Tampilkan postingan dengan label Mudji Sutrisno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mudji Sutrisno. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2021

 

Membaca Adalah Memaknai dengan Menafsir

Mudji Sutrisno ;  Budayawan

MEDIA INDONESIA, 30 September 2021

 

 

                                                           

MEMBACA ialah menafsir. Pokok ini saya tulis di buku saya berjudul Membaca Rupa Wajah Kebudayaan (Kanisius, 2014: 12 dst). Mengapa? Karena manusia sebagai subjek ialah a signifying actor, pemberi makna dari apa yang dilihatnya, yang dibacanya. Ungkapan latinnya lebih bernuansa lagi karena jelas menunjuk kerja untuk memberi makna dalam hidupnya.

 

Manusia ialah homo significans: manusia yang memberi makna atau arti dalam hidupnya. Dimanakah tempat beradanya makna itu? Tempat pertama, makna yang dihurufkan oleh pengarang dari peristiwa kehidupan, dan pengalaman hidupnya dalam aksara. Yang kedua, makna berada di perbandingan antarteks yang ditafsir. Adapun yang ketiga, sediakah si penafsir dengan sadar sebagai sikap untuk mau rendah hati, membuka cakrawala mata bacanya pada semesta makna teks, hingga saling dibuahi, dalam peleburan cakrawala (fusion of horizons) untuk menemukan makna baru. Gadamer-lah yang membuka pemahaman tentang membaca merupakan kerja menafsir (Truth and Methods, 1980).

 

Dari sini, dikenal adanya 2 cara membaca yaitu, membaca dari ‘dalam’ proses penulis teks itu, yang disebut pendekatan ‘intrinsik’. Contohnya: bila mau mencari makna teks sastra, dekati dan hampirilah dengan membaca melalui kode sastra tema misalnya. Yang kedua, membaca dari luar (ekstrinsik), yang menafsir sastra melalui ilmu-ilmu di luar teks sastra, misalnya sosiologi sastra, mendekati sastra dengan maknanya dari ilmu sosiologi. Misalnya, religiositas yang menyumbang toleransi keagamaan, dan perekat saling hormat melalui penokohan, alur kisah dari novel sastra.

 

Konsekuensinya, secara logis kerja membaca teks bisa menafsir menurut makna (meaning) penulisnya sebenar aslinya (value as quality of text’s meaning) atau kita membacanya untuk menemukan kepentingan penulisan teks itu lewat disiplin ilmu diluar teks. Contohnya, kepentingan ideologis teks sejarah dengan membongkar relasi kuasa dengan hegemoni makna oleh penguasa dengan buku sejarah, demi pembenaran atau legitimasi rezim penguasa dan bukan ‘makna’ pencerahan bagi pencerdasan kehidupan bangsa.

 

Karena itu, bagaimana membaca secara benar? Gadamer menaruh proses baca membaca dengan tafsir ini, hanya mungkin dilakukan melalui bahasa. Bahasa tulis yaitu teks tulis, yang secara linguistik mengaksarakan (baca: pula menghurufkan) komunikasi lisan, atau wacana dalam logika bahasa tulis menjadi teks secara logis atau nalar. Bahasa Indonesia teknis penalaran ini, untuk pembuatan kalimat yang bisa di mengerti punya nalar dan makna, bila berstruktur SPOK, yaitu ada subjek, lalu predikat, kemudian objek dan keterangan. Secara singkat: bahasa tulis adalah rumusan tertulis logis rasional untuk komunikasi antarpelaku-pelaku dalam memaknai realitas hidup.

 

Ketika tulisan terlalu sistematis, rasional, ia cenderung kering dibaca. Karena itu muncullah tulisan-tulisan yang dimuati makna imajinatif, kalimat-kalimat bertobat inspiratif dan simbolik. Teks itu lalu ditambahi awalan kata sandang ‘su’ untuk ‘sastra’ jadilah susastra, yaitu bahasa tulis sastrawi yang dimuati makna inspiratif dan disusun indah menjadi misalnya prosa susastra. Ketika prosa, meski ditulis indah bertema, kurang mampu tuntas menuliskan pengalaman merenungi hidup, atau pengalaman hidup penyair dalam naskah pujangganya, maka ditulislah puisi liris, puisi kakawin ataupun puisi sunyi, saat nyanyi senyap penghayatan hidup mau dituliskan dalam aksara.

 

Bahasa tulis, muncul dalam peradaban sesudah bahasa lisan setelah ditemukannya huruf-huruf aksara yang dicetak melalui penemuan teknologi cetak. Karena itu, pertanyaan yang melanjut adalah bagaimana membaca bahasa sebagai wacana atau lisan? Seperti sudah dipapar di depan, membaca bahasa tertulis sebagai teks ialah menafsirkannya menurut pokok makna saat teks ditulis. Maka, ada yang memberi bingkai situasi hidup saat itu (sitz im leben), ada yang mengambil konsesnus teks sebagai tempat atau lokasi tafsir makna, saat teks ditulis.

 

Membaca bahasa lisan, sebagai wacana dan tulisan, membawa kita pada Ferdinand de Saussure yang merumuskan cara membaca bahasa sebagai ‘penanda’ (signifier), dan yang ditandai atau ‘tinanda’ (signified). Yang pokok ialah dibangkitkannya kesadaran pembaca untuk memahami bahasa sebagai kode tanda, dan sistem tanda yang disepakati oleh komunitas bahasa mengenai maknanya, dan pilihan semiotika sistem tandanya. Misalnya, dalam bahasa Inggris, kata mawar ditulis dengan rose sedang dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai mawar.

 

Konsensus makna berdasarkan alfabetisasi aksara, seturut konsensus pemakai bahasa, yang dari penanda maupun yang ditandai, seakan sewenang-wenang dan simbolik tandanya juga mesti masuk ke makna simbolik bahasa Indonesia. Misalnya, mawar pertiwi, secara semiotika memuat makna simbolik harum wangi perempuan (yang jadi pejuang seperti Cut Nyak Dien, menjadi pengharum Tanah Air karena kegigihannya berjuang di Aceh untuk pertiwi).  

