Tampilkan postingan dengan label Amerika - Demo "Today I Am A Muslim Too". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika - Demo "Today I Am A Muslim Too". Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

Wajah Amerika Sebenarnya dalam Gerakan "Today I Am a Muslim Too"

Wajah Amerika Sebenarnya
dalam Gerakan "Today I Am a Muslim Too"
Shamsi Ali ;    Presiden Nusantara Foundation;
Koordinator rally Today I am a Muslim too
                                                 DETIKNEWS, 22 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

"This is what America looks like."

Itulah penggalan kata-kata saya pada pidato pembukaan rally 'Today I am a Muslim too' (hari ini saya juga Muslim). Betapa tidak, rally yang saya berani menyatakan sebagai "an historic" (bersejarah) itu dilakukan di jantung kota New York. Kota yang sering dijuluki sebagai 'capitol of the world' (ibu kota dunia).

Bersejarah karena diinisiasi oleh tiga pelaku 'hubungan antar agama'. Saya sendiri sebagai Imam yang memang sejak dua dekade terakhir telah mendedikasikan hidup membangun relasi dan kerja sama yang baik dengan semua masyarakat agama dan non agama di Amerika. Rabi Marc Schneier adalah seorang pemimpin Yahudi yang dalam 10 tahun terakhir mendedikasikan dirinya membangun hubungan antara Yahudi dan Muslim. Sementara Russell Simmons adalah raja hiphop dan seorang tokoh di komunitas Hollywood yang berpengaruh dan sangat aktif dalam membela hak-hak sipil masyarakat yang termarjinalkan.

Selain itu bersejarah karena rally tesebut berhasil menghadirkan minimal 7.000 peserta, mayoritas non Muslim dengan slogal 'hari ini saya juga adalah seorang Muslim'. Lebih seratusan pimpinan agama dari berbagai latar belakang, pemerintah New York termasuk Walikota New York dan beberapa tokoh Hollywood seperti Susan Sarandom, aktris dan produser yang masyhur.

Menakjubkan bagi sebagian karena kami mempersiapkan acara akbar itu dalam waktu kurang dari 10 hari. Begitu kami maklumkan sejak awal lebih 100-an ikut melibatkan diri baik sebagai co-sponsors maupun sebagai supporting organizations. Sejujurnya kami merasa seolah Allah menurunkan tentara langit membantu dalam proses ini.

Demikian pula peserta membludak di luar perkiraan kami. Tentu terima kasih ke perintis facebook, twitter, instagram, maupun social media oulet lainnya.

Inisiatif non Muslim

Rally hari Minggu tanggal 19 Februari kemarin itu sesungguhnya adalah rally kedua yang dilakukan di kota New York dengan tema yang sama. Rally pertama dilakukan di tahun 2011 lalu sebagai respons terhadap rencana Kongres Amerika mengadakan dengar pendapat tentang radikalisasi Muslim Amerika. Saat itu kita merasa tema dengar pendapat (hearing) itu sangat bias dan diskriminatif terhadap komunitas Muslim Amerika.

Peristiwa di atas itulah yang mendorong Rabi Schneier, presiden Foundation for Ethnic Understanding dan Russell Simmons, yang lebih dikenal di dunia sebagai pebisnis dan sekaligus raja hip hop Amerika, mendatangi saya dan menawarkan protes atau rally dengan tema 'hari ini saya juga Muslim'.

Saat itu kami juga menerima tawaran itu. Ribuan non Muslim keluar ke Time Square dan menyatakan protes terhadap rencana dengar pendapat itu, sekaligus menyatakan dukungan kepada komunitas Muslim dengan tema 'hari ini saya juga Muslim' (Today I am a Muslim too).

Kini dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika, dan diluarkannya kebijakan pelarangan bagi pendatang Muslim dari tujuh negara mayoritas Muslim, teman-teman non Muslim kembali menawarkan hal sama. Tentu bagi saya ini adalah peluang besar untuk mengambil manfaat dan mengail solidaritas dari semangat (spirit) mereka saat ini.

Oleh karenanya rally yang dilakukan Minggu tanggal 19 Februari kemarin itu dipersiapkan hampir sepenuhnya oleh teman-teman non Muslim. Betapa tidak mencengangkan. Di saat diluncurkan pengumpulan dana yang diperlukan, sekitar $50 lewat online, hanya dalam waktu 3 jam terkumpul lebih $30.000.

Pesan-pesan rally

Melihat tema 'Today I am a Muslim too' memastikan bahwa pesan utama dari rally itu adalah bahwa komunitas agama-agama di Amerika, bahkan mereka yang merasa tidak berafiliasi dengan agama apapun, menyatakan tekad membela komunitas Muslim. 'Hari ini saya juga Muslim' berarti apapun yang terjadi kepada komunitas Muslim juga terjadi kepada komunitas lainnya.

