Tampilkan postingan dengan label Dian R Basuki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian R Basuki. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

Obsesi Kecepatan

Obsesi Kecepatan

Dian R Basuki  ;  Peminat Masalah Sains
KORAN TEMPO, 10 November 2014
                                                
                                                                                                                       


Apakah Anda merasakan perubahan dalam diri Anda: cenderung kian tidak sabar manakala akses Internet begitu lelet, merasa kesal tatkala proses loading laptop terasa lamban, atau uring-uringan ketika jalanan padat membuat Anda sukar berkendara dengan cepat. Banyak orang cenderung menetapkan kecepatan sebagai fitur kunci dalam memilih produk dan jasa: telepon seluler, tablet, sepeda motor, mobil, jasa kurir, transportasi, pesan-antar makanan, apa lagi? Nyaris dalam setiap hal, kecepatan menjadi ukuran untuk menentukan kualitasnya. Semakin cepat, semakin bagus. Semakin cepat, semakin mahal.

Konsumen memiliki ekspektasi tinggi terhadap kecepatan. Restoran cepat saji akan memberikan bonus kepada konsumen bila hidangan tersaji lebih lambat dari yang dijanjikan. Penumpang akan mendapat kompensasi bila kereta terlambat.

Perubahan dari mekanik ke elektronik telah meningkatkan kecepatan secara signifikan. Sebelumnya, pesan tidak terkirim dengan kecepatan melebihi pergerakan manusia, kuda, kereta, atau kapal. Kini, kata, suara, informasi, dan gambar dapat ditransmisikan melewati jarak yang sangat jauh pada kecepatan yang amat tinggi. Mengikuti perubahan teknologi ini, meningkat pula ekspektasi manusia terhadap kecepatan.

Kecepatan, sepertinya, telah menjadi obsesi masyarakat. Obsesi manusia terhadap kecepatan barangkali belum pernah sehebat sekarang. Ketika kita mengirim pesan pendek dan jaringan telekomunikasi terganggu selama 1 menit, kita sudah merasa sangat kesal. Bandingkan dengan masa ketika kakek kita mengirim surat dari Surabaya dan sampai di Jakarta paling cepat 1 minggu kemudian--pada masa itu, yang disebut 'pos kilat' memerlukan dua-tiga hari.

Dalam masyarakat kapitalistik (apatah kita bukan masyarakat kapitalistik?), kecepatan punya makna meninggalkan yang lain di belakang, membiarkan yang lain tertatih-tatih di tengah pacuan, menaruh orang-orang berjalan di pedestrian.

Obsesi kecepatan berarti kecemasan dan ketakutan untuk tertinggal-menjadi pendorong untuk membeli mobil baru yang lebih cepat, laptop yang lebih cepat, saham yang meroket. Jeda, keterlambatan, berhenti, dan bergerak perlahan dianggap sebagai hilangnya kesempatan dan memberi keunggulan kepada pesaing.

Hasrat kita akan kecepatan meningkat sekian kali lipat-walaupun ini tidak selalu berujung pada peningkatan kualitas produk, jasa, maupun produktivitas. Dengan pemakaian teknologi informatika, pembuatan e-KTP seyogianya bisa selesai dalam beberapa menit. Dalam praktek, warga memperoleh e-KTP paling cepat satu minggu kemudian karena menunggu tanda tangan bapak/ibu camat. Kontradiksi di dalam obsesi kecepatan.

Obsesi masyarakat tecermin di jalanan: pengendara sepeda motor, mobil, bus, pick-up, berpacu untuk segera sampai di tempat tujuan. Karyawan ingin segera tiba di kantor, sayangnya bukan untuk langsung bekerja, melainkan mengobrol dulu dengan rekan sembari minum kopi. Dalam obsesi kecepatan, ada ambiguitas, mungkin sejenis kerinduan akan irama dan tempo yang lebih lambat.

Tentu saja, kita memang harus membayar untuk obsesi ini. Speedaholic menjadikan stres meningkat, kegelisahan bertambah, ambiguitas yang menegangkan, dan keterasingan yang kian mencekam. Kecepatan mengubah kimiawi otak kita, menyisakan sedikit waktu saja bagi kita untuk sempat menikmati wanginya aroma bunga mawar.

Minggu, 24 November 2013

Alfred Wallace dan Kita

Alfred Wallace dan Kita
Dian R Basuki  ;   Peminat Masalah Sains
TEMPO.CO,  23 November 2013
  


Seabad yang lampau, di bulan November, Alfred Russel Wallace berpulang. Namanya punya ikatan yang kuat dengan negeri ini, sekurang-kurangnya karena tiga alasan. Pertama, Wallace melakukan penelitian alam selama bertahun-tahun di sebagian wilayah Nusantara. Kedua, dari penelitian inilah Wallace memikirkan apa yang juga dipikirkan oleh Charles Darwin, yang kemudian melahirkan teori evolusi. Ketiga, namanya terpatri hingga kini sebagai Garis Wallace--sebuah penghormatan atas keperintisannya dalam bidang zoogeografi.

