Tampilkan postingan dengan label Asia Pasifik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asia Pasifik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

Indo-Pacific Grand Design A Recipe?


Indo-Pacific Grand Design A Recipe?
Ristian Atriandi Supriyanto, A RESEARCH ANALYST WITH THE MARITIME SECURITY PROGRAM AT THE S. RAJARATNAM SCHOOL OF INTERNATIONAL STUDIES, SINGAPORE
Sumber : JAKARTA POST, 8 Desember 2011




In his visit to Australia last month, US President Barack Obama announced a plan to station 2,500 US marines in Darwin. Rather than building new bases, the US marines will share the Australian Army’s Robertson Barracks instead.

Australian Defense Minister Stephen Smith said the deal also included greater access for US military aircraft to Northern Australia and even expanded ship and submarine visits in Western Australia.

With all eyes still glued to Darwin, talks have also been ongoing to build a joint US-Australian air force and naval base in the Cocos (Keeling) Islands. The Cocos group of two atolls and 27 islands is roughly 600 nautical miles (nm) southwest of the Sunda Strait and only 1,272 kilometers from Jakarta.

The Cocos currently serve as a refueling station for Australia’s P-3C Orion maritime surveillance and anti-submarine aircraft, and soon, its new P-8 Poseidons. The Cocos would certainly provide a better vantage point for the US to monitor and, should it wish to, control Southeast Asia’s vital sea lanes than the Diego Garcia military base, nearly 1,500 nm west of the Cocos.

At the strategic level, this policy could be understood as part of America’s Pacific re-engagement. In a Foreign Policy magazine article, US Secretary of State Hillary Clinton wrote that “strengthening bilateral military alliances” and “forging a broad-based military presence” would be among the top items on the US Indo-Pacific agenda.

Clearly, the US is both trying to hold China’s military in check and assure regional friends and allies that America is still around. China’s unilateral claims in the South China Sea and its growing assertiveness in enforcing them, make the US more popular among Beijing’s Southeast Asian neighbors. The US, Australia, and India, are also increasingly wary of China’s so-called “string-of-pearls” strategy to forward-deploy its naval assets into the Indian Ocean.

Operationally, Australia makes perfect sense for US military deployment. Unlike Japan, Guam, or Korea, which are located within China’s military operational reach, Australia provides a relatively more stand-off position — neither too close nor too distant.

An Australian international security expert, Alan Dupont, said US forces in Australia would be “out of missile range from China” and Chinese missiles are already believed to target US bases in the western Pacific. Furthermore, Australia also offers operational flexibility for US forces to maneuver across the Indo-Pacific rim.

James Holmes, an associate professor from the US Naval War College said Australia provides “a central position” for US seaborne forces to “swing” between its bases in Japan and Bahrain, while “bypassing the South China Sea, a body of water that would be hotly contested during a shooting war involving China.”

With the facilities in Darwin and the Cocos the US could throttle China. Most crude oil tankers bound for China from the Middle East are simply too large to transit the shallow Malacca Strait. Hence, the deeper Sunda and Lombok Straits provide the most viable alternatives for these tankers to transit — and the US to interdict them.

They are also deep enough for ballistic missile nuclear submarines (SSBN) to transit. China’s new Type 094(Jin)-class SSBNs, currently based in Sanya, Hainan Island, could transit these sea lanes should they be deployed for future deterrence patrols in the Indian Ocean.

However, with US military footprints already widely scattered across the Indo-Pacific rim, one must ask whether adding more American boots on the ground will be better off for regional peace and stability, particularly with China being perceived as the bogeyman. While China’s “string-of-pearls” strategy remains sketchy at best, Washington is already underway crafting its own “necklace” around China’s periphery. And these moves have drawn mixed responses from Southeast Asia.

Vietnam and the Philippines strongly welcomed the idea. Ricky Carandang, Philippine Secretary of Communications, said the American presence is “ultimately a stabilizing force”. Others, like Indonesia, are more cautious. Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa said the US move could “provoke a reaction and counter-reaction that would create a vicious cycle of tensions and mistrust”. A reaction which many would expect from China.

Although the Chinese Foreign Ministry only gave a modest response by calling the new US military deployment “not appropriate”, it might belie the true extent of China’s anxiety. Indeed, several weeks later, the Chinese Defense Ministry said US military deployment in Asia reflects a “Cold War mentality”. People’s Liberation Army Maj. Gen. Yuo Luan further wrote in the People’s Daily newspaper recently that “the intent [of the US] is very clear, it is aimed at China, to contain China.”

The US Indo-Pacific grand design, therefore, will further confirm China’s suspicions over the US-led containment strategy. Worse, this could set a “China-versus-the-rest” perception on the part of Beijing that is certainly unhelpful in defusing tensions and addressing regional security challenges.

For Indonesia and Southeast Asia in general, such a destabilizing move is certainly not in their interests. Already, Southeast Asian countries themselves are modernizing their militaries with acquisitions ranging from long-range strike aircraft to killer submarines. Before long, it might only need a small incident to spark off a crisis, if not conflict, and should that occur, it is not Australia, but Southeast Asia which would be caught in the cross-fire.

Perhaps a less sensitive approach by America could be through what international relations expert Stephen Walt calls “offshore balancing” — to diplomatically and militarily support regional allies and friends, without adding more military footprints overseas. For example, America could conduct more joint military exercises and training with regional states, or for the latter to acquire sophisticated US military hardware more easily.

Faced with a cash-strapped defense budget and economic woes at home, Washington should see this as an attractive option. This could also allay regional concerns over the presence of foreign military bases in their backyards, for an American presence does not have to come with the presence of Americans.
●

Kemitraan AS di Pasifik


Kemitraan AS di Pasifik
Scot A. Marciel, DUTA BESAR AMERIKA SERIKAT UNTUK INDONESIA
Sumber : REPUBLIKA, 8 Desember 2011


Kunjungan Presiden Obama ke Bali untuk berpartisipasi dalam KTT Asia Timur menjadi sangat bersejarah. Karena kunjungannya yang pertama di KTT ini menegaskan komitmen Amerika Serikat untuk memberikan kontribusi positif jangka panjang di kawasan Asia Pasifik. Kunjungan tersebut menjadi puncak upaya diplomasi yang sudah berlangsung lama, tenang, gigih, dan beraneka segi.

Tujuannya adalah pada keterlibatan berkesinambungan AS di kawasan Asia Pasifik yang merupakan "rumah" bagi hampir separuh penduduk dunia, motor utama ekonomi global, serta penggerak kancah perpolitikan global. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton menyebut keterlibatan AS di Asia sebagai salah satu tugas diplomasi Amerika yang paling penting untuk satu dasawarsa ke depan.

Perbaruan fokus kawasan Asia-Pasifik mencerminkan realitas strategis dari kawasan yang dinamis dan bertumbuh ini dan merupakan hal yang sangat penting bagi perekonomian dan politik AS. Kami juga percaya bahwa fokus tersebut sangat krusial untuk masa depan negara-negara di Asia.

Dengan adanya arus perdagangan dan investasi yang kuat, hadirnya keamanan yang mendukung stabilitas kawasan dan tidak ada ambisi atau maksud apa pun untuk menguasai wilayah, Amerika Serikat menawarkan kemitraan yang tak ternilai harganya bagi perdamaian dan kesejahteraan di kawasan ini.

Komitmen Amerika sangat luas dan strategis. Dalam bidang ekonomi, komitmen tersebut diejawantahkan melalui kerja sama dengan para mitra dari Australia, Brunei, Cile, Malaysia, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam untuk menghasilkan kesepakatan kemitraan Trans-Pasifik atau Trans-Pacific Partnership (TPP) yang ambisius. Selanjutnya untuk meningkatkan volume perdagangan serta jumlah investasi, mendorong inovasi dan pertumbuhan untuk pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan, serta mendukung penciptaan lapangan kerja.

Masa depan kawasan ini bergantung pada perdagangan dan perniagaan yang kuat dan kokoh. Kami pun berharap bahwa Indonesia, Cina, dan negara lain yang berminat dalam membuat perjanjian dagang baru pada abad ke-21 akan mempertimbangkan untuk bergabung dengan kami untuk mewujudkan hal tersebut.

Di Indonesia, sebagai bagian dari kerja sama bidang ekonomi, Amerika Serikat dan Indonesia telah menandatangani sebuah kesepakatan //Millennium Challenge Corporation (MCC) Compact di mana AS akan memberikan bantuan sebesar 600 juta dolar AS untuk mendukung pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta peningkatan pelayanan publik di Indonesia.

Kami juga memberikan dukungan penuh kepada Pemerintah Indonesia yang sekarang ini tengah memfokuskan untuk meningkatkan infrastruktur di negara ini. Kami juga berkeyakinan bahwa perusahaan-perusahaan AS dapat ikut serta mengambil peran yang penting dalam kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menyelesaikan sasaran-sasaran ambisius yang ingin dicapai dalam rencana ini.

Kami juga memperkuat traktat kerja sama antarnegara yang telah kami lakukan dan juga membangun kerja sama dengan kekuatan-kekuatan baru di dunia, termasuk dengan Cina, demi mempertahankan kestabilan kawasan yang nantinya akan mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi yang pesat di Asia-Pasifik. Selain itu, kami juga merasa bahwa hubungan antarbangsa atau //people-to-people contacts antara negara-negara yang berbeda di kawasan Pasifik dapat mengurangi rasa saling curiga dari masing-masing pihak dan hal tersebut telah menjadi bagian yang sangat penting dalam kebijakan diplomasi AS untuk dekade berikutnya.

Komitmen kami untuk terus memperbarui serta memperkuat kembali kerja sama di bidang pertahanan telah menghasilkan sebuah inisiatif yang baru-baru ini diumumkan oleh Presiden Obama dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard. Melalui kesepakatan ini, setiap personil Marinir AS akan dimulai dengan kelompok kecil yang beranggotakan 250 personil dan nantinya akan ditingkatkan menjadi 2.500 orang yang terhimpun dalam suatu Gugus Tugas Darat Udara (MAGTF).

Anggota-anggota marinir ini akan mendapatkan rotasi penempatan di Darwin dan Australia Utara selama enam bulan guna melakukan latihan bersama dengan Angkatan Bersenjata Australia. Selain itu, kami juga akan menambah akses bagi pesawat terbang di pangkalan udara di Australia Utara dalam rangka meningkatkan kerja sama bilateral. Kedua prakarsa ini membangun kerja sama aliansi yang erat antara AS dan Australia selama bertahum-tahun.

Kegiatan ini juga nantinya akan membuka kesempatan untuk memperdalam hubungan keamanan dengan mitra-mitra AS di wilayah ini, termasuk dengan Indonesia, dan juga memberikan kemampuan yang lebih baik dalam melakukan kegiatan bantuan kemanusiaan serta menangani berbagai bencana alam maupun peristiwa darurat lainnya di wilayah ini.

Kesepakatan antara pemerintah AS dan Australia tersebut bukan dalam rangka untuk membangunan sebuah pangkalan militer AS di Australia, melainkan sebuah bentuk rotasi pasukan marinir di kawasan Australia bagian utara agar latihan bersama AS-Australia tetap berlangsung dan diperluas.

Meskipun Indonesia dan beberapa negara tetangga menyambut baik prakarsa ini, sejumlah pihak di dalam negeri Indonesia berspekulasi bahwa rotasi pasukan marinir ini kurang lebih akan diarahkan kepada Indonesia. Kebenaran hal tersebut sangat jauh sekali.

Bukan demikian sesungguhnya, kerja sama keamanan dengan Indonesia dan mitra-mitra lainnya di wilayah ini adalah tujuan utama dari prakarsa baru tersebut. Amerika Serikat memiliki hubungan yang sangat bersahabat dengan Indonesia dan kami memandang Indonesia sebagai mitra yang sangat penting di wilayah ini.

Kami mendukung sepenuhnya kedaulatan dan integritas wilayah NKRI. Kesepakatan yang baru dengan Australia tersebut adalah bagian dari peninjauan jangka panjang mengenai bagaimana pasukan AS ditempatkan di suatu wilayah dan di seluruh dunia, dan bukan ditujukan untuk satu negara tertentu.

Amerika Serikat memiliki peran yang sangat krusial terhadap keberhasilan Indonesia sebagai negara demokrasi yang makmur dan terus berkembang. Semua pihak akan mendapatkan keuntungan dari stabilitas serta pertumbuhan bersama.

Keberadaan serta aktivitas Amerika Serikat di Indonesia adalah untuk mendukung keberhasilan dan kesuksesan Indonesia, baik melalui kerja sama militer seperti pemberian hibah pesawat tempur F-16 kepada TNI-AU, kerja sama pembangunan seperti program bantuan ekonomi melalui Millennium Challenge Corporation (MCC) compact, atau kerja sama pendidikan untuk meningkatkan jumlah siswa yang belajar di masing-masing negara.

