Tampilkan postingan dengan label Mohammad Nuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mohammad Nuh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2017

Ujang, Raeni dan Sopariah

Ujang, Raeni dan Sopariah
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                    KORAN SINDO, 07 Mei 2017



                                                           
NAMA-nama yang tertera pada judul tulisan ini, tidak lain adalah sebagian dari penerima beasiswa Bidikmisi yang sekarang sudah berjumlah lebih dari tiga ratus ribuan mahasiswa. Ujang Purnama adalah mahasiswa Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi ITB dan peraih Ganesha Prize 2015, yakni penghargaan tertinggi ITB bagi mahasiswa yang berprestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik. Dia juga mendapat kesempatan untuk magang di Groningen University Belanda dan pada tahun 2016 termasuk peneliti muda terbaik dunia pada lomba yang diselenggarakan oleh Novartis, perusahaan Farmasi raksasa Perancis.

Raeni, adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang, yang membikin ‘heboh’ dunia pendidikan. Anak seorang tukang becak, lulus cumlaude dan pada saat wisuda dengan bangga diantar naik becak dengan sang ayah tercinta sebagai pengayuhnya. Biasanya pada saat wisuda orang cenderung berlomba untuk menaikkan status sosialnya. Yang tidak punya mobil, berusaha pinjam atau sewa mobil demi kesakralan wisuda. Setelah lulus, melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) melanjutkan studi pada program Magister of Science, International Accounting and Finance di Birmingham Inggris. Kini, dia sudah lulus magister.

Sedangkan Sopariah, mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten. Dia lulus Sarjana (periode Maret 2017) dalam waktu tercepat (3 tahun 4 bulan) dengan predikat cumlaude. Dia anak yatim dengan 8 bersaudara. Untuk menyambung hidup, Ibunya bekerja sebagai tukang pijat, dan dia sendiri rela sambil kuliah menjadi buruh cuci dan pembantu rumah tangga. Itulah sebagian kecil kisah anak-anak yang berasal dari keluarga miskin yang pada awalnya tidak mungkin bisa kuliah. Kini, dengan Bidikmisi menjadi mungkin dan kenyataan sepanjang memiliki prestasi akademik yang memadai. Seringkali, mereka memiliki prestasi yang sangat mengagumkan (outstanding), baik akademik maupun nonakademik, khususnya di Perguruan Tinggi Negeri.

Ide dasar program Bidikmisi ini adalah adanya keyakinan (thesis) bahwa pendidikan merupakan sistem rekayasa sosial terbaik dan terbukti untuk memutus mata rantai kemiskinan, keterbelakangan peradaban, ketidak tahuan (kebodohan) dan ketidak adilan. Keyakinan tersebut, diperkuat dengan hasil penelitian di Kenya dan Mumbai India yang telah dilakukan oleh Jeffrey D. Sach (The End of the Poverty, 2005), Eric Stark Maskin, penerima Nobel Ekonomi 2007 dan Jared Bernstein (All Together Now: Common Sense for a Fair Economy, 2006).

Disamping kajian-kajian yang sifatnya akademik, pengalaman empirik juga memperkuat bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat luar biasa dalam memotong mata rantai kemiskinan. Saat menjadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan Rektor ITS, menambah dan memperkuat keyakinan saya akan hal tersebut. Selain itu, terlalu banyak contoh seseorang yang masa lalunya berada dalam kubangan kemiskinan, tapi dengan pendidikan yang baik mereka bisa melepaskan diri dari belenggu kemiskinan. Bahkan bisa menjadi mesin penggerak pembangunan bangsa. Sebut saja Chaerul Tanjung.

Pada saat uji kelayakan dan kepatutan (fit and propper test) sebagai menteri pendidikan, Presiden SBY dan didampingi Wakil Presiden Boediono menyampaikan kerisauannya tentang akses ke Perguruan Tinggi khususnya negeri bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin. Beliau menyampaikan, Pak Nuh tolong dipikirkan bagaimana caranya agar anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan daerah 3T bisa kuliah.         

Berangkat dari keyakinan tentang peran pentingnya pendidikan dan pesan Presiden, maka disiapkanlah kebijakan afirmasi beserta payung hukum, sumber pembiayaan, petunjuk operasional dan pertanggung jawabannya. Hal ini penting untuk dilakukan, agar dalam pengelolaan program dengan sumber pembiayaan berasal dari APBN, harus dipastikan sesuai  peraturan dan perundangan. Maka dirumuskanlah kebijakan berupa beasiswa yang meliputi pembebasan beaya pendidikan dan bantuan beaya hidup yang lebih dikenal dengan Bidikmisi.

Awalnya, yang menjadi payung hukum adalah peraturan menteri (2010), dikembangkan menjadi peraturan pemerintah (2011) dan akhirnya diperkuat melalui Undang Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Di dalam Undang Undang tersebut, sangat jelas bahwa setiap perguruan tinggi negeri harus menerima minimal 20 % dari total penerimaan mahasiswa baru yang berasal dari keluarga miskin dan daerah 3T. Dengan demikian, kebijakan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab kementerian atau pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab negara.

