Tampilkan postingan dengan label Dedi Mulyadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dedi Mulyadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

Indonesia Bukan Hanya Jakarta

Indonesia Bukan Hanya Jakarta
Dedi Mulyadi  ;   Bupati Purwakarta
                                              KOMPAS.COM, 14 November 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Jakarta adalah legenda bagi Indonesia. Sebuah tempat yang menawarkan seluruh derajat kehidupan bagi mereka yang mampu membeli.

Peredaran uang yang terbesar di seluruh tanah Indonesia berada di Jakarta. Pusat perwakilan politik dari mulai pemerintahan sampai kepartaian berada di tangan Jakarta. Energi dari seluruh bisnis yang terhampar di seluruh wilayah Nusantara uangnya semua mengalir ke Jakarta.

Pusat dari seluruh pungutan pajak dari seluruh industri yang tersebar sampai pelosok desa, Kantor Pusat, NPWP, dan bagi hasilnya berada di Jakarta.

Kampung-kampung seakan mengering, kehilangan gairah karena kekurangan darah. Jakarta seolah tidak memberikan ruang lagi bagi tempat lain untuk berdiri dengan kokoh, cukup vitalitas dan gizi, kaya protein dan inisiatif.

Kini Jakarta menggelar kenduri. Memilih pemimpin secara demokratis dan terbuka. Seluruh sudut pandang mata dan telinga kini tertuju kembali ke Jakarta. Bukan hanya hari ini, melainkan sudah sejak sekian waktu yang silam, seolah tidak boleh ada berita yang lain kecuali Jakarta.

Hingar bingar pilkada serentak di seluruh pelosok negeri kini senyap terkubur tanpa pemberitaan, seolah yang lain tak memiliki peran bagi hitam putihnya negeri. Seolah hanya Jakartalah yang menentukan Indonesia ke depan. Pilkada Jakarta, seperti menentukan hidup dan matinya Indonesia.

Padahal apabila kita mau melakukan perenungan secara mendalam, energi bangsa ini terhampar secara merata di seluruh persada Nusantara.
Dari sudut-sudut kampung yang tak terurus mengalir kiriman beras, jagung, kelapa sawit, karet, kopra, pala, buah-buahan, sayur-sayuran, telur, susu, daging, ikan, dan seluruh kebutuhan hidup masyarakat.

Dari sudut-sudut kepulauan Nusantara mengalir hasil tambang, emas, perak, nikel, belerang, gas, minyak bumi, bauksit, uranium, timah, bijih besi yang sangat menentukan tegak atau rapuhnya bumi Indonesia.

Seluruh kebutuhan yang sangat menentukan kehidupan itu nyaris tak pernah menjadi wacana publik yang menjadi pembicaraan kita, apalagi melakukan pengelolaan secara sempurna bagi derajat dan kesejahteraan masyarakat.

Krisis seluruh produk itulah yang sesungguhnya menentukan nasib bangsa kita. Gagal panen berdampak pada krisis beras nasional. Menurunnya produksi jagung berdampak pada tingginya harga pakan ternak.

Menurunnya jumlah populasi sapi, ayam potong dan ayam petelur berdampak pada semakin mahalnya protein hewani bagi masyarakat, sehingga kita harus impor.

Menurunnya produksi ikan tangkapan, pesisir yang tidak terurus, berdampak pada kenaikan harga ikan, garam dan menurunnya pariwisata bahari di Indonesia.

Menurunnya harga gas alam, sawit, karet berdampak pada menurunnya ekspor komoditi kita dan mengganggu struktur anggaran negara.

Kerusakan lingkungan di hulu Jawa Barat berdampak pada meluapnya air di Citarum, sehingga memenuhi bibir Danau Saguling, berimbas ke Cirata lalu bermuara di Jatiluhur.
Kalau tidak terkendali, air akan merambah wilayah Karawang, Bekasi dan akhirnya menenggelamkan Jakarta.

Sadarkah kita, Pilkada Jakarta bukan segalanya bagi Indonesia. Untuk apa kita bermusuhan, berkelahi, bercakar-cakaran, hanya karena ingin punya gubernur yang sesuai harapannya di Jakarta. Jakarta adalah Indonesia, tapi Indonesia bukan hanya Jakarta.

Kamis, 07 Mei 2015

Buburuh di Hari Buruh

Buburuh di Hari Buruh

Dedi Mulyadi  ;  Bupati Purwakarta
KORAN SINDO, 04 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Buruh dalam pemahaman orang Sunda dapat dimaknai sebagai upah atau bayaran. Kata itu sering terdengar ketika menyuruh anak-anak untuk melakukan sesuatu, sering terungkap kalimat, ”sok, engké diburuhan” (silakan, nanti diberi upah).

Kata buruhan (diupah) lebih mencerminkan ihwal yang bersifat sekadarnya atau seadanya, tidak memiliki standardisasi berapa nilai yang harus diberikan. Hubungan yang memberi buruh /upah dengan yang diburuhan lebih bersifat hubungan emosional, yang bersifat sukarela dan didasarkan pada faktor kedekatan. Upah yang diberikan bersifat sangat subjektif, bergantung kualifikasi personal si pemberi upah.

Kalau pemberi upahnya memiliki sifat yang murah hati, seringkali upahnya sangat tinggi dan yang diupahnya pun tidak diberi beban yang begitu berat. Sebaliknya, apabila sang pemberi upah punya penyakit pelit, memberi upahnya pun biasanya kecil dan pekerjaannya kadang-kadang melebihi kapasitas yang diberi upah. Proses hubungan timbal balik yang bersifat subjektif tersebut berlangsung dalam dunia buburuh di perdesaan sampai saat ini.

Seorang buruh tani memiliki jam kerja selama sabedug (waktu pagi hingga zuhur). Buruh tani memulai pekerjaan dengan sarapan pagi satu gelas kopi dan makanan pengganjal perut seperti goreng pisang, goreng singkong, atau goreng ubi sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan kalori bagi seorang buruh tani. Itu pun kalau yang punya sawahnya baik. Kalau pelit, ya kelasnya di bawah itu.

Pada pukul 10.00 WIB mereka dianteuran (diantarkan makanan) untuk mendapatkan makan yang berisi nasi, ikan, sambal, dan lalap ala makan perdesaan. Mereka makan di saung (gubuk kecil di sawah) setelah badannya bercucuran keringat. Ketika makan, mereka makan sambil ngobrol dengan pemilik sawah diiringi oleh semilir angin dan gemericik air laksana musik abadi.

