Sabtu, 30 Desember 2017

Kebenaran Memerintah dalam Hati Kita

Kebenaran Memerintah dalam Hati Kita
Martin Lukito Sinaga ;  Pendeta GKPS dan Dosen Luar Biasa di STFT Jakarta; Tenaga Ahli di Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila
                                                    KOMPAS, 23 Desember 2017



                                                           
Setelah kita di Indonesia dan masyarakat dunia menyaksikan muslihat politik untuk memenangi pemilihan di kotak suara, semakin nyatalah apa yang disebut-sebut sebagai post-truth itu. Saking sesaknya percakapan dan keadaan pascakebenaran itu,tim ahli Oxford Dictionaries memutuskan bahwa post-truth adalah The Word of the Year 2016, yang akan mengisi percakapan publik pada tahun 2017.

Dan, memang kita pada tahun ini telah kelimpungan olehnya, dan belum tahu bagaimana cara terbaik menghadapinya. Sebagai kata sifat, post-truth berarti ’keadaan bahwa fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi’.

Karena demikianlah keadaannya, para aktivis media sosial pun mewanti-wanti bahwa hoakstelah sedemikian menyusup ke dalam percakapan sehari-hari kita. Malah, orang bisa dengan sengit membela diri kalau sudah mengira saksi dusta itu sebagai benar. Makanya, sekarang banyak orang berbicara lebih untuk membela pendapatnya, bukan memerikan fakta-fakta. Kalaupun ada fakta yang tampak bisa menggangsir pendapatnya, segera dicarikannya fakta alternatif yang lalu didaku sebagai kebenaran.

Vaclav Havel

Padahal, baru saja kita diyakinkan bahwa demokrasi adalah sebentuk ruang untuk keluar dari saksi dusta buatan kekuasaan otoriter, dan saat Reformasi 1998 kita menyambut kebebasan dari ruang pengap kebohongan politik tersebut. Pada tahun 1989, hal serupa juga dirayakan oleh bangsa Ceko, dan pemimpinnya, Vaclav Havel, berharap bahwa sekaranglah, di era demokrasi, masyarakat bisa bebas dari hoaks para demagog, lalu memasuki era Living in Truth. Kita di Indonesia pernah bersemangat dan optimistis seperti Havel sehingga buku karyanya telah diindonesiakan: Menata Negeri dari Kehancuran: Pemikiran tentang Demokrasi, Kekuasaan, dan Kebudayaan (1992).

Havel bercerita tentang pedagang di toko buah dan sayur yang dalam tekanan pemerintahan totalitarian dengan rutin menaruh plakat untuk slogan ”kaum buruh sedunia, bersatulah!” di antara bawang dan wortelnya. Tentu ia tidak pernah memikirkan arti semboyan itu walaupun telah dilakukan setiap pagi selama bertahun-tahun. Dan, ketika ditanyai mengapa ia melakukan, jawabnya ialah ”Saya takut dan karena itu patuh untuk tidak bertanya-tanya.”

Suatu saat, demikian catat Havel, pedagang tadi marah dan tidak lagi memamerkan semboyan tadi. Malah, ia mulai berbeda pendapat dengan suasana serba takluk itu. Ia menemukan kekuatan dalam dirinya untuk berbicara dari hati nurani; menurut Havel, inilah upayanya untuk hidup dalam kebenaran. Dengan demikian, ia telah membuka rahasia kebohongan yang beredar dalam politik dan masyarakat, dan kita tahu akibat lanjutan dari sikapnya ini: sistem kekuasaan komunis yang tertutup pun menjadi goyah dan tumbang. Yang sungguh penting ialah bahwa hidup dalam kebenaran yang awalnya tampak sederhana itu selanjutnya membawa pedagang tadi ikut dalam aksi-aksi dan pergerakan, dan di situ ia bahkan menemukan martabat dirinya.

Bagi Havel, revolusi Velvet di Praha tak bisa dilepaskan dari kerinduan untuk hidup dalam kebenaran agar terbebas dari hoaksrezim totalitarian. Hal ini tidak saja membuat warga mengalami momen otentik saat teriakan mereka menggema lalu terdengar memantul ke telinga sendiri, tetapi juga bagi Havel dengan begitulah kita tahu bahwa yang mendasari segala perjuangan akan kebenaran itu, walau tak tertangkap dengan utuh, ialah Yang Transenden itu sendiri.

Kebenaran memerintah

Suasana demokratis yang bebas memang telah membuat kita di Indonesia ini dapat menjalani hidup dalam kebenaran walau kini tampaknya arah jalan penghayatan kebenaran perlu ditemukan lagi. Kalau sebelum Reformasi 1998 kita bergegas menguak kepalsuan yang mengalir dari satu sumber kuasa, kini kita dijejali berita dan saksi dusta dari berbagai arah yang rasanya sudah kebangetan gaduhnya. Suasana serba terhubung telah membuat kita tanpa henti dicegat di mana-mana oleh beritahoaks.

Ibadah Natal bisa juga terkepung oleh bermacam berita dusta sehingga perayaannya akan dijalani dengan mewanti-wanti diri serba cemas. Lalu, aktivitas orang Kristen akan banyak pula bercorak waswas sehingga pesan Natal akan berisikan pembelaan diri semata, atau pengambilan posisi beda dengan orang lain sehingga tak sempat membuka diri membagikan kegembiraan dan pesan Natal.

Pesan Natal tahun ini yang dikeluarkan PGI dan KWI ialah agar ”Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu!” Damai yang sedemikian memang bisa datang di hati manusia karena Allah-beserta-kita, dan atas itu kita diminta membuka diri agar damai sejahtera tersebut juga memerintah dalam hati kita. Damai yang dianugerahkan itu tak boleh hanya terjadi dalam satu komunitas semata, tetapi mesti bersifat antarkomunitas ataupun antaragama.

Pesan Natal PGI/KWI itu pun melanjut mencatat bahwa damai yang memerintah dalam hati itu adalah sebentuk perutusan, yang melintas di tengah bangsa ini. Khususnya di tengah rasa cemas akibat adanya pihak yang hendak membeda-bedakan kewarganegaraan, yang juga akan merusak persatuan bangsa. Damai yang menjadi pesan dan kekuatan Natal kiranya membuat kita menemui dan berbagi untuk sesama warga bangsa, khususnya warga yang masih berjuang memenuhi kecukupan hidupnya, agar rajutan keindonesiaan tetap terjaga.

Dengan kata lain, suasana Natal perlu lebih otentik dihayati agar dampak riil dan viral-nya dapat dengan sukacita disambut masyarakat. Kalau Natal dilebih-lebihkan mahalnya, atau dibinar-binarkan gengsinya, orang akan menanggapinya sebagai berita kepalsuan Natal. Atau, bahkan membalas berceloteh betapa perayaan Natal itu tak sejalan dengan akidah Injil dan telah menjadi saksi dusta kepentingan pasar semata.

Natal kiranya sebentuk cara umat, seperti kata Havel, hidup dalam kebenaran. Mungkin ada plakat Natal yang tak berpesan apa pun lagi yang kita perlu turunkan dan buang, lalu menggantikannya dengan tanda baru. Tanda yang menunjukkan bahwa hati kita mau diperintah oleh kebenaran ilahi. Kebenaran tentang damai yang merangkul sesama, dan penyertaan Tuhan yang tak membeda-bedakan karena sejahtera-Nya diperuntukkan bagi semua warga bumi ini. Selamat Natal! ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar