Tampilkan postingan dengan label Aryo Wisanggeni G. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aryo Wisanggeni G. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2016

Monolog Kesendirian Tan Malaka

Monolog Kesendirian Tan Malaka

Aryo Wisanggeni G ;   Wartawan Kompas
                                                       KOMPAS, 27 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Riwayat Tan Malaka—seorang bapak bangsa Republik Indonesia yang tersisih dari percaturan politik pada masa Perang Revolusi—digubah penyair Ahda Imran menjadi sebuah monolog kesendirian Tan Malaka. Lurus dan hitam-putihnya Tan Malaka sukar diterima zamannya, tetapi berharga.

Sesosok tubuh berjalan pelan, naik dari salah satu sisi panggung kecil nan gelap yang dikelilingi para penonton. Perlahan, cahaya lampu menerang, memunculkan sosok lelaki itu, samar terlihat ia memunggungi arena panggung, menghadap penonton.

Tangannya memegang secarik kertas, ia membaca isinya tanpa bersuara. Lalu matanya menatap lurus-lurus ke kejauhan. Juga suaranya yang lirih, seperti ujaran gelisah kepada diri sendiri.

”Nama saya Tan Malaka. Saya lahir di surau kecil di sebuah nagari di Minangkabau…,” kata Tan Malaka.

Gurat wajahya muram dan lelah menggenapi gerak-gerik yang serba perlahan. ”Sebentar lagi saya entah berada di mana. Dan bila benar kelak ada kehidupan berikutnya setelah kehidupan di alam dunia ini, maka orang pertama yang ingin saya temui adalah ayah dan ibu saya. Saya ingin meminta ampun dan maaf karena saya tak pernah menziarahi kubur mereka…,” ujar Tan, lirih.

Tan Malaka membalik tubuhnya, tetap berdiri di tempatnya.

”Tan Malaka. Nama yang hanya mengingatkan saya kepada orang-orang yang membenci dan memburu saya. Nama yang hanya mengingatkan saya pada derit pintu penjara,” katanya.

Tragedi

Hidup dalam pelarian, Tan Malaka punya terlalu banyak nama. Di Jakarta, ia adalah Ilyas Husein. Di Filipina, ia adalah Ellias Fuentes, atau Estahislau Rivera, atau Alisio Rivera. Di Hongkong, ia adalah Ong Song Lee. Di Myanmar, ia adalah Tan Ming Sion. Di Tiongkok, ia adalah Cheng Kuan Tat atau Howard Lee, dan di Singapura, ia adalah Hasan Gozali.

Di Institut Francais Indonesia (IFI) di Bandung, ia menyebut diri Tan Malaka, bersaksi di sebuah panggung berukuran 3 meter x 5 meter yang berisi 2 buku, 1 gelas kaleng, 1 buah tas, dan 3 kubus. Salah satu sudut panggung memerah oleh tali-tali yang menegang tegak seperti jeruji penjara.

Pementasan itu bertumpu pada kemampuan Joind Bayuwinanda melakonkan ”kesaksian terakhir” Tan Malaka. Penulis naskah Ahda Imran menggubah kesaksian itu dengan menukil karya Tan Malaka, khususnya buku Dari Penjara ke Penjara. Tafsir Ahda atas situasi Indonesia hari ini menjadi penapis sekaligus benang merahnya.

Joind antara lain menutur kesaksian Tan Malaka yang menolak gagasan M Hatta, proklamator dan wakil presiden pertama Indonesia, untuk membiarkan para penanam modal Eropa mengambil kembali perkebunan di Indonesia.

”Alangkah malangnya kedaulatan sebuah negara apabila bank, perkebunan, pertambangan, perhubungan, minyak bumi, atau lembaga-lembaga perdagangan berada dalam kekuasaan tuan-tuan kapitalis. Kemerdekaan politik tanpa kedaulatan ekonomi di suatu negara, dalam paham saya, adalah lelucon yang sangat menyedihkan,” ujar Tan.

Joind berhasil membawakan kekecewaan sang guru revolusi. Tahun 1925, Tan Malaka menggagas republik federasi Indonesia—ia tuangkan dalam bukunya, Naar de Republiek Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa Tan Malaka. Republik Indonesia lahir tanpa disaksikan penggagasnya. ”Saya merasa ditinggalkan. Berpuluh-puluh tahun saya mencarinya ke berbagai negeri dan penjara. Mungkin karena saya mencarinya sebagai orang buangan dan pelarian, sejarah selalu mengelak dari tubuh saya,” kata Tan lirih, duduk terbungkuk, menunduk dalam-dalam.

