Tampilkan postingan dengan label Novriantoni Kahar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novriantoni Kahar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2015

Timur Tengah dalam Pepatah

Timur Tengah dalam Pepatah

Novriantoni Kahar  ;  Pengamat Timur Tengah; Dosen Paramadina
KORAN TEMPO, 30 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Apa yang bisa kita simpulkan dari benang kusut yang kini melilit-lilit Timur Tengah? Kalau bagi saya, persoalannya sederhana saja: yang gatal kepala, yang digaruk malah punggung! Atau mungkin dapat juga disimpulkan dengan perkataan lain: lain yang sakit, lain pula yang dirawat. Kenapa bisa begitu, apa pula masalahnya?

Kalau kita ikuti urut-urutan pergolakan di sana secara saksama, tepatnya sejak rezim-rezim lapuk status quo mulai bertumbangan, dimulai oleh kaburnya Ben Ali dari Tunisia (14 Januari 2011), diikuti tergulingnya Husni Mubarak di Mesir (10 Februari 2011), disusul matinya Muammar Qadhafi (Agustus 2011), berlanjut ke hengkangnya Ali Abdullah Saleh dari Yaman (23 November 2012), lalu menjalar ke Bashar al-Assad yang masih liat saja di Suriah (sejak Januari 2012), sebetulnya penyakit Timur Tengah ini sudah jelas dan kentara: tak mau berkongsi di bidang kekuasaan. Dalam bahasa kerennya: power sharing.

Saya masih berpegang pada tesis ini, sampai ada tesis lain yang lebih tepercaya. Sebab, dari enam negara yang konon diterpa badai Musim Semi Arab sejak 2011, hanya Tunisia yang masih menjanjikan peralihan menuju demokrasi yang menjanjikan. Kuncinya: kemauan berbagi porsi kekuasaan secara damai di antara elite-elitenya. Makan nangka sama-sama, terkena getah pun sama-sama pula. Sebab, nangka yang dipanen pada masa peralihan ini tampaknya sangat bergetah, bahkan berdarah.

Nun dari Raqqa, Ibu Kota Khilafah, Al-Baghdadi mulai menjulurkan lengan-lengannya ke arah nangka yang mereka perebutkan. Di Bahrain, perebutan nangka reda sejak dini karena dititipkan untuk sementara di Kerajaan Saudi.

Pada nangka Suriah tak hanya terkandung getah, melainkan lebih banyak unsur darah. Sudah empat tahun nangka itu menyemburkan darahnya, dan sepertiga nangka-getah-darah itu kini justru dimangsa para petualang dari berbagai belahan dunia. Sepertiga nangka Suriah ini-oleh seorang yang kreatif bernama Al-Baghdadi-lalu dikawinkan dengan separuh nangka Irak yang tak lagi manis sejak diolah Amerika pada 2003. Namun gabungan nangka Suriah dan Irak ini justru melahirkan spesies nangka Khilafah yang diklaim akan utuh dan akan terus membesar.

Anehnya, para penguasa Timur Tengah sampai kini masih memandang remeh nangka Khilafah. Padahal spesies ini telah mengancam nangka-nangka dalam negeri mereka. Yang mereka persoalkan justru nangka Houthi asal Yaman yang mereka anggap berbau Persia. Dimotori Saudi, ramai-ramailah mereka menghantam nangka Yaman yang rupanya juga perpaduan jenis Houthi dan jenis Ali Salehi yang belum mati. Dan kalaupun ada aroma Persia sebagaimana nangka Suriah, ini tentulah jenis nangka yang agak liat.

Saya tak paham, akan ke mana arah sengitnya perebutan nangka yang kadang dianggap mengandung unsur Sunni-Syiah ini. Kalau persoalannya mereka benar-benar lapar, tentu akan lebih bijak bila mereka menanam dan merawat nangka bersama-sama. Bukan malah menebar getah atau malah memancitkan darahnya. Tapi entahlah, apalah saya. Mungkin hanya pungguk yang merindukan nangka!

Yang pasti saya khawatir, semua mereka semua justru hanya memperebutkan getah dan darah, sementara yang di sana asyik menonton pertunjukan mereka, sambil mengunyah apel Washington dan atau mengupas jeruk Tel Aviv!