Terilhami oleh kisah perjalanan Alexander von Humboldt, Charles Darwin, maupun William Henry Edwards ke rimba Amazon dan Galapagos, Wallace muda bertekad mengunjungi kawasan di Amerika Selatan itu. Ini adalah wilayah impian para naturalis, dan, seperti dalam surat kepada sahabatnya, Henry Bates, Wallace bermaksud "mengumpulkan fakta-fakta untuk memecahkan asal-usul spesies". Bersama Bates, Wallace mendatangi wilayah itu berbekal pengalaman sebagai amateur entomologist.

Kendati dalam perjalanan pulang ke Inggris kapalnya terbakar di tengah lautan, yang melenyapkan sebagian besar catatan penelitiannya, Wallace mampu merampungkan enam tulisan akademis. Salah satunya ialah On the Monkeys of the Amazon dan dua buah buku, Palm Trees of the Amazon and Their Uses dan Travels on the Amazon. Karya-karya inilah yang membukakan pintu panggung intelektual Inggris bagi Wallace, dan namanya mulai dikenal oleh para naturalis masa itu.

Baginya, Amazon tak cukup. Hindia Timur menjadi tujuan impian berikutnya. Berangkat pada usia 31 tahun (1854), Wallace berada di Nusantara dalam waktu yang lama, hingga 1862. Ia mengumpulkan lebih dari 125 ribu spesies hewan dan tanaman--sekitar 1.000 di antaranya merupakan spesies baru pada masa itu. Catatan studinya diterbitkan sebagai The Malay Archipelago (1869)--dapat dikatakan ini merupakan catatan akademis yang sangat populer pada abad ke-19.

The Malay Archipelago dicetak berulang kali hingga menjelang akhir abad ke-20, dan kini orang bisa mengaksesnya di Proyek Gutenberg. Wallace berperan sangat penting dalam mengabarkan kepada dunia betapa kaya kawasan Hindia Timur ini sebagai sumber ilmu pengetahuan. Naturalis yang lebih senior, seperti Darwin dan Charles Lyell, mulai merujuknya-pengakuan yang memperkuat posisinya di panggung intelektual Eropa. 

Beragam spesies itu membuat Wallace memikirkan ulang pemikiran sebelumnya. Dari kawasan Ternate, sebagai junior, Wallace mengirim surat dan esai mengenai evolusi alam kepada Darwin di London (1858). Surat-surat dari Ternate ini membikin Darwin terhenyak dan menyadari keserupaan ide Wallace dengan gagasannya sendiri. Darwin bergegas menerbitkan buku pentingnya, On the Origin of Species. Meski sempat menulis joint-paper bersama Darwin tentang evolusi, nama Wallace lama tak disebut.

Namun momen historis ini mulai diungkap. Sejarawan sains maupun para natural saintis mulai mengakui kontribusi penting Wallace terhadap perumusan gagasan evolusi dan seleksi alam. Penghargaan terhadap ilmuwan yang rendah hati itu kini tersemat dalam atribusi yang lebih fair dan kian kerap dipakai, teori evolusi Darwin-Wallace. Sebutan "evolusionis yang terlupakan" mulai surut.

Kontribusi Wallace sesungguhnya lebih dari itu. Bertahun-tahun hidup di Hindia Timur membuatnya memikirkan keanehan lain yang mengusik: mengapa hewan-hewan di wilayah ini seperti terpilah-pilah secara geografis. Menyusul terbitnya publikasi baru mengenai sistem klasifikasi, Wallace pun kian yakin bahwa hewan-hewan terdistribusi secara geografis. Observasinya mengenai perbedaan zoologis pada selat yang sempit di wilayah Timur ini mendorongnya untuk mengajukan gagasan batas-batas zoogeografi. 

Dua jilid buku The Geographical Distribution of Animals terbit pada 1876. Boleh dikata, ini merupakan teks definitif mengenai zoogeografi yang tetap digunakan bahkan hingga seabad kemudian. Pemikiran penting Wallace dalam buku ini dilanjutkan melalui karya berikutnya, Island Life (1880), yang mengukuhkan dirinya sebagai perintis zoogeografi. Namanya diabadikan pada garis maya di Indonesia Timur, yang disebut Garis Wallace.

Di antara dua karya itu, Wallace menerbitkan Tropical Nature and Other Essays (1878). Menyadari betapa kayanya Hindia Timur, ia memperingatkan bahaya penggundulan hutan dan erosi tanah di wilayah ini. Dengan mengambil contoh pengalaman penanaman kopi di Sri Lanka dan Hindia, Wallace memperingatkan bahaya pembukaan lahan secara berlebihan di kawasan tropis, jauh sebelum orang-orang menyadari isu-isu lingkungan. Ia rupanya sudah mencium aroma ancaman terhadap lingkungan sejak ia memperkenalkan kawasan itu kepada dunia luar.

Sebagai orang yang pernah putus sekolah dan berasal dari keluarga yang tidak menonjol secara sosial, sungguh hebat bahwa Wallace mampu meraih posisi intelektual yang terdepan pada masanya. Wallace adalah orang besar yang tersembunyi oleh bayang-bayang Darwin. Dan, seratus tahun setelah kematiannya, kita di sini mungkin juga tidak pernah mengingat betapa Wallace telah sanggup menyingkapkan rahasia alam yang digali dari bumi tempat kita hidup. 

