Tampilkan postingan dengan label Kemudahan Berbisnis di Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemudahan Berbisnis di Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 November 2017

Doing Business di Indonesia

Doing Business di Indonesia
Candra Fajri Ananda  ;   Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Brawijaya
                                              KORAN SINDO, 06 November 2017



                                                           
Kejutan kembali dipentaskan Indonesia dalam rilisan terbaru Ease of Doing Business (EoDB) 2018 yang diunggah World Bank sepekan yang lalu. Kita berhasil merangsek 19 peringkat dari sebelumnya di posisi ke-91 melompat ke urutan ke-72 dunia. Prestasi ini juga membuat Indonesia masuk dalam kategori best 10 of top reformer di dunia dalam kemudahan berbisnis. Adapun faktor-faktor pendorongnya dimotori reformasi di sebagian besar indikator doing business yang tergolong masif dalam 15 tahun terakhir.

Empat indikator yang peringkat indeksnya paling tinggi dihuni indikator kemudahan mendapatkan sambungan listrik (getting electricity), penyelesaian kebangkrutan (resolving insolvency), perlindungan atas investor minoritas (protecting minority investors), dan kemudahan mendapatkan kre dit (getting credit) yang semuanya berada di posisi 100 besar dunia.

Adapun indikator sisanya adalah upaya membuat biaya yang lebih murah untuk memulai usaha (starting a business), mengurangi beban pajak properti (registering property), mempermudah pembayaran pajak (paying taxes), perdagangan lintas negara yang semakin baik dan cepat (trading across borders), perizinan mendirikan bangunan (dealing with construction permits), dan penegakan kontrak (enforcing con tracts).

Indonesia perlu lebih bekerja keras lagi untuk terus meningkatkan daya saingnya karena masih terlempar dari peringkat 100 dunia. Effort pemerintah untuk terus menggiatkan deregulasi kebijakan investasi dan menggenjot pembangunan berbagai infrastruktur strategis tampaknya mulai menghasilkan cerita-cerita yang positif.

Kendati demikian, peringkat kemu dahan bisnis Indonesia masih tergolong biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan negara lain di wilayah ASEAN. Singapura seperti biasa menjadi pemimpin di wilayah ASEAN karena menempati peringkat kedua dunia. Malaysia untuk tahun ini menempati pe - ringkat ke-24 dunia.

Adapun Thai land, Brunei Darussalam, dan Vietnam masing-masing meng huni peringkat ke-26, ke- 56, dan ke-68 dunia. Kondisi ini bisa menjadi salah satu bahan evaluasi bagi pemerintah untuk mempertimbangkan apa saja kebijakan yang bernilai strategis terhadap daya saing investasi di Indonesia. Presiden Joko Widodo segera merespons hasil publikasi World Bank tersebut dengan membentuk Satgas Kemudahan Berusaha.

Pasukan ini akan bertugas mengatur dan mengawasi percepatan per izinan usaha secara terintegrasi mulai dari tingkat pemerintah pusat hingga ke daerah-daerah. Selain itu beragam insentif fiskal, pajak bea masuk dan sebagainya hingga nantinya ada satu single submission akan diberikan dan semuanya diarahkan pada proses pengajuan izin investasi yang semakin mudah, murah, dan cepat.

Kemudian penulis juga berharap pemerintah dapat berpikir secara rasional apa saja manfaat yang dihasilkan dari penguatan daya saing kemudahan bisnis. Misalnya saja kita mengaitkan antara target kemudahan bisnis ini dengan output-output kebijakan yang mengarah pada penguatan faktor-faktor fundamental makro ekonomi.

Dengan demikian strategi ini tidak hanya bersifat parsial. Dalam beberapa kesempatan, pemerintah selalu membanggakan indikator investment grade kita yang dalam beberapa tahun terakhir memang terus mengalami perbaikan. Na mun penulis secara konsisten juga berupaya untuk terus mengingatkan pemerintah agar tidak salah memilah apa saja kebijakan yang bersifat out come dan apa saja kebijakan yang bernilai output.

Pemikiran ini bertujuan agar sederet upaya yang tengah dilakukan pemerintah hingga saat ini tidak lantas menjadi sesuatu yang sia-sia. Karena masyarakat tentu berharap langkah politik yang ditempuh pemerintah bisa berdampak positif terhadap kesejahteraan hidup mereka. Misalnya terkait dengan perbaikan investment grade yang tadi kita bahas.

