Tampilkan postingan dengan label David Hutama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label David Hutama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

Ketukangan dalam Kriya dan Desain Kita

Ketukangan dalam Kriya dan Desain Kita

David Hutama  ;   Kurator dari Pavilion Indonesia untuk Venice Architecture Biennale 2014; Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan, Lippo Village, Tangerang
KOMPAS,  15 Maret 2014
                             
                                                                                         
                                                                                                             
BIENNALE Desain dan Kriya 2013 telah berlangsung di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran sepanjang 20 Desember 2013-19 Januari 2014 ini memamerkan 67 karya hasil kolaborasi para desainer (termasuk arsitek, desainer interior, desainer produk, desainer grafis, dan desainer pakaian) dengan seniman.

Dalam tulisannya, Adhi Nugraha di website resmi Biennale Desain dan Kriya 2013 menyatakan, ”Kekayaan tradisi kriya bangsa Indonesia bukan hanya terletak pada keragaman obyek kriyanya, tetapi tecermin juga dari keragaman material, teknik pembuatan, bentuk, dan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya.”
Ini adalah sebuah pernyataan penting yang menjadi landasan untuk memperlihatkan keunikan karya seni Indonesia.

Keapikan dan keragaman karya kriya di Indonesia tidak lepas dari kekayaan sumber daya alam, kebudayaan sebagai kondisi yang membentuknya, dan kualitas dari ketukangan masyarakat di Indonesia sebagai pelakunya.

Dalam pameran ini, kita semua dibawa untuk mengapresiasi dan menikmati obyek-obyek kolaborasi para desainer dan seniman tersebut.

Sayang, tidak tertampilkan proses bagaimana hal-hal tersebut dibangun, dirajut, dan dibuat.

Padahal, kehadiran sebuah karya kriya kental konotasinya dengan interaksi antar-anggota tubuh manusia dan material, entah itu kayu, bebatuan, bambu, dan sebagainya.

Mengapresiasi sebuah karya kriya tidak bisa melepaskan ketukangan sebagai prosesnya.

Konsep estetika

Kebudayaan Jepang mempunyai konsep estetika Wabi-Sabi yang menjadi panduan etika dan sekaligus bertukang.

Dalam buku A Tractate on Japanese Aesthetics, Donald Richie menjelaskan, Sabi 
adalah konsep yang terkait dengan waktu. Jatuhnya dedaunan, mengaratnya besi, melumutnya bebatuan adalah bagian dari nilai seni.

Sementara Wabi adalah sebuah tatanan laku. Bagaimana menjadinya sebuah karya seni adalah sebuah proses berkesenian dan punya nilai penting sendiri.

Dalam upacara minum teh, ”wabi’” dengan lugas tampil. Laku dari penyaji, sikap, dan tata krama adalah elemen yang tak terpisahkan dari estetika upacara tersebut.
Di Indonesia, tatanan estetika seperti Wabi-Sabi ada pada setiap budaya. Sebuah konsep yang mengaitkan antara laku danw.

Perbedaan paling mendasar antara Jepang dan Indonesia dalam hal ini hanya pada penyampaian dan perekaman pengetahuannya. Di Indonesia lewat tradisi lisan.
Di Jawa baru pada akhir abad ke-19 muncul rekaman pengetahuan terkait ketukangan dalam bentuk tulisan, yang kita kenal dengan Kawruh Griya dan Kawruh Kalang.

Kawruh Griya adalah pengetahuan tentang seluk-beluk persiapan membangun rumah, sedangkan Kawruh Kalang adalah panduan untuk bertukang dalam proses membangun rumah.

Namun, pada kebudayaan Jepang dan Nusantara ini terdapat satu kesamaan yang bisa menjadi benang merah tentang relasi karya kriya dan ketukangan, yaitu adanya ruang apresiasi pada sentuhan tubuh manusia yang pasti tidak konsisten, ada dinamika kasar-lembut, dan hadirnya ekspresi emosi.

Apresiasi

Prof Josef Prijotomo dalam tulisannya berjudul ”Ubah-Ingsut dalam Arsitektur Jawa” memperlihatkan bahwa dalam tradisi bertukang di Jawa ada apresiasi pada karakter sentuhan manusia. Membangun rumah joglo tidak satu cara, bahkan ada tujuh kemungkinan (menurut Kawruh Kalang versi Soetoprawiro) dan tetap baik.

Contoh Kawruh Kalang ini memang dalam kasus bangunan, tetapi hal serupa juga ditemui dalam kasus-kasus kerajinan yang melekat pada rumah atau bangunan seperti pada bagian tumpang-sari rumah joglo. Tidak mungkin ada tumpang-sari yang persis sama tetapi tidak hilang guna dan maknanya.

Ambiguitas

Adanya paparan atau pameran pada proses ketukangan ini akan menjadi batas tegas yang mampu mencairkan ambiguitas antara apakah karya ini sebetulnya produk manufaktur atau lewat tangan-tangan terampil tukang.

Berbeda dari kebudayaan Jepang yang seakan sudah tidak lagi mencari-cari bentuk dan tatanannya, kebudayaan kita selalu dalam proses pencarian yang penuh dinamika.

Penting untuk melihat apakah keragaman obyek kriya, teknik pembuatan, material, dan sebagainya adalah sebuah fenomena yang sadar, disengaja, dan bukan ”kecelakaan” belaka?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bisa jadi memberikan sketsa ke mana arah ranah kriya dan desain kita nantinya.

Apakah kita akan mengalah dan sekadar ikut pada perkembangan situasi dunia? Atau kita akan menentukan dan membentuk perkembangan kita sendiri dari potensi-potensi keragaman yang kita miliki?

Minggu, 19 Januari 2014

Haruskah Kita Mewacanakan Arsitektur?

Haruskah Kita Mewacanakan Arsitektur?

David Hutama  ;   Arsitek
KOMPAS,  19 Januari 2014
                                                                                                                        


Tanggal 9 November 2011, Ikatan Arsitek Indonesia bersama Museum Nasional, Jakarta, menyelenggarakan Sayembara Arsitektur untuk Rancangan Skematik Perluasan Museum Nasional. Sayembara ini banyak menarik perhatian para arsitek untuk berpartisipasi. Kenapa?

Paling tidak karena tiga hal. Pertama, Museum Nasional adalah bangunan publik yang penting, baik itu karena koleksinya maupun fungsinya sebagai museum. Kedua, rasanya belum ada satu bangunan museum pun yang dibangun dari nol, kebanyakan adalah renovasi bangunan lama. Ketiga, dari sudut pandang arsitektural, museum adalah tipologi yang menarik karena sifatnya sebagai landmark dan berpotensi untuk mempunyai ruang dan bentuk yang ikonik. Sayembara ini akhirnya dimenangi oleh kantor konsultan arsitektur ABODAY dan saat ini proses perancangan tahap selanjutnya sedang berlangsung.

Dari fenomena ini, beberapa pertanyaan dengan mudah muncul. Seberapa banyak masyarakat Jakarta yang tahu tentang sayembara ini, padahal obyeknya adalah salah satu bangunan museum terpenting di Indonesia? Dan jika tahu, apakah ada ketertarikan untuk mengikuti proses sayembara ini? Sejauh ini memang di berbagai perhelatan arsitektur, partisipannya selalu dari kalangan arsitektur juga. Padahal, arsitektur pada hakikatnya adalah selalu mempunyai nilai publik walau dengan tingkat kepublikan yang berbeda-beda. Jadi, seharusnya publik punya hak dan peran untuk melakukan kritik dan pengawasan dari hadirnya sebuah arsitektur di sebuah tempat.

Saat ini, arsitektur memang jarang dibicarakan dalam konteksnya yang utuh. Bahwa arsitektur bukan sekadar bangunan yang sengaja dibuat menarik, melainkan punya dampak lebih. Keberadaannya tidak hanya membuat si pengguna nyaman dan puas, tetapi juga akan berdampak terhadap manusia dan lingkungan tempatnya berdiri. 

Salah satu kasus yang kerap disinggung dalam sejarah perkembangan arsitektur adalah dirobohkannya rumah susun Pruitt-Igoe di Amerika Serikat pada Desember 1971. Rumah susun yang terletak di St Louis, Amerika Serikat, karya arsitek Minoru Yamasaki ini dirobohkan karena dianggap memberikan dampak sosial yang buruk bagi penghuninya. Kejadian ini diangkat sebagai sebuah pernyataan dan wacana yang kuat dan tajam oleh Charles Jencks. Jencks, seorang arsitek lanskap tetapi lebih dikenal sebagai kritikus dan teoris arsitektur, menyatakan, robohnya Pruitt-Igoe adalah tanda dari kegagalan arsitektur modern yang dianggap terlalu mengutamakan efisiensi dan universalitas ruang tanpa peduli dimensi sosial dan budaya penghuninya.

Terlepas dari fakta banyaknya masalah sosial di situ, label yang diberikan sebagai tanda runtuhnya arsitektur modern adalah sebuah wacana yang dibuat dan diargumentasikan oleh Charles Jencks dengan tujuan untuk menjelaskan dan membentuk pemahaman masyarakat tentang fenomena tersebut. Wacana-wacana seperti ini kerap ditulis oleh orang-orang yang disebut oleh kritikus arsitektur. 

Beberapa yang cukup populer adalah Witold Rybczynski, Herbert Muschamp, Ada Louis-Huxtable, Paul Goldberger, dan banyak lagi. Mereka mengulas dan membedah arsitektur agar terjadi sebuah kesepahaman antara publik, arsitektur, dan arsiteknya. Hal ini yang masih langka di Indonesia. Akibatnya, jika kita mendengar kata ”arsitektur”, yang langsung terlintas adalah rupa dan bentuk bangunan yang eksentrik semata.

Dalam sebuah tulisan berjudul ”What Should a Museum be?” yang diterbitkan di harian New York Times, 8 Mei 1960, Ada Louis-Huxtable menulis sebuah kritik tentang bagaimana berlimpahnya proyek-proyek museum pada masa itu mempunyai dampak kebanalan yang juga bertambah. Arsitek seperti kehilangan prioritas dalam merancang proyek-proyek museum ini. Bentuk dan skala yang monumental melupakan fungsi-fungsi yang penting yang harus direncanakan dengan baik agar sebuah museum bisa berfungsi.

Fungsi edukasi

Fungsi edukasi menjadi pekerjaan rumah kita semua, bukan hanya untuk arsitek, melainkan juga media dan pemerintah. Jika pemahaman akan apa dan bagaimana sebuah arsitektur dinilai mulai merata di khalayak ramai, saya percaya dengan sendirinya lingkungan kita akan membaik dengan sendirinya. Sebuah sistem kontrol publik akan terjadi sehingga arsitektur tidak hanya milik eksklusif arsitek. Mewacanakan arsitektur (baca: membicarakan arsitektur) adalah upaya paling awal agar fungsi edukasi ini berjalan.

Dalam 10 tahun terakhir, perlahan upaya untuk mewacanakan arsitektur di Indonesia mulai ramai walau masih sangat jauh dari baik jika melihat keberagaman budaya dan luasnya negara kita. Sebagai awalan ini adalah sesuatu yang positif. Beberapa pameran arsitektur mulai diselenggarakan di ruang publik, seperti pameran ”Kulit Kedua” Budi Pradono di Gedung Arsip (2006), ”20.10.10 Budi Pradono: In Process” di Museum Mandiri (2010), dan pameran Andra Matin ”Andra Matin: Sebuah Sekuel” di Galeri Seni Dia.Lo.Gue (2012). Buku-buku yang mengulas pemikiran dan ide arsitekur juga mulai ramai, misalnya Baskoro Tedjo: Extending Sensibilites through Design oleh Baskoro Tedjo (penerbit IMAJI), Arsitetur yang Lain karya Avianti Armand (penerbit Gramedia), dan Relativitas: Arsitek di Ruang Angan & Kenyataan karya Adi Purnomo (penerbit Borneo). Semua ini adalah upaya agar arsitektur menjadi lebih dekat dan lebih dikenal publik.

Tahun depan adalah untuk pertama kalinya Indonesia diundang ke salah satu pameran arsitekur prestisius di dunia, Venice Architecture Biennale 2014 di Venesia, Italia. Menjadi sesuatu yang janggal jika kita diundang untuk mewacanakan perkembangan arsitektur di Indonesia, tetapi masyarakat kita sendiri pun sebetulnya masih enggan dan berjarak.

Jadi, haruskah kita mewacanakan arsitektur? Jawabnya harus. Sebab, arsitektur bukan sekadar tentang bangunan, melainkan bagaimana lingkung bina manusia menjadi lebih baik atau lebih buruk karenanya. Dengan mewacanakan arsitektur, perlahan kita bersama-sama menjadi sadar, menjaga, dan membangun lingkung bina yang baik dan lestari.