Indonesia dan Amerika Serikat mempunyai sejarah persahabatan yang panjang dimulai semenjak hari pertama kemerdekaan Indonesia. Komitmen kami untuk melanjutkan kemitraan jangka panjang yang setara dengan semua teman-teman kami di Asia tidak akan tergoyahkan. Sejarah akan mencatat, pembaharuan fokus ke Asia sebagai salah satu perkembangan yang paling signifikan bagi diplomasi Amerika pasca-Perang Dingin.
●

Minggu, 04 Desember 2011

Pangkalan Militer Darwin dan Politik Hegemoni AS


Pangkalan Militer Darwin dan Politik Hegemoni AS
Tjipto Subadi, DOSEN FKIP DAN PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Sumber : REPUBLIKA, 2 Desember 2011


Pernyataan Presiden AS Barack Obama di depan Parlemen Australia di Canberra, Kamis (17/11) lalu, yang akan menjadikan wilayah Asia Pasifik menjadi prioritas utama politik luar negeri dan pertahanan AS menjadi kekhawatiran tersendiri bagi wilayah damai tersebut. Apalagi, setelah Presiden Obama mengatakan militer AS akan menyebar di Asia, terutama Asia Tenggara, di mana AS akan membangun pangkalan militer di Darwin, Australia, yang disusul dengan mendatangkan pasukan marinir, kapal perang, dan pesawat tempur yang dimulai tahun depan. Meskipun, Obama berdalih pangkalan militer di Darwin dimaksudkan hanya untuk operasi bantuan kemanusiaan, bukan operasi militer.

Tahun depan baru 250 marinir yang ditempatkan di Darwin, namun pada 2016 jumlah tersebut naik 10 kali lipat menjadi 2.500 marinir. Padahal, jarak Darwin dengan Nusa Tenggara Timur hanya 820 km, yang bisa dicapai oleh pesawat tempur kurang dari satu jam. Sedangkan, perusahaan tambang raksasa AS Freeport Mc Moran memiliki tambang emas terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia, di Timika, Papua Barat, yang hanya "selemparan batu" dari Darwin.

Tentu saja rencana AS untuk mendirikan pangkalan militer di Darwin mengkhawatirkan Cina, meski AS sudah mempunyai pangkalan militer di Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand. Sementara itu, bekas pangkalan udara  Clark dan laut Teluk Subik di Filipina ternyata masih sering digunakannya untuk melakukan operasi antiteroris di Asia Tenggara.

Cina khawatir sebab merasa negara kuning itu selama ini paling berkuasa di Laut Cina Selatan, tempat gugusan Kepulauan Paracel dan Spratly yang kaya akan minyak bumi sedang diperebutkan Cina, Vietnam, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Taiwan. Keenam negara itu mengklaim ratusan pulau kecil di gugusan Paracel dan Spratly adalah milik mereka. Sehingga, dapat menimbulkan konflik bersenjata. Kehadiran AS di kawasan itu tentu saja membuat Cina khawatir, sebab politik hegemoninya akan mendapat saingan berat dari politik hegemoni AS.  

AS selalu berdalih bahwa negara adidaya itu termasuk negara Pasifik karena mempunyai wilayah di Hawaii dan Guam yang masuk kawasan Pasifik. Jadi, sah-sah saja jika AS memiliki perhatian geopolitik dan geostrategis terhadap wilayah Asia Pasifik, termasuk Australia dan Laut Cina Selatan. Apalagi, hampir 100.000 pasukan AS ditempatkan di Jepang, Korsel, Taiwan, Singapura, dan Thailand, bahkan masih tersisa di Filipina, yang kesemuanya berada di kawasan Asia.

Asia Pasifik
Sebagaimana dikatakan Presiden Obama, AS mulai berpaling ke Asia Pasifik seiring perang yang sudah berakhir. Jelas yang dimaksud Presiden Obama adalah berakhirnya perang di Irak dan rencana penarikan pasukan AS dan NATO secara menyeluruh dari Afghanistan pada 2014 nanti.

Sebenarnya, AS telah gagal dalam membangun politik hegemoninya di Timur Tengah dan Asia Selatan. Dalam kasus Irak, AS mengalami kegagalan total untuk menguasai Negeri Seribu Satu Malam itu setelah melakukan invasi untuk menggulingkan Saddam Husein pada 2003 lalu. Sedangkan, di Afghanistan, meski dibantu pasukan NATO, AS juga gagal mengusai negara bergolak tersebut. Bahkan, hampir 2.500 nyawa prajurit terbaiknya hilang di Afghanistan. Boleh dikatakan Taliban saat ini masih menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan ketika malam hari, namun ketika siang hari digantikan oleh pasukan NATO dan Afghanistan.

Kegagalan politik AS di Timur Tengah semakin nyata setelah rezim Mubarak, Ben Ali, dan Ali Abdullah Saleh yang selama ini menjadi pendukung kuatnya bertumbangan satu persatu dan digantikan rezim yang kurang bersahabat dengan AS dan Israel. Bahkan, Partai An Nahdhah yang memenangkan Pemilu Parlemen di Tunisia jelas anti-Israel, sementara kekuatan partai pendukung Ikhwanul Muslimin yang tergabung dalam Aliansi Demokrat dan Aliansi Islam Partai Nour diprediksi akan memenangkan Pemilu Parlemen Mesir yang akan digelar pada Senin (28/11) nanti. Jika kedua aliansi kekuatan politik Islam itu menang, tamatlah sudah pengaruh AS dan Israel di Mesir. 
      
Meski politik hegemoni AS di Timur Tengah semakin goyah, namun AS tetap berusaha menguasai berbagai sumber minyak di wilayah Timur Tengah dengan mengandalkan sekutu setianya, Arab Saudi. Sebab, bagi AS, tersedianya pasokan minyak secara aman dan lancar dari Timur Tengah sangat vital bagi kehidupan negara superpower yang berpenduduk 320 juta orang tersebut. Krisis minyak di AS pascaperang Timur Tengah pada 1973 lalu menjadi pelajaran sangat berharga akan pentingnya persediaan minyak bumi bagi negara adidaya itu.    

Apalagi, negara-negara Islam di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, Bahrain, dan Libya saat ini menguasai 75 persen cadangan minyak dunia yang mencapai 685,6 miliar barel. Sedangkan, cadangan minyak lainnya ada di negara-negara Amerika Tengah dan Selatan (98,6 miliar barel), Eropa dan Eurasia (97,5 miliar barel), Afrika (77,4 miliar barel), Amerika Utara, termasuk AS dan Kanada (49,9 miliar barel), dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia (38,7 miliar barel). 

Strategi AS untuk menguasai cadangan minyak dunia adalah dengan berusaha mengooptasi geopolitik dan geostrategis sumber-sumber minyak di Timur Tengah. Semua cara dilakukan AS untuk menguasai negara-negara Islam penghasil minyak dunia itu, seperti operasi intelijen, pengintaian, penyusupan melalui pasukan khusus, hingga invasi militer dalam skala penuh, seperti Afghanistan dan Irak.

Sementara itu, di Asia Selatan, para geolog AS sudah lama mengetahui melalui pengamatan satelit, jauh dibawah bumi Afghanistan yang terlihat tandus dan gersang itu terdapat cadangan minyak bumi luar biasa besarnya yang diperkirakan tidak kalah dengan Arab Saudi. Jika AS mampu menguasai Afghanistan dengan mengalahkan para pejuang Taliban, ke depannya Afghanistan akan menjadi rebutan berbagai perusahaan minyak raksasa AS. Sementara, perusahaan minyak Eropa hanya akan mendapat sebagian kecil meski negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO turut mengirim pasukannya ke Afghanistan.  

Selain itu, untuk melanggengkan penguasaannya atas cadangan minyak dunia yang sangat strategis, sampai 2003 tercatat AS telah menempatkan 75 persen kekuatan militernya yang total berjumlah 1,5 juta pasukan pada 730 basis militernya di lebih dari 50 negara di dunia, dan yang terbaru yaitu di Darwin Australia tahun depan.

Penempatan basis-basis militer tersebut memang disengaja tidak jauh dari sumber-sumber minyak, terutama di Timur Tengah dan wilayah strategis di Asia Pasifik. Untuk itu, dari tahun ke tahun AS terus menambah anggaran militernya. Sementara, anggaran tahun ini mencapai tiga triliun dolar.

Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kiblat politik luar negeri AS semakin diarahkan ke kawasan Asia Pasifik? Pertama, jelas untuk membendung kekuatan militer Cina yang semakin dominan di kawasan strategis itu. Kedua, AS merasa gagal dengan politik hegemoninya di Timur Tengah untuk membendung pengaruh Iran yang semakin kuat secara militer dan diplomasi. Ketiga, AS memiliki banyak pasukan dan pangkalan militer strategis di kawasan Asia Pasifik, bahkan Asia Tengah.

Selain membendung pengaruh Cina, AS diam-diam juga berusaha menghalangi pengaruh Rusia yang kembali bangkit pascaruntuhnya komunisme awal 1990 lalu. Keempat, perhatian AS terhadap Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia semakin besar. AS memandang Indonesia yang kaya akan barang tambang secara geopolitik dan geostrategi semakin penting untuk mendukung politik hegemoninya di kawasan Asia Pasifik, terutama untuk menghadapi pengaruh Cina yang diprediksi akan menjadi negara superpower baru pada pertengahan abad ini menggantikan AS. ●

Rabu, 23 November 2011

Mencermati Politik Luar Negeri Obama di Asia Pasifik


Mencermati Politik Luar Negeri Obama di Asia Pasifik

Asrudin, PENELITI DI LINGKARAN SURVEI INDONESIA (LSI) GROUP
Sumber : KORAN TEMPO, 23 November 2011



Ada yang menarik untuk dianalisis dari hasil kunjungan Presiden Barack Obama ke Australia, yakni tentangkomitmen politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik. Di Darwin,Australia, pada Kamis, 17 November lalu, Obama mengatakan, “Amerika adalah kekuatan Asia-Pasifik, dan kami di sini untuk tinggal. ”Komitmen ini dikatakan Obamasehari setelah Amerika-Australia sepakat untuk menempatkan 2.500 marinir AS mulai tahun depan (2012) di pangkalan militer Darwin.

Penempatan pasukan di Darwin adalah yang ketiga di kawasan Pasifik setelah pangkalan militer AS di Guam dan Okinawa, Jepang. Mengingat ketiga kawasan ini secara geografis melingkari wilayah Cina,wajarlah bila banyak pihak pada umumnya, dan Cina pada khususnya, menganggap hal ini sebagai taktik politik luar negeri AS untuk mengisolasi Cina di kawasan Asia-Pasifik.

Tapi Obama menyangkal tuduhan-tuduhan tersebut dengan mengatakan, “Kami tidak takut dan tidak mengisolasi Cina.” Sangkalan Obama ini seakan ingin menegaskan politik luar negeri AS yang lebih mengedepankan pendekatan idealisme politik daripada realisme politik di kawasan Asia-Pasifik. Artinya, AS tidak bermaksud melakukan politik isolasi terhadap Cina (realisme politik). Karena, selain marinir, kata Obama, Angkatan Udara AS juga secara rutin akan melakukan penerbangan di Australia untuk merespons bencana alam dan masalah kemanusiaan secara efektif (idealisme politik).

Politik Luar Negeri Obama

Ciri utama politik luar negeri AS sejak 1940-an hingga kini dibentuk oleh dua tradisi besar dalam ilmu hubungan internasional, yaitu realisme politik dan idealisme politik.

Tradisi realisme politik berkembang di era Perang Dingin, di mana tujuan utamanya adalah untuk melakukan politik pembendungan terhadap Uni Soviet, yang dinilai
membahayakan supremasi kekuasaan AS di dunia. Sementara itu, tradisi idealisme
politik berkembang pada era pasca-Perang Dingin, di mana tujuan utama politik
luar negeri AS diarahkan untuk melakukan ekspansi kebebasan/demokrasi ke seluruh
penjuru dunia.

Richard N. Haas (2009), Presiden Council on Foreign Relations, pernah mengatakan
bahwa politik luar negeri Obama itu lekat dengan tradisi realisme politik ketimbang idealisme politik. Penilaian Haas itu didapatkan setelah melakukan studi banding politik luar negeri Obama dan politik luar negeri George Bush, yang beraliran realisme politik (sang ayah), dengan politik luar negeri George W. Bush, yang beraliran idealisme politik (sang anak).

George Bush dan George W. Bush adalah presiden AS yang telah menceburkan AS ke Perang Irak. Tapi ada yang membedakan keduanya dalam hal motif/tujuan Perang Irak. Motif/tujuan Presiden Bush (sang anak) melancarkan Perang Irak 2003 adalah untuk mengganti rezim pemerintahan. Ia berharap penggantian rezim di Bagdad bakal berujung pada terbentuknya Irak yang demokratis. Sebagai penganut paham idealisme politik, Bush tentu berharap, dengan demokratisnya Irak, negara ini akan menjadi lebih bersahabat dengan AS.

