Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 November 2014

Mengenang KH Wahab Hasbullah

Mengenang KH Wahab Hasbullah

Mohammad Affan  ;  Peneliti pada Forum Kajian Islam dan Politik
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
REPUBLIKA, 11 November 2014
                                                
                                                                                                                       


Umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdliyin, patut bersyukur. Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang juga pejuang kemerdekaan, KH Abdul Wahab Hasbullah, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dalam rangka peringatan Hari Pahlawan tahun ini.

SK penetapan diberikan Presiden RI Joko Widodo, Jumat (7/11), di Istana Merdeka dan diterima perwakilan keluarga, salah satunya Romahurmuziy yang juga politisi PPP. Gelar pahlawan itu telah diusulkan sejak 1989 di masa Orde Baru. Usulan itu tidak mendapat respons pemerintah, lalu kembali diusulkan pada 2012.

Meskipun terbilang lambat, gelar pahlawan nasional yang baru diberikan tahun ini patut disyukuri. Bukan Kiai Wahab yang membutuhkan gelar atau pengakuan, tetapi kewajiban negara mem berikan penghargaan dan apresiasi atas jasa perjuangan anak bangsa yang telah mengokohkan negeri ini.

Sumbangan Kiai Wahab untuk bangsa ini sangat besar. Sebelum membidani lahirnya NU bersama Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari pada 1926, Kiai Wahab telah merintis organisasi Nahdlatul Wathan (NW) tahun 1916. Secara literlek Nahdlatul Wathan berarti "kebangkitan Tanah Air" atau dapat dimaknai juga "gerakan kebangsaan." Organisasi pergerakan ini bertujuan menggembleng generasi muda menjadi pembela Islam dan pembela Tanah Air melalui jalur pendidikan.

Dari NW lahirlah cabang-cabang organisasi di berbagai daerah dengan nama variatif agar tidak dicurigai Belanda, tapi tetap menggunakan embel-embel Wathan. Di Wonokromo diberi nama Ahlul Wathan (Warga Bangsa), di Gresik dan Malang bernama Far'ul Wathan (Elemen Bangsa), di Jombang disebut Hidayatul Wathan (Pencerah Bangsa), di Pacarkeling Khitabatul Wathan (Pembela Bangsa), dan di Semarang Akhul Wathan (Solidaritas Bangsa). Hingga akhirnya NW tersebar di seluruh kota Jawa dan Madura.

Kiai Wahab juga merintis organisasi Nahdlatut Tujjar (NT) "kebangkitan kaum saudagar". Jika segmen NW adalah kaum muda di bidang pendidikan, maka NT menyasar kalangan pengusaha dan niagawan yang bergerak di bidang ekonomi. Tujuannya sama, menggalang berbagai elemen bangsa dengan segala sumber daya yang dimilikinya untuk berjuang membela negara dan agama dari kolonialisasi bangsa asing. Dua organisasi inilah yang kemudian menjadi embrio lahirnya Nahdlatul Ulama.

Jasa besar Kiai Wahab yang tak bisa diabaikankan juga adalah perannya dalam peristiwa 10 November 1945. Momen bersejarah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan ini tidak lepas dari fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Rais Akbar PBNU Kiai Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945.

Adalah Kiai Wahab yang saat itu menjabat Khatib Am PBNU mengawal implementasi fatwa di lapangan. Berdasarkan fatwa itulah Bung Tomo menggelorakan semangat jihad arek-arek Surabaya melawan Belanda. 
Pertempuran heroik kala itu mendapat du kungan ribuan santri dan umat Islam Surabaya yang digerakkan para kiai, termasuk Kiai Wahab. Bukan kali itu saja Kiai Wahab mendukung pertempuran fisik. Sebelumnya ia telah berkali-kali terlibat dalam Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, dan Barisan Kiai melawan penjajah. Maka, sudah sepantasnya ia mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Sebagai figur ulama-politisi, Kiai Wahab dikenal sebagai sosok yang progresif, terbuka, dan toleran. Dalam forum bahtsul masail muktamar NU, ia sering memberikan pandangannya yang mampu menerobos berbagai macam kebuntuan (mauquf) soal keagamaan. Ia lebih mengutamakan dalil rasional ketimbang doktrinal. Meski tidak jarang ijtihadnya kontroversial dan berseberangan dengan ulama lain.

