|
Data dari
BKKBN tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas
seks bebas atau seks di luar nikah mencapai 4,38 persen, sedang pada usia
14-19 tahun sebanyak 41,8 persen telah melakukan aktivitas seks bebas.
Sedangkan kasus aborsi yang tercatat di Komisi Nasional Perlindungan Anak
meningkat pada 2012, yaitu 121 kasus dengan mengakibatkan delapan orang
meninggal. Sementara pada 2011 kasus aborsi tercatat ada 86 kasus. Data ini
mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun sebelumnya, dari 86 kasus
menjadi 121 kasus. Tidak hanya seks bebas dan aborsi yang mengalami
peningkatan. Kasus HIV/AID juga tidak mau kalah. Coba kita lihat laporan
Kementerian Kesehatan RI akhir Desember 2012, secara komulatif terdapat
42.887 kasus AIDS dan 98.390 kasus HIV positif dengan prosentase pengidap
usia 20-29 tahun sebanyak 35,2 persen, dan usia 30-39 tahun sebesar 28,1
persen.
Data-data di atas merupakan fakta yang tak bisa terbantahkan bahwa persoalan
kesehatan reproduksi benar-benar menyebar luas di kalangan remaja yang tidak
lain adalah generasi penerus bangsa. Sering kita saksikan di media massa
pemberitaan terkait aborsi, kehamilan di luar nikah, dan kasus HIV/AIDS yang
melibatkan remaja.
Pendidikan karakter belum bisa mengatasinya, justru perilaku mereka semakin
terlihat keberaniannya dengan mengadakan
melakukan kegiatan yang akan merusak moral mereka. Salah satu kegiatan yang merusak moral dan nilai sosial ini
adalah perayaan hari valentine days, kegiatan yang tidak mengenal lawan
jenis, pergaulan yang dilakukan tiada sekat dan batas, hal tersebut mampu
menghilangkan moral dan etika dalam lingkungan sosial dan justru kegiatan
tersebut tidak memiliki nilai positif dalam membangun generasi yang bermoral
dan bermartabat, malah justru melanggar nilai-nilai agama dan bangsa.
Kehilangan identitas ini semakin merajalela dengan modus kegiatan-kegiatan
yang tidak memiliki arti seperti merayakan hari valentine. Sudah sangat jelas
nilai dan arti yang terkandung dalam Pancasila kedua adalah untuk menciptakan
masyarakat (remaja/pemuda) yang beradab, bermoral, bernilai mulia dalam
kehidupannya, namun realitas di hadapan kita justru nilai-nilai pilar
kebangsaan ini diinjak-injak oleh calon penerus bangsa tersebut.
Pendidikan karakter sangat terlihat parsialis, di mana pendidikan karakter
ini baru hanya didengungkan saja, belum banyak teraplikasi di lingkungan
sekolah dan masyarakat. Parsialis karena baru hanya dilakukan di tingkat
satuan pendidikan saja, seperti di sekolah, namun membangun karakter ini
belum bisa diaplikasikan di rumah tangga, dan lingkungan masyarakat, sehingga
aktivitas karakter itu hanya bisa dijalankan di sekolah namun di rumah dan di
masyarakat malah jauh bertentangan. Contohnya perayaan hari valentine ini
sangat jelas melanggar nilai, norma sosial, di mana mereka melanggar amanah
dari pendidikan karakter tersebut, yaitu karakter kecerdasan sosial, di mana
seorang pelajar dan mahasiswa harus memiliki sifat amanah (bertanggung jawab)
terhadap lingkungan sosial mereka, hal ini sangat penting karena melihat
bagaimana anak-anak remaja hari ini harus memiliki tanggung jawab terhadap
perilaku mereka dan lingkungan mereka.
Berbagai fenomena di atas sebenarnya sebagian kecil dari kompleksnya
permasalahan remaja di tengah arus globalisasi dunia. Sudah harus direnungkan
kembali bagaimana seharusnya pendidikan karakter ini belum mampu
menyelesaikan masalah karakter anak bangsa, dan belum mampu mengaplikasikan
nilai-nilai karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai sosial
sebagai pilar kebangkitan generasi muda seharusnya sudah menjadi tolok ukur
keberhasilan moral pemuda sebagai agent of leader.
Menengok sejarah
Valentine
Hari raya Valentine ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta
yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah
kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido
(cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta
mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS)
memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan
per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua
setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini
juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari
semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran
kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya
oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan
cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari
Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. Sejarah Hari
Valentine Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan
sudah ada sejak dahulukala. Menurut kalender Athena kuno, periode antara
pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang
dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang
dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian
dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing
kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di
jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan
menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju
secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan di karunia
kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Hari raya Valentine diyakini sebagai hari raya Gereja. Menurut Ensiklopedi Katolik 1908, nama Valentinus paling tidak
bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda seperti seorang
pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni) dan seorang martir di
provinsi Romawi Africa.
Hari Valentine juga ditetapkan sebagai hari raya peringatan
santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa
Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya
Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari. Sisa-sisa kerangka yang
digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma,
diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam
sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di
Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus
Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja
ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi
khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus
diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang
menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian
dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya
bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih
dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Berbagai kisah yang dihubungkan hari raya Santo Valentinus dengan cinta
romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai
bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin.
Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama
Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa Pada zaman
itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan
memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang
berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.
Tanggung jawab
pemerintah
Kurangnya perhatian pemerintah, mengakibatkan pemuda generasi
kita tidak mampu mengendalikan diri dalam memfilter dan melawan trend/gaya
barat, mereka tidak yakin dengan budaya Indonesia yang mulia sehingga ia
merayakan dan meyakini bahwa kegiatan hari valentine ini jika tidak diikuti
maka mereka dianggap ketinggalan zaman. Di sisi lain juga kurangnya peran
keluarga orang tua untuk mendidik anaknya tentang aqidah, sejarah dan budaya
yang sesungguhnya, sehingga mereka lemah jiwanya dalam memahami agama Islam,
akibatnya mereka tidak mampu men-sharing
budaya yang datang melabrak-labrak. Di samping
itu juga perlu menjadi catatan penting bagi pemerintah dan kita semua bahwa pemerintah kita ini tidak tegas terhadap budaya-budaya
yang masuk ke Indonesia, terlalu bebas dan kebablasan, akibatnya anak-anak
muda kita merasa kehilangan idola, kehilangan identitas, yang mengakibatkan
mereka mencari mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan yang semu. ●
|