Pada tahun akademik 2010/2011 kuota Bidikmisi hanya sepuluh ribuan mahasiswa, karena hasilnya sangat menggembirakan, kuota tersebut dinaikkan setiap tahunnya sehingga pada tahun 2014/2015 menjadi tujuh puluh ribuan mahasiswa. Dan total penerima Bidikmisi sampai dengan tahun 2014/2015 sekitar dua ratus ribuan.  Alhamdulillah, program Bidikmisi ini tetap dijalankan dan dikembangkan oleh Kemristekdikti. Terima kasih Pak Nasir, Menristekdikti. Bersamaan dengan Bidikmisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merintis dana abadi pendidikan yang disisihkan setiap tahunnya dari anggaran Kemdikbud. Pada tahun 2014, dana abadi tersebut terkumpul sekitar Rp. 16 Triliun dan dikelola bersama Kementerian Keuangan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Dengan tersedianya dana abadi tersebut, pemanfaatannya bisa lintas generasi.

Melihat banyaknya penerima Bidikmisi yang berprestasi sangat luar biasa, maka sangat sayang anak-anak seperti Ujang, Raeni dan Sopariah kalau hanya sampai jenjang pendidikan S1. Untuk itu, dibuatlah skema afirmasi lanjutan bagi penerima Bidikmisi yang berprestasi, yaitu S2 maupun S3 baik dalam maupun luar negeri dengan memanfaatkan dana yang dikelola LPDP. Alhamdulillah, kini mereka sudah berjumlah tiga ratusan ribu dan sudah ribuan yang melanjutkan jenjang S2 dan S3. Insha Allah dalam kurun sepuluh tahun mendatang akan lahir generasi baru, para sarjana, master dan doktor dari keluarga miskin. Saat itulah akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. Mereka akan menjadi mesin penggerak kejayaan Indonesia 2045.  Mereka akan menjadi pengibar bendera Merah Putih setinggi-tingginya, dan saat itulah para pendiri bangsa dan orang tua mereka ‘tersenyum’ di alam ‘keabadian’. Tidakkah pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk merubah dunia !

Rabu, 26 April 2017

Problema yang Mencerdaskan

Problema yang Mencerdaskan
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                   KORAN SINDO, 24 April 2017


                                                                                                                                                           

Dikisahkan, suatu hari rombongan peneliti berjalan dalam hutan dan melihat sebuah lubang. Didasarlubangituternyataada batu-batuan yang sangat mengkilap, memantulkan cahaya yang luar biasa indahnya.

Sebagai peneliti, naluri keingintahuannya sebagaibagiandari kepenasaranan intelektual, muncul seketika. Salah seorang di antara mereka bergegas mencondongkan badannya dan berusaha mengambil batu-batuan tersebut, tapi lubangnya terlalu dalam. Ia mencondongkan badannya lagi dan menjulurkan tangannya, tapi masih saja tak mampu menjangkaunya. Lalu, ia mengeluh, “Lubangnya terlalu dalam, lubangnya terlalu dalam....” Lalu kawannya berkata, “Minggir, saya akan tunjukkan kepadamu apa masalahnya.” Ia mengambil sebatang galah yang dilengkapi penjepit.

“Masalahnya bukan lubangnya yang terlalu dalam, tapi tanganmu yang terlalu pendek!” Ia menjulurkan galah di tangannya dan berhasil mengambil batu-batuan tersebut. Itulah karakteristik seseorang dalam menghadapi persoalan. Ada yang hobinya mempersalahkan persoalan. Menyalahkan orang lain atau lingkungan, bukankarenaketerbatasandirinya. Dengan mengatakan lubangnya yang terlalu dalam, misalnya. Padahal, persoalan tidak butuh dipersoalkan, yang dibutuhkan adalah jawaban.

Dan ada yang memahami bahwa persoalannya ada pada keterbatasan diri dan segera mencari solusinya tanpa harus mempersalahkan persoalan. Dalam kaidah persoalan dan jawaban (problem-solving priciples), apabila kita dihadapkan pada suatu persoalan, kita pilah mana yang tetap (fixed)—sebagai konstante yang tidak berubah dan mana yang bisa berubah— sebagai variabel. Dalam kasus ini yang tetap adalah posisi batu-batuan yang akan diambil. Adapun yang bisa berubah adalah pengambil, yaitu tangan kita yang harus aktif dalam berperan. Kita yang harus “menyesuaikan” dengan persoalan, bukan persoalan yang harus menyesuaikan dengan kita.