Senin, 13 Mei 2013

Masyarakat Nirarah


Masyarakat Nirarah
Dian R Basuki  ;  Peminat Masalah Sains
KORAN TEMPO, 13 Mei 2013


Di tengah bangsa yang tanpa arah ini, solidaritas nasional tidak terwujud karena tidak adanya kepemimpinan visioner yang sanggup merekatkan kembali ikatan-ikatan sempit yang mencuat dan menguat kembali.
Setelah melewati periode tidur panjang, apa yang dipuji sebagai "kebangunan demokrasi" di negeri ini seperti berjalan tanpa arah. Benih demokrasi yang ingin disemaikan, setelah berpuluh tahun diimpit rapat-rapat, kini malah dicemari oleh kepentingan jangka pendek yang menepikan segala prinsip. Peluang bagi demokrasi yang sehat telah dihegemoni oleh pemenuhan hasrat yang tak putus-putus akan kuasa dan harta.
Kita belum memiliki hasil studi yang otentik dan memadai perihal relasi di antara "demokrasi baru" dan korupsi di sini. Namun kajian Olson (2002) di wilayah Eropa Timur pasca-komunis memberi cerminan reflektif yang pesimistis. Korupsi mekar tak ubahnya buah dari "kebangunan demokrasi". Di dalamnya, sembari bersaing, para elite kekuasaan berusaha "saling mengerti" bagaimana masing-masing menghimpun sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan mesin politik.
Demokrasi kita, yang diharapkan menjadi jalan bagi penguatan kembali kedaulatan rakyat, telah ditawan oleh mereka yang memanfaatkan kapital dan kemakmuran individu untuk membeli suara-orang miskin "dilarang" menjadi anggota parlemen. Demokrasi yang diharapkan mampu membebaskan rakyat dari kungkungan trauma sejarah kehilangan momentum perubahannya. Politik pembebasan, meminjam kata-kata filsuf Prancis, Alain Badiou, menjadi teramat lemah.
Demokrasi kita juga ditandai oleh kehadiran politikus oportunistik yang begitu mudah berpindah-pindah partai-sebuah perilaku politik yang mencerminkan tidak adanya cita-cita perjuangan dalam berpolitik. Bagi mereka, partai politik adalah tunggangan, sedangkan rakyat hanyalah isu yang dijual menjelang hari pemungutan suara. Berpolitik sebagai jalan untuk memperjuangkan gagasan kini semakin langka. Partai mengalami kemiskinan ideologi-lantas, untuk apa berpartai bila tanpa ideologi?
Kita berada di dalam suatu kurun ketika gagasan menjadi sesuatu yang ganjil. Kita menapaki jalan, entah ke arah mana, yang menyimpang dari rintisan para pendiri bangsa. Kita disibukkan oleh isu-isu yang tidak strategis dan tidak menjangkau masa depan. Kita direpotkan oleh isu-isu yang melelahkan serta menyita banyak waktu, energi, dan perhatian bersama, padahal isu itu bukan yang utama dan mendasar bagi sebagian besar rakyat negeri ini-sebuah gambaran "the tragedy of the commons" dalam pelukisan Hardins (1968).
Kekuatan-kekuatan oligarkis terbukti lebih berpengalaman dalam mencuri peluang dan menciptakan beragam tragedi. Di tengah transisi dari rezim Orde Baru menuju konsolidasi demokrasi, kekuatan-kekuatan oligarkis menyelinap dan mengambil keuntungan dari situasi yang tidak pasti. Seperti dikatakan Winters (2012), kejatuhan Soeharto melahirkan efek ganda dengan konsekuensi saling bertentangan. Ketika transisi menuju demokrasi tengah diupayakan, saat itu pula berlangsung transisi oligarki sultanistik menuju oligarki penguasa kolektif yang tidak jinak dan tidak terkendali oleh hukum. 
Masyarakat madani, di mata Winters, terlalu lemah untuk menangkap peluang kembalinya demokrasi, sementara para oligark bergerak lebih cepat untuk mendominasi demokrasi. Demokrasi elektoral bahkan memberi cara baru bagi oligark untuk mengupayakan kepentingan mereka. Lembaga-lembaga demokrasi justru menyediakan arena bagi maraknya kerja sama dan persaingan antar-oligark. 
Studi Christian von Luebke (2011) menguatkan hal ini bahwa kepemimpinan pasca-Soeharto bukan hanya dipengaruhi oleh karakteristik individual, tapi juga oleh "topografi" kekuasaan, seperti konsentrasi dan konektivitas politik dengan aset sosio-ekonomi. Kejatuhan Soeharto, menurut Robison dan Hadiz (Reorganizing Power in Indonesia, 2004), membuka jalan bagi oligarki bisnis-politik untuk menyusun kembali kekuasaannya melalui akomodasi baru terhadap berbagai kepentingan populis dan predatoris di dalam masyarakat dan institusi-institusi baru di masa demokrasi.
Kekuatan oligarkis telah menguasai sebagian besar media, yang semula menjadi tumpuan harapan dalam ikhtiar memulihkan kedaulatan rakyat. Kekuatan oligarkis menghimpun tiga sumber daya yang luar biasa di dalam satu tangan: bisnis-ekonomi, media, dan politik. Upaya melindungi forum publik dari dominasi para elite dan kepentingan khusus dengan agenda-agenda yang tidak konsisten dengan kepentingan publik kini menjadi tugas yang semakin sukar. 
Dalam persaingan kuasa itu, tidak berlangsung pertarungan gagasan mengenai Indonesia masa depan. Seperti apa Indonesia masa depan yang diimajinasikan oleh para elite? Ketika kata-kata berhenti menjadi jargon dan klise, kita pun kehilangan spirit dan cita-cita kebangsaan yang diimajinasikan oleh Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan lain-lain. Sebagai bangsa, kita mengalami apa yang disebut oleh Jeffrey Goldfarb (Civility and Subversion, 1998) sebagai "systemic deliberation deficit". Lalu-lalang percakapan tidak beranjak dari telaah mendalam. Keriuhannya dipandu oleh refleks semata. Sebuah kecurigaan sanggup melontarkan debat berkepanjangan. Di titik itu, yang disebut rakyat hanyalah penonton dari lalu-lalangnya percakapan yang tidak deliberatif. 
Laku politik sepertinya telah dikendalikan oleh apa yang disebut Bertrand Russell sebagai "slogan-slogan hampa yang tidak mengandung kebenaran". Pada saat seperti itu, sebagian besar inteligensia yang diharap dapat memberadabkan kontestasi politik dan mensubversi konsensus-konsensus yang hanya memuaskan kaum elite sendiri ternyata kian terpesona oleh kuasa. 
Mencemaskan bahwa kita semakin kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara adab. Kekerasan kian menjadi pilihan untuk menyelesaikan perselisihan pendapat. Kita dibimbing oleh rasa curiga, takut, dan marah dalam mengatasi persoalan. Begitu mudah kita memagari diri ke dalam "kita" dan "mereka" seakan perbedaan tak terjembatani. Kekerasan menjadi banal, lumrah, jamak, bukan hanya di tingkat negara, massa, tapi juga individual dengan kualitas yang kian mencemaskan. 
Di tengah kegalauan nilai yang simpang-siur, rakyat nyaris kehilangan harapan karena hukum yang adil tak kunjung tegak. Massa telah menjadi kepanjangan tangan kepentingan-kepentingan politikus, partai, elite ekonomi, dan bahkan otoritas keagamaan yang menghegemoni kebenaran. Massa bukan lagi persenyawaan orang-orang yang secara sadar memperjuangkan gagasan bersama secara mandiri. 
Di tengah bangsa yang tanpa arah ini, solidaritas nasional tidak terwujud karena tidak adanya kepemimpinan visioner yang sanggup merekatkan kembali ikatan-ikatan sempit yang mencuat dan menguat kembali. Pertikaian dan kekacauan telah memperlihatkan secara telanjang bahwa kepemimpinan yang lemah tidak sanggup mengemudikan arah perubahan. Ketidakmampuan mengambil prakarsa mendorong berbagai pihak bertindak atas kehendak sendiri. Wewenang besar yang telah diamanahkan terbukti tidak cukup punya arti di tangan kepemimpinan yang gamang. 

