Tampilkan postingan dengan label Poros Maritim Abad ke-21 - Rute Rempah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poros Maritim Abad ke-21 - Rute Rempah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

Rute Rempah Poros Maritim Abad 21

Rute Rempah Poros Maritim Abad 21

(Bagian 2 – Habis)
Engelina Pattiasina  ;   Pendiri Archipelago Solidarity
SINAR HARAPAN, 16 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Sejak awal abad 21 ini, RI dapat membangun kekuatan sosial-ekonomi dan ekosistem sebagai negara maritim berbasis rute-rute rempah dengan zona Uni Eropa, Asia Selatan (India dan Sri Lanka), Asia Timur (Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok), dan Amerika Serikat (AS) atau negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan). Strategi ini dapat meraih benefit ekonomi tanpa mengubah peran AS sebagai stabilisator kawasan Asia.

Sekurang-kurangnya ada enam nilai strategis untuk RI dan dunia dari strategi maritim RI berbasis rute-rute rempah-rempah yang dimulai dari kawasan timur RI. Pertama, poros maritim RI dan dunia dari Papua, Maluku, NTT, dan sekitarnya sangat bermanfaat bagi Kawasan Timur (KTI) dan daya-saing negara RI. Luas KTI berkisar 68 persen dari luas wilayah negara RI yang sangat sesuai strategi ekonomi pesisir dan kelautan.

Kedua, KTI memiliki tradisi maritim level dunia ratusan tahun. Penduduk di Maluku sangat kuat memiliki kearifan dan tradisi maritim. Sejak abad 4 Masehi, KTI memasok kebutuhan-kebutuhan dunia seperti lada, pala, cengkih, damar, merica, kayu manis, cendana, kayu-kayu, dan berbagai komoditas lainnya. Penguasan maritim Nusantara dan perdagangan Asia-Afrika-Eropa selama 400 tahun oleh VOC, Belanda dan Inggris selama 1602-1945 berbasis zona Nusantara dari KTI saat ini.

Ketiga, hingga awal abad 21, sekitar 1700 pulau besar dan kecil dari luas 705.645 km persegi Provinsi Maluku dan Papua memiliki titik geostrategis di Asia Pasifik. Maluku dan Papua adalah ruang terdepan Indonesia terhadap klaim tumpang-tindih dari enam negara terhadap Laut Tiongkok Selatan di Asia Pasifik.

Rusia dan AS merasa berhak untuk ikut-campur di zona ini. Maluku dan Papua menentukan derajat ketahanan nasional negara RI. Kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil adalah arteri (archipelagic zone). Dengan mengontrol arteri ini, dapat mengontrol archipelagic zone RI.

Papua merupakan staging point bagi kontrol pertahanan dan keamanan di Asia-Pasifik sejak Perang Dunia II. Misalnya, pada Perang Dunia II, Sarmi dan Papua seluruhnya dibahas Joseph Stalin dari Uni Soviet, Perdana Menteri Winston Churchill dari Inggris, dan Presiden Harry S Truman pada Konperensi Postdam di Jerman 17 Juli-2 Agustus 1945 (Smith, 1953).

Keempat, zona KTI memiliki kekayaan mineral strategis. Gerakan tektonik kerak lempengan Samudra Pasifik dan Australia jutaan tahun membuat Maluku dan Papua “terjepit” antara kedua lempengan raksasa ini. Instrusi batuan-batuan asidik menyebabkan mineralisasi logam-logam dasar seperti tembaga, emas, batu bara, gambut, aluminium, nikel, kronium, kobalt, besi, timah, mangan, merkuri, timbel, tungsten, dan seng (Barley et al, 2002; Groves, 2005).

Kelima, secara historis, sejak abad 16 Masehi, arsitektur, pelabuhan, benteng, dermaga, dan kamar dagang dibangun karena perdagangan rempah-rempah. Jalur kolonial dunia, yang mula-mula diberlakukan Inggris di Banda abad 16, menjual barang, jasa, pengetahuan, dan informasi di Batavia, Ambon, Malaka, Manila, Taiwan, Makau, Hong Kong, San Salvador (Taiwan), Deshima atau Nagasaki, Jepang (Barao, 2010). Bukti arkeologis menunjukkan sejak 3.000 tahun silam, rempah asal Maluku dijual-belikan ke Persia. (Leonard, 2012).

Keenam, menghidupkan kembali jalur-jalur maritim berbasis rute-rute rempah-rempah akan memulihkan ekosistem RI dan dunia.

Perdagangan rempah-rempah dan produk-produk ekosistem lainnya akan meningkatkan regenerasi dan reproduksi ekosistem, khususnya lada, pala, cengkih, damar, cendana, kayu manis, hutan, bambu, lontar, jagung, sagu, enau, gaharu, pinang, kakao, kopra, vanili.

Selain itu, upaya-upaya pemulihan dan penyehatan ekosistem kelautan dapat ditingkatkan. Sebagai negara kepulauan, pembangunan poros maritim berbasis rute rempah akan mengawal kedaulatan negara RI dan pemulihan atau penyehatan ekosistem negara RI yang meningkatkan manfaat pembangunan ekonomi maritim. ●

Selasa, 16 September 2014

Rute Rempah Poros Maritim Abad ke-21

Rute Rempah Poros Maritim Abad ke-21

(Bagian 1)

Engelina Pattiasina  ;   Pendiri Archipelago Solidarity
SINAR HARAPAN, 15 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

Pasangan presiden-wakil presiden terpilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla, merilis visi dan misi negara maritim untuk Republik Indonesia (RI) awal abad ke-21. Negara-negara lain di Asia Pasifik, seperti India, Tiongkok, dan Jepang juga telah giat mengembangkan berbagai strategi maritim untuk pembangunan sosial-ekonomi, ekosistem negara, dan keamanan nasional.