Tragedi kini

Tragedi Tan Malaka itu digenapi Indonesia dengan sebuah ”teater” yang menjadi prolog tragis bagi pentas monolog Tan Malaka. Beberapa organisasi kemasyarakatan menurunkan massa, menentang pementasan monolog Tan Malaka, Saya Rusa Berbulu Merah, pada Rabu (23/3). Puluhan polisi tidak berseragam gagal mencegah massa penentang pentas memasuki IFI Bandung.

Atas nama tafsir bahwa Tan Malaka ”hanya” seorang komunis belaka, massa merangsek calon penonton, berteriak mengancam aksi kekerasan jika monolog dipentaskan. Upaya meriwayatkan seorang penggagas Republik Indonesia diharamkan atas nama ”Republik Indonesia”.

Itulah Indonesia kini, negara yang konstitusinya menjamin kemerdekaan warga negara berekspresi, tetapi janji itu tak selalu terpenuhi. Sejak Joko Widodo berkuasa, sedikitnya ada tujuh kasus pembatalan paksa kegiatan seni budaya di sejumlah kota. Modusnya mirip, polisi membujuk penyelenggara agar kegiatan dibatalkan dengan alasan adanya ancaman demonstrasi dari suatu kelompok.

Berkat keterbukaan berdialog Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, 200 polisi akhirnya mau datang mengamankan penonton dan awak Mainteater di IFI Bandung pada Kamis (24/3). Terlepas dari porsi peran Wali Kota, Ridwan Kamil menjadi representasi negara dalam memenuhi janji konstitusi.

Di panggung, Tan Malaka duduk, berbicara tenang, mengisahkan sebuah hari ketika di perkebunan tempatnya bekerja dikunjungi dua pesohor bawaan penguasa Jepang. Kepada kedua pesohor itu, Tan Malaka berkata tegas tentang hakikat kemerdekaan Indonesia.

”Saya insaf benar akan perlunya memperjuangkan kemerdekaan, pun kalau kemerdekaan itu sekarang diberikan kepada kita.... Semangat rakyat membela kemerdekaan akan naik dengan adanya hak nyata di tangan kita sebagai manusia. Kita akan membela mati-matian...” kata Tan Malaka lantang! ●

Minggu, 30 November 2014

Berbahan Murah, tetapi Tidak Murahan…

                Berbahan Murah, tetapi Tidak Murahan…

Aryo Wisanggeni G  ;   Wartawan Kompas
KOMPAS,  30 November 2014

                                                                                                                       


PASAR Seni ITB sudah ”membajak” Minggu untuk kesebelas kalinya di Bandung. Ratusan warga, mahasiswa, dan wisatawan tumpah ruah ke tiap sudut kampus. Selama 42 tahun, pasar seni itu masih tetap ramah dan terus membumikan seni rupa. Minggu (23/11) pukul 08.35, Pasar Seni ITB belum resmi dibuka. Namun, para ”penyusup” berhasil masuk ke ”galeri” dadakan yang digelar di lapangan basket kampus Institut Teknologi Bandung.

Di salah satu ”lapak” pameran, enam patung serial ”Anjing Geladak” karya pematung kenamaan Nyoman Nuarta mencuri mata. Sang penjaga, Resi Sofanti (38), semringah melihat antusiasme para ”penyusup” memadati lorong-lorong lapak yang menjual karya para perupa kondang Bandung. ”Sudah ada empat orang yang membeli karya Pak Nyoman Nuarta,” ujar Resi tersenyum.

Enam patung anjing berbahan resin itu diolah sedemikian rupa sehingga terkesan berbahan tembaga dan tiap- tiapnya dicetak hanya 15 kali. Garapannya memang khas, segera mengingatkan publik kepada karya-karya monumental Nyoman Nuarta. Harganya sungguh menggoda. Dengan merogoh uang Rp 10 juta, publik sudah bisa membawa pulang patung anjing tersebut lengkap dengan sertifikat yang menerangkan keaslian karya Nyoman Nuarta itu.

Para ”penyusup” rela menerobos puluhan ribu peserta car free day di Jalan Juanda, Bandung, tergopoh-gopoh mencari lapak para perupa. ”Pasar Seni ITB selalu spesial, baik bagi Pak Nyoman yang menyiapkan karya khusus bagi pasar seni ini maupun bagi pengunjungnya,” ujar Resi.

