Tampilkan postingan dengan label Leo Herlambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leo Herlambang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2013

Sumber Defisit Transaksi Berjalan

Sumber Defisit Transaksi Berjalan
Leo Herlambang  ;   Ketua Pusat Studi Keuangan & Dosen FEB Unair
JAWA POS, 22 Oktober 2013



HEADLINE Jawa Pos edisi kemarin (21/10) bertajuk Menkeu: Impor Penting menarik dicermati. Lanjutan statemen Menkeu Chatib Basri adalah defisit transaksi berjalan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Mungkin statemen itu bisa membingungkan. Defisit kok untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Sebagaimana diketahui, defisit transaksi berjalan (current account deficit) adalah kondisi ketika sebuah negara mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada mengekspor. Surplus transaksi berjalan adalah sebaliknya. Tentu suatu negara lebih bagus mengekspor banyak barang dan jasa daripada mengimpornya. 

Jadi, Menkeu salah? Belum tentu.

Inti pertumbuhan ekonomi adalah mengukur persentase pertumbuhan tahunan produk domestik bruto (PDB) yang hampir selalu disesuaikan dengan efek inflasi. Ada dua bentuk PDB, yakni riil dan nominal. 

PDB riil adalah nilai total semua barang dan jasa yang diproduksi dalam batas-batas ekonomi-politik selama periode waktu tertentu, biasanya setahun, yang diukur menurut harga pada tahun lain (disebut harga dasar atau harga konstan). PDB riil juga disebut produk domestik bruto konstan atau produk domestik bruto yang disesuaikan inflasi. 

Sementara itu, PDB nominal adalah PDB yang diukur dalam rupiah saat ini. Bandingkan, misalnya, harga 1 kilogram gula pasir pada 1991 dengan harga sekarang tentu sangat berbeda. Sebab, harga sekarang terkena dampak inflasi. Itulah kira-kira perbandingannya.

Lalu, apa hubungan defisit transaksi berjalan dengan pertumbuhan ekonomi? Intinya, Menkeu menyatakan bisa membuat pajak yang lebih tinggi untuk barang impor sehingga harapan impor turun dan transaksi berjalan positif. Di sisi lain, dengan tidak mengenakan bea impor barang dasar modal dan barang dasar, industri akan tetap bergerak. Kalau industri tetap bergerak, pertumbuhan terus berlangung. 

Jadi, logika Menkeu dapat diterima. Fakta membuktikan, kebutuhan industri untuk pendorong ekspor juga tinggi.

Namun, perlu diselidiki lebih jauh apa sebenarnya yang membuat ''nilai impor sangat tinggi''. Defisit harus dilihat dari sumbernya, yakni ''masalah'' yang lebih serius.

Masalah berbeda dengan risiko. Masalah adalah sesuatu yang telah terjadi. Risiko merupakan suatu kemungkinan yang akan terjadi dan berdampak negatif. Menaikkan bea masuk impor itu masih merupakan risiko. Sebab, bisa saja menaikkan bea impor, tapi hasilnya ekspor masih lebih baik.

Masalah itu pasti menjadi penyakit menahun, yang semakin hari semakin besar dan membebani anak cucu di kemudian hari. Menurut pendapat saya, impor BBM dan subsidinya adalah masalah. Dapat dilihat, harga BBM naik pun, masyarakat masih (terpaksa) membeli. Sebab, transportasi umum tidak memadai. Infrastruktur masih sangat kurang. 

Repotnya, kenaikan harga BBM terlambat pula dilakukan. Semestinya sejak akhir 2011 atau awal 2012 harga BBM dinaikkan untuk mengimbangi defisit transaksi berjalan. Sebab, nilai ekspor Indonesia mulai turun dengan menurunnya harga komoditas ekspor. Volume ekspor ditambah pun tidak akan menutup kelebihan impor.

Sebagai gambaran, sebuah perusahaan memiliki kebutuhan belanja sebulan Rp 15.000.000 atau setara USD 1.500. Untuk menutup kebutuhannya, perusahaan itu biasa menjual satu ton komoditas berharga USD 1,6/kg yang akan mendapat USD 1.600. Kurs yang berlaku saat itu Rp 10.000 per USD sehingga surplus transaksi berjalan perusahaan tersebut USD 100. 

