Tampilkan postingan dengan label Asmat - Tragedi Asmat dan Bencana Kemiskinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asmat - Tragedi Asmat dan Bencana Kemiskinan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Asmatku Belum Teruji

Asmatku Belum Teruji
Moh Agus Fuat ;   Ketua BEM FIB UI 2016;  Tim NU Peduli Kemanusiaan
                                                  DETIKNEWS, 08 Februari 2018



                                                           
Hari-hari ini hampir di semua media sosial tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Berjibun komen sanjungan hingga seloroh kata "goblag-goblog" bersahut-sahutan di setiap kolom komentar.

Berbicara mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat, izinkanlah saya untuk berbagi cerita. Saya tergabung dalam tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat. Sebelumnya tak pernah terbayangkan jikalau saya ikut andil mengemban tugas ini. Dalam benak saya sudah tergambar bagaimana susahnya menuju Asmat, apalagi ancaman penyakit malaria maupun campak membuat bulu kudu saya berdesir bila membayangkannya.

Bermodal nekad dan tawakal, apalagi ini tugas mulia dari NU saya siapkanlah mental dan segala keperluan. Seminggu sebelum keberangkatan kami harus menjalani vaksin campak dan minum obat anti malaria—obat ini masih harus diminum sampai sekarang—supaya tubuh kita kebal. Bersama dokter Makky dan Kang Wahib, kita berangkat naik pesawat dari Jakarta menuju Surabaya-Makasar-Timika.

Dari Timika menuju Asmat kita harus mengendarai pesawat kecil seperti capung. Itu pun jadwal pesawatnya tak menentu. Beruntung tim NU lokal Timika dengan segala upaya berhasil membantu kita untuk mendapatkan tiket keberangkatan esoknya. Di jadwal awal kita berangkat jam 05.00. Walhasil ketika kita berangkat subuh di bandara belum ada tanda-tanda kehidupan. Hujan deras menemani waktu fajar kami hingga sang petugas bandara menyampaikan bahwa keberangkatan pesawat diundur menjadi jam 10.00.

Perjalanan Timika-Asmat kami tempuh dengan durasi 45 menit. Setiba di bandara Ewer, Kabupaten Asmat kami disambut oleh PCNU Kabupaten Asmat dan beberapa tokoh masyarakat. Untuk menuju lokasi KLB, kita naik speedboat. Itu pun kita tak disediakan pelampung. Jadi, ketika ombak datang menghantam kapal, seketika itu pula jantung saya berdentum.

Perasaan saya sedikit lega ketika speedboat sampai di distrik Agast. Di sini kami beruntung karena salah satu pengurus NU setempat adalah salah satu tetua adat di kampungnya. Beliau bernama Bapak Leo Rahamtulloh Piripas, Ketua Badan Musyawarah Kampung (BAMUSKAM). Kehadiran beliau membuat kami bisa disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu kami pusingkan.

Untuk meninjau bagaimana kondisi anak-anak Asmat, Pak Leo mengajak kami untuk silaturahmi terlebih dahulu dengan tetua adat di Kampung Syuru. Kami diterima oleh para tetua di rumah adat. Mereka sebut itu JEW. Di tempat inilah kami mengutarakan kedatangan kami. Pak Leo menjadi menjadi penyambung lidah di antara kami. Ditemani kopi dan rokok perbincangan menjadi semakin gayeng dan akhirnya forum tetua adat mempersilakan kami untuk menjalankan program di Kampung Syuru.

Di sepanjang jalan kami menyusuri rumah-rumah, banyak sekali anak-anak Asmat yang ingin di foto dengan segala tingkah lucunya. Tampaknya mereka pun merasa sangat bahagia atas kedatangan kami. Hanya saja ada sedikit pemandangan yang ganjil menurut saya. Anak-anak balita di sini seringkali makan buah kedondong dengan dicampur micin dan juga penyedap rasa lainnya. Kata mama-mama, itu sudah menjadi cemilan anak-anak. Belakangan saya juga baru tahu kenapa ingus anak-anak seolah tak pernah berhenti itu karena setiap hari mereka minum air mentah. Memang air bersih di Asmat hanya mengandalkan air hujan.

Keesokan hari kami bersama tim lokal mengumpulkan sekitar 300 anak untuk menjalani screening dengan Pak Dokter. Selain itu, anak-anak juga mendapatkan vitamin, susu, dan biskuit. Dari hasil screening sekitar 14 anak terindikasi kurang gizi. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah karena ini baru screening satu kampung.