Kamis, 04 Oktober 2012

Sains dan Kebijakan Publik


Sains dan Kebijakan Publik
Dian R Basuki  ;  Peminat Isu-isu Sains dan Kemasyarakatan
KORAN TEMPO, 03 Oktober 2012


“…Sejarah mengajarkan bagaimana pemakaian pestisida dalam rangka "Revolusi Hijau" ternyata dalam jangka panjang menimbulkan kerusakaan serius terhadap lingkungan dan gangguan kesehatan pada manusia. Dibutuhkan waktu sekitar 30 tahun untuk melarang pemakaian DDT, yang ketika ditemukan dijuluki sebagai "insektisida ajaib"…”

Keluarnya rekomendasi Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik bahwa jagung transgenik varietas RR NK603 dan Bt Mon 89034 aman sebagai pakan memang mengejutkan. Betapa tidak? Pada saat yang hampir bersamaan, Gilles-Eric Seralini dan kawan-kawan dari Universitas Caen, Prancis, memaparkan hasil risetnya bahwa mencit (tikus putih) yang diberi pakan jagung transgenik NK603 terkena tumor, serta kerusakan hati dan ginjal. 

Meskipun hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Food and Chemical Toxicology itu disikapi secara kritis oleh sebagian ahli lainnya, pemerintah sejumlah negara di Eropa mempertimbangkannya secara serius. Media massa memberitakan, pemerintah Prancis akan melakukan penelitian lanjutan, Austria meminta Uni Eropa meneliti lebih mendalam setiap permintaan persetujuan produk transgenik, dan Rusia menutup sementara impor jagung transgenik.

Terkait dengan rekomendasi Komisi Keamanan Hayati, dugaan Khudori (Koran Tempo, 27 September 2012) bahwa rekomendasi itu mungkin sengaja dilepaskan ketika masyarakat tengah sibuk dengan ingar-bingar politik domestik dapat dimaklumi. Rekomendasi penting itu memang nyaris luput dari perhatian publik karena ekspose media yang kurang. Padahal rekomendasi ini terlalu penting untuk tidak diperhatikan, karena menyangkut produk rekayasa genetik yang dampak potensialnya terhadap lingkungan dan manusia patut dipertimbangkan secara sungguh-sungguh.

