|
Krisis
Politik Suriah dalam Tinjauan Geopolitik Rusia
Muhammad Ibrahim Hamdani ; Asisten Direktur dan Staf Peneliti
di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) Universitas Indonesia.
|
JARINGNEWS, 08 Oktober 2013
|
|
Krisis politik Suriah yang terjadi antara pihak pemerintah
pimpinan Presiden Bashar Al Assad dengan pihak oposisi dan pemberontak
bersenjata telah melibatkan beberapa negara besar dan berpengaruh seperti
Rusia, China dan Iran di satu sisi serta Amerika Serikat, Saudi Arabia, Turki,
Inggris dan Perancis di sisi lain. Negara-negara tersebut mengambil sikap dan
posisi politik yang berbeda terhadap Suriah sesuai dengan kepentingan politik
nasional dan situasi geopolitik internasional yang dihadapi oleh masing-masing
negara.
Jika Rusia, China dan Iran memiliki kecenderungan sikap dan posisi politik pro
terhadap rezim Presiden Bashar Al-Assad maka Saudi Arabia, Turki, Inggris,
Perancis dan Amerika Serikat (AS) cenderung bersikap dan mengambil posisi
politik kontra terhadap rezim ‘status quo’ dan otoriter tersebut.
Hal ini menyebabkan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) yakni AS, Inggris, Perancis, Rusia dan China, gagal
mencapai kesepakatan konstruktif untuk menyelesaikan krisis politik dan
kemanusiaan di Suriah. Bahkan Rusia selalu menggunakan hak vetonya untuk
menggagalkan usulan draft resolusi DK PBB yang dinilai merugikan kepentingan
rezim Assad di Suriah.
Kegagalan DK PBB dalam menemukan kata sepakat untuk menyelesaikan krisis Suriah
telah menyebabkan konflik berlarut-larut dan korban jiwa yang terus bertambah
di Suriah. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi manusia (HAM), sebuah
organisasi pengawas HAM, menyatakan bahwa jumlah korban tewas sejak awal
pemberontakan, Maret 2011, berjumlah 110.437 orang meliputi 40.146 orang warga
sipil yang terdiri dari hampir 4.000 orang perempuan dan lebih dari 5.800
anak-anak.
Lembaga itu juga merilis laporan mengenai tewasnya 21.850 orang pejuang
pemberontak, 27.654 tentara Suriah, 17.824 milisi pro rezim Assad dan 171
anggota Hizbullah, Syi’ah Lebanon, serta 2.726 korban tewas tanpa identitas (31
Agustus 2013).
Sebagai salah satu anggota DK PBB Rusia memilih sikap dan posisi politik untuk
menjaga status quo dan stabilitas politik Suriah karena kedua negara memiliki
hubungan historis dan diplomatik yang sangat erat dan lama sejak masa kejayaan
Uni Soviet.
Rusia konsisten menentang keras intervensi militer asing dalam bentuk apa pun
terhadap Suriah serta giat membangun opini internasional guna mendukung proses
negosiasi dan perundingan damai sebagai satu-satunya solusi untuk mengakhiri
krisis politik dan kemanusiaan di Suriah.
Pemerintah Rusia pun meragukan penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar Al
Assad untuk menyerang pihak oposisi dan pemberontak Suriah; bahkan negeri
‘Beruang Merah’ itu justru menuding pihak pemberontaklah yang menggunakan
senjata kimia ‘Gas Sarin’ terhadap tentara dan rakyat Suriah guna memancing
intervensi militer negara-negara ‘Barat’.
Dalam wawancara dengan Associated Press (AP) dan Televisi Rusia Channel 1
Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin, menyatakan: “Dari sudut pandang kami, tampaknya tidak masuk akal Angkatan
Bersenjata, Angatan Bersenjata Reguler yang sekarang berada di beberapa wilayah
mengepung pemberontak, disebut-sebut menggunakan senjata kimia. Hal itu sebagai
dalih untuk menerapkan sanksi terhadap mereka, termasuk penggunaan kekuatan”.
“Seluruh argumen itu ternyata tak bisa
dipertahankan, tetapi mereka tetap menggunakannya untuk melancarkan serangan
militer yang di Amerika Serikat sendiri dianggap sebagai suatu kesalahan.
