Tampilkan postingan dengan label Menteri Susi - Mendobrak Formalitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menteri Susi - Mendobrak Formalitas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Susi: Antara Status, Pendidikan, Rokok, dan Tato

Susi: Antara Status, Pendidikan, Rokok, dan Tato

Dedi Mulyadi  ;  Bupati Purwakarta
KORAN SINDO, 03 November 2014
                                                
                                                                                                                       


Jagat Indonesia diguncang peristiwa penting, yaitu pengumuman dan pelantikan Kabinet Kerja Jokowi-JK. Guncangan terjadi karena banyaknya tokoh yang diramalkan menduduki kursi kabinet dengan segenap analisis yang disampaikan. Namun sayang, seluruh analisis itu tak terbukti. Rupanya ucapan atau komentar menjadi hilang ”kesaktiannya”. Teu saciduh metu saucap nyata (apa yang diucap itu tidak terjadi), ketika dipakai di arena yang sebenarnya. Makanya kalau punya ilmu tinggi jangan diumbar ilmunya, sebaiknya diamalkan di tempat yang sebenarnya agar ilmunya berwujud.

Guncangan yang paling besar dalam jagat politik kita dengan munculnya secara tibatiba tokoh wanita dari pantai selatan, Nyai Ratu Laut Kidul yang memiliki kemampuan mengoperasikan pesawat-pesawat kecil ke berbagai daerah terpencil di Indonesia serta memelihara lobster dan menjualnya memakai pesawat ke berbagai negara.

Nyai Ratu itu bernama Susi Pudjiastuti, tokoh yang tidak asing lagi dalam bisnis penerbangan pesawat perintis. Ingat Aceh, ingat Nias, ingat Papua, maka Susi Air-lah yang pertama mendarat. Guncangan itu terjadi karena Teh Susi, bukan seorang politisi atau pengamat politik, atau akademisi, tapi hanya seorang wanita dari pantai selatan yang tamat SMP dan pernah bersuamikan orang asing, janda, dan single parent tapi mampu mengelola bisnis, terpilih menjadi menteri... Tah ieu nu matak rame teh (Nah , ini yang bikin rame ).

Maka berbagai analisa kembali muncul. Kunaon (kenapa) lulusan SMP bisa jadi menteri? Kunaon atuh nu ditato bisa jadi menteri? Kunaon atuh nu udud (merokok) bisa jadi menteri? Pertanyaan itu bergemuruh menjadi wacana akademis, wacana sosial, sampai wacana warung kopi. Pokona mah heboh lah... (Pokoknya heboh deh ...) Ceuk kuring nu urang lembur, justru kudu tibalik pananyana... kunaon atuh nu S-1, S-2, S-3 jeung profesor sakolana laluhur (Kata saya yang orang kampung, justru jadi terbalik pertanyaannya. Kenapa yang S-1, S-2, S-3, dan profesor yang sekolahnya tinggi) tidak bisa berbisnis sesukses Bu Susi? Kenapa orang yang kencang ngomong kesetiakawanan sosialnya dan sering menyeminarkan kesalehan sosial tidak mampu terjun bebas ke tempattempat yangdilanda bencana, sedangkan mereka membutuhkan sarana komunikasi, bahan pangan, jaringan air bersih, bahkan sampai kabel listrik.

Justru Teh Susi mampu melakukan itu, bahkan Teh Susi mampu mendongkrak sektor perikanan dengan menjual produk dengan pesawat nya sendiri keluar negeri, sehingga ekspor perikanan kita terdongkrak. Lamun kieu urang nu kudu era, ngaku pinter, ngomong pertentang, nulis hebat, ari palebah prak, beut eleh ku Teh Susi nu tamat SMP, ku awewe urang lembur sisi laut Pangandaran ceuk Doel Sumbang mah... (Kalau begini kita yang mesti malu, mengaku pintar, bicara lantang, menulis hebat, tapi begitu praktek, malah kalah oleh Teh Susi yang tamat SMP, oleh wanita perdesaan dari pesisir Laut Pangandaran).

