Tampilkan postingan dengan label Bambang Prijambodo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bambang Prijambodo. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2015

Keseimbangan Baru Rupiah

Keseimbangan Baru Rupiah

Bambang Prijambodo  ;  Ekonom
KOMPAS, 23 Februari 2015

                                                                                                                                     
                                                

Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini sebenarnya hal wajar karena keseimbangan baru nilai tukar rupiah berada sekitar Rp 12.600 per dollar AS.
Meski demikian, dalam proses normalisasi suku bunga AS, pelemahan nilai tukar yang berlebihan tidak bisa diabaikan. Stabilitas nilai tukar tidak boleh dilalaikan. Apabila situasi menuntut, suku bunga perlu dinaikkan untuk lebih menjaga kepercayaan terhadap rupiah.

Secara ringkas pelemahan rupiah disebabkan tiga faktor pokok. Pertama, perubahan fundamental eksternal ekonomi kita. Sejak 2004 hingga 2011, pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi telah mendorong harga komoditas primer. Meski terjadi krisis keuangan dan resesi global pada 2008/2009, countercyclical policies yang luar biasa telah memulihkan ekonomi dunia dalam waktu singkat. Neraca transaksi berjalan kita terus terjaga dalam posisi surplus. Nilai tukar rupiah rata-rata di bawah Rp 10.000, kecuali pada 2008 karena imbas dari krisis keuangan global.

Berakhirnya commodity boom sejak 2012 telah mengubah fundamental eksternal perekonomian, terutama neraca transaksi berjalan yang tadinya surplus jadi defisit. Harga komoditas yang rendah diperkirakan masih berlanjut. Hingga November 2014, harga komoditas non-energi masih turun 4,6 persen.

Kedua, perubahan kebijakan moneter AS yang sebelumnya longgar dan bahkan nonkonvensional jadi normal. Kebijakan suku bunga rendah dan nonkonvensional ditempuh AS untuk mempercepat pemulihan ekonominya dari krisis keuangan Lehman dan resesi yang dalam pada 2008/2009. Dengan kinerja ekonomi AS yang baik, termasuk sektor konstruksi yang sudah pulih, serta tingkat pengangguran turun jadi 5,8 persen (di bawah ambang yang disyaratkan sebelumnya 6,5 persen), normalisasi tingkat suku bunga AS kemungkinan akan dipercepat.

Kenaikan suku bunga AS diperkirakan dilakukan bertahap agar tidak mengganggu pemulihan ekonomi AS yang baik. Tidak sulit memperkirakan suku bunga acuan The Fed yang dituju. Diperkirakan tidak akan jauh dari expected inflation AS. Tingkat suku bunga acuan AS yang dituju diperkirakan maksimum 2,25 persen.

Proses normalisasi suku bunga AS itu memberi tekanan temporer pada nilai tukar mata uang dunia. Namun, setelah suku bunga AS yang dituju tercapai, pengaruh temporer penguatan dollar AS terhadap mata uang dunia akan mereda. Secara keseluruhan, normalisasi suku bunga AS tidak berpotensi menimbulkan gejolak moneter global.

Ketiga, sentimen negatif yang dapat timbul baik pada tingkat global, regional, maupun domestik, dalam proses normalisasi suku bunga AS tersebut. Aliran modal yang seharusnya bergerak wajar dapat berlebihan apabila terdapat kerentanan, baik di tingkat global, regional, maupun domestik. Pada gilirannya akan menekan lebih besar nilai tukar mata uang negara yang terimbas. Pelemahan rubel, mata uang Rusia, misalnya, diperberat oleh jatuhnya harga minyak. Dengan dua pertiga ekspornya yang bergantung pada sektor energi, cadangan devisa dalam 11 bulan terakhir telah berkurang hampir 100 miliar dollar AS serta nilai tukar rubel merosot tajam.

Di kisaran Rp 12.600

Dengan era commodity boom yang sudah berakhir, posisi nilai tukar rupiah secara riil kembali pada masa sebelum era commodity boom. Dengan memperhitungkan perkembangan harga barang dan jasa di dalam negeri yang lebih tinggi daripada AS, secara sederhana nilai tukar rupiah seharusnya melemah sebesar selisih laju inflasi kita dengan AS. Setelah memperhitungkan fundamental ekonomi AS yang sebenarnya tidak terlalu kuat, keseimbangan nilai tukar rupiah yang baru saat ini sekitar Rp 12.600 per dollar AS.