Salah satu anak yang masuk dalam list kami adalah Susana. Umurnya 1,5 tahun. Namun Susana hanya memiliki berat badan 4 kg. Dalam sehari Susana hanya makan nasi atau sagu dua kali. Di waktu pagi ia hanya minum teh atau kopi. Waktu kami beri susu dan biskuit, tangan Susana gemetar. Kata dokter ia kurang banyak protein.

Untuk me-monitoring anak-anak ini NU Peduli Kemanusiaan bersama tim lokal mendirikan rumah gizi. Atau, bahasa lokal mereka sebut CEM GIZI. CEM GIZI ini akan menjadi tempat anak-anak diberikan asupan gizi lebih. Setiap minggu dalam 4 kali mereka akan datang di CEM GIZI untuk diberikan asupan makanan bergizi.

Para pembaca yang budiman, CEM GIZI ini akan menjadi rumah bagi anak-anak Asmat supaya tetap bisa sehat seperti anak-anak Indonesia lainnya. Oleh karena itu, NU CARE-LAZISNU juga melakukan penggalang dana untuk anak-anak Asmat di https://kitabisa.com/NUpeduliAsmat

Banyak cerita yang belum bisa saya tuliskan tentang pengalaman berharga di Asmat. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Asmat dan begitu pula akan tertancap dalam lembaran hidup saya. Orang bilang ASMAT adalah kependekan dari Asal Mau Tahan. Dan, tampaknya saya belum teruji sepenuhnya untuk menjadi ASMAT. ●

Kamis, 25 Januari 2018

Tiji Tibeh vs Kawanan Imunitas Campak

Tiji Tibeh vs Kawanan Imunitas Campak
Djoko Santoso  ;  Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya
                                                     JAWA POS, 23 Januari 2018



                                                           
PERINGATAN Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I) yang dikenal dengan tiji tibeh, mati siji mati kabeh (satu mati, mati semua), agaknya relevan jadi solusi wabah campak (plus gizi buruk) komunitas terpencil di Papua. Bahwa, satu anak menderita campak, semua anak bisa terkena campak. Apalagi ini terkait tiga problem besar, yaitu ketertinggalan, kemiskinan, dan keterbelakangan budaya. Lantas, apa keterkaitannya?

Wabah di Asmat dan Pegunungan Bintang, Papua, seperti diberitakan Jawa Pos, Senin (21/1), menyiratkan problem khusus di pedalaman. Lokasi saudara kita ini jauh dari akses layanan kesehatan, karakter hidup berpindah-pindah, tidak menetap dalam satu kampung. Tak heran anak-anak sangat rentan penyakit menular. Penyakit yang bisa diatasi seperti campak pun jadi vulgar dalam daya tular.

Anak terinfeksi campak idealnya tidak akan menularkan pada lainnya. Namun, hal itu tidak demikian pada campak. Seperti ’’ikrar’,’ satu terinfeksi campak, semua bisa terinfeksi. Maka, mereka menderita ramai-ramai. Sifat menularnya dimulai ketika ada anak terinfeksi yang batuk atau bersin. Dia tentu menyemprotkan virus ke udara. Daya tular memuncak pada empat hari sebelum dan empat hari setelah munculnya ruam.

Dalam komunitas, seperti Asmat, yang diduga tidak memiliki kekebalan dari virus campak, berlaku hukum epidemiologi (perwabahan). Yakni, satu anak yang terinfeksi akan berpeluang menginfeksi 12–18 anak, yang kemudian masing-masing dapat menginfeksi 12–18 anak lainnya lagi. Jika sudah demikian, seketika wabah tumbuh meroket di luar kendali.

Terbukti hingga Jumat (19/1), sudah 68 anak yang tercatat meninggal dunia. Sementara yang dirawat makin bertambah jumlahnya hingga sampai ditempatkan di gereja. Terlebih lagi, sebelumnya juga dilaporkan 18 anak yang terkena kasus gizi buruk dirawat di RSUD Agats dan bertambah 15 anak. Kabar terakhir (22/1) di Kampung Pedam, Distrik Okbibab, Pegunungan Bintang, juga ditemukan 25 anak meninggal akibat campak, plus diare dan gizi buruk.

Selanjutnya, hukum epidemiologi semestinya dijadikan dasar indikator untuk mengakhiri wabah. Targetnya menjadikan setiap anak yang terinfeksi hanya mampu menginfeksi kurang dari satu anak lainnya, tidak boleh lebih. Dalam contoh ini, setidaknya 17 dari setiap 18 anak (lebih dari 94 persen) harus sudah divaksinasi dengan benar agar kebal campak. Ambang batas inilah yang disebut ’’ambang batas imunitas kawanan yang menjadi kunci solusi’.’