Sementara itu, politik luar negeri Presiden Bush (sang ayah) dalam Perang Irak sebelumnya adalah untuk membebaskan Kuwait dari aneksasi Irak. Setelah berhasil membebaskan Kuwait, AS justru tidak terus bergerak maju menuju Bagdad dan menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein, seperti apa yang telah dilakukan oleh anaknya. Bush di sini tampaknya hanya tertarik pada strategi realisme politik yang tidak ingin melihat negara lain unjuk kekuatan/kekuasaan yang dapat mengganggu kepentingan AS di Kuwait.

Dalam konteks itu, Presiden Obama rupanya lebih bersepakat dengan pendekatan realisme politik Bush (sang ayah) dibandingkan dengan pendekatan idealisme politik
Bush (sang anak). Dalam politik luar negeri AS di Afganistan, misalnya, Presiden Obama sama sekali tidak menyinggung soal mengubah negara itu menjadi demokratis.
Di Afganistan, Obama hanya tertarik untuk menghancurkan Al-Qaidah, yang selama ini telah mengganggu kepentingan/kekuasaan AS.

Merujuk pada politik luar negeri realisme politik Obama sebelumnya, maka pernyataan Obama yang menyebut “AS adalah kekuatan Asia-Pasifik”dapat dipahami sebagai unjuk kekuatan AS terhadap Cina, yang selama ini dipandang agresif di kawasan Pasifik; dan pernyataan Obama yang menyebut “AS tidak takut terhadap Cina” adalah
penegasan Obama untuk memperingatkan Cina bahwa AS tidak gentar dengan kemajuan teknologi militernya yang di awal 2011 telah berhasil mengembangkan dan
meluncurkan rudal balistik yang jarak jangkauannya mampu mencapai pangkalan militer AS di Okinawa dan Guam, Jepang. Pada intinya, penempatan pasukan marinir
AS di Darwin itu ditujukan untuk meredam kekuatan Cina yang semakin merajalela di kawasan Asia-Pasifik.

Implikasi

Meskipun Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa mengatakan Indonesia dan ASEAN tidak merasa terganggu dan terancam oleh keputusan penempatan pasukan AS tersebut dan tidak akan membiarkan Asia Tenggara menjadi ajang persaingan negara-negara kuat, seperti AS dan Cina, tetap ada implikasi yang dapat merugikan Indonesia dan ASEAN akibat dari taktik politik luar negeri Obama di kawasan Asia-Pasifik.

Implikasi pertama terkait dengan kedekatan geografis wilayah Darwin, di mana pasukan marinir AS ditempatkan, dengan wilayah Indonesia bagian Timur, Papua, dan Maluku, yang secara potensial rawan akan gerakan separatismenya. Siapa yang bisa menjamin bahwa AS dan Australia tidak mengamati aktivitas kita dan memiliki agenda tersembunyi? Apalagi Indonesia pernah memiliki pengalaman pahit terhadap Australia karena mendukung disintegrasi Timor Leste dari Indonesia pada 1999 (Herry Juliartono, 2011).

Implikasi kedua adalah jangan sampai persepsi positif Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura (sebagai anggota ASEAN) terhadap penempatan pasukan AS ini dipandang
negatif oleh Cina. Dan ini dapat berakibat bagi relasi Cina-ASEAN ke depannya. Apalagi Cina telah berjasa bagi ASEAN dengan inisiatifnya menyediakan bantuan dana sebesar US$ 10 miliar untuk kepentingan kerja sama ASEAN-Cina.

Sangat jelas, taktik politik luar negeri realisme politik Obama cukup efektif untuk menunjukkan AS sebagai kekuatan Asia-Pasifik. Cina pun memiliki pengaruh kuat bagi ASEAN dengan sejumlah bantuan dananya. Implikasi utama dari semua ini adalah, Indonesia dan ASEAN akan terancam, terganggu, dan menjadi obyek dari pengaruh dua kekuatan utama yang bersaing antara AS dan Cina di kawasan Asia-Pasifik. ● 

Sabtu, 19 November 2011

Sindrom Australia


Sindrom Australia

James Luhulima, WARTAWAN KOMPAS
Sumber : KOMPAS, 19 November 2011


Situasi di sekitar KTT ASEAN ini menarik untuk diamati, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Sebelum hadir di KTT Ke-19 ASEAN yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton berkunjung ke Filipina. Sementara Presiden Amerika Serikat Barack Obama singgah di Australia.

Di Filipina, di atas kapal perang USS Fitzgerald, Clinton berjanji akan mendukung Filipina secara militer. Dalam kunjungan ke bekas negara jajahannya itu, Clinton juga menandatangani sebuah deklarasi untuk menandai 60 tahun perjanjian keamanan antara Amerika Serikat dan Filipina.