Perbedaan di antara ekonom biasanya terletak pada kapan tahun dasar yang digunakan untuk memperkirakan keseimbangan nilai tukar yang baru dan bagaimana menilai fundamental ekonomi AS. Semakin ke belakang basis tahun yang digunakan dan semakin kuat fundamental ekonomi AS diperhitungkan, semakin lemah keseimbangan nilai tukar baru yang didapatkan.

Apa pun perbedaan perhitungannya, keseimbangan yang baru adalah nilai tukar yang mampu lebih mengendalikan impor dan mendorong ekspor serta tidak berpotensi memberi tekanan berat bagi kewajiban eksternal perekonomian. Meski keseimbangan baru nilai tukar rupiah tidak lagi di bawah Rp 12.000 per dollar AS, stabilitas ekonomi perlu mendapat perhatian besar hingga proses normalisasi kebijakan suku bunga AS selesai. Di samping menjaga stabilitas rupiah di pasar, nilai tukar riil rupiah harus dijaga dengan kebijakan suku bunga yang memadai.

Suku bunga riil perlu berada pada nilai positif yang memadai. Estimasi yang dilakukan memperkirakan suku bunga riil yang berada pada rentang 1-2 persen berkorelasi dengan nilai tukar rupiah yang stabil. Dengan suku bunga riil saat ini sekitar 0,5 persen, kalau situasi menuntut, suku bunga dapat dinaikkan secara bertahap.

Perbedaan suku bunga kita dengan suku bunga AS mendatang juga perlu dijaga pada tingkat memadai, yaitu sekitar 6 persen. Ukuran ini tidak sekuat suku bunga riil, juga tidak menjamin bahwa perbedaan suku bunga yang besar dapat menarik modal dari luar dalam jumlah besar, apalagi untuk negara yang prospek ekonominya rendah. Namun, ukuran ini tetap perlu dilihat terutama pada situasi kenaikan suku bunga yang bersifat menyeluruh di beberapa negara. ●

Jumat, 30 Desember 2011

Lima Tantangan Ekonomi Dunia 2012


Lima Tantangan Ekonomi Dunia 2012
Bambang Prijambodo, DIREKTUR PERENCANAAN MAKRO BAPPENAS
Sumber : KOMPAS, 30 Desember 2011


Pada tahun 2012 ekonomi dunia dihadapkan pada lima tantangan pokok, yaitu krisis utang Eropa, perlambatan ekonomi dunia, perubahan iklim dan bencana alam, krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta harga pangan dan energi.

Upaya penyeragaman fiskal serta pemberian pinjaman Bank Sentral Eropa (ECB) 489 miliar euro kepada perbankan Eropa pascapaket menyeluruh akhir November 2011 belum meredakan kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa. Sinyal kuat bahwa Eropa mampu keluar dari krisis utang belum muncul. Utang yang besar, risiko menjalar yang cepat, komitmen reformasi dan langkah konkret yang lamban, kemampuan membayar yang lemah, serta kegagalan koordinasi dan sentimen yang tinggi belum mampu diredakan (lihat ”Krisis Utang Eropa Tetap Berat”, Kompas, 5 Desember 2011).

Kekhawatiran bahkan tak saja terpusat pada Yunani, tetapi melebar pada negara yang berpotensi menimbulkan krisis keuangan global lebih besar, seperti Italia dan Spanyol. Perkembangan terakhir PDB triwulan III- 2011, ekonomi Yunani dan Irlandia turun 5,2 persen dan 0,1 persen (y-o-y). Ekonomi Italia juga turun 0,2 persen (q-t-q) dan diperkirakan mengalami resesi triwulan IV-2011. Pada 2012, ekonomi zona euro diperkirakan resesi. Polling The Economist Desember 2011 memperkirakan ekonomi zona euro 2012 turun 0,3 persen dari prediksi bulan sebelumnya yang diperkirakan tumbuh positif 0,4 persen. Imbal hasil surat utang Yunani per 23 Desember 2011 masih sangat tinggi (29,0 persen). Untuk Italia dan Spanyol 6,9 dan 5,3 persen.

Solusi mendasar bagi penyelesaian krisis utang Eropa juga belum tampak nyata. Penyesuaian struktural yang diperlukan agar pemulihan tetap berlangsung ketika defisit anggaran dan utang pemerintah harus ditekan, tak terlalu kuat. Tahun 2012 merupakan periode menentukan bagi keberlangsungan zona euro.