Burungburung berkicau, bersembunyi di balik rimbunnya daun seakan ingin memberikan ketegasan bahwa akulah vokalis sejati. Gelak tawa seringkali membelah suasana, di tengah-tengah senda gurau penganan apa adanya. Biasanya mereka bercerita tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kampungnya, dari mulai cerita tentang tetangga sampai politik kekuasaan ala perdesaan.

Dengan penutup kalimat yang sering terucap, ”urang mah kumaha nu dibendo wé” (terserah penguasa), betapapun mereka kecewa terhadap keadaan politik dan kekuasaan, pada akhirnya mereka pasrah pada yang dibendo, diiket, diblankon, dipeci (penguasa). Tak ada sedikit pun watak pemberontakan dalam pikiran kaum tani perdesaan.

Pada waktu tengah hari sekitar pukul 12.00, yang ditandai dengan beduk zuhur, mereka menghentikan seluruh kegiatan buburuhnya (kuli). Mereka kembali ke rumahnya setelah sebelumnya mandi di pancuran atau di sungai, membersihkan seluruh tubuhnya yang berbalut tanah. Siang hari berbagai aktivitas mereka lakukan setelah selesai melaksanakan salat zuhur.

Ada yang pergi ke kebun, ada yang menyabit rumput untuk ternak peliharaannya, ada yang pergi mencari ikan ke sungai. Sore hari, pemilik sawah atau ladang mengantar makanan ke rumahnya sebagai ungkapan terima kasih atas seluruh energi yang telah dicurahkan oleh para kuli macul (kuli cangkul) dari pagi sampai siang.

Apabila kita mencermati hal tersebut, betapa hubungan antara pemberi pekerjaan dan pekerjanya terbangun secara harmonis, dari mulai pemberian makan sebanyak dua kali plus satu kali ngopi, komunikasi yang berjalan secara harmonis sampai waktu bekerja yang hanya enam jam dipotong satu kali istirahat, kurang lebih setengah jam.

Realitas tersebut mengalahkan sistem perburuhan yang berjalan hari ini, di mana jumlah jam kerja sebanyak delapan jam dikurangi satu jam istirahat, plus jatah makan yang hanya sekali dalam sehari. Itu pun banyak perusahaan yang tidak menyiapkan makan atau perusahaan mengurangi asupan gizi yang harus diberikan kepada para karyawannya.

Spirit buruh dan majikan dalam sistem perburuhan modern menjadi spirit yang berhadapan antara kaum kapitalis dan kaum proletar. Kaum kapitalis melakukan penguatan relasi dengan kekuasaan untuk memperkuat basis tawarnya sebagai lembaga kapital yang terorganisasi.

Sedangkan kaum proletar (buruh) melakukan konsolidasi yang bersifat gerakan massa untuk melakukan penekanan agar seluruh keringat bahkan darahnya dapat dihitung secara manusiawi untuk mendapatkan hak-hak kesejahteraan. Peristiwa Hari Buruh atau yang lebih dikenal dengan May Day seringkali menjadi kenduri yang menegangkan. Suasana terbangun mencekam, seolah terjadi gelombang manusia yang ingin memperlihatkan kekuatannya kepada dunia.

Ma Icih tersenyum ketika mendengar komentar seorang tokoh buruh yang berapi- api menyuarakan seluruh tuntutan yang menjadi aspirasi perjuangannya. Dengan senyum dikulum Ma Icih berkata, ”Asa ku teu ngarti aing mah” (saya agak kurang mengerti). Katanya tokoh buruh mewakili orang susah, tapi rambutnya klimis, mukanya bersih, kelihatan orang yang suka ke salon, badannya kelihatan subur, penuh gizi dan vitalitas.

Katanya akan menyampaikan tuntutan buruhnya agar didengar oleh Presiden, tapi di lain waktu dia bercerita sering ketemu Presiden. Kata Ema yang bodoh, kalau memang sering ketemu dan sering ngobrol sama Presiden, kenapa harus ngerahin orang segala?” Mang Udin menimpali sambil menggosok- gosokkan batu ali kesayangannya, ”Bener Icih, kadang-kadang Aki juga suka tidak ngerti sama kelakuan tokoh-tokoh palinter (pandai).

Membahas masalah kemiskinan, rapatnya di hotel berbintang. Membahas swasembada pangan, rapatnya di gedung perkantoran. Malahan hari kemarin, Aki harus rapat di Bandung dengan para penyuluh, Aki dinasehatin bagaimana cara bertani yang bagus oleh orang pintar. Nasihatnya pakai laptop, melihatnya di layar, seperti nonton film aja.

Dilihat oleh Aki, tangannya mulus, kakinya bersih, mukanya putih, berbicara penuh dengan semangat, dasi meni panjang ngagebay (panjang menjurai).” Si Ikin, tetangga Mang Udin, yang kebetulan datang sambil bersiul, ikut berbicara sambil ketawa-ketiwi, ”Betul sekali Aki, Nini apa yang diomongkan. Dipikir-pikir, buruh yang terorganisasi banyak yang membela dan memperjuangkannya, tapi kuli cuci pakaian, kuli masak, kuli ngasuh anak, buruh tani, siapa yang memperjuangkannya? Kalau sakit, siapa yang mengobati?

Kalau terkena golok, siapa yang ngurus? Nanti kalau sudah tua tidak bisa jadi buruh, siapa yang ngasih upah? Ah , dalam hal ini saya dan kerabat tukang kuli, tapi bukan, tidak ada harinya. Katanya Hari Buruh, tapi tetap saja kuli nyangkul, istri saya harus kuli nyuci pakaian sebab kalau tidak kuli, tidak akan punya upah.

Tidak ada yang menjamin, yang menjanjikan menjaminnya hanya datang lima tahun sekali, hanya diupah kaos tipis. Dari mulai pemilihan sampai sekarang, tidak pernah nongol, lantaran selalu ribut saja di Jakarta. Enggak tahu memperebutkan apa.”  

Rabu, 29 April 2015

Pesta Bikini Meniru Nenek-Nenek

Pesta Bikini Meniru Nenek-Nenek

Dedi Mulyadi  ;  Bupati Purwakarta
KORAN SINDO, 27 April 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ujian nasional merupakan ritual tahunan yang menegangkan dalam sistem pendidikan yang kita jalani. Ujian tersebut seolah menjadi peristiwa penentu perjalanan hidup dan kehidupan seorang siswa.