KTT Bumi di Rio de Janeiro, 1992, menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian dan partisipasi publik dalam menyikapi setiap produk rekayasa genetik mengingat dampak jangka panjangnya yang belum diketahui. Indonesia, tentu saja, ikut mengadopsi prinsip ini. Karena itu, mengherankan bahwa sebuah rekomendasi penting dapat dikeluarkan dengan hanya berpegang pada dokumen (data laboratorium) yang diserahkan oleh perusahaan yang mengajukan permintaan izin mengedarkan produk tersebut. Uji klinis tidak dilakukan, tapi Komisi sudah berani mengambil keputusan untuk memberi rekomendasi aman.

Pentingnya mendiskusikan hubungan antara ilmu pengetahuan kealaman (sains) dan kebijakan publik memperoleh penegasan kembali dengan munculnya kasus ini. Juga mengingat kasus-kasus sebelumnya, seperti hasil penelitian susu berbakteri dan sempat hilangnya "ayat tembakau" dari RUU Kesehatan, yang "akhir ceritanya" kabur. Terdapat kemungkinan bahwa kasus-kasus serupa akan muncul di masa mendatang tetapi tidak berujung pada kesimpulan yang tuntas.

Hubungan timbal-balik antara sains dan kebijakan publik ini dapat dilihat dari dua sisi. Tatkala kita berbicara perihal sains sebagai sejenis pengetahuan yang berkenaan dengan dunia alam, pengetahuan ini menjadi subyek analisis kritis di lingkungan keilmuan, dan bukan subyek otoritas politik ataupun regulasi. Mempertanyakan hasil riset Seralini merupakan sikap yang sah (misalnya dari peer review), sebagaimana peneliti Prancis ini juga sah dalam menguji produk jagung transgenik tersebut. Perdebatan pro-kontra ini mesti dilakukan dalam koridor cara-cara kerja keilmuan, bukan ditunggangi oleh kepentingan lain, seperti kekuasaan, politik, maupun ekonomi-bisnis.

Independensi ilmuwan dalam melakukan penelitian menjadi taruhan ketika kepentingan lain menunggangi. Mempertahankan "kebenaran ilmiah" yang ditemukan di laboratorium merupakan persoalan krusial yang dihadapi ilmuwan yang bekerja di institusi mana pun, apalagi di perusahaan besar. Keadaannya menjadi lebih buruk manakala kekuatan sains secara sadar bersekutu dengan kekuatan bisnis demi kepentingan ekonomi semata.

Di sisi lain, sains menyediakan informasi bagi pembuat kebijakan berkaitan dengan fenomena alam, teknologi, maupun hal penting lain yang relevan dengan kebijakan publik. Ketika pemerintah hendak memutuskan untuk melarang penjualan ayam karena terinfeksi flu burung, misalnya, pelarangan itu didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan aparat pemerintah. Karena itu, rekomendasi bahwa jagung transgenik aman seharusnya juga didasarkan pada hasil uji klinis oleh lembaga pemberi rekomendasi, bukan hanya berdasarkan dokumen pihak yang mengajukan permintaan izin. Sains, dalam konteks ini, harus menjadi basis dalam memutuskan kebijakan publik. 

Ketika sains memasuki wilayah yang lebih luas dan berpengaruh terhadap lingkungan hidup serta kehidupan manusia, dibutuhkan pemahaman yang lebih kompleks sebelum suatu kebijakan publik diputuskan. Pengalaman buruk yang diakibatkan oleh penggunaan produk-produk sains dan teknologi penting menjadi pertimbangan yang melengkapi prinsip kehati-hatian. Sejarah mengajarkan bagaimana pemakaian pestisida dalam rangka "Revolusi Hijau" ternyata dalam jangka panjang menimbulkan kerusakaan serius terhadap lingkungan dan gangguan kesehatan pada manusia. Dibutuhkan waktu sekitar 30 tahun untuk melarang pemakaian DDT, yang ketika ditemukan dijuluki sebagai "insektisida ajaib".

Sebagaimana, melalui Silent Spring, Rachel Carson memperingatkan dunia perihal dampak buruk pemakaian pestisida, khususnya DDT, melalui Why Things Bite Back Edward Tenner menunjukkan apa yang ia sebut "efek balas dendam" dari penggunaan produk sains dan teknologi. Dari studi mendalamnya, Tenner menyimpulkan bahwa "efek balas dendam" terjadi karena struktur-struktur, peralatan-peralatan, dan organisme-organisme baru bereaksi dengan manusia di dalam situasi riil dengan cara-cara yang tidak dapat kita ramalkan.

Dalam pengambilan kebijakan publik terkait dengan pemakaian produk sains dan teknologi yang unsur ketidakterdugaannya harus diwaspadai, partisipasi publik merupakan kemestian. Memang ada keterbatasan partisipasi terkait dengan tingkat literasi masyarakat dalam isu-isu semacam rekayasa genetik, tetapi suara masyarakat tetap harus dipertimbangkan. Masyarakat harus memiliki akses terhadap informasi yang melatari isu-isu sains dan teknologi yang memengaruhi kehidupan mereka.