Jika kecepatan penyesuaian struktural lebih lambat dari kontraksi ekonomi akibat pengetatan fiskal serta langkah konkret lain tak mampu mengatasi penurunan tingkat kepercayaan yang terjadi, krisis keuangan global yang mendorong resesi global diperkirakan terulang lagi.

Seberapa besar bahaya krisis keuangan global yang disebabkan oleh krisis utang Eropa? Sulit dipastikan. Apabila krisis keuangan global hanya dipicu utang Yunani, dampaknya di atas kertas lebih kecil dari krisis keuangan Lehman Brothers 2008. Bolong neraca Lehman sebelum krisis 613 miliar dollar AS, sedangkan utang Pemerintah Yunani 2010 sebesar 435 miliar dollar AS. Namun, jika krisis ini meluas dan mendorong Italia gagal bayar dengan utangnya yang 2,44 triliun dollar AS, krisis utang Eropa berpotensi lebih berbahaya baik terhadap stabilitas keuangan global maupun pemulihan ekonomi dunia. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan pasar uang AS mempunyai keterpaparan langsung yang cukup besar terhadap perbankan Eropa.

Logika yang disampaikan mantan PM Inggris, Gordon Brown, pada 2011 di China cukup beralasan. Apabila krisis keuangan Lehman hanya mencakup utang swasta, krisis Eropa melibatkan utang pemerintah dan perbankan. Pemulihan ekonomi dunia juga diperkirakan perlu waktu lebih lama. Negara-negara maju tak punya ruang yang luas lagi untuk ekspansi fiskal apabila resesi global terjadi kembali.

Koordinasi langkah penanganan dalam menghadapi kemungkinan krisis keuangan global antara lain melalui G-20 juga tak terlihat sekuat sebelumnya. Satu-satunya faktor yang memperkecil risiko krisis keuangan global adalah unsur predictability. Tak seperti krisis Lehman yang keterkaitan utangnya sebelumnya tak terlihat, krisis utang Eropa yang merupakan utang pemerintah lebih transparan sehingga sudah diantisipasi jauh sebelumnya.

Pertumbuhan Melambat

Kalaupun krisis keuangan global dapat dicegah, pertumbuhan ekonomi dunia 2012 dipastikan melambat lebih besar dari perkiraan. Eropa diperkirakan mengalami resesi di 2012. Terdapat perbaikan tingkat kepercayaan di AS dengan pengangguran menurun menjadi 8,6 persen pada November 2011 dan tingkat kepercayaan konsumen secara musiman membaik menjelang akhir tahun. Tetapi sumber pertumbuhan masih rentan.
Pada triwulan III-2011, konsumsi masyarakat, investasi swasta, dan ekspor melambat masing-masing menjadi 2,0 persen, 1,0 persen, dan 6,0 persen (y-o-y). Pengeluaran pemerintah turun semakin besar (2,4 persen, y-o-y).

Harapan terletak pada Asia meski dipastikan tidak sekuat sebelumnya. Jepang diperkirakan tumbuh di atas 2 persen. Dorongan ekonomi China dan India (total menyumbang 13,2 persen terhadap PDB dunia) juga diperkirakan tak sekuat sebelumnya. Ekonomi China dan India melambat secara bertahap sejak triwulan III-2010 dan hanya tumbuh 9,1 persen dan 6,9 persen pada triwulan III-2011 (y-o-y).

Belum melambat seperti triwulan terakhir 2008, tetapi kecenderungan ini menunjukkan Asia tak kebal dari penurunan yang terjadi di Eropa dan kerentanan pemulihan ekonomi di AS. Ekspor dan impor China sejak Agustus 2011 menurun meski belum pada tingkat terendah seperti 2008. Investasi langsung di China juga mulai menurun.

Terdapat kekhawatiran bahwa ekonomi China akan mengalami krisis besar akibat gelembung ekonomi dan kesehatan perbankan yang diragukan selama ini. Namun, risiko ini kemungkinan tak besar. Cadangan devisa China yang besar (3,2 triliun dollar AS) serta ketahanan fiskal yang kuat akan mampu mencegah kemungkinan krisis mata uang dan perbankan serta memungkinkan China melakukan ekspansi fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhannya.

Proyeksi IMF September 2011, ekonomi dunia 2012 akan tumbuh pada tren jangka panjang 4 persen. Suatu tingkat pertumbuhan ekonomi dunia yang normal, tidak baik, juga tidak terlalu buruk. Dengan perkembangan triwulan terakhir 2011, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan lebih rendah. Meski tidak diturunkan jadi 2,5 persen (batas pertumbuhan di mana ekonomi dunia dikatakan mengalami resesi), perekonomian dunia 2012 tak secerah 2010 dan 2011.