Berbagai cara dilakukan oleh siswa, guru dan orangtua untuk dapat melewati peristiwa sakral dan menegangkan tersebut. Sebut saja bimbel, mencari bocoran soal, sampai hal-hal yang berbau mistis seperti mencari wangsit ke kuburan dan menggandeng dukun, dari mulai dukun tradisional yang menggunakan mantra dan sesajen sampai dukun lulusan luar negeri yang menggunakan metodologi berpikir rasional berbasis teknologi informasi.

Kekalutan orang terhadap ujian nasional dimanfaatkan oleh para pihak yang melihat itu sebagai sisi keuntungan, maka terjadilah kebocoran soal yang mengguncang jagat pendidikan Indonesia dan dianggap aib yang menampar dunia pendidikan kita. Padahal masalah kebocoran adalah hal yang ”biasa” dalam siklus perjalanan pembangunan Indonesia.

Kontraktor bikin bangunan rata-rata atapnya bocor, bikin toilet di lantai dua juga sering bocor, pipa PDAM tidak jarang mengalami kebocoran, jaringan listrik juga sering bocor di perjalanan. Kebocoran bukan hanya melanda hal-hal yang biasa, tetapi juga melanda wilayah-wilayah yang dianggap paling sakral dan dijaga oleh ratusan pasukan.

Berapa kali kita mendengar pembicaraan presiden yang dianggap rahasia sekalipun sering bocor terdengar ke luar, bahkan sampai ke negeri Australia dan Amerika. KPK, lembaga anti rasuah yang paling ditakuti di negeri ini, surat penetapan status tersangkanya pada seseorang pernah bocor sebelum diumumkan. Jadi kenapa kita harus panik terhadap soal ujian nasional yang bocor kalau kebocoran di negeri ini sudah dianggap hal yang wajar?

Perjalanan pendidikan yang melelahkan dan berpuncak pada ujian nasional telah melahirkan peserta didik yang depresi. Bukan hanya peserta didiknya, bahkan pendidiknya pun banyak yang mengalami depresi disebabkan oleh kebingungan mereka dalam mengartikulasikan seluruh ide dan gagasan tentang hakikat pendidikan yang sering kali berbenturan dengan doktrin administratif pendidikan yang berbasis kurikulum bongkar muat.

Ciri-ciri peserta didik yang depresi itu sangat mudah diidentifikasi, ketika ada pengumuman bahwa mereka bebas untuk tidak masuk sekolah (libur), maka tepuk tangan mereka menggema di ruang kelas disertai dengan senyum bahagia para gurunya. Jadi secara umum kalau murid ditanya pelajaran apa yang disukai di sekolah, sebenarnya bukan pelajaran matematika, fisika, kimia, atau biologi yang mereka sukai, tetapi pelajaran bebaslah yang menjadi pelajaran favorit.

Hal tersebut menunjukkan betapa sistem pelajaran di sekolah telah menjadi monster yang menakutkan dan mencekam. Tumpah ruah kebahagiaan atas selesainya seluruh jenjang pendidikan yang dijalani oleh siswa, banyak diekspresikan dalam berbagai tingkah polah yang sering kali bertentangan dengan spirit pendidikan itu sendiri.

Ekspresi itu banyak diwujudkan dengan ritual berkonvoi di jalanan, coret-coret baju seragam, sampai pesta minuman keras, bahkan kita mendengar saat ini tidak sedikit anak sekolah yang melakukan pesta seks. Sebuah ironi dari spirit kemuliaan pendidikan yang mengajarkan nilai luhur tentang makna keutuhan manusia.

Pada akhirnya, kekerasan doktrin pendidikan berbanding terbalik dengan realitas produk pendidikan yang telah kehilangan substansi dan terperosok ke dalam lubang seremoni pendidikan atas nama kualitas dan atas nama kompetensi seseorang. Seluruh kompetensi yang menjadi kebanggaan dan alat ukur pendidikan kita, kini terperosok ke dalam pendidikan yang terkerangkeng dan sibuk memuja metodologi serta melupakan substansi dari arah dan tujuan pendidikan itu sendiri.

Pertanyaan unik dapat kita ajukan dalam tesis yang sangat sederhana, betulkah pendidikan formal yang berpuncak pada ujian nasional adalah jaminan mutu bagi masa depan seseorang? Tapi mengapa para pengusaha sukses banyak lahir tanpa latar belakang pendidikan profesinya, para penemu banyak lahir dari orang-orang yang tidak sepenuhnya mengikuti pendidikan formal.

Tukang kuli bangunan mampu mewujudkan sisi pembangunan yang indah tanpa pendidikan sekolah bangunan, tetapi justru kebudayaan mereka dalam memahami bangunan porak-poranda oleh orangorang yang mengenyam pendidikan tinggi berdasarkan karakter yang lebih menekankan pada titik keuntungan dibanding watak peradaban. Istana Negara dan Istana Cipanas sebagai simbol kebanggaan masyarakat Indonesia justru dibangun melalui kerja rodi.

Gedung Sate yang tinggi megah sebagai ikonnya masyarakat Jawa Barat juga dibangun dengan kerja rodi. Jalan Anyer-Panarukan, jalur kereta api dari Jakarta hingga Surabaya, juga dibangun oleh kekuatan pekerja yang tak bersekolah.

Yang lebih unik lagi, karya-karya musik dan lagu yang berkualitas banyak diciptakan dan dinyanyikan oleh orang yang tidak pernah mengikuti pendidikan musik secara formal, tetapi mengutamakan imajinasi dan rasa serta pengalaman hidup yang membuat mereka unggul dalam kreativitas.

Silakan ditanyakan kepada Bang Haji Rhoma Irama si Raja Dangdut, Iwan Fals, Ebiet G Ade, Slank, dan Melly Goeslaw, mereka sekolah musik di mana? Jawabannya ”tanyakan kepada rumput yang bergoyang,” begitulah kata Ebiet G Ade, ”Terlalu,” kata Bang Haji Rhoma Irama, Bongkar itulah kata Iwan Fals, Ada Apa dengan Cinta , begitulah Melly Goeslaw mengatakan.

