Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola - Agama Padang Rumput. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak Bola - Agama Padang Rumput. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Euro, Euforia, Eureka


Euro, Euforia, Eureka
Agus Luthfi Rohman ; Mahasiswa Pascasarjana IAIN Sunan Ampel,
Alumnus Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo
Sumber :  REPUBLIKA, 20 Juni 2012


Tahun 2012 ini, Polandia Ukraina menjadi tempat perhelatan Piala Eropa (Euro), kompetisi sepak bola paling akbar antarne gara di Benua Biru itu. Pertarungan antarjawara telah lolos babak kualifikasi. Pesta sepak bola hanya terjadi empat tahun sekali di Benua Eropa.

Para suporter dari seluruh penjuru Eropa berbondong-bondong menuju satu titik di mana kompetisi itu dihelat untuk mendukung timnas mereka bahkan tidak sedikit juga suporter luar Eropa--dari seluruh penjuru dunia-yang ikut nimbrung untuk mendukung tim kesayangan atau untuk sekadar menyaksikan pertandingan menuju puncak tertinggi kejuaraan tersebut. Eropa saat ini menjadi “surga“ bagi para pesepak bola profesional. Hal ini tidak terlepas dari “nikmat-nikmat surga dunia“ yang mereka dapatkan sebagai “balasan“ atas apa yang mereka tunjukkan di atas lapangan.

Berangkat dari hal ini, banyak dari para pesepak bola seantero planet Bumi ini yang tergiur dengan iming-iming tersebut. Gaji selangit, popularitas, karier, dan hal-hal yang mampu membuat manusia seperti mabuk kepayang bisa mereka dapatkan hanya dengan bermodalkan keahlian dalam mengolah bola.

Apalagi setelah banyak bukti nyata dari para senior mereka yang telah lebih dulu terjun ke dalamnya yang mampu memperbaiki taraf hidup. Olahraga yang dulu hanya sekadar hiburan, kini telah menjadi industri. Pemain yang dulunya sangat miskin menjadi sangat kaya, dari anak jalanan menjadi anak gedongan, dari hidup yang penuh masalah kesederhanaan kini menjadi glamor dengan gelimang harta benda yang supermewah. Praktis hal ini semakin membuat para pesepak bola di luar benua tersebut iri dan kepincut untuk mengikuti jejak mereka.

Piala eropa yang dihelat Juni-Juli ini telah sukses mencuri perhatian dunia.
Kompetisi yang merupakan ajang terbesar kedua setelah Piala Dunia mampu menyedot perhatian besar masyarakat. Kompetisi ini mampu mengalahkan kompetisi dari benua lainnya.

Hal ini, menurut penulis, adalah imbas dari banyaknya pesepak bola-pesepak bola top yang membanjiri dan merata di daratan Eropa. Disamping pengaruh image yang sudah terpatri di pikiran masyarakat bahwa liga-liga di benua Eropa adalah liga-liga yang berkualitas. Karena itu, banyak pesepak bola dari berbagai negara berebut untuk bisa bermain di liga Eropa, seperti Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, Eredivisie Belanda, Liga Prancis, dan lainnya.

Bak sebuah keniscayaan bahwa pertandingan-pertandingan Piala Eropa selalu banyak disaksikan bahkan secara langsung maupun siaran tunda. Perhelatan Piala Eropa menjadi salah satu bentuk euforia tim yang telah lolos babak kualifikasi, yang klimaksnya adalah ketika salah satu tim berhasil menjuarai turnamen tersebut. Ketika hal itu terjadi maka atmosfer klimaks euforia itu tidak hanya terasa di Polandia-Ukraina tempat final Euro akan digelar saja, namun juga di negara tempat jawara itu berasal dan di penjuru dunia yang turut mendukung tim jawara.

Sepak bola pada masa kini menjelma menjadi salah satu olahraga yang paling populer dan digandrungi hampir seluruh penduduk Bumi. Di antara mereka ada yang terpengaruh oleh sekelilingnya, ada juga yang memang penikmat dan pecinta olahraga ini. Dan, ada pula yang hanya sekadar ikut-ikutan daripada menjadi orang asing di lingkungan sendiri. Situasi seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh orang-orang yang melek dan memiliki kepekaan tinggi dalam hal bisnis. Karena banyaknya demand, otomatis supply juga akan diperbanyak dan profit akan terus menanjak sehingga hal ini menjadi lahan penghasil uang bagi mereka.

Lagi-lagi, penulis ingin berandaiandai dengan menggambarkan sepak bola sebagai “agama baru“ yang muncul di muka bumi. Dalam “agama“ ini, tim-tim sepak bola menjadi sekte-sekte atau aliran-alirannya, pelatih tim berperan sebagai kiai atau pasturnya, asisten pelatih dan staf sebagai ustaz atau biarawannya, para pemain yang dilatih sebagai santri atau muridnya, fans sebagai pengikut aliran-aliran tersebut.

Holligan, Ultras, dan sebutan lain untuk suporter fanatik diandaikan sebagai pengikut garis kerasnya, lapangan sebagai tempat ibadahnya. “Agama“ ini menyerukan kekompakan, persatuan, dan menihilkan perbedaan walaupun pada praktiknya banyak sekali kasus yang terkait individualisme, perselisihan, dan rasisme.

Di dalamnya juga terdapat perintah dan larangan yang apabila dilanggar akan mendatangkan hukuman atau balasan, seperti perintah untuk berdisiplin dalam latihan yang apabila tidak dikerjakan akan mendatangkan “dosa“ yang berakibat pada hukuman berupa skors atau tidak dimainkan. Dan, seperti larangan untuk melakukan tackle keras yang bila dilakukan akan mendapatkan ganjaran berupa kartu peringatan.

Sepak bola bagaikan “agama“ unik yang statistik jumlah penganutnya terus meningkat yang terdiri dari berbagai agama dan elemen masyarakat, “agama“ yang menghibur dan menyenangkan para pecintanya. Bahkan, bisa membuat para suporter yang fanatik lupa akan kewajiban-kewajiban agamanya. ●

Jumat, 15 Juni 2012

Sepak Bola, Agama Padang Rumput?


Sepak Bola, Agama Padang Rumput?
Thomas Koten ; Pembelajar Filsafat, Penggemar Sepak Bola
Sumber :  SUARA KARYA, 15 Juni 2012


Sepak bola modern, dengan segala suguhan teknik permainan tingkat tinggi, dus dengan daya seni dan keindahan yang menghipnotis dan menghibur, kemudian terus berkembang dalam balutan kepentingan politik, ekonomi, dan sosial budaya, seperti telah mengalahkan segala-galanya. Piala Eropa yang kini sedang berlangsung di Polandia dan Ukraina, serta Piala Dunia, misalnya, telah sanggup menenggelamkan manusia di seantero dunia dari rutininitasnya yang membosankan untuk ikut terlibat sebagai penonton, entah itu hanya lewat layar televisi maupun menonton langsung di stadion-stadion yang megah bagaikan gedung pertunjukkan seni.

Daya pikat sepak bola yang begitu tinggi, yang mampu mnghipnotis miliaran pasang mata di bawah kolong langit itulah, kemudian mampu menyedot selera dan keinginan orang untuk lebih mamilih menonton sepak bola ketimbang pergi mengikuti kebaktian di gereja. Di Eropa, khususnya di mana industri sepak bola begitu mendominasi, telah membuat para jemaat lebih suka menonton pertandingan sepak bola yang disuguhi tim-tim kesayangannya daripada pergi ke gereja pada akhir pekan.

Maka, kata sejumlah sosiolog, sepak bola dengan segala gebyarnya bukan saja semakin menggoda dan menghipnotis manusia, tetapi seakan telah mampu melindas ibadat keagamaan. Apalagi, dalam perhelatan-perhelatan sepak bola berskala besar seperti Piala Eropa, Piala Dunia atau Olimpiade, tersaji aneka acara baik pada pembukaan, penutupan maupun pada saat sedang berlangsungnya pertandingan, bak ritual keagamaan yang bernuansa sakral.

Michael Novack, dalam bukunya The Joy Sport (1976) mengatakan perhelatan olahraga akbar tidak lebih semacam liturgi atau upacara riligius agama-agama. Di sana ada tatacara yang nyaris sakral; ada askese, ada simbol-simbol kebesaran negara-negara seperti bendera, lagu kebangsaan, kostum, dan lain-lain, serta ada tempat sakral yang dikhususkan bagi para pemain, penonton, pelatih dan lain-lain yang tidak dapat diganggu gugat. Ketika si pemain mengenakan kostumnya, maka ia menjadi semacam 'imam' bagi para fansnya, yang tidak lebih merupakan 'wakil umat beriman' yang harus 'dihormati'.