Hampir semua pembicara menekankan pentingnya menegakkan konstitusi dan nilai-nilai Ameria (American values) dalam kebijakan pemerintahan. Bahwa ketidakadilan kepada sebuah kelompok adalah juga ketidakadilan kepada semua orang. Bahwa keadilan dianggap tidak ada di saat masih ada pihak-pihak yang teraniaya.

Saya sendiri dalam pidato pembukaan sebagai pimpinan pelaksana menyampaikan tiga hal.

Pertama, bahwa rally ini bukan sekadar ditujukan untuk membela komunitas Muslim. Tapi sesungguhnya membela Amerika dari kemungkinan terjatuh ke dalam lubang yang berbahaya. Betapa tidak, Amerika yang dibanggakan bukan karena kekuatan militer, kemajuan ekonomi, atau kehebatan sistem pendidikannya saja. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah karena nilai-nilai tinggi yang dijunjungnya. Kebebasan dan keadilan untuk semua (justice for all) adalah bagian dari nilai-nilai itu.

Tapi melihat gelagat kebijakan pemerintahan federal Amerika saat ini, menimbulkan kekhawatiran jika nilai-nilai itu sedang terancam (undermined).

Kedua, bahwa komunitas Muslim Amerika adalah bagian integral dari masyarakat Amerika. Muslim Amerika adalah juga warga Amerika yang menjalani hidupnya sebagaimana warga Amerika lainnya. Dan oleh karenanya upaya marjinalisasi kepada komunitas Muslim sesungguhnya juga adalah marjinalisasi masyarakat Amerika.

Lebih khusus lagi bahwa komunitas Muslim, khususnya immigran, selalu dianggap lambang dalam melakukan integrasi ke dalam masyarakat mainstream Amerika. Walaupun kritikan ini salah alamat karena kenyataannya masyarakat Muslim Amerika adalah warga dengan integrasi tercepat di dunia barat. Bandingkan misalnya dengan Muslim di Prancis.

Kini dengan sikap pemerintahan federal Amerika yang tidak bersahabat itu justru menjadi "kendala" bagi proses integrasi itu.

Ketiga, rally itu sesungguhnya adalah perayaan (celebration) yang membanggakan. Bahwa dengan rally itu Amerika masih membuktikan apa Amerika yang sesungguhnya. Bahwa Amerika adalah wajah demokrasi. Bahwa kekuasaan itu ada di tangan rakyat (people), sebagaimana amanat konstitusi "We people".

Oleh karenanya ketika saudara-saudara non Muslim dengan segala afiliasi keyakinan dan ras membentuk kebersamaan itu, maka itu adalah perayaan yang membahagiakan. Perayaan keragaman, kebersamaan, kebebasan, dan tentunya secara khusus toleransi dan hubungan antar pemeluk agama.

Sehingga pada sejatinya saya menyimpulkan bahwa rally ini adalah "wajah Amerika yang sesungguhnya" (True face of Amerika). Itulah wajah yang saya kenal. Dan itu pula Amerika yang dikenal oleh banyak orang yang masih berusaha untuk datang ke negara ini.

Bayangkan dan tentu menyedihkan jika semua itu terkubur oleh kebijakan pemerintahnya sendiri. Maka dengan sendirinya rally ini bagi kami adalah bentuk patriotisme kepada negara ini.

New York, 21 Februari 2017 ●

Kamis, 09 Februari 2017

Tentang Demo "Today I Am A Muslim Too" di New York City

Tentang Demo "Today I Am A Muslim Too"
di New York City
Shamsi Ali  ;  Presiden Nusantara Foundation; Cendekiawan Muslim;
Imam dan Direktur Jamaica Muslim Center Jamaica-Queens-New York; 
Mantan Imam di Islamic Cultural Center of New York
                                                 DETIKNEWS, 08 Februari 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Meningginya Islamophobia di Amerika Serikat dan terjadinya kasus-kasus kekerasan kepada komunitas Muslim menimbulkan banyak keresahan, kekhawatiran, bahkan ketakutan kepada komunitas Muslim. Sejak memulai kampanye hingga terpilihnya, Presiden AS Donald Trump telah berhasil menebarkan racun ketakutan dan kebencian kepada sebagian masyarakat Amerika, yang memang selama ini sangat salah dalam memahami Islam dan pengikutnya.

Puncak dari semua itu adalah dikeluarkannya Executive Order atau dikeluarkannya aturan melarang pendatang dari tujuh negara mayoritas Muslim untuk masuk Amerika. Keputusan pelarangan tersebut segera menyulut protes, bahkan kemarahan tidak saja warga Muslim Amerika, tapi juga masyarakat luas non Muslim di Amerika. Demonstrasi terjadi di mana-mana, khususnya di berbagai bandara internasional di berbagai kota Amerika.

Keputusan itu bahkan memicu drama di kalangan pejabat Amerika sendiri. Acting Attorney General atau Jaksa Agung Amerika menentang untuk melaksanakan keputusan pelarangan itu dan berakhir dengan pengunduran diri, lalu disusul oleh pemecatan oleh Presiden Donald Trump. Pada akhirnya memang keputusan Trump (Executive Order) itu dibatalkan oleh Hakim Tinggi Amerika. Permintaan banding Trump ditolak kembali oleh Hakim Agung untuk kedua kalinya.

