Tampilkan postingan dengan label Agus Kristiyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agus Kristiyanto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Agustus 2014

Pintu Revolusi Mental

Pintu Revolusi Mental

Agus Kristiyanto  ;   Guru Besar FKIP UNS Surakarta,
Tim Pengembang Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Pusat
SUARA MERDEKA, 27 Agustus 2014
                                                


TAHUN 1980-an Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew membuat pernyataan cukup heboh. Menurutnya, bangsa Asia sebenarnya kurang membutuhkan demokrasi tapi lebih memerlukan disiplin. Menuai pro dan kontra tentu saja. Kebanyakan yang kontra menganggap Lee memberi nilai rendah pada demokrasi. Benarkah demikian? Seiring dengan perkembangan masa, seikat dengan keberhasilan Singapura menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia, kini banyak pemimpin nasional, terutama di banyak negara sedang berkembang, mulai kembali meramu pentingnya formula pembangunan aspek mentalitas berbangsa. Demokratisasi sangat penting tapi harus dipersyarati dasar-dasar mentalitas yang kuat, terutama disiplin.

Disiplin adalah pilar besar dari wujud mentalitas berbangsa dan menjadi akar dari ketertiban sosial yang mengondisikan keberhasilan proses pembangunan. Termasuk kedewasaan dan keterbukaan dalam kehidupan berdemokrasi. Membangun mentalitas selalu menjadi prioritas namun tiap bangsa di dunia akan menghadapi berupa pilihan sulit ìpintu-pintu masukî. Pintu itu bukan sekadar lubang di mana kita boleh leluasa memasuki atau sekadar melewatinya. Pintu itu berupa kondisi riil bangsa berkait persoalan mentalitas kolektif. Bangsa Indonesia memiliki sisi pesimistik terkait mentalitas kolektifnya. Setidak-tidaknya ini dapat dipahami berdasarkan hasil riset dan pengamatan mendalam Koentjaraningrat (2000) bahwa dari sisi mentalitas manusia Indonesia masih banyak memiliki sifat kurang menguntungkan untuk kepentingan pembangunan. Sifat kelemahan modal pembangunan tersebut bersumber pada kehidupan penuh keragu-raguan dan kehidupan tanpa pedoman serta tanpa orientasi tegas.

Itu meliputi sifat mentalitas yang: meremehkan mutu, suka menerabas, tidak percaya diri, tidak disiplin, dan mengabaikan tanggung jawab yang kokoh. Untuk menghilangkan ciri-ciri mentalitas kolektif yang kurang menguntungkan, setidak-tidaknya bangsa kita perlu melakukan proses pembelajaran sistematis untuk mengondisikan terbentuknya mentalitas manusia Indonesia dalam 7 dimensi mentalitas. Pertama; harus ada pintu keluar untuk membuang mental meremehkan mutu kemudian membuka pintu masuk bagi perilaku kolektif apresiasi terhadap pentingnya mutu dan kualitas. Kedua; mentalitas inferior bangsa yang disadari langsung atau tidak sebenarnya merupakan letupan dari rasa kurang percaya diri yang tertimbun dalam proses panjang bermasyarakat dan berbangsa.

Sikap generasi muda yang tergila-gila pada produk asing harus dikikis dengan gerakan cinta produk dalam negeri. Informasi cerita sukses yang telah ditorehkan anak bangsa lebih dipopulerkan lagi untuk membangun rasa percaya diri yang kuat pada generasi muda. Ketiga; pengkajian tentang disiplin bukan merupakan sesuatu yang sederhana, karena terkait persoalan individu, sosial, bahkan nation. Kendatipun demikian, kesulitan dalam berdisiplin sebenarnya bukan pada memformulasikan batasannya melainkan pada penegakan dan implementasi dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa.

Keempat; mental berani terbuka dan demokratis menjadi sesuatu yang masih mahal, kendati kita sebagai bangsa sudah berani menerapkan pola pemilihan presiden secara langsung. Pilpres menjadi pelajaran besar bagi kita betapa keterbukaan dan demokratis masih jauh panggang dari api. Kelima; mentalitas mandiri dan berdaya saing tinggi menyandarkan pada perilaku kerja keras.