Saat harga komoditas menurun menjadi USD 1/kg, yang didapat USD 1.000 atau Rp 10.000.000 saja. Untuk mendapat USD 1.600, dibutuhkan penjualan 1,6 ton. Masalahnya, pada saat yang sama, permintaan bukannya naik, namun justru turun. Misalnya, tinggal 0,8 ton sehingga yang didapat hanya 0,8 ton dikalikan USD 1 atau USD 800. Kondisi itu mengakibatkan transaksi berjalan minus USD 800. 

Masalah belum akan berakhir karena nilai rupiah menurun dari Rp 10.000 menjadi Rp 11.000 per USD ditambah kenaikan gaji karyawan (mirip subsidi BBM). Namun, agar perusahaan berjalan dan ada pertumbuhan, semua harus dijaga. Lengkap sudah penderitaan perusahaan ini. 

Biasanya, mengatasinya adalah dengan utang. Pinjaman dalam kondisi perusahaan seperti itu membuat bunga tinggi. Pinjaman tersebut perlu dilakukan untuk membiayai pertumbuhan perusahaan dan menjaga kestabilan perusahaan. Itulah gambaran sederhana hubungan defisit transaksi berjalan dan pertumbuhan.

Masalah lain yang menjadi hantu semua negara adalah melemahnya perekonomian dunia. Sumbernya Amerika Serikat. Ada sebagian pihak yang berpendapat secara umum, ''USA exports USD, not commodities''. Perekonomian AS sedang goyah karena hasil ekspornya juga lebih rendah daripada impor. Untuk menggerakkan perekonomian, AS membuat kebijakan seperti quantitative easing senilai USD 85 miliar per bulan. Ternyata, uang mengalir ke negara lain, termasuk emerging market.

Akhirnya, dilanjutkan tapering dengan mengurangi menjadi USD 60 miliar per bulan. Uang dari emerging market, termasuk Indonesia, tersedot. Akibatnya, cadangan devisa Indonesia menyusut karena hot money keluar, rupiah pun melemah. 

Yang terbaru, AS sempat melakukan shutdown layanan publik karena konflik anggaran. Kekurangan anggaran AS pasti ditutup dengan utang. Hampir semua negara di dunia meriang gemetar karena kondisi AS. Kalau sampai deadlock, demand AS sebagai pasar ekspor akan turun tajam.

Dalam dunia keuangan riil, seandainya perusahaan, AS itu sudah defisit, tapi ditutup utang. Sayangnya, dunia keuangan ''konvensional'' berpendapat, perusahaan yang banyak utangnya justru bernilai lebih tinggi. Struktur keuangan yang mengandalkan utang akan membuat nilai perusahaan lebih tinggi. Namun, dengan asumsi, sampai titik tertentu akan menjadi bangkrut setelah masuk perangkap financial distress. Masalahnya, hal tersebut tidak akan berlaku bagi AS. Lihat saja bagaimana kuatnya USD. 

Tetapi, akan berbeda bagi negara lain, apalagi Indonesia. Struktur keuangan dan struktur modal pemerintah Indonesia akan rapuh dalam jangka panjang kalau tidak mampu menyelesaikan ''sumber masalah defisit transaksi berjalan''. Utang dan cicilan pemerintah akan semakin besar kalau tetap mempertahan ''sumber masalah defisit transaksi berjalan'' itu.  

Jumat, 23 Agustus 2013

Mengatasi Gempa Pasar Uang

Mengatasi Gempa Pasar Uang
Leo Herlambang ;   Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Unair,
Analis Pasar Modal dan Pasar Uang
JAWA POS, 22 Agustus 2013



SEJAK hegemoni USD awal 1970-an, mayoritas perdagangan dunia harus memakai USD. Sejak itu, AS semakin kaya sekaligus semakin banyak utang. Di pihak lain, banyak negara yang semakin miskin karena ketergantungan pada USD sekaligus semakin banyak utang. Impor harus menggunakan USD. Kalau tidak punya USD, harus ekspor untuk mendapatkan USD. 

Agar mata uang kuat terhadap USD, nilai ekspor dalam USD harus lebih tinggi daripada impor dalam USD. Tentu, hasil ekspor itu bukan hanya barang, tetapi juga jasa seperti kiriman TKI. Kalau impor lebih besar daripada ekspor, secara logika nilai mata uang akan turun. Itulah yang dialami Indonesia sejak 2012, nett export-nya minus.

