Tampilkan postingan dengan label Di Balik Agresi Israel ke Gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Di Balik Agresi Israel ke Gaza. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juli 2014

Adu Kekuatan di Tanah Para Nabi

                           Adu Kekuatan di Tanah Para Nabi

Smith Alhadar  ;   Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies
KOMPAS,  21 Juli 2014
                                                


DI tengah ketegangan hubungan Israel-Palestina, terjadi insiden penculikan dan pembunuhan atas tiga remaja Yahudi di Hebron, ”Kota Para Nabi”, Tepi Barat, pada 12 Juni. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh pelakunya adalah Hamas atau Harakah al-Muqawwamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam). Dengan begitu, pemerintahan Netanyahu yang terbentuk dari partai garis keras Likud, yang didukung partai-partai agama dan ekstrem kanan, mendapat alasan menggempur Jalur Gaza.

Tuduhan Netanyahu itu belum tentu benar. Sebab, pertama, Hamas membantahnya. Kendati terkenal militan dengan sering melakukan serangan bersenjata dan bom bunuh diri terhadap sasaran-sasaran Yahudi di Israel, Hamas tak pernah melakukan penculikan disertai pembunuhan terhadap warga sipil  Yahudi, apalagi remaja.

Kedua, penculikan yang disertai pembunuhan terhadap warga sipil Yahudi, apalagi tiga remaja yang tidak berdosa, akan merugikan perjuangan Hamas. Bukan hanya serangan balasan Israel yang pasti terjadi akan mendapat pembenaran, komunitas internasional juga akan mengecam Hamas.

Ketiga, kemungkinan besar insiden itu dilakukan warga Palestina di Hebron. Sebagaimana diketahui, Hebron adalah titik api paling panas di tanah Palestina, setelah Yerusalem Timur (tempat Masjid Al Aqsa dan Dinding Ratapan Yahudi). Kota yang diklaim suci, baik bagi Muslim maupun Yahudi, ini harus diserahkan sepenuhnya kepada Palestina sesuai Kesepakatan Oslo II tahun 1995. Namun, Israel di bawah pemerintahan Netanyahu baru menyerahkannya pada 1996.

Itu pun tidak seluruhnya, dengan alasan, di situ ada permukiman Yahudi yang harus dilindungi. Walaupun hanya ada puluhan keluarga Yahudi di Hebron, Israel membagi kota itu menjadi dua, sebagian untuk ratusan ribu warga Palestina dan sebagian lain untuk puluhan keluarga Yahudi.

Permukiman Yahudi yang luas dan mewah dilindungi tentara Israel, sementara di seberang jalan hidup warga Palestina yang miskin dan terjajah. Hal ini menimbulkan kecemburuan sosial akut antara warga Paslestina dan permukiman liar Yahudi yang militan. Akses warga Muslim dan Yahudi ke makam para nabi pun diatur dan dijaga ketat oleh tentara Israel. Hal tersebut menimbulkan ketidakpuasan yang luas di antara warga Muslim Palestina ataupun pemukim Yahudi.

Keempat, Tepi Barat, khususnya Hebron, bukan basis Hamas. Penghuni Palestina di kota itu adalah pendukung PLO. Lalu, mengapa Netanyahu menuduh pelaku penculikan dan pembunuhan adalah Hamas dan langsung menyerang Jalur Gaza?

Politik pecah belah

Penculikan dan pembunuhan terhadap Eyal Yifrach (19), Gilad Shaar (16), dan Naftali Frengkel (16) tentu menimbulkan kemarahan luar biasa masyarakat Israel dari semua lapisan masyarakat. PM Israel harus segera mencari jalan keluar untuk meredam kemarahan warganya demi mempertahankan kekuasaannya. Solusi hukum dengan menyelidiki siapa pelakunya, kemudian membawanya ke pengadilan, terlalu banyak memakan waktu dan tidak sepadan dengan kemarahan warga Israel. Maka, jalan politik merupakan jalan paling realistis untuk dua keuntungan sekaligus.

Pertama, menyerang Hamas yang sangat dibenci masyarakat Yahudi karena teror yang dilakukannya selama ini untuk memperjuangkan berdirinya negara Islam di seluruh tanah Palestina, termasuk tanah yang dihuni warga Israel sekarang ini. Maka, menghukum warga Palestina di Jalur Gaza merupakan jalan untuk memuaskan nafsu balas dendam warga Israel.

Kedua, memecah belah rakyat Palestina lagi. Rekonsiliasi antara pendukung Fatah pimpinan Mahmud Abbas di Tepi Barat dan Hamas pimpinan Ismail Haniya di Jalur  Gaza pada April, yang kemudian diikuti pembentukan pemerintahan bersatu Palestina pada awal Juni, sangat mengecewakan Israel.

Netanyahu berharap, dengan menuduh Hamas sebagai pelakunya akan memojokkan Abbas, yang pada gilirannya mengecam Hamas sehingga terjadi perpecahan Palestina. Namun, manuver Netanyahu ini terlalu sederhana sehingga mudah dibaca arahnya. Karena itu, tidak ada reaksi tekanan AS ataupun PBB atas Abbas yang sangat diharapkan Netanyahu. Sebaliknya, dengan menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina, justru Abbas—pemimpin Palestina yang terpelajar, moderat, dan dipercaya warga Palestina, AS, Dunia Arab, serta komunitas internasional—membuat kian solidnya hubungan Fatah-Hamas.

Serangan balik Hamas dan faksi-faksi militan Palestina lain merupakan upaya mendapatkan legitimasi politik. Roket-roket rakitan Palestina sama sekali tidak berdampak apa-apa pada Israel, malah hanya memberi pembenaran lebih lanjut pada Israel untuk melancarkan serangan masif yang juga tidak akan memberi apa-apa pada Israel, kecuali memuaskan emosi kemarahan warganya. Pembunuhan dengan membakar remaja Palestina, Muhammad Abu Khudair (16), oleh warga Yahudi di Yerusalem, memukul balik Israel dan makin menyemangati Hamas. Permintaan maaf Netanyahu kepada ayah Khudair melalui telepon langsung tidak membantu keadaan.

Permainan kekuatan

Bagaimanapun, power game —permainan kekuatan—ini sebentar lagi akan berakhir setelah keduanya, Israel dan Hamas, memuaskan nafsu perangnya untuk mendapatkan legitimasi. Bukankah keduanya berpegang pada doktrin ”I fight therefor I’am” seperti yang dulu didengungkan PM Israel Menachem Begin, yang akhirnya membuat perdamaian dengan Presiden Mesir Anwar Sadat, yang dikenal sebagai Perjanian Camp David 1978, setelah keduanya terlibat perang pada 1967 dan 1973? Hanya saja, disayangkan bahwa permainan kekuatan ini harus mengorbankan rakyat sipil yang tidak berdosa.

