Tampilkan postingan dengan label IQRA - Kerja Sama dan Tantangan IORA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IQRA - Kerja Sama dan Tantangan IORA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Maret 2017

IORA

IORA
Dinna Wisnu  ;    Political Economist; Senior Advisor for Atma Jaya University’s Public Policy Institute Chair, Atma Jaya’s Graduate School of Business
                                                  KORAN SINDO, 08 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Konferensi Tingkat Tinggi Asosiasi Negara Lingkar Samudra Hindia (Indian Ocean Rim Association/ IORA) telah menghasilkan Jakarta Concorde yang akan menjadi kerangka kerja di masa depan bagi negara-negara di Lingkar Samudra Hindia.

Beberapa pokok yang disepakati dalam Jakarta Concorde antara lain blue economy, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, penguatan demokrasi, tata pemerintahan yang baik, pemberantasan korupsi serta perlindungan HAM. Pokokpokok kesepakatan itu menjadi penting dan bermakna strategis bagi Indonesia apabila kita mampu mengembangkan gagasan dan inisiatif yang menguntungkan semua pihak khususnya para anggota. KTT IORA menjadi istimewa pada tahun ini karena beberapa hal.

Pertama karena KTT berhasil menyepakati terjadinya pertemuan setingkat kepala negara. Selama 20 tahun sejak dibentuk, konferensi IORA hanya terjadi di tingkat menteri. Kehadiran kepala negara negaranegara di Lingkar Samudra Hindia akan mengikat komitmen dan memperkuat makna serta bobot dari perhimpunan ini ke masa depan. Keduaadalah situasi yang telah berubah. Pada saat IORA berdiri 20 tahun yang lalu, jarak kemajuan antara negara maju dan berkembang di dalam IORA masih sangat kontras.

Saat ini perekonomian negara-negara tersebut telah berkembang dan memiliki peran masingmasing. Apabila kita mengategorikan negara-negara tersebut berdasarkan perkembangan pasarnya, anggota dari negaranegara IORA cukup beragam. Ada negara-negara yang masuk dalam developed market, antara lain Australia dan Singapora. Lalu negara berkategori emerging market, antara lain Indonesia, Malaysia, India, Afrika Selatan, Thailand, dan Uni Emirat Arab. Terakhir kategori frontier-market, yaitu Bangladesh, Komoros, Iran, Kenya, Madagaskar, Mauritius, Mozambik, Oman, Seychelles, Sri Lanka, Somalia, Tanzania, dan Yaman.

Total pasar negara-negara IORA membentuk seperempat dari potensi pasar dunia. Ketiga, perekonomian dunia saat ini mengalami stagnasi dan diliputi masalah-masalah politik yang sangat rumit dan kompleks, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat yang selama ini menjadi pusat konsumsi dan tujuan produksi dunia. Melambatnya perbaikan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut dan semakin kompleksnya konflik politik mendorong setiap negara, termasuk negara-negara IORA, untuk merumuskan strategi yang melepaskan ketergantungan dari pusat pasar tradisional tersebut.

Hal itu sesuai dengan yang ditekankan Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali dalam pidatonya bahwa tumpuan kegiatan ekonomi global secara bertahap berpindah ke arah timur, khususnya di Lingkar Samudra Hindia. Dalam proses itu Samudra Hindia menjadi jalur yang makin vital bagi perdagangan internasional dan ekonomi. Perkembangan ekonomi dunia terutama negara-negara berkembang menempatkan Samudra Hindia menjadi penting. Angka statistik mencatat bahwa perdagangan antarnegara IORA pada 2015 mencapai USD777 miliar.

Angka itu mengalami peningkatan sebesar 300% bila dibandingkan dengan tahun 1994 yang hanya mencatat USD233 miliar. World Investment Report juga mencatat bahwa investasi asing ke negara-negara IORA mencapai USD229,7 juta. Angka-angka itu menggambarkan betapa sibuknya jalur perairan Samudra Hindia. Semakin hari jalur ini menjadi semakin sibuk seiring dengan semakin mendalamnya globalisasi yang mengintegrasikan pasar negara-negara. Perairan ini menjadi jalur lalu lintas bagi 30% perdagangan dunia. Pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan energi untuk mendorong produksi.

Kebutuhan ini terutama sangat terasa bagi negara-negara emerging-market. Perdagangan energi mulai dari batu bara hingga minyak bumi menjadi penting dan meletakkan Samudra Hindia menjadi istimewa karena menjadi pusat dari 2/3 cadangan minyak dunia dan 70% dari perdagangan minyak dunia diperdagangkan melalui jalur perairan ini. Selain sisi positif dari IORA, ada beberapa potensi sosial politik yang juga mengancam kestabilan kawasan.

Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Desra Percaya membagi kawasan ini menjadi dua. Bagian timur samudra adalah wilayah yang memiliki potensi besar terjadinya kebencanaan semisal tsunami dan gempa seperti yang terjadi pada 2004. Wilayah ini juga penuh dengan para pencari suaka yang menjadi tantangan bagi negara-negara IORA untuk menyusun kebijakan terkait hal tersebut. Sementara itu bagian barat perairan memiliki risiko ancaman pembajakan dan konflik politik seperti yang terjadi di Yaman.

Faktor-faktor itu dapat menjadi sumber dari ketidakstabilan dan mengganggu lalu lintas perdagangan dan pertumbuhan. Oleh sebab itu penting bagi negara-negara di Lingkar Samudra Hindia untuk merumuskan diplomasi maritim atau diplomasi kelautan yang dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan semua pihak. Kebijakan itu tidak hanya untuk mengantisipasi kerentanan seperti yang telah disebutkan di atas, tetapi juga merawat jalur perairan ini menjadi lebih stabil dan berkelanjutan. Indonesia sebagai salah satu dari tiga pendorong utama IORA memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menghasilkan inisiatif dan gagasan yang lebih progresif.

Tanggung jawab itu tidak ringan karena untuk memaksimalkan kawasan Samudra Hindia untuk mengakselerasi pembangunan IORA juga terdapat sejumlah keterbatasan. David Brewster (2017) misalnya berpendapat bahwa IORA belum sepenuhnya merepresentasikan kawasan Samudra Hindia. IORA memang terdiri atas 21 negara, tetapi negara-negara besar lain seperti Pakistan, Myanmar, dan Arab Saudi atau negara-negara kecil seperti Timor Leste dan Maldives belum menjadi anggota.

Pakistan sebagai salah satu negara yang dapat menyumbangkan kestabilan juga belum masuk menjadi anggota. IORA masih membutuhkan konsolidasi antarnegara anggota. Dorongan Indonesia untuk menjadikan Pakistan sebagai anggota, misalnya, masih ditolak India. Lambannya gerak IORA selama 20 tahun juga mencerminkan tantangan serius dalam menyepakati bentuk kerja sama dan kontribusi sebagai anggota perhimpunan IORA.

Meskipun pertemuan di tingkat akademisi IORA cukup intensif, bahkan telah terjadi rangkaian diplomasi one-and-ahalf- track, yakni diplomasi yang melibatkan pejabat dan tokoh akademik, masih sulit dicapai kesepakatan kerja sama. Itulah sebabnya Indonesia kemudian gigih mengusulkan adanya KTT agar di tataran politik tertinggi dibangun komitmen. Pertanyaan besar yang harus dijawab IORA adalah apakah model membangun kerja sama regional melalui tahapan-tahapan sidang dan pembentukan norma bersama akan efektif mendorong efektivitas IORA?