USD juga bisa didapat dengan masuknya investasi asing ke Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung melalui pasar keuangan, yakni pasar uang dan pasar modal. Yang investasi langsung dengan mendirikan pabrik dan lain-lain tentu akan berjangka panjang. 

Yang menjadi problem adalah yang tidak langsung, melalui pasar uang dan pasar modal. Mereka dapat berinvestasi di instrumen pasar uang, obligasi, SUN, maupun saham yang umumnya disebut hot money. Termasuk bila ada pinjaman langsung pemerintah dan swasta.

Gabungan nett export, investasi langsung dan tidak langsung, serta pinjaman pemerintah dan swasta akan menjadi cadangan devisa. Jadi, di dalam cadangan devisa terdapat yang betul-betul hasil riil ekspor. Selebihnya cadangan devisa adalah hot money, utang pemerintah dan swasta. Jadi, kalau suatu mata uang ingin kuat, nett export-nya harus plus. Ekspor bersih yang plus itu merupakan earning power sekaligus money power. Itulah faktor internal utama kekuatan ekonomi. 

Adapun faktor eksternal utama adalah nilai tukar. Jika seluruh negara di dunia di luar AS bisa impor dengan mata uang masing-masing, tidak begitu masalah meskipun agak ruwet. Misalnya, impor bisa dilakukan dengan rupiah, maka tidak ada masalah. Masalahnya, itu tidak bisa dilakukan. Bandingkan dengan AS, kalau impor, tinggal bayar pakai USD. Kalau tidak punya nett export, tinggal cetak USD dan bayar impor dengan USD. Kalau ekonomi turun, tinggal cetak USD, USD pun mengalir ke seluruh dunia. 

Utang AS pun tertinggi di dunia, tapi tidak bangkrut. Namun, negara lain memiliki risiko bangkrut. AS tidak kenal risiko kurs. Tetapi, seluruh negara di dunia memiliki risiko kurs. Jadi, sebenarnya keberadaan USD meresahkan seluruh negara. Karena itu, Eropa pun menandingi dengan bersatu membuat euro. Bersatunya Eropa mengurangi risiko kurs, bahkan kalau bisa mendapat untung dari kurs. Karena itu, negara-negara kecil yang tidak kuat di Eropa ingin masuk zona euro. Inggris yang kuat tidak mau.

Bila Eropa mampu bersama menyelesaikan, bagaimana dengan negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, termasuk Australia, di luar Jepang? Mereka adalah kumpulan negara yang harus berjibaku menghasilkan earning power dari nett export dan berjibaku mempertahankan kurs. Fakta yang ada, secara umum, meski telah mengekspor banyak, hasilnya hilang atau berkurang karena rugi kurs. Ketika tidak kuat, utang berbentuk USD. Karena itu, kini kebanyakan negara tersebut terjebak utang. Jadi, bisa disimpulkan, USD adalah predatoric finance. 

Selain faktor internal dan eksternal, negara-negara non-USD dan non-euro memiliki risiko diserang spekulator. Spekulator keuangan itu bersenjata margin trading dan short selling serta senjata perdagangan mata uang lainnya. 

Tumbangnya pasar tentu menyebarkan ketakutan. Karena sumber tumbangnya pasar uang dan pasar modal adalah turunnya nilai rupiah, bagaimana Indonesia harus mengatasinya? Inilah langkah yang, antara lain, bisa dilakukan. Pertama, efisiensi belanja dalam APBN. Kedua, memberikan kemudahan ekspor dan memberikan batasan impor yang tidak perlu untuk menjaga cadangan devisa, sekaligus membuat nett export positif. Termasuk, mendorong dan memberikan insentif TKI yang bekerja di luar negeri. 

Ketiga, mengurangi utang dalam USD, baik oleh pemerintah maupun swasta, melalui serangkaian kebijakan. Keempat, menjaga nilai tukar dengan membatasi dan mengawasi trader mata uang, sekaligus mewajibkan hasil ekspor disimpan di Indonesia. Kelima, memberikan tambahan likuiditas ke perbankan, tetapi hanya ke bank BUMN. Keenam, membeli SUN di pasar sekunder yang harganya sudah jatuh dalam.