 

Proses menafsir

 

Membaca yang merupakan proses menafsir untuk memaknai itu, akan dicoba untuk membaca buku-buku sejarawan peradaban manusia: Yuwal Noah Harari mutakhir yang kurun dekade ini ramai ditafsir dan dibaca cendekiawan, mahasiswa lintas ilmu. Buku pertama Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) dan dilanjutkan buku berikutnya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2016). Keduanya menjadi buku paling laku secara internasional, menjadi best seller yang terjual lebih dari 12 juta eksemplar.

 

Hasrat untuk ingin membacanya dan memaknai kedua buku ini, membuat buku-buku ini sampai diterjemahkan ke lebih dari 45 bahasa. Lalu, apa maknanya untuk peradaban manusia? Bagaimana akan dipraktikkan membaca ialah menafsirkan itu! Buku Sapiens (2014) berisi narasi evolusi manusia dari sosok kera, terus berkembang menjadi homo sapiens, jenis spesies yang paling berkuasa di bumi karena akal budinya, yang menguasai semesta dengan mengolahnya dalam teknologi, hingga menjadi satu-satunya penguasa di semesta ini dari masa lalu puncak perkembangannya akalnya kini sebagai homo sapiens. 

 

Jenis spesies, yang sejak dahulu memiliki kemampuan selalu mecipta narasi dengan mitos-mitos, agama dan ideologi yang ia pakai untuk menjalani, mengolah dan memaknai realitas hidupnya. Dua tahun setelah Homo Sapiens, terbitlah buku Homo Deus (2016). Yang satu, homo sapiens dengan judul catatan ringkas berbunyi: A Brief history of humankind, yakni homo sapiens menelusuri deskriptif sejarah umat manusia, mencapai tingkatan spesies tinggi semesta sebagai homo sapiens.

 

Buku kedua diberi pula kilas sejarah pendek dari masa depan umat manusia sebagai Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. Memberi contoh bahwa membaca ialah menafsir dan menafsir itu memaknai sehingga membaca merupakan kerja memaknai dari manusia sebagai homo significans, sang pemberi makna hidupnya dan realitasnya dari homo sapiens menjadi homo dues, yaitu manusia Tuhan.

 

Homo Deus mendeskripsi situasi aktual kini dengan tantangan-tantangan yang dihadapi manusia. Terutama, setelah menjadi homo sapiens dengan masalah pokok, yaitu krisis ekologi akibat penguasaan, dan pemercayaan pada fiksi kemajuan dan modernitas, yang ternyata, menghancurkan semesta dan membuahkan distrupsi teknologi, justru karena manusia menghayati diri dan memercayai narasi fiksionalnya sebagai ‘Tuhan’, ya manusia-Tuhan.  

 

Tantangan semesta

 

Fiksi besar tantangan semesta, yang selalu dicipta sebagai kebutuhan menjalani hidup di bumi, ciri khas watak dasar ‘sapiens’ untuk dipercayai ternyata krisis dengan rusaknya alam, dan distrupsi teknologi. Lalu bagaimana manusia sebagai the signifying actor atau homo significans melanjutkan hidup setelah menjadi Tuhan: Homo Deus? Yuwal Noah Harari memberi panduan jawab dalam krisis narasi ini, dalam bentuk pelajaran dan pertanyaan-pertanyaan mendasar berjumlah 21, untuk abad ke-21 dalam buku berjudul 21 Lessons for the 21st Century (2018).

 

Intinya setelah narasi fiksi global dunia dalam ideologi fasisme, komunisme dan liberalisme, yakni Perang Dunia II meruntuhkan fasisme, maka hanya tinggal komunisme dan liberalisme sebagai narasi fiksional global. Itulah fase sejarah perang dingin 1940-an sampai 1980 akhir, antara komunisme dan liberalisme. Lalu, seperti lagu Wind of Change (Scorpion) dengan diruntuhkannya simbol tembok Berlin, maka hanya tinggal liberalisme yang mendominasi dunia sebagai pemenang.

 

Ironinya, menurut Yuwal, liberalisme membuahkan anomali dengan problem yang bertentangan dengan semangat liberalisme sendiri, yaitu kembalinya fasisme dan konservatisme. Persoalannya, ini tidak bisa diselesaikan dengan narasi fiksional lokal seperti fundamentalisme agama, atau cita-cita ultra nasionalis, yang menutup diri dari luar, semisal membuat lagi Amerika berjaya saat Trump yang nostalgia dengan kejayaan Amerika 1950 dan 1980-an.

 

Fundamentalisme agama lokal dengan fiksi kebangkitan kembali sistem khilafah Islam, hingga kekhalifahan dipercayai sebagai solusi untuk krisis demokrasi liberal. Harus ditemukan bersama lagi narasi fiksi global (pandangan dunia global), sebagai solusi untuk yang masalah global kini, yaitu krisis ekologi, ya krisis kemanusiaan dan distrupsi teknologi, yang berdampak dahsyat pada ‘kesombongan Homo Deus’ sebagai konsekuensi pengembangan iptek penguasaan alam dan bukan penyejahteraan semesta dan manusia.

 

Dari membaca sekilas buku-buku Yuwal Noah Harari, terbaca jelas kaitan erat membaca dan menafsir yang sejak awal tulisan ini sudah disorot. Richard J Bernstein (Hermeneutics and Its Anxieties dalam Dahlstrom (ed), Hermeneutics and the Tradition, Washington DC, 1988, hlm58), menegaskan bahwa waktu kita ini ialah abad intrepretasi, sebab pertanyaan mendasar tiap kebudayaan adalah mengenai hakikat, strategi, dan konsekuensi-konsekuensi interpretasi.

 

Makna hermeneutika menarik saat abad ke-19 muncul soal watak dan hubungan antara ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu kehidupan. Wilhelm Dilthey-lah yang mampu menunjukkan ilmu-ilmu kehidupan/humaniora (Geisteswissenschaften) mempunyai metode dan fungsi interpretasi yang kemudian bernama hermeneutika untuk fungsi memberi pemahaman. Jadi, penelitian suku Baduy misalnya ialah ilmu humaniora, yang membawa kita lebih memahami ada Baduy dalam dan Baduy Luar. 