Ketika hari menjelang senja, Ma Icih berkata dengan nada penuh makna kepada Mang Udin suami tercintanya, ”Udin, saya tidak mengerti, katanya pendidikan dasar 9 tahun tapi kenapa pemerintah melaksanakan ujian di kelas 6...? Terus sekarang pendidikan yang baik 12 tahun, kenapa harus ada ujian nasional di kelas 9...? Selanjutnya dari kelas 6 ke kelas 7 mah bukan lulus, tapi naik... dari kelas 9 ke kelas 10 juga sama, bukan kelulusan tapi kenaikan.”

Mang Udin menimpali sambil tersenyum, ”Iya Icih, saya juga tidak mengerti, buat apa sampai bimbel segala ya? Kalau bimbel dianggap efektif dan merupakan cara mudah untuk lulus ujian, sebaiknya sekolah dihapus saja diganti dengan bimbel, terus ujian. Kan jadi murah biaya pendidikan Indonesia.”

Ma Icih kembali menimpali, ”Betul, Din. Kelihatannya cucu-cucu kita sekarang banyak mengalami stres, karena terlalu seriusnya belajar di sekolah. Bajunya serius, bukunya serius. Bahkan saking seriusnya itu buku, sebelum masuk ke sekolah tidak pernah dibaca dulu oleh pejabat yang menangani bukunya, sehingga gambar porno, ajaran agama abal-abal bisa masuk ke buku.

Kalau buku yang menentukan arah pembelajaran di kelas, nanti mah sekolah guru harus dihapus karena tidak bermanfaat lagi ketika mengajar. Guru tidak lagi menyampaikan pemahaman pengetahuan yang dia miliki hasil dari kuliahnya, mereka hanya sekedar menyampaikan isi buku kepada murid-muridnya.

Jadi guru sudah tidak lagi mewakili pengetahuan yang dimilikinya, tetapi dia lebih mewakili pesan percetakan yang dititipkan kepadanya.” Ma Icih menambahkan, ”Nini (Nenek) sekarang itu lagi ada kebahagiaan, ternyata anak-anak sekolah di Jakarta kayanya sudah bosan dan pusing dengan berbagai teori yang membuat mereka menjadi semakin asing dengan dirinya, bahkan mereka sudah bosan dengan peradaban pakaian perkotaan yang membuat mereka menjadi tersiksa.

Mereka ingin hidup sederhana seperti Nini, pake baju cukup kutang wungkul sehingga diadakan pesta sebagai wujud kebahagiaan tamatnya mereka sekolah. Padahal kalau uang untuk biaya sekolah mereka itu diberikan kepada Nini, Nini bisa beli kutang baru karena kutang lama kancingnya sudah copot sebelah,” ujar Ma Icih menutup pembicaraan.

Kamis, 09 April 2015

Mata Air, Air Mata

Mata Air, Air Mata

Dedi Mulyadi  ;  Bupati Purwakarta
KORAN SINDO, 06 April 2015

                                                                                                                                                            
                                                                                                                                                           

”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Itulah bunyi Pasal 33 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang sudah kita hafal sejak sekolah dasar. Dalam implementasinya, pasal tersebut mengalami perubahan wujud seiring dengan dinamika dan karakter pertumbuhan ekonomi yang dari waktu ke waktu mengalami perubahan yang cukup tajam.

Konsep negara yang berorientasi pada pasar telah melahirkan perubahan yang cukup tajam dari berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata kelola sumber daya alam. Dari konsep pengelolaan yang berbasiskan negara untuk kemakmuran rakyat, menjadi konsepsi pengelolaan yang berbasiskan modal untuk pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Konsepsi pengelolaan tersebut telah melahirkan perdebatan yang cukup panjang tentang pola pengelolaan ekonomi Indonesia yang melahirkan dua kutub pemikiran antara pemikiran ekonomi kerakyatan dengan pemikiran ekonomi liberal.

Ekonomi kerakyatan merupakan sebuah pemikiran yang mengarah pada distribusi pemerataan ekonomi secara utuh dan menyeluruh, sedangkan ekonomi liberal menekankan pada pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh beberapa tangan atau kapitalisasi yang tertumpu pada orang atau kelompok.

Sudahlah, seluruh perdebatan tentang konsepsi tersebut biarkan berjalan seiring dengan tumbuh dan berkembangnya berbagai mazhab dan kutub ekonomi Indonesia. Namun secara esensial, semestinya pengelolaan sumber daya alam yang dikelola oleh kelompok profesional yang memiliki kapital besar tidaklah menyentuh pada sumber daya alam yang murah, berlimpah, dan tidak memerlukan sentuhan modal besar dan teknologi yang tinggi.

Air merupakan sumber daya alam yang sangat berlimpah di negeri ini. Apalagi ketika musim hujan, air seperti tidak dibutuhkan lagi; terbuang bebas, mengalir mengikuti kelok-kelok sungai, menari di belantara jalan raya, berkumpul di sudutsudut kota yang kadang oleh sebagian orang dianggap sebagai sebuah petaka. Namun di rumah-rumah warga, air sangat sulit mengalir dengan gesit.

Tetesannya terasa tersendat, berliku mengikuti alur pipa-pipa tua berkarat yang entah kapan akan mengalami perubahan. Jangankan di musim kemarau, bahkan di musim hujan pun kala masyarakat tertimpa banjir, justru mereka mengalami krisis air bersih. Sebuah ironi di negeri yang penuh dengan mata air.

Hampir di seluruh rumah hari ini masyarakat mengonsumsi air minum dalam kemasan dengan berbagai varian harga. Dari hanya Rp1.500 per botol di kaki lima sampai Rp15.000 per botol yang biasa diminum di hotel-hotel berbintang. Bahkan lebih mahal dari itu, dengan berbagai bumbu warna pengobatan yang membuat harganya semakin beragam.

Dari mulai kemasan dengan simbol-simbol khasiat tertentu yang dikelola secara apik oleh kelompok-kelompok intelektual sampai pada air yang berisi jampe (mantra) ala kampung yang khasiatnya tidak bisa kita duga karena semuanya bersifat sugesti.

Yang membedakan cuma satu, kalau air jampe-jampe dari kampung yang tidak menggunakan tarif dan hanya dibeli dengan harga sekadarnya, banyak orang yang sering memberikan label musyrik, sedangkan air kemasan yang bertarif dengan tulisan beragam khasiat, tak ada satu pun orang yang mengatakannya musyrik.

Ma Icih, perempuan tua yang begitu paham tentang masalah air, hari ini banyak mengeluhkan sumur tua di belakang rumahnya yang sering mengalami kekeringan di musim kemarau akibat adanya eksploitasi penjualan air yang menggunakan tangki oleh orang kaya, tetangga di kampungnya.