Memang ada kesulitan khusus di Asmat dan kawasan terpencil lain. Pertama, komunitas terpencil mempunyai beban kesulitan berlipat-lipat yang jika disederhanakan ada pada masalah keterbelakangan budaya, kemiskinan, ketertinggalan saranaprasarana yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

Kedua, segala peristiwa di Papua sangat mudah menjadi sorotan negara asing lengkap dengan bermacam hidden agenda-nya.

Ketiga, bila betul berikut ini semakin menggegerkan. Yaitu ditemukan banyak anak-anak terserang campak dengan gizi buruk pada tingkat yang mengkhawatirkan. Terpampanglah foto-foto kejadian anak meninggal dengan menampakkan tulang belakang dan tulang rusuk yang lebih menonjol, mirip wabah kelaparan tipikal Afrika. Gambaran kesedihan keluarga akan kekurangan pangan yang tidak mampu menjangkau harga pangan. Belum lagi sulit mendapatkan susu formula di rumah sakit atau kekurangan persediaan medis paling dasar seperti obatobatan, sabun, semprotan, kasa, popok bayi, dan sarung tangan.

Keempat, bila memang anak Asmat atau komunitas terpencil lain jarang yang divaksinasi campak, risiko besar bagi komunitas itu. Ringkasnya, hukum epidemiologi mengatakan bahwa setiap anak yang divaksinasi akan dapat mengurangi potensi sumber infeksi yang sekaligus mengurangi risiko pada anak yang tidak divaksinasi. Yakni memenuhi standar 94 persen tervaksinasi.

Untuk semua itu, menjadi penting dalam menjaga kekebalan tubuh suatu komunitas (tak hanya individu) dari waktu ke waktu. Pemerintah secara terpadu harus segera melakukan program vaksinasi secara intens dengan menata ulang kelompok khusus ini. Yakni untuk penduduk yang dikenal berpindah-pindah (tak hanya Asmat) dan kelompok yang secara sosiodemografi yang masuk dalam kategori ketertinggalan, miskin, keterbelakangan budaya.

Langkah penyelamatan berikutnya mengatasi krisis dengan menerapkan pendekatan khusus dan dalam jangka pendek melalui pengiriman makanan, susu formula, obat-obatan. Pada jangka panjang membuat sistem logistik makanan untuk menjamin tidak terulangnya krisis. Selain itu, secara lebih teknis, menulis sejujurnya kasus kekurangan gizi pada catatan medis anak-anak dan segera diidentifikasi bila ada diagnosis klinis malnutrisi dan meningkatkan kompetensi petugas agar profesional dalam mengelola kasus gizi buruk anak, kasus anak-anak kelaparan. Kementerian Kesehatan bersama kementerian lainnya bahu-membahu 
meminta laporan secara periodik terkait status gizi buruk. Karena ini merupakan sistem alarm awal dari krisis pangan sebagai ’’keadaan darurat kemanusiaan’.’

Semoga komunitas Asmat dan kelompok terasing lainnya bisa terjangkau melalui program penguatan kawanan imunitas. Selain campak, anak-anak bangsa itu juga wajib diberi vaksin-vaksin dasar lain. ●

Rabu, 24 Januari 2018

Tragedi Asmat dan Bencana Kemiskinan

Tragedi Asmat dan Bencana Kemiskinan
Haedar Ardi Aqsha  ;  Pegawai Negeri di Badan Pusat Statistik
Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat
                                            MEDIA INDONESIA, 24 Januari 2018



                                                           
UNTUK kesekian kalinya kabar buruk datang dari provinsi paling timur Indonesia, Papua. Dalam beberapa hari terakhir santer diberitakan adanya kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat. Terhitung sejak September 2017, kejadian ini telah menewaskan sedikitnya 67 anak yang tersebar di beberapa distrik (kecamatan). Diperkirakan, angka itu akan terus bertambah mengingat masih banyak daerah yang belum termonitor.

Pemerintah pusat dan daerah pun langsung bergerak cepat menangani kasus ini. Tim medis yang dibantu TNI dan Polri melakukan penyisiran ke setiap kampung di Kabupaten Asmat. Medan yang berat dan minimnya alat transportasi membuat tim penanganan KLB campak dan gizi buruk mengalami kesulitan menjangkau masyarakat yang ada di pedalaman. Tak menutup kemungkinan jika kejadian ini akan terus membesar dan cakupannya semakin meluas.

KLB campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat sedikit banyak mirip dengan kejadian sembilan tahun silam di Kabupaten Yahukimo. KLB yang menewaskan lebih dari 100 korban jiwa itu diakibatkan bencana kelaparan akut yang melanda hampir di seluruh kecamatan di Yahokimo. Kedua kejadian itu memberi sinyal kepada Indonesia bahwa bencana kemanusiaan belum mau menjauh dari Bumi Cenderawasih.