 

Sebaliknya, ilmu-ilmu kealaman (Naturwissenschaftler) berfungsi memberi penjelasan, penerangan, misal: air yang dimasak sampai 100°C akan mendidih. Dalam tradisi Yunani kuno, istilah hermeneuein digunakan dalam 3 makna, yaitu: a) mengatakan; b) menjelaskan; dan c) menterjemahkan. Ini oleh Richard E Palmer, Hermeneutics, Northwestern University Press, Evanston, USA, 1969, hal.13-14. Ditunjukkanlah tugas tafsir atau interpretasi dalam 3 hal penting, yaitu oral reaction = resitasi lisan; a reasonable explanation = penjelasan yang masuk akal; dan a translation from another language = terjemahan dari bahasa lain.  

 

Kebenaran koherensi

 

Jadi, Dilthey merumuskan hermeunetika, sebagai metodologi humanistik bagi ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Metode pemahaman ini atau Verstehen dipandang sebagai metode yang cocok untuk mengungkap kembali pengalaman dan pemikiran pengarang secara autentik. (Bleicher, Contemporary Hermeneutics, London, 1980).

 

Ketika ‘kebenaran pengetahuan’ (mengenai informasi, realitas, harap pengetahuan dibaca sebagai hasil proses mengetahui sesuatu) sebagai bermakna, maka dikenallah teori (baca+ abstraksi atas pengalaman ‘benar’ dalam rumusan sistematis logis) kebenaran tradisional korespondensi, sebagai kesesuaian antara makna yang diungkap sebuah pernyataan dengan faktanya, antara halnya (Kattsoff, Element of Philosophy, 1954, diterjemahkan Soejono Soemargo, 1986, Pengantar Filsafat, Yogya, Tiara Wacana).

 

Terus ada teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan atau proposisi itu benar, bila ia berada dalam kondisi berhubungan dengan proposisi lain, misal fakta 17 Agustus 1945 ialah hari Jumat, maka kebenaran ini harus dicari dalam peristiwa, sumber orang atau teks yang koheren (berkait dengan) fakta itu.

 

Teori kebenaran pragmatis mengukur nilai/makna kebenaran pada manfaat praktis, sedang benar sintaksis kalau pernyataan itu mematuhi aturan bahasa sintaksis yang baku (di antara para filsuf bahasa) kebenaran fungsional bila memenuhi fungsinya. Kebenaran logis bila pernyataan itu masuk akal sehat dan dapat dibaca jalan nalar bernilai benar dan bisa diadu argumentasi dengan rasionalitas.

 

Dari membaca buku Homo Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lesson for 21st Century – nya Yuwal Noah Harari, plus deskripsi makna dan nilai (teori) kebenaran, maka masih ada satu kebenaran yang dipandang mutlak karena bersumber pada Kitab Suci yang diimani atau diyakini sebagai sabda Allah, wahyu-Nya, yang hanya bisa diiyakan dalam iman. Lalu, persoalan mendasar dan konklusi terbuka tulisan ini berupa pertanyaan: siapa penentu makna benar yang paling tinggi hierarkinya?

 

Bila pemahaman manusia kebenaran itu berjenjang, bertingkat-tingkat, berlapis-lapis seperti simbolik piramida? Siapa penentu ini benar dan itu tidak benar di relasi horizontal lawan dari vertikal piramida? Sudah kita baca sebagai homo significan, kita manusia sebagai pemberi nilai makna (benar)nya, pada buku-buku Noah Harari, jelas penulisnyalah yang punya power legitimasi penelitian sejarahnya, mau menyatakan buku-bukunya itu bermakna dan bernilai benar. Bila ada sanggahan, maka silakan otoritas subjek Anda sebagai pembaca atau penanggap menuliskan bahkan membuat buku tanggapan, hingga, tesis Noah Harari berhadapan dengan antitesis Anda akan membuahkan ‘sintesis’ yang makin mencerahkan.

 

Dalam kesadaran tahu bahwa power atau kuasa, untuk mengatakan ini benar, di situ masih harus dikritisi dengan pertanyaan untuk kepentingan apa atau siapa buku-buku itu ditulis? Demi pencerahan dan penyejahteraan masyarakat manusia atau demi kepentingan ‘penguasaan’ dan pemilikan? Dengan demikia,n dalam membaca sebagai menafsir sebagai laku budaya (baca: memaknai demi peradaban) tantangan nyata di depan kita adalah: pertama, konflik/benturan antara kepentingan versus ‘value’ atau nilai? Antara kepentingan dominasi penguasaan semesta, melalui iptek yang bersekongkol dengan kapital pasar, untuk menguasai hajat hidup semesta manusia versus peradaban nilai pemanusiawian hidup bersama, lewat pengembangan iptek demi peradaban.

 

Tantangan kedua, ketika kuasa penentuan kebenaran sudah menyebar (sejak diteliti Michel Foucault dalam geneloginya), dan kini revolusi-revolusi digital komunikasi penentu kebenaran ada di penguasaan-penguasaan medsos, yang tega menternakan kebohongan atas nama pasca kebenaran (post truth), yakni bila homo significans tak mendasarkan diri lagi pada kewarasan akal sehat rasionalitas, tetapi pada kemutlakan keyakinanku dan yang saya percayai sebagai benar, tanpa peduli yang lain, maka di sini persoalan membaca dan menafsir dunia virtual dan dunia maya digital menjadi PR kita semua, yang jalan keluar satu-satunya ialah melalui pendidikan. Bukankah omo ialah cita-cita pendiri bangsa untuk proses mencerdaskan kehidupan bangsa, yang dalam segitiga ‘instansi’ antara masyarakat, pasar dan negara-lah diletakkan diskresi kebijakan yang humankind matters demi kesejahteraan bersama.

 

Sumber :  https://mediaindonesia.com/opini/436425/membaca-adalah-memaknai-dengan-menafsir

 

Akuarium

Mudji Sutrisno ;  Budayawan

MEDIA INDONESIA, 15 September 2021

 

 

                                                           

ADA dua alasan ketika seorang teman saya mulai menghiasi rumahnya dengan akuarium. Pertama, alasan fungsional yakni untuk memperindah rumah agar sepulang dari kerja dan terkena polusi udara Jakarta bisa segar kembali setelah memandang ikan hias dan air akuarium.