Solidaritas Warga Amerika

Barangkali salah satu hikmah terbesar dari hadirnya Donald Trump di kancah perpolitikan Amerika dengan berbagai konsekuensi buruk itu adalah tumbuhnya empati dan solidaritas tinggi dari masyarakat Amerika secara luas. Dari kalangan pejabat yang secara politik berseberangan dengan Donald Trump, khususnya mereka yang berafiliasi dengan Partai Demokrat, hingga kepada pebisnis seperti pemilik Facebook, pimpinan agama termasuk Yahudi, pengamat dan ahli, masyarakat Hollywood, hingga kepada masyarakat luas.

Rally dan demonstrasi yang terjadi di mana-mana, mulai dari jalan-jalan, depan Trump Tower, kantor-kantor pemerintahan, bandara-bandara, hingga ke Gedung Putih dan Kongres pada umumnya diinisiasi dan diramaikan oleh teman-teman Amerika non Muslim. Mungkin yang unik disebutkan di sini adalah keterlibatan masyarakat Yahudi membela hak-hak Muslim di berbagai kesempatan.

Dukungan dan solidaritas teman-teman non Muslim yang masif ini menjadi salah satu faktor pressure yang menjadikan Hakim Agung Amerika membatalkan keputusan Presiden Trump itu.

Demo "Hari ini Saya Juga adalah Muslim"

Dukungan dan solidaritas teman-teman non Muslim di Amerika tidak saja resistensi terhadap keputusan pelarangan Donald Trump terhadap Muslim dari tujuh negara itu. Tapi memang sejak lama ketika fenomena Islamophobia dan anti Muslim meninggi di Amerika.

Di tahun 2010 misalnya, ketika Komunitas Muslim New York akan membangun sebuah Islamic Center dekat Ground Zero (WTC) masyarakat Amerika termakan oleh politisasi isu agama ini oleh sebagian politisi Amerika. Salah satu di antaranya adalah Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) di Kongres Amerika ketika itu, Peter King dari Long Island New York. Dalam kapasitas itu Peter King ingin mengadakan "hearing" (dengar pendapat) dengan tema: radikalisasi Muslim Amerika.

Tema dengar pendapat ini tentu sangat menyinggung bahkan menyakiti masyarakat Amerika. Karena asumsi yang terbangun kemudian adalah bahwa masyarakat Muslim Amerika sedang mengalami proses radikalisasi di Amerika Serikat. Apalagi rencana tersebut dibangun di atas sebuah laporan pihak yang tidak bertanggung jawab bahwa 70% masjid-masjid di Amerika dikuasai oleh kelompok radikal.

Menyikapi ini teman-teman non Muslim sangat terusik, bahkan menganggap isu tersebut bukan lagi isu kelompok tertentu. Melainkan isu nasional karena dinilai bertentangan dengan dasar konstitusi yang menjamin keadilan untuk semua (justice for all) sekaligus menginjak-injak nilai yang dijunjung tinggi Ameerika (American value) dalam toleransi dan kebebasan beragama.

Merespon terhadap rencana itu saya pribadi didatangi oleh banyak teman-teman pimpinan agama di Kota New York menanyakan jika mereka dapat membantu ketidakadilan (unfairness) sikap dari Ketua Homeland Security itu. Dan mereka mengusulkan jika komunitas Muslim mengadakan rally atau demonstrasi dengan tema: Today I am a Muslim too (hari ini saya juga seorang Muslim).

Kini dengan keadaan sosial yang cukup tegang, mengkhawatirkan, bahkan menakutkan dan seolah tidak menentu, warga Muslim kembali mendapat dukungan dan solidaritas yang luar biasa dari teman-teman warga Amerika non Muslim. Termasuk mengusulkan agar kembali diadakan rally atau demonstrasi dengan tema yang sama di tahun 2010 itu.

Tentu sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan segera saya tangkap tawaran itu. Dan dalam waktu sekejap rencana itu diamini oleh berbagai kalangan komunitas antar agama, Yahudi, Kristen, Budha, Hindu, Sikh. Bahkan organisasi-organisasi massa non agama juga menyatakan ingin bergabung membela komunitas Muslim.

Rencana rally ini akan dilangsungkan pada tgl 19 Februari, dengan mengambil tempat di Time Square, pusat Kota New York. Untuk keperluan logistik dan perizinan kami telah melibatkan teman-teman Muslim di Kepolisian Kota New York (NYPD).

Sebagaimana di tahun 2010 lalu, selain pimpinan agama-agama besar dan berpengaruh di Amerika, juga akan terlibat langsung bahkan dalam perencanaannya adalah Russell Simmons, hip hop mogul yang sangat terkenal dan berpengaruh di lingkungan Hollywood.

Rencananya juga rally akan dihadiri oleh para aktifis dan pejabat tinggi seperti walikota dan gubernur negara bagian New York. Insya Allah! ●