Masalah penculikan dan pembunuhan tiga remaja Yahudi oleh warga Palestina dan seorang remaja Palestina oleh warga Yahudi sesungguhnya masalah krimimal biasa oleh warga Israel dan Palestina, yang kemudian dipolitisasi Netanyahu dan disambut oleh Hamas. Tidak usah berharap apa-apa dari isu ini. Sebentar lagi konflik akan reda.

Perdamaian hakiki hanya mungkin terjadi apabila ada perubahan mendasar pandangan Israel dan Hamas terhadap perdamaian dan kemauan besar disertai penggunaan sumber politik yang maksimal oleh Presiden AS Barack Obama yang dapat memaksa Israel membuat konsesi signifikan terhadap Palestina. Mungkinkah?

Kamis, 17 Juli 2014

Gaza dan Kezaliman Israel

Gaza dan Kezaliman Israel

Sumiati Anastasia  ;   Kolumnis dan muslimah di Balikpapan
JAWA POS,  16 Juli 2014
                                                


ISRAEL sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang zalim. ”Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah 2: 51)”

Kezaliman itu nyata dalam agresi terbaru Israel ke Gaza hari-hari ini. Tidak peduli Bulan Ramadan, Jalur Gaza, tempat tinggal bagi hampir 2 juta warga Palestina, yang selama ini diperintah oleh Hamas, sejak Selasa (8/7) kembali dibombardir dengan serangan udara. Hingga Senin (14/7), korban serangan udara dan tembakan artileri ke Jalur Gaza mencapai 172 orang dan 1.230 lainnya terluka. Korban jiwa dan terluka termasuk anak-anak, perempuan, dan kaum lansia. Badan Pengungsi PBB, UNRWA, mencatat, sekitar 17 ribu warga Gaza mengungsi dalam kondisi ketakutan. Rumah sakit bagi mereka yang berkebutuhan khusus itu diserang dan dua tewas, sebagaimana dilansir Maan News, Minggu (13/7).

Voice of Russia, Senin (14/7), juga melansir kabar terbaru bahwa Israel sedang menyiapkan serangan darat dengan 20 ribu personel cadangan ke perbatasan guna membasmi Hamas yang dianggap sebagai teroris oleh Israel. Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyerukan kepada masyarakat internasional untuk melindungi Gaza.

Melansir Xinhua, Senin (14/7/2014), Sekjen PBB Ban Ki-moon mendesak kedua pihak untuk duduk di satu meja dan melakukan dialog damai. Menurut salah seorang juru bicara Ki-moon, Sekjen PBB itu merasa bersalah dan bertanggung jawab terhadap insiden kemanusiaan yang melanda wilayah Palestina, khususnya kepada warga Gaza. Ratusan ribu orang sudah berunjuk rasa di seluruh dunia mengutuk agresi Israel ke Gaza. Namun, dasar memang zalim, Israel tidak menghentikan agresinya.

Bahkan, Paus Fransiskus kali ini juga dilanda kegeraman pada Israel. Pasalnya, baru-baru ini Paus mengundang Presiden Israel Shimon Perez dan Presiden Palestina untuk berdoa di sebuah taman di Vatikan bagi perdamaian dengan diiringi ayat Quran, Injil, dan Taurat yang dibacakan di Vatikan Minggu (8/6). Paus yang sempat mendatangi Masjid Alaqsa di Jerusalem Senin (26/5) juga menyeru umat Kristen, Yahudi, dan Islam bekerja sama mengupayakan perdamaian. Tapi, dasar Isarel zalim, segala doa dan seruan itu tidak digubris. Nafsu Israel akan perang tengah membuncah.

Dan agresi ke Gaza kali ini hanya repetisi. Masih segar dalam ingatan kita akan agresi Israel di Jalur Gaza, 27 Desember 2008–18 Januari 2009, yang menewaskan 1.400 jiwa dan mencederai 5.000 warga Palestina. Selain warga sipil, banyak pemimpin Hamas yang tewas. Kita tentu tak pernah lupa bagaimana tiga rudal Israel menewaskan pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas, Syekh Ahmed Yassin, saat dia hendak meninggalkan masjid seusai menunaikan salat Subuh (22/3/2004). Belum genap sebulan pascawafat Yassin, giliran Abdel Aziz Rantissi, pengganti Yassin, juga tewas dirudal tentara Israel (17/4/2004).

Mengapa Israel sedemikian zalim? Isarel di bawah PM Benjamin Netanyahu dan Menlu-nya, Avigdor Lieberman, yang berhaluan kanan, memang dikenal tidak menghendaki dialog atau perdamaian dengan bangsa Palestina. Inilah intinya. Kedua orang penting di pemerintah Israel terkini itu juga dikenal rasis. Jangan lupa Bibi punya ayah bernama Ben-Zion Netanyahu, seorang profesor sejarah Yahudi dan bekas pembantu senior Zeev Jabotinsky. Nama terakhir adalah sosok penggagas Zionisme Revisionis yang menghalalkan segala cara, termasuk cara kekerasan dan tindakan rasis untuk mengusir warga Palestina, ketika tanah Palestina ditetapkan sebagai tempat bagi berdirinya negara Israel yang harus menampung kembalinya orang Israel (diaspora) dari seluruh dunia. Zeev Jabotinsky juga banyak mendirikan sayap militer seperti Irgun, organisasi teroris dan militan di bawah tanah. Bibi jelas sangat terpengaruh Jabotensky.

Lagi pula, Bibi nyaris tidak punya pengalaman dalam perundingan perdamaian. Sebaliknya, Bibi punya pengalaman lebih banyak di bidang militer bersama dua saudaranya, Yonathan dan Iddo. Ketiga Netanyahu bersaudara pernah berdinas di satuan pengintai Sayeret Matkal. Bahkan, dari kajian psikologi, tampak seperti ada dendam kesumat dalam hati Bibi mengingat kakaknya yang bernama Yonatan Netanyahu terbunuh pada Operasi Entebbe pada 1976. Pengalaman-pengalaman seperti itu jelas memengaruhi pandangan Bibi atas bangsa Palestina sehingga dia tak mendengar seruan banyak tokoh dunia untuk menghentikan agresi ke Gaza.

Sedangkan Avigdor Lieberman lahir 5 Juni 1958 di Kota Kishinev, Moldova. Dia pernah terlibat dalam gerakan radikal kanan rasialis ”Kach” pimpinan Rabbi Meir Kahane yang punya tujuan mengusir warga Arab atau Palestina keluar dari wilayah Israel. Jadi, Bibi dan Lieberman jelas merupakan perancang dan pengambil keputusan serangan ke Gaza kali ini. Derita warga Palestina sejak 1917, ketika nenek moyang mereka harus menyingkir dari kampung halaman demi memberikan tempat kepada para imigran Yahudi, entah kapan akan berakhir. Hanya azab Tuhan yang bisa menghentikan kezaliman Israel. ●

Tragedi Gaza yang Terulang Lagi

Tragedi Gaza yang Terulang Lagi

Zuhairi Misrawi  ;   Analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah
The Middle East Institute
KOMPAS,  17 Juli 2014
                                                


SERANGAN Israel ke Jalur Gaza semakin meneguhkan bahwa Israel ingin mengubur perdamaian hidup-hidup dengan Palestina. Soalnya, dalam perdamaian niscaya Israel dan Palestina  saling menghargai. Situasi kian terpuruk karena serangan Israel ke Jalur Gaza kali ini sangat brutal dan membabi buta. Seratus korban tewas dan ratusan lainnya terluka. Israel menggunakan senjata mematikan untuk menyerang warga sipil.   Ironisnya, serangan Israel ke Jalur Gaza mendapat ”stempel politik” dari Amerika Serikat.

Seperti biasa, AS menggunakan alasan hak Israel mempertahankan diri dari serangan Hamas. Sikap AS itu dikecam keras dunia internasional sebagai dukungan atas langkah brutal Israel. Sekali lagi, sikap AS terhadap Israel tak pernah berubah: memberi stempel atas segala kebijakan Israel terhadap Jalur Gaza yang sudah terbukti menewaskan korban warga sipil dalam jumlah besar.

Bahkan, harus diakui, sikap Israel yang terkesan bebal dan tak mau mendengarkan aspirasi warga dunia disebabkan sikap AS yang cenderung berpihak kepada kepentingan politik Israel. AS terbukti menutup mata terhadap pelanggaran hak asasi manusia berat yang dilakukan Israel, termasuk besarnya jumlah korban yang tewas dan luka-luka akibat serangan brutal Israel. Faktanya, Israel yang kerap kali menyerang Jalur Gaza dan Tepi Barat tidak mendapat sanksi apa pun dari Mahkamah Internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurut Marwan Bishara (2014), serangan brutal yang dilakukan Israel ke Jalur Gaza punya empat agenda penting.

Pertama, Israel bertujuan memecah belah persatuan dan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah yang dalam beberapa minggu terakhir hampir mencapai kesepakatan. Bagi Israel, persatuan antara Fatah dan Hamas merupakan tantangan serius. Sebab, jika itu terjadi, Palestina akan so- lid mewujudkan agenda kemerdekaan dan pemulihan hak-hak politik mereka. Menurut Bishara, langkah yang diambil Israel dengan menyerang Jalur Gaza diduga kuat telah mendapat sokongan dari negara Barat.

Kedua, serangan Israel ke Jalur Gaza punya tujuan konsolidasi dan soliditas pemerintahan Netanyahu. Sayap garis keras di dalam koalisi pemerintahan Ne- tanyahu sedang mencari legitimasi politik melakukan ekspansi dan pendudukan ilegal di Jerusalem Timur. Puncaknya, mereka akan berjuang keras menggagalkan pengakuan PBB terhadap Palestina.

Ketiga, Israel sedang mencari legitimasi membangun kembali kepercayaan publik internasional dengan dalih hak mempertahankan diri dari serangan pihak lawan. Salah satu citra yang akan dibangun dalam setiap serangan ke Jalur Gaza ialah mencari titik temu dengan pihak Hamas untuk melakukan genjatan senjata.

Keempat, Israel menduga kuat bahwa serangan ke Jalur Gaza akan dapat dukungan Mesir yang dipimpin Abdel Fattah El-Sisi karena Hamas merupakan saudara kembar Ikhwanul Muslimin yang telah dibubarkan dan divonis selaku gerakan teroris. Israel akan memakai ”perang melawan teroris” sebagai upaya membangun aliansi dengan Mesir.

Keempat alasan itu membuktikan bahwa Israel sedang berjudi karena menggunakan serangan yang jelas-jelas melanggar HAM sebagai justifikasi politik dalam negeri mereka. Langkah itu pasti akan gagal total karena yang terjadi justru sebaliknya. Setiap terjadi serangan ke Jalur Gaza, Palestina, khususnya Hamas, akan mendapat dukungan dunia internasional yang lebih besar. Hampir tak ada yang mendukung invasi Israel, kecuali AS.

Faktanya, Israel mengalami defisit kepercayaan dari dunia internasional. Sementara itu, Palestina akan semakin dapat dukungan dari dunia internasional. Bahkan, isu Palestina dapat mempersatukan negara-negara Arab dengan negara-negara Barat. Dalam setiap serangan Israel ke Jalur Gaza justru yang terjadi sebaliknya, Hamas semakin kuat sebagai kekuatan politik di dalam negeri dan di luar negeri. Di sinilah Israel sebenarnya selalu melakukan blunder dan kesalahan politik yang cukup fatal.

Sekarang momentum ini mestinya dapat mempersatukan Hamas dan Fatah. Di tengah-tengah serangan brutal Israel ke Jalur Gaza, mestinya Mahmoud Abbas segera mendeklarasikan bahwa Hamas dan Fatah telah mencapai kesepakatan membangun persatuan dan rekonsiliasi. Langkah ini penting diambil agar Israel dan AS tak lagi memakai kartu konflik internal Palestina sebagai justifikasi mengabsahkan serangan ke Jalur Gaza.

Peran Indonesia

Harus diakui, aspirasi rakyat Indonesia dalam membela kedaulatan politik rakyat Palestina sangat luar biasa. Solidaritas terhadap Palestina terus meningkat, baik berupa bantuan kemanusiaan dengan membangun rumah sakit di Jalur Gaza maupun dukungan politik terhadap Palestina, yang dilakukan semua kelompok agama dan organisasi masyarakat sipil.

Namun, catatan kritis perlu ditujukan kepada pemerintah dan parlemen RI yang hanya hadir di Palestina di saat-saat kritis, seperti saat gempuran Israel ke Jalur Gaza. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam 10 tahun terakhir tak punya desain politik luar negeri yang bersifat komprehensif terhadap kemerdekaan dan keselamatan rakyat Palestina. Tak ada peran yang bersifat komprehensif terkait posisi Palestina.

Maka dari itu, komitmen Jokowi terhadap kemerdekaan Palestina dapat menjadi angin segar bagi politik luar negeri RI di Palestina dan Timur Tengah pada umumnya. Negeri ini mestinya dapat berperan lebih aktif melakukan dua hal penting.

Pertama, mendorong rekonsiliasi Hamas dan Fatah membangun pemerintahan yang efektif dan efisien. Langkah yang diambil MPR berkunjung ke Ramallah dan DPR ke Jalur Gaza beberapa waktu lalu dapat dijadikan modal memulai rekonsiliasi nasional faksi-faksi politik di Palestina. Kedua, Indonesia dapat melakukan lobi politik dengan AS dan negara Barat untuk mengakui keanggotaan Palestina di PBB dalam rangka mempercepat kemerdekaan Palestina.

