Tampilkan postingan dengan label Refleksi Hari Gerakan Pramuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Hari Gerakan Pramuka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

Gerakan Pramuka, Mau Dibawa Kemana?

                Gerakan Pramuka, Mau Dibawa Kemana?

Didi Dirhamsyah  ;   Mantan Ketua Dewan Kerja Pramuka
Kab.Tangerang Masa Bakti 1991 – 1994
OKEZONENEWS, 11 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Tanggal 14 Agustus 2014 Gerakan Pramuka memasukiusia ke-53. 14 Agustus 1961 ditetapkan sebagai hari lahirnya Gerakan Pramuka, walalupun Gerakan Kepanduan sudah ada sebelumnya tepatnya organisasi kepanduan pertama di Indonesia sudah ada sejak tahun 1912 namun pada tahun 1961, dengan ketetapan Presiden diresmikan Gerakan Pramuka, maka kemudian 14 Agustus dikenal sebagai Hari Pramuka.

Kepramukaan dikembangkan oleh Lord Baden Powell sebagai cara membina kaum muda di Inggris yang terlibat dalam kekerasan dan tindak kejahatan, beliau menerapkan scouting secara intensif kepada 21 orang pemuda dengan berkemah di pulau Brownsea selama 8 hari pada tahun 1907. Pengalaman keberhasilan Baden Powell sebelum dan sesudah perkemahan di Brownsea ditulis dalam buku yang berjudul “Scouting for Boy”. Melalui buku “Scouting for Boy” itulah kepanduan berkembang termasuk di Indonesia. Pada kurun waktu tahun 1950-1960 organisasi kepanduan tumbuh semakin banyak jumlah dan ragamnya.

Gerakan Pramuka ditetapkan sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagianak-anak dan pemuda Indonesia, bertujuan Membentuk kepribadian dan akhlak mulia kaum muda, Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi kaum muda, Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

Dengan metode ‘learning by doing’ yang dilakukan di alam terbuka secara berkelompok, Gerakan Pramuka menjadi pilihan generasi muda untuk berorganisasi terutama sebagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah (walaupun Gerakan Pramuka bukan hanya ada di sekolah). Di era 80-an sampai 90-an sangat banyak peminat Gerakan Pramuka terutama di sekolah-sekolah, bahkan jumlah anggota Pramuka bisa di atas anggota ekstrakurikuler lainnya di sekolah.

Seiring berkembangnya jaman dan teknologi saat ini, masih relevankan Gerakan Pramuka bagi generasi muda Indonesia sekarang ini?. Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengatakan Gerakan Pramuka masih relevan dengan perkembangan jaman, kemajuan ilmu pengetahuan dante    saat ini. Tetapi pada kenyataannya Gerakan Pramuka sekarang ini sudah tidak lagi populer bagi generasi muda dengan kata lain Gerakan Pramuka sudah tidak menarik lagi buat mereka, bahkan banyak sekolah di tingkat SMP atau SMA yang tidak lagi mencantumkan kegiatan kepramukaan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Mereka hanya mengenakan seragam pramuka pada hari Sabtu, itupun karena diwajibkan memakainya. Pemakaian seragam yang sembarangan dan sudah tidak sesuai dengan aturan dan etika kepramukaan kerap dilakukan para siswa karena mereka merasa bukan anggota pramuka, ini malah akan merusak citra Gerakan Pramuka. Menyedihkan sekali, Kepramukaan di sekolah sekarang ini hanyalah sebuah seragam di hari sabtu.

Pada tahun 2006, Presiden SBY mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka dengan tujuan pokoknya mengaktifkan kembali Gugus Depan sebagai ujungtombak Gerakan Pramuka, untuk memantapkan eksistensi Gerakan Pramuka serta untuk meningkatkan fungsi Gerakan Pramuka. Kenyataannya, berapa banyak saat ini Gugus Depan yang tinggal namanya saja kalaupun ada sudah ‘matisuri’. Bagaimana mau eksis kalau ujung tombaknya saja sudah tinggal nama, bagaimana mau eksis kalau di sekolah-sekolah Gerakan Pramuka sudah tidak lagi menarik minat siswa?.

Dalam satu kesempatan wawancara dengan salah satu televisi nasional di awal tahun 2012, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengatakan anggota Gerakan Pramuka di Indonesia saat itu mencapai 30 juta orang. Apakah data ini valid? sesuaikah dengan kenyataan yang terjadi sekarang ini? Apakah Pengurus Kwartir Nasional hanya ‘ABS’ dengan mengatakan Gerakan Pramuka masih banyak peminatnya? Mereka yang duduk di tingkat nasional saja yang tetap merasa Gerakan Pramuka tetap eksis, apalagi dengan disahkannya Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

Apakah dengan Undang-undang ini masih idealiskah pengurus Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan tujuan mulia Gerakan Pramuka atau hanya untuk sekadar mempertahankan eksistensi kegiatan di tingkat nasional dengan anggaran miliaran rupiah?.

Cobalah kita tengok di tingkat Gugus Depan, Kwartir Ranting dan Kwartir Cabang?Apakah eksistensi Gerakan Pramuka sesuai dengan yang diharapkan?Apakah sasaran Revitalisasi Gerakan Pramuka sudah tercapai sesuai keinginan? Menyedihkan sekali kalau melihat kenyataannya ‘jauh panggang dari api’.

Keberhasilan Revitalisasi Gerakan Pramuka ‘hanyalah’ dengan disahkannya Undang-undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Buat apa Kepramukaan dibuatkan Undang-undang kalau kenyataannya Gerakan Pramuka sudah tidak lagi menarik buat Generasi Muda. Apakah dengan Undang-undang ini kita akan mewajibkan generasi muda menjadi anggota Gerakan Pramuka? sebuah langkah yang keliru dan sudah melenceng dari cita-cita Bapak Pandu Dunia, Lord Baden Powell dan para pendiri kepanduan dan kepramukaan bangsa ini. Janganlah kita membuat kekeliruan lagi, karena selama ini kewajiban memakai seragam pramuka pada hari sabtu di sekolah sudah merupakan sebuah langkah yang sangat keliru.

Apa yang perlukitalakukan agar Gerakan Pramuka tetap eksis dan menarik?, kembalikan Gerakan Pramuka kepada cita-cita pendirinya dengan terus berinovasi sesuai perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena Kepramukaan adalah “Learning by Doing, Doing to Earn, Earn to Live, Living to Serve”. ●

Pramuka, Gue Banget

                                               Pramuka, Gue Banget

Harun Mahbub  ;   Wartawan Tempo
KORAN TEMPO, 14 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Di sebuah pojok di Cikini Raya, kami mendiskusikan sesuatu yang "hilang" dari gerakan pramuka. Seminggu sekali, para pelajar memang masih mengenakan seragam cokelat-cokelat, dengan kacu merah putih pada leher. Bahkan, kurikulum terbaru telah mengamanatkan gerakan pramuka sebagai program ekstrakurikuler wajib. Namun, siapa pun tahu, ia seperti pasien yang sekarat, mencoba bertahan hidup dengan dukungan alat-alat medis di sekelilingnya.  

Semasa masih duduk di bangku sekolah dasar di daerah pegunungan di selatan Yogyakarta,  saya dan teman-teman satu angkatan selalu tak sabar menunggu Jumat sore yang istimewa itu. Saat itu, Pramuka begitu asyik dan seru. Jumat berganti Jumat, hingga saya akhirnya menapaki karier tertinggi di Pramuka sebagai Ketua Regu Banteng di level Penggalang.

Cerita mulai berubah ketika saya melanjutkan pendidikan di sekolah menengah pertama di kota. Pramuka mendadak jadi kegiatan yang tidak menarik, juga tidak keren. Teman-teman satu angkatan juga menilai demikian. Kami lebih suka bermain bola basket, sepak bola, main dingdong, atau baris-berbaris. Saya menjumpai hal yang sama setiap pulang ke desa pada pekan kedua dan keempat. Pramuka sepi peminat di kalangan remaja.

Di SMA, Pramuka semakin terasing dari kami, kaum ABG waktu itu. Kami lebih memilih nge-band, bermain basket, atau ikut "cabang" Pramuka, semacam kegiatan pencinta alam yang justru melampaui popularitas Pramuka itu sendiri.

Tentu ini sangat disayangkan. Pramuka adalah sarana yang dahsyat untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Pramuka tak hanya menjanjikan olah pikir dan raga, tapi juga hati. Saya masih ingat betul salah satu "mantra" yang kami daraskan setiap mengawali kegiatan Pramuka sekitar 25 tahun lalu: "suci dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan". Bukankah itu puncak dari pencapaian diri?

Dengan kondisi Pramuka hari ini, lantas apa yang harus dilakukan? Intervensi negara berupa "paksaan" ikut Pramuka sepertinya tidak cukup. Diskusi tentang Pramuka di Cikini Raya itu menyepakati perlunya rebranding Pramuka. Itu memang keniscayaan di era pasar ini. Para pemangku kepentingan harus melakukan konsolidasi dan merapikan gerakan Pramuka, seraya menegaskan sasaran jangka pendek, menengah, serta panjang.

Pramuka juga harus berfokus pada sasaran audiensnya. Target pasarnya adalah anak-anak kita, yang sejak kecil sudah akrab dengan gadget, sering curhat di media sosial, dan memastikan gaya hidupnya mengacu pada tokoh idola di layar kaca.

Kalau tidak mau ditinggalkan., Pramuka harus mengalah dan mengikuti kemauan mereka, atau dengan kata lain mengikuti selera pasar. Selanjutnya, baru kemudian pelan-pelan memasukkan nilai-nilai mulia Pramuka ke diri mereka. Nah, seturut pola pikir ini, cara agar generasi Twitter masa kini tertarik pada Pramuka adalah menjadikannya simbol identitas dan kebanggaan mereka. Istilah anak muda sekarang, PR-nya adalah bagaimana menjadikan Pramuka itu "gue banget".

Kesimpulannya, gerakan Pramuka harus memperkuat diri ke dalam, kemudian memasarkan diri dengan cerdik. Masih butuh diskusi sangat keras dan panjang untuk menurunkannya dalam program-program nyata berikut pelaksanaannya. Tapi, jika dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh oleh berbagai pihak, anak-anak kita bisa jadi tak sabar menanti Jumat tiba. Selamat Hari Pramuka. ●

Rabu, 21 Agustus 2013

Pramuka Makin Dilupakan?

Pramuka Makin Dilupakan?
Aziz Syaifuddin ;   Pegawai Kemenkokesra RI
SUARA KARYA, 20 Agustus 2013

Pada 14 Agustus 2013 lalu, Gerakan Pramuka Indonesia tepat berusia 52 tahun. Sebuah gerakan yang tak lagi muda, sudah matang dan (semestinya) mapan, alias berkembang. Refleksi sederhana penulis, dulu semasa SD/MI kita akrab dengan gerakan kepanduan ini. Berbagai macam aksi dan kegiatan begitu ramai dan marak digelar. Persami (perkemahan Sabtu malam Minggu), pelajaran bagaimana cara-cara hidup di alam sekitar, tali temali, sandi/morse, dan lain sebagainya.

Namun, rasanya kini kegiatan itu tak semeriah dulu. Apakah, organisasi kepanduan ini semakin dilupakan? Mari kita ujicobakan untuk menyapa anak-anak, pelajar dan mahasiswa mengenai, apa itu pramuka, bagaimana mereka memandang organisasi kepanduan ini? Beragam ekspresi pasti akan muncul, bahkan bisa jadi ekspresi diam dan bingung terlihat pada diri mereka. Dan, lebih miris lagi, anak-anak muda saat ini justru memandang gerakan pramuka dengan sebelah mata. Mereka melihat pramuka sebagai organisasi "jadul" yang tak lagi cocok untuk perkembangan zaman yang semakin canggih dengan teknologi. Komputer tablet, iphone, dan ragamnya kini justru akrab dengan anak-anak. 