 

Kedua, timbul dari keingintahuan psikologisnya, yaitu apakah memang betul batin bisa ditenangkan dari kehirukpikukan kota yang membuat ‘stres’ dengan memandangi berenangnya ikan-ikan di akuarium, seperti banyak akuarium sengaja dipasang di tempat-tempat biro konsultasi psikologi di luar negeri?

 

Akan tetapi, yang terjadi ternyata lebih cepat dari rencana lantaran tiba-tiba sudah datang akuarium besar ke rumah. Dengan riang, teman saya itu mulai menghayati ide-ide kreatifnya.

 

Langsung saja akuarium dibersihkan, lalu diisi dengan air ledeng PAM sampai dua pertiga penuh. Setelah itu ikan-ikan koki yang cantik, yang baru dibawa dari sumbernya, langsung dimasukkan dan diceburkan ke dalam akuarium. Melesat riang ikan-ikan itu masuk ke air.

 

Nah, kurang apa, pikirnya, ikan memang hidup di air. Bila disediakan air di akuarium, pasti otomatis mereka akan hidup di situ.

 

Tetapi, apa yang terjadi? Tepat pagi harinya semua ikan cantik itu mati. Mengapa? Bukankah sudah disediakan tempat, air, dan makanan? Teman saya menggelengkan kepala merasa bingung, apalagi merasa bersalah lantaran kematian ikan-ikan bagus dan indah itu. Agar tidak mencampurkan imajinasi, teman ini adalah alm. Krismanto, dulu penghuni dan pamong mahasiswa di Wisma Adi Sucipto Rawamangun.   

 

Tata lingkungan

 

Sesudah peristiwa itu, ia lalu membaca buku akuarium dan bertanya kepada yang sudah berpengalaman mengenai perawatan ikan. Di situlah ia baru sadar dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah yang dikisahkannya kepada saya hari-hari ini.

 

Ternyata, ikan-ikan itu sama hak hidupnya dengan manusia. Mereka butuh lingkungan hidup yang disiapkan, yang beroksigen agar tidak mati lemas. Di situlah asumsi bahwa sembarang air untuk ikan dan pasti hidup ternyata tidak benar. Mengapa?

 

Air PAM mengandung banyak kaporit dan kurang oksigen, maka harus disaring dahulu dan diberi oksigen dengan sistem selang kincir bergelembung udara untuk memberi zat asam buat air itu. Bukan hanya itu, ikan-ikan juga butuh makanan udara segar dari lingkungan tumbuhan air yang menapasi mereka agar bisa tetap hidup. Di sinilah ikan-ikan butuh tata lingkungan (habitat) untuk bisa hidup sehat. Di sini pulalah asumsi ikan bisa hidup di air terbukti tidak otomatis sehat, bahkan ternyata mati lemas.

 

Kami mencermati hal itu, lalu berwacana: bukan main misteri kehidupan ikan-ikan itu. Paralel dan sejajar, analog dengan manusia yang tidak bisa dilemparkan begitu saja di permukiman, atau bangunan rumah tanpa persiapan hati, tanpa hati, dan oksigen lingkungan entah bernama masyarakat atau keluarga atau komunitas.

 

Saya lalu teringat, mengapa para pengungsi pecahan-pecahan Eropa Timur, pengungsi lapar, dan eksodus-eksodus perang saudara Afrika, ketika sudah dicukupi makanan dan minuman kebutuhan fisik, toh masih mendambakan sebuah home dan sanctuary (rumah dan tempat bernaung untuk ketenangan serta ketenteraman batinnya).

 

Demikian pula, rasa aman diterima lingkungan orang-orang tercintanya ataupun rasa tidak terancam karena diterima sebagai manusia dalam pelukan perhatian dan hormat-menghormati. Mereka tidak cukup hanya mendapatkan barak, rumah susun, atau dibuatkan perumahan fisik. Mereka pun butuh home sweet home  untuk tidak mati lemas sebagai manusia seperti ikan-ikan di atas.

 

Karena itu, tidak mengherankan apabila kekurangan sisi hati dan afeksi ini amat menyeruak keluar di panti-panti asuhan yatim piatu atau panti-panti jompo, pun rumah-rumah sakit.

 

Saya terus ingat mengapa rumah-rumah kumuh para jelata yang dibakar atau terbakar dengan cepat pula memiliki reruntuhan rumah, lalu membangunnya lagi di tempat yang sama. Ini pulakah yang semestinya menyadarkan kita, kaitan antara home, rumah susun, dan lingkungan yang memiliki tempat bernapas, bermain-main bagi anak serta remajanya hingga pelampiasan energi mereka tidak destruktif dalam jagoan berkelahi.

 

Selain itu, Jakarta yang merupakan akuarium megapolitan sudah semakin kehilangan taman-taman kota, lapangan-lapangan bola kampung, tempat-tempat rekreasi buat generasi menengah ke bawah, dan bukan hanya yang menengah ke atas yang berduit belaka! Tanpa itu, Jakarta akan menjadi akuarium mati karena lemasnya para pendatang dan para jelata.

 

Setelah teman saya belajar ekosistem akuarium dan mengenali watak rumit dan peka ikan-ikan hias koki, ia mulai menyiapkan habitat sekaligus menyiapkan pergantian air dari ikan-ikan hiasnya. Akhirnya, kini di rumahnya, kita bisa menikmati dan batin kita ikut diteduhkan oleh cara renang dan watak ikan-ikan hias di akuariumnya.

 

Menarik pula untuk dicatat, setelah beragam jenis ikan hias hidup di akuariumnya, ternyata ikan-ikan yang cantik, indah warna, dan cakap wajah, dari sudut behaviorisme (perilaku binatang atau orang) lebih tampil mandiri sendiri, otonom, dan tegar. Sementara itu, yang rata-rata buruk wajah lebih suka bergerombol nyaris seragam satu identitas masal seragam. Cermin untuk kita pulakah?    

 

Peradaban

 

Bila peradaban dihayati sebagai proses pemekaran perkembangan setiap orang menjadi pribadi-pribadi manusia yang berharkat, percaya diri, dan bukan orang-orang gerombolan, di situ tata ekologi bernama masyarakat sebenarnya tetaplah ‘hanya’ merupakan kendaraan untuk kesejahteraan penghuni-penghuninya.