Kamis, 24 Juli 2014

Catatan tentang Jokowi

                                            Catatan tentang Jokowi

Novriantoni Kahar  ;   Dosen Universitas Paramadina
KORAN TEMPO, 21 Juli 2014
                                                                                                                       


Saya selalu mengibaratkan Jokowi bagaikan pembalap MotoGP asal Spanyol, Marc Marquez, yang terus dibayang-bayangi pembalap kawakan Italia, Valentino Rossi. Tiga bulan sebelum Pemilu Presiden 2014, pengamat sering menyebut Jokowi superstar yang sulit ditandingi di sirkuit perpolitikan Indonesia. Namun siapa sangka Marquez a.k.a Jokowi terus dipepet Rossi a.k.a Prabowo sampai di lap-lap terakhir. Kenapa ini terjadi?

Tak mudah merenggut cinta-kasmaran masyarakat Indonesia kepada Jokowi. Namun kombinasi beberapa hal sempat jua membuat cinta itu goyah. Pertama, ada Obor Rakyat, tabloid yang sangat jorok memainkan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam mendiskreditkan Jokowi. Banyak saya jumpai masyarakat, awam maupun terdidik, yang sempat termakan info beracun tabloid ini.

Kedua, kacaunya pola kampanye Jokowi dibanding rivalnya. Sebuah media Australia pernah mengulas soal ini. Yang paling parah adalah soal keukeh-nya Jokowi menempuh jalur darat agar dapat menyapa sebanyak mungkin rakyat. Padahal, dengan durasi terbatas dan wilayah Indonesia yang begitu luas, semestinya Jokowi lebih sering naik jet dan helikopter guna menunjang mobilitasnya di masa kampanye.

Ketiga, banyak memang yang jatuh cinta kepada Jokowi, tapi cinta itu gampang pula goyah oleh faktor-faktor di luar Jokowi. Saya banyak dengar orang bilang begini: "Jokowi-nya orang baik, tapi sayang dia diusung PDIP!" Agak aneh, orang mencari-cari aspek tercela di luar diri Jokowi, sementara Prabowo Subianto yang punya rekam jejak kurang elok justru terbantu oleh unsur-unsur di luar dirinya.

Kombinasi tiga aspek inilah yang saya lihat terus menggerus elektabilitas Jokowi. Bahkan menurut survei lembaga yang kredibel, elektabilitas Jokowi nyaris disalip Prabowo sejak akhir Juni. Ketika jarak keunggulan itu tinggal 0,5 persen, salah seorang pakar politik Indonesia kepada saya pernah berkata: "Jika percaya wahyu, sekaranglah waktunya bermohon!"

Rupanya, keajaiban masih menyambangi perpolitikan Indonesia. Di lap-lap terakhir, banyak hal positif menghinggapi kubu Jokowi-JK. Sebaliknya, muncul beberapa blunder di kubu Prabowo-Hatta. Misalnya protes keluarga Gus Dur terhadap eksploitasi ungkapan kutipan almarhum. Juga ungkapan "sinting" seorang anggota tim sukses Prabowo-Hatta ketika menanggapi janji Hari Santri dari Jokowi.

Namun yang paling menakjubkan adalah dukungan berbondong-bondong dan bergelombang dari para relawan dan figur-figur publik saat awal Juli. Munculnya cuitan #AkhirnyaMilihJokowi dari selebritas ber-follower jutaan macam Sherina dan kawan-kawan amat besar pengaruhnya terhadap pemilih galau dan kaum pemula yang condong ke Prabowo-Hatta.

Konser 2 Jari, yang tiada berbayar dan masif, ikut pula menambah energi positif kepada Jokowi-JK sehingga tampil prima di debat putaran terakhir. Semua itu, tak syak lagi, membuat elektabilitas Jokowi kembali naik dan berjarak 3 persen pada survei LSI 3-5 Juli. Baliknya tren positif ini membuat bos LSI, Denny J.A., yakin bahwa cinta kepada Jokowi telah kembali dan Jokowi-JK akan menang tipis.

Selasa, 08 April 2014

Robin Hood dan Negara

Robin Hood dan Negara

Novriantoni Kahar  ;   Direktur Yayasan Denny JA
TEMPO.CO, 07 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
Pekan lalu (21-23 Maret 2014), atas nama Yayasan Denny J.A., saya ke Malaysia guna memenuhi undangan kawan-kawan IDEAS (Institute for Democracy and Economic Affairs) untuk acara Regional Liberal Colloquium. Pertemuan ini dihadiri kawan-kawan Malaysia, Singapura, Indonesia, India, Amerika, dan Jerman. Tak banyak, cuma 13 orang. Di Kuala Lumpur, kami berbincang ihwal kebebasan, keadilan, dan kesetaraan, berdasarkan refleksi dan pengalaman masing-masing kami. Esai ini ingin berbagi oleh-oleh dari negara jiran itu dalam bentuk renungan.