Dalam kehidupan kita tidak akan bisa lari dari persoalan. Begitu kita melarikan diri dari persoalan, kita akan masuk pada persoalan baru. Hal yang harus kita siapkan adalah kemampuan untuk menjawab persoalan disertai kemampuan memilah dan memilih persoalan yang harus diselesaikan terlebih dulu.

Kompleksitas Persoalan

Pada Juli 2016 Price Waterhouse Coopers (PwC) merilis hasil survei yang telah dilakukan terhadap 2.106 eksekutif senior di dunia. Survei tersebut menunjukkan bahwa sofistikasi (kompleksitas) persoalan akan semakin meningkat sejalan dengan waktu dan waktu untuk menyelesaikannya harus semakin cepat. Bisa dibayangkan, kalau kita sedang ujian: dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, tapi waktu yang diberikan lebih pendek! Hasil survei tersebut sejalan dengan studi yang telah dilakukan oleh Yves Morieux (Six Simple Rules, How to Manage Complexity without Getting Complicated, 2014).

Kompleksitas persoalan tersebut diakibatkan oleh jumlah manusia yang semakin bertambah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peradaban. Studi yang dilakukan oleh Ian Goldin (Age of Discovery, 2016) menunjukkan bahwa laju kompleksitas persoalan sosial (socio complexity) lebih cepat dibanding kemampuan pemahaman (cognitive capacity) sehingga semakin banyak misteri atau wilayah kehidupan yang masih gelap (blind zone).

Dalam perspektif kehidupan, fenomena ini sungguh sangat wajar karena kalau semakin lama persoalan kehidupan semakin mudah, berarti kita mengalami proses “pembodohan” atau siklus negatif. Sebaliknya, kalau derajat kompleksitas semakin tinggi, menjadi tantangan bagi kita untuk melakukan proses pencerdasan atau membangun peradaban bersiklus positif. Melihat kecenderungan masa depan yang semakin kompleks, maka tidak ada pilihan kecuali kita harus meningkatkan kapasitas berpikir orde tinggi (higher order thinking), lebih kreatif dan intuisi yang semakin tajam (intuition sharpness).

Tentu hal ini berbeda dalam tradisi profetik. Pada diri seorang nabi atau rasul, pengetahuan yang dimilikinya melampaui batas waktu kehidupan. Karena mendapatkan wahyu dari Sang Mahapencipta. Bagi orang yang beriman, keyakinan akan kehidupan setelah kematian bukanlah sebuah khayalan tentang masa depan (self fulfilling prophecy), tetapi sebuah kepastian dan kebenaran. Keyakinan tersebut tidak harus dibuktikan karena pernah mengalaminya. Analoginya tidak terlalu sulit. Bagi kita yang pernah membeli mobil baru, pasti orang dealer berpesan, nanti jangan lupa ya, kalau sudah mencapai sekian kilometer diganti oli dan seterusnya. Mengapa kita percaya dan kita ikuti, karena informasinya bersumber dari yang membuat mobil.

Orang yang Cerdas

Kehidupan itu tidak bisa dilepaskan dari persoalan. Maka, Allah Mahapencipta, dengan sifat kasih sayang-Nya, melengkapi dan menyediakan setiap masalah (kesulitan) tersedia banyak jawaban (kemudahan). Setiap penyakit ada obatnya (likulli daa-in dawaa-in). Dan kualitas seseorang salah satu ukurannya adalah berapa banyak masalah yang telah diselesaikan. Kehidupan itu seperti orang kuliah, setiap masalah itu punya bobot SKS (satuan kredit semester).

Semakin banyak SKS yang diselesaikan dan semakin baik nilai per SKS, semakin banyak credit point kita kumpulkan, maka kinerja kita pun semakin baik. Karena itu, bagi orang yang cerdas, masalah yang dihadapi justru dijadikan sebagai tantangan dan kesempatan. Falsafah syukur dan sabar dijadikan sebagai instrumen dalam menghadapi segala macam persoalan. Manfaatkan seluruh sumber daya, potensi dan kesempatan (syukur).

Ubah potensi jadi kekuatan, dengan kekuatan itulah digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Tidak ada jaminan semua masalah langsung bisa diselesaikan. Ada kemungkinan berhasil dan ada kemungkinan gagal. Di antara dua ekstremitas (berhasil dan gagal) itulah wilayah ikhtiar kita, termasuk di dalamnya memohon pertolongan Allah dalam penyelesaian masalah tersebut. Tidakkah melalui persoalan yang kita hadapi hakikatnya Allah menguji, apakah kita sudah bersungguh-sungguh dalam berikhtiar dan tetap berada dalam dimensi kesabaran? Memang, dari sisi epistemologi, kata “problem” (masalah) berasal dari bahasa Yunani, proballein, mengandung makna yang sangat positif. Pro berarti forward atau maju.