 

Selain itu, proses dari orang massal tanpa identitas semakin masuk ke tahap berani menjadi otonom, dirinya sendiri, lantaran harkatnya diakui dan dijaga oleh tata ekologi yang bernama rule of law  yang ditaati oleh semua dan menjadi wasit bagi konflik kepentingan.

 

Saat-saat ini di Jakarta banyak anak memiliki ikan hias yang akuariumnya kecil sederhana berkantong plastik. Untung beberapa menyadari bahwa akuarium plastik itu pengap, kurang oksigen, dan panas hingga ikan hias kecil-kecil rentan mati. Bila sementara saja, baiklah untuk membuatnya di bekas stoples kaca yang harus diatur ‘ekosistemnya’ (bahasa keren untuk habitat air dan oksigen tersedia cukup dengan tanaman-tanaman buat bernapas ikan). Jadi, akuarium itu sama fungsinya sebagai rumah yang mesti dirawat, diganti air keruhnya, menjadi home yang sweet home buat ikan-ikan hias.

 

Sumber :  https://mediaindonesia.com/opini/432716/akuarium

Rabu, 25 Mei 2016

Menjadi Jembatan

Menjadi Jembatan

Mudji Sutrisno ;    Guru Besar STF Driyarkara; Dosen Pascasarjana UI; Budayawan
                                                    KORAN SINDO, 24 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketika lagu tahun 70-an dari Simon and Art Garfunkel berjudul Bridge Over Troubled Water masih menggema sampai hari ini, ia menjadi “klasik”. Nyaris melegenda karena mampu menyentuh hati generasi yang dahulu dan berikutnya.

Tetapi, makna mendalam dari lagu itu justru sudah tersurat dalam judul “jembatan”. Dan, tersirat makna menjadi jembatan, saat melalui air bergejolak dan laut bergelombang, ibarat hidup yang krisis. Dalam syairnya tertulis penawaran sikap hidup mau menjadi “jembatan” manakala krisis melanda, kehampaan pudar nilai merasuk. Lalu terjawab, mengapa lagu ini menjadi klasik bermakna.

Karena, membahasakan kebutuhan manusia untuk panggilan, rela menjadi jembatan bagi situasi keterputusan dan keterputusasaan menjalani hidup. Kita sebagai bangsa yang majemuk penuh kekayaan warnawarni ini sedang mengalami “krisis acuan nilai hidup bersama” di sana-sini. Tidak hanya karena sebab dari dalam secara kultural, namun pula karena empasan dari luar.

Bagai troubled water (riak air deras jadi gelombang) karena mentalitas “minder” tidak mampu mengapresiasi perbedaan sesama, ataupun menghormati prestasi dan kerja keras mereka. Yang muncul selalu saja dicela, di-bully, atau dirusak. Padahal, para pendiri bangsa seperti Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Karno, Tan Malaka, Agus Salim, dan Cokroaminoto sudah merumuskan bahwa mental budak dan koeli, karena kolonialisme dan penundukan kepatuhan untuk perlakuan para hamba, membuat sikap harus ditransformasi melalui pendidikan.

Bahasa konstitusi Bung Hatta gamblang jelas, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, kalau acuan hidup mengenai kebaikan, kebenaran, kesucian, keindahan mengalami retak dan krisis acuan, jalan keluar yang harus ditapaki adalah jalan transformasi pendidikan.

Krisis kurikulum yang kini mulai diperbaiki serta batu uji integritas tidak mencontek dan kebocoran soal ujian (meski sudah ditanggulangi sekuat daya), menjadi “fakta” indikator betapa jalan transformasi pencerdasan bangsa ini belum menemukan buahnya setelah 70 tahun merdeka. Lebih tragis lagi, saya selalu sedih dan pilu setiap peristiwa ujian nasional.

Meskipun baru saja diklaim tidak menentukan kelulusan siswa, setiap peristiwa ujian, pengawalan soal-soal ujian tetap dikawal aparat keamanan polisi. Ketika menyeberang pulau membutuhkan penakutnakutan senjata untuk security - nya. Soal-soal ujian tidak bocor dan toh masih bocor. Meskipun ujian nasional dengan sistem ujian nasional berbasis komputer (UNBK) relatif semakin mengurangi ketidakjujuran dan jumlah pesertanya meningkat drastis, bisakah UNBK disebut “jembatan”?

Teman saya tertawa terbahak karena pengertian jembatan jadi amat teknis dan tidak substantif. Indikasi mental budak yang sudah masuk bawah sadar ini karena harus survival , maka ekspresinya bertingkattingkat. Tingkat pertama, ia muncul manakala keminderan itu menemukan wewenang yang seharusnya wewenang bertanggung jawab pada tugas yang di pidato-pidato atau khotbah dengan bibir manis diucapkan sebagai amanah.

Namun, praksis nyatanya, muncul dengan gaya menghayati wewenang sebagai “kekuasaan”. Lihatlah, begitu resmi memakai seragam satpam, tampilan mengatur wilayah kuasa akan menampilkan gaya “bos”. Dan, tidak kebetulan kita mengawetkannya dan senang menikmati bila dipanggil “bos” untuk pelayan-pelayan.

Lihat pula, kuasa guru yang setelah lulus doktor pegang ujian, serta setelah berwenang “menentukan” hidup-mati mahasiswa dan karyawankaryawannya. Ia menikmati menjadi “dosen killer “ atau atasan yang minta dibawakan tas kerja, atau dikawal rombongan untuk upacara. Ketika Anda mengemudi truk besar militer atau mobil, cermatilah cara Anda memperlakukan motor dan kendaraan yang lebih kecil.

Paling terakhir, karena saya pejalan kaki di trotoar, harus geleng-geleng kepala dan berhenti diam, berdiri tegak menghambat sepeda-sepeda motor, yang saat jalanan macet mereka naik ke trotoar dan bersepeda motor di situ. Teman-teman peneliti saya dan saya sendiri sepakat, untuk berujar pada kelas menengah yang diharapkan dalam teori-teori sosial pembangunan, ternyata menampilkan diri sebagai pelanggar lalu lintas nomor satu.