Sudah saatnya Indonesia hadir membantu dan membela rakyat Palestina, tak hanya pada saat mereka digempur Israel. Kita bisa berperan aktif mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina karena, sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945, kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Dengan demikian, untuk memastikan tragedi Gaza tak terulang lagi, diperlukan sebuah terobosan politik yang besar dan luar biasa untuk memuluskan jalan menuju kemerdekaan Palestina. Untuk itu, Indonesia mesti berada di garda terdepan dalam menggarisbawahi peta jalan menuju kemerdekaan Palestina. ●

Palestina Adalah Kita

                                               Palestina Adalah Kita

Kasra Scorpi  ;   Wartawan Haluan 
HALUAN,  15 Juli 2014
                                                


Dengan dalih untuk menghentikan se­rangan roket yang intensif dilancarkan Hamas ke Tel Aviv, Israel membabi buta melakukan serangan ke Gaza Palestina sejak Selasa pekan lalu, lebih seratus warga setempat ter­masuk anak-anak tewas.
“Teroris di Gaza telah membuat kesalahan besar menyerang orang Israel. Mereka yang mengundang bencana sendiri,” ujar Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Benny Gantz, seperti dikutip Al-Arabiya, Sabtu (12/7).

Militer Israel juga me­nuduh banyak rumah di Gaza yang digunakan untuk kepentingan persenjataan Hamas, sehingga menurut mereka sah-sah saja jika lokasi tersebut menjadi target se­rangan berdasarkan hukum inter­nasional.
Dengan angkuh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menambahkan, meski telah didesak pihak internasional, tak akan ada yang bisa menghentikan invasi negaranya.

Dikatakannya, Israel telah  menyerang lebih dari 1.000 sasaran di Gaza sejak Selasa 8 Juli lalu menggunakan kekuatan dengan skala 2 kali lebih besar dari operasi serupa yang dilancarkan pada 2012.

“Tidak akan ada tekanan internasional yang bisa mence­gah Israel menggunakan kekuatan,” kata Netanyahu setelah berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Kanselir Jerman Angela Merkel, seperti dilansir BBC.
Memang bagi Israel, se­rangan biadab terhadap warga Paletina merupakan hal biasa dan sudah kerap mereka lakukan yang mengakibatkan warga Palestina tidak putus dirundung malang.

Sementara betapapun ke­rasnya reaksi dunia termasuk kita bangsa Indonesia terhadap serangan itu tidak diacuhkan Israel, bahkan reaksi badan dunia sebesar PBB sekalipun dianggapnya sebagai angin lalu saja.

Mengapa negara sekecil itu terlalu sombong dan percaya diri menyerang terus-terusan tetangganya Palestina?

Karena Israel tahu persis bahwa Palestina lemah di bidang militer dan ekonomi dan saudara-saudara Palestina di sekitarnya yakni negara-negara Arab tidak kompak mem­berikan pembelaan, bah­kan solidaritas antarnegara Arab itu sangat rapuh, mereka lebih suka saling bertengkar sesa­manya ketimbang mem­bangun persatuan membela Palestina.

Kerapuhan solidaritas Arab itulah yang dimanfaatkan Israel dengan sekutunya Amerika Serikat dan negara barat lainnya untuk mengatur peta perpolitikan dan melakukan apa yang diinginkannya di Timur Tengah.

Padahal kalau negara Arab seperti Iran, Irak, Arab Saudi, Syria, Lebanon, Kuwait, Mesir dan lainnya bersatu membela Palestina, jangankan berperang “kencing” saja warga Arab ramai-ramai ke Israel akan jadi lautan negara yahudi itu.
Tetapi yang dilakukan Arab setiap kali terjadi serangan Israel ke Palestina  hanyalah menggiring opini masyarakat dunia untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan  untuk mempercayai PBB sebagai penengah untuk penyelesaian konflik.

Padahal lembaga dunia itu tidak pernah mampu mela­kukan penyelesian konflik secara permanen dan selalu  berpihak kepada Palestina, pasalnya PBB di bawah ba­yang-bayang Amerika Serikat Cs yang pro Israel.

Belakangan banyak orang berharap kepada presiden Amerika Serikat berkulit hitam yang ayahnya seorang Islam dari Afrika Barack Husein Obama agar bersikap netral dalam kasus kronis di tanah Palestina itu, tetapi nyatanya Obama sama saja dengan pendahulunya Bush maupun Clinton, sama-sama mem­benarkan invasi Israel.

Seharusnya bagi saudara-saudara Palestina jalan yang harus ditempuh untuk meng­hadapi kebiadaban Israel adalah menjadikan Palestina adalah kita, duka Palestina adalah duka kita, denyut nadi warga Palestina adalah denyut nadi kita bersama, perjuangan Palestina adalah perjuangan kita.

Untuk itu strategi yang dijalankan tidak cukup lagi gerakan movement dengan mengutuk-ngutuk melalui demonstrasi,  pernyataan untuk menggalang opini dan bantuan kemanusiaan lainnya, hal itu hanya untuk penyelesaian sementara,
Masalah Palestina terkini adalah soal perang, soal militer, karena itu Palestina juga butuh bantuan militer, minimal untuk membentengi diri, tanpa kekuatan militer, Israel akan terus leluasa mengobrak-abrik Palestina. Berperang untuk menegakkan kebenaran  juga salah satu cara penyelesaian konflik.  ●

Rabu, 16 Juli 2014

Dunia Harus Hentikan Perang

                                  Dunia Harus Hentikan Perang

Benny Susetyo ;   Seorang Pastor
KORAN JAKARTA,  15 Juli 2014
                                                


Israel terus menggempur militan Palestina di sepanjang Jalur Gaza. Serangan udara terus dilakukan dan tidak ada tanda-tanda Israel bakal menghentikan atau mengalihkan lewat serangan darat. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tak akan tunduk pada tekanan internasional untuk menghentikan agresi militer ke Gaza.

Tindakan Israel melanggar batas kemanusian universal karena telah melukai hukum internasional dan tata dunia yang damai. Paus Fransiksus berupaya mendukung Palestina. Hal itu diperlihatkan dengan mengunjungi negeri tersebut. Menurut dia, sekarang adalah saatnya mewujudkan perdamaian di tanah tersebut.

Ada banyak makna simbolis serta kejutan Paus untuk Israel dan Palestina waktu berkunjung. “Aku bersamamu," kata Paus kepada sekelompok anak-anak Palestina di kamp pengungsian di Bethlehem. Dia juga menggelar makan siang pribadi dengan lima keluarga Palestina yang dirugikan Israel.

Bahkan, kedatangan Paus di Bethlehem langsung dari Yordania naik helikopter memiliki makna simbolis penting. Kedatangan Paus sebelumnya, sejak Israel menduduki wilayah Itu pada 1967, selalu dilakukan lewat Israel.

