Tampilkan postingan dengan label Gol A Gong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gol A Gong. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2014

Diplomasi Budaya

                                                    Diplomasi Budaya

Gol A Gong  ;  Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat
KORAN TEMPO, 16 Agustus 2014
                                                


Banyak orang menganggap taman bacaan masyarakat (TBM) hanya sebagai tempat belajar membaca, tempat bermain anak-anak usia dini (PAUD), penitipan anak, dan tempat ibu-ibu belajar memasak atau kerajinan tangan. Sebetulnya tidak hanya itu. TBM bisa kita jadikan sebagai tempat melestarikan budaya atau tradisi setempat lewat program unggulan. Dan ini merupakan bagian dari diplomasi budaya untuk menyebarkan virus membaca dan menulis.

Program unggulan di TBM dibagi dua; internal dan eksternal. Untuk internal, sebagai contoh, TBM Rumah Dunia yang dikelola bersama para sukarelawan membuat program Pelestarian Budaya Banten. Kesenian tradisional seperti marhabanan, yaitu buka pintu untuk pengantin baru, sering ditampilkan. Ada pula rampak beduk, debus, marawis, yalil, dan pencak silat. Dengan diplomasi budaya seperti ini, warga belajar mengenal kesenian tradisional di daerahnya plus tertarik datang ke TBM.

Kesenian modern pun diberi tempat, seperti pertunjukan teater, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pemutaran film, dan dongeng. Tradisi lisan seperti mitos atau legenda kita angkat ke pementasan teater oleh anak-anak. Lambat laun, secara konsisten, warga di sekitar kita, tanpa sadar, terpancing untuk membaca teksnya; naskah drama dan puisi.

Bahkan, pelatihan menulis pun saya anggap bagian dari diplomasi budaya untuk menyebarkan Gerakan Literasi Lokal untuk Indonesia Membaca dan Menulis. Tentu di dalamnya ada peluncuran dan bedah buku, yang sangat bermartabat untuk keberlangsungan sebuah TBM atau komunitas baca.

Adapun untuk urusan keluar, TBM harus melakukan pendekatan diplomasi budaya untuk menguatkan posisinya di daerah lain atau Indonesia secara luas, bahkan di beberapa negara Asia. Penting menjadikan TBM yang kita kelola kuat posisinya di mata orang-orang, agar perjuangan kita mengkampanyekan virus literasi berjalan lancar.

Dan peran kebudayaan sangatlah penting. Biasanya Rumah Dunia melakukan tur literasi ke kota-kota lain di Indonesia atau di negara Asia. Ibarat muhibah budaya, dalam menyebarkan virus literasi, kami menggunakan cara-cara diplomasi kebudayaan. Misalnya, pertunjukan teater, musikalisasi puisi, dan pembacaan puisi.

Sejak Rumah Dunia berdiri pada 1998, sudah dilakukan cara-cara diplomasi budaya lewat program internal atau eksternal. Pada perayaan World book Day, 23 April 2012, saya dan istri melakukan hal iru di Asphire Park, Doha, bersama Qatar Menulis.

Program-program Rumah Dunia yang mewadahi kesenian tradisi dan modern mendapat apresiasi dari Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada Oktober 2013, Rumah Dunia dipercaya menyelenggarakan kegiatan Kampung Budaya berupa pertunjukan seni tradisi, teater legenda, penerbitan buku bertemakan kelokalan (Banten), bedah buku tentang kelokalan di luar Banten, pelatihan teater anak, dan diskusi tentang wisata budaya di Banten.

Mari kita rancang TBM atau komunitas literasi kita ke arah kampung budaya. Setiap TBM yang kita kelola pasti memiliki potensi budaya lokal tertentu. Mulailah menggali potensi budaya para pengelolanya. Jadikan mereka duta budaya TBM yang kita kelola, agar visi-misi kita dalam mengembangkan budaya baca dan menulis tercapai dan sukses. Hidup literasi!

Kamis, 27 Maret 2014

Alergi

Alergi

Gol A Gong  ;   Ketua Umum PP Forum TBM
TEMPO.CO,  26 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Saya sakit keras. Badan panas. Perut mual. Kadang muntah. Setiap kali ke luar rumah, kedua mata saya panas dan merah, jantung saya berdebar keras. Kemarin saya pingsan di tempat umum. Istri membawa saya ke dokter. Kedua mata saya diperiksa.

Kata dokter, mata saya alergi. Jadi, harus diistirahatkan, tidak boleh melihat gambar-gambar di jalanan. Apalagi melihat gambar orang lagi tersenyum, mata saya langsung berair. Produksi air mata saya sedang banyak. Kecuali jika saya mengambil cara seperti si Badra--si buta dari Gua Hantu--membutakan kedua matanya dan menyerahkan segalanya kepada hatinya.

Saya disarankan beristirahat saja di rumah. Kalaupun terpaksa harus ke luar rumah, kedua mata saya harus ditutup dengan kain hitam. Atau, saya disarankan dokter pindah ke hutan, terutama Baduy di Banten selatan. Di Baduy masih steril, tidak ada gambar-gambar iklan makanan, iklan minuman, iklan HP, apalagi gambar para caleg sedang tersenyum.

Saya raih tangan istri. Saya perhatikan ruangan dokter ini bersih, tak ada gambar apa pun.

"Di mana kami bisa mendapatkan kain hitam itu, Dok?" tanya istri saya, antusias.

"Kalau Ibu mau," dokter membuka laci dan menyerahkan kain hitam. "Saya punya banyak stok. Silakan, free. Jangan takut, Bapak bukan pasien pertama. Dan Bapak bisa bergabung dengan perkumpulan kami," dokter mengakui keadaannya.

"Perkumpulan itu namanya apa, Dok?"

"Orang-orang biasanya menyebut kami 'goltiblos' atau golongan antinyoblos."

"Bagaimana, Pah? Mau gabung enggak? Kesehatan Papah lebih utama. Mamah enggak mau Papah mengambil cara seperti si Badra dari Gua Hantu itu. Mamah masih ingin Papah menikmati kecantikan wajah dan keindahan tubuh Mamah."

"Kami tidak langsung menerima saja. Akan ada wawancara dan tes kebohongan. Soalnya, hari-hari ini 'goltiblos' jadi tren. Banyak orang yang ikut-ikutan, gaya-gayaan."

"Suami saya tidak gaya-gayaan, Dok," istri saya menguatkan.

"Ya, sudah. Sekarang Ibu bawa pulang Bapak, ya. Pakai dulu kain hitamnya supaya alerginya tidak kambuh. Soalnya, sekeluar dari ruangan saya yang bersih dari gambar-gambar ini, ibu tahu begitu banyak gambar orang tersenyum di depan klinik ini."

Saya mengangguk. Saya langsung meminta istri memasangkan kain hitam, menutupi kedua mata saya yang sedang alergi. Istri menuntun saya hati-hati ke dalam mobil. Rasanya nyaman sekali ketika semuanya berwarna hitam. Di dalam mobil, saya bertanya kepada sopir. "Kenapa kamu sehat-sehat saja? Tidak mengalami sakit seperti Bapak?" Pertanyaan itu juga saya ajukan kepada istri.

Jawaban sopir sangat mengagetkan. "Saya pasrah saja, Pak. Saya adaptasi saja. Siapa yang baik kepada saya, saya terima. Kedua mata saya tidak alergi, tapi bisa menyesuaikan."

Sedangkan jawaban istri saya, "Betul, Pah. Dari dulu Mamah memakai kacamata hitam. Akhirnya kedua mata Mamah jadi terbiasa. Saran Mamah, Papah pakai kacamata hitam saja, supaya tidak alergi. Mamah enggak sanggup jika Papah harus pindah ke Baduy. Kasihan anak-anak kalau harus ikut ke Baduy. Mereka punya hak untuk menentukan pilihan hidupnya."

Saya pegangi tangan istri. "Mulai besok, Papah akan memakai kacamata hitam. Jadi, Papah tidak perlu mengasingkan diri ke Baduy atau bergabung ke 'goltiblos', ya."