Sikap kritis ilmuwan terhadap kesimpulan ilmiah, cara pengambilan keputusan, maupun substansi kebijakan publik juga sangat penting bagi kemaslahatan masyarakat. Para ilmuwan memiliki kewajiban untuk mengingatkan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin muncul dari suatu kebijakan, walaupun peran advokasi ini mungkin problematis. Namun masyarakat luas membutuhkan peran semacam ini mengingat setiap kemajuan sains dan teknologi membawa konsekuensi yang paradoksal dan tak diniatkan. ● 

Sabtu, 14 Januari 2012

Spirit Semesta Hawking


Spirit Semesta Hawking
Dian R. Basuki, PEMINAT MASALAH SAINS
Sumber : KORAN TEMPO, 14 Januari 2012


Sesudah Albert Einstein, barangkali Stephen Hawking-lah fisikawan paling populer pada masa sekarang. Dibanding nama-nama masyhur seperti Murray Gell-Mann, Steven Weinberg, Abdus Salam, atau Richard Feynman--semuanya peraih Nobel--Hawking lebih dikenal kaum awam. A Brief History of Time berhasil menebarkan minat akan topik yang pelik hingga keluar dari lingkaran akademisi dan peneliti. Buku yang ditulis serenyah mungkin ini, dengan satu rumus yang tak terhindarkan untuk tidak ditulis, yakni E=mc2, telah terjual lebih dari 10 juta eksemplar.

Popularitas Hawking kembali terlihat dari perhatian luar biasa atas ulang tahunnya yang ke-70, 8 Januari lalu. Simposium tiga hari, "The State of the Universe", digelar di Universitas Cambridge, Inggris, dan dihadiri bukan hanya oleh fisikawan dan kosmolog. Pada hari keempat, simposium ditutup dengan ceramah oleh Hawking lewat rekaman video--ia tak bisa hadir lantaran kondisi fisiknya tak memungkinkan. A Brief History of Mine berbicara ihwal pemahamannya tentang semesta dan perjuangan hidupnya sejak kanak-kanak.

Dalam belitan amyotrophic lateral sclerosis yang menyerang sarafnya sejak usia 21 tahun, Hawking dengan begitu mencengangkan memberi kontribusi di bidang kosmologi dan gravitasi kuantum, khususnya dalam konteks lubang hitam. Karya pentingnya mencakup teorema singularitas gravitasional dalam bingkai relativitas umum, yang ia susun bersama Roger Penrose, dan prediksi teoretis bahwa lubang hitam memancarkan radiasi, yang kini dikenal sebagai radiasi Hawking atau kadang-kadang radiasi Bekenstein-Hawking. Ia memberi sumbangan pembuktian matematis untuk no-hair theorem John Wheeler.

Nilai penting kontribusi Hawking barangkali dapat digambarkan dalam ucapan seorang ilmuwan yang berbicara dalam simposium Cambridge. Katanya, "Terima kasih, Stephen, Anda telah membuat kehidupan jadi begitu sukar bagi kami." Tugas ilmuwan berikutnya memang jadi lebih berat. Mereka mesti memberi sumbangan yang lebih berbobot ketimbang kontribusi Hawking atau nama mereka hanya menjadi catatan kaki dalam teori-teori fisika dan kosmologi.

Pemahamannya tentang lubang hitam melukiskan upayanya memadukan gagasan mekanika kuantum dan relativitas, dan ini memaksa ilmuwan di kedua sisi yang terpisah berpikir dengan cara yang lebih manunggal. Perburuan terhadap teori tunggal yang mampu menjelaskan segala hal menjadi impian fisikawan sejak dulu. Weinberg, Nobelis Fisika 1979 untuk karyanya yang menyatukan dua gaya fundamental, mengisahkan dengan sangat bagus dalam Dreams of a Final Theory (1993).

Mungkinkah mereka menemukannya? "Kita belum memperoleh jawaban definitif atas pertanyaan ini," tulis Hawking dalam buku mutakhirnya, The Grand Design (2010), "tapi kita sekarang memiliki calon bagi teori pamungkas tentang segala hal, jika memang ada, yakni yang disebut teori-M." Bagi Hawking, teori-M adalah satu-satunya model yang memiliki seluruh sifat yang harus dimiliki oleh teori yang final, yang melibatkan 10 dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Jika teori ini berhasil dikonfirmasi oleh observasi, kata Hawking, "Kita menemukan grand design" (tanpa Tuhan dalam tafsiran Hawking).

Dibanding karya-karya sebelumnya, kebaruan utama dalam The Grand Design ialah Hawking menerapkan tafsiran Richard Feynman atas mekanika kuantum ke dalam alam semesta. Dalam tafsir Feynman, "Alam semesta tidak hanya memiliki eksistensi atau sejarah yang tunggal, tapi mempunyai setiap versi eksistensi yang mungkin secara serentak." Pemikiran seperti ini sudah dilontarkan oleh Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), yang menolak konsep geosentris Ptolemeus, yang berarti mendahului Copernicus, Kepler, ataupun Galileo.

Dalam separuh abad kariernya sebagai ilmuwan, Hawking kerap menawarkan pemikiran yang menantang. Ia mengajak manusia mencari planet lain, karena manusia tidak akan mampu bertahan hidup di bumi. Ia mempercayai alien. Namun kerap pula ia memikirkan ulang pandangan yang sudah ia tawarkan. Seorang rekannya mengatakan Hawking siap merevisi pendapatnya bila ia menemukan sesuatu yang lebih benar. Teorinya bahwa lubang hitam memancarkan radiasi merupakan contoh penting dari pencariannya yang tak kenal henti.