Jauh sebelum Gus Dur mentradisikan kebebasan berpikir dan berpendapat di kalangan Nahdliyin, Kiai Wahab telah merintis hal itu, bahkan sebelum NU berdiri. Melalui forum diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran)
yang didirikannya pada 1914 di Surabaya, Kiai Wahab mendorong lahirnya sikap berpikir yang kritis, tidak jumud, dan progresif. Forum ini awalnya untuk mendiskusikan isu-isu keagamaan yang menjadi perdebatan kalangan modernis, reformis, dan tradisionalis Muslim.

Dalam perjalanannya, banyak tokoh dari kalangan Muslim maupun nasionalis terlibat dalam forum ini untuk mendiskusikan berbagai permasalahan agama, sosial, dan bangsa. Forum ini juga menjadi ajang komunikasi sekaligus jembatan antara generasi muda dan tua. Lebih lanjut kelompok diskusi ini menjadi semacam laboratorium pengaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.

Sikap keterbukaan dan menghormati keragaman adalah salah satu warisan penting Kiai Wahab bagi umat Islam Indonesia saat ini. Di saat umat sering terpecah belah dalam menyikapi perbedaan, forum semacam Tashwirul Afkar penting dihadirkan kembali. Ruang-ruang diskusi antarumat yang berbeda aliran, mazhab, orientasi politik, dan lainnya perlu digalakkan. Agar setiap perbedaan tidak disikapi dengan emosi, takfiri, apalagi aksi dan kontestasi massa.

Para elite Muslim yang berada di pucuk pimpinan, baik di organisasi keagamaan, politik, maupun kemasyarakatan perlu membuka akses dialog dan diskusi seluas-luasnya dalam menyikapi tiap perbedaan dengan kelompok lain di internal maupun eksternal organisasinya.

Seperti perpecahan yang terjadi di internal PPP. Sebagai partai politik berbasis Islam yang salah satu pimpinannya Romahurmuziy adalah cicit Kiai Wahab, alangkah elok jika partai ini dapat mencapai islah dan bersatu kembali.
Perpecahan hanya akan menambah beban permasalahan umat, sedangkan persoalan yang ada sudah kian kompleks dan beragam. Tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan tidak mungkin diselesaikan hanya oleh satu kelompok atau satu umat saja. Diperlukan kebersamaan dan kekompokan semua elemen bangsa untuk menata Indonesia ke depan yang lebih maju dan berdaulat. Selamat Hari Pahlawan!

Senin, 10 November 2014

Penjaga Fatwa Resolusi Jihad

Penjaga Fatwa Resolusi Jihad

Sumiati Anastasia  ;  Kolumnis dan Muslimah di Balikpapan
JAWA POS, 10 November 2014
                                                
                                                                                                                       


JELANG Hari Pahlawan, tepatnya pada 7 November 2014, sebutan pahlawan tanpa gelar bagi KH Abdul Wahab Hasbullah resmi berakhir. Sebab, pada tanggal itu presiden baru Indonesia, Jokowi, memberikan gelar pahlawan nasional kepada beberapa nama, antara lain Kiai Wahab, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama.

Kiai Wahab sangat layak mendapat gelar pahlawan nasional. Dia dilahirkan di Tambakberas, Jombang, 31 Maret 1888, dan wafat 29 Desember 1971. Sepanjang hayatnya, dia mendedikasikan diri sebagai ulama sekaligus aktivis dengan mendirikan berbagai organisasi untuk kebangkitan umat Islam, khususnya kaum nahdliyin,agar tidak makin terpuruk di tengah kondisi bangsa yang terjajah, mulai penjajahan oleh Belanda, Jepang, atau sesama bangsa sendiri.

Simak ketika kembali dari Makkah 1914, Kiai Wahab tidak hanya mengasuh pesantrennya di Tambakberas, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Dia tidak tega melihat kondisi bangsanya yang terbelakang. Melihat kondisi itu, pada 1916 dia mendirikan organisasi pergerakan yang dinamai Nahdlatul Wathan (kebangkitan negeri) untuk membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia.