Krisis Politik

Risiko krisis politik di Timteng dan Afrika Utara pada 2012 tak boleh diremehkan meski pada 2011 tak membahayakan perekonomian dunia. Benturan antara tuntutan demokrasi dan budaya kesukuan serta rigiditas pemerintahan tetap menjadikan kawasan Timteng dan Afrika Utara rawan konflik internal.

Krisis selanjutnya dapat berasal dari kekhawatiran terhadap pembangunan instalasi nuklir Iran. Apabila serangan militer Israel, sebagaimana pernyataan Tel Aviv awal November 2012, dilakukan terhadap Iran, dampaknya diperkirakan cukup besar terhadap ekonomi dunia. Gambaran ini diungkapkan Menteri Pertahanan AS. Meski tak dirinci, serangan militer ke Iran dapat mengakibatkan gejolak harga minyak mentah dunia dengan jalur pelayaran di kawasan Teluk yang tidak lagi aman. Risiko juga dapat meluas apabila serangan militer mengundang dukungan negara-negara Arab lain serta melibatkan Rusia dan China baik secara langsung maupun tidak.

Krisis politik lain dapat berasal dari kegagalan proses transisi di Korea Utara sepeninggal Kim Jong Il. Secara keseluruhan krisis politik 2012 belum pada tahap mengkhawatirkan meski berisiko lebih besar dari 2011. Ini menuntut penyelesaian mendasar dengan mendorong peran aktif PBB, AS, China, Rusia, serta forum di berbagai kawasan dalam menjaga stabilitas politik dunia.

Iklim dan Bencana Alam

Perubahan iklim dan bencana alam diperkirakan memengaruhi kondisi ekonomi dunia 2012 dan seterusnya. Rentetan bencana alam yang cukup besar sejak awal 2011 antara lain terjadi di Selandia Baru, Jepang, Turki, Thailand, dan terakhir di Filipina, mengindikasikan risiko bencana yang makin banyak, makin luas, makin besar, dan makin sulit diperkirakan (lihat ”Teguran Keras Pemanasan Global”, Kompas, 19 Desember 2011).

Perubahan iklim dan bencana alam berpengaruh terhadap rantai produksi ekonomi dunia. Transmisinya segera terasa kepada kegiatan ekonomi dunia. Meski tak berpotensi mengakibatkan resesi ekonomi dunia, perubahan iklim dan bencana alam dapat berpengaruh besar pada perekonomian negara dan kesejahteraan rakyat negara bersangkutan. Juga dibutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkannya.

Harga Pangan dan Energi

Perubahan iklim dan krisis politik Timteng dan Afrika Utara diperkirakan akan mengakibatkan harga pangan dan energi tetap tinggi meski harga komoditas non-energi, terutama bahan baku industri, menurun bertahap sejak awal 2011 oleh sinyal perlambatan ekonomi dunia. Banjir di Thailand ikut mendorong harga beras yang Juli 2010 masih 440 dollar AS menjadi sekitar 600 dollar AS per ton November 2011. Pasar beras internasional 2011 diselamatkan dari bencana banjir Thailand antara lain oleh tak adanya lonjakan permintaan seperti dari Filipina 2008. Harga beras Thailand Mei dan Juni 2008 sempat melonjak hingga sekitar 900 dollar AS per ton.

Harga pangan dunia 2012 dihadapkan pada risiko gangguan produksi di negara-negara penghasil pangan terbesar serta lonjakan permintaan di negara-negara berpenduduk besar. Harga rata-rata minyak mentah dunia tetap berfluktuasi rata-rata di atas 100 dollar AS per barrel sejak Maret 2011 meski sinyal perlambatan ekonomi dunia cukup kuat. Data terakhir yang dipublikasikan Energy Information Administration mengindikasikan penurunan produksi minyak mentah Iran dapat ditutup oleh peningkatan produksi di Libya.

Tetapi tidak terlihat peningkatan produksi OPEC yang cukup besar 2012. Ini kemungkinan terkait upaya OPEC menjaga harga minyak mentah pada tingkat 100 dollar AS per barrel. Gambaran peningkatan produksi non OPEC 2012 juga tak setinggi 2011 kecuali untuk kawasan Amerika Lain dan sedikit peningkatan di Laut Utara.

