Tampilkan postingan dengan label Roy Martin Simamora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roy Martin Simamora. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2021

 

Kewarganegaraan Ekologis

Roy Martin Simamora ;  Pengajar Filsafat Pendidikan ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan

KOMPAS, 1 Agustus 2021

 

 

                                                           

Tahun 2020 hingga pertengahan tahun ini adalah masa-masa paling menguras tenaga, pikiran, dan waktu kita. Gelombang Covid-19 dan kemunculan varian-varian baru di beberapa negara seolah menambah masalah hidup di tengah realitas sosial yang kita bangun selama ini.

 

Hari demi hari, pasien Covid-19 terus bertambah. Beberapa orang harus kehilangan sanak saudara mereka. Orang-orang yang mereka kasihi harus lebih dulu menemui ajalnya. Kehilangan demi kehilangan menambah duka dan pilu. Sebagian lagi harus berjuang untuk sembuh dari derita virus itu.

 

Tak hanya sektor kesehatan, dampak serius dari pandemi ini juga menyasar sektor ekonomi. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), pengangguran meningkat, para pedagang kecil kehilangan mata pencarian, dan pendapatan makin menurun. Semua orang tentu berharap agar dunia dapat normal kembali seperti sedia kala.

 

Di tengah pandemi ini, agaknya, setiap orang perlu mengambil jarak dan merenung sejenak di pojok ruangan. Setiap orang perlu mengingat kembali identitas dirinya, baik secara individu maupun komunitas, mengingat apa yang berubah dalam kehidupan planet yang dihuni sekarang ini.

 

Setiap orang perlu mengidentifikasi dan mengingat kembali komitmen tentang apa itu masa depan dalam benak mereka. Mengapa kita hidup di planet ini? Masa depan seperti apa yang hendak kita capai sebagai spesies paling unggul dibandingkan dengan spesies lain? Apa yang harus dilakukan dan apa yang belum dilakukan untuk mencapai kemaslahatan di muka bumi? Apakah manusia semakin ramah lingkungan atau semakin buruk dan akan menghapus alam selamanya?

 

Saat ini, manusia memiliki masalah besar dalam hubungannya dengan alam. Keseimbangan alam mulai menurun sebagai akibat dari aktivitas manusia, yang melihat dirinya bukan sebagai bagian dari ekosistem, melainkan sebagai tuannya. Perusakan hutan dan perburuan massal telah menjadi bagian diri manusia.

 

Kekuatan kapitalisme telah mendorong batas-batas planet kita dengan kelebihan populasi, limbah industri, penipisan lapisan ozon, dan degradasi lingkungan dari pengejaran industri. Perusahaan-perusahaan terus mendapat keuntungan dengan mengorbankan bumi. Spesies yang paling berkuasa sekaligus berkepentingan untuk menguasai segala isinya.

 

Selain itu, populasi manusia dalam beberapa dekade terakhir telah melonjak terutama karena kelimpahan makanan dan energi yang sangat besar, yang keduanya berasal dari kemajuan industri yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Juga, beberapa spesies hewan yang paling sukses di bumi adalah yang bersimbiosis dengan manusia (sapi, ayam, kecoak, kutu busuk) dan secara rutin menggusur spesies liar yang ada di alam.

 

Kemerosotan ini mulai ditanggapi serius setelah berdampak buruk bagi kehidupan manusia dan digambarkan sebagai masalah lingkungan. Manusia, yang selama ini mendekati alam hanya dengan sudut pandang yang berpusat pada manusia, sudah mulai membayar biaya kemakmuran ekonomi sebagai masalah lingkungan hidup.

 

Perusakan hutan dilakukan secara terang-benderang oleh perusahaan milik negara, swasta, dan multinasional. Mereka mengeksploitasi tanpa mempertimbangkan dampaknya di kemudian hari.

 

Di kampung halaman saya, kerusakan hutan menyebabkan penduduknya kehilangan mata air. Sungai mengering. Sawah-sawah kini mengering dan berkerak. Jika hujan, banjir datang. Pohon-pohon endemik mulai hilang, diganti pohon-pohon eukaliptus.

 

Polusi menjadi masalah serius. Partikel debu di udara pada musim kemarau karena kendaraan berat pembabat hutan yang lewat menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi penduduk.

 

Selain itu, beberapa masyarakat kehilangan tanah leluhur mereka karena diambil alih oleh korporasi. Mereka dipaksa tunduk dengan setumpuk aturan hukum yang sama sekali mereka tidak pernah tahu. Pengusiran dari tanah leluhur mereka, tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan budaya lokal mereka, intimidasi fisik oleh korporasi membuat masyarakat lokal semakin jauh terpinggirkan.

 

Belum lagi, di kampung halaman saya, burung-burung yang sering saya jumpai dan dipercaya sebagai kiriman dari para leluhur setiap bulan-bulan tertentu (Desember-April) tidak lagi muncul karena pohon-pohon penghasil buah sudah hampir punah. Burung-burung itu mungkin menjauh karena suara-suara mesin pemotong kayu di hutan.

 

Selain perusakan habitat, penggundulan hutan menyebabkan peningkatan erosi di daerah riparian menyebabkan penurunan kualitas air di sungai. Akhirnya, air tidak layak konsumsi bagi masyarakat setempat. Pengawahutanan (deforestasi) juga melepaskan karbon dan menghancurkan penyerapan karbon di area yang dahulu berhutan, yang selanjutnya berkontribusi pada perubahan iklim. Kampung yang dahulu sejuk dan dingin, berubah menjadi berdebu, kotor dan panas.

 

Selain risiko lingkungan dan kesehatan yang terkait dengan permainan kotor perusahaan, lingkungan juga berkorelasi langsung dengan produktivitas dalam jangka panjang. Hari demi hari, penghancuran planet kita demi keuntungan jangka pendek bukanlah solusi yang berkelanjutan dan akan merusak kapasitas berinovasi dan berproduksi masyarakat yang tinggal di sana.

 

Setelah merenung beberapa lama, satu-satunya gagasan yang saya bayangkan adalah mempromosikan kewarganegaraan ekologis (ecological citizenship) di tengah kemanusiaan kita yang kian merosot jauh. Teori kewarganegaraan ekologis pertama kali dicetuskan oleh seorang pemikir politik Inggris, Andrew Dobson, dalam bukunya Citizenship and the Environment (2003).