Menurut hemat saya, IORA sebaiknya tidak diperlakukan seperti kerja sama regional tahun 1960-an atau bahkan seperti pengembangan ASEAN. IORA sejak awal sudah dianggap strategis oleh tujuh negara mitra IORA yang secara ekonomi dan geografis sangat berpengaruh di dalam negeri negara-negara anggota IORA, yakni China, Amerika Serikat, Mesir, Prancis, Jerman, Jepang, dan Inggris. Pendanaan kegiatan-kegiatan IORA pun banyak dibantu negara-negara mitra tersebut.

Artinya bahwa IORA lebih sulit mengisolasi pengambilan keputusannya hanya menurut pendapat dan kebutuhan negara anggota. Selain itu, kerangka perluasan kerja sama demokrasi dan HAM membutuhkan perhatian serta dana yang tidak kecil, tetapi belum jelas efek langsungnya pada alasan utama IORA terbentuk, yakni untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan penanganan kejahatan lintas batas serta pengembangan industri yang padat modal dan padat teknologi.

Bila IORA diolah seperti regionalisme masa lalu, padahal tuntutan zaman mensyaratkan diplomasi yang mengutamakan kecepatan pengambilan keputusan dengan keluwesan kerangka kerja sama regional, IORA justru menjadi costcenter yang menyedot dana saja, padahal hasilnya belum tentu bisa dirasakan langsung.

Kamis, 09 Maret 2017

KTT IORA: Momentum Penguatan Kerja Sama

KTT IORA: Momentum Penguatan Kerja Sama
Retno LP Marsudi  ;    Menteri Luar Negeri RI
                                                        KOMPAS, 08 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada tahun 2009, Robert Kaplan, seorang pakar ilmu politik internasional ternama, menulis sebuah artikel dalam majalah Foreign Affairs. Ia menyebut Samudra Hindia sebagai ”panggung utama abad ke-21”.

Julukan tersebut sejalan dengan fakta yang menunjukkan bahwa Samudra Hindia merupakan kawasan yang sangat strategis. Kawasan tersebut menjadi rute perdagangan utama dunia yang dilewati setengah dari kontainer perdagangan dunia dan dua pertiga perdagangan minyak dunia. Kawasan tersebut juga tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan global. Pada tahun 2015, saat ekonomi dunia hanya tumbuh 2,6 persen, pertumbuhan rata-rata sebagian besar anggota IORA mencapai 4,3 persen.

Di tengah peran penting kawasan tersebut, Indian Ocean Rim Association (IORA) hadir untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara anggotanya, termasuk dalam bidang ekonomi. Pada tahun 2015, tongkat estafet ketua asosiasi kawasan tersebut beralih dari Australia ke Indonesia. Indonesia bertekad untuk tidak hanya sekadar menjadi ketua bagi IORA, tetapi juga menjadi pemimpin.

Kepemimpinan Indonesia selama ini di berbagai organisasi, baik di forum regional maupun internasional, selalu ditunjukkan melalui berbagai inisiatif baru yang memberi dampak perubahan positif. Gaya kepemimpinan Indonesia ini bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya, peran kepemimpinan Indonesia terlihat melalui sejumlah organisasi internasional. Di ASEAN, melalui Bali Concord III, Indonesia berperan penting dalam pembentukan Masyarakat ASEAN. Sementara di APEC kiprah Indonesia terlihat dalam Bogor Goals 1994 yang sampai saat ini terus menjadi aspirasi bagi negara anggota APEC.

Hal serupa juga telah dipraktikkan melalui IORA di mana Indonesia mendorong sejumlah terobosan penting guna memperkuat kemitraan di kawasan untuk memelihara perdamaian dan stabilitas kawasan, sebagai prasyarat utama bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan menuju kawasan Samudra Hindia sebagai pusat pertumbuhan yang baru.

Terobosan pertama yang dilakukan adalah menginisiasikan diskusi mengenai Jakarta Concord, satu dokumen strategis dan visioner untuk meningkatkan kemitraan IORA dan pemetaan arah masa depan organisasi tersebut. Jakarta Concord memperkuat kerja sama dalam enam prioritas IORA dan mendorong kerja sama pada tiga bidang baru, yakni blue economy, pemberdayaan perempuan, dan promosi demokrasi.

Indonesia juga telah mendorong langkah-langkah konkret untuk menerapkan visi strategis dalam Jakarta Concord tersebut. Untuk itu, inisiatif kedua Indonesia adalah mengegolkan pembahasan mengenai IORA Action Plan yang berisi target terukur dan program konkret peningkatan kerja sama di antara negara anggota. Rencana aksi dijabarkan dalam program kerja jangka pendek, menengah, dan jangka panjang yang dapat dinilai dan diukur pelaksanaannya.

Dokumen penting ketiga adalah Deklarasi untuk Mencegah dan Melawan Terorisme dan Ekstremisme dengan Kekerasan. Deklarasi ini menjadi pijakan atas komitmen bersama anggota IORA untuk menyuarakan moderasi dan toleransi, serta meningkatkan kerja sama melalui dialog dan pertukaran informasi.

Keketuaan Indonesia ini berpuncak pada penyelenggaraan KTT IORA tanggal 7 Maret 2017 yang bertepatan dengan ulang tahun ke-20 IORA. KTT IORA yang mengusung tema ”Strengthening Maritime Cooperation for a Peaceful, Stable and Prosperous Indian Ocean” ini dihadiri oleh perwakilan dari 21 negara anggota, 7 negara mitra wicara, dan 8 organisasi internasional. KTT tersebut juga menjadi ajang bagi para pemimpin negara-negara anggota IORA untuk mengesahkan Jakarta Concord.

Sebagian pihak mungkin beranggapan bahwa KTT tersebut hanya akan menjadi pergelaran seremonial tanpa manfaat nyata. Namun, realitas yang ada justru menunjukkan kebalikannya. Kawasan Samudra Hindia tidak hanya berperan penting bagi perekonomian dunia, tetapi juga bagi perekonomian Indonesia. Tahun 2016, ekspor Indonesia ke negara-negara IORA 42 miliar dollar AS yang mencakup sepertiga ekspor total Indonesia. Dari perdagangan tersebut, Indonesia mencetak surplus 1,5 miliar dollar AS tahun lalu.

Di tengah penurunan ekspor Indonesia akibat lesunya perekonomian dunia, justru ekspor Indonesia ke beberapa negara IORA menunjukkan kenaikan yang merefleksikan potensi mereka sebagai pasar nontradisional. Sebagai contoh, ekspor Indonesia ke Afrika Selatan, Iran, dan Oman naik 9 persen tahun lalu. Mengingat perdagangan RI- IORA hanya mencakup 10 persen dari total perdagangan intra IORA, terdapat potensi besar untuk terus meningkatkannya.

Arti penting kawasan Samudra Hindia juga terlihat pada sektor investasi. Sebanyak 6 dari 20 negara sumber investasi asing terbesar Indonesia merupakan negara anggota IORA. Investasi ini pun menunjukkan peningkatan. Tahun lalu, investasi dari Singapura naik 50 persen, investasi dari Thailand naik 100 persen, dan bahkan investasi dari Mauritius meningkat lebih dari 10 kali lipat.

Negara-negara anggota IORA pun berperan penting pada sektor pariwisata. Tiga dari 4 negara asal wisatawan asing terbesar ke Indonesia merupakan negara anggota IORA. Jumlah turis dari negara IORA pun meningkat, sebagai contoh wisatawan Thailand ke Indonesia naik 6 persen, turis Australia naik 14 persen, dan wisatawan India naik 28 persen tahun 2016.

Negara-negara anggota IORA juga menawarkan peluang besar peningkatan kerja sama ekonomi bagi Indonesia, terutama dari kawasan barat IORA, mulai dari Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika. Indonesia bertekad memanfaatkan peluang tersebut dengan menekankan kerja sama ekonomi sebagai salah satu fokus pembahasan saat KTT. Salah satu elemen utama dari Jakarta Concord adalah mengokohkan kerja sama ekonomi, terutama meningkatkan perdagangan dan investasi, menggerakkan pembangunan infrastruktur, memperkuat konektivitas, dan melibatkan sektor swasta, terutama UMKM.