Komitmen dunia internasional untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan telah tertuang dalam tujuan pertama dan kedua Sustainable Development Goals (SDGs). Ditargetkan, pada 2030 sudah tidak ada lagi kemiskinan dan kelaparan di muka bumi ini. Akan tetapi, realitas telah membukakan mata dunia bahwa perjalanan masih sangat panjang untuk mencapai kedua cita-cita itu. Kejadian KLB campak dan gizi buruk yang melanda Kabupaten Asmat seakan membuka wajah yang sebenarnya Bumi Papua. Kejadian ini pun sontak mendapat sorotan nasional dan dunia internasional.

Penanggulangan kemiskinan

Merebaknya fenomena campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat bukan semata-mata diakibatkan rendahnya cakupan imunisasi campak dan kurangnya asupan gizi bagi anak-anak. Ada hal lebih besar yang melatarbelakangi kejadian itu semua, yakni kemiskinan yang berkepanjangan. Kejadian tersebut seakan membukakan kedua mata dunia bahwa masih banyak masyarakat Papua yang terbelenggu dalam kemiskinan.

Kemiskinan masih menjadi momok bagi masyarakat Papua. Dalam publikasi angka kemiskinan yang dirilis Badan Pusat Statistik, per bulan September 2017 Provinsi Papua memiliki persentase penduduk miskin terbesar di Indonesia. Tercatat 910,42 ribu jiwa atau 27,76% penduduk Papua hidup di bawah garis kemiskinan. Angka tersebut menempatkan papua menjadi provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar di Indonesia.

Berdasarkan konsep dan definisi, penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per bulannya di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan sendiri terdiri atas garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan nonmakanan (GKNM). GKM diukur berdasarkan kebutuhan minimum kalori seseorang per hari yakni 2.100 kalori, sedangkan GKNM merupakan kebutuhan minimum yang dikeluarkan untuk perumahan, sandang, hiburan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Ketidakmampuan pemenuhan kebutuhan dasar tersebutlah yang melatarbelakangi merebaknya wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat. Minimnya asupan makanan bergizi menjadikan anak-anak rentan terhadap berbagai penyakit. Tidak akan ada artinya sebuah imunisasi jika tak didukung dengan pemenuhan asupan makanan bergizi yang cukup karena sejatinya kelaparan akut yang berujung pada kasus gizi buruk menjadi gerbang masuknya berbagai penyakit.

Akses kesehatan

Selain karena aktor kemiskinan, faktor aksesibilitas terhadap fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga medis yang minim di Papua juga pantas untuk menjadi sorotan. Dari total 29 kabupaten/kota di Papua, masih ada delapan kabupaten yang belum memiliki rumah sakit umum daerah (RSUD). Adapun untuk Puskesmas, hanya ada 394 dari total 541 distrik (kecamatan) yang ada di wilayah Papua. Sejatinya, setiap kecamatan harus memiliki sebuah puskesmas yang berguna untuk melayani masyarakat setempat.

Minimnya jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang ada membuat jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan penanganan dan monitoring terhadap kesehatan masyarakat masih belum berjalan maksimal. Kejadian di Asmat pun menjadi bukti nyata dari lambatnya monitoring dan penanganan kesehatan masyarakat.

Faktor kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan pola hidup sehat juga berperan besar terhadap beberapa kasus kematian anak dan gizi buruk. Kesadaran mereka berobat ke pusat pelayanan kesehatan ketika mereka sakit masih sangatlah minim. Hal itu dapat dilihat dari data publikasi BPS yang dimuat dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Tahun 2017.

Sebanyak 31,91% penduduk Papua yang mengalami keluhan kesehatan enggan memeriksakan kesehatan ke pelayanan kesehatan dengan alasan tidak perlu, sedangkan 58,72% tidak memeriksakan penyakitnya ke pusat pelayanan kesehatan dengan alasan cukup dengan diobati sendiri. Becermin dari data tersebut, masyarakat Papua masih membutuhkan edukasi mengenai pentingnya memeriksakan kesehatan ke pelayanan kesehatan masyarakat setempat.

Kejadian seperti di Asmat dan Yahukimo besar kemungkinan akan terus berulang jika keadaan sosial-ekonomi masyarakat Papua tak kunjung membaik. Percepatanan pembangunan sosial-ekonomi yang inklusif ialah salah satu cara untuk mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan. Yang paling penting dari semua itu ialah perlu adanya sinkronisasi program-program penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan dari pemerintah pusat dan daerah agar kebijakan yang diambil dapat saling mendukung dan menguntungkan masyarakat. ●