 

Gagasan Dobson ini dimunculkan untuk membangun konsep baru kewarganegaraan. Gagasan yang dibangun dari filsafat ”politik hijau”. Dobson merasa bahwa setiap warga negara memiliki kewajiban untuk mengurangi ”jejak ekologis” mereka. Kondisi ekologi yang semakin rusak membutuhkan cara pandang baru untuk melihat isu lingkungan dari posisi warga. Dia beranggapan bahwa setiap warga negara bersama-sama dengan status sebagai anggota entitas politik yang disebut negara memiliki hak untuk menikmati kehidupan yang sehat dan kewajiban untuk mewujudkannya.

 

Pendidikan lingkungan

 

Agaknya, gagasan ini juga perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional kita dan memperkenalkannya kepada generasi baru yang akan memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi di masa yang akan datang. Pemerintah berperan penting untuk memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan nasional yang dirancang.

 

Tujuannya adalah melahirkan warga negara yang aktif menyuarakan kesadaran lingkungan dan bagaimana nilai-nilai itu ditebar di tengah-tengah masyarakat yang hidup hari ini. Dobson berkata, ”Memang, ’lingkungan’ adalah kendaraan teladan untuk penyebaran semua pengetahuan yang disebut ’keterampilan kunci’ dalam kurikulum pendidikan kewarganegaraan.”

 

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia, manusia selalu membentuk komunitas berdasarkan identitas bersama. Identitas semacam itu ditempa untuk menjawab berbagai kebutuhan manusia, baik secara ekonomi, politik, agama, dan sosial. Ketika identitas kelompok tumbuh lebih kuat, mereka yang memegangnya, mengorganisir ke dalam komunitas, mengartikulasikan nilai-nilai bersama mereka, dan membangun struktur pemerintahan untuk mendukung keyakinan mereka.

 

Karena itu, sangat penting untuk menggalakkan aktivisme lingkungan dan mengajak generasi muda untuk ikut serta terlibat dalam upaya-upaya menjaga kelangsungan hidup di bumi. Aktivisme semacam itu mulai ditanamkan kepada generasi muda ketika mereka di dalam keluarga dan ketika berada di lembaga pendidikan. Karena bagaimanapun, peran keluarga dan lembaga pendidikan sangat penting untuk mempromosikan cara-cara baru untuk menghasilkan makna hak dan kewajiban, yang mana nilai-nilai dan tindakan saling menginformasikan satu sama lain dengan cara yang spesifik secara budaya, tetapi juga dibentuk oleh diskusi terbuka dan toleran yang tidak mengabaikan hasrat dan komitmen aktivis lingkungan.

 

Barr dalam makalahnya yang berjudul Strategies for sustainability: citizens and responsible environmental behaviour (2003) mengatakan harus ada upaya-upaya mendorong manusia untuk keluar dari nilai egoistik ke altruistik dan dari konservatif menjadi terbuka terhadap perubahan (dalam artian mendorong tanggung jawab lingkungan); dari antroposentrisme ke biosentrisme; memikirkan kembali lingkungan dan kewarganegaraan; dari teknosentrisme ke ekosentrisme sebagai ”nilai yang didorong oleh keyakinan” dalam menanggapi masalah lingkungan.

 

Karena itu, kewarganegaraan ekologis membawa dampak yang positif untuk menjaga komitmen setiap warga negara. Mengapa kewarganegaraan ekologis menjadi penting? Mengapa sekarang? Jika dicermati, kewarganegaraan sering kali dipahami sebagai status hukum yang mendefinisikan hubungan antara individu dan negara, yang mendefinisikan hak dan kewajiban yang dipikul satu sama lain.

 

Kewarganegaraan sekarang selalu diartikulasikan dengan budaya, hak-hak politik, teknologi, identitas (khususnya jender), sains, transnasionalisasi, dan kosmopolitanisme belaka. Tetapi, lebih daripada itu, kewarganegaraan juga harus dipandang sebagai tanggung jawab manusia terhadap alam sekitarnya (bukan hanya untuk negara semata) dan mempromosikan perubahan perilaku yang membantu melindungi lingkungan bumi.

 

Dalam artian, hal ini dapat diajarkan pada pelajaran pendidikan kewarganegaraan, yang mana kewarganegaraan sebagai ”literasi politik” harus disejajarkan dengan pendidikan lingkungan sebagai ”literasi lingkungan.” Kewajiban lingkungan serta hak lingkungan harus diintegrasikan ke dalam pengertian normatif kewarganegaraan yang lebih komprehensif.

 

Selain itu, kewarganegaraan ekologis memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk mempelajari bagaimana alam bekerja dari skala organisme hingga seluruh planet. Hanya ekologi yang dapat memberi tahu kita bagaimana hidup dengan alam dengan cara yang tidak kehilangan ekosistem yang penting, mencintai alam dan memaksimalkan manfaat yang kita peroleh dari alam dengan hidup selaras dengannya.

 

Pohon apa yang harus ditanam di kota dan di mana kita dapat memaksimalkan penghijauan perkotaan? Mengapa pertanian dan perikanan itu runtuh, dan bagaimana cara kita agar tidak membiarkan itu terjadi lagi? Apa cara terbaik untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah dari kepunahan?

 

Karena itu, kewarganegaraan ekologis dapat dipraktikkan dalam kehidupan setiap warga negara. Kewarganegaraan ekologis juga menjadikan warga negara memiliki pengetahuan untuk mengelola, memiliki kesadaran untuk menjaga, dan melestarikan lingkungan di sekitarnya.

 

Warga negara ini dikenal dengan sebutan ”warga ekologis”. Warga ekologis ini memiliki kesadaran ekologis yang lebih besar, mengenali cara-cara mereka terhubung erat satu sama lain dan dunia di sekitar mereka. Selain memiliki hak di dunia, warga ekologis juga mengemban tanggung jawab sebagai warga negara yang aktif dan luas, yang mencakup perubahan perilaku pribadi untuk mempromosikan kepentingan publik dan terlibat dalam tindakan kolektif yang mendorong perubahan sistemik yang bertanggung jawab.

 

Pada titik ini, warga negara perlu melihat dunia secara ekologis, tidak semata hanya urusan-urusan politik dan intrik-intrik di dalamnya. Warga negara perlu mengenali keterkaitan antara masalah yang dihadapi dan bertindak untuk mengatasi akar permasalahan secara kolektif.

 

Sejatinya, warga ekologis bertanggung jawab untuk meminimalkan dampak ekologis negatif manusia terhadap manusia lainnya di masa mendatang. Apabila warga negara gagal memenuhi tanggung jawab ini berarti mereka telah menggunakan proporsi yang tidak seimbang dari pengerukan sumber daya ekologis yang tersedia di muka bumi. Bumi menjadi sakit dan, mau tidak mau, kita sedang bersiap-siap menantikan dampaknya di kemudian hari. ●

 

 

Kewarganegaraan Ekologis

Roy Martin Simamora ;  Pengajar Filsafat Pendidikan ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan

KOMPAS, 1 Agustus 2021

 

 

                                                           

Tahun 2020 hingga pertengahan tahun ini adalah masa-masa paling menguras tenaga, pikiran, dan waktu kita. Gelombang Covid-19 dan kemunculan varian-varian baru di beberapa negara seolah menambah masalah hidup di tengah realitas sosial yang kita bangun selama ini.

 

Hari demi hari, pasien Covid-19 terus bertambah. Beberapa orang harus kehilangan sanak saudara mereka. Orang-orang yang mereka kasihi harus lebih dulu menemui ajalnya. Kehilangan demi kehilangan menambah duka dan pilu. Sebagian lagi harus berjuang untuk sembuh dari derita virus itu.

 

Tak hanya sektor kesehatan, dampak serius dari pandemi ini juga menyasar sektor ekonomi. Orang-orang kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), pengangguran meningkat, para pedagang kecil kehilangan mata pencarian, dan pendapatan makin menurun. Semua orang tentu berharap agar dunia dapat normal kembali seperti sedia kala.

 

Di tengah pandemi ini, agaknya, setiap orang perlu mengambil jarak dan merenung sejenak di pojok ruangan. Setiap orang perlu mengingat kembali identitas dirinya, baik secara individu maupun komunitas, mengingat apa yang berubah dalam kehidupan planet yang dihuni sekarang ini.

 

Setiap orang perlu mengidentifikasi dan mengingat kembali komitmen tentang apa itu masa depan dalam benak mereka. Mengapa kita hidup di planet ini? Masa depan seperti apa yang hendak kita capai sebagai spesies paling unggul dibandingkan dengan spesies lain? Apa yang harus dilakukan dan apa yang belum dilakukan untuk mencapai kemaslahatan di muka bumi? Apakah manusia semakin ramah lingkungan atau semakin buruk dan akan menghapus alam selamanya?

 

Saat ini, manusia memiliki masalah besar dalam hubungannya dengan alam. Keseimbangan alam mulai menurun sebagai akibat dari aktivitas manusia, yang melihat dirinya bukan sebagai bagian dari ekosistem, melainkan sebagai tuannya. Perusakan hutan dan perburuan massal telah menjadi bagian diri manusia.

 

Kekuatan kapitalisme telah mendorong batas-batas planet kita dengan kelebihan populasi, limbah industri, penipisan lapisan ozon, dan degradasi lingkungan dari pengejaran industri. Perusahaan-perusahaan terus mendapat keuntungan dengan mengorbankan bumi. Spesies yang paling berkuasa sekaligus berkepentingan untuk menguasai segala isinya.

 

Selain itu, populasi manusia dalam beberapa dekade terakhir telah melonjak terutama karena kelimpahan makanan dan energi yang sangat besar, yang keduanya berasal dari kemajuan industri yang dibangun oleh manusia itu sendiri. Juga, beberapa spesies hewan yang paling sukses di bumi adalah yang bersimbiosis dengan manusia (sapi, ayam, kecoak, kutu busuk) dan secara rutin menggusur spesies liar yang ada di alam.

 

Kemerosotan ini mulai ditanggapi serius setelah berdampak buruk bagi kehidupan manusia dan digambarkan sebagai masalah lingkungan. Manusia, yang selama ini mendekati alam hanya dengan sudut pandang yang berpusat pada manusia, sudah mulai membayar biaya kemakmuran ekonomi sebagai masalah lingkungan hidup.

 

Perusakan hutan dilakukan secara terang-benderang oleh perusahaan milik negara, swasta, dan multinasional. Mereka mengeksploitasi tanpa mempertimbangkan dampaknya di kemudian hari.

 

Di kampung halaman saya, kerusakan hutan menyebabkan penduduknya kehilangan mata air. Sungai mengering. Sawah-sawah kini mengering dan berkerak. Jika hujan, banjir datang. Pohon-pohon endemik mulai hilang, diganti pohon-pohon eukaliptus.

 

Polusi menjadi masalah serius. Partikel debu di udara pada musim kemarau karena kendaraan berat pembabat hutan yang lewat menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi penduduk.

 

Selain itu, beberapa masyarakat kehilangan tanah leluhur mereka karena diambil alih oleh korporasi. Mereka dipaksa tunduk dengan setumpuk aturan hukum yang sama sekali mereka tidak pernah tahu. Pengusiran dari tanah leluhur mereka, tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan budaya lokal mereka, intimidasi fisik oleh korporasi membuat masyarakat lokal semakin jauh terpinggirkan.

 

Belum lagi, di kampung halaman saya, burung-burung yang sering saya jumpai dan dipercaya sebagai kiriman dari para leluhur setiap bulan-bulan tertentu (Desember-April) tidak lagi muncul karena pohon-pohon penghasil buah sudah hampir punah. Burung-burung itu mungkin menjauh karena suara-suara mesin pemotong kayu di hutan.

 

Selain perusakan habitat, penggundulan hutan menyebabkan peningkatan erosi di daerah riparian menyebabkan penurunan kualitas air di sungai. Akhirnya, air tidak layak konsumsi bagi masyarakat setempat. Pengawahutanan (deforestasi) juga melepaskan karbon dan menghancurkan penyerapan karbon di area yang dahulu berhutan, yang selanjutnya berkontribusi pada perubahan iklim. Kampung yang dahulu sejuk dan dingin, berubah menjadi berdebu, kotor dan panas.

 

Selain risiko lingkungan dan kesehatan yang terkait dengan permainan kotor perusahaan, lingkungan juga berkorelasi langsung dengan produktivitas dalam jangka panjang. Hari demi hari, penghancuran planet kita demi keuntungan jangka pendek bukanlah solusi yang berkelanjutan dan akan merusak kapasitas berinovasi dan berproduksi masyarakat yang tinggal di sana.