Di pasar seni empat tahunan itu, ”serangan fajar” memang menentukan hasil akhir perburuan. Reinaldi Tamin (36) merasakan sendiri risiko ”kalah pagi”. Arsitek alumnus ITB yang bermukim di Bandung itu sudah memulai perburuannya ketika lapak Serambi Pirous pelukis AD Pirous dan Erna Pirous yang masih ditutupi bentangan kain putih, tetapi lukisan yang paling ia sukai justru dilabeli tanda booked.

”Ini yang booked jadi membeli tidak ya?” Reinaldi bertanya kepada penjaga sambil menunjuk sebuah lukisan kecil berjudul ”Pemandangan”. Sebagai karya AD Pirous, lukisan itu sangat khas, menghadirkan komposisi warna-warna cerah yang abstrak, lalu diimbuhi secarik garis keperakan yang serupa huruf pertama aksara Arab, ”Alif”. ”Kalau yang booked batal, saya yang ambil lukisan ini ya?” rayu Reinaldi.

Sejak lama Reinaldi mengoleksi repro karya AD Pirous dan mengoleksi sejumlah grafis karya sang perupa. ”Sejak lama saya mengagumi lukisan kaligrafi karya AD Pirous, tetapi belum pernah memiliki lukisannya,” kata Reinaldi tertawa.

Membumi

Sejak digelar pertama kali tahun 1972, Pasar Seni ITB memang istimewa, baik bagi para perupa, kolektor, maupun ”orang biasa” seperti Reinaldi. Riwayat Pasar Seni ITB berawal dari Rochester, singgah di Paris, lalu mendarat di Bandung. AD Pirous, sang perintis, masih mengingat musim gugur tahun 1970 ketika ia berkuliah di Rochester Institute of Technology, New York, Amerika Serikat.

Ketika itu, ia bahkan tidak tahu apa itu ”pasar seni”. ”Saya diajak kawan, datang dengan membawa karya yang saya lukis di studio, empat buah tongkat dan beberapa utas tali. Saya terkejut, karya saya dibeli orang. Saya segera tahu, saya harus bikin pasar seni serupa di Indonesia,” kata Pirous.

Tahun 1971, ia merampungkan studinya, lalu singgah ke Paris untuk menjemput istrinya, Erna Pirous, yang bersekolah di sana. Di ibu kota Perancis itu, ia keluar masuk galeri para maestro seni rupa, termasuk mengunjungi galeri perupa Sonia Delaunay.

”Di jalanan saya terpana melihat gadis Paris memakai syal bermotif lukisan karya Sonia Delaunay. Saya tersadar, di Paris karya seni berkualitas abadi dalam museum diterjemahkan dalam desain produk menjadi komoditas ekonomi. Tahun 1971 saya kembali ke ITB dan tahun 1972 saya menggelar Pasar Seni ITB di pinggir Jalan Ganeca, Bandung. Seperti di Rochester, pasar seni ini bukan tempat menjual karya seni dengan harga mahal, melainkan membumikan seni rupa ke kehidupan rakyatnya,” katanya.

Biarpun menawarkan ”harga kelas dua”, Pasar Seni ITB tidak lantas menawarkan ”karya kelas dua”. Karya-karya para perupa memiliki mutu estetika tinggi, tetapi ”dibangun” dengan beragam materi ”murah” tanpa menjadi murahan.

Tisna Sanjaya yang biasanya menghadirkan karya instalatif yang dibangun lewat performance art kini menghadirkan 42 drawing dalam lapaknya. Bagi Tisna, Pasar Seni ITB adalah interupsi terhadap art fair lain yang selalu dipenuhi para galeri dan kolektor.

”Pasar Seni ITB itu tak ubahnya pasar tradisional kita, pasar yang mempertemukan manusia dengan manusia. Ada mahasiswi datang, mengapresiasi karya, tetapi tanpa cukup uang. Saya persilakan ia membeli semampunya karena saya tahu ia mengapresiasi karya saya,” kata Tisna.

Evy Syaifullah, dosen grafis Universitas Padjadjaran, Bandung, menjadikan Pasar Seni ITB interupsi bagi diri sendiri. ”Saya hanya menjual satu karya, poster suasana Pasar Seni ITB yang hanya dicetak 100 buah dengan teknik digital printing. Antara mencari uang dan bereuni dengan banyak kawan sama-sama jadi motif ke pasar seni,” ujar alumnus jurusan grafis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB angkatan 1987 itu.