Keenam; upaya memperbesar kontribusi iptek dalam membangun bangsa tetap harus ditegakkan secara bertahap. Pada sisi lain ada tugas besar, yakni mengikis cara pandang yang masih banyak cenderung memercayai tahayul. Ketujuh; mentalitas menikmati hasil secara instan tanpa perencanaan menjadi musuh besar. Mentalitas demikian akan menadirkan fungsi perencanaan, mengabaikan waktu, serta melazimkan kamuflase.

Kunci Pembuka

Persoalan apa pun tentang mentalitas, sebenarnya merupakan wilayah karakter. Sebagian besar ahli meyakini karakter itu sesuatu yang tidak gampang, bahkan tidak bisa diajarkan kepada orang lain secara individu, apalagi kolektif. Tapi karakter itu dapat dilakukan dengan cara mengembangkan dengan memanfaatkan  ìkunci pembukanyaî, yakni intervensi, habituasi, dan keteladanan.

Dari ketiga alternatif dan kombinasi kunci pembuka mentalitas tersebut, kunci mana yang lebih memungkinkan untuk direvolusikan? Kunci intervensi tampaknya hanya dapat kita lakukan untuk membuka pintu generasi baru mendatang yang sekarang masih balita (pesimistis pada generasi sekarang yang sudah terbalut jati diri yang sudah permanen dan suka bermanuver demi kepentingan politik).

Kunci habituasi memerlukan proses panjang pembudayaan kolektif sehingga tak bisa revolusioner. Keteladanan sangat memungkinkan asal keteladanan yang benar-benar sistemik dan mendasar mengikat secara signifikan. Artinya, kunci pembuka pintu revolusi mental itu sebenarnya keteladanan. Kita sebagai warga negara seperti tidak sabar menunggu. Maunya akan cepat terjadi revolusi keteladanan itu.

Kita menunggu dengan tidak sabar lagi, bagaimana presiden dan anggota kabinet kelak melakukan hal yang tidak mencederai kepercayaan rakyat. Para aparat penegak hukum pun jangan sampai melakukan ìpembusukanî dalam menjalankan tugas. Semua pihak harus siap dan berani menjadi teladan bagi siapa pun karena kunci pembuka revolusi mental itu ternyata keteladanan.

Sabtu, 28 Juni 2014

Capres Peduli Olahraga

Capres Peduli Olahraga

Agus Kristiyanto  ;   Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga FKIP UNS, Kaprodi Magister Ilmu Keolahragaan PPs UNS,
Sekretaris Komnas Penjas dan Olahraga
SUARA MERDEKA, 25 Juni 2014

                                                                                         
                                                      
KIRANYA sah-sah saja dan bukan hal yang berlebihan, manakala kepedulian olahraga dijadikan sebagai satu bagian penting dari kriteria menimbang kepantasan presiden pilihan rakyat mendatang. Kepedulian yang dimaksud tidak sekadar bermakna meletakkan pandangan olahraga dalam pengertian dangkal dan sempit.

Bukan pula menakar bentuk retorika formal dalam model perilaku yang bersifat simbolistis dan sloganistis dari calon sosok pemimpin bangsa. Kepedulian itu berupa ukuran komitmen dasar dalam mengemban kebijakan pembangunan olahraga ke depan dalam mewujudkan bangsa yang kokoh dan lebih berkarakter serta berdaya saing tinggi.

Nilai tawar pembangunan olahraga menjadi amat strategis, setidaknya dapat dijelaskan dari tiga sisi penting. Pertama; olahraga merupakan dimensi yang menyangkut khalayak yang bersifat lintas sosial dan bebas dari diskriminasi.

Olahraga adalah untuk semua, sport for all. Dalam pengertian seperti itu, olahraga jadi pilihan sarana belajar bagi siapa pun dalam menjauhkan dari sifat diskriminasi. Terjauhkan dari hal-hal yang bersifat diskriminatif bagi bangsa ini masih menjadi hal yang sangat mahal meskipun sudah menjadi bangsa merdeka 69 tahun. Kedua; olahraga memiliki sinyal nilainilai universal dalam tata pergaulan antarbangsa yang bersifat global.

Gerakan olimpiade modern berhasil membentuk tatanan global yang mengikat seluruh bangsa untuk secara periodik menorehkan prestasi yang membanggakan. Semangat citius (lebih cepat), altius (lebih tinggi), dan fortius (lebih kuat) menjadi ajang prestisius antarbangsa untuk berkompetisi menakar prestasi. Ketiga; daya akomodasi pembangunan olahraga sangat tinggi untuk lebih menggeliatkan akselerasi sektor pembangunan lain.