Sabtu, 08 Maret 2014

Goltiblos

Goltiblos

Gol A Gong  ;   Ketua Umum Forum TBM
TEMPO.CO,  07 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
Di era Orde Baru, di era tiga partai rekayasa (Golkar, PPP, dan PDI), saya golput. Sangat bangga, karena hal itu keluar dari arus utama. Perlawanannya memang seperti itu. Sama halnya ketika semua orang takut membaca buku-buku Pram (tetralogi Bumi Manusia), saya justru berburu. Saya bahagia ikut dalam golongan pembangkang ini. Musuhnya jelas: rakyat versus penguasa.

Tapi, setelah reformasi, saya tidak golput lagi. Saya mencoba ikut berperan dalam perbaikan negeri, walau tetap non-partisan. Di era reformasi, saya teringat banyak korban bergelimpangan; mahasiswa dan rakyat. Semua demi Indonesia Baru, terbebas dari "demokrasi terpimpin" ala Soeharto. Saya kebetulan berada di area Kebon Jeruk-Tomang-Grogol-Senayan. Saya malu jika tetap harus "golput", sembari membayangkan perjuangan mahasiswa, dosen, rakyat, dan para aktivis murni serta politikus bersih di era itu.

Saya merasa pemerintah sekarang berbeda dengan pemerintah di era Soeharto. Memang belum sempurna, tapi kita harus aktif menjadi mesin penggerak perubahan. Saya bersama teman-teman membangun Rumah Dunia. Pada zaman 1998 ke belakang, semua satu suara. Kalau sekarang, saya menganggap masih ada nyala lilin. Di pemerintah (penguasa), masih banyak yang kritis dan ingin memperbaiki diri. Sedangkan pada zaman Soeharto, yang kritis masuk bui. Saya mengalaminya di tingkat lokal, Banten. Walau tidak sampai dibui, sebagai aktivis literasi, saya mengalami diintimidasi oleh penguasa saat itu (sebelum reformasi).

Jadi, perjuangan di ranah kebudayaan jangan berakhir ketika pemilu. Justru di sana klimaksnya. Secara pribadi, saya tertampar saat Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, berorasi di Rumah Dunia (10 Desember 2013), "Korupsi terjadi bukan karena jumlah koruptornya yang banyak, melainkan karena orang-orang baiknya mendiamkan. Seharusnya orang-orang seperti kita mendatangi orang baik untuk maju mencalonkan diri menjadi caleg atau kepala daerah atau presiden. Katakan kepada dia, oke, saya siap membantu dan tidak perlu membayar saya. Sehingga, saat terpilih nanti, orang baik itu tidak perlu mengembalikan ongkos politik yang besar."

Sejak saya berumur 40 tahun, hingga 50 tahun sekarang ini, saya banyak merenungkan persoalan golput ini. Saya mantan golput. Saat itu saya merasa golput adalah sebuah bentuk perlawanan kepada penguasa yang zalim. Antara rakyat versus penguasa. Sebuah bentuk perlawanan ideologis. Sekarang? Saya merasa ada penurunan ideologi; simpang-siur, riuh. Bukan lagi ideologis, melainkan lebih menjurus ke apatis dan egois. Apa dan siapa yang harus dilawan? Semua orang di negeri ini sedang berupaya mendirikan benang basah, lantas saya diam berpangku tangan?

Golput bagi saya sekarang sudah tidak relevan. Tapi, jika golput ditangkap, saya juga tidak setuju. Hanya, sekarang ini saya kok lebih sreg menyebutnya "goltiblos" (golongan anti-nyoblos). Golongan putih, kesannya suci. Sekarang sistem demokrasi di kita sudah terbuka (atau liberal?), tidak ada lagi pemberangusan dari penguasa kepada rakyatnya yang berbeda pendapat. Jadi kenapa juga saya harus golput?