Permenungan yang saya kira relevan adalah soal apa itu negara, untuk apa dia ada, dan bagaimana dia bekerja. Topik ini saya kira penting, karena menjelang pemilu, kita menyaksikan begitu banyak orang yang "peduli" mengurusi negara dengan cara memperebutkan posisi-posisi kuncinya. Kita kini sedang menyaksikan kampanye masif dari para calon anggota legislatif maupun calon presiden. Semua mengumbar janji bla-bla-bla jika kelak berkuasa memimpin sebuah negara. Namun apakah itu negara?

Menurut filsuf liberal-klasik asal Prancis, Frédéric Bastiat, yang renungan-renungannya menjadi bahan bacaan kami dalam pertemuan itu, negara pada hakikatnya adalah "entitas yang dikhayal-agungkan banyak orang demi menopang hidupnya dengan tanggungan pihak lainnya" (the state is the great fictitious entity by which everyone seeks to live at the expense of everyone else). Menurut dia pula, negara yang baik adalah negara yang bekerja bak polisi pamong praja (common police force). Fungsinya hanya menjamin tidak dijarahnya harta-benda siapa pun warga negara, seraya berupaya mewujudkan keadilan dan keamanan.

Bagi Bastiat dan umumnya kaum liberal, negara merupakan setan yang tak dapat ditolak (necessary evil) dan karena itu mesti berfungsi minimal saja. Ini berbeda dengan rumusan kaum maksimalis yang menggantungkan banyak harapan kepada negara. Pada kaum maksimalis, negara dituntut mengendalikan ekonomi, menjaga keamanan, meningkatkan kesehatan, mengendalikan kemacetan, mengindahkan kesenian, bahkan menguatkan keimanan. Mereka lupa, negara selalu punya dua tangan: tangan kasar (rough hand) yang pasti mengambil, dan tangan lembut (gentle hand) yang terkadang memberi.

Merenungkan Bastiat, saya membayangkan negara bekerja bagaikan Robin Hood yang mencuri untuk dapat memberi. Tatkala dua tangan itu bekerja, tentu ada saja pihak yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan. Sebuah negara mungkin saja masih sehat bila aksi pencurian ala Robin Hood itu masih menguntungkan khalayak banyak. Yang celaka adalah bila negara justru menyengsarakan semua, baik akibat salah kelola atau tak bekerjanya mekanisme Robin Hood dengan saksama dan bijaksana.

Nah, menjelang Pemilu, kita menyaksikan aksi-aksi berbagi dan memberi yang diumbar para calon penyelenggara negeri. Namun sadarkah kita dari mana mereka mengambil agar kelak mampu memberi? Seberapa banyak mereka mengambil dan berapa porsi kelak mereka berikan? Kampanye memang musim bermurah hati, tapi kita perlu pula mencurigai janji-janji semanis madu dan lagak-tingkah seputih susu. Sebab, dalam politik, hampir mustahil membayangkan langkah-langkah tanpa pamrih. Para politikus bukanlah orang suci atau para nabi yang terus dibisikkan Tuhan agar "jangan memberi dengan harapan mendapat lebih!" (QS al-Muddatsir: 5).

Selasa, 25 Maret 2014

Democrazy dan Pahit-Manisnya

Democrazy dan Pahit-Manisnya

Novriantoni Kahar  ;   Direktur Yayasan Denny JA
TEMPO.CO,  24 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Bulan depan, Indonesia akan kembali menggelar pemilu legislatif. Partai dan calon anggota legislatif akan memakai cara-cara waras maupun gila demi merebut suara. Tak ayal lagi, ini akan menyuguhkan beragam tontonan kreativitas maupun kesintingan dalam menggapai tujuan politik. Kita menonton "democrazy", unjuk kesintingan. Dan itu mungkin banyak terjadi.