Dengan nada lirih Ma Icih berkata, ”Makin lama Ema makin bingung dengan perilaku manusia sekarang. Kalau bicara seperti yang benar, ngomong falsafah Pancasila, hakikat agama, tapi hidup tak ada sarinya, segala macam dihitung dengan uang. Tak pernah memikirkan kesusahan orang lain, asal kenyang perutnya sendiri.

” Mang Udin menimpali, ”Betul Icih, sawah dan kolam kita juga sering kering karena sumber air yang jadi andalan kita kini berantakan oleh penambangan pasir sedot. Entah manusia macam apa ini yang usaha, sampai pasir juga disedot. Entah sebesar apa perutnya, kuat diisi pasir segala.

Menurut catatan si Uja, anak Mang Udin, mobil yang mengangkutnya juga sebesar jurig (hantu), bannya besar-besar, banyak lagi. Setiap hari melewati jalan desa dan kabupaten dengan tonase lebih dari 40 ton. Aki bingung, kok bisa truktruk dengan beban yang sangat besar melewati jalan-jalan pemerintah yang ada tulisan larangannya ‘maksimal 20 ton’ dan bisa melewati jembatan timbang dengan senang hati.

Sebagai orang bodoh dari kampung, Aki jadi bingung, punya ilmu apa ini supirnya, kalau masuk jembatan timbang beratnya jadi berkurang. Mobil truk itu juga suka ”berak” di pinggir jalan yang sekali beraknya cukup untuk 2 colt diesel dan suka kencing yang sekali kencingnya cukup untuk 3 mobil pikap.

Mereka berak di tempat yang terbuka, bisa dilihat oleh seluruh petugas dengan baik, dipikir- pikir apa tidak bau, yang berak di pinggir jalan dibiarkan saja. Pantas jalan sekarang gampang rusak, gampang bolong, gampang pecah betonnya, beban kendaraannya melebihi kapasitas, sih. Tidak tahu ini tugas siapa, kayanya tidak dianggap penting untuk diselesaikan.

Padahal kalau diteliti, berapa triliun rupiah kerugian negara akibat kerusakan jalan. Tetapi mungkin karena bukan isu sensitif yang menarik media, hal ini jadi dianggap biasa. Akan dianggap luar biasa apabila ada orang asing yang terjatuh dari motor di jalan berlubang kemudian menggugat di forum internasional.  

Ma Icih kembali berkata, ”Sepengetahuan Ema, leluhur kita mengajarkan tentang kecintaan terhadap tanah air. Apalagi orang Sunda, nama-nama kampungnya selalu menggunakan ‘cai’; Ciasem, Cimahi, Cibeureum, Ciamis, Cibodas, Cijunti, dan lainnya. Artinya betapa kuat peran air terhadap pembentukan karakter dan watak manusia.

Ema juga sempat pusing, nama-nama tersebut kini banyak hilang, bahkan Ema sempat tersesat ketika berkunjung ke kota. Nama tempat yang menjadi tujuan Ema berkunjung kini sudah tidak ada, tidak tahu ditelan oleh siapa dan berubah menjadi serba residen. Padahal residen mah kan adanya di jaman Belanda, jabatannya di atas bupati, di bawah gubernur.

 Sekarang mah residen teh jadi nama kompleks. Nama-nama itu dibuat dan diizinkan oleh orang-orang yang setiap Senin apel kecintaan terhadap tanah air, setiap tanggal 17 tiap bulan Upacara Peningkatan Disiplin Nasional, tetapi dengan mudah mengubah nama kampung-kampung yang dibuat oleh leluhur.

Ema sangat kecewa atas ketersesatan ini.” Mang Udin menimpali, ”Sudahlah Icih, jangan terlalu banyak mengeluh. Mungkin sudah menjadi nasib kita asing dan tersesat di tanah air kita sendiri. Aki juga sama pernah ketipu, sudah kadung merasa gagah diberi fried chicken oleh incu.

Kirain apa fried chicken itu ternyata goreng ayam yang diberi terigu. Lebih enak goreng ayam buatanmu, Ma. Ayamnya diberi pakan gabah, menyembelihnya dengan doa, sebelum digoreng diungkeb dulu dan jelas jantan atau betinanya.

Dibanding yang itu, ayamnya kegemukan, terlalu banyak pakan nampaknya. Yang kegemukan kan kurang gerak, yang kurang gerak itu malas, pantas saja kalau cucu kita sekarang kerjanya malas karena terlalu banyak makan ayam malas. Malah, anak tetangga kita sekarang teh kaya bencong. Kayanya itu pengaruh makan ayam yang tidak jelas jenis kelaminnya.

Asa palalaur aing mah (Rasanya jadi khawatir). Makanya, waktu kumpulan di desa, Aki marah sama Pa Kades yang pidato berapiapi tentang peningkatan kecintaan terhadap tanah dan air. Ceuk aing teh Nini, gandeng sia kaluman (Saya bilang, berisik ah).

Cinta Tanah Air nanahaon, tanah beak dijual, cai beak ditengkian (tanah habis dijual, air habis diangkut tangki). Waktu Aki ngomong begitu, tiba-tiba si Uja ngomong, sambil popolotot. Cinta tanah air model apa sekarang ini, imah ngontrak, cai meuli (rumah ngontrak, air beli).”

Selasa, 06 Januari 2015

Tahun Baruan : Tradisi dan Larangan

Tahun Baruan : Tradisi dan Larangan

Dedi Mulyadi  ;  Bupati Purwakarta
KORAN SINDO,  05 Januari 2015

                                                                                                                       


Perayaan malam pengujung akhir tahun atau malam tahun baruan yang dalam istilah bahasa Inggris new yearnew years eve merupakan tradisi baru bagi masyarakat Indonesia.

Setiap malam pergantian tahun, seluruh masyarakat riuh rendah membuat berbagai acara untuk menyambutnya seolaholah malam itu begitu sakral dan menentukan nasib dan kehidupan seseorang. Bahkan malam tersebut dianggap sebagai makhluk yang harus mendapat perlakuan istimewa dengan berbagai persiapan dan penataan ritual upacara, mulai penataan hiburan, kembang api, terompet, bahkan makanan dan minuman dengan beragam jenis menurut kemampuan masing-masing.