Secara keseluruhan, risiko ke bawah (downside risk) ekonomi dunia 2012 tetap besar. Perlu langkah cepat, tepat, dan konkret di tingkat global untuk mengatasi krisis utang Eropa, meredakan ketegangan politik di beberapa kawasan penting dunia, serta menyiapkan diri terhadap perubahan iklim dan bencana alam. ●

Senin, 05 Desember 2011

Krisis Utang Eropa Tetap Berat

Krisis Utang Eropa Tetap Berat
Bambang Prijambodo, DIREKTUR PERENCANAAN MAKROEKONOMI BAPPENAS
Sumber : KOMPAS, 5 Desember 2011


Meskipun sudah ada kesepakatan paket untuk mengatasi krisis utang Eropa ataupun pergantian PM di Yunani dan Italia, kekhawatiran akan terjadi krisis keuangan global seperti 2008 tetap besar.

Akhir Oktober 2011, paket menyeluruh telah dikeluarkan di Brussel. Paket ini mencakup tiga langkah penting: disepakatinya pihak kreditor menanggung kerugian secara sukarela sebesar 50 persen dari nilai obligasi pemerintah Yunani, direkapitalisasinya perbankan Eropa senilai 106 miliar euro, dan dibentuknya benteng pengaman sebesar 1 triliun euro untuk mencegah meluasnya panik ke negara yang lebih besar seperti Italia.

Awal November 2011, PM Yunani Papandreou dan PM Italia Berlusconi mengundurkan diri. Kebijakan politik ini sempat memberi harapan, tetapi ternyata hanya sementara. Sentimen negatif kembali muncul, tecermin dari pergerakan bursa saham dunia dan harga komoditas yang fluktuatif. Secara keseluruhan, kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa tetap tinggi karena beberapa permasalahan mendasar yang sulit ditangani.

Pertama, beratnya beban utang sehingga berpotensi gagal bayar. Tingkat kerentanan utang negara-negara Eropa sangat tinggi dengan sebagian besar utang luar negeri (sovereign debt).

Tahun 2010, stok utang Yunani, Irlandia, Portugal, dan Italia berturut-turut 144,9 persen, 94,9 persen, 93,3 persen, dan 118,4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Negara Eropa lain yang punya stok utang besar adalah Belgia (96,2 persen PDB) meski lebih rendah daripada utang Jepang (193 persen PDB).

Gambaran utang Yunani setelah dijamin juga tidak cerah. Pada 2011 dan 2012, stok utang diperkirakan meningkat menjadi 161,8 persen dan 172,8 persen PDB. Setelah kesepakatan Brussel, stok utang baru turun menjadi 120 persen tahun 2020.

Kedua, kemungkinan risiko menjalar ke negara Eropa lain. Tak hanya pada negara lapis pertama (Yunani, Irlandia, dan Portugal), tetapi juga ke negara lapis kedua (Italia dan Spanyol) dan inti (Perancis dan Jerman). Keterkaitan utang seperti diindikasikan Bank for International Settlement (BIS) membuat krisis utang Yunani bisa mendorong gagal bayar (default) negara lapis kedua dan berpotensi meruntuhkan sistem keuangan Eropa.

Risiko Global

Risiko yang membahayakan keuangan global terjadi apabila Italia mengalami gagal bayar. Italia adalah pasar terbesar surat utang pemerintah di Eropa dan ketiga di dunia setelah AS dan Jepang. Utang Italia 2010 adalah ?1,84 triliun euro, hampir tiga kali stok utang Yunani, Irlandia, dan Portugal atau hampir seperempat dari seluruh utang Eropa. Penurunan peringkat kredit Italia tak saja berpengaruh terhadap ketahanan fiskal Italia, tetapi juga merembet ke negara Eropa lain yang punya keterkaitan utang.

Selanjutnya, Perancis juga dipastikan terkena dampak karena memegang surat utang Italia, Spanyol, dan Yunani jauh lebih banyak dibanding negara Eropa lain. Begitu nilai surat utang Italia dan Spanyol jatuh, gejolak akan cepat merambat ke perbankan Perancis dan Eropa.