Di KTT IORA, peningkatan kerja sama ekonomi menjadi prioritas utama. Sebagai contoh, tahun lalu Indonesia berhasil mengekspor 150 gerbong kereta api ke Banglades, salah satu anggota IORA.

Peluang kerja sama ekonomi lainnya juga ditawarkan oleh sektor perikanan.

Salah satu prioritas Indonesia lainnya adalah membumikan kerja sama IORA dengan mendorong keterlibatan para pelaku usaha. Hal itu diwujudkan dengan penyelenggaraan IORA Business Summit yang pertama kalinya di sela-sela KTT IORA.

Melalui KTT IORA, Indonesia berupaya meningkatkan kerja sama di kawasan. Indonesia juga bertekad untuk menjadikan KTT tersebut sebagai kendaraan menuju kemitraan ekonomi yang lebih kokoh antara Indonesia dan semua negara anggota di kawasan yang pada akhirnya akan membawa kita lebih dekat menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Selasa, 07 Maret 2017

Kerja Sama dan Tantangan IORA

Kerja Sama dan Tantangan IORA
Beginda Pakpahan  ;   Analis Politik dan Ekonomi Urusan Global dari Universitas Indonesia;  Menyelesaikan Program PhD dari The University of Edinburgh, Inggris
                                                        KOMPAS, 07 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pada 5-7 Maret 2017, Indonesia-sebagai ketua Asosiasi Kerja Sama Lingkar Samudra Hindia (IORA) periode 2015-2017-menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi para pemimpin IORA, bertepatan dengan ulang tahun ke-20 organisasi itu.

Tema yang diangkat IORA adalah penguatan kerja sama maritim untuk Samudra Hindia yang damai, stabil, dan sejahtera (strengthening maritime cooperation for a peaceful, stable, and prosperous Indian Ocean).  KTT IORA dihadiri para pemimpin dari 21 negara anggota dan 7 negara mitra eksternalnya.

Pelbagai pertanyaan yang menarik terkait hal itu adalah: apa visi ke depan IORA dan agenda utama KTT IORA di Jakarta? Apa tantangan bagi negara-negara IORA dalam mewujudkan kerja sama di Samudra Hindia?

Visi dan agenda utama

Pada masa kepemimpinan Indonesia, IORA memiliki visi jangka panjang. Pertama, memelihara momentum politik guna menjadikan IORA asosiasi yang kuat, efektif, dan efisien. Kedua, penguatan arsitektur regional yang memastikan dan menjaga keamanan dan perdamaian di Samudra Hindia.

Ketiga, peningkatan kerja sama kolektif dan kemampuan bersama untuk mencapai kerja sama yang saling menguntungkan dan kesejahteraan bersama. Keempat, peningkatan kepastian untuk maju ke depan dalam kolaborasi dalam konteks IORA.

Terkait dengan hal itu, ada tiga agenda krusial dalam KTT IORA di Jakarta. Pertama, IORA akan menghasilkan perjanjian hukum dan norma dalam bentuk IORA Concord.

Kedua, IORA Concord memiliki enam wilayah kerja sama penting dan aksi rencananya, yaitu keamanan maritim, kerja sama perdagangan dan investasi, perikanan, penanganan bencana alam, pendidikan, dan pariwisata di Samudra Hindia. Ketiga, deklarasi negara-negara IORA melawan kekerasan ekstremisme dan terorisme.

Tantangan bagi IORA dalam merealisasikan pelbagai kerja sama di atas adalah, pertama, IORA Concord dan rencana aksi kerja sama menjadi titik awal untuk mendorong proses kerja sama mega-regionalisme di Samudra Hindia. Namun, kerja sama mega-regionalisme membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan bukti konkret dari model kerja sama yang dihasilkan karena jumlah anggota IORA yang besar dengan bentuk pemerintahan politik dan tingkat pembangunan ekonomi di antara mereka yang beragam.

