Lady Gaga dan Ketersentakan
Budaya
Abd.
Sidiq Notonegoro ; Dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik
SUMBER
: JAWA POS,
21 Mei 2012
RENCANA Lady Gaga menggelar
konser musik di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan pada 3 Juni 2012
mendapat reaksi dari sejumlah ormas Islam di Indonesia sehingga terancam tidak
memperoleh izin dari Mabes Polri. Salah satu alasan yang cukup mendasar ialah
sosok Lady Gaga yang dinilai bisa merusak mental generasi muda.
Mungkin sebagian pihak menilai alasan tersebut berlebihan. Namun, bila diamati
secara mendalam, alasan tersebut cukup logis pula. Mengapa? Mengamati video dan
atau penampilan penyanyi yang berjuluk Mother Monster, hampir seluruhnya
dominan menyuguhkan perilaku bebas yang sangat ekstrem hingga dalam tataran
tertentu menerabas batas norma, baik budaya maupun agama.
Penolakan terhadap konser Lady Gaga ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia.
Lady Gaga juga pernah ditolak oleh umat Kristen di Seoul, Korea Selatan.
Seperti dilansir Washington Post, Minggu (22/4/2012), umat Kristen di
Seoul berdoa di gereja memohon kepada Tuhan agar konser Lady Gaga yang
rencananya bakal digelar di Olympic Stadium, Jumat (27/4/2012), batal. Alasan
umat Kristiani tersebut ialah melindungi anak-anak muda di Seoul agar tidak
tertular homoseksualitas dan pornografi dari Lady Gaga.
Alasannya ini, tampaknya, bisa dimengerti karena Lady Gaga sangat mendukung
perilaku seks menyimpang seperti homoseksualitas, perilaku yang sangat dilarang
dalam ajaran agama, baik Kristen maupun Islam. Tidak hanya di Korsel, penolakan
juga terjadi di Malaysia maupun Hongkong.
Penolakan masyarakat di beberapa negara, tampaknya, memiliki benang merah,
yaitu mencegah menyebarnya pengaruh Lady Gaga agar tidak meracuni mental
spiritual dan moral generasi muda. Bisa dimaklumi, menurut versi majalah Time,
Lady Gaga termasuk pula sebagai "100 Orang Paling Berpengaruh di
Dunia". Bahkan, dalam majalah Forbes, Lady Gaga termasuk "100
Selebriti Paling Berkuasa dan Berpengaruh di Dunia" dan mencapai
nomor satu dalam daftar tahunan "100 Selebriti Paling Berkuasa".
Di sisi yang lain, dalam dunia panggung hiburan, Lady Gaga dikenal suka
berpenampilan jorok, vulgar, dan mengumbar sahwat. Maka, apa jadinya bila sosok
yang dicitrakan sebagai orang paling berpengaruh di dunia ini juga berpotensi
memasarkan simbol-simbol ketidakbaikan ke kalangan generasi muda?
Dalam konteks Indonesia, penolakan terhadap konser Lady Gaga cukup bisa
diterima akal sehat, bahkan bisa menjadi momentum kesadaran berbudaya. Kita
seperti tersentak. Sang Lady tidak hanya berseberangan dengan nilai-nilai norma
ketimuran dan nilai-nilai agama di Indonesia, namun juga realitas rawannya kita
semua dari pengaruh-pengaruh buruk yang berupa budaya hedonisme-materialisme.
Tidak dipungkiri bahwa budaya konsumtif sudah merasuk dalam jadi diri sebagian
masyarakat bangsa ini -khususnya di kalangan generasi muda- yang berpotensi
menimbulkan kerusakan moral secara masif. Budaya konsumtif juga merambah ke
dunia hiburan.
Diakui atau tidak, mayoritas generasi muda kita masih didominasi oleh generasi
yang bermental suka meniru (imitasi). Mentalitas imitatif ini menjadikan
kalangan generasi muda lebih terbuka untuk melakukan penjiplakan terhadap
hal-hal yang bersifat simbolik-empirism. Terkait dengan Lady Gaga, misalnya,
seberapa banyak generasi muda kita yang memiliki kemauan untuk melakukan
gerakan amal?
Bandingkan dengan mereka yang cenderung hanya mampu mengadopsi gaya seronok dan
vulgar Lady Gaga. Lebih konyol lagi, peniruan tersebut sering pula salah
tempat. Contohnya: mengadopsi model kostum artis di atas panggung yang kemudian
justru digunakan jalan-jalan ke pasar atau mal. Akibatnya, keseronokan pun
menjadi tampak berceceran di mana-mana.
Tulisan ini tentu tidak kemudian bermaksud mendukung elemen-elemen ormas Islam
yang menentang kehadiran Lady Gaga dengan melakukan aksi-aksi anarkistis yang
justru kian mencoreng citra Islam di mata publik. Amar ma'ruf dan nahi
munkar perlu dilakukan dengan sebijaksana-bijaksananya, seperti bersurat
dan berdialog. Di sisi lain, yang paling penting adalah seberapa jauh para
pengambil kebijakan di negeri ini sudi mendengarkan berbagai keluhan
masyarakat, termasuk para ulama, terkait masalah ini. Tidak ada negara di dunia
ini yang bebas segalanya.
Terakhir, perlu pula kesadaran para promotor konser artis-artis mancanegara
-atau bahkan artis lokal-nasional. Penampilan artis lokal yang mengumbar hawa
nafsu juga pantas dikoreksi. Dalam soal ini, harus ada garis merah, tidak
peduli artis lokal atau asing. Janganlah hanya semata-mata karena ada peluang
untuk meraup keuntungan material, kemudian mereka mengabaikan dampak buruk bagi
masyarakat.
Marilah semua bertekad untuk menyelamatkan generasi muda negeri ini dari ambang
kehancuran. Janganlah niat awal memberikan hiburan kepada bangsa, tetapi
hasilnya justru kehancuran moral yang tidak terelakkan. Jadikan momentum
kontroversi Lady Gaga ini sebagai bentuk keterbangunan: alangkah jauh kita
meninggalkan keluhuran budaya bangsa. ●