Ketujuh, membeli saham-saham BUMN di bursa langsung maupun melalui lembaga dana pensiun milik negara maupun lembaga lain. Kedelapan, memberikan kebijakan BUMN dan swasta untuk buy back saham dan surat utangnya di pasar sekunder tanpa harus RUPS. Kesembilan, Bursa Efek Indonesia diminta melakukan auto reject atau menghentikan perdagangan bila IHSG turun 5 persen dan auto reject jika turun 10 persen untuk 20 emiten saham berkapitalisasi terbesar atau yang sumbangannya terhadap nilai kapitalisasi pasar bursa di atas 1 persen. 

Kesepuluh, memberikan kelonggaran penerapan giro wajib minimum bagi perbankan dengan menurunkan rasio GWM. Kesebelas, membatasi transaksi yang dianggap spekulasi, sekaligus menangkap dan memberikan sanksi bagi individu atau perusahaan yang melakukan aksi spekulasi dalam jumlah besar.

Bagaimana sebaiknya langkah investor pasar uang dan pasar modal? Tetap follow the smart money. Time to buy secara selektif dan bertahap atas saham-saham yang sudah turun tajam tetapi berfundamental bagus, sekaligus time to sell untuk USD. Sebab, sejak 1998, rupiah hanya di kisaran Rp 8.000-Rp 11.500 per USD. Ingat tumbangnya pasar uang dan pasar modal 2008, akhirnya harga saham akan naik lagi. Begitu pula, rupiah yang turun tajam akan menguat lagi. Sejarah akan terus berulang. Tetap optimistis dan selamat berinvestasi. ● 

Senin, 24 Juni 2013

Menanti Langkah Padu OJK-BI

Menanti Langkah Padu OJK-BI
Leo Herlambang ;   Dosen FEB Unair,
Ketua Focus Group Fiskal, Moneter, LK, dan Pasar Modal ISEI 
JAWA POS, 24 Juni 2013


DI saat pasar finansial, baik di pasar uang maupun pasar modal, bergejolak seperti sekarang, diperlukan lembaga pengawas pasar yang tepercaya serta melindungi konsumen dan masyarakat. Lembaga tersebut harus turun ke pasar untuk memberikan jaminan bahwa transaksi dilaksanakan secara teratur, transparan, dan akuntabel.

Saat ini momen yang pas untuk menyampaikan unek-unek kepada pimpinan BI (Bank Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) terkait dengan pengawasan pasar finansial. Selama ini, hingga akhir 2013, perbankan diawasi BI. Adapun pasar modal dan industri keuangan nonbank (IKNB) diawasi OJK sejak awal 2013. Pengawasan mereka berdua (BI dan OJK) akan digabung pada 2014 dalam OJK. 

Pengawasan tunggal, yang kian banyak dianut di negara-negara lain, diperlukan karena produk atau lembaga keuangan (LK) saling tumpang tindih. Misalnya, ada produk bankassurance, unit link, korporasi keuangan, dan semacamnya. 

Perkembangan pasar finansial yang kompleks, baik lembaga keuangannya, produknya, maupun konglomerasinya, memang membutuhkan pengawasan tunggal. Sangat sulit pengawasan pasar finasial dilakukan sendiri-sendiri. Seperti kejadian krisis yang lalu, kalau ada korban systemic risk, kurang ada yang bertanggung jawab. Seperti kasus Antaboga dan Bank Century. Antaboga di bawah pengawasan Bapepam dan Century di bawah pengawasan BI. Keduanya belum plong hingga kini.

Pengawasan makro adalah pengawasan atas dampak tindakan lembaga keuangan, dalam hal menjaga stabilitas dari, misalnya, risiko sistemik, makroekonomi, perkembangan pasar, infrastruktur pasar. Pengawasan mikro untuk melihat apakah LK, misalnya, patuh atas regulasi, kondisi kelayakan usaha. Pengawasan transaski bisnis meliputi, antara lain, perlindungan konsumen, transaksi antarlembaga, insider trading, fair dealing, margin trading, dan short selling.

Pengawasan makrokonomi dan mikroekonomi secara umum sudah standar. Namun, pengawasan transaksi bisnis tentunya lebih penting. Mengapa perilaku stakeholder pasar ini penting karena perilaku, etika, atau moral stakeholder pasar adalah sumber kestabilan dan ketidakstabilan pasar. 

Ketidakstabilan yang tidak realistis inilah sumber systemic risk terbesar. Etika atau moral ekonomi saat ini banyak dibahas dan terus dikembangkan melalui ekonomi Islam. Paham ekonomi yang mendorong agar manusia tidak menjadi serigala bagi manusia lainnya. Oleh karena itu, perkembangan produk dan entitas Islamic finance sangat pesat. Seperti menebar rahmatan lil alamin, kini hampir di semua pusat keuangan dunia ingin menjadi pusat produk dan entitasnya.

Ketidakstabilan pasar finansial membutuhkan pengawas pasar yang kuat. Ketidakstabilan pasar saat ini disebabkan faktor internal, eksternal, dan gabungan internal-eksternal. Di sinilah diperlukan pengawasan BI dan OJK agar tidak terjadi risiko pasar dan bila tidak tertangani bisa membesar, dan dapat berakibat systemic risk.

Ilustrasinya sebagai berikut. Akibat asing menarik dananya dari pasar uang, harga aset turun. Pihak-pihak yang melakukan transaksi margin terkena margin call, -karena tidak setor dana, terkena forced sell- sehingga harga aset turun lebih tajam. Pada saat yang sama, rumor beredar, asing menawarkan transaksi  short sell sehingga harga aset finansial turun lagi. Pihak-pihak yang tidak ikut transaksi tersebut ikut-ikutan melakukan jual sehingga pasar sangat tertekan. Penurunan harga aset itulah yang tidak lagi melihat fundamental perusahaan, tetapi lebih karena tindakan margin trading dan short selling yang mengakibatkan ketakutan pasar.

Di pasar uang, sebagai pengawas, BI harus bertarung mempertahankan rupiah agar tidak tembus Rp 10.000 per USD dan cadangan devisa agar tidak jatuh di bawah USD 100 miliar. Sebagai pengawas, tampaknya BI belum banyak mengeluarkan jurus aturan dan belum sambung 100 persen dengan OJK. Misalnya, apakah ada hubungan transaksi perbankan dan perusahaan sekuritas untuk membiayai transaksi margin. Saya lebih senang, dugaan itu salah.

Di pasar modal, belum terlihat tindakan nyata untuk menyelamatkan pasar meski itu hanya berupa aturan. Misalnya, pengetatan transaksi margin trading dan short selling. Kalaupun sudah ada aturannya, contoh aturanshort selling pun masih bisa dicari celahnya. Rumor bahwa ada pihak asing yang menawarkan pembiayaan short sell membuat harga pasar semakin jatuh juga belum tertangani meski mungkin sudah terdeteksi. Transaksi-transaksi seperti itu, kalau terjadi saat kritis, jelas sangat berbahaya bagi kestabilan pasar finansial dan perekonomian. Itu menciptakan supply and demand yang artificial  bukan lagi riil, dan yang berbahaya digerakkanpredatoric speculator.

Koordinasi antara BI dan OJK dalam pengawasan pasar finansial secara integratif harus diterapkan, tidak hanya menunggu 2014 ketika situasi sekarang menuntut aksi nyata. Tidak perlu menunggu korban-korban lagi seperti kasus Century, Antaboga, dan Sarijaya. Atau sampai seperti BEI harus tutup beberapa hari seperti pada 2008. 

Rabu, 12 Juni 2013

Waspadai Pergerakan Rupiah

Waspadai Pergerakan Rupiah
Leo Herlambang ;   Dosen dan ketua Pusat Studi Keuangan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
JAWA POS, 11 Juni 2013


MENYIMAK perdagangan saham tiga minggu terakhir, dapat dicatat penurunan IHSG mencapai 7 persen dari kisaran 5.200 ke 4.750. Sebuah angka yang wajar karena IHSG juga naik sangat tajam sebelumnya. Namun, di pasar uang, terjadi keanehan pada transaksi 10 Juni kemarin. Sejak pagi, ada pihak-pihak yang berusaha mengangkat USD atau melemahkan rupiah untuk ditembuskan di atas Rp 10.000 per USD. Rupiah diinformasikan sudah sampai Rp 10.175, terus turun lagi Rp 9.800 per USD. Naik turun yang sangat cepat dengan volatilitas yang tinggi. Range-nya sekitar 3 persen. Itu menunjukkan adanya pertarungan perdagangan rupiah kelas tinggi.

Yang perlu diwaspadai, angka Rp 10.000 per USD itu adalah angka keramat alias angka psikologis. Kalau menembusnya dalam waktu cukup lama, bisa membahayakan perekonomian secara umum. Hal tersebut terkait dengan persepsi. Karena harga adalah persepsi, kalau rupiah melemah, bisa dipersepsikan perekonomian Indonesia melemah. Jadi, senyampang masih potensi, harus secepatnya ditangani sebelum menjadi masalah.