Artinya, proses dan hasil pembangunan olahraga bersinggungan secara faktual dengan persoalan mengangkat harkat dan martabat. Olahraga berinteraksi secara mutualistis dan komensalisme pada bidang-bidang yang mengerucut pada usaha-usaha peningkatan kesejahteraan rakyat. Dalam Resolusi PBB telah begitu nyata betapa olahraga itu berkontribusi pada berbagai isu sentral pembangunan segala bidang.

Olahraga itu adalah instrumen pembangunan, yakni “sport as means to promote education, health, development, and peace (United Nations Resolution 58/5 paragraf 7th 2003 )”. Dalam koridor ini, capres peduli olahraga pasti memiliki amunisi hebat untuk mengusung bangsa ini secara simultan maju dalam bidang pendidikan, kesehatan, pembangunan, sekaligus misi perdamaian sebenarnya.

Kedaulatan Olahraga

Sebenarnya siapa pun presiden pilihan rakyat nanti, tampaknya tidak akan memiliki kendala berarti untuk menjadi pemimpin nasional yang akan berhasil menjaga kedaulatan olahraga.

Hal ini terkait bahwa dari sisi apa pun, bangsa ini telah memiliki perangkat dan sumber daya keunggulan olahraga yang sangat luar biasa. Pertama; dari aspek man power Indonesia dikaruniai jumlah penduduk cukup besar. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapatkan bonus demografi yang diprediksikan puncaknya tahun 2024.

Bonus demografi menunjuk pada situasi demografi di mana komposisi jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar daripada usia tidak produktif. Artinya, peluang berkeunggulan akan lebih terbuka lebar akibat bonus demografi tersebut. Kedua; dari sisi payung hukum, Indonesia merupakan salah satu dari sebagian kecil negara di dunia ini yang memiliki UU tentang Sistem Keolahragaan.

Bahkan setidaknya ada 4 UU yang memayungi olahraga, yakni UU tentang Sistem Keolahragaan Nasional, UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU tentang Kesehatan, dan UU tentang Kepariwisataan. Penggalangan partisipasi masyarakat tentu juga bukan hal yang sulit karena Indonesia memiliki juga Hari Olahraga Nasional (Haornas) tiap tanggal 9 September. Dari sisi penganggaran PP Nomor 18 Tahun 2007 tentang Pendanaan Olahraga sudah sangat jelas mengatur betapa cukup leluasanya aneka sumber dana keolahragaan berpotensi untuk digali.

Dana olahraga tidak hanya dari APBN/APBD tetapi sangat memungkinkan dari dana masyarakat, kerja sama indistri olahraga dan sumber-sumber lain. Ketiga; dari sisi keanekaragaman lingkungan budaya, Indonesia memiliki suatu yang khas yang merupakan local genious yang bervariasi. Dari sisi alam, Indonesia memiliki laboratorium alam khas tropis dalam bentuk daratan, pegunungan, pantai, dan lautan. Musim juga hanya mengenal hujan dan kemarau.

Artinya intensitas aktivitas olahraga yang dapat dilakukan oleh masyarakat, akan lebih leluasa. Keanekaragaman budaya dan kondisi alam sangat memungkinkan kedaulatan olahraga ke depan dibudayakan dalam perspektif sangat luas. Industri olahraga yang memadukan pariwisata dan berbagai event kreatif sangat terbuka luas. Sekarang, tiap pemilih harus menggunakan beberapa pertimbangan, salah satunya adalah berdasarkan kepedulian terhadap olahraga, kenapa tidak? Eksekusinya tentu tergantung pada suara hati masing-masing pemilih.

Senin, 28 April 2014

Keterdidikan Olahraga

Keterdidikan Olahraga

Agus Kristiyanto ;  Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Keolahragaan UNS Surakarta, anggota Komisi Nasional Penjas dan Olahraga
SUARA MERDEKA, 24 April 2014
                                                
                                                                                         
                                                             
WAWASAN karakter dan daya saing bangsa dalam semesta olahraga, sebenarnya bukan barang baru Gerakan Olimpiade modern yang dilestarikan oleh bangsa seantero jagad dengan menganut filosofi universal Citius, Altius, dan Fortius. Jargon itu pun bukan hanya slogan melainkan bermakna sangat implementatif tentang nilai kompetisi yang diterima masyarakat dunia. Citius berarti lebih cepat, Altius berarti lebih tinggi, dan Fortius lebih kuat, menggambarkan betapa semuanya berkonotasi nilai-nilai karakter unggul dan berdaya saing.

Semangat tersebut bukan hanya berlaku dalam event pertandingan dan perlombaan olahraga formal melainkan harus tertransfer ke seluruh ranah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Persoalan besar yang hingga detik ini masih menjadi pekerjaan rumah kita adalah mencari strategi bagaimana supaya semangat olympism tersebut mengejawantah dalam seluruh tataran kehidupan. Tidak ada cara lain kecuali dengan mewujudkan masyarakat yang terdidik (melek) olahraga atau sport literacy.

Keterdidikan dalam olahraga (melek olahraga) sebenarnya dapat dipahami secara sederhana sebagai kondisi dengan masyarakatnya yang telah ìbebas buta akan nilai-nilai olahragaî. Hal itu merupakan persoalan tersendiri mengingat selama ini kurang mendapat perhatian. Kecilnya perhatian itu menjadikan nilai-nilai olahraga tak memiliki resonansi kuat dan kurang mengembang luas sebagai instrumen penting pembentukan karakter dan daya saing peserta didik, masyarakat, dan bangsa.

Dalam era setelah kelahiran UU Sistem Keolahragaan Nasional (UUSKN), keterdidikan dalam olahraga seharusnya menjadi sesuatu yang lebih terbangun di masyarakat dan menjadi bagian tak terpisahkan menuju bangsa yang berdaya saing. Daya saing bangsa menjadi persoalan inti karena hasil berbagai riset terakhir Human Development Report 2010 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-110.

Dibanding beberapa negara tetangga, Indonesia kalah unggul. Singapura peringkat ke-27, Malaysia (57), Thailand (92), dan Filipina (99). Survei Indeks Pertumbuhan Daya Saing Global (Global Growth Competitiveness Index) 2011 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-46, Singapura (2), Malaysia (21), dan Brunei (28). Survei mencakup inovasi, telematika, dan transfer teknologi. Kedua hasil itu mengindikasikan Indonesia kalah unggul, daya saing, dan kesejahteraan sosial. Indikator keterdidikan dalam olahraga dapat dikembangkan berdasarkan formulasi awal yang dirintis Physical Education Outcomes Committee of The National Association of Physical Education and Sport (NASPE).

Keterdidikan tersebut memiliki ciri-ciri masyarakat telah memiliki berbagai keterampilan dasar yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas jasmani, bugar secara jasmaniah, berpartisipasi dalam aktivitas jasmani, mengetahui implikasi dan manfaat aktivitas jasmani, dan menghargai aktivitas jasmani dan sumbangannya kepada gaya hidup sehat.

Konkret Mewujudkan

Dengan demikian bisa dipahami bahwa menuju keterdidikan olahraga hakikatnya mengupayakan terbentuknya lima indikator tersebut dengan isi program sebagai berikut. Pertama; menguasai keterampilan jasmani lengkap bukan sekadar membentuk kompetensi secara jasmaniah melainkan memiliki konotasi melengkapi kematangan karakter individu yang lebih percaya diri, terbuka, dan siap menerima tantangan baru.

Kedua; masyarakat terfasilitasi mendapatkan pengalaman edukatif terkait usaha mewujudkan kepemilikan status kebugaran yang baik. Masyarakat terdidik dalam olahraga, tidak sekadar tahu bagaimana cara mengembangkan kebugaran tapi benar-benar mewujudkannya dalam diri masing-masing. Ketiga; penekanan isi indikator ini adalah mengarah pada proses pembelajaran di masyarakat agar komposisi anggota masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan jasmani meningkat.

Keempat; mengarahkan masyarakat memiliki pengetahuan memadai dan implikasi dari keterlibatan dalam aktivitas jasmani yang dipilih. Kualitas keterdidikan bergantung pada kualitas pengetahuannya menopang motif-motif dalam memilih bentuk aktivitas jasmani. Opsi atas sebuah aktivitas lebih dipertimbangkan berdasarkan kepemilikan pengetahuan yang memadai, termasuk pemahaman lengkap tentang manfaat kegiatan olahraga yang dipilih.