Di Tiongkok, Presiden Xi Jinping mencetuskan konsep dan strategi Maritim Silk Route (MSR) tahun 2013. (Xinhua, 10/6/2013), Xi Jinping mengajukan gagasan MSR saat berkunjung ke RI pada Oktober 2013. (Xinhua, 19/7/2014), Silk Route menghubungkan Tiongkok-Eropa sekitar tahun 100 pra-Masehi untuk jual-beli sutra, keramik, dan teh ke pasar-pasar global. (Xinhua, 10/6/2014), kini rute-rute tersebut merupakan situs-situs purbakala.

Di sisi lain, sejak akhir abad ke-20, kebijakan maritim departemen pertahanan Amerika Serikat (AS) mulai bergeser dari fokus Eurocentric ke Asia Pacificcentric. Isunya ialah dampak ekonomi terhadap kehadiran Angkatan Laut AS di zona strategis Asia Pasifik (Trangedi, 2002:11).

Risiko konflik pada jalur lintasan rute minyak sepanjang Timur Tengah hingga Asia Timur mendorong peningkatan peran US Marine Corps dan kekuatan maritim negara lain. Pertanyaannya, mulai dari mana dan bagaimana strategi maritim RI awal abad ke-21?

Dinamika Asia Pasifik

Tiongkok memperkuat basis-basis maritimnya di zona internasional selama 20 tahun ke depan dan memperluas eksplorasi sumber-sumber lautan dan mengakselerasi riset dan pembangunan teknologi laut dalam, (Ocean Development Report/Tiongkok, 2013).

Pada 2020, Tiongkok menjadi pasar otomotif terbesar dunia. Kebutuhan energi akan naik sekitar 40 persen. Ini berdampak pada stabilitas pasar energi fosil dunia (Barnett, 2002) khususnya keamanan rute-rute maritim.

Kapal-kapal selam nuklir, satelit orbit bumi, dan jenis aplikasi teknologi laut dalam lainnya akan memengaruhi lingkungan maritim saat ini dan masa datang.

Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi paruhan pertama abad ke-20. Khususnya ketika India dan Tiongkok belum merupakan negara nuklir, (Holland, 2002; Keegan, 1988: 319-327).

Jalur maritim Selat Malaka, Selat Hormuz, Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Makassar, dan Laut Tiongkok Selatan sangat strategis. Center for Navals Analyses tahun 1996 merilis kajian berjudul Chokepoints: Maritime Economic Concerns in Southeast Asia. Isinya, jika jalur-jalur maritim tersebut ditutup dan rute dialihkan melalui Australia, terjadi lonjakan biaya sekitar US$ 8 miliar per tahun menurut data perdagangan tahun 1993. Studi lain menyebutkan, jika pelabuhan Singapura ditutup, terjadi biaya sekitar US$ 200 miliar per tahun. (Noer et al., 1996)

Meskipun Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, dan Selat Sunda sangat strategis, karena kehadiran Angkatan Laut AS di kawasan ini, Asia Tenggara khususnya RI, Malaysia, dan Brunei “tidak melawan” atau “East Asia has long remained the dog that did not bark” (Gaffney et al, 2000). AS masih merupakan pemain kunci balance of power pada Ocean Century dan Asia’s Century awal abad ke-21.

Secara umum, Maritime Silk Route (MSR) Tiongkok sulit dijadikan basis poros maritim abad ke-21. Hal itu karena Tiongkok mengadopsi kebijakan-kebijakan unified land and maritime strategy yang mengeskalasi ketegangan dengan India, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan bahkan RI.

Tiongkok mempersenjatai Pakistan dengan tank, kapal perang, pesawat tempur, dan promosi produksi rudal dan senjata nuklir Pakistan. Tiongkok berupaya meredam pengaruh India di Nepal, Bhutan, Myanmar, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa. Langkah Tiongkok ini, menurut PM India Narendra Modi, “Everywhrere around us, we see an 18th century expansionist mindset” saat berada di Jepang awal September 2014, (Reuters, 1/9/2014).

Tiongkok berupaya keras melindungi gerbang basis kapal selam nuklir terbesarnya di sekitar zona udara internasional Pulau Hainan ke zona Laut Tiongkok Selatan. Penerbangan surveilans pesawat militer AS rutin memantau zona ini. Presiden Tiongkok Xi Jinping meningkatkan anggaran militer Tiongkok sebesar 12,2 persen tahun 2014, (Bloomberg, 29/9/2014).

Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei juga mengklaim hak atas perairan Laut Tiongkok Selatan. Jepang, Sri Lanka, India, dan Australia menjalin kerja sama keamanan dan maritim miliaran dolar AS. India siap memasok rudal Brahmos antiship cruise ke negara seperti Vietnam, Filipina, dan RI, (RIS, 2012). AS dan sekutunya menentang upaya Beijing sejak 2013 tentang Air Defense Identification Zone (ADIZ) di Laut Tiongkok Timur dan klaim teritorial Tiongkok atas zona ekonomi eksklusif Laut Tiongkok Selatan.

Tiongkok membangun MSR berupa investasi jalan, kereta-api, pelabuhan, pinjaman murah, serta kesepakatan dagang di sekitar India, khususnya Gwadar, Pakistan, Hambantota, Sri Lanka, Chittagong, Bangladesh, dan sekitarnya. Strategi MSR Tiongkok ini kontra terhadap strategi maritim AS dari Eurocenter ke Asia Pacific Center. Proposal Trans-Pacific Partnership (TPP) AS didesain untuk meredam dominasi ekonomi Tiongkok atau kerja sama mutual-benefit ekonomi antara Tiongkok, AS, dan mitranya di Asia, (Asia News Network, 11/9/2014). ●