Apakah kita melupkan itu?” Ujar PM Rusia, Vladimir Putin, saat
membandingkan situasi Suriah dengan Perang Melawan Terorisme di Iraq pada 2013
(04-09-13).
Pemerintah AS menuduh Pemerintah Iraq di bawah rezim Saddam Husein memiliki
Senjata Pemusnah Massal (Weapon Mass
Destruction/WMD) dan menggunakannya untuk menyerang kelompok oposisi dan
separatis Kurdistan. Meskipun data tersebut dianggap oleh PBB sebagai data yang
salah, namun AS tetap menggunakannya sebagai alasan pembenar untuk menyerang
Irak pada 2003.
Adapun Pemerintah AS, Inggris, Turki dan Perancis berkeyakinan bahwa senjata
kimia ‘Gas Sarin’ telah digunakan oleh Rezim Bashar Al Assad untuk menyerang
pihak oposisi dan pasukan pemberontak anti pemerintah hingga menewaskan ribuan
korban jiwa.
“Penggunaan senjata kimia di Suriah
adalah nyata dan berdasarkan fakta. Suriah telah menggunakan senjata kimia
berskala besar dalam serangan rabu dini hari yang menewaskan antara 100 sampai
1300 orang berdasarkan sumber yang bervariasi. Penggunaan senjata kimia adalah
tak termaafkan dan tak bermoral,” tegas John Kerry, Menteri Luar Negeri AS
(26-08-13).
“Tindakan Amerika di Suriah akan ‘terbatas,’ dirancang untuk mencegah
pemerintah Suriah kembali melakukan serangan gas beracun terhadap rakyatnya
sendiri dan mengurangi kemampuan Suriah untuk melakukannya. Aksi militer
Amerika di Suriah tidak akan melibatkan ‘pengerahan pasukan Amerika ke daratan
Suriah’”, tegas Presiden AS, Barrack Hussein Obama, dalam pidato mingguannya
(07-09-13).
Faktor lain yang menyebabkan eratnya hubungan diplomatik antara Suriah dan
Rusia ialah hubungan militer kedua negara yang sangat strategis dan saling
menguntungkan kedua belah pihak. Rusia memiliki sebuah pangkalan militer
angkatan laut di Pelabuhan Tartous, Rusia, sebagai warisan dari hubungan
diplomatik antara United Soviet Socialist
Republik (USSR/Uni Soviet) dengan Suriah di masa lalu.
Sejak tahun 1972 Presiden Suriah, Hafez Al-Assad, telah menandatangani
perjanjian pakta pertahanan keamanan dengan Uni Soviet, bahkan pemerintah
Moskow telah mengirimkan bantuan senjata kepada Suriah senilai 135 juta US$
sepanjang era itu. Perjanjian ini kemudian diperpanjang selama 20 tahun
terakhir melalui penandatangan pakta kerja sama lanjutan oleh Presiden Suriah,
Hafez Al Assad, dan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Uni Soviet, Leonid Brezhnev,
pada tahun 1980.
Pada 1987 pemimpin Uni Soviet terakhir, Mikhail Gorbachev, pernah menjamin akan
terus melanjutkan bantuan ekonomi dan militernya untuk Suriah dan janji ini
terus ditepati oleh Rusia hingga Presiden Hafez Al Assad digantikan oleh
Presiden Bashar Al Assad. Harian Washington Post juga merilis adanya transaksi
penjualan senjata dari Rusia ke Suriah hingga mencapai 1,5 miliar US$, termasuk
pesawat tempur MiG-29 dan S-300 selama abad ke 20.
Dengan demikian Pemerintah Rusia bermaksud mempertahankan aliansi politik
tradisionalnya dengan Suriah sembari mengamankan fasilitas pangkalan militer
luar negeri terakhirnya di Pelabuhan Tartous dengan cara mendukung terwujudnya status quo dan stabilitas politik Suriah
di bawah rezim Presiden Bashar Al Assad.
Rusia juga bermaksud menjadi aktor politik internasional yang mampu mengimbangi
dan menandingi peran ‘Polisi Dunia’ yang selama ini diperankan oleh AS, di
kawasan Timur Tengah dengan cara membangun aliansi dan kerja sama strategis
dalam bidang politik, ekonomi dan militer bersama-sama China dan Iran sebagai
sekutu tradisionalnya. ●