Sabtu, 30 Desember 2017

Open House

Open House
Samuel Mulia ;  Penulis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                    KOMPAS, 24 Desember 2017



                                                           
Saya ditanya beberapa orang ke mana saya hendak menghabiskan liburan Natal dan akhir tahun. Pertanyaan yang sama saya ajukan kepada beberapa orang juga. Jawabannya macam-macam. Ada yang tidak ke mana-mana, ada yang ke luar negeri, dan ada yang berlibur di dalam negeri. Sampai tulisan ini Anda baca, saya memutuskan untuk menikmati Jakarta saja.

Natal

Tetapi, saya ini orangnya mudah tergoda. Tergoda karena ajakan teman, tergoda gara-gara melihat tulisan atau gambar di dunia maya, atau benar-benar karena naluri yang impulsif, apalagi suasana akhir tahun yang kelabu, hujan yang turun, dan perasaan senang karena tahun ini sebentar lagi usai.

Mungkin itu bagian enaknya kalau masih lajang. Sementara teman-teman saya yang sudah berkeluarga harus menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari. Tak hanya biaya yang harus dipikirkan, tapi juga keputusan untuk menentukan tujuan wisata bisa dibayangkan harus melalui sebuah diskusi yang saya yakini tak bisa selesai dalam beberapa jam.

Di masa kecil dulu, liburan Natal akan disambut dengan liburan keluarga alias pulang kampung. Biasanya kalau tidak ke Surabaya atau ke Semarang. Seingat saya, dari Pulau Dewata tempat kami tinggal, ayah menyetir mobil.

Semakin dewasa kegiatan pulang kampung itu makin jarang dilakukan, bahkan seingat saya, di hari istimewa itu sepulang kami beribadah bersama, ayah dan ibu akan menggelar acara open house yang akan berlangsung dari pukul 10 pagi sampai pukul 10 malam dengan jeda dari pukul 2 siang sampai 4 sore.

Acara itu akan menyebabkan ayah mengirim kami ke sebuah hotel untuk menikmati Natal dan mendapatkan hadiah dari Santa. Sementara ayah dan ibu sibuk menyambut tamu-tamunya yang datang yang semakin tahun semakin banyak.

Ketika kami anak-anaknya semakin dewasa, maka hari istimewa itu tidak lagi berlokasi di hotel dan mendapat hadiah dari Santa, tetapi kami menjadi “pembantu” yang lumayan sibuk untuk menyiapkan keperluan open house itu.

Di ingatan saya, Natal dalam keluarga kami adalah bukan sebuah kegiatan keluarga yang hangat, tetapi menyambut tamu-tamu yang datang memberikan ucapan selamat. Ikatan keluarga di hari itu seingat saya tak terjadi sama sekali, dan itu berlangsung bertahun lamanya.

Keluarga

Saat saya tinggal di luar negeri, Natal adalah hari saat saya merasa sangat kesepian. Teman-teman saya pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga dan saya teringat pada sebuah acara keluarga kami yang jauh dari kehangatan.

Apalagi sekarang ketika ayah dan ibu sudah meninggal dunia, dan kakak serta adik saya juga tinggal di luar negeri, maka Natal buat saya tak menjadi sesuatu yang luar biasa lagi. Mungkin itu mengapa, ketika saya melihat hiasan dan mendengarkan lagu-lagu Natal, selalu saja terselip kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga yang sejujurnya tak pernah saya dapati juga.

Kalau kerinduan itu datang, maka saya sering merasa bahwa kegiatan open house itu telah memiliki andil menghilangkan kesempatan merasakan acara keluarga yang hangat di hari istimewa itu. Tentu saya tak menyalahkan mereka yang datang untuk memberi ucapan selamat, saya sungguh menghormati itu.

Ayah adalah orang yang keras kepala, saya harus mengakui ia bukan pria yang romantis. Semua yang ia lakukan bahkan ketika maut menjemputnya, ia hanya menggunakan otaknya sebagai senjata kehidupannya yang utama.

Selama sebuah kejadian tak masuk di akalnya, tak bisa dihitung secara pasti, ia tak akan memercayai. Itu mengapa saya berpikir bahwa open house itu buatnya penting karena selain menerima ucapan, acara itu digunakan sebagai salah satu medium kegiatan bisnisnya.

Saya tak pernah sekali pun menanyakan mengapa ia lebih senang mengirimkan anak-anaknya ke hotel untuk menikmati Natal ketimbang berada di dalam rumah bersama keluarga. Saya sampai pernah menyimpulkan kalau open house adalah hal yang paling menyenangkan buatnya ketimbang kumpul bersama keluarga.

Ia seorang pria yang hidup hanya di dua dunia. Hitam atau putih, tak ada abu-abu dan sangat otoriter meski tingkatannya semakin berkurang ketika kami menjadi dewasa dan memiliki uang sendiri. Tetapi, di masa kecil dahulu, ia macam seorang diktator di sebuah negeri kecil yang dihuni empat manusia, ibu dan kami tiga anaknya.

Saya bercerita bukan untuk mengatakan bahwa kegiatan menerima tamu adalah sebuah kesalahan. Sama sekali tak ada yang keliru dari acara satu tahun sekali itu. Saya hanya ingin berbagi melalui pengalaman hidup dan otak yang tidak pandai ini, bahwa open house adalah momen untuk berbagi sukacita dengan orang lain tanpa melupakan bersukacita dengan mereka yang disebut anggota keluarga yang telah menemani Anda dan saya sepanjang tahun dalam sebuah perjalanan kehidupan yang kadang tak senantiasa semanis madu. ●

1 komentar:

  1. ||Satu Akun semua jenis Game ||

    Game Populer:
    =>>Sabung Ayam S1288, SV388
    =>>Sportsbook,
    =>>Casino Online,
    =>>Togel Online,
    =>>Bola Tangkas
    =>>Slots Games, Tembak Ikan, Casino
    Permainan Judi online yang menggunakan uang asli dan mendapatkan uang Tunai
    || Online Membantu 24 Jam
    || 100% Bebas dari BOT
    || Kemudahan Melakukan Transaksi di Bank Besar Suluruh INDONESIA

    Pakai Pulsa Tanpa Potongan
    Juga Pakai(OVO, Dana, LinkAja, GoPay)
    Support Semua Bank Lokal & Daerah Indonesia

    WhastApp : 0852-2255-5128

    BalasHapus