Rabu, 03 Mei 2017

Krisis Dalam Jurnalisme

Krisis Dalam Jurnalisme
SH Sarundajang  ;  Anggota Dewan Pers
                                               MEDIA INDONESIA, 02 Mei 2017



                                                           
MEDIA telah menjadi kunci penggerak jurnalisme bagi masyarakat di masa lalu. Namun, perkembangan pada dekade terakhir telah mengubah pemahaman ini. Teknologi, ekonomi, dan transformasi politik yang tidak terelakkan membentuk kembali lanskap komunikasi. Peliputan peristiwa-peristiwa besar seperti pemilihan umum serta referendum belakangan ini telah menimbulkan banyak pertanyaan tentang kualitas, dampak, dan kredibilitas jurnalisme, dengan kepentingan yang sangat luas. Ada pemahaman media tradisional kehilangan kontrol atas definisi pemberitaan dan posisi utamanya sebagai sumber utama berita untuk masyarakat. Hal ini telah digantikan desentralisasi, teknologi media yang diatur sesuka hati. Yang lain berpendapat merek berita tradisional tetap penting bagi generasi berita asli dan informasi tepercaya, serta setidaknya dalam teori merupakan jaminan kredibilitas.

Ada juga pandangan yang menyambut perluasan pluralisme media melalui munculnya media sosial, dan melihat ini sebagai alternatif selain jurnalisme mainstream yang terlalu sering mengalami penurunan dari standar profesional. Namun, perspektif lain menyesalkan potensi yang disediakan media sosial bagi masyarakat, justru terperangkap dalam kepompong informasi yang tertutup serta ketidakmampuannya untuk membedakan kebenaran dan rekayasa. Adalah benar yang disampaikan John John Lloyd, wartawan harian Financial Times, yang menyampaikan, "Surutnya peran surat kabar secara fisik dan berpindah ke media internet, telah menempatkannya ke dalam arus besar informasi, fantasi, kebocoran, teori konspirasi, ekspresi kebajikan dan kebencian."

Penurunan jumlah audiens media tradisional/mainstream (televisi, radio, dan media cetak), menurunnya profit, dan klaim melebarnya kesenjangan antara media dan publik, berkembang biaknya fake news (hoax) terkait dengan peliputan sejumlah peristiwa politik besar pada 2016, merupakan tantangan besar yang berdampak pada sektor media. Seperti halnya di negara lain, Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia juga sedang menghadapi tantangan penyebaran hoax yang sangat meresahkan. Fabrizio Moreira, politikus asal Ekuador yang telah hijrah ke Amerika Serikat karena menentang pemerintahan, Rafael Correra, mengatakan, "Berita bohong dapat dengan sederhananya telah menyebarkan informasi yang keliru atau dengan bahayanya memoles propaganda yang penuh dengan kebencian."

Apakah permasalahan yang dihadapi jurnalisme sebenarnya ialah masalah dengan budaya kita sendiri? Robert Biezenski, profesor sosiologi merasa bahwa di negara-negara lain media sedang memainkan peranan penting dalam perubahan di masyarakat. Surat kabar Barat sering kali hanya memberitakan pengungkapan masalah tanpa melihat perannya menggerakkan masyarakat untuk peduli atau memecahkan masalah itu, sedangkan di bagian dunia lainnya dapat melihatnya. Biezenski menunjuk pada Amerika Latin, yaitu kegiatan medianya yang sangat terkait dengan aktivitas politik dan selalu berpihak sebelah, dan ketika pemberitaannya terlalu jauh melangkah, sudah pasti akan terjadi kekerasan, wartawan terbunuh atau ditembak. Hal itu tidak terjadi di Amerika Utara karena jurnalis lebih menyentuh ke hal-hal yang praktis, berita entertaint dan sport. Dalam artian bahwa berita yang disampaikan tidak membuat jurnalisnya 'layak untuk terbunuh'. Sangat jarang menyentuh kepada sistem secara utuh yang berefek pada kritik sosial, lebih kepada individu.

Seperti halnya dengan kondisi di Amerika Latin, media di Indonesia yang sebagian besar dimiliki pengusaha dan politisi pastinya akan memprioritaskan pemberitaan yang sebelah/berpihak. Stephen Whitworth, pemimpin redaksi Prairie Dog, berpendapat sangatlah penting untuk memastikan Anda terhubung dengan pembaca dan audiens merasakan koran Anda ialah sesuatu yang nyaman untuk diambil dan dibaca. Fokus jurnalisme bukan hanya fakta dari cerita, melainkan juga kemampuan untuk membentuk pemahaman akan cerita itu. Jurnalisme ialah sebuah proses seni. Jika Anda tidak memahami seni untuk berkomunikasi, menjangkau orang, dan menulis, Anda tidak akan dapat terhubung dengan masyarakat. Presentasi penting untuk mendistribusikan informasi.

Keterikatan jurnalisme terhadap publik adalah bagaimana jurnalisme tersebut menjadi sesuatu yang dapat memperkuat kembali wacana publik dan ketertarikan mereka dalam politik. Jurnalisme harus menarik, dan relevan kepada publik. Apa yang terjadi saat ini adalah menarik, tapi apa yang terjadi hari ini dan memberikan implikasi kepada kualitas hidup Anda di masa depan ialah penting. Siapa pun yang menggeluti jurnalisme hendaknya terus bekerja menghadapi segala tantangan yang ada dan terus berupaya untuk mendidik masyarakat tentang apa yang sedang dikerjakan serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terbiasa dengan keberadaan media alternatif lainnya. Fakta menunjukkan bahwa sebuah koran 'alternatif' di Seattle bahkan mampu memenangkan penghargaan bergengsi jurnalisme, Pulitzer.

Di Setiap tantangan atau hambatan selalu menawarkan tersedianya peluang. Jim Rutenberg dari Harian New York Times menjelaskan ledakan berita bohong selama 2016 dapat saja justru meningkatkan nilai dari berita benar. Ia berkesimpulan, "Bila demikian halnya, jurnalisme hebatlah yang akan menjadi penyelamat jurnalisme itu sendiri." Jurnalisme asli, kritis, dan dari hasil telaah yang mendalam mungkin lebih dibutuhkan sekarang ini jika dibandingkan dengan masa yang lalu. Yang harus kita sadari juga bahwa perubahan dan transformasi akan terus terjadi. Kemampuan untuk beradaptasi ialah hal yang sangat penting untuk mengantisipasinya dan jika diperlukan lakukanlah revitalisasi. "When society as a whole changes, when the whole economy goes down the tube, when millions of people are suddenly unemployed. Then society will change. Not before. And the media will change. Not before." (Ketika masyarakat berubah secara utuh, ketika ekonomi jatuh, ketika jutaan orang tiba-tiba menganggur. Kemudian masyarakat akan berubah. Bukan sebelumnya. Dan kemudian media akan berubah. Bukan sebelumnya.)- Robert Biezenski. Selamat menyambut ajang Hari Kemerdekaan Pers Sedunia, 1-4 Mei 2017, Jakarta, Indonesia.