Tampilkan postingan dengan label Raja Juli Antoni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raja Juli Antoni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

SBY Bukan Negarawan?


SBY Bukan Negarawan?
Raja Juli Antoni ;  Direktur Eksekutif Maarif Institute (2005-2009);
Kandidat Doktor di The University of Queensland, Australia
KORAN TEMPO, 24 Mei 2013


Tersiar kabar dari media bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menerima World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (ACF). Di website resmi ACF, tidak dijelaskan alasan kenapa SBY dianugerahi World Statesman Award (WSA). Namun, bila melihat visi dan misi ACF, penganugerahan ini berkaitan dengan sosok SBY yang dipandang berhasil dalam memperjuangkan penegakan hak asasi manusia, kebebasan beragama, toleransi antar-umat beragama, dan penyelesaian konflik etnis secara damai. 
Wajar bila ada pertanyaan mengenai kredibilitas ACF, karena lembaga ini asing di telinga publik Indonesia. Penulis mendapat informasi bahwa ACF adalah "lembaga kecil yang biasa-biasa saja". Reputasi lembaga ini jauh di bawah lembaga-lembaga internasional di Amerika Serikat (AS), seperti World Conference on Religion for Peace, Freedom House, World Movement for Democracy, atau Human Rights Watch. 
Kriteria penganugerahan WSA pun tidak jelas dan transparan. Para aktivis dan lembaga yang memperjuangkan HAM serta kebebasan beragama di Indonesia tidak ada satu pun yang merasa diajak "ngobrol" mengenai WSA. Informasi lain mengatakan, Rabbi Arthur Schneier, pendiri AFC, adalah seorang rabbi yang tinggi hati dan elitis, namun mempunyai kemampuan lobi kuat dengan para pengambil kebijakan di AS. Pada 1998, Presiden Bill Clinton mempercayainya untuk memulai dialog mengenai kebebasan beragama dengan Presiden Cina Jiang Zemin. Misi ini tidak berbuah apa pun kecuali melambungkan reputasi pribadi Rabbi Schneier sebagai "orang dekat" Gedung Putih. Reputasi inilah yang ia pergunakan untuk melobi para pemimpin dunia, seperti untuk menerima WSA. Pintu lobi-lobi elitis inilah yang bisa menerangkan nominasi SBY sebagai penerima WSA tahun ini.
Sosok negarawan 
Kata statesman dapat diartikan sebagai "negarawan". Pertanyaannya: layakkah SBY menyandang predikat sebagai seorang negarawan, terutama bila dikaitkan dengan komitmennya terhadap kebebasan beragama dan proteksi hak minoritas?
Ada dua cerita menarik dari AS yang dapat menggambarkan bagaimana sosok negarawan sejati. Pertama, tindakan tegas Presiden Eisenhower menyelesaikan "Krisis Little Rock". Pada 1950-an, masyarakat AS terbelah oleh isu pro dan kontra segregasi berdasarkan warna kulit. Beberapa pemerintah negara bagian masih berpihak kepada supremasi kulit putih, meskipun Mahkamah Agung AS pada 1954 telah memutuskan bahwa segala praktek segregasi rasial pada institusi pendidikan adalah inkonstitusional.
Gubernur Arkansas, Orval Faubus, berkeras menolak proses desegregasi. Bahkan, pada musim gugur tahun 1957, Orval Faubus mengirim tentara untuk memagari "sekolah kulit putih", The Little Rock Central High School, agar tidak dimasuki sembilan pelajar kulit hitam. Ketegangan antar-ras memuncak. Unjuk rasa dari yang pro dan kontra semakin panas.