Ballein berarti to drive atau to throw. Problem berarti bergerak maju, kesempatan untuk maju dan berkembang. Karena itu, problem dan kemajuan ibarat dua sisi mata uang. Kemajuan akan diperoleh setelah melalui serangkaian penyelesaian masalah. Kemajuan tidak akan diperoleh tanpa menghadapi dan menyelesaikan masalah— persoalan. Masalahnya, bagaimana kita bisa menghadapi berbagai masalah tersebut secara cerdas, dengan efisien dan cost effectiveness yang rendah baik secara sosial, politik, maupun ekonomi.

Selasa, 18 April 2017

Mendidik Karakter (2)

Mendidik Karakter (2)
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                   KORAN SINDO, 16 April 2017



                                                                                                                                                           

Semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji. Menghiasi amal di dunia dengan adab (karakter baik) menjadi tanda bahwa amal itu akan diterima kelak di akhirat.(KH Hasyim Asy‘ari dalam karya klasiknya, Adabul ‘Alim wal Muta‘allim)

Pada tulisan Mendidik Karakter (1) telah dibahas mengenai substansi karakter. Kini pertanyaannya, bagaimanacara mendidikkarakter, dari mana harus, memulainya dan kapan saat yang paling tepat.

Pertanyaan ini sungguh tidak mudah untuk dijawab melalui tulisan pendek, namun akan diurai secara garis besarnya. Karakter mulia atau sering kali dipadankan dengan akhlak mulia, meliputi keyakinan dan pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, maka proses pembentukannya setidaknya perlu dua hal utama selain pemahaman: keteladanan(role model) dan pembiasaan (habituation).

Keteladanan dan Habituasi (Pembiasaan)

Sebagaimana tecermin dalam kisah tentang anak-anak sekolah dasar yang belajar tentang proses penanaman padi hingga menjadi beras (sebagaimana pada tulisan sebelumnya), anak-anak dapat melihat keteladanan hidup secara nyata dan ini berperan sebagai kanal transmisi nilai, norma, serta cinta, sebab kebaikan sebenarnya adalah wujud hakiki manusia. Kebaikan itu panggilan fitrah–bakat bawaan setiap manusia. (Khan: 2005).

Dan, agama diturunkan Tuhan untuk mengembangkan bakat bawaannya itu dan pendidikan menuntunnya agar terhindar dari salah arah. Neurosains juga membuktikan bahwa otak manusia dirancang sedemikian rupa sehingga bersikap baik kepada orang lain itu membuat kita merasa nyaman; berbagi itu menyenangkan. Dalam sebuah eksperimen pemindaian otak yang belum lama ini dilakukan, puluhan responden diberi uang USD128 dan kemudian dipersilakan untuk menabung atau menyumbangkan uangnya.

Pusat otak orang yang memilih untuk menyumbangkan uang mereka menjadi aktif, dan mereka merasa senang atas kedermawanan mereka. Bahkan, pusat otak beberapa orang responden lebih aktif ketika mereka bertindak altruistik(lawan dari egoisme) ketimbang ketika mereka menerima hadiah uang tunai. (Dapretto et al., ”Understanding Emotions”: 2011).

Jadi, kebaikan itu sejatinya tak perlu atau harus dijejalkan dari luar. Anak-anak butuh cermin yang bisa memantulkan kilau kebaikan dalam diri mereka. Mereka butuh upaya dan stimulasi kreatif dari kita untuk mencuatkan fitrah kebaikan itu, mereka butuh keteladanan, sebagai role model(Lickona, 2012) Yang kedua, pembiasaan (habituation),proses menanam kebiasaan tentang yang baik sehingga guru dan peserta didik memahami, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik.

Karakter berasal dari kata charassein (bahasa Yunani) yang berarti ”to engrave”, yakni melukis, mengukir, memahatkan. Kita ingin melukis pola pikir kebaikan di benak anak didik kita, mengukir cita rasa kebaikan di sanubari mereka, sehingga perilaku baik terpahatkan menjadi kebiasaan. Para peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1990-an melakukan penelitian terhadap seekor tikus yang dimasukkan ke dalam pipa dan di sudut pipa diberi cokelat. Setelah tikus dilepaskan dan mencari cokelat, kegiatan ini dilakukan berulang kali dan direkam aktivitas otaknya.

Ternyata, pada awal-awal, amplitudo aktivitas otak tikus sangat tinggi, dan berangsur menurun sejalan dengan banyaknya pengulangan. Hal ini menandakan bahwa, pada saat awal, untuk mendapatkan cokelat tikus membutuhkan energi yang besar. Namun, setelah berulang kali dilakukan, sehingga menjadi kebiasaan, amplitudonya menurun. Kalau tikus saja mengenali tentang kekuatan pembiasaan, tentu manusia yang memiliki tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, pembiasaan akan menjadi kekuatan tersendiri (the power of habit).