Sabtu, 15 Desember 2012

Pengembangan Literasi di Daerah


Pengembangan Literasi di Daerah
Gol A Gong ;  Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM)
KORAN TEMPO, 15 Desember 2012


Sekitar Oktober 2010, saya diundang ke Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, oleh Fokusmaker (Forum Diskusi Mahasiswa Kekaryaan) Natuna untuk memberi pelatihan menulis novel kepada pelajar SMA. Pulau Natuna berada di perbatasan luar, Laut Cina Selatan. Untuk sampai ke sana, saya harus naik pesawat ke Batam pada Senin dan Rabu. Dari Batam, naik pesawat jenis kecil. Tarifnya tentu mahal dan dibumbui ketakutan pesawat akan crash. Jadi, terkesan hendak mendarat di medan perang.
Di Natuna, saya merasakan betapa penduduknya lebih dekat ke Malaysia. Gaya hidup mereka juga. Hasil bumi mereka juga lebih mudah diangkut dengan kapal-kapal dari Malaysia, Hong Kong, Jepang, dan Cina. Hal lainnya adalah tidak adanya toko buku, apalagi perpustakaan umum, yang representatif. Jumlah toko buku di Indonesia hanya sekitar 5.000. Itu pun kebanyakan terdapat di Pulau Jawa. 
Meskipun berada dalam kondisi penuh keterbatasan, bukan berarti hidup harus diserahkan begitu saja kepada nasib. Keterbatasan tersebut justru menjadi pemicu dan pemacu masyarakat untuk terlibat membangun budaya membaca di Pulau Natuna. Salah satunya adalah Komunitas Fokusmaker, melalui pembangunan dan penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). 
Saya dibawa masuk hutan menggunakan mobil Kijang. Melintasi jalanan tanah berdebu, menembus hutan kelapa sawit yang terbengkalai. Sudah sampaikah saya pada lokasi TBM yang akan dituju? Belum. Saya harus turun dari mobil, melanjutkan perjalanan dengan meniti jembatan kayu, lengkap dengan ancaman buaya yang kapan pun bisa iseng melintas. 
Setelah tiga jam perjalanan, sampailah kami di kawasan transmigrasi. Di sanalah saya menemukan "oasis", yaitu Taman Bacaan Masyarakat Jabal Uqhud (TBM JU), yang didampingi oleh Fokusmaker. Saya dikenalkan kepada pengelolanya yang sungguh luar biasa, yaitu sosok kurus bertinggi tubuh sedang, Abdul Manaf dan istrinya.
Beruntung sekali saya, begitulah suara batin berbisik. Saya tidak pernah merasakan tinggal di daerah terpencil seperti Abdul Manaf, jauh dari kota, apalagi Jakarta. TBM JU berlokasi di Desa Sedarat Baru, Kecamatan Bunguran, Kabupaten Natuna, Trans Batubi, di mana TBM JU berada. Sebuah nama desa yang jika amati, seteliti apa pun tidak akan ditemukan namanya di peta. Lokasinya sulit sekali diakses masyarakat. Saya bisa datang ke TBM JU memerlukan waktu dan biaya di atas Rp 10 juta. Akibatnya, akses warga seperti Abdul Manaf terhadap melimpahnya informasi seperti yang saya nikmati juga sangat sulit didapat. Termasuk informasi dalam bentuk media cetak: buku, koran dan majalah. 
Maka, langkah pembinaan dan pendampingan yang dilakukan Komunitas Fokusmaker kepada TBM JU ini sangat luar biasa dan tepat sasaran. Mereka tidak hanya membantu mendirikan bangunan fisik TBM lengkap dengan papan namanya, tapi juga membantu menambah koleksi buku yang semula hanya "bermodal" 50 judul. Buku yang dibawa Abdul Manaf saat hijrah dari Pulau Jawa ke Natuna. Termasuk model pengelolaan (sederhana) dan tip-tip sederhana memperkenalkan keberadaan TBM kepada masyarakat sekitar (warga desa). 
Melalui apa yang telah dilakukan Komunitas Fokusmaker Natuna yang dipandegani seorang pemuda bernama Muhammad Faisal, 30 tahun, secara tidak langsung ia telah memberikan kabar dan pemahaman kepada publik luas, khususnya kita, bahwa keterbatasan, keterpencilan, bukan lagi sebuah alasan untuk tidak berbuat sesuatu. Yang dalam konteks budaya baca adalah bisa dengan mendirikan TBM. Semula Faisal, selaku ketua, bersama teman-temannya menggalang dana pribadi dulu. Setelah itu, mulai memanfaatkan batuan dari pemerintah (Bansos-APBD).