Saya kemarin baru menyimak dan merekam beberapa cerita democrazy ini. Nun di sebuah tempat, seorang calon kepala daerah tak ingin punya pesaing dalam pemilihan bupati. Tapi ini demokrasi; tentu akan ada saja masyarakat yang ingin punya aspirasi berbeda. Calon terkuat yang punya segala syarat untuk menang itu lantas ditanya pendukungnya: apakah penantangnya harus dilenyapkan? "Tidak usah!" jawab sang jagoan, "Cukup 'ditandai' saja bagian kepalanya!" Lalu terjadilah apa yang terjadi dan itu umum diketahui masyarakat di daerahnya.

Karena demokrasi tak seru tanpa kompetisi, pernah pula yang jagoan terpaksa menunjuk pesaing dari kubunya sendiri. Maka terjadilah sandiwara kompetisi. Dengan bangga, sang jagoan pun berkata: "Hanya di sini demokrasi berlangsung indah. Dua orang yang sedang berebut jabatan, bergandengan tangan saat keluar dari satu rumah!" Tentu si jagoan menang pemilukada, tapi cuma di angka 96 persen. Kepada tim sukses, dia protes: kenapa tak sampai 99 persen? "Ini sudah rekor, Pak! Kalau menang 99 persen, Bapak justru menyalahi segala kaidah demokrasi!" Dia pun puas.

Di suatu daerah di Sumatera, demokrasi juga punya kisah kesintingannya sendiri. Seorang kepala daerah yang kaya raya dan tak paham seluk-beluk memerintah, suatu kali memotivasi anak buahnya. "Kalian bagus-baguslah bekerja! Nanti yang berprestasi akan saya naikkan jabatannya. Yang eselon satu akan naik ke eselon dua. Eselon dua ke eselon tiga." Begitulah seterusnya. Lalu ada yang menyela, "Mohon maaf, Pak, urutannya terbalik." Tak terima, si pandir pun menyambar: "Kau ini bagaimana, setelah satu ya dua. Setelah dua ya tiga. Tak bisa berhitung kau?"

Di tempat lain, seorang kepala dianggap tidak demokratis dalam memerintah. Tapi dia menyangkal dengan lugunya. "Kurang demokrasi apa? Yang mau protes bisa demo kapan saja! Bahkan saya tak jarang mengongkosi mereka-mereka yang mau demo." Ada juga pemimpin yang digugat karena sengaja menganaktirikan sebagian desanya. Berbagai infrastruktur ditelantarkan: jalan tak mulus, listrik susah, air pun payah. Lalu apa jawaban si kepala daerah? "Salah sendiri, dikasih yang manis kok malah memilih yang pahit!" Jelaslah, desa telantar itu tidak memilih dia pada waktu pemilukada.

Pemimpin-pemimpin sinting semacam ini tak jarang sudah terendus media lokal maupun nasional. Namun tak jarang pula akses untuk menyibak auratnya tertutup rapat. Beberapa dari mereka lihai sekali mencegat awak media untuk menjalankan fungsi kontrol. Jaringan preman difungsikan secara saksama, dan uang sogokan diparkir rapi di ibu kota provinsi. Akibatnya, kisah-kisah democrazy ini tak sampai menjadi isu nasional dan hanya mengalir dari bibir ke bibir masyarakat di daerah.

Intinya, kesintingan-kesintingan macam ini akan banyak dijumpai dalam pemilu yang sebentar lagi. Kita berharap juga demokrasi kita lebih memilih kewarasan dibanding kesintingan.

Kamis, 13 Maret 2014

Caleg Cabe-cabean

Caleg Cabe-cabean

Novriantoni Kahar  ;   Dosen Universitas Paramadina
TEMPO.CO,  12 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                             
Pernahkah Anda mendengar istilah caleg cabe-cabean? Saya pun baru dengar dari seorang kawan (sebut saja namanya AM) yang kini sibuk menjadi tim sukses calon anggota legislatif. Alkisah, pagi itu telepon berdering dan AM antusias menceritakan profesi barunya yang begitu menggairahkan. Karena kisahnya menarik, kantuk saya pun hilang. Ya, kisahnya caleg cabe-cabean itu.

Kawan AM bilang, "Istilah ini belum ada di kamus politik kita, Bro! Ente perlu tahu, ini istilah yang sudah umum di lingkungan tim sukses caleg." Kawan AM pun bangga, caleg yang dia tangani bukan jenis cabe-cabean. Ini caleg benaran, bahkan petahana yang siap melenggang lagi ke Senayan. Selaku tim sukses, dia tak kesulitan jaringan dan logistik. Sang caleg pun siap menggelontorkan puluhan miliar rupiah demi harga diri. Masak, caleg petahana tak terpilih lagi? Mau ke mana menyurukkan muka?