Paus mendukung terhadap Palestina demi tercipta perdamaian sejati. Maka, tindakan Israel atas rakyat Palestina jelas melanggar moralitas kemanusiaan, HAM, dan melukai demokrasi. Israel seperti monster yang menakutkan. Demikian juga para militansinya yang kerap menjadikan penduduk sipil tak bersalah sebagai tameng peperangan.

Permasalahan Israel dan Palestina sudah bergeser dari soal-soal ideologis menjadi problem kemanusiaan universal. Dengan alasan itulah, maka setiap umat beragama apa pun dan dari kelompok mana pun yang mencintai perdamaian sudah seharusnya menggerakkan spirit perdamaian lebih luas.

Bersatu

Paus Fransiskus terus mendorong agar agama bersatu mewujudkan damai sejati. Agama dipangil untuk menciptakan tata dunia baru. Dialog antar-agama tidak boleh berhenti sebatas formalitas belaka. Pembumian makna dialog berarti menepis segala bentuk yang berbau ritual dan formal, tapi harus lebih menjunjung tinggi aspek semangat persaudaraan. Lebih jauh lagi, pembumian dialog bertujuan agar masyarakat bawah menerima cahaya kedamaian demi kehidupan yang tenang, tanpa ketakutan dan kecemasan.

Membangun kesadaran keberagaman harus menjadi prioritas. Keberagamaan jangan sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga sosial. Kesalehan sosial ditandai kepedulian secara ekonomis dan menerima umat agama lain. Itu berarti kaum beragama tidak boleh menghardik umat dari agama lain.

Itulah wajah agama yang manusiawi karena berorientasi altruistik, bukan egoistik. Maka, tiap ibadah harus lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan. Mempersembahkan korban bukan ritus utama beragama, tetapi pemihakan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Untuk itu, orang harus lebih dulu berdamai dengan siapa pun termasuk saudara, baru boleh beribadah atau berdoa. Bila tanganmu masih penuh penindasan, cucilah lebih dulu agar layak beribadah. Bila dirimu masih membenci sesamamu, berdamailah dulu, lalu beribadah kepada Tuhan.

Bila engkau masih berniat membunuh, buang, baru merayakan ibadah. Bila engkau masih merencanakan balas dendam, batalkan dulu. Peribadahan menjadi memuakkan dan hanya semu, ketika dalam waktu yang bersamaan tangan kita berlumuran darah. Begitulah pesan Nabi Yesaya.

Tugas umat beriman menyucikan dunia dengan menegakkan kemanusiaan dan keadilan. Keberagamaan bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi orang lain. Mendiang Romo Mangun mengatakan orang yang memiliki religiositas tidak memikirkan diri sendiri, tapi justru memberikan diri untuk keselamatan orang lain. Iman harus menghasilkan buah kebaikan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Jadi, beragama baru dikatakan benar bila kaum beragama mampu mengendalikan pikiran, emosi, agar tidak menyakiti orang lain.

Upaya Paus Fransiskus menghadirkan perdamaian dunia sebagai wujud keberimaan yang otentik. Iman otentik bila agama dihayati dalam wujud cinta kepada kemanusia. Kemanusian utama menerima sesama sebagai persaudaraan sejati untuk hidup berdampingan. Erick From mengatakan seluruh cinta di alam semesta merupakan representasi cinta Tuhan dan menjadi “wujud” cinta terhadap Tuhan.

Erick From menyatakan cinta tak akan mengerdilkan diri, pasangan, atau siapa pun yang ada di sekitar. Mencintai seseorang berarti membiarkan dia tumbuh dan berkembang secara bebas. Cinta itu membebaskan.

Inilah pentingnya mencintai berdasakan keberadaan Tuhan. Ketika pencina dan yang dicinta menyadari diri sebagai bagian ciptaan Tuhan, keduanya adalah satu, walaupun nyatanya tetap ada dua sebagai representasi keutuhan diri. Pencinta tidak akan melukai sesamanya, apalagi membuat orang lain menderita karena berbagai hal, termasuk perang. Perang sebenarnya menghancurkan nilai-nilai kemanusian karena hanya melahirkan penderitaan sesamanya.

Upaya Paus Fransiksus mewujudkan perdamaian tidak terlepas dari impian dalam membentuk tata dunia baru. Ini diucapkan saat Paus berada di sebuah tembok yang bertuliskan “Free Palestine” (bebaskan Palestina). Paus lalu berdoa di situ. ”Bethlehem terlihat seperti Ghetto, Warsawa” bunyi tulisan lain sebagai sindiran penderitaan rakyat Palestina seperti penderitaan warga Yahudi ketika ditindas rezim Nazi.

Dalam kunjungan tiga hari ke Timur Tengah itu, Paus Fransiskus juga mendukung kemerdekaan Palestina. Dia sepenuhnya mendorong upaya perundingan damai yang sudah lama “lumpuh”. Paus lalu mengundang Presiden Israel dan Presiden Palestina ke Vatikan untuk berdoa bersama guna mengakhiri konflik abadi, sebagaimana telah terjadi.

”Dalam hal ini, di tempat kelahiran Raja Damai, saya mengundang Anda, Presiden Mahmoud Abbas bersama Presiden Shimon Peres untuk bergabung dengan saya dalam doa sepenuh hati kepada Tuhan atas karunia perdamaian,” kata Paus di Betlehem.

Perdamaian Palestina akan mewujudkan dunia yang damai seutuhnya. Dunai internasional haraus segera menghentikan perang di Palestina. Gerakan solidaritas masyarakat intenasional akan menghentikan aksi melangar hukum. Dunia harus bersatu menegakkan nilai kemanusian universal. ●

Modus Serangan Israel ke Gaza

                                Modus Serangan Israel ke Gaza

Muhammad Ja’far  ;   Pengamat Politik Timur Tengah
KORAN TEMPO,  14 Juli 2014
                                                


Baru sebulan yang lalu, asa perdamaian Israel-Palestina merekah melalui inisiatif Paus Fransiskus mempertemukan Presiden Palestina Mahmud Abbas dengan Presiden Israel di Vatikan. Melalui pertemuan 25 Mei 2014 tersebut, Paus ingin membangkitkan kembali spirit persaudaraan agama sebagai landasan perintisan kembali perundingan damai. Namun, kini, asa itu sudah layu lagi oleh aksi militer sepihak Israel ke Gaza.

Aksi militer, terutama terhadap Gaza, menjadi modus yang digunakan Israel untuk beberapa tujuan. Setidaknya ada tiga modus aksi militer ini, yaitu:

Pertama, aksi militer kerap digunakan oleh Israel sebagai strategi untuk mendelegitimasi sebuah perundingan damai yang sebenarnya berjalan konstruktif. Tentunya, aksi ini inisiasi kelompok konservatif yang cukup dominan dan berpengaruh dalam perpolitikan Israel, terutama parlemen (Knesset), untuk meluluskan sebuah kebijakan militer.

Kedua, aksi militer juga menjadi modus Israel untuk menarik mundur sebuah hasil perundingan dengan Palestina, agar kembali ke titik "netral" yang dikehendaki Israel. Ketika sebuah proses perundingan menyepakati klausul kesepakatan yang tidak dikehendaki oleh faksi konservatif di Israel, aksi militer kerap digunakan untuk mendelegitimasi klausul tersebut. Perundingan mundur satu langkah secara sekejap, padahal dirintis dalam tempo yang cukup lama.

Ketiga, selain dua modus tersebut, aksi militer menjadi strategi Israel untuk menekan faksi politik di lingkup internal Palestina. Aksi militer Israel sering kali ditujukan sebagai simbol sekaligus alat tekanan politik terhadap Hamas sebagai salah satu faksi di Palestina. Dengan modus tekanan ini pula Israel berupaya mengantisipasi terjadinya rekonsiliasi politik antara faksi yang berival di lingkup internal Palestina. Terutama antara Hamas dan Fatah. Dalam beberapa bulan terakhir, Hamas dan Fatah sedang menjajaki proses rekonsiliasi yang menargetkan terbentuknya pemerintahan bersatu di antara keduanya. Ini langkah maju bagi kalangan internal Palestina, namun bisa menjadi langkah mundur bagi kepentingan sepihak Israel. Rekonsiliasi Hamas-Fatah akan menyolidkan daya tawar politik negara tersebut di hadapan Israel.

Selama ini, Israel banyak diuntungkan oleh, sekaligus memanfaatkan secara manipulatif, friksi politik yang terjadi di antara keduanya untuk melemahkan posisi tawar politik Palestina di meja perundingan. Israel sering menekan Fatah untuk memilih antara dua opsi: berdamai dengan Hamas atau Israel. Terakhir, pernyataan semacam ini dilontarkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu pada April lalu, menanggapi rencana rekonsiliasi Hamas-Fatah. Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Liberman juga mengatakan secara keras bahwa prospek rekonsiliasi Hamas-Fatah tersebut membuat kesepakatan damai Israel-Palestina menjadi "tidak mungkin". Meski proses rekonsiliasi Hamas-Fatah masih butuh waktu, komitmen, dan konsistensi di antara kedua faksi tersebut, prospek itu setidaknya telah menjadi lampu kuning bagi beberapa faksi di Israel.

Aksi militer Israel ke Gaza saat ini mendekati pola modus yang kedua dan ketiga, yaitu semakin menarik mundur perkembangan perundingan dan mengantisipasi prospek rekonsiliasi Hamas-Fatah. Terbuka kemungkinan, dua hal ini berkelindan dan saling mempengaruhi. Di tengah upaya pemerintahan Obama untuk mencapai perkembangan impresif perundingan damai melalui tangan dingin Kerry, Israel justru melakukan langkah sebaliknya: menarik mundur. Aksi militer ke Gaza ini juga dapat dibaca sebagai strategi Israel untuk memberikan tekanan politis tidak langsung kepada Hamas dan Fatah, terkait dengan proses rekonsiliasi keduanya. Israel memutuskan untuk menangguhkan proses perundingan pasca-perintisan rekonsiliasi Hamas-Fatah.

Setidaknya ada lima isu yang selama ini menjadi materi perundingan damai Israel-Palestina selama ini, yaitu status teritori Yerusalem, garis perbatasan negara, permukiman, pengungsi, dan jaminan keamanan kedua negara. Pada kelima poin tersebut, Palestina selalu berada di bawah angin dan tidak pada posisi sejajar secara politis. Dalam hal pembangunan permukiman dan pengungsi, Israel selalu menunjukkan superioritas dan arogansinya. Dorongan Obama agar Israel menghentikan proses pembangunan permukiman tidak dihiraukan oleh Israel. Dalam hal jaminan keamanan negara, Israel menuntut kadar yang tinggi untuk negaranya, namun sebaliknya kepada Palestina. Aksi militer ke Gaza saat ini salah satu bukti rendahnya pemenuhan Israel terhadap jaminan keamanan rakyat Palestina. Mereka melakukannya secara sporadis terhadap warga sipil Palestina.

Aksi militer Israel ke Gaza menjadi tantangan bersama bagi Fatah dan Hamas, terkait dengan realisasi rencana rekonsiliasi keduanya. Persatuan di antara keduanya akan menguatkan Palestina secara politis, baik soliditas di dalam negeri maupun di dunia internasional. Momentum rekonsiliasi keduanya sudah mulai tercipta. Butuh komitmen dan konsistensi keduanya untuk merealisasinya. ●

Senin, 14 Juli 2014

Gaza dan Berahi Israel Akan Perang

                         Gaza dan Berahi Israel Akan Perang

Tom Saptaatmaja  ;   Teolog
SINDONEWS,  13 Juli 2014
                                                


“PERDAMAIAN tak bisa terwujud dari ketidakadilan“ (Paus Fransiskus)

Perdamaian adalah sesuatu yang rapuh, khususnya di Palestina. Bila tercipta perdamaian beberapa saat saja, naluri agresi manusia yang doyan mengobral senjata segera mengoyaknya. Inilah yang terjadi di Jalur Gaza. Sejak Selasa (8 Juli) Israel kembali menginvasi Jalur Gaza.

Kemungkinan besar, motif serangan Israel ke Gaza kali ini lebih dipicu oleh kemarahan publik Israel atas tewasnya tiga remaja Israel baru-baru ini, yang menurut publik Israel dilakukan oleh Hamas. Pemerintah Israel mendapat tekanan dari publik yang geram atas tewasnya tiga remaja itu. Padahal, belum tentu Hamas menjadi pelakunya.

Terus Jadi Sasaran

Gaza yang dikuasai Hamas memang sering jadi bulan-bulanan Israel. Publik dunia tentu tidak melupakan serangan Israel di Jalur Gaza, 27 Desember 2008-18 Januari 2009 yang menewaskan 1.400 jiwa dan mencederai 5.000 warga Palestina. Banyak juga pentolan Hamas yang dibunuh Israel. Kita tentu tak pernah lupa bagaimana tiga rudal Israel menewaskan pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmed Yassin saat ia hendak meninggalkan masjid seusai menunaikan salat Subuh (22 Maret 2004).