Secara normatif kenaikan in vestment grade seharusnya akan berdampak signifikan terhadap arus investasi asing langsung (foreign direct invest ment/ FDI) dalam tahun-tahun ke depan. Namun kenyataan yang terjadi tak kunjung sesuai dengan ekspektasi.

Pertumbuhan ekonomi kita terus ngos-ngosan untuk sekadar konsisten di kisaran 5%. Beberapa waktu yang lalu Menko Perekonomian pernah bercerita bahwa dari potensi investasi dunia yang diperkirakan mencapai USD1.500 miliar, hanya 1% saja yang masuk ke Indonesia.

Mungkin dua faktor pendukung yang membuat investasi asing masih betah di Indonesia adalah kedekatan dengan bahan baku SDA dan potensi pasar konsumen dalam negeri yang jumlahnya relatif menggiurkan. Sementara faktor pen ting lain, khususnya penggunaan tenaga kerja lokal, belum cukup memuaskan pencapaiannya.

Angka realisasi investasi dari penduduk asing maupun domestik memang kian tumbuh. Akan tetapi jumlah pengangguran masih stagnan di kisaran 7 juta penduduk. Bahkan isu pelemahan daya beli yang dapat merembet pada penahanan produktivitas lapangan usaha kian gencar menjadi topik yang hangat di kalangan masyarakat.

Pentingnya Integrasi Kebijakan

Langkah pemerintah untuk meningkatkan kemudahan bisnis di dalam negeri kedepannya sangat mungkin akan tersendat-sendat. Pembangunan infrastruktur yang diharapkan mampu mengakomodasi kemudahan berusaha, khususnya yang berhubungan langsung dengan bisnis seperti telekomunikasi, jalan dan moda transportasi, listrik, serta koneksitas yang menjadi kunci dalam mendorong investasi, tampaknya menghadapi bahaya yang cukup besar karena kapasitas fiskal yang tengah terhimpit.

Malahan banyak pengamat ekonomi yang berpendapat bahwa kenaikan invest ment grade kita “nikmatnya” hanya dari sisi kemudahan berutang bagi pemerintah. Dam pak lain yang juga diharapkan dari sisi faktor fundamental makroekonomi rasarasanya tidak banyak mendapat dukungan yang berarti seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ada beberapa alasan megapa investment grade yang meningkat manfaatnya hanya bersifat parsial.

Pertama, masih terdapat hambatan struktural dari sisi birokrasi yang dijalankan pemerintah sehingga laju investasi tidak memberikan dampak yang signifikan.

Kendala terbesarnya lagi-lagi berkutat pada sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, khususnya dalam hal ini pemerintah daerah belum mampu membuat aturan perizinan dan tugas daerah yang lebih terbuka dan akuntabel. Kepala Badan Kebijakan Penanaman Modal (BKPM) meng akui bahwa kultur investasi daerah masih rentan memasang barrier yang justru menghambat langkah investor untuk menanamkan modalnya.

Ada banyak regulasi di daerah yang dikeluhkan investor-investor luar daerah dan asing yang membuat ongkos birokrasinya masih sangat tinggi. Biasanya hal ini disebabkan daerah masih memandang proses perizinan merupakan ladang penghasilan untuk menggenjot retribusi daerahnya.

Namun perlu dipastikan juga andai pemangkasan regulasi investasi daerah merupakan solusinya, investasi tersebut bisa diimbangi dengan perbaikan indikator makroekonomi di lokasi investasi tersebut berada. Karena tidak sedikit komentar miring yang bermunculan akibat asumsi bahwa investasi di daerah tidak banyak menopang pertumbuhan makroekonomi daerah.

Pertumbuhan yang dimak sudkan minimal dari segi penyerap an tenaga kerja lokal. Memang tidak salah investor sepenuhnya jika manfaat dari investasi terhadap penyerapan tenaga kerja masih tergolong kurang optimal. Karena bisa jadi memang suplai tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan belum banyak tersedia di daerah setempat.

Oleh karena itu penulis berharap deregulasi kebijakan investasi juga perlu di imbangi dengan investasi pemerintah yang lebih besar untuk pembangunan SDM lokal. Dengan begitu masyarakat setempat ikut merasakan nikmatnya ketika investasi di daerahnya kian menggeliat.

Mereka juga nantinya akan terdorong untuk tidak “mengganggu” stabilitas investasi dari sisi keamanan lingkungan. Sebab mengapa lingkungan investasi kadang kala dianggap kurang kondusif, motif utamanya karena masyarakat setempat tidak dilibatkan dalam aktivitas ekonomi yang berada di wilayahnya.