Mereka yang tidak memiliki acara karena keterbatasan kemampuan keuangan biasanya tumpah ruah ke jalan untuk menunggu detik-detik pergantian tahun dengan penuh sukacita sehingga kemacetan merupakan kegiatan rutin yang biasa dijumpai.

Ingar-bingar lampu yang berwarnawarni, musik yang berdentum dengan keras, suara penyanyi mulai dari kelas miliaran, seratusan juta, puluhan juta, kelas jutaan, kelas ratusan ribu, bahkan penyanyi yang tidak kebagian kelas, melengking mengisi langit-langit malam, menggetarkan jantung seluruh pengunjungnya, membawa mereka pergi terbang ke angkasa menuju singgasana kebahagiaan, melupakan berbagai peristiwa yang menimpanya dalam setahun ke belakang.

Tawa dan jerit pengunjung terus bergemuruh diiringi jingkrak badan, geleng kepala, dan kepalan tangan tanpa terbatasi oleh usia, tua muda sama saja, pokona mah palebah malam taun baru mah, aki-aki jeung nini-nini jadi ngora deui. Padahal pergantian tahun adalah berkurangnya umur. Ketika waktu menunjukkan pukul 23:59:51, tibalah saat istimewa itu.

Terhitung angka mundur dari 9, 8. 7, 6 , 5, 4, 3, 2 ,1, maka pecahlah seluruh kegembiraan itu. Langit menjadi berwarna-warni karena dihiasi kembang api, suara terompet bergemuruh membelah keheningan malam, setiap orang menjerit mengekspresikan kegembiraan, saling mengucapkan salam dan berpelukan seolah-olah mendapat hadiah besar dari langit ketujuh.

Berbagai aksi pecahlah setelah itu, suara motor yang meraung, knalpot yang tiada henti, musik yang semakin keras membuat bumi menjadi bergetar, langit pun ikut bergoyang. Setelah itu berbagai peristiwa itu diekspresikan dengan berbagai tingkah manusia pawai berkeliling jalan, melanjutkan duduk bergerombol atau hal-hal lain yang 17 tahun ke atas. Itu dulu, sekarang sudah bukan 17 tahun ke atas, tetapi sudah merambah 17 tahun ke bawah, pokona mah kitu we lah.

Sebagai masyarakat yang gehgeran (latah), peringatan tahun baru itu seperti menjadi kenduri wajib yang mesti dilaksanakan. Tanpa harus digerakkan negara, masyarakat rela melakukan apa pun dengan biaya sendiri. Mereka keluar rumah sejak sore hari membawa berbagai perbekalan yang dianggap perlu untuk menyambut tibanya pukul 00.01. Kini budaya tahun baru dengan terompetnya sebagai aksesori ritual bukan hanya dominasi masyarakat perkotaan.

 Di pinggirpinggir desa kini ritual tersebut mulai dilaksanakan. Entah siapa yang memulainya dan entah mulai kapan kebudayaan ini begitu kuat pengaruhnya bagi masyarakat Indonesia.

Berbagai imbauan dan larangan terus digulirkan oleh berbagai pihak yang tidak sepakat dengan peringatan tahun baru karena dianggap bertentangan dengan nilai ajaran dan keyakinan, bahkan untuk tahun ini imbauan itu juga muncul dari institusi negara karena Indonesia sedang berduka dengan jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 yang memberikan duka yang cukup dalam bagi bangsa Indonesia.

Terlepas dari persoalan duka itu, sebuah keharusan kemanusiaan kita mesti memberikan doa dan empati bagi korban dan keluarganya atas musibah yang dialami. Sebagai bangsa dan masyarakat yang memiliki nilai solidaritas, kemanusiaan, dan persatuan, alangkah naifnya apabila empati tersebut harus tergerus oleh berbagai keinginan yang bersifat sesaat.

Walaupun selalu saja ada tanya dari Mang Udin di kampung saya, mengapa bila pesawat yang jatuh semua orang menjadi sibuk, menjadi berita besar, sedangkan bila tabrakan motor, tergulingnya bus atau kereta, atau Ma Icih yang sakit hingga meninggal karena tak mampu berobat tidak pernah jadi berita besar apalagi mendapat empati dunia? Kata saya, pertama, peristiwa jatuhnya pesawat merupakan peristiwa yang langka.

Yang kedua , penerbangan itu melibatkan hubunganinternasional. Yang ketiga, korban dalam pesawat bukan hanya orang Indonesia, melainkan warga dari berbagai negara sehingga peristiwa tersebut selalu menjadi berita utama baik berita nasional maupun internasional. Keempat, peristiwa tersebut juga menjadi perhatian para kepala negara dan kepala pemerintahan di berbagai belahan dunia.

Namun peristiwa duka tersebut seolah tidak memberikan pengaruh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tetap saja peringatan tahun baru memiliki catatan kemeriahan di berbagai tempat.

*** Kalau bicara tahun baru, orang Indonesia itu memiliki 3 peristiwa tahun baru. Pertama, Tahun Baru Masehi, yang kedua Tahun Baru Hijriah, dan yang ketiga tahun baru daerah seperti tahun baru dalam sistem penanggalan Jawa, tahun baru dalam sistem penanggalan Sunda, dan tahun baru dalam sistem penanggalan di berbagai daerah di seluruh Nusantara.

Tahun Baru Masehi dalam tradisi ibu saya selalu disebutnya dengan bulan umum, artinya sistem penanggalan yang mengadopsi tradisi budaya Masehi dan menjadi penanggalan resmi pemerintah. Tahun Masehi merupakan standardisasi penanggalan Pemerintah Indonesia yang berlaku untuk dunia birokrasi, dunia perbankan, dan kepentingan penanggalan lain.

Atas nama hukum penanggalan yang berlaku secara internasional, kita sudah masuk secara budaya penanggalan menjadi subordinasi dari sebuah kebudayaan global yang merupakan tradisi orang lain. Yang kedua adalah bulan Hijriah, merupakan sistem penanggalan yang didasarkan pada peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dengan sistem penanggalan bulan sebagai rujukan perhitungan.

Dari sisi wilayah, peristiwa tersebut terjadi pada wilayah Timur Tengah yang menjadi pusat lahir dan berkembangnya ajaran Islam. Penanggalannya diawali pada 1 Muharam. Dalam sistem penanggalan Hijriah sering kali saya dibuat bingung dengan sistem penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal karena sering kali terjadi perbedaan pendapat antara satu golongan dengan golongan yang lain.