Situasi itu akan membuat pelaksanaan IORA Concord dan rencana aksi serta proses pengambilan keputusannya membutuhkan waktu yang lama.

Kedua, mayoritas negara anggota IORA adalah negara berkembang dan sebagian kecil negara maju. Hal tersebut merefleksikan kekuatan politik, keamanan, dan ekonomi yang dimiliki negara-negara anggota IORA. Oleh karena itu, IORA perlu memilih pelbagai wilayah kerja sama yang mudah untuk direalisasikan oleh negara-negara anggotanya. Tidak bisa dimungkiri IORA hanya akan menjadi ajang atau forum talkshop atau kumpul-kumpul bagi negara-negara anggota IORA dan para mitra eksternalnya jika tidak bisa merealisasikan kerja sama yang terukur dan konkret ke depannya.

Ketiga, rivalitas negara-negara besar di Samudra Hindia adalah kenyataan yang perlu direspons dengan efektif dan dikelola dengan baik oleh negara-negara anggota IORA dan para mitranya. Samudra Hindia adalah kawasan lautan yang strategis dan memiliki sejarah geopolitik sejak zaman kolonial Inggris. Situasi kontemporer Samudra Hindia masih menjadi kawasan perebutan pengaruh antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan negara-negara lain.

Kerja sama maritim

Keempat, kerja sama maritim bagi IORA menjadi mutlak dilakukan dalam rangka merespons rivalitas negara-negara besar di Samudra Hindia. Kerja sama tersebut perlu didasari dengan menjadikan Samudra Hindia kawasan yang damai, aman, dan netral. IORA adalah organisasi yang relevan dalam merealisasikan hal itu khususnya pembuatan norma dan hukum untuk kawasan tersebut.

Ketegangan yang meningkat di antara negara-negara yang mengklaim kedaulatan atas perairan dan gugusan pulau di Laut China Selatan akan berdampak terhadap perubahan peta kekuatan aliansi tradisional dari negara-negara besar di Asia dan Pasifik. Konsekuensinya, perkembangan tersebut akan memberikan efek terhadap perdamaian dan keamanan di Samudra Hindia.

Kelima, kerja sama IORA perlu menghasilkan pelbagai hal yang konkret bagi kesejahteraan rakyat dari negara-negara anggotanya. Dengan kepemimpinan Indonesia di IORA, Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dalam pernyataan pers tahunan 2017 menjelaskan perlunya kerja sama maritim Samudra Hindia sebagai jembatan penghubung antara Afrika dan Pasifik dengan IORA menjadi arsitektur regionalnya demi menciptakan kerja sama perekonomian, keamanan dan stabilitas global.

Dalam kuliah umumnya di Universitas Indonesia, Retno mengatakan, diplomasi harus membumi. Ini tantangan bagi Indonesia dan negara-negara IORA karena mereka perlu menghasilkan kerja sama maritim dan ekonomi pembangunan di Samudra Hindia yang dapat meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dan rakyat dari anggota IORA lainnya.

Keenam, keterlibatan rakyat perlu ditingkatkan dalam perumusan kebijakan atas kerja sama dalam IORA. IORA mulai membuka diri dengan pelibatan pelaku usaha dan bisnis dalam pertemuan tingkat tinggi di Jakarta ini. Tak tertutup kemungkinan IORA akan memberikan akses untuk pelibatan masyarakat sipil dalam pelbagai kerja sama, seperti kerja sama perikanan, penanganan bencana, dan pariwisata yang akan dicetuskan dalam rencana aksi IORA.

Semoga KTT IORA dan ulang tahun ke-20 IORA di Jakarta bisa berkontribusi positif bagi perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan rakyat negara-negara yang ada di kawasan Samudra Hindia.