Bangsa kita sudah terlalu terbiasa membangun formal kesalehan, sehingga kesalehan seseorang selalu dinilai dari tata bahasa, tata busana, dan sejenisnya. Formalitas seperti ini hanya akan melahirkan kesalehan semu yang diukur oleh aspek yang bersifat terlihat.

Ceuk urang Sunda mah, urang teh loba kabobodo tenjo kasamaran tingal, nu lain dienya-enya nu enya dilain-lain, ari oray diparaehan ari oorayan diingu, atuh beurit nerekab di mamana tepi ka panen gagal (Kata orang Sunda, kita ini banyak tersamar pandangan, yang salah dianggap benar yang benar dianggap salah, ular yang asli dibunuh sementara ular-ularan dipelihara, jelas saja tikus tersebar di mana-mana hingga panen menjadi gagal). Kalau pakai jubah, dialah seorang santri, dialah beriman.

Kalau pakai dasi dan jas, dialah pengusaha sukses. Kalau ngomongnya bisa berputar-putar, dialah orang pandai, karena salah dalam menilai banyak korban yang berjatuhan. Contoh yang paling menghebohkan adalah ketika muncul eksekutif muda dengan bahasa yang membingungkan, itulah dia Vicky Prasetyo.

Berapa wanita cantik yang terjatuh dalam pelukan cintanya, karena terbuai oleh saudagar kaya yang pandai tiada tanding, hehehe... kacian deh lu ... Teh Susi bertato, tidak usah di permasalahkan, siapa tahu tatonya adalah ekspresi dari jiwa nya yang bebas dan terbuka. Justru dia adalah pribadi yang jujur, yang memperlihatkan dirinya yang sebenarnya, tidak ditutup-tutupi, tidak pura-pura. Pandangan orang terhadap tato yang harus segera diubah.

Zaman dahulu ketika ada petrus atau penembak gelap, banyak penjahat yang bertato terbunuh. Sehingga orang baik pun karena bertato secara psikologis mengalami ketakutan yang luar biasa, sampai badan dan tangannya harus diseterika agar tatonya hilang. Padahal tidak semua orang yang tidak bertato itu baik, kalau hatinya penuh gambar, sehingga ucapannya sering menyakiti orang lain, kebijakannya tidak membuat masyarakat menjadi sejahtera.

Saatnya tato dalam hati dibersihkan. Tato bukan barang asing, bahkan itu adalah produk asli Indonesia. Orang Dayak terkenal dengan seni tatonya yang sangat tinggi. Tinggal sebagai menteri kelautan, Teh Susi harus membawa tato dari Dayak agar digemari di negara-negara seberang. Sekarang urusan merokok. Memang dalam kebudayaan kita, merokok itu dianggap kebiasaan laki-laki, agak jarang perempuan yang merokok.

Tetapi saat ini batas tugas laki-laki dan perempuan itu hampir tipis, kecuali urusan melahirkan yang tidak bisa dilakukan laki-laki. Banyak pekerjaan laki-laki yang diambil alih oleh wanita, apalagi Teh Susi, sebagai pebisnis tangguh di bidang kelautan dan penerbangan perintis tentunya harus tumbuh menjadi leader yang kuat yang dihadapi adalah kaum laki-laki yang berbadan tegap dengan aneka ragam bahasa dan kebudayaan.

Pemimpin yang mengayomi semua kepentingan dan keinginan akan melahirkan pola hidup yang dinamis dan adaptif terhadap seluruh keadaan dengan satu visi yang kuat bahwa target-target yang ditetapkan harus tercapai sesuai dengan keinginan bahkan harus melampaui keinginan yang digariskan. Rasa jenuh, rasa sendiri, rasa hampa kadang akibat segudang beban dan persoalan dalam hidup, rokok kadang menjadi teman setia untuk melahirkan gagasan-gagasan orisinal dan inovatif.