Andaikan ia tidak bersedia memikirkan gagasan Jacob Bekenstein, seorang mahasiswa pascasarjana, yang ia anggap menyelewengkan teorinya tentang permukaan lubang hitam, dan merevisi pemikirannya, Hawking mungkin menyesal telah melakukan kesalahan. Teori radiasi lubang hitam telah mengabadikan namanya, tapi hingga kini belum membukakan jalan bagi sampainya Nobel di tangannya. Satu hal jadi penyebab: radiasi lubang hitam belum diobservasi, sehingga teori Hawking belum diverifikasi.

Perubahan pandangan dalam konteks radiasi lubang hitam, di sisi lain, memperlihatkan bahwa Hawking berani melakukan self-correcting process dalam upayanya menemukan kebenaran. Ia ingin publik awam mengetahui bahwa ilmuwan bisa berubah pikiran, bahwa ilmuwan mesti siap mengakui dirinya keliru. Ia tidak sepakat dengan orang-orang yang memandang sains sebagai kebenaran monolitik yang tak mungkin salah. Dalam konteks ini, ia sepakat dengan falsifikasi Karl Popper.

Bagai rock star (suaranya pernah diadopsi grup Pink Floyd untuk lagu Keep Talking dalam album The Division Bell), orang awam sekalipun menantikan apa yang dipikirkan lagi oleh Hawking. Ia patut dipuji karena berada di barisan ilmuwan papan atas, seperti Einstein, Weinberg, Feynman, dan Carl Sagan, yang dengan senang hati menularkan pengetahuannya kepada publik luas. Bersama anaknya, Lucy Hawking, ia menerbitkan George's Secret Key to the Universe, buku sains untuk anak-anak yang dilukiskan "seperti Harry Potter, tapi tanpa magic".

Hingga usia 70, semangat pencarian Hawking belum padam. Hasratnya untuk menukik hingga ke dasar setiap misteri semesta terus terjaga. Barangkali ini karena harapan hidupnya pernah merosot hingga ke titik nol di usia 21 tahun, dan selebihnya adalah bonus yang harus ia sambut dengan sukacita. "Tataplah bintang-bintang, bukan kakimu," kata Hawking di hadapan peserta simposium. "Be curious. Betapapun sukar kehidupan itu kelihatannya, akan selalu ada yang bisa engkau lakukan, dan berhasil. Penting bahwa engkau tidak menyerah."

Kamis, 29 Desember 2011

Indonesia sebagai Laboratorium


Indonesia sebagai Laboratorium
Dian R. Basuki, PEMINAT MASALAH SAINS
Sumber : KORAN TEMPO, 29 Desember 2011


Indonesia adalah laboratorium raksasa. Di negeri ini ada berlimpah persoalan yang dari dalamnya kita dapat menggali berbagai berkah. Kita hidup berdampingan dengan 129 gunung berapi, yang letusan dahsyatnya mengirim maut sekaligus menebarkan kekayaan mineral. Kita dikepung laut yang sangat luas, yang sanggup menelan kapal-kapal namun menawarkan makhluk air yang amat bermanfaat.

Jumlah penghuni yang bergerak menuju 250 juta merupakan tempat belajar yang kaya perihal penyakit, genetika, bahasa, ketegangan sosial, korupsi, dan sebut saja apa. Ini negeri yang memberi inspirasi bagi orang-orang yang berkehendak meneguk pengetahuan, bahkan sejak dulu telah menawan Wallace dan Junghuhn.

Dengan persoalan yang begitu berlimpah, kita sepertinya tidak cukup memiliki kehendak untuk belajar dari alam. Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, rob yang menerjang Jakarta, Merapi yang memuntahkan isi perutnya, dan Krakatau yang selalu disebut oleh ilmuwan dunia seolah tak cukup membuat kita tergerak untuk menjadikan ilmu pengetahuan (sains) sebagai basis dalam mengelola kehidupan. Mitigasi bencana jadi sekadar wacana lantaran pengetahuan yang terbatas mengenai alam kita.

Sains, di negeri ini, belum lagi menjadi basis bagi pengambilan kebijakan pembangunan. Kepentingan bisnis kerap mengalahkan pertimbangan rasional. Misi yang dicanangkan Dewan Riset Nasional untuk menempatkan iptek sebagai landasan kebijakan pembangunan nasional dan berkelanjutan akan membentur dinding tebal bernama kepentingan politik dan ekonomi.

Hingga akhir 2011 ini, kita mendengar keluhan yang sama seperti tahun-tahun yang silam: biaya riset yang kecil, penghargaan yang rendah kepada ilmuwan, arah penelitian yang tidak jelas, dan hasil riset yang kurang termanfaatkan. Zuhal Abdul Kadir, Ketua Komisi Inovasi Nasional, mengatakan kemampuan riset iptek peneliti Indonesia tak perlu diragukan. Soalnya ialah, ilmuwan tak cukup mampu menyuburkan lahan persemaiannya sendiri tanpa kepemimpinan negara dalam riset.