Banyak analisis dilakukan. Di antaranya, pertama, pelemahan rupiah itu terjadi karena pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Di media massa, Menteri Keuangan Chatib Basri juga menyatakan, dengan menaikkan harga BBM, rupiah akan menguat. Namun, sampai kemarin, harga BBM belum naik. Jadi, spekulator ekonomi bisa jadi melakukan aksi jual rupiah.

Memang, memberikan subsidi itu penting, bagi yang tidak mampu khususnya. Bagi yang mampu pun penting. Sebab, dengan subsidi, aktivitas ekonomi bisa bergerak lancar sekaligus menciptakan kelas menengah baru, bahkan kelas atas baru. Masalahnya, yang memberikan subsidi, alias pemerintah, mulai tidak mampu. Alasannya, anggarannya banyak terbuang hanya untuk memberikan subsidi BBM. BBM adalah masalah pelik pemerintah yang dipimpin partai apa pun. BBM lebih menjadi komoditas politik daripada komoditas ekonomi. 

Kedua, informasi dan data yang ada menyatakan bahwa cadangan devisa sampai Mei 2013 tersisa USD 105 miliar, turun USD 7 miliar dibanding akhir Desember 2012 yang sekitar USD 112 miliar. Itu menunjukkan bahwa BI telah bertempur luar biasa untuk mempertahankan rupiah.

Ketiga, indikasi kebutuhan USD meningkat karena memasuki Ramadan. Keempat, selama minggu pertama Juni 2013, investasi yang keluar dari pasar modal lebih dari USD 800 juta. Kelima, kebijakan Quantitative Easing AS bisa mengakibatkan aliran dana keluar dari emerging market, termasuk Indonesia. Keenam, neraca pembayaran minus lebih dari USD 6 miliar. Ketujuh, prediksi peta politik 2014. 

Kedelapan, adanya rumor forced sell atas transaksi margin, yang mungkin juga pelakunya asing, sehingga mereka keluar dari Indonesia tapi tidak ingin rugi. Jadi, mereka melakukan transaksi forward rupiah di pasar gelap. Tentu masih banyak faktor lainnya.

Jadi, penurunan itu lebih banyak disebabkan faktor eksternal karena mata uang regional turun semua. Faktor internal, pro-kontra BBM menjadi komoditas politik itu menimbulkan ketakutan investor, sehingga mereka menghindar dulu.

Dalam manajemen risiko, dikenal hukum Pareto. Filosof Italia Vilfredo Pareto menyatakan, hanya sekelompok orang yang menguasai sebagian besar kekuasaan dan uang. Ada keyakinan bahwa hampir di semua negara, 20 persen orang atau sekelompok orang menguasai 80 persen uang yang beredar. Itu mirip dengan 20 persen orang atau sekelompok orang secara umum mengontrol 80 persen kekuasaan negara.

Contohnya di pasar modal Indonesia saat ini. Ada 478 total efek yang diperdagangkan, yang mayoritas adalah saham. Namun, 10 saham saja menguasai 40 persen kapitalisasi pasar atau 2 persen menguasai 40 persen. Bisa jadi, bila dihitung, juga hanya 20 persen saham menguasai 80 persen kapitalisasi pasar. Jadi, Pareto bisa menjadi acuan untuk mengukur risiko. Jadi, menaikkan atau menurunkan IHSG bergantung pada siapa pemegang saham emiten yang listed di BEI yang menguasai 80 persen kapitalisasi pasar, yang mungkin hanya sekitar 90 emiten, bahkan kurang. 

Di pasar uang, siapa yang mengendalikan? Secara de jure, Bank Indonesia memiliki kewajiban menjaga stabilitas mata uang rupiah di Indonesia. Sayangnya, ada pula pasar mata uang rupiah yang berada di luar Indonesia, yakni di Singapura. Melalui transaksi NDF (non deliverable forward), kita yang di Indonesia menganggap pasar gelap, tetapi fakta itu ditransaksikan oleh perbankan di sana. 

Jadi, apakah pasar rupiah bisa dikendalikan? Sulit dikendalikan di saat-saat tertentu, yakni saat-saat kritis. Apalagi, rupiah bukanlah mata uang utama atau hard currency. Poundsterling yang hard currency pun mampu ditumbangkan Soros. Soros-Soros kecil atau besar tetap akan ada, mencari kesempatan pada saat yang tepat, baik direncanakan maupun tidak. 