Kiprah Faisal dan kawan-kawannya serta Abdul Manaf dengan TBM Jabal Uqhud-nya di Natuna ini sekaligus menjadi "kabar baik" untuk daerah-daerah terpencil lainnya. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini mengatakan, saat ini daerah tertinggal di Indonesia terbanyak berada di kawasan timur Indonesia. Jumlah daerah tertinggal yang mencapai 70 persen itu sebanyak 128 kabupaten. Selain itu, terdapat pula daerah tertinggal lainnya di kawasan perbatasan. Jumlah daerah tertinggal di kawasan itu sekitar 27 kabupaten. Dan beberapa lainnya yang masuk kategori daerah tertinggal masuk dalam kawasan pemekaran baru.
Lantas, bagaimana seyogianya model pengelolaan dan strategi pemasaran pengembangan minat baca di daerah terpencil-terutama yang harus dilakukan TBM? 
Jemput Bola
Dalam sebuah diskusi yang saya lakukan dengan Agus M. Irkham, Kepala Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat, untuk mengembangkan TBM di daerah terpencil haruslah memakai sistem jemput bola. Bukulah yang harus datang menyapa (calon) pembacanya. Masyarakat harus lebih dulu "disuapi". 
Berarti harus ada sarana yang dapat mengantarkan buku kepada masyarakat. Ia mesti lincah bergerak, mudah berpindah-pindah tempat (mobile), serta dapat menembus rute atau medan perjalanan yang sulit. Sarana tersebut misalnya berupa sepeda motor, mobil, sepeda, perahu, dan lain sebagainya. Prinsipnya, mudah dioperasikan dan sesuai dengan kondisi geografis lokasi TBM berada. 
Selain dengan metode jemput bola, pembinaan pengembangan minat baca dan ikhtiar mempermudah akses masyarakat terhadap buku adalah dengan menciptakan titik-titik gerai baca--untuk sementara sebut saja satelit baca. Satelit-satelit ini menjadi semacam kelompok-kelompok baca kecil. Seiring berjalannya waktu dengan sistem multilevel reading (komunikasi dari mulut ke mulut atawa gethok tular--bahasa Jawa), jumlah satelit-satelit baca ini akan bertambah. 
Saya, sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Forum TBM, bekerja sama dengan D.C. Aryadi, Ketua Forum TBM Banten, bersama relawan TBM Rumah Dunia di Serang dan relawan TBM Kedai Proses di Rangkasbitung, telah melakukannya. Di setiap akhir bulan dengan kegiatan "Perpustakaan Keliling" berupa Bajay Library sumbangan XL Care dan Yayasan Nurani Dunia, kami sambangi masyarakat di kampung-kampung terpencil di Banten selatan yang lokasinya di gunung, seperti Baduy atau perkampungan di sepanjang pantai selatan. Kami galang buku (hibah buku) dan mendirikan TBM di sana.
Lantas, apakah pendirian TBM (di daerah terpencil) harus selalu dengan mendirikan bangunan baru yang memang dikhususkan untuk TBM?
Saya kira tidak. Pembangunan TBM dalam sebuah komunitas masyarakat atau desa/kampung bisa dengan memanfaatkan bangunan infrastruktur yang sebelumnya telah ada atau tersedia dan dimiliki masyarakat. Misalnya balai warga/kampung yang biasa digunakan untuk berkumpul. 
Drs Ngasmawi, Kepala Sub-Direktorat Sarana dan Prasarana Direktorat Dikmas Dirjen PAUD NI, menginformasikan kepada saya bahwa pemerintah mendukung setiap warga yang mendirikan TBM di daerah terpencil. "Silakan mengakses dana stimulan lewat TBM rintisan dan penguatan, serta TBM berbasis elektronik." Dengan bantuan sosial berupa uang itu, pemerintah berharap TBM-TBM di daerah terpencil bisa berkembang dan jadi "rumah perubahan" bagi masyarakat di sekitarnya.?