Kita tahu banyak seniman yang  tidak bisa berkreasi kalau tidak ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi. terpenting, rokok dan kopinya asli buatan Indonesia. Masih urusan merokok, saya justru mendukung Teh Susi karena hari ini para petani tembakau kita mengalami kegelisahan akibat tekanan internasional yang menyudutkan berbagai produk tembakau yang dianggap memberi sumbangsih terhadap penurunan derajat kesehatan masyarakat.

Tetapi saya juga aneh, kenapa di kampung-kampung tukang kayu yang aki-aki merokok dengan tembakau asli, pakai daun kawung atau kertas papir, tentunya kadar nikotinnya tinggi. Mereka umurnya pada panjang-panjang dan produktif di usia 80-90 tahun. Tetapi orang yang sangat bersih badannya, tegap langkahnya, rajin olahraga, banyak yang kena serangan jantung di usia muda atau kena penyakit tekanan darah tinggi atau stroke.

Saya tidak tahu tesis mana yang benar, yang jelas saat ini sentimen negatif terhadap rokok lebih tinggi dibanding sentimen negatif terhadap minuman keras. Coba kita bandingkan, jawab sing jujur, lebih bahaya mana rokok dengan minuman keras? Ayo jawab! dan uang kita habis pakai beli minuman keras impor di klub-klub malam di berbagai tempat dengan harga yang sangat mahal, menggerus devisa. Geus mah ngalieurkeun, rusak deuih rupiah aing.... (sudah bikin pusing kepala dan rupiah kita).

Jadi yang harus dilakukan bukannya ribut menyalahkan Teh Susi, tapi harus sibuk membenahi diri kita dan sistem pendidikan kita. Kenapa tidak bisa melahirkan banyak Susi Pujiastuti di Republik ini? Sehingga kita menjadi bangsa yang berjaya. Sudah saatnya sekolah dirombak berbasis kurikulum produktif, kurikulum pertanian, kurikulum kelautan, kurikulum perikanan, kurikulum pariwisata, kurikulum kehutanan, kurikulum industri, kurikulum sepak bola.

Dibanding kurikulum penuh buku, bikin pusing siswa, bikin pusing orangtua, dan hanya bikin senang percetakan. Heuheuy deudeuh... Pokona mah Wilujeng Sumping (Selamat Datang) Nyi Ratu Laut Kidul. Bralah, geuragawe nurancage... (Tunjukkan kemampuanmu...) ●

Susi

Susi

Arswendo Atmowiloto  ;  Budayawan
KORAN JAKARTA, 01 November 2014
                                                
                                                                                                                       


Nama Susi jadi puncak perhatian akhir-akhir ini. Susi who? Susi siapa, Susi yang mana? Tidak, tak ada pertanyaan itu karena semua maklum bahwa yang dimaksudkan adalah (Ibu) Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan. Adalah beliau yang di antara 34 menteri paling menyerap perhatian sejak namanya diumumkan. Perhatian dalam arti kekaguman atau juga keraguan akan kemampuannya. Dan tak memengaruhi yang bersangkutan. “Dulu saya dipanggil Susi Gila,” tuturnya di depan anggota Kamar Dagang Industri, setelah jadi menteri. Itu karena mengirim SMS, sandek, ke-10 kementerian, teriak-teriak. Hasilnya bagaimana, entahlah. “Tapi, sekarang, pemerintah sebut kita perlu orang gila untuk membuat gebrakan.”

Gila atau gebrakan, barangkali akan mewarnai dan membingkai kiprahnya. “Sekarang kerjaan banyak, gaji sedikit.” Konon, hanya 1 persen dari gajinya di Susi Air. Padahal Susi Air - usaha penerbangan di daerah terpencil bukan satusatunya bisnis yang dijalani. Ini hanya salah satu dari sedikit kisah yang kini bertebaran kembali, termasuk gambarnya ketika menggendong penumpang, ketika menjelaskan usahanya, atau memperlihatkan gambar, beberapa, suaminya.