Nah terkait dengan pengembangan SDM, ada kalanya lebih baik pemerintah lebih fokus membangun melalui sistem pendidikan yang lebih memadai. Penyiapan SDM merupakan isu terpenting di luar pembangunan dan perbaikan di bidang infrastruktur yang sifatnya sangat supply side karena pemerintah saat ini juga mendorong sektor yang sifatnya padat karya dan menciptakan lapangan kerja yang langsung dibayar (cash) melalui ide padat karya transfer cash.

Sekolah-sekolah kejuruan (SMK) yang sesuai dengan kebutuhan perlu disiapkan untuk mengisi kebutuhan investasi di daerah. Keberadaan SMK sebagai kawah candradimuka calon tenaga kerja terampil patut dipertanyakan lagi karena struk tur pengangguran terbesar di Indonesia salah satunya malah dihuni lulusan dari SMK.

Dari total pengangguran di Indonesia, sekitar seperlimanya merupakan pengangguran dari tingkat pendidikan SMK. Jika digabungkan dengan pengangguran dari lulusan SMA, kontribusinya mencapai 41,91% dari total pengangguran (BPS, 2017). Ada fakta implisit yang menggelitik kenapa fenomena ini seperti dibiarkan untuk terus terjadi.

Oleh karena itu sin kronisasi antara sistem pen di dik an dengan kebutuhan dunia kerja menjadi sangat penting untuk terus diperkuat lagi. Jangan sam pai investasi meningkat tetapi tenaga kerjanya justru diisi SDM dari luar negeri atau daerah lain. Kenyataan ini bisa semakin ber gulir liar menjadi isu kedaerahan di wilayah tersebut.

Dan nantinya isu tersebut bisa berdampak buruk terhadap keberlangsungan bisnis (sustainability). Ide Presiden Joko Widodo untuk menerapkan kebijakan padat karya transfer cash patut kita sambut dengan apresiasi yang positif. Presiden berharap proyek padat karya bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan harus dibayarkan secara tunai untuk memperkuat daya beli masyarakat yang akhirakhir ini melemah.

Ide ini patut mempertimbangkan lebih dalam peran pemerintahan desa. Karena sasaran utama dari program ini adalah masyarakat desa. Pemerintah desa perlu dilibatkan, termasuk dalam sinkronisasi kebijakan yang diambil pemerintah pusat tersebut. Bila dikalkulasi secara sederhana, jumlah desa di Indonesia saat ini ada 74.000 desa dan dana desa untuk 2018 sebesar Rp60 triliun.

Dengan demikian ada belasan juta tenaga kerja diharapkan terserap lewat proyek padat karya Kementerian Desa saja, belum kementerian yang lain, sehingga ada hampir 15 juta tenaga kerja yang terserap. Oleh karena itu perlu dibangun sistem perencanaan yang semakin terpadu antara pemerintah desa, kabupaten, provinsi, dan nasional.

Minimal dari program ini, akses daya beli masyarakat semakin meningkat, tidak sekadar untuk konsumsi, melainkan juga untuk pengeluaran-pengeluaran yang lain khususnya dalam kebutuhan pendidikan dan kesehatan. ●

Selasa, 01 November 2016

Kemudahan Berbisnis Membaik, tetapi..

Kemudahan Berbisnis Membaik, tetapi..
A Tony Prasetiantono ;   Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM, Yogyakarta
                                                      KOMPAS, 31 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Bank Dunia baru saja merilis peringkat tahunan mengenai kemudahan berbisnis (ease of doing business) di 190 negara. Peringkat ini berdasarkan survei terhadap para pemangku kepentingan. Hasilnya, Indonesia termasuk negara yang peringkatnya naik tajam, dari peringkat ke-109 (2016) menjadi ke-91 (2017). Ada lima negara yang peringkatnya naik secara dramatis, yakni Brunei, Kazakhstan, Kenya, Belarus, dan Indonesia. Sementara itu, Selandia Baru, untuk pertama kali dalam satu dasawarsa terakhir, mengambil alih Singapura sebagai negara yang paling mudah dalam berbisnis (Jakarta Post, 27/10/16).

Membaiknya peringkat Indonesia ini didukung kian mudahnya dalam: (1) membuka atau memulai usaha baru; (2) mendapatkan pasokan listrik; (3) mengurus perizinan properti; (4) memperoleh kredit bank; (5) mengurus pajak; (6) perdagangan internasional; dan (7) menjalankan kontrak bisnis dengan baik. Hal ini tampaknya berkaitan dengan langkah pemerintah yang getol mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dan peluncuran 13 paket deregulasi di sejumlah sektor.