Hasil penelitian tersebut diadopsi oleh Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit (2013). Intinya adalah, bahwa pembiasaan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam pembentukan karakter. Masa yang paling efektif dalam pembentukan karakter adalah pada usia formatif, usia emas (golden age). Di sini kita jadi ingat pesan orang tua lewat lagu kasidahan: belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu (at-ta‘allum fis shighari ka an-naqsyi ‘alal hajari).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Di sinilah pentingnya gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang telah dicanangkan tahun 2011 dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan memanfaatkan fasilitas umum (balai RT dan RW) dan keagamaan (masjid, musala, gereja, dan pura).

Pendekatan sistemik

Persoalan mendasarnya adalah anak-anak kita tidak berada dalam ruang yang steril dari berbagai pengaruh negatif. Bahkan sering kali energi negatifnya lebih kuat dibanding energi positif yang terpaparkan (exposure) kepada anak-anak kita. Di sinilah pentingnya pendekatan sistemik dalam pembentukan karakter. Ada tiga wilayah utama yang menjadi sasaran, yaitu wilayah sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pengendalian wilayah sekolah dan keluarga relatif lebih dapat dikendalikan dibandingkan wilayah masyarakat. Salah satu unsur wilayah masyarakat, adalah media massa (cetak dan elektronik) dan media sosial. Di sinilah media memiliki peran yang khusus dalam pembentukan karakter.

Media dalam menyiapkan dan meramu informasi yang akan disajikan ke publik haruslah: mendidik (educate), memberdayakan (empowering) dan memberikan pencerahan (enlightenment). Dan semua itu, bermuara untuk penguatan nasionalisme anakanak kita. Istilahnya 3E (Educate, Empowering, dan Enlightement) dan 1 N (Nationalism).

Dari mana harus memulai

Dari sisi subjek dan waktu, tidak ada jawaban yang paling tepat kecuali mulai dari sekarang (now) dan dari diri sendiri (your self). Bahasa agamanya,Ibda’ binafsik. Kata nafsdalam konteks ini tidak saja berarti personal atau pribadi perorangan, melainkan bisa diperluas menjadi keluarga sendiri dan masyarakat lingkungan terdekat. Di samping itu harus dilakukan perubahan paradigma, khususnya dalam sistem pendidikan.

Prakarsa pengalihan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skills) saja tidaklah cukup. Namun, pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial (transmission of cultural values and social norms) harus menjadi satu kesatuan. Meleburkan nilai-nilai moral yang relevan di semua mata pelajaran dan kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Intinya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia (humanizing the human being) dengan segala aspek yang melekatnya.

Sebagaimana esensi Kurikulum 2013, yaitu meningkatkan kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge) secara utuh.

Senin, 20 Maret 2017

Mendidik Karakter (1)

Mendidik Karakter (1)
Mohammad Nuh  ;   Guru Besar ITS Surabaya
                                                  KORAN SINDO, 19 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Transmisi nilai-nilai kebaikan adalah kerja peradaban. Sejarah mengingatkan kita bahwa perabadan tak selamanya tumbuh.

Kadang bangkit, kadang runtuh. Ia meruntuh saat moral merosot–kala suatu masyarakat gagal mewariskan kebaikan-kebaikan utama–kekuatan karakternya– kepada generasi barunya. (Lance Morrow) Pagi yang cerah, murid-murid kelas IV turun ke sawah untuk melihat proses pengolahan padi. Mulai dari menuai, merontokkan, menjemur hingga menggiling padi. Mereka bersemangat dan bergembira, berjalanmenyusuripematangsawah, bertegur sapa dengan petani.

Ketika sampai di sawah, mereka membantu petani menuai padi dengan menggunakan sabit. Batangpadiyangsudahdipotong dikumpulkan di pinggir sawah, lalu diangkut ke lapangan. Siswa melihat bagaimana petani merontokkan padi kering dalam karung berukuran kecil yang memungkinkan diangkut oleh siswa.

Satu per satu mereka bergantian memanggul karung padi itu ke tempat penggilingan. Saat berada di tempat penggilingan, spontan Akbar bertanya kepada gurunya. ”Bu Guru, berarti kita harus melepaskan dan meninggalkan perbuatanperbuatan yang tidak baik ya?” ”Memangnya kenapa, Akbar?” tanya guru menanggapi. ”Lihat, Bu, agar jadi beras yang bersih, yang siap dimasak menjadi nasi, padi harus melepaskan kulitnya. Kita harus seperti itu, Bu.”

Ibu guru tertegun dan bangga. Akbar yang baru kelas IV SD sudah bisa memetik nilai dari sebuah proses penggilingan padi. Sepulang dari sawah, ibu guru meminta siswa mengambil nilai-nilai yang mereka dapatkan. ”Kita harus bersyukur dengan rezeki yang diberikan Tuhan,” kata Gita sambil angkat tangan. ”Kita harus menghargai jerih payah petani,” ucap Hani.