Untuk menyenangkan hati, bisa saja ada jawaban: yang turun nilainya bukan hanya rupiah, tetapi juga mata uang lain seperti peso Filipina, rupee India, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, dan won Korea. Intinya, USD sedang menguat ke mayoritas mata uang Asia. Jadi, serangan spekulator itu tidak hanya ke rupiah.

Itu benar sebagian. Sebab, pada saat bersamaan, di negara-negara Asia yang mata uangnya juga sedang turun, pasar modalnya naik, sedangkan pasar modal Indonesia justru turun. Ada anomali.

Sebagai pokok risiko, salah satu cara mengendalikan rupiah, Bank Indonesia harus segera berkomunikasi dengan bank sentral kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, untuk mengendalikan spekulator. 

Kedua, pemerintah segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasi risiko pelemahan rupiah, baik karena pengaruh eksternal maupun internal. Dan kalau mengikuti hukum Pareto, peganglah 20 persen pemilik dana dan kekuasaan yang diindikasikan menguasai 80 persen dana dan kekuasaan di Indonesia. Itu salah satu cara mengatasi risiko krusial -seperti pergerakan liar rupiah- yang paling efektif. 

Kamis, 03 Januari 2013

Peluang di Tengah Ketakutan Berlanjut Pasar Modal Indonesia


Peluang di Tengah Ketakutan Berlanjut
Pasar Modal Indonesia
Leo Herlambang ; Pengamat Pasar Modal,
Ketua Pusat Studi Keuangan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair
JAWA POS,  03 Januari 2013



REFLEKSI pasar modal Indonesia 2012 yang berjudul Cermati Pertengahan Tahun (Jawa Pos, 5 Januari 2012) menganjurkan investor saham sejak awal 2012 menempatkan investasinya dalam bentuk kas/deposito sampai pertengahan 2012, menunggu ''time to buy'' ketika pasar dalam kondisi ''takut''. Itu juga sekaligus tersirat ''time to sell'' bagi investor yang sudah posisi hold sejak awal tahun bila harga sudah naik. IHSG 2012 berada di 3.800-an, naik hingga awal Mei 2012 di 4.225-an, sekitar 10,9 persen. Setelah itu, IHSG meluncur tajam pada awal Juni 2012 hingga ke 3.650-an, turun 13,6 persen sebulan. 

Pada pertengahan tahun, pasar dilanda ketakutan. Mayoritas saham blue chip turun 15-38 persen hanya dalam jangka sekitar dua bulan. Rupiah melemah dari Rp 9.000 menjadi Rp 9.500 per USD dalam dua minggu. Devisa yang ditarik ke luar di atas USD 8 miliar dalam sebulan. Banyak perusahaan yang mendadak mengurungkan go public. Misalnya, Pegadaian. Di Hongkong, menurut BBC-Reuters, pembatalan mendadak dilakukan Graff Diamonds senilai 646 juta poundsterling, China Nonferrous Mining senilai USD 313 juta, dan raksasa otomotif Tiongkok Yongda Automobiles Services USD 433 juta. Sebagai catatan, IPO Graff Diamonds digadang-gadang menjadi IPO terbesar di Asia 2012. 

Setelah itu, IHSG kembali menguat sekitar 17 persen, dari 3650-an menjadi 4.300-an akhir 2012. Namun, perlu dicatat, ketakutan itu masih berlanjut dengan menurunnya nilai transaksi di BEI. Dapat dilihat dari perbandingan 2011 dan 2012. Pada 2011, nilai transaksi rata-rata harian mencapai Rp 4,95 triliun dan pada 2012 hanya Rp 4,53 triliun per hari atau turun 8,48 persen. 

Performa rupiah terhadap USD hingga akhir Desember 2012 melemah sekitar 7 persen di kisaran Rp 9.700, saat mata uang Asia secara umum menguat. Jika dihubungkan dengan pasar modal, selama lima bulan pertama 2012, IHSG digerakkan oleh saham-saham yang berbasis komoditas seperti coal (batu bara) dan CPO alias minyak sawit (2C). 2C itulah penghasil devisa yang relatif besar untuk menguatkan rupiah. Ketika harga 2C jatuh, nilai devisa turun. Jatuhnya harga 2C mengakibatkan harga-harga saham sektor tersebut rontok, bahkan ada yang jatuh lebih dari 50 persen.