Susi, yang menteri dan pengusaha, sebenarnya sudah lamaaaaaa menarik media. Beberapa tahun lalu, saya bersama beberapa redaktur koran ini mengatur waktu untuk bertemu dan wawancara habis-habisan dengan beliau, dalam rangka memilih sebagai tokoh nasional tahun itu. Secara pribadi, saya pernah ditawari naik pesawatnya dari Jakarta ke Pangandaran. Karena ajakannya mendadak, saya menolak dengan alasan ada janji. “Nggak apa, datang bentar lalu pulang. Diantar.” Spontan, percaya diri, hangat merupakan kesan pertama. Juga selanjutnya.

Tawaran dan atau undangan itu tak memengaruhi sikapnya. Bahwa ketika itu baru ada kecelakaan salah satu pesawatnya di bagian timur. Juga hari-hari awal keberadaan di Kabinet Kerja. Banyak hal dipersoalkan: kebiasaan merokok, riwayat pernikahan yang lebih dari sekali, bertato. Banyak yang menyayangkan, meragukan, dan mengusulkan agar Ibu Menteri mengenakan jilbab. Pada titik ini sesuatu berbalik. Yang menyeruak ke permukaan - terutama media sosial - adalah perbandingan dengan gubernur perempuan yang cantik, berjilbab, tidak merokok, tidak bertato (tapi diralat mungkin sekali alisnya bertato), yang terlibat kasus korupsi. Bahkan ditahan, dijatuhi hukuman.

Demikian juga mengenai latar belakang pendidikannya yang tak selesai Sekolah Menengah Atas. Demikian juga mengenai usahanya. Demikian juga mengenai kisah masa lalu dengan suami-suaminya. Demikian juga masih ada yang lainnya. Tapi serentak dengan itu, masyarakat yang selama ini mudah terseret satu isu besar, ternyata tidak asal ikutan. Justru sebaliknya. Perlawanan dengan mengontraskan dengan seorang gubernur yang lebih dalam norma-norma yang selama diterima sebagai standar tinggi, adalah wujud nyata.

Bahwa pada dasarnya lebih memilih tokoh untuk dianut yang jujur - walau kurang pendidikan formal, kurang feminin, terkesan kurang santun, dibandingkan dengan tokoh yang “kinyis-kinyis’, tapi ternyata “lamis”, atau bohong. Kejujuran lebih dihargai dibandingkan pencitraan. Kesederhaan lebih mengena dibandingkan berlebihan. Kerja lebih bermakna dibandingkan berwacana. Dan sesungguhnya, saya merasakan ini suatu langkah kemajuan yang besar.

Bahwa di antara meributkan hal-hal yang pribadi seperti kisah perkawinan atau latar belakang pendidikan atau pakai tato, ada pendekatan berbeda dalam menyikapi persoalan. Dan alangkah menariknya manakala ini menjadi tanda kedewasaan kita semua. Satu lagi kalimatnya: “Saya tak bisa disuap.” Kata-kata yang tak bersayap, tak memerlukan tafsiran lain. ●

Selasa, 04 November 2014

Puja-Pudji(astuti)

Puja-Pudji(astuti)

Refly Harun  ;  Pengajar dan Praktisi Hukum Tatanegara
DETIKNEWS, 03 Desember 2014
                                                
                                                                                                                       


If you lose your integrity, you will have no freedom anymore                             (Susi Pudjiastuti, 29 Oktober 2014)

Menanggapi susunan kabinet yang diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Minggu, 26 Oktober 2014, saya menulis “Kabinet Nano Nano”. Nano Nano, kita tahu semua, adalah merek permen yang berasa manis, asam, asin sehingga dikatakan ramai rasanya, atau bisa dikatakan pula sejuta rasanya.