Reuni bahkan menjadi tujuan utama para seniman Kandura. Studio keramik itu didirikan Fauzy, Nuri, Ghia, dan Tisa di Bandung pada 2005. ”Kami alumni ITB dan sejak 2006 ikut setiap Pasar Seni ITB. Di situ kami menghadirkan beragam produk keramik dengan potongan harga 20 persen dan melihat respons pengunjung,” kata Fauzy tertawa.

Selama 42 tahun, lewat sebelas kali penyelenggaraan, Pasar Seni ITB telah berkembang menyerupai sebuah festival seni. Tak hanya mempertemukan para perupa dengan warga, pasar ini sudah menjadi perhelatan yang lengkap dengan beragam seni pertunjukan, diramaikan puluhan anjungan kuliner lezat, juga puluhan stan kerajinan.

Tak kurang dari AD Pirous sendiri berkelakar. ”Pasar Seni ITB kali ini gagal karena terlalu sukses. Terlalu banyak orang datang,” kata Pirous bangga.

Minggu, 07 September 2014

Dan Senyap Pun Mengetuk

Dan Senyap Pun Mengetuk

Aryo Wisanggeni G  ;   Wartawan Kompas
KOMPAS, 07 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

SUTRADARA film ”The Act of Killing”, Joshua Oppenheimer, kembali menyuguhkan film tentang pembantaian 1965-1966. Film itu, ”The Look of Silence”, memberi gambaran beratnya beban kemanusiaan keluarga algojo ”membaca” pembantaian 1965. Terlebih beban ”dosa sejarah” yang terus dilekatkan kepada penyintas dan keluarga mereka.

The Look of Silence adalah sebenar-benarnya film sekandung The Act of Killing atau Jagal. Namun, film terbaru Oppenheimer itu memilih cara bertutur yang sama sekali berbeda dari Jagal.

Jagal hadir bak sebuah perayaan pembantaian 1965 yang diperkirakan menewaskan 300.000 hingga 2,5 juta jiwa. Jagal mencokolkan pertanyaan, kenapa seorang pembunuh bisa bangga mengisahkan laku membunuh entah berapa manusia? Alasan pemaaf seperti apa yang melingkupi mereka hingga berpuluh tahun mereka merasa diri pahlawan?

Tidakkah para pembunuh itu sebagai anak manusia bersua dengan para penyintas—anak manusia lain yang dicap ”komunis” dan selamat dari pembantaian 1965? Pada pertanyaan terakhir itulah The Look of Silence bertutur.

The Look of Silence yang dalam bahasa Indonesia berjudul Senyap adalah film dokumenter tentang Adi. Tukang kacamata keliling itu adalah adik dari Ramli, salah satu korban pembantaian 1965-1966 di salah satu desa perkebunan terpencil di Sumatera Utara. Lahir pasca pembantaian 1965-1966, Adi tumbuh dalam keluarga yang secara resmi dinyatakan ”tidak bersih lingkungan” karena kakaknya, Ramli, dianggap simpatisan PKI. Bersama Adi, Oppenheimer mengumpulkan para korban dan penyintas pembantaian 1965-1966, mendokumentasikan kesaksian mereka tentang sejarah pahit itu.

Di tengah proses itu, terjadi intimidasi kepada para penyintas. Mereka diminta diam dan tidak memberi kesaksian kepada Oppenheimer. Para penyintas mencari siasat, lalu mendesak Oppenheimer mewawancarai sejumlah tokoh yang terlibat pembantaian itu, yang mungkin akan menceritakan sendiri pembantaian mereka.

Oppenheimer ragu siasat itu bisa berjalan, dan menjadi terkejut ketika ternyata mereka yang terlibat pembantaian 1965-1966 bangga menceritakan bagaimana mereka membunuh para korban. Siasat di tengah jalan itulah yang melahirkan film Jagal yang diluncurkan mendahului Senyap.

Setegang fiksi

Oppenheimer melanjutkan proyek film dokumentasi kesaksian para penyintas dengan menunjukkan rekaman wawancara itu kepada Adi. Dalam Senyap, tampak Adi menonton kesaksian para pembunuh. Adi tercenung, diam, tetapi terus menonton rekaman wawancara yang diabadikan pada April 2003 yang memperlihatkan orang yang tertawa-tawa bangga mengisahkan ”kepahlawanan” mereka membunuh.