Belum genap sebulan setelah kematian Yassin, giliran Abdel Aziz Rantissi, pengganti Yassin, juga tewas ditembak rudal tentara Israel (17 April 2004). Israel kembali menewaskan tokoh Hamas, Adnan al-Ghoul, dalam serangan rudal di Jalur Gaza (21 Oktober 2004). Melihat dahsyatnya dampak dari serangan ke Gaza pada awal 2009, Pemerintah Israel pernah hendak diajukan ke Mahkamah Kriminal Internasional di Den Haag dengan tuduhan telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Menariknya, tuduhan tersebut justru dilontarkan oleh jaksa bereputasi internasional asal Afrika Selatan, Richard Goldstone, yang berdarah Yahudi. Goldstone bersama timnya telah membuat laporan setebal 575 halaman yang berjudul “Misi PBB untuk Pencari Fakta dalam Perang di Jalur Gaza”, yang dipublikasikan pertengahan September lalu. Goldstone menyimpulkan, sesuai hukum internasional, Israel telah melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza.

Goldstonepun merekomendasikan Israel diadili di Mahkamah Internasional. Laporan Goldstone menggegerkan dunia, termasuk Israel. Amerika Serikat keberatan atas laporan Goldstone dan menyebutnya tidak objektif karena memberatkan Israel, sekutu abadinya. Semula, laporan Golstone hendak dibahas dalam sidang Dewan HAM PBB pada 2 Oktober 2009. Namun anehnya, atas permintaan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, sidang ditunda hingga Maret 2010.

Langkah Abbas ini dikecam Hamas sehingga makin menjauhkan Hamas dan Fatah dari agenda rekonsiliasi di internal Palestina. Abbas memang tunduk kepada tekanan AS yang sudah sejak jauh hari berpesan agar Otoritas Palestina jangan bersikap terlalu keras pada Pemerintah Israel, termasuk dalam menyikapi laporan Goldstone. Sebab bila Israel dikerasi, hanya akan membuat Israel menarik diri dari proses perdamaian.

Boleh jadi pertimbangan Abbas seperti itu juga bertumpu pada fakta bahwa akses penghidupan dan kehidupan rakyat Palestina hampir semuanya dikuasai Israel. Sidang HAM PBB yang membahas laporan Goldstone pada Maret 2010 tapi Israel tidak diajukan ke Mahkamah Internasional karena veto Amerika Serikat.

Para analis masalah Timur Tengah memang sudah yakin bahwa Israel tidak akan pernah bisa diseret ke Mahkamah Internasional karena masih adanya hak veto AS. Kecuali itu, Israel selama ini “doyan” melanggar berbagai resolusi dan regulasi PBB. Misalnya, Israel tidak pernah mematuhi Resolusi No.242/1967 yang mewajibkan negeri Yahudi tersebut untuk mengembalikan wilayah-wilayah Palestina, Suriah, dan Libanon yang didudukinya secara tidak sah dalam perang Arab-Israel tahun 1967.

Kegemaran Israel membangun tembok juga pernah dilaporkan ke Mahkamah Internasional. Namun, Pemerintah Israel justru menganggap Mahkamah Internasional mencampuri urusan dalam negeri Israel. Pembangunan tembok pun terus berjalan. Melihat sikap keras kepala Israel, tampaknya prospek perdamaian di bumi Palestina kian tak cerah. Apalagi masyarakat Internasional yang diwakili PBB sering kali bersikap tidak adil kepada bangsa Palestina.

Ketidakadilan terbesar terjadi ketika Dewan Keamanan PBB mengesahkan negara Israel dengan Resolusi No.181/1947 yang berdiri di atas wilayah Palestina. Padahal kita tahu, berdirinya Israel ditumbali dengan terusirnya jutaan warga Palestina dari kampung halaman mereka.

Sebagian harus hidup dalam penderitaan di banyak kamp pengungsian, seperti di Libanon atau Yordania. Populasi warga Kristen Palestina, yang sudah ada sejak jaman Yesus, misalnya, juga kian menyusut. Mereka lebih suka pindah ke mancanegara.

Provokasi Israel

Sayangnya Pemerintah Israel masih terus memprovokasi dengan mendirikan pemukiman baru bagi warga Yahudi, khususnya di Yerusalem Timur. Proses “Yahudisasi Yerusalem” yang terus dilakukan Israel jelas provokatif dan kerap dikecam. Pada kunjungan tiga harinya ke Palestina pada bulan Mei lalu, Paus Fransiskus sempat mendatangi Masjid Al Aqsa di Jerusalem Senin (26 Mei) dan meminta agar Israel menghentikan kebijakan provokatifnya atas Palestina.

Paus juga sudah menempuh jalan lembut dengan mengajak Presiden Israel Shimon Peres dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas berdoa bersama bagi terciptanya perdamaian di Vatikan pada Minggu (8 Juni). Paus sadar, doa bersama itu bukan untuk mencari solusi. Tapi, doa mungkin lebih baik daripada bersikap diam, seperti diamnya banyak negara atas agresi terbaru ke Gaza kali ini. Memang perdamaian di bumi Palestina sulit terwujud jika masih ada ketidakadilan, sebagaimana ditulis di awal tulisan ini.

Kini, semua sangat bergantung pada kemauan politik Pemerintah Israel dan sekutunya, khususnya Amerika Serikat, apakah berani menaikkan status otoritas Palestina sebagai negara merdeka yang berdaulat penuh. Ini kunci bagi perdamaian itu.

Selama Palestina belum menjadi negara merdeka yang berdaulat penuh, perdamaian memang sulit diwujudkan di Palestina, apalagi Israel terus dilanda berahi untuk berperang.

Israel Tak Ingin Perdamaian

                                     Israel Tak Ingin Perdamaian

M Hamdan Basyar  ;   Peneliti Utama Puslit Politik-LIPI
SINDONEWS,  13 Juli 2014
                                                


BEBERAPA hari terakhir ini dunia kembali disuguhi keganasan militer zionis Israel. Mereka membombardir wilayah Jalur Gaza, Palestina. Alasannya adalah untuk menghancurkan kekuatan Hamas.

Akibat kekejian Israel tersebut, puluhan orang menjadi korban meninggal dunia, termasuk anak-anak yang tidak berdosa. Serangan udara Israel itu sedikitnya telah menewaskan 85 orang sejak operasi dimulai, termasuk setidaknya 11 perempuan dan 18 anak-anak. Militer Israel mengatakan, dalam semalam lebih dari 300 tempat di Gaza menjadi target, sehingga jumlah serangan lebih dari 48 jam bisa mencapai 750 sasaran. Ini adalah operasi militer Israel terbesar di Gaza sejak November 2012.

Kelompok Hamas tidak tinggal diam. Pada hari Selasa mereka menembakkan 117 roket ke arah Israel, tetapi 29 roket berhasil dicegat oleh sistem anti-rudal Israel. Rabu Hamas kembali melawan dengan meluncurkan 90 roket, tetapi Israel mencegat 24 roket. Pada hari Kamis 15 roket menghantam Israel, sementara tujuh lainnya dicegat. Sejauh ini tidak ada kematian di pihak Israel.