Mendengar hal ini, tidak tanggung-tanggung, Presiden Eisenhower mengirim tentara dari The 101 Airborne Division untuk menjamin keamanan dan mengawal sembilan pelajar kulit hitam untuk memasuki sekolah. Eisenhower juga mengambil kendali atas 10 ribu tentara Negara Bagian Arkansas dari tangan Orval Faubus agar tidak disalahgunakan. Bayangkan, seorang presiden dari tempat liburannya membuat sebuah keputusan besar, penting, dan tegas guna memproteksi hak-hak minoritas yang dijamin konstitusi.
Cerita kedua terjadi sekitar tahun 2010 ketika publik AS terbelah oleh isu kontroversial mengenai rencana pendirian sebuah masjid di (dekat) Ground Zero. Survei menunjukkan mayoritas penduduk AS tidak setuju dengan rencana itu. Namun, secara mengejutkan, Presiden Barack Obama pada acara buka puasa bersama di Gedung Putih mendeklarasikan dukungannya terhadap rencana kontroversial itu. 
Tanpa tedeng aling-aling, Obama mengatakan: "….Saya percaya bahwa muslim mempunyai hak yang sama untuk melaksanakan agama mereka sebagaimana pemeluk agama lain. Dan ini termasuk hak untuk membangun tempat ibadah dan community centre di Lower Manhattan (daerah Ground Zero) sesuai dengan hukum yang berlaku. Ini adalah Amerika. Komitmen kita untuk kebebasan agama tidak akan pernah tergoyahkan!"
Obama bukan presiden bodoh yang tidak mengetahui kecenderungan sentimen publik. Bila Obama hanya ingin menjadi presiden pesolek, tidak perlu ia mengatakan hal di atas, yang justru menambah sentimen negatif terhadap dirinya dan Partai Demokrat yang ketika itu akan mengikuti pemilu sela. 
Namun ada saatnya seorang negarawan "pasang badan" untuk menegakkan prinsip-prinsip dasar negara modern, termasuk menjamin kebebasan beragama, tanpa peduli pada bedak dan citra diri. Inilah sikap seorang negarawan: berani melawan arus publik demi menegakkan sendi-sendi negara dan konstitusi.
Silakan para pembaca membandingkan kepemimpinan Eisenhower dan Obama dengan SBY dalam membela hak minoritas. Ketika seorang pendeta ditusuk oleh "preman berjubah" di Bekasi, SBY mengutus Menteri Kesehatan dengan membawa "kabar gembira" bahwa seluruh biaya pengobatan akan ditanggung negara. Persis seperti SBY mengirim staf khususnya untuk memberikan uang kepada Tasrifin (Cilacap) tanpa menyentuh akar masalahnya.
Seorang kawan baru saja kembali dari Transito, barak pengungsian jemaah Ahmadiyah di Mataram. Tujuh tahun yang lalu, rumah, kebun, dan ladang mereka dibakar kelompok intoleran tanpa ada perlindungan dari aparat. Tujuh tahun pula nasib 35 keluarga ini terlunta-lunta tanpa ada perhatian sama sekali dari pemerintah. Ke mana SBY? Mungkin ia sibuk mengurus partainya yang hampir karam karena korupsi.
Jalan terjal
WSA yang akan diterima SBY adalah "kado terbaik" bagi MAARIF Institute, yang bulan depan akan merayakan usia kesepuluh. WSA adalah pernyataan bahwa perjalanan menegakkan hak asasi manusia dan kebebasan beragama, yang merupakan salah satu fokus kerja MAARIF Institute, masih panjang, terjal, dan berliku. Sembilan tahun pemerintahan SBY adalah masa kelam ketika orang merasa sah melakukan anarkisme dan membunuh asalkan dilakukan secara berjemaah dan mengatasnamakan agama. 
Selamat satu dekade MAARIF Institute! Semoga pada 2014 Ibu Pertiwi melahirkan seorang negarawan! ●

Jumat, 22 Februari 2013

Salehnya Politisi Kita


Salehnya Politisi Kita
Raja Juli Antoni ;  Peneliti Senior MAARIF Institute, Jakarta; Tutor di School of Languages and Comparative Cultural Studies, the University of Queensland, Australia
DETIKNEWS, 21 Februari 2013


Hati saya sedang berbunga-bunga. Sebagai mantan aktivis sebuah organisasi pelajar Islam, alhamdulillah wa syukurulillah, sebulan terakhir meskipun bukan bulan puasa, politisi kita terasa semakin ‘saleh’ dan ‘religius’. Terima kasih juga kepada media yang telah bersedia menjadi panggung unjuk kesalehan para politisi.

Repotnya, sekarang saya mengalami kesusahan membedakan ustadz, mubaligh, dan kyai dengan politisi. Semuanya mirip. Perilaku keberagamaan mereka sama. Mungkin fenomena ini mesti dilihat sebagai keberhasilan pada level praktis dan kongkret ajaran tentang Islam itu adalah agama dan sekaligus negara (Al-Islam huwa Ad-din wa Ad-daulah). Ustadz Yes; Politikus Yes. Atau, mubaligh OK, presiden lebih OK dong!

Coba simak rangkain kejadian di bawah ini! Insya Allah, Anda (tidak) akan sepakat bahwa politisi kita kini tambah religius.

Agama Para Politisi

Lihatlah kesalehan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Seketika sebelum masuk 'mobil jemputan' Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seraya membantah bahwa ia terlibat dalam kasus impor sapi, LHI menyempatkan diri mengutip dzikir dari ayat Al-Qur’an: ‘hasbunallah wa anni’ma al-wakil, ni'ma al maula wa ni’ma annashir’ (cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allahlah sebaik-baiknya pelindung dan penolong). Kapan lagi kita bisa menyaksikan politikus yang dari mulutnya meluncur ayat-ayat Tuhan.

Selain itu LHI juga terkenal seorang yang taat beragama. Seorang koleganya di DPR memberikan kesaksian bahwa LHI adalah sosok yang alim, religius dan khusuk (Kompas 31/01/2013). Di hari yang sama, tetangga LHI di malang juga mengeluarkan testimoni yang hampir sama bahwa LHI adalah orang yang baik hati, sederhana dan dermawan. Ia rajin menyantuni anak yatim piatu dan fakir miskin (Kompas 31/01/2012). Uswah hasanah (teladan) yang hampir sempurna!

Tidak kalah saleh dari mantan presiden partai dakwah di atas, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD), mempertontonkan kesalehannya kepada publik dengan cara yang lain. Tepat di depan Ka'bah, Masjid Haram Makkah Al-Mukarramah, SBY menularkan religiusitasnya dengan mengirim pesan singkat (SMS) kepada kader demokrat di seluruh Indonesia untuk berdoa agar kemelut yang menerpa partai ini segera berakhir (detik.com 06/02/2013 ).

Ajaibnya, ternyata doa SBY langsung dikabulkan Tuhan. Usai shalat subuh di Makkah dan Madinah SBY mendapatkan petunjuk bagaimana cara menyelesaikan problem internal demokrat yang menyebabkan perolehan partai ini jeblok di berbagai survei (detik.com 08/02/2013). Dengan rangkaian unjuk kesalehan ini, sebagai partai “nasionalis-religius” kader demokrat nampaknya paham bahwa tindakan penyelamatan yang dilakukan SBY setibanya di Jakarta bukan sekedar langkah politis, pragmatis dan profan melainkan sebuah “divine intervention” yang harus ditaati. Saya berani bertaruh, SBY adalah presiden Indonesia yang paling saleh dibanding Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Gus Dur dan Megawati!

Tidak kalah saleh dari seniornya yang berada di Makkah, Anas Urbaningrum (Ketua Umum PD) juga memperlihatkan kesalehan par excellence. Di tanah air, di rumahnya di kawasan Duren Sawit, Anas menggelar khataman Al-Qur’an. Para pembaca Al-Qur’an sengaja didatangkan dari sebuah pesantren Nahdlatul Ulama (NU) di Yogyakarta yang dipimpin mertuanya, K.H. Attabik Ali. Tidak tanggung-tanggung, mereka menamatkan Al-Qur’an yang sebegitu tebal dua kali dalam sehari (Kompas, 08/02/2013).

Sehari sebelumnya, didera ‘pengkhiatan para sengkuni’, di depan kader Demokrat, Anas yang diduga terlibat bisnis haram bersama Nazaruddin (mantan Bendahara Umum PD), menyitir sirah nabawiyah tentang pentingnya loyalitas dan soliditas para sahabat bagi kemenangan dan kejayaan Islam pada masa Rosulullah (detik.com 07/02/2013). Bahkan, setelah kekuasaannya dipreteli di Cikeas, setibanya di rumah, hal pertama yang dilakukan anas adalah menunaikan salat, menghadap ilahi rabbi (beritasatu.com 09/02/2013). Adakah Ketua Umum partai yang se-saleh Anas Urbaningrum? Rasanya tidak ada!

Lain PKS, lain Demokrat, lain pula Golkar. Rusli Zainal, Ketua DPP Partai Golkar dan juga Gubernur Riau yang kini menjadi tersangka dua kasus korupsi sekaligus, juga orang yang kadar kesalehannya tidak boleh diragukan. Kalau Anda berkunjung ke Riau petang menjelang maghrib, sempatkan menonton adzan maghrib di TV lokal (Riau TV). Suara muadzin-nya merdu dan mendayu-dayu membuat orang ingin lekas-lekas wudhu’ dan sembahyang. Anda tahu, sang muadzin yang bersuara merdu itu adalah Bapak Gubernur Riau!

Sekitar sepuluh tahun lalu ketika saya menyempatkan diri bersilaturahim dengan orang tua di Pekanbaru, Rusli Zainal sedang digadang-gadang untuk menjadi gubernur. Tetangga saya banyak yang kagum kepadanya. “Sosok muda visioner!” begitu kata mereka. Dan yang lebih penting, lanjut tetangga saya, Rusli Zainal adalah orang yang taat beragama. Biasa mengisi khutbah Jum’at bahkan pernah menjadi juara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten. “Kapan lagi kita punya gubernur seorang qori?” tanya tetangga saya menjajakan gubernur jagoannya. Memang, saya kira tidak ada gubernur di Indonesia yang bisa mendendangkan ayat-ayat suci sefasih Rusli Zainal!

Cerita tentang kesalehan politisi kita tidak sampai di sini. Bila beri salam sama dengan berjilbab maka kita tidak perlu lagi ada ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. KPK lebih canggih dalam berdakwah untuk menjilbabkan para muslimah. Lihatlah Maharani Suciono yang tampil pada konferensi pers pasca penangkapannya bersama Ahmad Fathoni di sebuah kamar hotel mewah di Jakarta. Tubuhnya tertutup rapat dengan kerudung yang menempel di kepalanya. Dipta Anindita, istri muda Irjen Djoko Susilo yang terlilit kasus simulator SIM, datang ke KPK juga mengenakan busana muslimah (13/02/2013). Ia terlihat seperti santri pulang liqo. Sulit membedakan Maharani dan Dipta dengan ibu-ibu Majelis Taklim Al-Mansyuroh dekat rumah saya di Bekasi selain memang keduanya pasti terlihat lebih cantik.

Reorientasi Keberislaman?

Keriang-gembiraan saya akan semakin salehnya politisi tertunda ketika seorang kawan mengingatkan bahwa beragama tidak boleh berhenti pada ritual dan simbol. Agama tidak hanya di ‘kulit’ tapi harus merasuk ke ‘daging’ dan ‘tulang’. Bahkan dia dengan berani menuduh para politisi yang saya ceritakan di atas sedang melakukan malpraktik keberagamaan. “Apakah praktik keberagamaan yang serba simbolik seperti itu tidak akan membuat orang eneg dan mules terhadap Islam?” tanya kawan saya itu. Saya mengangguk lemes mengiyakan. Hati saya layu, tidak berbunga-bunga lagi.

Tapi mau bagaimana lagi. Al-Qur’an adalah kitab suci seluruh ummat Islam tanpa melihat mereka berjanggut, berkumis atau plontos. Ka'bah juga tidak saja milik penguasa alim tapi juga kepunyaan penguasa lalim. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pengampun menurunkan Islam tidak hanya untuk rakyat jelata yang papa tapi juga bagi para politisi (tersangka) korup(si)tor. Wallahua’lam. ●