Maka itu, ketika proses awal-awal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, generasi pendiri bangsa mewujudkannya dalam “cermin pertama” negatif ini melalui latihan rasionalitas kritis, terbuka berdasar argumentasi budi sehat. Dan, sikap diskusinya, hati boleh panas emosi, namun budi dengan akal sehat tetap dingin.

Lihatlah gerakan mereka ini dalam dokumen sejarah koran perjuangan Bung Hatta dan Sjahrir untuk Pendidikan Nasional Indonesia dengan nama dahsyat visi mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu Daulat Rakyat. Sebuah majalah untuk polemik debat sehat akal budi, justru di titik api perjuangan melawan mentalitas bangsa minder yang berperilaku menghamba- hamba, tunduk patuh tanpa reserve.

Yang tiap kali menjawab tuan-tuan “penjajah” dengan “hamba-tuan” dengan mata tunduk ke bawah, tak berani menatap yang mengajak bicara, karena merasa “kecil”, minder! Daulat Rakyat adalah berdaulatnya rakyat. “Jongos koeli “ini karena proses transformasi pencerdasan kehidupannya keluar dari tindasan ketundukan kuasa “kolonial”, dan perilaku-perilaku tuantuan dan bos-bos sampai hari ini.

Mereka menjawab persoalan pendidikan mentalitas dalam transformasi dengan saling memanggil setara yang akrab bersahabat dengan panggilan “Bung”. Inilah generasi Bung yang mempraktikkan sikap hidup berkepribadian, untuk keluar dari keminderan justru dengan belajar menjadi orangorang berdaulat untuk dirinya dan dihadapkan pergaulan sosialnya.

Tidak hanya itu, praktik kedaulatan diri untuk mengatasi mentalitas minder menjadi seorang Bung yang akrab, tapi siap berdebat, menjadi tidak mendendam atau menyimpan luka bila tersinggung atau dikritik. Lihatlah dokumen sejarah debat antarmajalah para pendiri bangsa baik Daulat Rakyat, Suluh Indonesia, maupun yang lain. Dengan terbuka, Bung Hatta mengkritik tajam agitasi massa Bung Karno untuk menanamkan sikap “persatuan”.

Kritik Hatta rasional dan melengkapi substansi persatuan karena hakikat mau bersatu dalam perbedaan suku dan pemikiran adalah sikap mau menghormati keragaman, mau mengapresiasi dengan tetap berdaulat, untuk berani menjadi pribadi mandiri. Karena itu, persatuan yang benar adalah bukan “persatean” manakala satu tangkai bambu untuk membuat sate, yaitu satu tusuk sate hanya menyatukan semu daging-daging itu.

Paling menarik dicatat, praxis mereka keluar dari mental minder untuk belajar berbudi jernih dan tidak dendam emosi dalam debat-debat adalah fakta bahwa di sidang-sidang dan rapat-rapat mereka berbeda pendapat, berdebat tajam rasional. Tetapi, setelah rapat, mereka tetap berangkulan bersahabat. Bahkan, beda agama pun tidak memisahkan dan membuat kubu.

Semisal IJ Kasimo yang Katolik dibantu mencarikan tempat kost oleh Moh Natsir, dan begitu sebaliknya. Generasi Bung ini pula yang memberi ingatan positif hormat menghormati. Meskipun di kekuasaan Bung Karno berseberangan, bahkan memenjarakan “Bung Sjahrir”, saat berobat ke Swiss, izin tetap diberikan.

Dan, saat meninggal, Bung Sjahrir tetap dihormati sebagai pahlawan dengan pemberian gelar itu. Belum lagi bila Anda baca kesaksian putri Bung Hatta dalam buku mutakhir Tiga Putri Hatta: Gemala, Meutia, dan Halida Hatta (Gramedia, 2015) yang memuat fakta-fakta menyentuh hati dan manusiawi sekali, yaitu persahabatan antara Soekarno dan Hatta.

Meskipun Hatta dengan integritasnya mundur pada 1957 sebagai wakil presiden, saat-saat Bung Karno sakit dan ketika sudah tidak presiden lagi, mereka terus saling bertemu. Saat-saat terakhir tanpa bahasa verbal, tetapi melalui bahasa tatap mata yang menyentuh, mereka berdua bahkan saling berpamitan.

Generasi Bung Karno pula yang memberi contoh seorang Bung Hamka yang pernah dipenjara Bung Karno. Ketika Bung Karno meminta Bung Hamka yang memimpin doa penghantaran jenazah Bung Karno sebagai wasiat, toh Buya Hamka memenuhi permintaan itu.

Dari fenomena-fenomena peristiwa di depan, bisakah para pendiri bangsa dengan visi mencerdaskan kehidupan bangsa kita sebut sebagai “jembatan”— yang menghubungkan jurang lembah mentalitas minder— melalui keteladanan kehidupan berbangsa dan rupa-rupa metode pendidikan watak, pendidikan mengasah sikap kritis, pun gentleman fairness.

Sehingga, mengolah idapan “penyakit” mental “boedak “ diproses menjadi merdeka budi dan merdeka jiwa (mentalitas)? Jawabannya langsung dua ranah. Ranah pertama berbunyi “ya”. Artinya, sejauh buah-buah proses menjembatani itu membuahkan anak-anak bangsa yang setelah merdeka fisik, kini sungguh-sungguh merdeka jiwa!

Orang-orang yang dalam acuan nilai cinta negeri tanpa pamrih, menjadi relawan-relawan yang peduli kenestapaan, keterbelakangan, kemiskinan sesamanya, lalu bergerak tanpa pamrih kuasa, atau kepentingan cari uang, muncul dalam perjuangan-perjuangan kemanusiaan, apalagi pejuang-pejuang kehidupan.

Tujuh tahun bersama dengan Komarudin Hidayat, Imam Prasodjo, Julianti, saya sampai tersentuh haru dan malu saat menjadi tim penilai para pahlawan-kehidupan di Kick Andy Heroes. Sepertinya mereka-mereka ini, seperti Bung Andy mengatakan, para pahlawan-pahlawan kehidupan ini seperti dikirim dari langit sebagai “malaikatmalaikat” untuk warta baik seperti simbol “bulu burung” yang melayang dari langit sampai ke kita.