Terlepas dari perbedaan itu adalah hikmah, ada pertanyaan yang sampai hari ini belum terjawab, kenapa kalau menentukan 1 Ramadan dan 1 Syawal sering berbeda, sedangkan menentukan 1 Muharam selalu sama? Logikanya adalah kalau ada 1 tanggal yang beda pada bulan Ramadan dan bulan Syawal, kenapa tanggal 1 Muharam bisa sama?

Atau mungkin perbedaan itu hanya khusus untuk 1 Ramadan dan 1 Syawal. Kalau begitu saya memiliki usul terbalik, tanggal yang lain boleh beda, tapi kalau tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal harus sama karena tanggal ini sangat strategis dan sakral bagi saya dan masyarakat muslim Indonesia.

Penanggalan berikutnya adalah penanggalan yang didasarkan pada kebudayaan pada setiap daerah. Ibu saya menyebutnya bulan urang. Dalam sistem penanggalan Jawa yang di dalamnya dikenal istilah wage, pahing, kliwon, legi, setiap tanggal dan hari memiliki makna sendiri-sendiri bagi setiap orang, tergantung pada hari dan tanggal kelahiran.

Penanggalan dalam tradisi sering kali berhubungan dengan hal-hal yang bersifat mistis spiritual atau mistis rasional, tergantung pada kita melihat dari sudut pandang masing-masing. Tradisi penggunaan tanggal ini masih sangat hidup di tengahtengah masyarakat tradisional yang digunakan untuk penanggalan pernikahan, musim tanam, musim panen, bahkan dalam dunia pelayaran yang dilakukan para nelayan tradisional.

Rujukan yang digunakan dalam penanggalan ini didasarkan pada peredaran bintang. Dari situlah para petani dan nelayan mengambil keputusan untuk menanam, memanen atau berlayar. Tanpa lembaran kalender yang tertera dalam kertas dan perangkat elektronik, mereka cukup hafal seluruh penanggalan tersebut dan menjadi bagian dari keyakinan hidup mereka sebagai bangsa yang memiliki warisan kebudayaan leluhurnya. Setiap pergantian tahun mereka selalu melaksanakan ritual.

Dalam kebudayaan Sunda ada yang dikenal dengan peristiwa Seren Taun yang ditandai dengan diturunkannya padi yang tersimpan di leuit setahun yang lalu untuk ditumbuk dan disimpannya padi hasil panen tahun ini di dalam leuit . Hal tersebut menunjukkan sistem penghitungan tanggal mereka telah melahirkan sistem pertanian yang tertata. Kebutuhan akan beras pun tercukupi dengan baik, bahkan mereka memiliki cadangan yang cukup untuk setahun ke depan.

Begitu juga para nelayan yang menggunakan sistem penanggalan dan pelayaran dengan kebudayaan mereka. Sebenarnya mereka cukup mapan dengan hasil yang diraihnya. Kehancuranmerekalebihdisebabkan persaingan yang tidak seimbang di tengah laut antara kaum tradisi dengan kaum kapitalis serta budaya tauke yang terjadi ketika mereka di darat. Sebesar apa pun penghasilan mereka, hal itu tidak membuat mereka menjadi kaya, yang kaya tetap saja para tauke.

Kalau kaum tradisi dengan keyakinan penanggalan leluhurnya telah mampu menjadi masyarakat yang makmur dan mandiri, kenapa kita yang menggunakan penanggalan internasional  berdasarkan tradisi yang dimiliki orang lain menjadi bangsa yang terus bergantung kepada mereka?

Jangan-jangan kita ini memang salah dalam menggunakan penanggalan sehingga penghitungan politik, ekonomi, dan hubungan perdagangan kita mudah dilacak dan dibaca teknologi yang mereka miliki. Bagi para pegawai, kini tanggal 1, 2, 3 atau tanggal muda sudah tidak menarik lagi karena seluruh gajinya sudah habis dipotong oleh bank yang bertanggalkan internasional.

Selasa, 23 Desember 2014

Kurikulum Kembali ke Asal (2)

Kurikulum Kembali ke Asal (2)

Dedi Mulyadi  ;  Bupati Purwakarta
KORAN SINDO,  22 Desember 2014

                                                                                                                       


Pendidikan harus mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mampu melihat seluruh tuntunan perilaku hidup yang meliputi penglihatan pada ruang keluarga, pada ruang masyarakat, dan pada ruang alam.

Harus jujur, kita akui seluruh ruang itu kini mengalami penyempitan. Media massa, media elektronik, dan media sosial kini tumbuh menjadi kekuatan yang sangat memengaruhi karakter anak-anak kita. Ruang yang begitu bebas dan terbuka telah menyeret anak-anak kita pada sudut kesempitan berpikir, sehingga lahir berbagai tindak yang abnormal yang kini dilakukan anak-anak usia remaja.

Kurikulum tidak mesti mengatur pada hal-hal bersifat teknis, karena sepandaipandainya seseorang yang memiliki kepakaran dalam bidang pendidikan tidak akan mungkin dia memahami seluruh kebutuhan anak Indonesia yang tersebar luas dan memiliki keragaman kualifikasi personal dan komunal.

Anak-anak perkotaan hidup di belantara tiang beton, bersemayam di rumah tanpa jendela, berlari di gang-gang sempit, berenang di sungai yang hitam dan pekat. Hidup di antara bising kendaraan, sisi penat sebuah kehidupan tiada hari tanpa kemacetan dan makanan yang harus diperoleh di tengah-tengah himpitan hidup yang semakin kejam.

Di sisi lain ada yang hidup dalam rimba riang kemudahan, air yang mengalir jernih dari sudut kamar mandi yang mengkilap, berlari dari pintu ke pintu perumahan mewah yang terhampar taman yang tertata dan asri, makanan yang siap tersaji di meja makan. Ada pula anak-anak perdesaan yang hidup di antara belantara alam yang luas, sungai yang mengalir jernih, sawah yang terbentang tanpa batas, gunung yang tinggi menjulang dirimbuni pepohonan, setiap hari bercengkerama dengan ayam, domba, sapi, kuda, dan kerbau.

