Sabtu, 03 Maret 2018

Kaus Kaki Bolong

Kaus Kaki Bolong
Komaruddin Hidayat  ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                  KORAN SINDO, 02 Maret 2018



                                                           
Ada kisah inspiratif yang akan saya kemukakan kembali dirubrik ini yang berjudul: Kaus Kaki Bolong.

Hiduplah sebuah keluarga kaya dan bahagia di sebuah kota kecil. Sang ayah yang telah sukses membangun ekonomi keluarga, kesehatannya mulai menurun diusianya berjalan mendekati senja.

Di samping bangga melihat keturunannya berhasil membangun ekonomi mengikuti jejaknya, di benak sang ayah muncul ke khawatiran kala memperhatikan anak-anaknya justru menunjukkan tanda-tanda persaingan antar mereka dalam memupuk kekayaan.

Sang ayah juga melihat anak-anaknya kurang sekali memperhatikan nasib tetangga yang kurang beruntung. Mengingat ajal bisa datang sewaktu-waktu agar tidak menyesal di hadapan pengadilan Tuhan dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin keluarga, maka sejak itu sang ayah selalu memanfaatkan forum keluarga untuk berbagi pengalaman hidup dan tausiyah.

Misalnya, ketika acara makan bersama, sang ayah mengingatkan, semua makanan yang terhidang ini bukanlah hasil tanaman kita. Bukan hasil jerih payah keringat kita. Jangan merasa punya uang, lalu kita bisa makan seenaknya, sombong dengan kekayaan yang dimiliki, karena yang kita makan bukanlah uang.

Makanan bisa tersaji lantaran berkat sentuhan dan kerja keras petani yang mungkin mereka itu tetangga kita. Tanpa tangan mereka, kita akan kelaparan. Bahkan, tanpa bantuan pekerja dapur, makanan ini tak akan terhidang di atas meja ini. Karena itu, kata ayah, jangan sekali-sekali meremehkan para petani yang hidupnya tidak sekaya keluarga kita.

Mereka telah menyubsidi kita, bukan sebaliknya. Kita selalu berteriak protes setiap harga panen naik tidak seberapa sehingga nasib petani semakin merasa tercekik dan miskin hidupnya. Selanjutnya sang ayah juga meminta anak-anaknya jangan suka mencemooh makanan yang sudah terhidang. Apa pun makanan yang terhidang, itulah jatah rezeki kita ha ri itu.

Syukuri apa pun yang ada, sekali-sekali jangan kita cela dan cemooh. Banyak pihak tersinggung jika kita mencela rezeki yang sudah terhidang. Mungkin sekali pembantu juru masak di dapur akan sedih ketika mendengar hasil masakannya dicela. Bahkan, juga makanan itu akan menangis, tetapi kita tidak paham bahasanya.

Selain itu, juga orang tuamu yang telah berusaha mencari rezeki dan ingin memberikan yang terbaik akan sedih hatinya melihat anak-anaknya tidak bisa mensyukuri rezeki yang datang menemuimu hari itu. Jika tidak senang, kata ayah tadi, cukup di hati dan lain kali pilih menu yang disukai.

Saya sendiri merasa kisah itu terasa ringan dan mudah diceritakan kembali, tapi mengandung pesan mendalam dan bisa jadi banyak di antara kita yang jarang mengamalkannya. Pesan sang ayah yang membuat anak-anaknya sulit memahami adalah ketika dia berpesan, ”Nanti kalau saya mati, harap dikubur dengan mengenakan kaus kaki usang dan bolong yang sudah dia siapkan.”

Dia tekankan, jangan sampai lupa tentang kaus kaki bolong itu. Ternyata firasat kematian tersebut jadi kenyataan, tak lama setelah itu ajal menjemputnya. Dalam suasana duka, anak-anaknya mengurus jenazah sampai dengan memandikan dan mengafani.

Ketika tiba saat jenazah hendak dibawa kekuburan, salah satu anaknya memberitahu pada ustaz yang memimpin upacara pelepasan tentang pesan kaus kaki bolong yang dikenakan almarhum, maka terjadi diskusi antara ustaz dan anak-anaknya. Kata ustaz, tak boleh mengenakan pakaian apa pun pada jenazah kecuali sehelai kain kafan. Terlebih lagi perhiasan.

Silang pendapat antara ustaz dan anak-anaknya sulit dipertemukan. Anak merasa terikat dengan pesan almarhum, ustaz berpegang pada pemahaman agamanya. Tiba-tiba ibunya ingat sebuah surat wasiat almarhum yang disertai pesan agar dibuka ketika ajalnya tiba. Lalu, dia mengambil dan membacanya di depan anak-anak dan ustaz.

Bunyinya, Anak-anakku, mungkin sekali kamu heran mengapa saya berpesan agar kamu mengenakan kaus kaki bolong yang sudah usang itu pada kakiku yang membujur kaku. Menurut ajaran agama tentu saja tidak diperbolehkan. Tetapi sesungguhnya saya akan meninggalkan nasihat dan pesan pada kalian semua.

Bahwa ketika ajal tiba, seseorang tak akan memeluk dan membawa harta kekayaan yang dikejar-kejarnya seumur hidup. Sekadar mengenakan kaus kaki usang dan bolong saja tidak diperbolehkan. Begitu ajal tiba, seseorang langsung di sebut jenazah dan mesti buru-buru dikubur ke dalam tanah karena bangkai tubuh itu cepat membusuk.

Ketika itu harta yang kamu kejar-kejar tetap saja tak bergerak menunjukkan kesedihan di hari perpisahan itu, karena harta memang tidak punya hati. Lalu keluarga, tetangga, dan teman terdekat juga hanya mengantar dan menyaksikanmu ditelan bumi. Ingat, tak ada yang menemani dalam perjalanan panjang setelah kematianmu kecuali iman dan rekaman amal saleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar