Kamis, 18 Mei 2017

Arus Balik Kebinekaan

Arus Balik Kebinekaan
Asep Salahudin  ;   Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM; Tasikmalaya;
Ketua Lakpesdam; PWNU Jawa Barat
                                                          KOMPAS, 17 Mei 2017



                                                           
Dalam sebuah dramanya, ”Pintu Tertutup (Huis Clos), Sartre menahbiskan ”Neraka adalah orang lain”, L’enfer c’est les autres.  Ungkapan ini dalam konteks keindonesiaan akhir-akhir ini menarik untuk direnungkan betapa sesungguhnya akar kekerasan dan konflik itu secara hakiki berangkat dari sebuah pandangan artifisial ketika menempatkan orang lain di luar dirinya sebagai ”neraka” sehingga kemungkinan menghadirkan tampilnya keadaban hidup menjadi kecil. Layaknya penghuni ”neraka”, maka stigma yang pantas disematkan adalah kafir, munafik, bidah, sesat, dan gambaran menyeramkan lain.

L’enfer c’est les autres sebagai bentuk gelap relasi sosial karena yang berkecamuk dalam isi kepala adalah pembayangan bahwa kepentingan diri dan kelompok jauh lebih penting di atas kepentingan lain, kepentingan partisan mengalahkan kebersamaan. Orang lain dalam pemahamannya bukanlah subyek yang harus mendapatkan pemuliaan sebagaimana mestinya, tetapi tak lebih obyek yang wajib selamanya dicurigai dan atau dieksploitasi habisan-habisan untuk menghamba terhadap kepentingannya.

Di tikungan ini, sesungguhnya politik mobilisasi bergerak. Orang lain tak lebihhanya kerumunan massa anonim dan impersonal yang harus dikendalikan untuk melayani nafsu kepentingannya. Kepentingan itu bisa bersifat atas nama keagamaan atau politik atau politik berjubahkan agama. Yang terakhir biasanya yang paling mudah diterapkan karena isu agama yang paling gampang menggerakkan massa, apalagi di negara dengan tingkat melek aksara dan politik yang sangat minim.

Maka, bisa dipahami seandainya sosiolog Ibnu Rusydi sampai pada kesimpulan bahwa dalam kerumunan massa yang dominan bukan kerja nalar, tetapi emosi; bukan argumentasi yang berjalan, tetapi sentimentalisme kejiwaan yang melayang-layang tak karuan; bukan akal budi, tetapi akal bulus. Individu yang larut dalam kejamaahan biasanya lepas dari otonomi dirinya dan yang tersisa adalah sebuah gambaran tak ubahnya karnaval bebek yang digiring tuannya dengan langkah dan suara yang seragam, patuh, pasif, dan nyaris tanpa inisiatif.

Apa yang disampaikan tuannya pasti benar dan harus selalu benar. Perilaku tuannya, walaupun keliru, dicarikan alasan pembenarannya karena sejak awal sudah diyakini suci dan keturunan orang-orang suci.

Kehadiran bersama

Tentu saja dalam konteks keindonesiaan yang heterogen yang diperlukan bukan pandangan politik-keagamaan yang partisan dan selalu menatap ”lian” sebagai neraka, tetapi justru kebalikannya.  Orang lain adalah surga. Indonesia dikatakan Indonesia karena keragamannya yang tak tepermanai. Karena ada Sunda, Minang,Jawa, Makassar, Batak, Bali, dan lain sebagainya yang sudah bersepakat mengikatkan diri dalam NKRI lengkap dengan budaya, bahasa, dan kepercayaannya yang berbeda.

Kesempatan perjumpaan dengan liyan adalah momen-momen berharga untuk semakin mendewasakan kedirian kita. Prinsip yang harus dikedepankan adalah peneguhan bahwa liyan merupakan jembatan untuk mencapai transendensi. Atau dalam istilah Marcel, kehadiran orang lainsebagai ”ada” yang wajib dan tak terelakkan agar kita bisa mencapai wujud eksistensi paling hakiki. Relasi dengan liyan selalu mengandung arti ”ada bersama”, esse est co esse.

Seseorang bisa mengenal dirinya tidak dengan cara menafikan liyan, apalagi membuat orang lain tak berdaya karena keterampilan kita berbohong, kecermatan berdusta, ngomong berbusa-busa lewat toa,dan memanipulasi fakta dan menyelewengkan tafsir agama, tetapi justru pengenalan diri itu harus dilakukan lewat kesediaan membuka terhadap kehadiran yang lain. Diri yang otentik itu diletakkan dalam makam sikap perlakuan baik terhadap yang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain dengan baik, jujur, dan penuh penghormatan.

Ziarah diri dalam menuju kebersamaan luhur dan persekutuan jujur ini tentu saja mensyaratkan terpenuhinya tiga imperatif dari sikap zuhud. Pertama, kesediaan melepaskan egosentrisme. Kedua, menanggalkan watak-watak merasa benar sendiri. Ketiga, kesanggupan untuk tidak pernah memonopoli kebenaran. Atau, dalam istilah Marcel sebagaimana dikutip Mathias Haryadi (1994), hubungan antarpribadi yang otentik seperti itu mengandaikan terlibatnya cinta yang bisamenyatukan ”aku-engkau” menjadi kita.

Cinta yang menandai hubungan intersubyektif itutampil secara nyata dalam sikap batin berupa: pertama, kerelaan untuk terbuka (disponibilite); kedua, kesediaan untuk terlibat (l’engagement), dan ketiga, kesetiaan untuk selalu memperbarui hubungan itu (fidelite creatrice).

”...Jika orang lain tidak ada, maka aku pun tidak ada lagi. Aku tidak dapat bereksistensi kalau orang lain juga tidakbisa demikian. Kesempatan-kesempatan dan pertemuan dengan orang lain bukanlah merupakan fakta yang kontingen—jadi yang bersifat ada dan boleh tidak ada—melainkan fakta yang inheren pada cara kita bereksistensi, yaitu berada di dunia, hidup di dunia”

Jangkar utama

Cinta sebagai jangkar utama relasi antarpribadi itu dilangsungkan dan dibina. Cinta sebagai undangan yang dialamatkan kepada kita untuk dipenuhi setiap saat karena di dalamnya menjanjikan tergelarnya tindakan politik penuh kebajikan, ekonomi yang dikelola secara merata, hukum yang memberikan kepastian tegaknya keadilan.

Apalagi, dalam konteks agama cinta sudah sangat jelas merupakan substansi dari kepercayaan. Diturunkannya Nabi Muhammad adalah ”menebarkan cinta kasih kepada seru sekalian alam”. Nabi Isa terkenal sebagai pribadi kasih. Sidharta Gautama melepaskan seluruh kesenangan duniawi demi menyambut fajar kasih sayang. Rahmatan lil alamin memang diksi Al Quran, tetapi hakikatnya semua agama mengajarkan hal yang sama hanya menggunakan istilah berbeda.

Dalam bahasa Arab, cinta terangkum dalam kata hubb atau lebih populer lagi mahabbah. Hubb secara harfiah artinya biji. Dikatakan demikian sebab cinta merupakan biji dari agama. Inti kehidupan. Hakikat kebaktianseperti dengan sangat memukau tergambarkan dalam syair Rumi yang meneguhkan betapa ketika cinta melepuh hal ini sudah lebih dari cukup untuk menyeret bumi manusia ke tubir kehancuran mengerikan. Cinta adalah lautan tak bertepi/Langit hanyalah serpihan buih belaka/Ketahuilah langit berputar karena gelombang cinta: andai tak ada cinta dunia akan membeku

Kata Sang Nabi, ”Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit.” Atau, ”Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kalau Rene Descartes dahulu menyerukan bahwa segala sesuatu harus disangsikan, maka bagi Hamlet ada pengecualian, yaitu cinta saperti dalam seruannya kepada Ophelia dalam dramanya William Shakespeare: Sangsikan bahwa bintang-bintang itu api/jangan begitu sajapercaya matahari itu bergerak/ kebenaran itu tak mustahil hanyaserpihan dusta/Tapi jangan ragukan cintaku.

Itulah cara menyikapi kebinekaan. Jika tidak, nasib kebinekaan sedang menuju ke arah gelap: sebuah arus balik yang tidak kita harapkan bersama.