Jumat, 07 April 2017

Moral Cinta Ibu

Moral Cinta Ibu
Ahmad Baedowi  ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta
                                              MEDIA INDONESIA, 03 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

MEMILIKI istri yang sadar terhadap pen­tingnya pendidik­an anak ialah anugerah luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan besarnya nilai harta. Qaimah Umar, perempuan yang saya nikahi kurang lebih 27 tahun lalu, ialah tipikal seorang ibu yang memiliki kecintaan yang besar terhadap dunia pendidikan.

Menjadi guru di sepanjang hayatnya ialah cita-citanya yang tidak akan mati oleh ke­dukaan mendalam kehidupan dunia. Menjadi guru honorer selama 18 tahun dijalaninya dengan tabah. Bahkan keti­ka pertama menjadi guru, se­tiap berangkat ke sekolah, dia selalu membawa anak ka­­mi yang baru dua orang waktu itu dengan mengikat ba­dannya dengan kain, seraya memboncengi anak-anak dengan sepeda motor pergi ke sekolah.

Bukan hanya itu, keceriaan dan kebanggaan menjadi guru juga tak pernah surut ketika sa­­ya, suaminya, mengalami be­gitu banyak cobaan hidup. Dalam benaknya, keutuhan keluarga teramat besar untuk dihancurkan dan menyayangi anak-anak menapaki kehidupan lebih lanjut dan lebih baik ialah obsesinya yang tiada henti.

Di tengah-tengah tugasnya sebagai guru SD, istri saya ju­ga aktif melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan gerakan menyantuni anak yatim melalui Majelis Taklim Al-Ikhlas yang dipim­pinnya. Pendek kata, moral cinta Qaimah Umar tak akan per­­nah bisa saya membalasnya di kehidupan dunia ini. Saya hanya berharap Allah selalu memberinya keceriaan dalam mengajar dan memberi perhatian kepada anak-anak.

Melakukan hal kecil

‘Jangan mencari yang besar-besar, cukup mengerjakan yang kecil-kecil dengan cinta yang besar. Makin kecil yang kita hadapi harus makin besar cinta yang kita berikan’, demikian ditulis Mother Theresa, dalam Come Be My Light: The Private Writings of the Saint of Calcutta. Kutipan bijak dari Bunda Theresa ini sangat sesuai dengan kebutuhan pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia. Apalagi jika dilihat dari situasi kelam dunia pendidikan kita, keteladanan dan cinta sejati mulai senyap dan hilang.

Kita benar-benar membutuh­­kan inspirasi cerdas yang da­­pat membangunkan jiwa. Apa yang dikatakan Bunda The­resa tentang mengerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar sangat identik de­­ngan apa yang dilakukan istri saya, Qaimah Umar, dan juga hampir seluruh ibu yang sadar pentingnya pendidikan di muka bumi ini.

Seorang ibu hampir dapat di­­pastikan selalu mengerja­­kan hal-hal kecil, seperti memper­­ha­­tikan anak-anak dan kelu­arga mereka, tetapi dengan cin­ta yang sangat besar. Cinta seorang ibu terhadap anaknya tak mungkin berakhir karena perhatian dan cinta mereka jus­­tru datang dari hal-hal ke­­cil. Hal-hal kecil selalu bermua­sal dari keseharian yang ada di sekitar kita. Karena itu, con­toh kecil itu sangat baik dan memungkinkan untuk di­­transformasi dalam praktik pengajaran di sekolah, yaitu mem­perhatikan para sis­wa dari hal-hal yang kecil kemudian mendiskusikan secara ber­­sama masalah yang muncul.

Berkaca pada situasi saat ini dengan banyaknya persoalan yang mendera pendidikan ki­ta, ada banyak alasan bagi ki­ta untuk mempersoalkan ba­­gaimana nasib pendidikan moral dan budi pekerti dikembangkan dan diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah. Setiap bentuk anomali perilaku anak-anak di sekolah, baik dalam bentuk tawuran antarsiswa, penyalahgunaan obat terlarang, penyimpangan perilaku seksual, hingga penistaan peran guru melalui Facebook misalnya, selalu disikapi dengan pendekatan serbaformal. Termasuk di antaranya usul ten­­tang perlunya membuat model kurikulum pengem­bang­­an pendidikan moral dan budi pekerti. Selain kurikulum, sepertinya tidak ada lagi cara lain untuk memperbaiki perilaku siswa menyimpang. Pertanyaannya ialah kurikulum yang bagaimana lagi ingin kita buat untuk pendidikan moral dan budi pekerti di sekolah?

Soal di sekolah lebih banyak menuntut siswa hanya menjawab benar dan salah. Tetapi lalai dalam melakukan autokritik terhadap pelemba­­gaan ujian meskipun saat ini, katanya, pemerintah telah mem­­berlakukan kurikulum ting­kat satuan pendidikan yang seharusnya memberi ruang yang lebih banyak bagi guru dan siswa untuk mende­sain pola pembelajaran mere­­ka. Kenyataannya? Kurikulum masih sentralistis, terlalu banyak mengatur ini boleh dan itu tidak boleh sehingga antara guru dan birokrasi pendidikan kita menjadi setali tiga uang; saling memengaruhi untuk me­numbuhkan budaya ke­pa­tuhan tanpa inovasi yang berarti.

Jika saja persoalan moral dilandasi atas dasar pembelajaran kita dalam melihat cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya, sebenarnya tak sulit mempraktikkannya dalam proses belajar-mengajar. Jika pendekatan seorang ibu lebih banyak menggunakan hati dan cinta, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika se­mua guru lebih memberikan cinta dan hati mereka daripada sekadar memenuhi kewajiban.

Saya tak memiliki kapasitas dan pretensi untuk menjawab model kurikulum pendidikan moral dan budi pekerti yang seharusnya. Namun, saya i­ngin mencoba merekonstruksi ulang pertanyaan itu dengan kalimat “Dari manakah kesadaran dan tanggung jawab para guru terhadap pendidik­an moral dan budi pekerti ha­rus dimulai?” Jawaban singkatnya, belajarlah dari cara ibu memberikan cinta dan ka­sih sayangnya kepada kita.

Sebuah survei yang dilakukan Phi Delta Kappa/Gallup Study 2004 menyebutkan 73% responden setuju tentang ke­­lemahan mendasar pendidik­an, yaitu bertumpu pada ketia­­daan guru yang baik hati alias mengajar tidak dengan rasa cinta. Survei itu juga menunjukkan jika karena kondisi terpaksa/mendesak seseorang harus berhenti dari profesinya sebagai seorang guru, jawaban yang paling banyak dipilih ialah karena alasan rendahnya gaji dan fasilitas (67%), kekakuan birokrasi (21%), kesulitan dalam menghadapi orangtua siswa (8%), dan alasan kondisi siswa (4%). Artinya, hanya 4% sebenarnya guru yang selalu memiliki keterikatan secara emosional terhadap siswa mereka (Rosanne Liesveld and Jo Ann Miller: 2005).

Cerita dan fakta itu ingin me­­nunjukkan keterikatan secara psikologis atau emosional sesungguhnya musuh guru itu sendiri. Dalam konteks pen­didikan di SD, mari kita ber­­tanya, lebih banyak mana para guru kita yang memberi PR dan yang memeluk dan men­­cium siswanya setiap hari di kelas. Atau guru-guru kita memang benar seperti dugaan Paulo Freire, menganggap sis­wa-siswi mereka sebagai ta­­hanan atau pekerja yang ha­­rus selalu ditekan untuk be­­lajar dan belajar, tetapi tidak mendidik.

Di sinilah sesungguhnya pem­­beda antara pengajar dan pendidik. Guru dengan ting­­kat kecerdasan emosional yang tinggi biasanya memperlakukan siswa mereka sebagai teman, anak, atau bahkan relawan sehingga unsur tekanan dan pemaksaan tidak terjadi dalam proses belajar-mengajar karena ikatan emosional yang lebih akan menyebabkan hubungan guru-siswa menjadi lebih akrab, dinamis, dan mudah membuat mereka memahami sekaligus mematuhi aturan yang ada.

Istri saya ialah role model gu­ru yang sekaligus seorang ibu yang selalu memikirkan ra­sa cinta dalam mengajar daripada mengumbar rasa benci dengan memberikan tekanan kepada anak secara emosional. Terima kasih, Qaimah Umar, semoga jejakmu sebagai guru yang asih akan selalu dikenang murid-murid dan tetap menja­di anutan anak-anak dalam melangkah ke depan. Selamat berjuang.