Ada beberapa kemungkinan penyebab memburuknya nilai transaksi 2012. Pertama, komposisi market capitalization saham komoditas dan perbankan di BEI terlalu besar. Karena itu, ketika harga komoditas turun tajam, emosi investor untuk trading sangat terpengaruh.

Kedua, para investor atau fund manager besar juga terjebak inves terlalu besar di saham komoditas dan tidak berani switch. Ketiga, investor yang sudah memegang saham 2C tidak berani cut loss karena harga sudah terdiskon sangat rendah. Keempat, investor yang ingin beli saham-saham yang telah turun tajam, khususnya 2C, masih khawatir harga bisa turun lagi.

Kelima, lanjutan fenomena kesatu sampai keempat, volume bid offer saham-saham blue chip, khususnya 2C, menurun, sehingga value transaksi menurun dan mendorong trader bertransaksi di luar sektor 2C, beralih di sektor properti, industri dasar, infrastruktur, dan perdagangan yang secara umum market capitalization-nya tidak begitu tinggi tapi outstanding share-nya besar.

Fakta selama 2012, saham sektor pertanian turun sekitar 10 persen dan pertambangan turun sekitar 25 persen. Faktor penyumbang IHSG bertahan adalah sektor keuangan, yang market capitalization-nya sangat besar dan hanya naik sekitar 10 persen. Investor dan trader yang masih memiliki peluang transaksi secara umum akhirnya beralih ke sektor keuangan dan berlanjut ke sektor properti (naik sekitar 40 persen), industri (naik sekitar 30 persen) , infrastruktur (naik sekitar 25 persen), perdagangan (naik sekitar 25 persen), dan konsumsi (naik sekitar 20 persen).

Bila dikaitkan dalam sudut pandang ekonomi, turunnya nilai transaksi berarti terjadi pertumbuhan negatif alias resesi bagi pasar modal. Dalam siklus bisnis lima tahunan, 2013 termasuk siklus yang cukup rentan karena juga akan memasuki sesi Pemilu 2014. Namun, menurut berbagai pendapat, Indonesia secara umum masih menjadi negara yang menarik. Persepsi Indonesia juga menguat karena rating Indonesia sudah masuk investment grade, kenaikan                  middle class, konsumsi yang tinggi, dan hal positif lainnya. Namun, kekhawatiran naiknya tarif dasar listrik dan BBM tentu akan menjadi pencegah kenaikan angka-angka ekonomi.

Untuk 2013, mencerna kejadian 2011 dan 2012, dengan ilmu 2TA yang pernah disampaikan, yakni TA-kut dan TA-mak, dengan indikasi turunnya nilai transaksi, saat ini sebenarnya masuk era ketakutan beli dan jual, khususnya di saham-saham blue chip yang umumnya disenangi smart money. Terdapat ketakutan yang mendalam untuk investasi di saham-saham komoditas, yakni pertanian dan pertambangan. Ketamakan di sektor properti, industri dasar, infrastruktur, dan perdagangan masih ada. Ketamakan di sektor keuangan dan aneka industri sudah sangat berkurang. Maka, untuk investasi saham, akan lebih baik memegang sektor komoditas seperti sektor pertambangan dan pertanian yang risikonya mulai terbatas sekaligus mengurangi sektor properti. Sektor konsumsi masih menjanjikan karena kelas menengah meningkat dan jumlah penduduk muda yang besar. Sektor keuangan, khususnya perbankan, masih stabil.

Meski demikian, proses screening investment tetap harus dilakukan, khususnya terhadap rasio utang perusahaan, apalagi berbasis mata uang asing. Untuk prosesscreening saham yang paling aman, gunakan Islamic investment screening, sebagaimana mulai banyak dilakukan di luar negeri. Misalnya, Bloomberg, kerja sama Thomson Reuters & Crescent Wealth, Dow Jones, FTSE, MSCI, Standard & Poor, dan Russell. Di BEI, sudah ada JII dan ISSI. Selain ilmu 2TA dan prosesinvestment screening, gunakan pula jurus ''follow the smart money'' agar tetap aman saat kondisi masih tidak menentu. Tetap semangat karena tidak ada kiamat di 2012. Selamat berinvestasi.