Penguasaan sains dan teknologi tengah bergerak dari Barat menuju Timur, kata Kishore Mahbubani dalam Asia Hemisfer Baru Dunia. Ramalan itu benar untuk Cina dan Korea Selatan. Sedangkan bagi kita, kita harus membuktikan bahwa pandangan Mahbubani itu benar. Riset yang berperan penting dalam percepatan kemajuan ekonomi bangsa hanya akan berhenti sebagai jargon bila dana riset tidak didongkrak dari angka 0,03 persen dari PDB.

Lukman Hakim, Ketua LIPI, menyebutkan angka 1 persen sebagai minimal--itu berarti pelipatgandaan sebesar 33 kali. Anggaran riset Cina sudah 1,5 persen PDB dan menuju 2 persen. Korea Selatan, yang pada 1970-an masih setara dengan kita, kini melaju lebih cepat. Laporan Royal Society, Networks and Nations: Global Scientific Collaboration in the 21st Century, mencatat pertumbuhan biaya riset yang meningkat rata-rata 45 persen dalam kurun 2002-2007. Pertumbuhan terbesar ditunjukkan Cina.

Dalam publikasi ilmiah, Cina naik dari posisi keenam menjadi kedua dengan jumlah penerbitan melonjak dari 4,4 persen menjadi 10,2 persen. Di urutan pertama masih AS, dengan kontribusi yang menurun signifikan dari 26 persen menjadi 21 persen. Iran tumbuh luar biasa dalam publikasi ilmiah, dari 736 artikel (1996) menjadi 13.238 artikel (2008).

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari Cina? Bukan hal yang luar biasa. Sebab, pelajaran itu sudah jelas: sediakan biaya riset dan pendidikan dasar sains yang besar. Iran menargetkan biaya ini mencapai 4 persen dari PDB pada 2030, melonjak tajam dibanding 0,59 persen pada 2006. Komitmen pengambil keputusan (eksekutif dan legislatif) untuk membangun bangsa berbasis sains dan teknologi masih harus didorong. Dibandingkan dengan insentif penelitian Rp 50 juta per topik, biaya pemilu sangat mewah dan berfoya-foya.

Indonesia memang dipuji sebagai negara yang ekonominya tengah bagus ketika Amerika dan Eropa diguncang prahara. Di balik itu, survei Bank Indonesia menemukan fakta yang mencemaskan: inovasi terbesar di sektor usaha merupakan inovasi rendah (78 persen), sedangkan menengah 20 persen dan inovasi tinggi hanya 2 persen. Kontribusi usaha besar bagi perekonomian nasional memang mencapai 44,9 persen. Tapi, seperti disebutkan B.J. Habibie di depan sidang Dewan Riset Nasional baru-baru ini, sumbangan itu bukan berasal dari penguasaan iptek, melainkan dari penjualan hasil tambang.

Penghargaan yang rendah bagi ilmuwan bukan satu-satunya alasan, bahkan mungkin bukan alasan utama, bagi ilmuwan Indonesia untuk berkiprah di negeri orang. Bagi ilmuwan, kesempatan untuk menguak misteri alam ini merupakan penghargaan yang jauh tak ternilai. Seorang ahli gunung berapi dengan nada iri menceritakan bagaimana Singapura, yang relatif aman dari bencana geologi, memiliki pusat kajian gunung berapi, Earth Observatory of Singapore. Beberapa ilmuwan kita bergabung di sana.

Brain drain adalah fenomena yang mungkin kurang kita cermati. Jika kita berkeliling ke banyak negara, kita akan mendapati astronom hebat kita di Max Planck Institute, ahli neuroscience kita mengajar di University of Wisconsin, ahli oseanografi kita mengajar di Louisiana State University. Sudut pandang nasionalisme, barangkali, terlalu sempit untuk memahami situasi brain drain.

Kita memang masih memiliki lembaga riset yang membanggakan, seperti Bosscha dalam astronomi dan Eijkman dalam riset dasar biomedik. Pusat riset semacam ini semestinya memperoleh perhatian serius. Ketimbang memecah anggaran riset untuk membiayai banyak sekali topik, fokus pada isu-isu tertentu yang fundamental akan lebih bermakna dalam jangka panjang.

Di luar itu, ada isu yang tak kalah strategisnya: menjadikan “literasi (melek) sains” (science literacy, scientific literacy) sebagai program negara. Di samping mendongkrak anggaran riset sainsnya agar menjadi basis pembangunan, Cina menempuh strategi membuat rakyatnya melek sains agar mampu mengimbangi pertumbuhan cepat jumlah doktor mereka.

Bagaimana dengan kita? Yang kita saksikan ialah relatif jauhnya jarak yang terbentang antara pengetahuan dan tindakan. Pengambilan keputusan kerap kehilangan konteks dari ilmu pengetahuan.

Alih-alih berbicara tentang “partikel Tuhan” yang menjadi isu panas tahun ini di kalangan fisikawan, yang sangat kita butuhkan dalam waktu dekat ialah mewujudkan kemauan untuk menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai basis pembangunan manusia. Pertama-tama, dengan menyediakan anggaran riset yang besar. Indonesia adalah laboratorium alam raksasa yang membuat kita menyesal bila mengabaikannya.