Rabu, 04 Mei 2011

K A M U


Sudah merupakan hal biasa untuk maksud yang sama kita kadang menggunakan kata atau sebutan yang berbeda.  Sebagai contoh, untuk kata ganti orang kedua kita bisa menggunakan kata Anda, Saudara, Kamu, Lu, atau dengan menyebutkan nama di belakang sebutan Pak/Bapak, Bu/Ibu, Saudara, atau sebutan lainnya.  Pilihan kata atau sebutan tersebut seringkali tergantung pada konteks lingkungan komunitas dimana komunikasi tersebut dilakukan. 

Dalam konteks komunitas informal seperti pergaulan anak muda atau persahabatan orang dewasa di rumah, sekolah, mall atau di tempat-tempat umum lainnya biasanya digunakan pilihan kata-kata pertemanan Kamu-Aku atau Lu-Gue. Dalam konteks komunitas yang bersifat formal seperti dalam acara rapat/pertemuan di kantor atau kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat  biasanya kita menggunakan kata Anda, Saudara, atau nama di belakang sebutan Pak/Bapak, Bu/Ibu, atau Saudara.    

Akan menjadi aneh manakala kata-kata yang biasa digunakan dalam konteks komunitas informal, misalnya kata “kamu”, kemudian digunakan dalam konteks komunitas formal. Sekarang coba bayangkan seandainya kita mempunyai seorang atasan baru yang masih berusia muda dan mempunyai kebiasaan menyebut “kamu” kepada setiap bawahannya, termasuk kepada mereka yang lebih tua, dalam forum-forum pertemuan resmi di kantor. Pertanyaan yang mengusik saya, mengapa kita merasa harga diri dan martabat kita seakan direndahkan oleh ucapan “kamu” atasan kita? Selain itu, mengapa atasan kita tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun ia tahu semua atau sebagian besar bawahannya tidak menyukainya?

Pertama-tama, sesuatu yang tidak biasa itu pasti akan menarik perhatian kita. Energi emosi kita akan berkumpul di satu titik. Ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyenangkan maka kita akan (melepas energi emosi kita dan) merasakan kesenangan yang luar biasa. Sebaliknya, ketika sesuatu itu merupakan hal yang menyakiti perasaan kita maka kita pun akan merasakan kesedihan yang luar biasa pula.  Hal lain yang perlu kita ingat adalah bahwa ucapan “kamu” sebenarnya bisa mempunyai makna yang berbeda, tergantung pada intonasi suara dan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh orang yang mengucapkannya. Kita bisa dengan mudah membedakan makna ucapan “kamu” dalam kalimat “Nduk, kamu harus tetap tegar menghadapi cobaan hidup ini” yang diucapkan oleh seorang Bapak kepada anak perempuannya dan kalimat “Kamu harus ingat bahwa untuk masalah yang satu ini saya tidak pernah main-main” yang diucapkan oleh seorang atasan kepada bawahannya.    
                 
Ada satu lagi yang perlu saya garisbawahi di sini. Hal yang membuat kita merasa harga diri kita direndahkan bukanlah semata-mata karena ucapan atasan kita, melainkan juga karena tingkat sensitivitas kita untuk menerima ucapan tersebut.  Karena tingkat akseptabilitas kita terhadap kata “kamu” yang diucapkan oleh atasan kita bisa berbeda di antara kita, maka sesungguhnya respon kita terhadap ucapan tersebut pun bisa berbeda. Bukan tidak mungkin sebagian di antara kita menganggap sebutan “kamu” yang diucapkan oleh atasan kita tersebut sebagai “sesuatu yang tidak penting”.  Ucapan tersebut, menurut mereka, sama sekali tidak berpengaruh pada martabat dan harga diri mereka.

Pertanyaan berikutnya, mengapa atasan kita tetap mempertahankan kebiasaan tersebut meskipun ia tahu semua atau sebagian besar bawahannya tidak menyukainya? Kemungkinan pertama adalah ia menganggap kebiasaan tersebut merupakan gaya ekspresi yang ia pilih sebagai identitasnya, tanpa diboncengi oleh niat atau kepentingan apapun. Setiap orang, menurut ia, berhak untuk memilih menggunakan kata ganti kedua manapun, termasuk “kamu” dan juga “you”, dalam berkomunikasi dengan orang lain.  Kemungkinan berikutnya, dengan menggunakan sebutan “kamu” kepada bawahan ia berharap bawahan akan memperhatikan dan merespon sesuai dengan keinginannya.  Kata “kamu” di sini barangkali merupakan simbol ketegasan dan sikap straight forward, tanpa basa-basi, yang ingin diperlihatkannya. 

Seorang atasan atau pemimpin yang biasa menggunakan sebutan “kamu” kepada bawahannya dalam setiap acara pertemuan mungkin bermaksud baik, agar supaya pertemuan tersebut dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan atau kebersamaan tanpa ikatan yang terlalu formalistis.  Namun mereka yang merasa harga dirinya direndahkan seringkali menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang otoriter. Sikapnya yang tegas dan straight forward seringkali diartikan sebagai sikap yang tidak penuh kehati-hatian dan terlalu menggampangkan. Meskipun demikian, suatu saat nanti kita mungkin akan merindukan kehadirannya.  Barangkali ketika sikap kehati-hatian dan basa-basi telah mengalami inflasi yang terlalu tinggi, dan kepemimpinan yang ada saat ini tak kunjung mampu memenuhi harapan kita.