Kelima; mengarahkan masyarakat memiliki apresiasi tinggi tentang aktivitas jasmani dalam menopang gaya hidup sehat (life style). Olahraga adalah gaya hidup sehat yang merelasikan dengan gaya hidup sehat lainnya, seperti menjauhkan diri dari kebiasaan merokok, menghindari narkoba, vandalisme, holiganisme, dan lain-lain.

Gaya hidup sehat lainnya juga terkait dengan persoalan ketertiban, kebersihan, kedisiplinan, dan sportivitas. Apresiasi juga berkaitan dengan gaya hidup sehat perorangan dan perilaku masyarakat, meliputi usaha-usaha preventif menjauhkan dari kemungkinan terjangkiti penyakit secara fisik, moral, dan sosial. ●

Kamis, 17 Januari 2013

Telematika Keolahragaan


Telematika Keolahragaan
Agus Kristiyanto ;  Anggota Komisi Nasional (Komnas) Penjas dan Olahraga, Kaprodi Magister Ilmu Keolahragaan Program Pascasarjana UNS Surakarta
SUARA MERDEKA, 17 Januari 2013


TEKA-TEKI pengganti Andi Alifian Mallarangeng terjawab. Presiden SBY telah menetapkan KRMT Roy Suryo Notodiprojo MSc sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dalam kabinet yang menyisakan masa bakti 18 bulan. Adapun publik lebih mengenal Roy sebagai pakar telematika, yang selama ini memperkuat Partai Demokrat sebagai politikus muda.

Penunjukan Roy sebagai Menpora bukan semata-mata persoalan tepat atau tidak tepat. Penunjukan menteri sepenuhnya menjadi hak prerogatif presiden, dan SBY tentu sudah mengalkulasi untuk memilih calon yang paling layak. Sebaiknya, masyarakat senantiasa berharap siapa pun menterinya, semoga ke depan bangsa ini bergerak menuju bangsa yang berkarakter dan berdaya saing tinggi.

Kita sebaiknya melihat sisi hebat dari seorang menteri. Orang bijak akan lebih suka mengajak untuk melihat orang berdasarkan apa yang dimiliki oleh orang itu, bukan apa yang tidak dimiliki oleh orang itu. Apa yang bisa kita harapkan? Salah satunya, kita berharap bahwa era Menteri Roy adalah era Telematika Keolahragaan.

Menjawab Tantangan

Telematika adalah kepakaran yang dimiliki oleh Roy. Bisa dipastikan bahwa berbagai kebijakan ke depan di Kemenpora diwarnai oleh sentuhan latar belakang kepakaran sang menteri. Ini logika sederhana. Relevankah telematika dengan persoalan keolahragaan?

Jawabnya, terkait dengan pemahaman umum bahwa keolahragaan itu berkembang secara konvergen. Dalam arti, persoalan keolahragaan adalah sebuah titik sangat besar yang luwes berinteraksi dengan titik-titik persoalan ekonomi, politik, budaya, sosial, psikologi, termasuk dengan persoalan teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT), yang saat ini berkembang pesat.

Dari berbagai sumber, kita dapat memahami secara rinci bahwa telematika dikenal sebagai integrasi antara sistem telekomunikasi dan informatika, yakni teknologi komunikasi dan informatika atau information and communications technology (ICT).  

Secara lebih spesifik, ICT merupakan ilmu yang berkaitan dengan pengiriman, penerimaan, dan penyimpanan informasi dengan menggunakan peralatan telekomunikasi. Secara umum, istilah telematika dipakai juga untuk teknologi sistem navigasi/penempatan global atau global positioning system (GPS) sebagai bagian integral dari komputer dan teknologi komunikasi berpindah (mobile communication technology).

Secara lebih spesifik, istilah telematika juga dipakai untuk bidang kendaraan dan lalu lintas (road vehicles dan vehicle telematics) yang esensinya bisa saja berkembang ke bidang-bidang lain, termasuk keolahragaan.

Dalam pandangan penulis, telematika itu memiliki dua sisi sebagaimana sisi koin sebuah mata uang. Pertama; telematika memiliki sisi sebagai teknologi yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi. Kedua; merupakan sebuah logika yang mengantarkan pada keperilakuan seorang pemimpin sekaliber menteri.

Logika Kepemimpinan

Pada sisi yang lain, logika telematika diperlukan untuk mengintegralkan tantangan makro pembangunan keolahragaan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar, walau UU Sistem Keolahragaan Nasional sudah lebih 7 tahun disahkan.
Sisi logika telematika diperlukan untuk mengatasi beberapa tantangan makro pembangunan olahraga Indonesia sekarang dan masa depan. Tantangan makro itu meliputi tingginya tuntutan publik terhadap prestasi olahraga, seiring makin merosotnya prestasi olahraga secara nasional; menjadikan olahraga sebagai instrumen pembangunan yang harus mengarah pada hasil pembangunan yang lebih meluas; dan penguatan desentralisasi pembangunan olahraga.

Ketika seorang pakar telematika harus menangani persoalan keolahragaan maka telematika akan berwayuh arti, yakni tidak sekadar sebagai bagian dari teknologi tetapi menyangkut orientasi logika keperilakuan pemimpin. Roy sudah tidak bisa lagi menerapkan kepakarannya hanya untuk sesuatu yang sempit dalam pengujian-pengujian apakah sebuah foto itu asli atau rekayasa.

Kepakaran telematika harus mewarnai logika kepemimpinan ke depan bahwa persoalan olahraga nasional itu memiliki kerangka yang bersifat konvergen sebagaimana logika telematika memindai GPS dengan fitur-fitur mobile yang rawan akan rekayasa.

Satu kekuatan besar karakter seorang Roy Suryo sebagai pakar telematika adalah dikenal sebagai tokoh yang amat objektif dalam menentukan apakah foto itu asli atau palsu, sejati atau rekayasa. Keberanian itulah yang mungkin diperlukan untuk menata keolahragaan Tanah Air ketika ia ”harus” menjadi Menpora.

Bisa jadi, Presiden SBY paham betul bahwa memperbaiki masa depan olahraga diperlukan orang sesantun Roy, yang dalam kesahajaannya memiliki keberanian yang tegas untuk mengatakan sejati atau rekayasa. Selamat datang era telematika keolahragaan semoga objektivitas dan sportivitas itu memang ada. 

Senin, 07 Januari 2013

Sirkusitas Persepakbolaan Nasional


Sirkusitas Persepakbolaan Nasional
Agus Kristiyanto ;  Kaprodi Magister
Ilmu Keolahragaan Pascasarjana UNS Surakarta  
SUARA MERDEKA,  07 Januari 2013


SIRKUSITAS, menunjuk istilah ketercabutan karakter asli dari suatu masyarakat. Adalah Mendikbud M Nuh yang kali pertama memopulerkan, saat mengawali pencanangan pendidikan karakter. Sirkusitas diikuti dengan berbagai situasi paradoks, anomali, bahkan berbagai persoalan yang ironi dan memprihatinkan. 

Tidak berlebihan jika persoalan sirkusitas ini dapat kita tempatkan pada sesuatu yang sebenarnya terjadi pada persepakbolaan nasional kita, menyusul dualisme, arogansi. Semua itu bukan berefek pada keunggulan melainkan justru inferioritas di bawah tekanan ancaman pembekuan oleh FIFA, walau akhirnya ditunda hingga Maret 2013. 

Keprihatinan atas kemunculan sirkusitas, sebenarnya juga stereotipe yang melingkupi komunitas persepakbolaan kita. Pelatih termahal dunia saat ini, Jose Mourinho, pernah membuat pernyataan dahsyat dan didokumentasikan di berbagai media dunia,’’ Sisi negatif sepak bola adalah sisi negatif masyarakatnya. 

Banyak orang bahkan membawa misi negatif ke masyarakat melalui sepak bola’’. Apa yang diungkapkan pelatih yang membawa sukses Chelsea sebagai klub berkelas dunia itu merupakan pendapat yang bisa jadi merupakan lecutan pengamatan tajam secara pragmatis. 

Dari sisi tersebut kiranya persoalan sepak bola tak boleh dianggap sederhana. Pertarungan antara timnas kita dan timnas negara lain bukan sekadar adu teknik, strategi, fisik, dan kematangan juara. Pertandingan bukan sekadar persoalan kalah dan menang melainkan juga racikan yang terkait dengan miniatur karakter bangsa. Apa yang dapat diharapkan ketika karakter asli itu tercabut dari roh kesebelasan?