Saya sampai merenung, justru mereka yang tidak lengkap secara badan, mereka ini yang bermodalkan kerelaan dan kepedulian terhadap anakanak yang telantar tak terdidik, terhadap orang-orang gila yang di jalanan, lalu dirawat dengan modal perhatian dan kepedulian seperti “menjewer telinga” atau “mengiris nurani” dan menggugat budi kita yang “lengkap”, punya semuanya.

Dari mereka inilah makna jembatan pencerahan dan pencerdasan diberi bahasa kepedulian saat ini. Ketika kelas menengah yang highly thinking but low commitment berperilaku dan kalah dengan relawanrelawan pejuang kemanusiaan, untuk melanjutkan visi pencerdasan kehidupan bangsa generasi pendiri RI.

Jawaban keduanya mengatakan “tidak”, apabila retas-meretas mentalitas minder masih merajalela dalam ekspresi kekinian, yaitu jalan pintas sama dengan mau meraup hasil tanpa mau susah payah keringatnya. Mentalitas menerobos yang terus diungkapkan tak hanya dalam korupsi dan penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri akan terus menjadi kelanjutan “gagalnya” wujud-wujud dan kurikulum yang “gagal” dalam memberantas sikap mencontek.

Selama ujian, soal-soalnya masih butuh dikawal polisi dan ujian dengan komputer untuk “kejujuran” bisa “imparsial”, tetap ada yang mau membocorkan atas kepentingan cari uang. Di sana lagu Bridge Over Troubles Water masih harus merasuk menjadi sikap mentalitas dan bukan hanya lagu merdu. Semoga.

Senin, 25 Januari 2016

Buaya Versus Budaya dan Humaniora

Buaya Versus Budaya dan Humaniora

Mudji Sutrisno  ;   Guru Besar STF Driyarkara; Dosen Pasca Sarjana UI; Budayawan
                                                  KORAN SINDO, 21 Januari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Humaniora berasal dari kata bahasa latin humanus-humana-humanum, yang harfiah berarti manusiawi. Dalam bahasa cakap sehari-hari merupakan watak manusia.

Maka kata humaniora lalu memuat makna usaha untuk menjadi lebih manusiawi karena superlatif kata sifat lebih manusiawi termuat di dalamnya ketika ditaruh dalam konteks pendidikan. Pendidik dan filsuf Indonesia Driyarkara menggunakannya dalam dua ranah. Ranah pertama untuk menunjuk proses pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia dalam pendidikan anak muda.

Sehingga cita-cita yang mau dituju dan dicapai untuk pendidikan anak muda agar ia semakin manusiawi dengan proses memanusiakan manusia. Ranah kedua, Driyarkara menunjuk wilayah sosialitas manusia yang ia cita-citakan sebagai lawan dari kondisi sosial hubungan antar manusia yang karena dimotori oleh hasrat menguasai dan nafsu ekonomis dan politisnya oleh Thomas Hobbes berciri saling mengerkah, seperti serigala yang berebut makanan yaitu homo homini lupus.

Maka Driyarkara menunjuk sosialitas manusia lawan (antitesis) keadaan saling mengerkah, menggigit, membunuh sebagai binatang (serigala) itu dalam relasi saling bersahabat manusia, yaitu homo homini socius : manusia adalah kawan, atau rekan di dunia ini. Ke mana? Menuju kesejahteraan, menuju kebahagiaan dalam hubungan sosial mereka.

Pendidikan anak muda diproses untuk mengutuhkan atau mengintegrasikan unsurunsur fisik manusia, raganya dengan sisi-sisi biologisnya dalam hominisasi. Sedangkan dimensi jiwa atau olah batin diproses dalam humanisasi. Humanisasi adalah proses pendidikan yang terus-menerus untuk mengolah pengalaman menghayati kehidupan, penyerapan dan pembatinan (internalisasi yang berharga dan yang bernilai dalam hidup ini) agar manusia semakin berharkat dan bermartabat dalam kemanusiaannya.

Humanisasi agar manusia semakin manusiawi atau humaniora ini, lalu menjadi usaha sederhana langkah-langkah kecil bersahaja sebagai laku untuk gaul bersama atau srawung : komunikasi interpersonal sebagai sesama kawan dengan perbedaan watak dan tetap memperjuangkan hormat pada keunikan masing-masing orang agar lebih human, lebih manusiawi.

Di mana proses gaul bersama atau srawung ini mewujud dan dirajut? Dalam ranah budaya sebagai ranah yang benar, yang baik, yang indah dan yang suci dari kehidupan ini yang secara canggih dirumuskan sistematis logis sebagai sistem nilai. Dan yang sehari-hari dihayati tanpa potensi merumus-rumuskan rasional merupakan arti hidup. Di sinilah untuk orang-orang biasa setiap tindakan atau laku hidupnya yang diberi makna, itulah kebudayaan.

Kalau tindakan atau perilakunya masih didorong oleh hasrat kuasa, naluri hominisasi, maka Driyarkara dengan cerdik menamainya tindakan kebuaya- an. Ia meski orang tetapi tingkah laku sebagai buaya. Kebuayaan ini musuh-musuh yang harus diproses agar menjadi kebudayaan. Oleh karena itu dengan mengambil logika sejajar alias analogi antara kebuayaan (dari buaya) versus kebudayaan (dari kata budaya).

Perumus dan pemikir dua cara hidup yang berlawanan ini dilanjutkan sebagai cara hidup mau memiliki semuanya secara tanpa batas alias serakah yaitu having (pemilikan) dan yang kedua adalah cara hidup menghayati makna esensi keberadaan atau being . Inilah Erich Fromm yang membagi dua cara manusia menghayati hidup. Dari mana Erich Fromm menimba dua cara hidup ini?

Sigmund Freud-lah yang menjadi sumber pengembangannya lantaran psikologi bawah sadar dan kesadaran hasil psikoanalis Freud menemukan empiris dari para pasienpasiennya, bahwa terdapat dua naluri kehidupan manusia yang menyumberinya yaitu naluri untuk hidup (eros) dan naluri untuk menghancurkan hidup (thanatos). Oleh karena itu pula dua rajutan kebudayaan sebagai konsekuensi dua naluri ini adalah life culture (budaya yang memperjuangkan, merawat hidup) dan death culture : budaya yang antikehidupan alias meniadakan, merusak hidup.

Ketika pendidikan digarap, dikembangkan dan dikonstruksikan tidak hanya untuk menyediakan ruang-ruang yang lebih menciptakan life culture daripada death culture , maka di sana pertanyaan kunci mendasar untuk pilihan arah pendidikan humaniora adalah siapakah si subyek sekaligus obyek proses memanusiakannya agar semakin manusiawi?

Bila ranah pendidikan mengutamakannya sebagai obyek pendidikan dan pandangan manusianya adalah ia harus didisiplinkan, ditanami yang baik, yang benar secara penuh keras dan disiplin karena asumsi antropologisnya ia adalah buaya, maka model-model pendidikan spartan yang keras, fisik dan komandolah yang akan diambil seperti riwayat asal pendidikan klasik ala Sparta Yunani.

Namun bila manusia dipandang sebagai subyek, pelaku yang sudah mengolah sendiri dari budayanya nilai-nilai, maka model pendidikan kebidanan Socrates-lah yang diterapkan. Inti pendidikan kebidanan atau maiutike tekhne adalah asumsi antropologis bahwa tugas pendidikan adalah seperti bidan yang menyiapkan, mengondisikan ruang bersalin optimal bagi lahirnya bayi.

Dalam menyiapkan lahirnya dan pencarian kebenaran hidup, guru mengajak terus dengan pertanyaan- pertanyaan mendasar pada murid sampai ia sendiri melahirkan kebenarannya. Ketika budaya diartikan tegas sebagai daya atau kekuatan budi dan budi dimaknai sebagai hanya pikir serta dilupakan makna-makna mata budi sebagai mata batin pengolah apa-apa yang dihayati dengan indra-indranya apalagi dilupakannya makna budi sebagai ranah nurani tempat penderahan kebenaran hidup, maka akibatnya terjadi reduksionisme (pemikiran) pemaknaan budi hanya pada rasionalitas lalu pengetahuan kognitif atau rasionalitas daya pikir nalar belaka.

Herankah kita bila ketegangan proses pendidikan berada dalam dua pendulum pembuayaan versus pembudayaan? yang dalam puncak ekstremnya dua proses menjadi hasil akhir pembudayaan untuk pendidikan humaniora semakin manusiawi dengan puncaknya yaitu keadaban. Sedang pembuayaan yang terus dikejar akhirnya menjadi kebiadaban. Yang pertama karena daya budi life culture membuahkan kemartabatan. Yang kedua dengan sumber death culture membuahkan kematian.

Dari paparan di atas saya ingin mengerucutkan dalam urai pentingnya pendidikan kebudayaan sebagai daya dari budi yang dengan kesadarannya mampu memilah nilai-nilai pro life (life culture) dan death culture (anti kehidupan). Ketika manusia dengan kesadaran budi (dan mata nurani) serta berdaya untuk diberi ranah pengembangannya agar semakin manusiawi, maka pendidikan kesadaran diperlukan sebagai penyadaran untuk membereskan sisi-sisi kebuayaan (buaya)nya atau dorongan-dorongan anti kehidupan alias thanatos-nya.

Inilah yang diajakkan pada penyediaan ruang-ruang hidup pondok, seminarium (ada interaksi saling mencontoh antara guru dan murid karena tingga bersama dalam menghayati ruang hidup bersama) yang oleh Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya dinamai pawiyatan.

Ki Hajar dengan jernih menunjuk ranah pendidikan adalah seperti ranah sawah dari paman-paman tani (ada lagunya) untuk menabur benih padi sebagai keunikan subjek murid yang beda perawatannya dengan jagung atau kayu jati (simbolik murid-murid dengan watak-wataknya yang unik). Maka laku pendidikan menjadi saling mengasuh, saling mengasah dan saling mencerdaskan demi kehidupan.

Guru dalam sosialitas dengan murid-murid sehari-hari, lalu hadir berperan sebagai: ing ngarso sung tuladha (di depan dijadikan teladan); ing madya mangun karsa (di tengah medayakan tumbuhnya kehendak); dan ing wuri (tut wuri) handayani (di belakang memberi penguatan, mendorong menguatkan. Bukankah senafas dan sama ruh-nya dengan homo homini socius-nya Driyarkara?

Bukankah sesemangat yang serupa dengan proses pembidanan maieutike tekhne ? Untuk menutup tulisan ini, ketika humaniora sebagai kata kerja budaya untuk memberi makna dalam kebersamaan kita yang bineka dan ika di Indonesia, maka humaniora lalu menjadi tindakan-tindakan (laku hidup) untuk memberi dimensi manusiawi dalam proses pembuatan ranah-ranah pendidikan, pembuatan struktur, penciptaan rumah-rumah budaya agar tiap warga masyarakat semakin dihormati dalam harkatnya karena ia adalah manusia.

Ia tak boleh dijadikan obyek atau alat untuk mencapai tujuan. Humaniora di ranah hukum adalah keadilan. Humaniora di ranah ekonomi adalah pemerataan. Di ranah sosial kebudayaan adalah sejahtera. Manusia sebagai manusia yang terus diperjuangkan karena ia berharkat dan bermartabat, lantaran ia gambar Allah sendiri, citra agung-Nya untuk pria dan citra ayu-Nya untuk perempuan.

Dan betapa dahsyat pengalaman sejarah kita sebagai bangsa lantaran para pendiri bangsa dengan kesadaran matangnya sadar budi dan nuraninya kalau perjuangan humaniora ini mustahil tanpa kemerdekaan. Lebih dahsyat lagi karena para pendiri bangsa menyadari kemerdekaan kita sebagai berkat dan rahmat Tuhan Allah sumber dan pencipta kehidupan.

Lihatlah itu ditulis mendalam dalam preambul (mukadimah UUD 1945). Semoga ikhtiar pendidikan kita penuh dengan kesadaran historis dan humaniora ini. Dan juga lupa-lupa memori kita harus setiap kali dibangunkan!