub maupun pilpres 2014, baik sebagai wakil independen maupun wakil partai. Menjadi pemimpin berarti harus memiliki kesadaran dan kemampuan diri yang holistik dan rela menjadi hamba serta gembala bagi rakyatnya! ●