Di satu hal, pencapaian ini tentu menggembirakan. Namun, di sisi lain, masih banyak yang harus dikerjakan karena peringkat ke-91 masih jauh dari target Presiden Joko Widodo yang menginginkan peringkat ke-40. Indonesia pun masih tercecer dibandingkan dengan negara-negara tetangga: Singapura (2), Malaysia (23), Thailand (46), Brunei (72), dan Vietnam (82). Kita hanya lebih baik daripada Filipina (99), Papua Niugini (119), Kamboja (131), Laos (139), Myanmar (170), dan Timor-Leste (175).

Cukup mengejutkan juga bahwa Tiongkok, negara berkekuatan ekonomi nomor dua di dunia, ternyata hanya ada di peringkat ke-78. Adapun Amerika Serikat di peringkat ke-8. Jika disorot lebih detail untuk kasus Indonesia, Bank Dunia menemukan bahwa Yogyakarta merupakan kota terbaik untuk memulai bisnis, Balikpapan menjadi kota terbaik untuk mengurus izin konstruksi, serta Jakarta dan Bandung merupakan kota terbaik untuk mendaftarkan properti. Cukup ironis, Jakarta hanya peringkat ke-8 untuk memulai bisnis dan peringkat ke-19 untuk perizinan properti.

Masalahnya, hasil survei itu tidak sinkron dengan situasi perekonomian kita saat ini. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 5 persen (2016) dan sedikit beranjak ke 5,1 persen tahun depan. Isu perbaikan dalam kemudahan mendapatkan kredit bank, sebagaimana laporan Bank Dunia, ternyata justru tidak tecermin pada pertumbuhan kredit bank yang tahun ini diperkirakan hanya 8 persen. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, ekspansi kredit selalu di atas 10 persen, bahkan mencapai 20-30 persen pada tahun- tahun sesudah krisis ekonomi global 2008-2009.

Bagaimana penjelasannya?

Pertama, pada dasarnya peringkat itu disusun berdasarkan persepsi pelaku bisnis dan pemangku kepentingan dalam melihat prospek berbisnis pada 2017. Artinya, saat ini memang mulai tumbuh persepsi positif mengenai kemudahan menjalankan bisnis di Indonesia. Namun, tidak berarti benar-benar sudah terimplementasikan dengan baik.

Paket deregulasi yang sudah diluncurkan, misalnya, memang menimbulkan harapan. Namun, apakah benar-benar telah berhasil diimplementasikan dengan baik? Belum tentu. Jalan masih panjang menuju ke sana. Presiden Jokowi dan para menteri masih harus rajin mengecek di lapangan untuk memastikan, apakah deregulasi (normatif) itu bisa tereksekusi dengan baik (positif)?

Dengan kata lain, bisa saja persepsi positif mengenai kemudahan berbisnis di Indonesia berubah pada survei tahun depan jika pemerintah tidak bisa menggaransi bahwa 13 paket deregulasi itu benar-benar efektif. Pemerintah harus mengawal dan memastikannya.

Kedua, di sektor perbankan, kemudahan mengakses kredit bank bukanlah hal yang berdiri sendiri. Meskipun bank telah membuka pintu kredit lebar-lebar, permintaan kredit masih rendah. Bagaimana mungkin ekspansi kredit dilakukan? Permintaan kredit juga dipengaruhi harga komoditas di pasar global yang masih rendah.

Ketika bisnis batubara terpukul, ternyata dampak negatifnya ke mana-mana, misalnya menurunkan permintaan otomotif, properti, bahkan berpengaruh pada bisnis makanan dan minuman.

Meski demikian, saya merasa hasil survei Bank Dunia itu benar adanya. Ada persepsi positif yang meningkat dalam berbisnis di Indonesia. Ada tekad kuat dari pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur yang akan bermuara pada kenaikan efisiensi dan produktivitas. Namun, kendalanya masih banyak, misalnya pembebasan lahan yang sulit dan mahal.

Sementara itu, Presiden Jokowi juga masih gemas dengan waktu tunggu kontainer untuk dikapalkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Meski harus terus diupayakan perbaikan, secara alamiah Tanjung Priok tetap memiliki ambang kejenuhan.

Akhirnya, hasil survei Bank Dunia memang meniupkan optimisme. Namun, itu tidak berarti "bulan madu". Sebab, masih banyak hal yang harus dikejar dan ditagih, yakni apakah 13 paket deregulasi bakal efektif? Lalu, apakah pembangunan infrastruktur bisa terhindar dari kendala lahan dan tekanan fiskal? Ini tidaklah gampang. ●