Sejujurnya begitulah perasaan saya ketika menyimak perkenalan anggota kabinet pada Minggu sore tersebut. Salah satu alasannya, sejujurnya pula, saya tak kenal semua nama menteri yang diumumkan, yang berbaju serba putih, persis mahasiswa baru yang mengikuti pekan orientasi.

Dalam pandangan saya, nama-nama yang diumumkan tersebut harusnya jagoan di bidangnya masing-masing, yang track record-nya telah dikenal publik untuk bidang tersebut. Selain nama-nama asing, yang saya kenal pun ternyata beberapa di antaranya tidak ditempatkan pada bidang yang selama ini digeluti. Tidak the right person on the right track. Passion (gairah) mereka terhadap bidang atau urusan yang dipercayakan kepada mereka patut diragukan. Passion menjadi penting karena tuntutan Presiden Jokowi adalah kerja, kerja, dan kerja sejak hari pertama.

Presiden Jokowi sendiri sebelumnya telah mengumumkan bahwa kabinet yang akan ia umumkan terdiri dari para profesional, baik yang berasal dari dalam maupun luar parpol. Artinya, kendati orang parpol diakomodasi, hal itu masih dalam koridor profesionalisme. Nyatanya, Presiden Jokowi harus berkompromi pada realitas. Das sein (yang senyatanya) selalu berbeda dengan das sollen (yang seharusnya). Beberapa menteri dari parpol seperti bidak catur, yang digeser ke sana kemari sebelum mendapatkan tempat yang dinilai tepat.

Heboh Susi

Dari yang tidak dikenal tersebut ada nama Susi Pudjiastuti yang diumumkan sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Sebagian pembaca mungkin sudah mengenal sosok ini, tetapi terus terang saya belum tahu. Maskapai Susi Air pernah secara sayup-sayup saya dengar, tetapi tidak menempel di benak. Tidak seperti maskapai penerbangan Garuda atau Lion.

Minat saya pun tidak pada bidang kelautan dan perikanan, atau kemaritiman dalam bahasa Presiden Jokowi. Bersama frase “revolusi mental”, “kemaritiman” menjadi mantra azimat kepresidenan Jokowi. Tidak heran pula ada jabatan baru terkait bidang itu, yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang dijabat Indroyono Soesilo.

Begitu diperkenalkan, Susi telah menghebohkan publik. Merokok di lingkungan istana dan kakinya yang bertato menjadi pergunjingan hangat. Satu tambahan lagi, sang menteri ternyata hanya sekolah menengah pertama alias SMP! Sependek pengetahuan penulis, baru kali inilah ada menteri yang cuma tamat SMP. Entah dengan para menteri di era revolusi kemerdekaan yang ditunjuk Bung Karno pada tahun 1945. Keunikan tersebut, kalau mau dikatakan demikian, telah menyebabkan Susi menjadi populer, tidak saja di antara menteri-menteri perempuan yang jumlahnya delapan orang – terbesar selama era reformasi – melainkan pula di antara semua menteri. Berita tentang Susi tak kunjung habis. Rokok, tato, dan SMP menjadi pergunjingan.

Namun, semua hal di atas terlalu kecil untuk dapat menutupi ‘keunikan’ lain dari menteri dengan pendidikan rendah ini. Susi adalah pengusaha sukses di bidang perikanan dan penerbangan. Dari seorang bakul ikan yang mesti berkelahi dengan dominasi para pria di bisnis tersebut, Susi menjelma menjadi juragan pesawat yang mampu menembus banyak daerah sulit dari Sabang sampai Merauke, daerah-daerah yang tak mampu dihinggapi maskapai-maskapai besar seperti Garuda dan Lion.

Ketika menyatakan menteri harus memiliki passion, saya tak ragu mengatakan bahwa Susi adalah satu di antara mereka. Bidang kelautan dan perikanan, bila dirunut dari latar belakang hidupnya, sepertinya sudah menjadi darah bagi Susi. Bila banyak menteri lain masih meraba-raba apa yang akan dilakukan, Susi sudah menggebrak dengan aturan masuk pukul 07.00 WIB dan pulang lebih cepat setengah jam menjadi pukul 15.00 WIB bagi pegawai Kementeri Kelautan dan Perikanan (KKP).