Jika caleg benaran mempersiapkan diri begitu rupa, bagaimana nasib caleg cabe-cabean? Pertama perlu dijelaskan dulu makna cabe-cabean yang sempat jadi trending topic di Twitter itu. Istilah ini merujuk ke para ABG (anak baru gede) cewek yang menjadi tim pesorak, bahkan yang dipertaruhkan, dalam balapan motor jalanan. Mereka biasanya berpakaian seksi, hot bagai cabai. Konon ada pula istilah "terong-terongan", bahkan "terong dicabein". Terong-terongan ini jenis cabe-cabean cowok, sementara terong dicabein merujuk ke banci.

Caleg cabe-cabean, menurut kawan AM, punya dua kemungkinan. Pertama, dipasang sekadar pemanis saja oleh partai. Kemungkinan lain: demi memberi kesan bahwa partai cukup akomodatif, misalnya terhadap kaum aktivis dan intelektual di luar lingkungan elite partai. Lalu bagaimana peluang caleg cabe-cabean untuk lolos menjadi anggota Dewan? Secara teoretis tentu bergantung pada popularitas dan elektabilitas mereka.

Namun, menurut kawan AM, meski bukan segala-galanya, kekuatan jaringan dan logistik juga sangat menentukan nasib mereka. Untuk menggerakkan semua mesin kampanye (memperkenalkan diri, meluaskan dan menguatkan jaringan, serta memastikan perolehan suara dan mengamankannya), perlu biaya yang tak sedikit. Akan sangat beruntung bila caleg cabe-cabean atau terong-terongan ini punya modal sosial dan finansial yang memadai. Jika tidak, nasib mereka akan sangat bergantung pada kemurahan hati sana-sini.

Dengar-dengar, beberapa caleg cabe-cabean mendapat sokongan maksimal atau optimal dari bos atau elite partai yang mengusung mereka. Namun banyak juga yang justru tidak mendapat kemewahan itu. Mereka kebingungan, tak siap menggarap peluang dan menanggung ongkos yang harus dikeluarkan. Nasib caleg jenis ini mungkin hanya akan berakhir seperti cabe benaran: diulek atau diblender, masuk penggorengan, jadilah sambal, pedas dimakan, lalu keluar.

Sampai di sini, saya terenyuh membayangkan beberapa kawan yang kini mencalonkan diri menjadi anggota Dewan. Mereka intelektual dan aktivis yang umumnya bermodal pas-pasan. Sebagian masih serius menggarap peluang, selebihnya menyerah di tengah jalan. Akan ironis sekali bila setelah pemilu mereka yang justru jadi cabe-cabean atau terong-terongan, sementara beberapa yang semula cabe-cabean atau terong-terongan justru duduk manis sebagai anggota Dewan. Bila itu terjadi, betapa pedasnya politik kehidupan!

Senin, 27 Januari 2014

@FaktaAgama

                                @FaktaAgama              

Novriantoni Kahar ;   Dosen Paramadina, Pengamat Timur Tengah
TEMPO.CO,  27 Januari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
Kalau Anda berminat pada "ilmu pasti" tentang agama, cobalah jenguk @FaktaAgama. Akun Twitter berlogo Departemen Agama Republik Indonesia ini menyuguhkan berbagai informasi terukur dan pasti tentang hal-ihwal yang gaib di bidang agama. Mau tahu azab yang akan menimpa mereka yang suka bergunjing? Ada, dan detail! Siksaan si tukang fitnah? Tentu saja ada!

Kalau itu mencekam, mari kita tengok yang lucu saja! Siapa malaikat yang tak pernah tertawa? Dia yang kelak meniup sangkakala: Israfil. Berapa jumlah sayap Jibril dan apa kehebatannya? Wow, 600 kepak, dan tiap-tiap kepak dapat menutupi tepian langit. Dari sayap-sayap itu juga dapat berjatuhan intan berlian beragam warna. Indah bukan?

Yang juga indah, bila tamat membaca Quran, akan ada 60 ribu malaikat yang stand by dan sedia menyokong doa yang Anda pinta. Kalau rajin menjenguk orang sakit, 70 ribu malaikat niscaya akan mendoakan Anda agar terbebas dari dosa sampai petang tiba. Asyik, bukan?