Beberapa siswa lain pun menambahkan hasil refleksinya. Itu semua makna yang dapat diungkapkan dalam bahasa lisan. Namun guru menemukan pelajaran paling berharga yang tak diungkapkan siswa lewat kata-kata. Sejak itu tidak ada sebutir nasi pun yang tersisa di piring mereka ketika makan siang bersama di sekolah.

Mereka sudah meninggalkan kesia-siaan atau kemubaziran. Kisah tersebut bukan fiktif, melainkan aktivitas nyata anakanak SD yang menerapkan pendidikan berbasis karakter sebagai bagian dari masukan waktu menyusun dan merumuskan Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Pagi itu mereka tengah belajar tentang empati: merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi petani.

Empati diyakini para ahli sebagai inti emosi moral yang membantu anak didik memahami perasaan orang lain. Empati membuat mereka peka terhadap kebutuhan orang lain dan mendorong mereka untuk saling menolong dan saling mengasihi. Begitulah salah satu contoh praksis pendidikan moral atau karakter. Jangan bayangkan mereka harus menghafal setumpuk dalil dan teori tentang kebaikan, kejujuran, ketulusan, dan karakter luhur lainnya.

Itu hanya menambah pengetahuan tentang kebaikan. Penting tapi tak cukup. ”The dimensions of character are knowing, loving and doing the good,” kata Thomas Lickona. Para pendidik bangsa saat dulu mendirikan sekolah memaksudkan agar anak-anak didik mereka mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan mengamalkan yang baik. Itulah etika (kebaikan).

Tentu diajarkan pula tentang logika (kebenaran) dan estetika (keindahan). Jadi tak ada yang meragukan perlunya pembentukan karakter. Sebab bila seseorang kehilangan karakternya, ia kehilangan sisi genuine -nya dan kehadirannya di publik akan kehilangan kemanfaatan, bahkan menambah rumitnya kehidupan. Layaknya dalam pertunjukan sirkus, mereka yang tampil (sirkustor) telah mengalami de-i-sasi.

Singa yang buas dan ditakuti jadi jinak dan tampak lucu. Ia mengalami proses de-singa-i-sasi. Begitu juga dengan hewan-hewan lain, semua telah kehilangan watak orisinalnya. Tentu saja hal itu mengagumkan dan menyenangkan bagi penonton. Semakin jauh dari karakter orisinalnya, semakin lucu dan menarik. Itulah dunia sirkus.

Namun kehidupan ini sejatinya bukanlah sirkus, bukan lucu-lucuan, tetapi dalam kehidupan yang sejati, para pelaku harus memainkan karakter orisinal (genuine) masing-masing. Bagaimana jika de-i-sasi itu terjadi dalam kehidupan nyata? Penegak hukum dengan keadilan sebagai karakter dan perilaku dasarnya ternyata harus diadili.

Tokoh masyarakat yang berfungsi sebagai pencerah ternyata justru menyesatkan dan harus dicerahkan. Wakil rakyat yang mestinya menyerap aspirasi rakyat dan memperjuangkannya malah melakukan korupsi uang rakyat secara kolektif. Pendidik harus dididik. Demikian seterusnya. Pembicaraan mereka di ranah publik bisa saja mengagumkan, tetapi manfaat nyata bagi perubahan masyarakat sulit diharapkan. Karena kehilangan karakternya.

Mereka hanya jadi tontonan dan tak pernah jadi tuntunan. Itulah gambaran dari peribahasa Inggris, when wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character is lost, everything is lost. Bangsa ini membutuhkan bukan saja orang-orang jenius dalam perspektif pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan orang yang santun dalam bertutur kata, menghargai, menghormati sesama, dan memanusiakan manusia (humanizing the human being).

Dalam bahasa Kurikulum 2013, yang kita bangun adalah generasi yang memiliki keutuhan kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge). Keutuhan ketiga kompetensi tersebut mengantarkan anak didik menuju kesempurnaan. Itulah tradisi profetik dan tradisi pendiri bangsa yang menjadi sumber keteladanan bagi kita.

Sehubungan dengan itu, menarik sekali apa yang disampaikan oleh salah satu pendiri dan guru bangsa yang juga pendiri NU, KH Hasyim Asyari, dalam karya klasiknya, Adabul Alim wal Mutaallim: semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji.

Menghiasi amal di dunia dengan adab (karakter baik) menjadi tanda bahwa amal itu akan diterima kelak di akhirat. Kini pertanyaannya: bagaimana caranya, dari mana harus memulai, dan kapan saat yang tepat untuk mendidik karakter baik ini? Insya Allah akan diulas pada tulisan berikutnya.

Selasa, 14 Maret 2017

Sundel Bolong

Sundel Bolong
Mohammad Nuh  ;   Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
                                                      JAWA POS, 12 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Pernah dengar kisah tentang sundel bolong? Bagi mereka yang lahir tahun 1950-an sampai 1970-an atau kelompok baby boomers dan tinggal di perkampungan hampir pasti mengenal kisah sundel bolong.