Untuk memperkuat gerakannya itu, pada 1918 bersama Kiai Hasyim Asy'ari, Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. Jadi, berdagang atau entrepreneurship tidak dilarang dalam Islam karena Nabi Muhammad juga pernah berdagang.

Sadar akan kekuatan dahsyat media, Kiai Wahab juga merintis beberapa majalah dan surat kabar. Antara lain, Berita Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, Soeara Nahdlatoel Oelama, dan Duta Masyarakat.

Mencermati gerakan Islam yang intoleran pada 1919, Kiai Wahab juga memberikan respons tepat. Seperti diketahui, ketika itu terjadi ekspansi gerakan Wahabi dari Najed, yang menguasai Hijaz tempat suci Makkah pada 1924 dan menaklukkan Madinah pada 1925. Gerakan tersebut hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan eksklusif. Sementara mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali yang hidup berdampingan di Tanah Suci itu tidak diperkenankan lagi. Lantas, Kiai Wahab bersama kiai lain mendirikan Komite Hijaz untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala.

Namun, karena Komite Hijaz dinilai kurang kuat, karena yang diperlukan organisasi yang kuat dan besar, bersama KH Hasyim Asy’ari, didirikan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926. Lalu, Kiai Wahab bersama Syekh Ghonaim Al Misri atas nama NU menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud. Hasil pertemuan itu membuat makam Nabi Muhammad dan situs-situs sejarah Islam tidak jadi dibongkar serta praktik mazhab yang beragam diizinkan di Arab Saudi, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain.

Keberhasilan Kiai Wahab itu mencerminkan ajaran ahlussunnah wal jamaah yang sudah dirintis Wali Sanga. Dengan demikian, Islam sungguh menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin). Maka, di tengah kebangkitan radikalisme yang alergi terhadap perbedaan seperti sekarang, spirit dan cara-cara beragama Kiai Wahab yang moderat masih sangat relevan. Lagi pula, NU selama ini dikenal sebagai ormas Islam terbesar yang moderat.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan berhubungan dengan pemerintah kolonial, Kiai Wahab selalu mampu mengatasinya. Lewat kemampuan melempar humor sebagai alat diplomasi, sebagaimana Gus Dur, Kiai Wahab jago melobi sehingga NU mampu mengatasi setiap kendala komunikasi dengan penjajah.

Ketika penjajahan Jepang, Kiai Wahab menghadapi para kiai yang belum paham cara berpolitik dengan Jepang. Para kiai itu tidak bersedia menjadi anggota Jawa Hokokai, semacam perhimpunan rakyat Jawa untuk mendukung Jepang. ”Para kiai tidak susah-susah mencari dalil menjadi anggota Jawa Hokokai. Masuk saja dulu. Tenang saja, di dalam badan tersebut ada Bung Karno. Beliau tidak mungkin mencelakakan bangsa sendiri,” kata Kiai Wahab kepada para kiai.

Namun, Kiai Wahab bukanlah sosok yang lembek dan tunduk pada setiap kemauan penjajah. Dialah penjaga fatwa Resolusi Jihad di lapangan. Seperti diketahui, fatwa itu dikeluarkan Rais Akbar PB NU KH Hasyim Asy'ari dalam pertemuan ulama dan konsul-konsul NU se-Jawa serta Madura di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya, pada 22 Oktober 1945. Ketika itu Kiai Wahab menjadi khatib am PB NU yang bertugas mengawal implementasi dan pelaksanaan di lapangan. Fatwa itulah yang memotivasi arek-arek Suroboyo untuk bertempur habis-habisan pada 10 November guna mengusir Belanda yang membonceng NICA (sekutu). Saking heroiknya, 10 November lalu dinyatakan sebagai Hari Pahlawan.

Dengan dinyatakan sebagai pahlawan, Kiai Wahab menyusul KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) yang sudah dinyatakan sebagai pahlawan. Kita tinggal berharap KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang wafat pada 30 Desember 2009, tahun depan akan digelari pahlawan, menyusul tiga tokoh tersebut.