Adi mencoba memahami kejumawaan ”para pahlawan” pembantaian 1965-1966. ”Mungkin semua itu terjadi karena penyesalan yang begitu dalam atas pembunuhan yang dia lakukan pada waktu itu. Karena rasa penyesalan yang begitu dalam, saat memperagakan pembunuhan itu, (mereka) seperti mati rasa,” ujar Adi lirih.

Oppenheimer juga bertemu dengan dua orang yang mengaku sebagai pembunuh Ramli. Keduanya, Amir Hasan dan Inong, memperagakan bagaimana mereka membunuh Ramli di pinggiran Sungai Ular. Film dokumenter itu menjadi setegang film fiksi, ketika menyuguhkan adegan Adi menemui Inong, menawarkan kacamata untuk mata Inong yang rabun.

Sambil mencari ukuran lensa kacamata yang cocok untuk mata Inong, Adi bertanya masa lalu Inong. Adi terus mengejar, memantik marah Inong. ”Maksud saudara bertanya apa? Saudara menanyakan terlalu dalam. Bicara soal politik, saya tidak suka.” Inong begitu marah dan meminta Oppenheimer berhenti merekam pertemuan itu. Wajahnya menegang dengan tatapan hampa. Bukan hanya marah yang muncul dari adegan itu. Terasakan, penyangkalan Inong atas sesal adalah jalan, mungkin satu-satunya jalan Inong, untuk melanjutkan hidup.

Kemarahan juga tercuat ketika Adi menemui keluarga almarhum Amir Hasan. Dua anak Amir Hasan marah mendengar Adi menuturkan isi buku Embun Berdarah karangan ayah mereka yang merinci pembunuhan 32 korban pembantaian, termasuk Ramli. Kisah pahlawan yang ditulis sang ayah tiba-tiba terasakan menjadi tuduhan ketika dituturkan Adi, adik Ramli.

”Sekarang ini terbuka luka. Dikarenakan Joshualah, mengambil ini semua, data mendiang pun dibukakan sejarahnya semua, akhirnya terbuka. Kalau tidak, mana adik (Adi) tahu sama kami, kan?” Salah satu putra Amir Hasan bertanya kepada Adi.

”Tahu,” jawab Adi. ”Tahu, aku tahu persis keluarga ini. Siapa saja yang keluarganya dibunuh pasti ingat. Tapi ingat bukan dalam artian dendam.” Istri Amir Hasan dengan sepenuh hati berujar lembut, meminta maaf Adi.

Bagi masa depan
                                                             
Untuk apa mengungkit sesuatu yang telah berlalu, itulah yang dinyatakan Inong, keluarga Amir Hasan, juga sejumlah tokoh pembantaian 1965-1966 lain yang bersuara dalam Senyap. Mengungkit yang lalu mengoyak luka lama. Senyap secara tak terduga menuturkan bahwa mereka yang membunuh pun terluka, melukai kemanusiaan mereka. Luka itu mereka lupakan dengan penyangkalan dan euforia kepahlawanan yang rapuh.

Senyap juga menuturkan bahwa Adi—berikut ratusan ribu hingga jutaan keluarga penyintas lainnya—masih dilukai hingga luka itu terus basah. Luka Adi basah menerima pertanyaan anaknya yang pulang sekolah, mengisahkan cerita guru mereka tentang kekejaman PKI. Adi bersabar menjelaskan sejarah keluarga dan sejarah Indonesia kepada sang anak. Adi marah, belajar tidak mendendam, tetapi negara terus mengoyak lukanya.

Oppenheimer mengibaratkan Senyap sebagai puisi tentang kesenyapan. ”Puisi tentang kesenyapan yang lahir dari teror, sebuah puisi tentang pentingnya memecah kesenyapan itu, tetapi juga tentang trauma yang datang ketika kesenyapan itu dipecahkan. Kita harus berhenti, mengakui kehidupan yang telah dihancurkan, dan memaksa diri untuk mendengarkan kesenyapan yang menyusulnya,” ujar sang sutradara.

Kerendahan hati menjadi kunci mendengar kesenyapan itu. Kerendahan hati Adi berikut ratusan ribu hingga jutaan keluarga yang menjadi korban pembantaian 1965-1966, kerendahan hati orang-orang seperti Inong dan keluarga Amir Hasan, ataupun kerendahan hati negara. Senyap sudah mengetuk, akankah kita menoleh dan berdiam sejenak?