Janji Clinton ini menjadi menarik karena Filipina dan beberapa negara anggota ASEAN lain tengah bersoal dengan China di Laut China Selatan. Menghadapi China yang raksasa, Filipina merasa perlu untuk mendapatkan dukungan Amerika Serikat, negara raksasa lain.
Dengan jumlah penduduk sebesar 1,35 miliar orang, China memang merupakan negara raksasa apabila dibandingkan dengan Filipina yang penduduknya hanya 93,6 juta orang.

Alasan Filipina meminta perlindungan Amerika Serikat mungkin bisa dipahami mengingat ketegangan di Laut China Selatan, akhir-akhir ini, memang meningkat. Laut China Selatan menjadi perairan tumpang tindih klaim wilayah banyak negara, seperti Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei, dan China.

Di Australia, Presiden Obama mengumumkan kesepakatan keamanan baru dengan Australia, yang dianggap banyak kalangan sebagai tanggapan atas perilaku China yang akhir-akhir ini semakin agresif.

Lewat perjanjian keamanan baru itu, Amerika Serikat akan memperbesar kehadiran militernya di Australia. Sekitar 250 personel marinir Amerika Serikat akan memulai rotasi di Australia utara, tahun depan, hingga total personel militer di wilayah itu nantinya mencapai 2.500 orang.

Bagi Amerika Serikat, kawasan Asia Tenggara, yang merupakan bagian dari Asia Pasifik, kawasan yang lebih luas, sangat penting. Lebih dari 80 persen ekspor dan impor Amerika Serikat diangkut melalui kawasan ini. Itu sebabnya, Amerika Serikat menjaga kawasan ini dengan mengoperasikan Armada VII Amerika Serikat yang bermarkas di Yokohama, Jepang, dan rentang garis operasinya dari Diego Garcia (Lautan Hindia) hingga Guam (Lautan Pasifik).

Pada masa Perang Dingin lalu antara Barat dan Timur, Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di Thailand dan Filipina, yang kemudian ditutup seiring dengan pudarnya Perang Dingin dan runtuhnya komunisme. Pada saat ini, Armada VII menggunakan fasilitas pelabuhan di Singapura untuk kepentingan logistik dan pertukaran personel. Secara terbatas, militer Amerika Serikat juga hadir di Australia.

Lalu, pertanyaannya, mengapa Australia memerlukan Amerika Serikat untuk menjamin keamanannya? Sebagai negara benua yang berbatasan dengan Benua Antartika di selatan, Australia sejak awal selalu memersepsikan musuh bagi negaranya akan datang dari utara.

Namun, jika disebutkan potensi ancaman terhadap Australia akan datang dari utara, Indonesia tidak perlu merasa tersinggung karena Australia memang tidak pernah menganggap Indonesia sebagai ancaman bagi keamanan negaranya.

Dr Paul Dibb, akademisi dari Lembaga Pertahanan, Australian National University, yang pada tahun 1980-an diminta membuat laporan tentang peninjauan pertahanan Australia, sama sekali tidak mencantumkan Indonesia sebagai ancaman.

Australia selalu menganggap China sebagai ancaman. Dalam ceramahnya di Jakarta, Dr David Walker, dosen tamu di Universitas Indonesia tahun 1986, mengatakan, anggapan itu tidak didasarkan atas sejarah berdirinya Australia. Kekhawatiran itu lebih bersumber dari sedikitnya penduduk yang berdiam di negara benua yang wilayahnya sangat luas. Ia menyebut kekhawatiran itu sebagai sindrom Australia.

Australia yang penduduknya sangat sedikit apabila dibandingkan dengan luas wilayah negaranya khawatir melihat China yang penduduknya sangat padat. Kekhawatiran itu, menurut David Walker, bertambah karena di masa lalu China menjadi motor dari komunisme internasional di Asia.

Gerakan tentara Jepang ke selatan pada Perang Pasifik (1942-1945), hingga mencapai Papua Niugini, membuat Australia merasa bahwa negaranya tidak benar-benar aman terhadap serangan dari utara. Walaupun di utara Australia ada Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Itu sebabnya Australia memperluas rentang garis pertahanan keamanannya hingga 3.000 kilometer. Bahkan, lewat kerja sama pertahanan lima negara dengan Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, dan Selandia Baru, Australia menempatkan pesawat tempur di Butterworth, di utara Kuala Lumpur. ●