Bangsa kita konon suka mencontoh (jangan dibaca menyontek) hal-hal baik yang dimiliki dan mampu dilakukan bangsa lain. Saking asyiknya mencontoh, kadang lupa bahwa kita itu sebenarnya dikaruniai potensi luar biasa. 
Kita menjadi terhenyak sadar ketika muncul sosok-sosok dunia yang memiliki garis keturunan atau unsur hereditas keindonesiaan.

Keturunan orang Indonesia yang berjaya di dunia olahraga menimbulkan pesona tersendiri. Kira-kira tiga tahun lalu, masih segar dalam ingatan kita tentang debut awal getolnya pemerintah mengembangkan program naturalisasi atlet. Orang yang dibidik dalam naturalisasi atlet tentu siapa saja warga asing yang berniat untuk menjadi warga negara Indonesia. 

Naturalisasi atlet sebenarnya diilhami oleh rasa kepincut pada figur atau sosok atlet luar negeri yang berprestasi yang kebetulan memiliki darah keindonesiaan. Awalnya ini sah-sah saja dan merupakan bagian dari program pemerintah mendongkrak prestasi olahraga secara instan. Akhirnya, banyak bermunculan atlet naturalisasi, seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey Kurniawan, dan beberapa nama atlet beken di cabang lain.

Dalam perjalanannya, naturalisasi ini menimbulkan persoalan dilematis. Bahkan kemudian banyak pihak menolak secara tegas karena tidak sesuai dengan semangat kejuangan dan perjuangan bangsa untuk unggul dalam bidang keolahragaan. Naturalisasi hanya akan meninabobokan karena menjalankan sesuatu yang bernilai konsumtif prestasi di tengah masyarakat, serta sekadar usaha instan.

Ada sebuah perpaduan nilai dan sikap kolektif masyarakat kita terkait dengan kekaguman dan keterikatan dengan sesuatu yang mendunia. Perpaduan sikap tersebut menghasilkan tren memfavoritkan sosok yang berbau manca negara menjadi lebih tinggi dibanding lokal. Layar kaca kita pun banyak dihiasi sosok bintang baru yang kurang begitu bagus aktingnya, tetapi diterima masyarakat.  

Mendewakan Asing

Tapi mereka seperti mendapat tempat karena keturunan Indo itu memiliki pesona tersendirik bagi sebagia masyarakat kita. Itulah sisi negatif dari sikap kolektif masyarakat yang tanpa disadari jika dibiarkan, akan terjerembab dalam mindset inferioritas. Semisal, banyak selebritis memilih nikah dengan bule dengan alasan memperbaiki keturunan.
Pada sisi lain, hal-hal yang berbau impor lebih memiliki nilai gengsi tinggi ketimbang produk lokal. Bahkan ada sebagian masyarakat sudah pada taraf mendewakan produk asing dan meremehkan produk lokal. Manajemen tim olahraga pun banyak yang lebih suka memercayai pelatih asing. Padahal, kita memiliki beberapa pelatih hebat yang kualifikasi, kompetensi, integritas, dan dedikasinya di atas pelatih asing. 

Tantangan besar bagi era kebangkitan olahraga prestasi nasional sebenarnya amat bergantung pada kesanggupan bangsa ini keluar dari inferioritas. Kita masih suka mengagumi sosok asing dan meremehkan potensi domestik. Kita masih belum bisa menjadi diri sendiri. Kita perlu banyak belajar dari kura-kura. 

Kura-kura tidak perlu kagum dan menirukan kecepatan lari si kancil untuk menghindari bahaya. Kura-kura ternyata cukup membenamkan tubuhnya ke ’’rumahnya’’ ketika ada ancaman bahaya. Kita memiliki potensi untuk unggul. Jauhkan bangsa, masyarakat, dan komunitas sepak bola nasional dari sirkusitas. Bisa jadi, kemunculan jati diri itu akan menjadi solusi konflik berkepanjangan terkait dengan kepengurusan PSSI kita selama ini. ’’Menyembuhkan’’ organisasi itu tidak cukup dengan mengembangkan resep-resep penyusunan road map yang bersifat teknis dan manajemen mikro.