 

Setelah merenung beberapa lama, satu-satunya gagasan yang saya bayangkan adalah mempromosikan kewarganegaraan ekologis (ecological citizenship) di tengah kemanusiaan kita yang kian merosot jauh. Teori kewarganegaraan ekologis pertama kali dicetuskan oleh seorang pemikir politik Inggris, Andrew Dobson, dalam bukunya Citizenship and the Environment (2003).

 

Gagasan Dobson ini dimunculkan untuk membangun konsep baru kewarganegaraan. Gagasan yang dibangun dari filsafat ”politik hijau”. Dobson merasa bahwa setiap warga negara memiliki kewajiban untuk mengurangi ”jejak ekologis” mereka. Kondisi ekologi yang semakin rusak membutuhkan cara pandang baru untuk melihat isu lingkungan dari posisi warga. Dia beranggapan bahwa setiap warga negara bersama-sama dengan status sebagai anggota entitas politik yang disebut negara memiliki hak untuk menikmati kehidupan yang sehat dan kewajiban untuk mewujudkannya.

 

Pendidikan lingkungan

 

Agaknya, gagasan ini juga perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional kita dan memperkenalkannya kepada generasi baru yang akan memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi di masa yang akan datang. Pemerintah berperan penting untuk memasukkan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan nasional yang dirancang.

 

Tujuannya adalah melahirkan warga negara yang aktif menyuarakan kesadaran lingkungan dan bagaimana nilai-nilai itu ditebar di tengah-tengah masyarakat yang hidup hari ini. Dobson berkata, ”Memang, ’lingkungan’ adalah kendaraan teladan untuk penyebaran semua pengetahuan yang disebut ’keterampilan kunci’ dalam kurikulum pendidikan kewarganegaraan.”

 

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia, manusia selalu membentuk komunitas berdasarkan identitas bersama. Identitas semacam itu ditempa untuk menjawab berbagai kebutuhan manusia, baik secara ekonomi, politik, agama, dan sosial. Ketika identitas kelompok tumbuh lebih kuat, mereka yang memegangnya, mengorganisir ke dalam komunitas, mengartikulasikan nilai-nilai bersama mereka, dan membangun struktur pemerintahan untuk mendukung keyakinan mereka.

 

Karena itu, sangat penting untuk menggalakkan aktivisme lingkungan dan mengajak generasi muda untuk ikut serta terlibat dalam upaya-upaya menjaga kelangsungan hidup di bumi. Aktivisme semacam itu mulai ditanamkan kepada generasi muda ketika mereka di dalam keluarga dan ketika berada di lembaga pendidikan. Karena bagaimanapun, peran keluarga dan lembaga pendidikan sangat penting untuk mempromosikan cara-cara baru untuk menghasilkan makna hak dan kewajiban, yang mana nilai-nilai dan tindakan saling menginformasikan satu sama lain dengan cara yang spesifik secara budaya, tetapi juga dibentuk oleh diskusi terbuka dan toleran yang tidak mengabaikan hasrat dan komitmen aktivis lingkungan.

 

Barr dalam makalahnya yang berjudul Strategies for sustainability: citizens and responsible environmental behaviour (2003) mengatakan harus ada upaya-upaya mendorong manusia untuk keluar dari nilai egoistik ke altruistik dan dari konservatif menjadi terbuka terhadap perubahan (dalam artian mendorong tanggung jawab lingkungan); dari antroposentrisme ke biosentrisme; memikirkan kembali lingkungan dan kewarganegaraan; dari teknosentrisme ke ekosentrisme sebagai ”nilai yang didorong oleh keyakinan” dalam menanggapi masalah lingkungan.

 

Karena itu, kewarganegaraan ekologis membawa dampak yang positif untuk menjaga komitmen setiap warga negara. Mengapa kewarganegaraan ekologis menjadi penting? Mengapa sekarang? Jika dicermati, kewarganegaraan sering kali dipahami sebagai status hukum yang mendefinisikan hubungan antara individu dan negara, yang mendefinisikan hak dan kewajiban yang dipikul satu sama lain.

 

Kewarganegaraan sekarang selalu diartikulasikan dengan budaya, hak-hak politik, teknologi, identitas (khususnya jender), sains, transnasionalisasi, dan kosmopolitanisme belaka. Tetapi, lebih daripada itu, kewarganegaraan juga harus dipandang sebagai tanggung jawab manusia terhadap alam sekitarnya (bukan hanya untuk negara semata) dan mempromosikan perubahan perilaku yang membantu melindungi lingkungan bumi.

 

Dalam artian, hal ini dapat diajarkan pada pelajaran pendidikan kewarganegaraan, yang mana kewarganegaraan sebagai ”literasi politik” harus disejajarkan dengan pendidikan lingkungan sebagai ”literasi lingkungan.” Kewajiban lingkungan serta hak lingkungan harus diintegrasikan ke dalam pengertian normatif kewarganegaraan yang lebih komprehensif.

 

Selain itu, kewarganegaraan ekologis memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk mempelajari bagaimana alam bekerja dari skala organisme hingga seluruh planet. Hanya ekologi yang dapat memberi tahu kita bagaimana hidup dengan alam dengan cara yang tidak kehilangan ekosistem yang penting, mencintai alam dan memaksimalkan manfaat yang kita peroleh dari alam dengan hidup selaras dengannya.

 

Pohon apa yang harus ditanam di kota dan di mana kita dapat memaksimalkan penghijauan perkotaan? Mengapa pertanian dan perikanan itu runtuh, dan bagaimana cara kita agar tidak membiarkan itu terjadi lagi? Apa cara terbaik untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah dari kepunahan?

 

Karena itu, kewarganegaraan ekologis dapat dipraktikkan dalam kehidupan setiap warga negara. Kewarganegaraan ekologis juga menjadikan warga negara memiliki pengetahuan untuk mengelola, memiliki kesadaran untuk menjaga, dan melestarikan lingkungan di sekitarnya.

 

Warga negara ini dikenal dengan sebutan ”warga ekologis”. Warga ekologis ini memiliki kesadaran ekologis yang lebih besar, mengenali cara-cara mereka terhubung erat satu sama lain dan dunia di sekitar mereka. Selain memiliki hak di dunia, warga ekologis juga mengemban tanggung jawab sebagai warga negara yang aktif dan luas, yang mencakup perubahan perilaku pribadi untuk mempromosikan kepentingan publik dan terlibat dalam tindakan kolektif yang mendorong perubahan sistemik yang bertanggung jawab.

 

Pada titik ini, warga negara perlu melihat dunia secara ekologis, tidak semata hanya urusan-urusan politik dan intrik-intrik di dalamnya. Warga negara perlu mengenali keterkaitan antara masalah yang dihadapi dan bertindak untuk mengatasi akar permasalahan secara kolektif.

 

Sejatinya, warga ekologis bertanggung jawab untuk meminimalkan dampak ekologis negatif manusia terhadap manusia lainnya di masa mendatang. Apabila warga negara gagal memenuhi tanggung jawab ini berarti mereka telah menggunakan proporsi yang tidak seimbang dari pengerukan sumber daya ekologis yang tersedia di muka bumi. Bumi menjadi sakit dan, mau tidak mau, kita sedang bersiap-siap menantikan dampaknya di kemudian hari. ●

 

Sabtu, 10 Juli 2021

 

Pendidikan Masyarakat Adat

Roy Martin Simamora ;  Pengajar Filsafat Pendidikan ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan

KOMPAS, 8 Juli 2021

 

 

                                                           

”Tidak ada masyarakat yang tertinggal atau termodern. Setiap masyarakat punya perkembangannya masing-masing dan pada satu konteks, mereka adalah profesor di tempat tinggal mereka.” Demikian sepenggal paparan Butet Manurung dalam webinar ”Komunitas Adat dan Indonesia Sebagai Proyek Bersama” yang diselenggarakan Pusat Studi Heritage Nusantara Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), beberapa waktu lalu.

 

Butet menekankan pendidikan adat harus berkontribusi pada keseharian hidup dan penyelesaian masalah mereka. Sebab, jika sekadar nostalgia, ia akan ditinggalkan. Pengetahuan adat tersebut akan diterima dan akan terus bertahan selama alam serta lingkungan sekitarnya juga bertahan.

 

Butet berkontribusi dalam upaya-upaya membantu masyarakat adat dalam mempertahankan hak-hak mereka, khususnya di pedalaman Kalimantan. Ikut mendukung gerakan masyarakat adat, mengkritik ”pembangunan” multinasional, serta tindakan dan peristiwa lain yang membahayakan masyarakat adat dan lingkungan mereka.

 

Butet seolah mengatakan sistem pendidikan nasional kita memang memberi tahu kita tentang politik, sejarah negara kita, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengajaran bahasa yang tidak diragukan lagi dan bermanfaat sekarang ini. Namun, apakah itu satu-satunya cara yang benar atau cukup? Bagaimana dengan pengetahuan masyarakat adat? Apakah cara dan  kebiasaan mereka tidak memiliki peran dalam kehidupan kita?

 

Seperti kata Butet, ”Pendidikan harus mengakomodasi cara belajar dan rutinitas masyarakat lokal. Pendidikan juga harus berpihak dan merespon persoalan kehidupan dan perubahan sekitar anak.”

 

Jika kita mau menengok ke belakang, pengaruh kolonialisme telah membuat orang-orang menganggap kata ”adat” sebagai sesuatu yang primitif atau semacam praktik yang buruk dan perlu untuk dimodernisasi. Bangsa Indonesia selama bertahun-tahun secara bertahap menjadi pasar basis konsumen dan itulah yang terjadi hingga hari ini. Alasan utamanya adalah sistem pendidikan yang melenceng dari cita-cita masyarakat lokal kita.

 

Saya menggunakan kata ”melenceng” karena sistem yang kita pelajari selama ini bukan milik bangsa kita dan tidak dirancang berdasarkan nilai dan keyakinan kita, yang hidup dari kearifan lokal kita. Akibatnya, manusia-manusia Indonesia di Nusantara tidak memiliki keunikan pengetahuan dibandingkan bangsa lain. Jika kita melihat ke pendidikan masyarakat adat, kita dapat mengharapkan pertumbuhan pesat di bidang pertanian, teknologi, kedokteran, tingkat pengangguran yang rendah, kualitas hidup yang tinggi, rendahnya korupsi, dan lain-lain.

 

Sistem saat ini mencegah rata-rata orang Indonesia untuk meneliti pengobatan tradisional, membuat kita enggan mengambil pelajaran yang terkait dengan realitas kita seperti bertani, berburu, memancing, mengukir, dan membuat kerajinan. Jika seseorang tidak bisa membuat sesuatu yang kecil, dia tidak bisa menjadi penemu dalam semalam dan karyanya tidak akan diakui.

 

Di kampung halaman saya, misalnya, ketika anak-anak tumbuh dewasa, ada banyak anak yang pandai berburu, memanjat pohon, dan membuat rumah-rumahan di tombak (hutan). Anak-anak juga belajar dari orangtua mereka bagaimana cara mengambil getah haminjon (kemenyan) dan madu di hutan.

 

Hari ini tidak demikian. Setiap anak muda ingin pergi ke kota, ke perguruan tinggi, mereka ingin mencari penghidupan yang layak, beberapa mendapatkan pekerjaan, duduk di kantor, mengendarai mobil besar, menikah, dan semua itu adalah ”kewajiban” yang harus dikejar dan dipenuhi. Hal-hal yang kita dapatkan dalam pendidikan modern dengan tujuan untuk sukses belaka.

 

Bagi masyarakat adat, kesuksesan hidup adalah ketika mereka mendapatkan hasil buruan, memakannya bersama kelompok dan menjaga kelangsungan ekosistem hutan. Sebagai gantinya, hutan memberikan segalanya bagi kehidupan mereka.

 

Relevansi pendidikan

 

Pada kenyataannya, akses pendidikan tidak serta-merta menghasilkan kualitas pendidikan dan relevansi pendidikan. Salah satu dari banyak tantangan yang kita hadapi dengan pendidikan di Indonesia adalah kurangnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat kita.

 

Pendidikan kita tidak dirancang untuk memecahkan masalah yang kita hadapi di tengah realitas sosial kita. Kita masih meniru gaya pendidikan Barat yang relevan bagi mereka, tetapi tidak banyak berguna bagi kita. Misalnya, masyarakat adat masih mengajari anak-anak mereka cara bertahan hidup dan berburu menggunakan panah di hutan; mengajari anak-anak sesuai dengan potensi atau tuntutan alam di sekitarnya. Ini yang saya katakan sebagai pendekatan berbasis pengalaman. Kebalikan dengan sistem pendidikan kita yang menghasilkan orang-orang dengan ”pengetahuan utama”, tetapi tidak memiliki keterampilan praktis.

 

Pengalaman saya ketika melakukan riset di Taiwan, saya mengunjungi sekolah-sekolah yang unik dan tidak ada penyeragaman, yang terkesan dipaksakan. Setiap sekolah memiliki ciri khasnya masing-masing. Anak-anak memiliki potensinya masing-masing.

 

Sekolah-sekolah di Taiwan, baik pinggiran, perdesaan, maupun perkotaan, mengajarkan anak-anak agar menghidupi nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang mereka secara turun-temurun. Artinya, anak-anak tidak kehilangan identitas dan terlempar jauh dari pengetahuan budaya mereka karena hegemoni pendidikan modern. Bagi mereka, hutan adalah sekolah. Mereka bisa belajar di sana dan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan.

 

Apa yang saya pelajari dari masa kecil saya ketika di kampung halaman dan bertemu dengan masyarakat adat yang dijumpai? Masyarakat adat dapat membaca cuaca dengan sangat teliti sehingga mereka tahu, entah bagaimana, bahwa hujan akan turun dalam jangka waktu tertentu, yang bahkan ahli meteorologi tidak dapat mendeteksi perubahan cuaca secara pasti.

 

Masyarakat adat dapat mengetahui bahaya dari suara burung yang aneh dan mengetahui keberadaan babi hutan dengan jejak kaki yang tercetak di tanah di tengah hutan. Masyarakat adat dapat melihat dan mendengar tanda-tanda dan hubungan serta makna yang cenderung disingkirkan dalam pandangan dunia modern. Mengetahui tumbuhan mana yang aman untuk dimakan, cara membuat pakaian dari kulit pohon, dan masih banyak lagi ilmu yang sangat berharga yang bisa didapatkan dari masyarakat adat itu sendiri. Ketika saya mengamati penduduk asli Taiwan: suku Truku dan Amis, mereka menggunakan dedaunan, kulit, dan akar pohon untuk menghilangkan rasa sakit jauh sebelum aspirin diidentifikasi dan dikomersialisasi.

 

Jika melihat Indonesia, bangsa kita memiliki keanekaragaman yang luar biasa, terdiri dari banyak kelompok etnis dan masyarakat yang hidup dengan budaya dan tradisinya sendiri, dan mereka semua memiliki tujuan dan sasaran pendidikan yang sama. Namun, metode yang mereka ajarkan berbeda dari satu tempat ke tempat lain, terutama karena kepentingan sosial, ekonomi, dan letak geografis.

 

Kurikulum

 

Jika ditelusuri lebih dalam, pendidikan nasional kita sebagian besar didasarkan pada budaya arus utama dan cenderung meminggirkan perspektif dan pengalaman masyarakat adat. Inkonsistensi antara konten pendidikan dan lingkungan sosial menciptakan kerugian bagi anak-anak masyarakat adat. Kurikulum pendidikan pemerintah secara kontekstual kurang relevan bagi mereka dibandingkan dengan masyarakat adat.

 

Saya tidak sedang membayangkan agar kurikulum pendidikan kita diubah secara total, tetapi kepentingan masyarakat adat serta pengetahuan mereka sudah seharusnya diakomodasi dalam pendidikan nasional kita. Pendidikan masyarakat adat sangat penting bagi sistem pendidikan kita. Orang-orang perlu mengetahui dan memahami apa yang tidak mereka ketahui jika mereka ingin benar-benar dididik.

 

Saya pikir, memasukkan sejarah dan budaya masyarakat adat ke dalam sistem pendidikan akan menegaskan betapa pentingnya kontribusi mereka bagi masyarakat secara keseluruhan. Ini akan  mengakui dan membangun pemahaman tentang hak-hak masyarakat adat yang dilanggar oleh pemerintah. Dan, peran pemerintah sangat penting dalam membantu membangun hubungan yang saling menghormati dengan komunitas adat.

 

Kita dapat belajar banyak tentang dunia melalui pelajaran budaya dan bahasa masyarakat adat. Anak-anak di masyarakat adat mendapat manfaat dari kenyataan, pengalaman, dan kontribusi mereka yang terjalin di seluruh aspek kehidupan. Melihat diri mereka sebagai bagian dari kurikulum penting untuk memastikan mereka merasa menjadi bagian integral dari masyarakat Indonesia.

 

Seperti kata Butet bahwa lembaga pendidikan harusnya berkontribusi untuk merespons persoalan masyarakat adat. Sekolah tidak hanya mengajarkan ”Ilmu Pergi”. Karena setelah lulus dari kampungnya, anak-anak muda pergi ke kota dan ilmu dan pengetahuan mereka tidak bisa dipakai oleh kampung halamannya.

 

Adalah sebuah kerugian besar bagi bangsa kita bila tidak mendengarkan masukan-masukan dari Butet Manurung. Masyarakat adat telah berada di pinggir meja, yang hampir hilang, bahkan diabaikan. Sejatinya, inti dari pendidikan masyarakat adat adalah berfokus pada penyediaan pengetahuan, keterampilan praktis, dan sikap kepada setiap individu dalam masyarakat untuk mempersiapkan mereka menjalankan perannya dalam komunitas dan masyarakat secara keseluruhan.

 

Pengetahuan, kebiasaan, filosofi dan cara hidup, bercerita, peribahasa dan mitos memainkan peran penting dalam kehidupan mereka dan masyarakat adat berhak memutuskan apa yang penting bagi mereka dan apa yang tidak. Oleh karena itu, masyarakat yang tersentuh langsung oleh arus modernisasi wajib menghormati nilai-nilai luhur mereka sebagai bagian dari bangsa kita.

 

Sebagai penutup, pendidikan masyarakat adat pada prinsipnya mengembangkan rasa memiliki dan membuat anak-anak di lingkungan mereka jauh lebih menghargai sejarah, bahasa, adat-istiadat dan nilai-nilai komunitas adat, tetap berhubungan dengan warisan leluhur mereka, dan akar budaya mereka. Pendidikan masyarakat adat adalah kunci peradaban bangsa dan sudah sewajarnya ada upaya-upaya pelestarian dan mempromosikan budaya asli di tiap daerah sebagai bagian identitas nasional bangsa kita. ●

 

Minggu, 06 Juni 2021

 

Tirani Sapiens

Roy Martin Simamora ; Dosen PSP ISI Yogyakarta; Alumnus National Dong Hwa University, Taiwan

KOMPAS, 06 Juni 2021

 

 

                                                           

Yuval, dalam bukunya, Sapiens, berbicara tentang sejarah umat manusia yang kalau boleh saya gambarkan dalam tiga kalimat pendek. Tiga revolusi besar, yaitu Revolusi Kognitif yang terjadi 70.000 tahun yang lalu, Revolusi Pertanian 10.000 tahun yang lalu, dan Revolusi Ilmiah 500 tahun yang lalu.

 

Revolusi-revolusi ini telah memberdayakan manusia untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh bentuk kehidupan lain sebelumnya, yaitu menciptakan dan menghubungkan ide-ide yang dibuat (tentang agama, uang, internet, ideologi, kapitalisme, ataupun politik) dan tanpa sadar selalu dibicarakan. ”Mitos” bersama ini telah memungkinkan manusia untuk mengambil alih dunia dan menempatkan umat manusia di ambang bagaimana mengatasi kekuatan seleksi alam dan bertahan hidup. Ketiga revolusi tersebut telah memengaruhi manusia dan sesama organisme hingga kini.

 

Dahulu, manusia adalah hewan tidak penting, tidak lebih berdampak dan mengesankan daripada gorila, kunang-kunang, atau ubur-ubur. Dari sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 10.000 tahun yang lalu, banyak spesies manusia menjelajahi bumi bersama-sama dan membentuk kelompok dalam skala kecil dan besar.

 

Penggambaran manusia yang berevolusi dari membungkuk menjadi tegak secara keliru menampilkan evolusi manusia sebagai lintasan linier. Faktanya, spesies tersebut hidup secara bersamaan. Sejumlah besar manusia pada waktu itu kemudian berkolaborasi dengan berbagi mitos dan membentuk kepercayaan yang sama.

 

Dalam lingkungan akademis, cerita-cerita yang dibangun dikenal sebagai imaji, fiksi, konstruksi sosial, atau realitas khayalan. Realitas khayalan bukanlah kebohongan karena seluruh kelompok justru memercayainya dan mereka mulai menyebarkan cerita dari sudut ke sudut; dari kelompok ke kelompok yang lain.

 

Sejak Revolusi Kognitif, manusia hidup dalam realitas ganda: realitas fisik dan realitas yang dibayangkan. Cara manusia bekerja sama dapat diubah dengan cara mengubah cerita sebagai mitos yang diceritakan kepada manusia yang lain. Mengubah mitos berarti mengubah peradaban.

 

Gagasan itu tak pernah berhenti sampai di sana. Untuk mengatur tatanan dalam kelompok, dibuat aturan-aturan yang mengatur kehidupan sesama manusia: ideologi, demokrasi, produk hukum, undang-undang, serta aspek-aspek lain yang mengatur kehidupan manusia. Termasuk di dalamnya hierarki sosial, ketimpangan, dan sebagainya adalah ciptaan manusia.

 

Dari gagasan-gagasan itulah muncul kelompok-kelompok pengendali dan suka memerintah. Dari kelompok memerintah dan pengendali itu lahirlah para kaum tiran. Para tiran terkadang dapat dengan mudah naik ke tampuk kekuasaan dengan gelombang dukungan populer dan dipilih oleh orang-orang yang takut sehingga mereka bersedia menyerahkan hak mereka dengan suatu imbalan, keamanan, atau perang.

 

Masyarakat yang bijak akan menetapkan batasan pada apa yang boleh dilakukan oleh ”tirani mayoritas,” untuk mempertahankan hak-hak itu meskipun orang-orang takut atau marah. Siklus tertindas menjadi penindas dan sebaliknya, hanya menciptakan sistem di mana tidak ada yang aman. Kita hanya perlu berkaca pada gagasan-gagasan manusia dengan melihat pertarungan revolusioner dan kontra-revolusioner dari kekerasan sektarian dan sekuler; kaum kiri dan kanan.

 

Revolusi dan evolusi berjalan beriringan. Manusia kini berubah menjadi makhluk pemburu berorientasi kelompok, pembangun peradaban, pengeksploitasi sekaligus perusak alam dan lingkungan. Manusia kemudian mendominasi atau menghancurkan setiap hewan, sumber daya, dan keadaan yang kita temui hari ini.

 

Manusia memelajarinya ketika jumlah mereka sedikit dan sangat rentan terhadap serangan dari spesies lain atau perubahan lingkungan fisik. Manusia belajar sejak awal bahwa upaya kerja sama akan membawa dampak yang baik: kesuksesan adalah kuncinya. Bahkan, makhluk terkuat seperti: paus, gajah, harimau, dan beruang dapat dikendalikan, diburu, dibunuh, dan dimakan oleh kelompok manusia yang bekerja untuk tujuan bersama.

 

Manusia telah berburu dan mengganggu banyak spesies hingga di ambang kepunahan dan seterusnya. Kemampuan manusia untuk bekerja sama demi kebaikan dan kejahatan telah memungkinkan manusia menjadi mamalia paling banyak, mendominasi, rakus, dan paling berbahaya di muka Bumi. Kemampuan ini sangat bermanfaat bagi mereka sehingga telah menjelma ke dalam makhluk fisik dan psikologis yang keluar dari hutan dan sabana: asal kita berjalan, berlayar, dan terbang mengelilingi seluruh Bumi.

 

Manusia, saya gambarkan sebagai makhluk yang tidak pernah puas dan lamat-lamat kehilangan altruismenya. Spesies yang terus-menerus melakukan upaya-upaya menguntungkan dan sekaligus merugikan sesamanya. Upaya kerja sama manusia yang paling dominan adalah menyerang dan mengeksploitasi spesiesnya setelah menghancurkan ekosistem spesies lain.

 

Dorongan untuk melakukannya berada jauh di dalam diri spesies ini dan tidak akan segera berubah begitu saja. Dorongan ini adalah akar dari tirani itu sendiri. Dorongan untuk menguasai segalanya. Dorongan untuk memuaskan hasrat hominidnya.

 

Sejarah kesuksesan Sapiens sebagai spesies unggul dalam upaya kerja sama, memiliki sisi yang sangat gelap dan membuat kita selalu curiga dan bahkan tidak toleran terhadap ketidaksesuaian. Manusia menghargai sesamanya yang melakukan apa yang mereka maui, dan mengucilkan mereka yang tidak menghargainya.

 

Manusia menentang yang berseberangan dengan mereka, dan mendukung yang mengikuti perilaku mereka, meskipun itu buruk sekalipun. Ketika manusia memiliki kekuatan untuk melakukannya, manusia biasanya akan memaksakan kepatuhan bahkan kekerasan jika itu diperlukan. Manusia melakukannya dengan kekuatan utama, dengan sistem hukum yang dibuat sendiri, dan dengan konvensi sosial yang meliputi setiap aspek hubungan satu sama lain sebagai spesies yang sama.

 

Sapiens bersikap toleran terhadap orang-orang yang berpenampilan, berbicara, dan berpikir berbeda, bukan karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, tetapi karena itu adalah keuntungan evolusioner. Maka dari itu, toleransi bukanlah ”cap” dari Sapiens.

 

Di zaman modern, perbedaan kecil dalam hal warna kulit, dialek, atau agama sudah cukup untuk mendorong satu kelompok manusia untuk memusnahkan kelompok lain. Sapiens unjuk kekuatan dalam bentuk perang dan hal itu masih berlangsung hingga saat ini.

 

Saya membayangkan: akankah Sapiens purba lebih toleran terhadap spesies manusia yang sama sekali berbeda dengan mereka? Mungkin saja, saat Sapiens bertemu Neanderthal, hasilnya adalah kampanye pembersihan etnis pertama dan paling signifikan dalam sejarah.

Tidak ada keadilan dalam sejarah umat manusia. Manusia selalu terjebak dalam lingkaran setan. Lingkaran setan yang berlangsung selama berabad-abad dan bahkan ribuan tahun, mengabadikan hierarki yang dibayangkan muncul dari peristiwa sejarah yang kebetulan.

 

Diskriminasi lebih sering menjadi lebih buruk seiring berjalannya waktu. Uang adalah uang; perang adalah perang; dan kemiskinan adalah kemiskinan. Orang-orang memerlukan pendidikan, maka mereka menghabiskan waktu untuk belajar di sekolah.

 

Lalu, apa yang didapat? Apa manfaatnya jika manusia masih bertengkar? Manusia tidak pernah bisa menghilangkan ketidakadilan dan diskriminasi. Mereka yang pernah menjadi korban sejarah kemungkinan besar akan menjadi korban lagi.

 

Dan, orang-orang yang memiliki hak istimewa lebih mungkin untuk mendapatkan hak istimewa lagi di periode berikutnya. Bahkan, orang-orang yang punya masa lalu kelam, disensor dan tidak istimewa sekali pun lebih mungkin mendapatkan hak istimewa untuk memerintah spesiesnya.

 

Tidak ada cara untuk menghindari interaksi dengan orang-orang yang berbeda dari kita di dunia sekarang ini, dan kita tidak bisa hanya bertengkar dengan semua orang yang tidak cocok dengan kita. Manusia tinggal memilih. Melakukan kesepakatan perdagangan, tertinggal dari aliansi, dan tertinggal secara ekonomi, atau mati kelaparan.

 

Manusia yang menciptakannya dan mereka juga yang harus memilihnya. Dan, itu berlaku tidak hanya secara internasional, tetapi juga secara internal. Kelompok A menyetujui hal-hal penting sementara berbeda pendapat dalam hal lain jauh lebih kuat daripada kelompok B yang sepenuhnya homogen yang mudah termakan oleh kemurnian dan kesesuaian sehingga mereka tidak punya waktu untuk bersaing.

 

Manusia telah jatuh ke dalam jurang yang dalam dan mungkin tak akan bisa diselamatkan. Manusia memiliki kesempatan untuk menganiaya siapa pun yang menghalanginya atas kebutuhan dan keinginan mereka dan mereka yang ditindas akan selalu menolaknya sebisa mereka—itu pun kalau mereka mampu melawannya. Realitas sosial hari ini berada pada wilayah abu-abu bahkan cenderung gelap.

 

Coba sejenak melihat: kebanyakan orang kaya menjadi kaya karena mereka dilahirkan dalam keluarga kaya. Kebanyakan orang miskin menjadi miskin karena mereka dilahirkan dalam keluarga miskin. Diskriminasi yang tidak adil sering kali semakin buruk dan tidak membaik seiring berjalannya waktu.

 

Ketika manusia sampai pada diskursus ketidaksetaraan jender: biologi memungkinkan, budaya melarang. Ide tentang perilaku ”tidak wajar” dan ”abnormal” sebenarnya adalah hasil dari konstruksi sosial dan teologi, bukan biologi. Jika secara biologis memungkinkan, itu wajar. Dari sudut pandang ilmiah, hubungan seks dua manusia berbeda jenis kelamin itu sangat wajar. Bagaimana apabila dua jenis kelamin yang sama melakukan seks?

 

Perdebatan kaum awam, kaum terdidik, kaum ilmuwan berbeda dalam menyikapinya. Kaum awam yang tidak punya kompetensi menjelaskan peristiwa lebih memungkinkan untuk didengarkan ketimbang kaum ilmuwan. Selain itu, pertanyaan demi pertanyaan juga melesat dalam kepala: mengapa laki-laki lebih dihargai di banyak budaya daripada perempuan?

 

Semua budaya manusia dipenuhi dengan ketidakkonsistenan dan tidak boleh ditentang. Di sisi lain, suatu bangsa memiliki ideologi pemersatu dan di dalamnya termaktub cita-cita serta pandangan hidup bangsa, namun, cita-cita ini tidak selalu berjalan dengan baik.

 

Sekarang manusia telah masuk pada era Revolusi Industri 4.0 dan badai Covid-19 masih berlangsung. Manusia sudah menjadi ”dewa” atas bumi. Kisah Sapiens mungkin akan segera berakhir karena manusia telah melampaui batas dalam dirinya. Melalui sains dan teknologi mereka memiliki kekuatan dan kecerdasan untuk menjadi ”dewa” dan menciptakan kehidupan buatan baru dan menciptakan kembali diri mereka sendiri.

 

Sapiens adalah ”dewa baru”. Mereka adalah Homo Deus. Masa depan mereka bukanlah manusia, bertransisi ke sesuatu yang baru: transhuman. Penggabungan biologi dengan teknologi baru (seperti nano-teknologi, genetik, atau berbasis data dan informasi) untuk meningkatkan kualitas hidup, umur panjang, atau kemampuan individu manusia sangat memungkinkan untuk dilakukan. Manusia sedang menuju ke sana, berevolusi, dan tirani Sapiens akan terus berlanjut. ●