Para pemain atau para bintang lapangan hijau yang mampu menjebol gawang lawan, yang memenangkan pertandingan, dan mengharumkan nama bangsanya, kerap digambarkan sebagai 'orang suci' dan 'penyelamat'. Sementara para fans mereka sering dilukiskan sebagai 'orang-orang beriman dan berbudi luhur' yang selalu dengan sepenuh hati berziarah ke stadion-stadion. Dan, stadion-stadion bak panggung teater atau gedung-gedung pertunjukkan seni seperti di Eropa, khususnya di Jerman yang sering disebut heiliger rasen, yang secara gamblang dapat diartikan 'lapangan rumput yang nan suci atau sakral'. Stadion-stadion sepak bola yang megah sering pula disebut 'katedral', Katedral Bernebeu, New Camp, Old Strafford, D Alfonso Henriques, Olympic Stadium, katedral Municipal, dan lain-lain.

Dan, siapa pun yang mengamati sepak bola akbar (ritual keagamaan) di stadion (tempat ibadah) akan mengakui ekspresi para penonton seperti orang yang sedang berdoa khuzuk atau bersorak memuji Sang Ilahi. Dan, para pemain tatkala menjebol gawang lawan, kerap juga memberikan tanda salib atau bersujud syukur di lapangan. Tak jarang terlihat juga para penonton terdiam, merentangkan tangan sambil mulut bergerak dalam doa hening. Semua itu seperti terbawa dalam daya rirual magnis nan dahsyat.

Itulah yang kemudian dikatakan Sindhunata dalam sebuah tulisannnya, bahwa berbagai peristiwa religious atau ritual di lapangan hijau, semakin menyadarkan akan kebenaran kata-kata yang sering diucapkan orang di tengah dunia sekuler ini, "Saya ini spiritual tetapi bukan religius." Lantaran meski di tengah hingar-bingar dan sorak-sorai menyaksikan serunya pertandingan sepak bola, orang terus menunjukkan perilaku keagamaannya sambil berdoa baik untuk keselamatan para pemain pujaannya atau bagi kemenangan timnya.

Maksudnya, pengalaman spiritual orang modern sekarang tidak lagi bisa ditangkap oleh wadah-wadah kereligiusan yang institusional. Sangatlah tidak bijaksana mengecap mereka tidak lagi mengenal Tuhan, melulu dari agama formal belaka. Alias mereka telah menciptakan lapangan hijau sebagai tempat berdoa, dan dalam moment tertentu, mereka menjalankan aktivitas keagamaanya, ibarat di padang rumput itulah mereka beragama, dan menunjukkan eksistensi keagamaannya.

Pencarian cara baru beriman yang dimaksudkan di sini dalam situasi tertentu memang semakin cocok di Eropa. Mengingat seperti ditulis Ibrahim Ado-Kurawa dalam Theorizing the Football Religion (2004), bahwa orang-orang Eropa kini lebih memilih menonton sepak bola daripada ke gereja. Di Inggris, jumlah jemaat yang datang ke gereja hanya sekitar 13 persen pada tahun 1992. Dan, kini jumlah itu terus menurun. Banyak riset konvensional juga menyimpulkan bahwa popularitas gereja kalah oleh popularitas sepak bola.

Para sosiolog yang mengamati dimensi sosial sepak bola menegaskan bahwa salah satu fungsi sepak bola memang mempertahankan dan mengembangkan tatanan sosial. Fungsi ini juga kerap diperankan oleh agama. Dalam ritual sepak bola lahir semangat kemanusiaan seperti kedamaian, persaudaraan dan solidaritas di antara pemain dan penonton. Bahkan dalam ranah politik, sepak bola semakin dikemas menjadi alat diplomasi politik.

Yang terakhir ini, memang sepak bola dan olahraga lainnya oleh banyak pemimpin dunia semakin dijadikan sebagai arena untuk menunjukkan eksistensi, kemuliaan dan kehormatan bangsanya. Bahkan, sejak 1960 Robert Kennedy di depan United Stated mengatakan, sepak bola dapat dipandang sebagai suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu bangsa di mata internasional. ●