Saya meyakini akan banyak lagi gebrakan sang menteri karena ia bekerja dengan pengalaman mumpuni dan passion yang dahsyat. Pendidikan dan gelar akademik menjadi terlalu kerdil berhadapan dengan gairah Susi yang dibentuk dari pergulatan panjang terhadap dunia kelautan dan perikanan. Selain itu, Susi tampak punya jiwa kepemimpinan yang kuat – “tampak” karena saya tak mengenal dari dekat. Yang terpenting, Susi tidak mencari makan dengan menjadi pejabat publik. Ia orang yang sudah selesai dengan kehidupan ekonominya sebelum menjadi menteri, sementara banyak pejabat publik justru menjadi pemburu rente ketika menjabat dengan mantra “aji mumpung”.

Conflict of Interest

Ketika Indonesian Corruption Watch (ICW) mengumumkan ada 21 menteri yang potensial mengidap conflict of interest (konflik kepentingan), saya meyakini Susi pasti salah satu yang ditengarai – ICW sendiri tidak menyebut nama-nama menteri yang dimaksud. Publik pun dengan gampang akan menilai demikian. Bagaimana tidak, bisnis Susi di bidang perikanan dan dia menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Sudah pasti kemungkinan konflik kepentingan itu besar.

Di era Presiden SBY pertama (2004-2009), misalnya, ada pengusaha yang
menjadi menteri. Laporan sebuah majalah menyatakan bahwa usaha sang usahawan sedang turun drastis, kepemilikan saham di holding company-nya juga menyusut. Namun, ketika ia masuk kabinet dengan jabatan strategis, kekayaannya langsung meningkat pesat, bahkan sempat ditahbiskan sebagai orang terkaya se-Nusantara.

Pengusaha yang menjabat menteri bisa saja memanfaatkan jabatannya untuk lebih memperluas usahanya. Bukan rahasia lagi, proyek-proyek pemerintah kerap jatuh ke tangan keluaga atau kolega pejabat negara. Bahkan ada pula yang menggunakan taktik Ali-Baba. Ali yang mencarikan proyek karena memiliki kekuasaan, Baba yang mengerjakan karena punya modal dan keahlian, plus keberanian.

Untuk meyakinkan publik, segera setelah dilantik, Susi menyatakan mundur dari semua perusahaan yang ia miliki. Saya yakin, tidak semua kita percaya begitu saja bahwa Susi benar-benar tidak cawe-cawe lagi di perusahaannya selama menjadi menteri. Namun, yang perlu kita lihat dari Susi adalah apakah dia akan memanfaatkan jabatan untuk melancarkan dan membesarkan bisnisnya. Saya berharap tidak karena saya sudah kadung “jatuh cinta” dengan menteri nyentrik ini.

Ketika diwawancarai Metro TV pada tanggal 29 Oktober 2014, Menteri Susi meyakinkan bahwa dia tidak akan memanfaatkan jabatannya. Ia sangat menekankan dengan kebanggaan dan integritas karena, menurutnya, itulah yang ia punya. “If you lose your intergrity, you will have no freedom anymore,” katanya dengan bahasa Inggris sangat lancar. Bahkan, ia berkomitmen untuk mundur sebagai menteri bila tidak mampu menjaga integritasnya. Rasanya belum ada menteri Jokowi yang membuat pernyataan seperti itu.