Sandi morse yang dulu kita pelajari seolah makin tertelan oleh budaya SMS (short message service) dan blackberry massanger (BBM) serta telepon pintar lainnya. Tak tampak lagi kegiatan yang gerakan massif kepanduan ini. Perayaan hari Pramuka yang diperingati setiap 14 Agustus pun sekarang hanya sebatas seremonial belaka, miskin makna dan esensi pengembangan. Pramuka seolah semakin sepi peminat. Zaman semakin menampilkan budaya modern yang cenderung individualistik dan kapitalistik.

Jika kita menoleh ke belakang, pramuka di masa Orde Baru mendapatkan perhatian cukup besar dari pemerintah dan masyarakat. Pada masa itu, Pramuka cukup diminati oleh kelompok muda. Apalagi jika sudah berkaitan dengan aktivitas dan kegiatan pramuka seperti Jambore, perkemahan dan semacamnya. Media massa betul-betul mengawal Pramuka, sehingga terlihat kualitas dan kuantitas Gerakan Pramuka saat itu. Bagaimana masa kini? Perbedaan amat terasa bila dibandingkan dengan keberadaan Pramuka di masa kini. Gumilar R Somantri (2010, dalam Setiawan), seorang dosen Universitas Indonesia mengatakan, Pramuka sekarang berubah, kehilangan pamornya.

Kini Pramuka hanya dimaknai secara prosedural, sebatas seragam coklat. Orde baru saat itu menampilkan diri sebagai aktor yang cukup sukses menancapkan ideologi gerakan kepanduan sebagai salah satu pendukung nasionalisme. A Ferry T Indratno dkk (2007) dalam bukunya menyebutkan pembelajaran ideologi nasionalisme (saat itu) diimplementasikan dalam kegiatan kurikuler seperti Pramuka, Wawasan Widyatamandala, dan P4 (Pedomen Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).

Membangun Akhlak

Jika kita mencermati tujuan gerakan kepanduan ini sungguh mulia. Pasal 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka menyebutkan, Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap Pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup.

Dari tujuan tersebut, penulis melihat ada tiga pesan penting yang terkandung di dalamnya. Pertama, religiusitas; kedua, jiwa sosial; dan ketiga, nasionalisme (patriotik). Tiga pesan itulah yang dirangkai dalam visi atau tujuan gerakan kepanduan atau Pramuka untuk membangun akhlak manusia yang baik.

Dan, pendidikan akhlak ini jelas penting bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya; berintegritas, bermoral, berakhlakul karimah, jujur, dan adil. Mengutip Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya 'al-Ulumuddin menyatakan, khuluk (akhlak) ialah hasrat atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang mudah dan gampang tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran. Maka jika hasrat itu melahirkan perbuatan-perbuatan yang dipuji menurut akal dan syara', maka itu dinamakan akhlak yang bagus dan jika melahirkan akhlak darinya perbuatan-perbuatan yang jelek, maka hasrat yang keluar dinamakan akhlak yang jelek.

Ketika kita kembalikan pada kondisi riil Gerakan Pramuka di Indonesia, maka terbentang nyata bagaimana salah satu unsur pembangun akhlak berupa gerakan kepanduan ini semakin terpinggirkan, ditinggalkan. Padahal, gerakan kepanduan ini masih sangat dibutuhkan bangsa ini yang tengah mengalami sakit akibat tergerusnya moralitas, akhlak, dan budaya korup serta anarkisme.

Penulis meyakini jika nilai-nilai luhur dan ajaran yang terkandung dalam Gerakan Pramuka benar-benar dilaksanakan, maka kita akan mendapati tumbuhnya sebuah pohon akhlak yang diidamkan sebagaimana definisi Al-Ghazali di atas.


Akhirnya, melalui refleksi peringatan hari Pramuka yang ke-52 dan sekaligus memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 kali ini, kita berharap jiwa-jiwa nasionalisme, patriotisme anak-anak bangsa terpanggil untuk memperbaiki visi dan semangat gerakan kepanduan yang semakin lama terlupakan. Di sinilah pentingnya melakukan revitalisasi Gerakan Pramuka agar organisasi ini semakin nyata dan tidak dilupakan. Semoga! ●