Kondisi ini tentunya sangat ironis. Sebulan lalu, 8 Juni 2014, di Vatikan diadakan doa bersama untuk perdamaian Palestina dan Israel. Inisiatif datang dari Paus Fransiskus ketika berkunjung ke Yerusalem, 25 Mei 2014. Di kota yang dihormati tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) itu, Paus Fransiskus menawarkan undangan pribadinya bagi pemimpin Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Shimon Peres untuk bergabung dengannya di rumahnya di Vatikan guna “berdoa bersama sepenuh hati” bagi perdamaian.

Paus menuturkan membangun perdamaian itu tidak mudah, tetapi hidup tanpa perdamaian akan menjadi siksaan terus menerus. Undangan itu diterima oleh kedua belah pihak. Maka, pada Minggu, 8 Juni 2014, Presiden Israel Shimon Peres dan pemimpin Palestina Mahmoud Abbas ikut doa bersama Paus Fransiskus di Vatikan.

Acara semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya, demi perdamaian di Timur Tengah. Ketiga pemimpin itu bersama kepala gereja Orthodox Konstantinople, Bartholomew, menyampaikan doa bersama kardinal, rabi dan imam dari ketiga agama (Kristen, Yahudi dan Islam). Pertemuan selama dua jam di sebuah taman di Vatikan itu mencakup doa-doa dari Kitab Perjanjian Lama dan Baru, serta Alquran yang dibaca dalam bahasa Ibrani, Arab, Inggris dan Italia.

Semestinya suasana kebatinan yang telah dibangun oleh Paus Fransiskus di Vatikan tersebut dapat menjalar dalam proses perdamaian Palestina dan Israel yang mengalami deadlock. Doa bersama mestinya dapat menggugah hati untuk berusaha melakukan hal-hal yang lebih baik bagi kehidupan umat manusia. Perdamaian dapat diinisiasi melalui kebutuhan akan hidup bersama dengan menghargai adanya perbedaan.

Memang, dibutuhkan suatu keberanian dari seorang pemimpin untuk menyatakan kesediaan berunding, demi terlaksananya perdamaian. Tidak mudah, tetapi dapat dimulai kalau mereka mau dan bersedia. Tetapi, tampaknya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak terpengaruh usaha dari Paus Fransiskus. Tidak begitu jelas mengapa Netanyahu lebih senang berperang dari pada damai.

Sikap Netanyahu yang tidak senang damai terlihat juga ketika terjadi kesepakatan damai antara faksi Fatah dan faksi Hamas. Dia dan para pemimpin Israel lainnya marah pada Mahmoud Abbas sebagai pemimpin Fatah. Sebagaimana diketahui pada 23 April 2014, dua kelompok pergerakan Palestina, Fatah dan Hamas, menandatangani kesepakatan untuk bersatu. Kesepakatan ini juga sekaligus menandai berakhirnya perseteruan yang telah berlangsung selama beberapa tahun antara dua organisasi perjuangan pembebasan Palestina itu.

Dari sisi Palestina, kesepakatan Hamas dan Fatah patut disyukuri. Dengan demikian, ada harapan untuk membangun kebersamaan. Mereka sepakat untuk membentuk satu pemerintahan yang anggota kabinetnya terdiri dari para teknokrat. Setelah itu mereka dapat melakukan pemilihan umum anggota parlemen dan presiden agar ada legitimasi baru bagi pemerintahan Palestina. Pemilihan umum terakhir diadakan pada tahun 2006 yang dimenangkan oleh kelompok Hamas.

Tetapi dalam perkembangannya, pemerintahan Palestina justru terbelah. Kelompok Fatah menguasai wilayah Tepi Barat, sedangkan Hamas memerintah di Jalur Gaza. Oleh karena itu, kesepakatan 23 April 2014 tentu baik bagi perjuangan rakyat Palestina. Menanggapi kesepakatan Hamas dan Fatah, Netanyahu berang. Dia mengancam Presiden Palestina Abbas untuk memilih “berdamai dengan Israel” atau “bersatu dengan Hamas”.

Netanyahu memaksa Abbas untuk memilih salah satu. Tetapi Abbas menghendaki kedua dapat dicapai. Dia butuh adanya persatuan Fatah dan Hamas untuk memperkuat posisi Palestina. Abbas juga ingin ada perdamaian dengan Israel agar ada kehidupan yang baik antartetangga.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman mengatakan, penandatanganan kesepakatan antara Hamas dan Fatah untuk membentuk pemerintahan persatuan berarti telah mengakhiri proses perjanjian damai dengan Israel.

Sikap petinggi Israel tersebut tidak aneh. Mereka memang menghendaki Palestina terus terbelah untuk mempermudah mengalahkannya. Israel mendekati kelompok Fatah, tetapi memusuhi dan bahkan berusaha menghancurkan kelompok Hamas.

Pengeboman wilayah Gaza oleh tentara Israel kali ini dalam rangka menghancurkan kekuatan kelompok Hamas. Israel tidak begitu peduli siapa yang menjadi korban di Gaza. Perempuan dan anak-anak yang mestinya dilindungi dalam peperangan, juga menjadi korban keganasan tentara Israel. Melihat eskalasi yang terus berkembang, Amerika Serikat pada 9 Juli 2014 mendesak Israel dan Palestina untuk menurunkan ketegangan di Gaza dan menyatakan keprihatinan atas keselamatan warga sipil di kedua belah pihak.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS John Kerry telah berbicara pada hari sebelumnya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan berencana untuk berbicara dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Psaki mengatakan: “We are concerned about the safety and security of civilians on both sides.” (Al Ahram, 9 Juli 2014).

Sekjen PBB Ban Ki-moon, ikut prihatin dan mendesak segera ada penghentian serangan Israel terhadap warga sipil di Gaza. Sedangkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menanggapi serangan Israel itu dengan sebutan “genosida”.

Di Ramallah, Tepi Barat, Abbas mengatakan: “It’s genocide; the killing of entire families is genocide by Israel against our Palestinian people..... What’s happening now is a war against the Palestinian people as a whole and not against the (militant) factions...... We know that Israel is not defending it self, it is defending settlements, its main project .” (Al Ahram , 9 Juli 2014).

Menanggapi imbauan penghentian serangan Israel terhadap Gaza, Netanyahu justru menjawab tidak akan ada gencatan senjata. Di depan Komisi Pertahanan dan Luar Negeri Knesset (parlemen) Israel dia mengatakan, “I am not talking to anybody about a cease fire right now........It’s not even on the agenda.” (Haaretz, 10 Juli 2014).

Tampaknya, Netanyahu tidak mau berdamai dengan Palestina, khususnya kelompok Hamas. Kalau hal itu terus berlangsung, maka sulit terjadi adanya kehidupan yang aman dan tenteram antara Palestina dan Israel. Oleh karena itu, diperlukan usaha keras dari berbagai pihak, termasuk DK PBB, untuk mencegah adanya korban sipil dari pihak yang bertikai.