Mudah-mudahan eksperimen Presiden Jokowi dengan menteri tamat SMP ini berbuah sukses, agar semua kita sadar bahwa tempat belajar yang terbaik bukan hanya dari bangku sekolah, melainkan dari kehidupan itu sendiri. Selamat bekerja Bu Susi. Semoga jala nelayan kita penuh dengan ikan hari ini. ●

Minggu, 02 November 2014

Mendobrak Formalitas

Mendobrak Formalitas

Anton Kurnia  ;  Lulusan SMA, Editor-in-Chief Penerbit Serambi
KORAN TEMPO, 01 November 2014
                                                
                                                                                                                       


Salah satu karakter menonjol dari Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah keberanian mendobrak formalitas. Itu sudah tampak sejak pengumuman para menteri di Istana Merdeka, 26 Oktober lalu. Pada momen itu, para menteri terpilih tampil senada dengan kemeja putih yang tampak kasual dengan lengan tergulung dan sebagian dibiarkan lepas ujungnya, tak dimasukkan ke pantalon. Gaya bersahaja ini memberi kesan kesiapan bekerja keras tanpa terhambat oleh formalitas. Gestur yang seakan-akan menafikan aturan formal itu memang telah lama melekat pada sosok Jokowi.

Saat pelantikan anggota kabinet, 21 Oktober, suasana formal yang biasanya disimbolkan dengan seragam setelan jas para menteri (khususnya untuk pria) juga diterobos dengan kode busana yang berbeda, tapi justru sebetulnya lebih bernuansa Indonesia, yakni batik bernuansa cokelat yang sengaja tidak dibikin seragam. Selain mencerminkan budaya khas Indonesia (batik) dan melambangkan keragaman Nusantara (tampak dari corak yang beraneka), baju batik lebih nyaman dipakai ketimbang setelan jas double breast gaya Eropa di iklim tropis seperti Indonesia yang cenderung panas.

Aroma keberanian mendobrak formalitas juga tampak dari para menteri yang dipilih Jokowi sebagai pembantunya. Ini terutama berlaku bagi sosok Susi Pudjiastuti, pengusaha perikanan dan penerbangan berlatar otodidak, yang dipercayai memimpin Kementerian Perikanan dan Kelautan. Penunjukan Susi memicu kontroversi karena dia "hanya" lulusan SMP. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang nyeleneh: bertato (saat dilantik menjadi menteri, rajahan di betisnya tersingkap dari balik kain batiknya) dan perokok (dia diwawancarai wartawan sambil lesehan dan merokok di halaman Istana Merdeka).

Pendobrakan formalitas yang sesuai dengan semboyan "revolusi mental" itu tentu mengejutkan mereka yang terbiasa oleh simbol-simbol formal dan kultur basa-basi yang menafikan substansi.

Sayangnya, alih-alih menyorot program kerja, keributan di seputar Susi lebih mengarah ke sosok pribadi. Hal itu berkaitan pula dengan kebiasaannya yang konon kerap tampil tanpa bra-yang dianggap tak senonoh-dan pernikahannya yang ketiga dengan seorang pilot berkebangsaan Jerman-yang dianggap sebagai bukti bahwa dia tidak nasionalis. Tapi yang paling kontroversial tentu saja pendidikan formalnya yang dianggap amat rendah dan karena itu kompetensinya diragukan.

Sesungguhnya, fenomena Susi, yang tak menyelesaikan pendidikan SMA untuk terjun ke sekolah kehidupan sebagai entrepreneur dan merintis usaha dari bawah sebagai pengepul ikan di pantai Pangandaran, hingga berhasil menjadi eksportir udang dan memiliki maskapai penerbangan Susi Air, justru menunjukkan kehebatannya sebagai seorang manajer serta pribadi yang gigih dan mau bekerja keras demi mencapai keberhasilan. Seperti pernah dinyatakan Tan Malaka, ijazah hanyalah tanda kecakapan. Namun keberhasilan dicapai melalui kemauan untuk bekerja dan pengabdian.

Selayaknya, kita sambut kabinet ini dengan harapan agar mereka mampu bekerja keras demi kesejahteraan rakyat. Selanjutnya, mari kita nilai para menteri dari kinerja mereka, bukan dari simbol-simbol formal yang acap menipu dan menyesatkan. ●