Hantu ini menjadi sangat populer seiring film dengan judul yang sama sukses di pasaran pada awal dasawarsa 1980-an.

Sundel berarti wanita jalang, bolong berarti berlubang. Umumnya digambarkan sebagai wanita cantik berambut panjang dan bergaun panjang warna putih yang punggungnya berlubang (Jawa: bolong).

Waktu berpapasan terlihat wajahnya begitu cantik dan semerbak harum baunya. Begitu lewat, punggungnya yang berlubang menebar bau busuk yang luar biasa menyengatnya. Karena punggung yang berlubang tadi dipenuhi belatung. Itulah karakteristik dasar sundel bolong, yaitu berparas cantik dan wangi, berjalan tanpa menginjakkan kakinya di bumi, dan berbau busuk setelah berpapasan.

Sebagai kisah folklorik, mitos dan metafor tentu nyatanya tidak pernah kita jumpai. Namun, itulah cara orang tua kita dulu bagaimana mengenalkan sebuah ”nilai kemuliaan” melalui kendaraan cerita seperti dongeng dan sejenisnya.

Jadi, kisah dan cerita diciptakan sedemikian rupa sehingga anak menjadi sangat tertarik. Dalam kondisi ketertarikan tersebut orangtua bisa memasukkan pesan moral dan sistem nilai kepada sang anak. Itulah kearifan lokal.

Pesan moral atau nilai apa yang dikandung dalam sundel bolong? Orang yang tidak memiliki pendirian yang diibaratkan dengan berjalan tanpa atau tidak menginjak bumi (ngawang). Dia cenderung berbohong dan berkhianat di saat kepentingannya terganggu. Komitmen dilakukan semata karena kepentingan dirinya.

Berparas manis, awalnya penuh keindahan, namun berikutnya penuh dengan kebusukan. Itulah ciri khas dari orang yang tidak memiliki pendirian. Tidak ada sundel bolong yang berwajah menyeramkan, semuanya berwajah manis sebagai modal untuk menjalankan misi kebohongan yang akan dia lakukan.

Seseorang dalam menjalankan misi kebohongan selalu bermuka manis atau memelas. Dua ekstremitas senjata untuk berbohong. Ini sama sekali bukan berarti orang bermuka manis dan memelas selalu akan menjalankan misi kebohongan. Bagi mereka yang memiliki pendirian yang kuat, manis dan memelas adalah ekspresi riil, keadaan sebenarnya, karena mereka tidak mengenal kausa kata bohong sehingga tidak memiliki kausa aksi berbohong. Itulah kandungan dan pesan moral sundel bolong.

Kisah tentang kebohongan itu terlukis rapi dalam tradisi profetik, sebagaimana kisah Nabi Yusuf. Keirian dan kedengkian saudara-saudaranya menyebabkan mereka berusaha untuk menyingkirkan Nabi Yusuf (waktu itu masih kecil) dari lingkungan keluarga.

Mereka membawanya jalan-jalan dan memasukkannya ke dalam sumur dan dengan paksa bajunya dilepas terlebih dulu. Baju Yusuf mereka lumuri darah, lalu ditunjukkan ke ayah mereka, Nabi Ya‘qub. Sambil menangis dan memelas mereka bilang bahwa Yusuf meninggal diterkam serigala.

Pada zaman itu aksi kebohongan mereka sudah tergolong sangat canggih. Namun, di balik kebohongan selalu ada kejanggalan. Apa itu? Kalau memang Nabi Yusuf dimakan serigala, mengapa bajunya masih utuh meskipun ada lumuran darahnya? Apa memang serigala kalau mau menerkam seseorang meminta terlebih dulu supaya baju korbannya dilepas? Itulah kejanggalannya.

Sabtu, 11 Maret 2017

Religious Literacy

Religious Literacy
Mohammad Nuh  ;    Guru Besar ITS Surabaya
                                                  KORAN SINDO, 05 Maret 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seorang kakek yang tak bersekolah, tetapi memiliki ketajaman naluri, mengunjungi Jakarta untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan di sebuah dusun terpencil di pegunungan, bekerja keras membesarkan anak-anaknya, dan kini sedang menikmati kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya di Jakarta.

Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota, orang tua itu mendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar semacam itu di dusunnya yang sunyi. Dia berusaha keras mencari sumber bunyi tersebut.

Dia ikuti sumber suara sumbang itu dan tiba di sebuah rumah tempat seorang anak kecil sedang belajar bermain biola. ”Ngiiiik, ngooook!” Ini rupanya asal nada sumbang biola tersebut. Saat sang kakek mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan”biola”, dia memutuskan untuk tidak akan pernahmau lagi mendengar suara yang memekakkan telinga tersebut.