Kurikulum semestinya memberikan panduan untuk membangun kesempurnaan diri mereka agar mampu beradaptasi dan melakukan perubahan pada lingkungan yang mengurungnya. Anak-anak di perkotaan dididik untuk melakukan perubahan terhadap lingkungan yang tidak tertata, belajar membuat biopori, mengelola sampah organik dan anorganik, berangkat ke sekolah dengan bersepeda atau berjalan kaki, menjernihkan air yang kotor, belajar hidup menabung dan hidup berbagi terhadap sesama, serta berbagai pembelajaran lain yang membangun kekukuhan hidup secara personal dan kekokohan hidup secara komunal.

Kekukuhan tersebut akan mampu melahirkan manusia yang memiliki jati diri dan daya saing di tengah persaingan hidup yang semakin berat, kompetisi yang melahirkan kepenatan berpikir dan gelombang manusia frustrasi karena kehilangan kendali diri dan kendali ekologi.

Anak-anak perdesaan dididik untuk memahami peta dunia, melakukan pengelolaan alam secara paripurna tanpa harus melakukan perusakan terhadap seluruh tata nilai budaya yang menjadi warisan leluhurnya. Mereka harus diberikan sebuah keyakinan akan keberadaban ajaran leluhur Nusantara tanpa harus inferior terhadap ajaran impor.
 Aku bangga menjadi anak Papua, aku adalah Papua, aku adalah Aceh, aku adalah Sunda, aku adalah Jawa, aku adalah Bugis, aku adalah Minang, aku adalah Batak, aku adalah Betawi, aku adalah Bali, akulah Indonesia yang sebenarnya. Mereka akan tumbuh menjadi para diplomat budaya yang berdiri tegak dan kukuh di tengah-tengah percaturan dunia.

Karakter itulah yang menjadi dambaan kita semua. Dari keakuan itulah akan lahir kreativitas, diplomasi tanpa harus melakukan kekerasan, dan marketing perdesaan tanpa harus perusakan lingkungan yang mampu mengadvokasi kearifan budaya dari berbagai intervensi dan penghancuran atas nama modernisasi, kemapanan, dan peradaban baru yang semu.

Konsepsi pendidikan tersebut harus terpetakan secara menyeluruh di seluruh lapisan pendidikan Nusantara sehingga pola pembelajaran yang diajarkan adaptif terhadap lingkungan. Guru-guru harus tumbuh menjadi inspirator bagi para muridnya, menjadikan lingkungan sebagai laboratorium terbuka untuk mengadakan pengayaan dan penghayatan terhadap pengetahuan anak didiknya.

Pola rekrutmen guru harus memperhatikan ketersediaan tenaga yang berasal dari lingkungan tidak hanya mesti didasarkan pada standar formal, tetapi juga harus mencoba membaca aspek-aspek informal kekuatan guru. Pola rekrutmen yang tidak didasarkan pada aspek wilayah, telah melahirkan kesenjangan ketersediaan guru di sebuah wilayah.

Awalnya “Aku bersumpah bahwa aku bersedia ditempatkan di mana pun ketika aku diangkat menjadi pegawai negeri sipil”, tetapi setelah itu kelas-kelas menjadi sepi karena ditinggal oleh gurunya yang kembali ke kampung halamannya. Hal seperti itu memang tidak terjadi pada semua guru, masih banyak guruguru yang mau bertahan di tempat-tempat yang disebut daerah istimewa.

Saya menyebutnya daerah istimewa, bukan daerah terpencil karena daerah terpencil itu sebenarnya memiliki berbagai keistimewaan. Istimewa bahasa masyarakatnya, istimewa makanannya, istimewa pakaiannya, istimewa tata bahasanya, istimewa alamnya. Keistimewaan tersebut adalah cermin kekayaan alam Indonesia yang masih orisinal milik negeri kita sendiri, belum tergadaikan dan belum dibeli oleh bangsa lain.

Orisinalitas ini adalah kekayaan Indonesia yang sebenarnya karena kota dan pusat peradaban semu sudah bukan lagi milik kita. Hotel-hotel berbintang yang tinggi menjulang, tumpukan uang yang ada di berbagai perbankan, lalu lintas telekomunikasi yang kita nikmati, media sosial yang kita gandrungi, sebenarnya punya siapa? Rambut berwarna yang mereka pakai, sebenarnya rambut siapa... rambut, rambut siapa ini... begitulah kata TehEvi Tamala.

Apabila kurikulum dibuat dalam kerangka general dan diterjemahkan secara efektif dan objektif oleh para pelaksana pendidikan yang kultur dan menyeluruh, maka kurikulum tidak ada kalimat tahunan. Dia akan menjadi kekuatan yang tumbuh membingkai keanekaragaman Indonesia.

Persoalan dihentikannya pelaksanaan Kurikulum 2013 menimbulkan pertanyaan yang cukup mendalam, kenapa sebuah kebijakan yang menyangkut keberlangsungan keberadaban sebuah bangsa menjadi kebijakan yang tidak mencerminkan kematangan dalam berpikir dan kecerdasan dalam bertindak. Sudah berapa besar uang yang dibelanjakan untuk membeli buku, berapa besar uang yang dibelanjakan untuk membeli iklan, sosialisasi, pelatihan, dan sistem yang dibangun?

Angka-angka tersebut kini menjadi angka-angka tanpa makna dan terbuang percuma di tengahtengah negeri yang sibuk melakukan efisiensi. Ketika sekarang memutuskan kembali ke Kurikulum 2006, mengapa dulu membuat Kurikulum 2013? Kalau kata Meggi Z....Kau yang nyalakan, engkau juga yang padamkan...Guru dan murid adalah manusia yang memiliki rasa, bukan tumpukan kertas atau barang tanpa makna.

Tidak beradab rasanya menempatkan mereka sebagai bagian dari percobaan estimasi berpikir sempit yang dilakukan oleh para pakar pendidikan. Maka bergemuruhlah berbagai pertanyaan, sebagaimana ceuk Mang Udin urang lembur, “Bapa, apanan nu ganti mah ukur menteri jeung ngaran departemenna wungkul, ari anak buahna mah apanan henteu ganti?” (Kata Mang Udin yang orang kampung, “Bapak, kan yang berganti hanya menteri dan nama departemennya.

Anak buahnya kan tidak diganti?”), artinya bahwa yang menyusun dan menghentikan Kurikulum 2013 adalah orang dan lembaga yang sama. Kemudian, saya berujar pada Mang Udin, sudahlah, tidak usah ribut, karena semua peristiwa ini sudah ada dalam catatan peristiwa pengembaraan Bang Haji Rhoma Irama: Kurikulum 2013... kau yang mulai, kau yang mengakhiri.