Tampilkan postingan dengan label Generasi Milenial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Generasi Milenial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Desember 2017

Generasi Milenial

Generasi Milenial
Budi Darma ;  Sastrawan, tinggal di Surabaya
                                                   JAWA POS, 13 Desember 2017



                                                           
ADA generasi diam, ada generasi baby boomers, ada generasi X, ada generasi Y, ada pula generasi Z, dan masing-masing punya ciri-ciri sendiri. Generasi diam lebih ditujukan kepada perempuan: Berapa pun anak mereka, mereka menerima apa adanya. Kalau jumlah anaknya dua itu baik-baik saja, kalau jumlah anaknya anak tujuh juga tidak apa-apa, dan kalau jumlah anaknya sembilan ya tidak ada masalah. Itulah tipe perempuan zaman pra-Perang Dunia (PD) I sampai beberapa tahun setelah PD I usai. Dalam pemikiran Elaine Showalter, perempuan semacam itu berada pada tahap female. Yaitu, perempuan diapa-apakan tidak apa-apa, toh bagaimanapun mereka adalah perempuan. Dan perempuan menerima kodratnya sebagai mana adanya.

Kendati PD I dianggap sebagai perang yang sangat dahsyat, jumlah negara yang terlibat dan akibatnya tidak sedahsyat PD II. Pada 1939 Jerman menduduki Polandia. Dan dari peristiwa itulah PD II meletus. Jumlah negara yang terlibat bukan main banyak, demikian juga jumlah orang yang cacat akibat perang, nyawa yang melayang, harta yang hangus, dan kesedihan-kesedihan lain. Akibatnya pun jauh lebih hebat daripada akibat PD I.

Meskipun banyak korban berjatuhan, PD I dan PD II memberi berkah: Kesadaran akan pentingnya teknologi makin meningkat, dan karena itu teknologi berkembang dengan cepat serta kemakmuran pun segera datang. Kemakmuran selepas PD II juga jauh lebih besar daripada kemakmuran selepas PD I.

Kemakmuran seusai PD I tampak jelas sebagaimana digambarkan oleh Hemingway dalam novel The Sun Also Rises. Novel itu menggambarkan apa yang dinamakan the lost generation, yaitu generasi yang ”hilang” karena mereka kaya, tapi spiritualitas mereka kosong. Mereka berfoya-foya tanpa tahu tujuan hidup mereka yang sebenarnya.

Dengan berakhirnya PD II, dunia dilanda dua pola yang bertentangan. Yaitu kesedihan karena banyak nyawa melayang selama PD II dan kegembiraan karena kemakmuran menanjak dengan cepat. Dua pola yang bertentangan itu kemudian melahirkan generasi baru, yaitu generasi baby boomers. Jumlah kelahiran bayi meningkat untuk menggantikan mereka yang kehilangan nyawa karena perang dan kondisi ekonomi juga mendukung kelahiran banyak bayi. Berbeda dengan generasi yang hilang sebagai produk dari PD I, generasi selepas PD II mempunyai pikiran yang lebih matang dan sikap bertanggung jawab yang lebih besar.

Kelahiran bayi selepas PD II itu melahirkan generasi baru, yaitu generasi X, generasi kelahiran sekitar akhir 1940-an sampai sekitar pertengahan 1960-an. Karena pada waktu itu perkembangan teknologi informasi (TI) masih lambat, generasi X dianggap sebagai generasi gagap TI. Komputer pada waktu itu berukuran luar biasa besar dan berat. Jumlahnya pun sangat terbatas. Bahkan, pada awal 1990-an pun, ketika TI sudah maju untuk ukuran waktu itu, yang dinamakan komputer masih berukuran besar dan bukan main beratnya. Dalam waktu relatif lama, komputer besar dan berat diikuti dengan kelahiran peranti baru, yaitu laptop. Untuk ukuran sekarang, laptop waktu itu masih benar-benar primitif.

Generasi X melahirkan generasi Y, yaitu mereka yang lahir sekitar akhir 1970-an sampai sekitar akhir 1990-an. Mereka lahir ketika TI sudah maju. Juga, karena itu, kemampuan mereka mengoperasikan gawai sudah lumayan. Perkembangan gawai, sementara itu, makin hari makin cepat. Juga karena itu, mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman bisa mengikuti perkembangan TI dengan cepat pula. Dan kecepatan itu dengan mudah diikuti generasi berikutnya, yaitu generasi Z, kelahiran sekitar akhir 1990-an sampai sekarang. Mereka lebih tanggap dalam menghadapi perkembangan TI, tapi itu pun bergantung individu-individunya. Karena itu, antara generasi Y dan Z, perbedaannya tidak signifikan.

Berbeda dengan generasi baby boomers, generasi X dan Y sudah sadar akan pembatasan jumlah kelahiran. Salah satu tolok ukurnya bisa kita lihat pada perkembangan sikap mahasiswi terhadap pernikahan. Awalnya, tujuan kebanyakan mahasiswi bukanlah ”to be”, melainkan ”to get”, yaitu bukan menjadi sarjana, melainkan mendapat sarjana sebagai suami. Pada tahap berikutnya, kebanyakan mahasiswi ingin menjadi sarjana. Lalu, begitu lulus sebagai sarjana, mereka merasa sudah benar-benar siap untuk menikah. Perkembangan berikutnya, sesudah menjadi sarjana, mereka tidak mau segera menikah, ingin mencari pekerjaan terlebih dahulu. Pada tahap berikutnya, yaitu generasi Y, banyak mahasiswi yang tidak memikirkan untuk menikah.

Kalau gagasan kritikus sosial Elaine Showalter diikuti, inilah tahap feminisme: Perempuan ingin mandiri; tidak mau dimarginalkan oleh laki-laki; dan apabila diperlakukan dengan tidak baik oleh laki-laki, perempuan akan protes. Tahap feminisme lahir antara lain berkat kesetaraan pendidikan. Perempuan bebas mencari pekerjaan dan bebas mengelola penghasilannya sendiri. Perempuan tidak lagi merasa bergantung kepada laki-laki. Dalam mengikuti perkembangan TI, perempuan tidak kalah oleh laki-laki pula.

------------------------------------------  part 2 -----------------------------------------

SEMENTARA ITU, pengategorian usia juga mengalami perubahan. Dulu ada kategori children (anak-anak), teenagers (sekitar umur belasan sampai awal dua puluhan tahun), young adults (remaja), dan adults (dewasa). Karena anak-anak dan remaja setiap hari dihadapkan pada sajian untuk orang dewasa lewat gawai, istilah teenagers sekarang sudah tidak dipakai lagi. Sebab, pada dasarnya sekarang teenagers sudah tidak ada lagi. Teenagers dan young adults digabung menjadi satu, yaitu young adults. Generasi Y dan Z sekarang juga sudah bercampur baur.

Dalam kategori usia, teenagers tersingkir. Dalam kategori generasi, generasi X juga tersingkir. Demonstrasi para pengemudi taksi dengan tujuan menghapus taksi daring (online) menyiratkan tanda bahwa generasi X sudah tersingkir, meskipun tentu saja bergantung orangnya. Sampai sekarang, misalnya, ada beberapa orang berusia lanjut yang mampu mengoperasikan gawai dengan baik.

Generasi Y dan Z tidak mungkin lepas dari gawai. Juga, hampir selamanya mereka abai terhadap lingkungan karena gawai. Karena itulah, setelah terjadi beberapa kali kecelakaan lalu lintas di Hawaii, pemerintah negara bagian Hawaii mengancam dengan denda berat kepada mereka yang mengoperasikan gawai di jalan-jalan. Nafsu selfie antara lain juga muncul karena generasi itu abai akan lingkungannya. Karena itu, ada selfie diri sendiri, ada pula selfie bareng-bareng yang kadang-kadang mengundang bahaya: jatuh dari jendela, tergelincir dari karang laut, terseret arus sungai, dan terlindas kendaraan.

Sebagaimana halnya selfie, mereka juga ingin bebas, tidak mau dikekang orang lain. Karena itu, mereka suka pindah pekerjaan dan berusaha mendirikan usaha sendiri, baik perseorangan maupun bersama kelompoknya. Perusahaan-perusahaan start-up pun bermunculan. Di pihak lain, perusahaan-perusahaan, baik yang sudah mapan maupun masih baru, tidak suka mempekerjakan seseorang dalam waktu lama. Dari sini, muncullah sistem outsourcing, yaitu kontrak kerja, tanpa jaminan masa depan.

Karena hampir semua data pekerjaan ada di dalam gawai, mereka tidak lagi ambil pusing soal kantor. Mereka bisa bekerja di mana pun mereka berada, selama ada colokan listrik dan wifi. Itulah salah satu pemicu tumbuhnya kafe, tempat mereka bekerja, bersantai, bertemu dengan teman-teman, dan menciptakan koneksi-koneksi baru.

Kepandaian mereka mengoperasikan gawai menyebabkan mereka akrab dengan iklan-iklan promo, antara lain promo pesiar ke luar negeri. Karena itulah, berkelana ke mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri, menjadi salah satu gaya hidup mereka. Mobilitas mereka bukanlah sekadar untuk berpelesir, tapi, langsung atau tidak, untuk mencari inspirasi inovasi. Karena itulah, menurut Elon Musk, mantan penasihat Presiden Amerika Donald Trump, inovasi disruptif pada umumnya dimulai dari orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi, baik mobilitas fisik, yaitu sering berkelana di dunia nyata, maupun berkelana di dunia maya. Tapi ingat, generasi Y dan Z yang punya pola pikir tradisional juga banyak. Mereka lebih suka menjadi pegawai, menggantungkan masa depan pada dana pensiun, dan memperlakukan gawai sebagai alat hiburan, bukan sarana untuk memicu inovasi.

Dalam proses perkembangan tiap-tiap generasi, jumlah orang yang inovatif pasti lebih sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang berpikiran tradisional. Generasi Y dan Z, menurut Elon Musk, adalah generasi yang mampu menciptakan kecerdasan buatan modern. Itu pun, jumlahnya sangat sedikit. Perang yang mampu menghancurkan dunia bukanlah nuklir, melainkan kecerdasan buatan. Karena itu, diramalkan, ambisi pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk menghancurkan musuh-musuhnya dalam waktu tidak lama lagi akan menjadi usang.

Dalam inovasi disruptif, yaitu inovasi yang mampu mengubah dunia, minoritas jauh lebih dominan jika dibandingkan dengan mayoritas. Filsuf Montesquieu menciptakan trias politika sendirian, musisi John Lennon mengubah musik dunia tanpa banyak teman, dan penyair Chairil Anwar merombak sastra Indonesia juga sendirian.

Makin baru sebuah generasi, makin sadar generasi itu akan pentingnya kesehatan. Dan dari kesadaran itu, jumlah orang tua makin meningkat, jumlah orang muda stagnan atau makin sedikit. Sementara itu, jumlah mereka yang bekerja sendiri tanpa bergantung orang lain (self-employed) juga makin banyak, dan mereka harus mampu menciptakan ”uang pensiun” sendiri di hari tua. Dan pemerintah, tentunya, tidak boleh abai.  ●

Rabu, 22 November 2017

Generasi Milenial, Modal Sosial, dan Keteladanan Politik

Generasi Milenial, Modal Sosial, dan
Keteladanan Politik
Dimas Oky Nugroho ;  Pengajar dan Pengamat Isu-Isu Sosial Politik,
Kepemudaan dan Kewirausahaan Sosial
                                                DETIKNEWS, 20 November 2017



                                                           
Pengalaman dan kearifan kita mengajarkan bahwa penekanan pada pembangunan ekonomi dan politik yang meninggalkan konsentrasi secara sungguh-sungguh pada aspek human capital (pembangunan manusia) serta aspek penguatan social capital (modal sosial) hanya akan menghasilkan dampak persoalan yang akut dan kompleks. Mulai dari kesenjangan sosial, ketidakmerataan pembangunan, ketimpangan sumber daya manusia, rendahnya partisipasi, lemahnya daya saing, dominasi elite dalam politik, eksploitasi dan korupsi, radikalisme, sampai masyarakat yang saling curiga, mudah terprovokasi, dan rentan konflik.

Inti dari model pembangunan yang esensial, berkemanusiaan dan berkelanjutan sejatinya adalah meletakkan strategi pembangunan manusia dan penguatan modal sosial sebagai dua fondasi yang terintegrasi. Kombinasi keduanya mengutamakan pentingnya aspek kapasitas-integritas individu warga negara, serta kemampuan sosial, kegotong-royongan, dalam membangun kolaborasi dan komunitas negara-bangsa.

Tujuh puluh dua tahun sudah Indonesia Merdeka. Dengan segala drama politik dan turun-naik ekonominya, satu hal secara hikmat dan bijaksana telah kita sadari. Bahwa, apapun upaya pembangunan politik dan institusionalisasi demokrasi, proses pembangunan dan produk pertumbuhan ekonomi, serta kehadiran regulasi dan usaha penegakan hukum yang dijalankan oleh sebuah sistem akan menjadi timpang, rapuh, konfliktual, inkonsisten dan nyaris sia-sia jika dilakukan tanpa strategi membangun manusia dan komunitas (setting sosial-ekonomi individu dan antarindividu) secara lebih serius, lebih fokus, lebih disiplin, dan lebih kerja keras.

Pembangunan manusia ini dalam konteks sosiologi meliputi faktor keberdayaan dan kualitas seorang manusia dalam menjalani kehidupannya secara mandiri dan bernilai positif. Hal ini khususnya meliputi aspek edukasi dan pengetahuan, bakat dan keahlian untuk aksesnya terhadap perikehidupan yang layak, serta karakter positif, kebajikan diri dan perilaku sosial yang diperlukan oleh setiap manusia secara merata tanpa terkecuali, untuk berkembang secara sehat, otonom, produktif dan dapat memberi manfaat bagi lingkungan masyarakatnya.

Dalam halnya individu atau para-individu 'berdaya' yang bertemu, berjejaring, berkumpul dan bekerja sama serta berkontribusi memberi keteladanan dan manfaat bagi masyarakatnya inilah terletak sebuah lanskap modal sosial yang dibutuhkan sebuah bangsa. Dalam perspektif sosiologis, modal sosial ini dapat bermakna jejaring sosial yang dimiliki oleh individu yang dapat membawa peningkatan kapasitas, akses, dan implikasi-implikasi sosial ekonomi dan sosial budaya pada individu atau komunitas (Anderson, 2010).

Bagi peneliti modal sosial bernama Nan Lin (2001), modal sosial harus lebih terukur. Ia terletak pada sumber-sumber yang menjadi hasil atau implikasi sosial ekonomi dari terjadinya koneksi sosial tadi. Yakni, berupa peningkatan posisi, akses informasi, dan keuntungan ekonomis yang diperoleh dari jejaring yang dibangun dan dimiliki tersebut. Namun, jika hanya merujuk pada hasil implikasi keuntungan individu semata kita akan mudah terjebak pada individualisme, pragmagtisme, dan dominasi dalam mengeksploitasi berbagai koneksi sosial yang tersedia. Semua itu pada gilirannya mengakibatkan munculnya kesenjangan, ketidakpedulian, ekstremisme, dan konflik.

Peneliti lainnya, Robert Putnam (2000), sebaliknya melihat modal sosial lebih ditekankan pada aspek keberadaan koneksi, jejaring atau relasi itu sendiri daripada aspek sumber-sumber daya atau implikasi dari koneksi sosial tadi. Persahabatan, komunitas, dan berbagai bentuk asosiasi sosial adalah sebuah wujud konkret kekayaan sosial itu sendiri. Dalam pandangan Putnam, modal sosial lebih mengutamakan aspek pembangunan relasi sosial dan keadaban publik yang terjalin di atas koneksitas positif dan tulus yang berlangsung antara suatu individu/komunitas yang satu dengan individu/komunitas yang lain.

Pancasila dan gotong royong merupakan modal sosial paling fundamental bagi negara-bangsa Indonesia. Ketika keberdayaan positif tiap-tiap individu (human capital) terjadi secara merata lalu kebersatuan, keguyuban, dan kerja sama antarwarga yang majemuk dapat dijalankan di tiap tingkat jejaring komunitas yang berkontribusi membangun penguatan kolektivitas kebangsaan secara positif (social capital), maka menurut saya pembangunan nasional Indonesia sudah berada di jalur yang benar, mendasar, dan berkelanjutan.

Teladan dan Ikhtiar Kepemimpinan

Di tengah merebaknya kesablengan dalam atmosfer politik Amerika hari-hari ini, sebuah acara digagas oleh mantan presidennya, Barrack Obama. Ikhtiar dilakukan untuk memperkuat aspek citizenship dan social capital yang mereka butuhkan untuk menjawab antagonisme politik yang berkembang.

Sejumlah civil leader atau pemimpin-pemimpin komunitas berpengaruh diundang ke Chicago untuk saling berbagi dan berdiskusi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang sosial-suku-agama-profesi yang berbeda, tak hanya dari Amerika, namun juga dari sejumlah negara. Dalam acara yang dinamakan #ObamaSummit tersebut, para peserta yang diundang –kebanyakan kaum muda– adalah individu-individu yang berkarakter positif, dan aktif berpartisipasi membangun komunitas serta merekatkan dan memajukan bangsanya.

CEO Obama Foundation, David Simas, yang juga mantan Direktur Politik di Gedung Putih era pemerintahan Obama dalam kesempatan itu menyampaikan pernyataan yang inspiratif. Bahwa, suatu perubahan hanya akan terjadi ketika tiap individu yang berdaya saling berinteraksi secara inklusif, positif, dan saling menghormati (kemajemukan) serta memperkuat satu sama lain. Dan, membawa semangat tersebut ke dalam sebuah aksi bersama.

Sekilas jika diperhatikan #ObamaSummit ini sesungguhnya sangat Pancasilais, Saudara-saudara! Di Indonesia, inisiatif-inisiatif sedemikian harus kembali kita marakkan. Untuk mewujudkannya negara harus lebih berperan, namun tak bisa lagi sendirian. Negara harus melibatkan kolaborasi dari berbagai kekuatan masyarakat sipil, dan juga inisiatif masyarakat ekonomi yang berintegritas.

Setahu saya tidak begitu banyak saat ini program masyarakat sipil yang independen, konsisten, tulus, dan berkelanjutan yang fokus dalam memperkuat akselerasi pembangunan human capital dan social capital ini.

Di tengah kesablengan atmosfer politik yang kurang lebih sama –antara lain ditandai dengan bertebarannya hoax, fitnah politik, dan integritas para politisi, sejumlah anak muda menggagas sebuah short course 'sekolah' pemimpin muda bernama Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP). Program yang telah masuk pada angkatan ketujuh ini bertujuan mengundang champion-champion muda terpilih di masing-masing komunitas, dari Aceh sampai Papua untuk diperkuat aspek human dan social capital-nya. Harapannya kelak mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang dapat menjadi teladan, bermanfaat, dan paripurna ikhtiar kepemimpinannya.

Pada KBFP Angkatan III tahun 2011, para peserta saat itu beruntung bisa beraudiensi dengan seorang wali kota inspiratif dari Solo yang mengutamakan pembangunan manusia, penguatan kewargaan, dan modal sosial sebagai ikhtiar kepemimpinannya. Wali kota itu bernama Ir. H. Joko Widodo. Saat itu pun, mendengar paparan pendekatan kepemimpinan yang dilakukannya, baik panitia maupun peserta telah menduga bahwa sosok ini layak, dan kelak —dan memang kemudian terbukti— menjadi Presiden Indonesia.

Sebagai penutup, strategi pembangunan manusia dan penguatan modal sosial ini sangat dibutuhkan dan penting ditujukan bagi anak muda kekinian. Namun, harus disadari bahwa para milenial ini tidak memerlukan basa-basi; yang utama bagi mereka adalah sebuah keteladanan, ikhtiar nyata, dan kemuliaan para pemimpin baik itu di komunitas terdekatnya, dan wawasan negara-bangsanya.