Hari berikutnya, di bagian lain kota, orang tua ini mendengar sebuah suara yang seolah membelai-belai telinga tuanya. Belum pernah dia mendengar melodi yang seindah itu di lembah gunung tempat dia tinggal. Dia pun mencoba mencari sumber suara tersebut. Ketika sampai ke sumbernya, dia tiba di ruangan depan sebuah rumah tempat seorang perempuan tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata dengan biolanya.

Seketika si orang tua ini menyadari kekeliruannya. Suara tidak mengenakkan yang didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah proses belajar seorang anak yang belum bisa memainkan biolanya dengan baik. Dengan kebijaksanaannya yang polos, orang tua itu berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengan agama.

Sewaktu kita bertemu seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seorang pemula yang belum bisa ”memainkan” agamanya dengan baik. Namun ini bukanlah akhir dari cerita. Hari ketiga, di bagian lain kota, si orang tua mendengar suara lain yang bahkan melebihi kemerduan dan kejernihan suara sang maestro biola.

Suara apakah itu? Suarayangmelebihiindahnya gemercik aliran air pegunungan, melebihi merdunya kicau burung- burung pegunungan, suara terindah yang pernah didengar sepanjang hidupnya. Suara apakah gerangan yang telah menggerakkan hati si orang tua ? Itu suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.

Bagi si orang tua, inilah alasan mengapa itu menjadi suara terindah yang pernah dinikmatinya. Pertama, setiap anggota orkestra merupakan maestro dalam memainkan alat musik masing-masing dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersamasama dalam harmoni.

”Mungkin ini sama dengan agama,” pikir si orang tua. Masalahnya bukan pada ajaran agama, tetapi pada keberagamaan. Bukan salah alat musiknya, tetapi pada cara kita memainkannya. Keindahan perilaku umat beragama sangat ditentukan oleh kemampuan memahami ajaran agamanya, kemauan dan kemampuan mengamalkannya secara baik dan benar.

Itulah religious literacy. Sikap curiga di antara umat beragama, merendahkan dan menghina agama dan pemeluknya, khotbah yang menjelekjelekkan agama lain, perilaku elite politik yang memolitisasi agama demi kepentingan sesaat, dan perbedaan beragama yang diarahkan untuk memecah belah sesama warga negara menjadi unsur destruktif yang luar biasa terhadap keutuhan dan kesatuan NKRI.

Memang setiap agama mengajarkan halhal tertentu yang sifatnya common. Kejujuran dan keadilan misalkan menjadi common value. Namun tetap harus dihormati, dihargai, dan dilindungi bagi mereka yang berkeyakinan bahwa agama yang dianutnya yang paling benar. Oleh karena itu, harmoni dalam kehidupan masyarakat yang majemuk akan tercipta apabila kita memiliki religious literacy yang berkualitas.

Selain berarti pengetahuan dan kemampuan memahami dan mengamalkan agama sendiri secara memadai, religious literacy adalah sikap terbuka untuk mengenal nilai-nilai dalam agama lain (lita‘ârafû). Dengan” melekagamalain” orangbisa saling mengenal, menghormati, dan menghargai, bergandengan, mengembangkan dan memperkaya kehidupan dalam sebuah persaudaraan sejati antarumat beragama, apa pun agamanya— meski kebenaran tentang keyakinan terhadap agama yang dianutnya menjadi kemutlakan.

Ekstremitas beragama biasanya muncul karena ketidakutuhan dalam memahami sistem ajaran suatu agama. Analoginya seperti orang yang belajar aritmatika: plus, minus, kali, dan bagi (+ - x :). Kalau orang baru belajar plus atau penambahan saja, lalu ditanya ”cari dua bilangan yang dioperasikan dengan aritmatika, yang hasilnya 10”. Orang itu pasti ngotot menyodorkan dua angka yang lebih kecil dari 10 seperti 8 + 2 atau 9 + 1.

Karena tahunya sebatas penambahan, tidak mungkin menyodorkan angka lebih besar dari 10. Namun, kalau tahu ada minus, ada bagi, dan ada kali, maka dua angka yang disodorkan tak mesti di bawah 10, tetapi bisa juga di atasnya. Bisa 15 - 5 dan sebagainya. Religious literacy lebih dari sekadar melahirkan toleransi, tetapi juga menumbuhkan usaha aktif untuk memahami orang lain.

Toleransi dapat menciptakan iklim untuk menahan diri, tetapi tidak untuk memahami. Meminjam ungkapan Nurcholis Madjid, religious literacy tidak boleh dipahami sekadar sebagai kebaikan negatif (negative good), hanya ditilik dari kegunaannya untuk mengikis fanatisme (to keep fanaticism at bay).

Tapi religious literacy harus dipahami dan dimaknai sebagai ”pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagement of diversities within the bonds of civility). Pesan sang kakek di ujung kisah di atas juga layak kita simak: ”Marilah kita pelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran kehidupan. Kita semua adalah maestro di agama kita masing-masing. Dan sekarang saatnya kita bermain orkestra menyanyikan simfoni Indonesia Raya.”