Ketiga, lemahnya komitmen serta langkah konkret dari Yunani untuk mengurangi defisit anggaran dan mereformasi ekonominya. Sebelum pemberian dana talangan kedua, Yunani berjanji mengurangi belanja hingga ?6,4 miliar euro pada 2011, ?22 miliar euro hingga 2015, serta privatisasi senilai ?50 miliar euro. Komitmen ini tidak ditepati sehingga pencairan dana talangan sempat ditunda, yang berdampak sentimen negatif pada pasar keuangan global. Baru pada awal Oktober 2011, Pemerintah Yunani sepakat pengurangan belanja, tetapi implementasi dan pengurangan tahun-tahun berikutnya masih diragukan.

Tidak mudah memang bagi Athena mengurangi belanja dengan peran negara yang sangat berlebih dalam perekonomian karena berisiko memicu gejolak sosial dan politik yang besar.
Keempat, lemahnya pertumbuhan ekonomi Eropa terutama di negara-negara yang krisis utang. Dalam triwulan III-2011, pertumbuhan ekonomi Eropa—yang mencerminkan kemampuan membayar utang—hanya 0,2 persen (quarter-to-quarter), sama dengan triwulan sebelumnya. Ekonomi Yunani terus menurun sejak tahun 2009 dan pada triwulan II-2011 turun 7,3 persen (year-on-year).

Tahun 2011 ekonomi Yunani diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 5,5 persen dan berlanjut pada tahun 2012 dengan kontraksi sebesar 2,5 persen. Dengan suku bunga riil (imbal hasil obligasi 10 tahun dikurangi inflasi) jauh lebih besar dari pertumbuhan ekonomi, stok utang Yunani akan meningkat dari tahun ke tahun. Artinya hampir tidak mungkin Yunani terhindar dari gagal bayar, kecuali ada solusi luar biasa.

Kemampuan Jerman dan Perancis menopang Eropa juga bukan tanpa batas. Meskipun Jerman dan Perancis pada triwulan III-2011 tumbuh 0,5 persen dan 0,4 persen (quarter-to-quarter), laju tahunannya melambat. Apabila pertumbuhan ekonomi Jerman dan Perancis terus melambat, Eropa akan resesi dan dukungan menyelamatkan Yunani dan Italia akan berkurang.

Kelima, kegagalan koordinasi dan sentimen (coordination and sentiment failure) dalam penanganan krisis utang Yunani. Penyebabnya adalah besarnya perbedaan kepentingan antarnegara Eropa dan sentimen masyarakat ”utara” yang harus menanggung beban utang Yunani dan negara-negara lain yang dijamin.

Rencana pembentukan surat utang bersama (Eurobond), meskipun diperkirakan dapat menyelamatkan Eropa dan diterima kreditor, tetap ditentang keras oleh Jerman karena khawatir justru mendorong aji mumpung (moral hazard) negara-negara yang tidak disiplin anggaran.

Solusi Mendasar

Meskipun krisis utang yang dihadapi Eropa sangat berat, masih ada jalan keluar dengan penanganan bertahap.

Pertama, apabila Yunani dapat membuat penyesuaian struktural dan meningkatkan peran swasta. Kontraksi ekonomi dapat dipersingkat dan kekhawatiran dapat dikurangi dengan cepat.

Memang tidak mudah apabila Yunani masih dalam kawasan Eropa. Yunani tidak bisa memanfaatkan depresiasi mata uang untuk mendorong ekspor. Namun, yang lebih sulit adalah bahwa semua itu menuntut kepemimpinan yang tegas dan langkah konkret yang meyakinkan rakyat bahwa perubahan dilakukan untuk masa depan yang lebih baik.

Kedua, mengatasi kelemahan mendasar dari kesatuan moneter, yaitu dengan meningkatkan disiplin fiskal setiap negara. Ini yang sedang didorong oleh Jerman dan Perancis agar disiplin fiskal masuk dalam konstitusi. Resolusi ini ideal, tetapi hanya berjalan apabila negara-negara Eropa tidak menghadapi pilihan dilematis seperti saat ini untuk mengurangi defisitnya.

Ketiga, yang paling memungkinkan, mengeluarkan Yunani dari zona euro. Meskipun ada risiko jangka pendek yang diakibatkan oleh kompleksitas utang Yunani dengan negara-negara Eropa lain, kemungkinan ini mencuat dalam pertemuan pemimpin G-20 di Cannes awal November 2011.

Secara politis, pilihan ini berat karena menyangkut reputasi Eropa yang tetap ingin menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Pengeluaran Yunani dari zona euro dapat mengakibatkan koalisi semakin rentan.

Semoga Eropa mampu mengatasi krisis utangnya mengingat risikonya yang besar terhadap perekonomian dunia. ●