Oh, ya, yang rutin ke pasar burung akan rugi sekali bila tak kenal @FaktaAgama. Soalnya, memohon karunia Allah akan sangat mustajab saat ayam jantan berkokok. Kok, bisa? Kokokan itu adalah pertanda bahwa si jago sedang menyaksikan malaikat mendekat. Nah, itu adalah momen terbaik untuk meminta sesuatu kepada Maha Pemberi!

Selain yang indah, @FaktaAgama tentu memuat hal-hal yang mencekam. Kalau malas sembahyang, Anda bersiap saja ditunggu ular Saqar. Mengumpat orang? Gunting neraka kian tajam-terasah! Menyebar gosip atau fitnah? Kian dirindu oleh duri-duri taman neraka! Lho, kok, neraka disebut taman? Entahlah!

Pendek kata, @FaktaAgama menyuguhkan berbagai info-dan mungkin juga fantasi-yang sangat vulgar dan seperti pasti tentang alam gaib. Tak ada lagi misteri karena semua sudah pasti. Ini berbeda dengan rumusan Rudolf Otto (1867-1937) tentang inti beragama: perasaan mysterium tremendum et fascinans. Penganut agama mana pun niscaya diayun-ayun oleh misteri, baik yang mencekam maupun menakjubkan.

Dalam Islam, bagian yang mencekam seperti kabar azab-siksa-sengsara-neraka itulah yang disebut tarhib. Yang menakjubkan bagai taman surgawi dengan segenap kenikmatan firdausi disebut targhib. Unsur tarhib dan targhib ini berfungsi bagaikan rem dan gas bagi umat. Tarhib menahan tindakan durhaka, sedangkan targhib bertujuan mensugesti perilaku mulia.

Detail-detail tarhib dan targhib itu dengan mudah dapat kita jumpai di Al-Quran, terlebih lagi kitab-kitab hadis yang cukup lapang untuk menerima imajinasi, bahkan fantasi. Maklum saja, demi memompa kesalehan, para ulama sejak dulu sudah bersikap permisif dan bahkan positif terhadap hadis-hadis dari jenis ini.

@FaktaAgama tampaknya dengan enteng menyuguhkan informasi-informasi jenis itu, bahkan seperti tanpa seleksi. Akibatnya: (1) Unsur misteri keberagamaan seakan sirna dan menjelma ilmu pasti. (2) Inti agama pun seakan hanya soal menakut-nakuti dan mengiming-imingi. (3) Yang fatal, sebagian orang beranggapan bahwa @FaktaAgama mungkin akun dagelan Departemen Agama.

Membaca @FaktaAgama, saya serasa diajak ke masa kanak-kanak tatkala komik-komik seputar azab-siksa-sengsara-neraka begitu mencekam ke dasar jiwa. Tapi, karena kini sudah dewasa, saya senyum-senyum miris saja membacanya.

Jumat, 20 September 2013

Menyalalah Nurani Dunia untuk Suriah

Menyalalah Nurani Dunia untuk Suriah
Novriantoni Kahar ;  Dosen Universitas Paramadina, Pengamat Timur Tengah
TEMPO.CO, 20 September 2013


"Ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang hanya lautan, di hadapan kalian hanya lawan. Demi Tuhan, kalian tak punya pilihan selain kesetiakawanan dan ketahanan diri. Dan ketahuilah, di Semenanjung ini, kalian hanya kumpulan yatim di perjamuan orang-orang tanpa empati. Musuh telah siap menyambut kalian dengan bala tentara dan persenjataan. Perbekalan mereka sungguh berlimpah. Adapun kalian, tiada beban selain pedang, dan tiada pula pangan selain yang berhasil kalian rampas dari musuh-musuh kalian…."

Penggalan orasi Thariq bin Ziyad (670-720), panglima perang legendaris Islam dalam Penaklukan Andalusia sekitar tahun 711, itu saya kutip untuk menggambarkan bagaimana kini dunia menyikapi Suriah. Ya, kini hampir semua pemimpin dunia memilih pendekatan Bin Ziyad dalam menghadapi krisis Suriah. Dan, selama dua tahun lebih perang berkecamuk di Suriah, seluruh pihak yang bersengketa tak jua menemukan jalan ketiga. Tiada suara lebih nyaring dari genderang perang berdarah-darah. 

Persoalan bermula dari mimpi rakyat Suriah untuk mencicipi Musim Semi kebebasan sebagaimana di negara-negara tetangga. Namun, rupanya, Musim Semi tetaplah unik di tiap negara dan ia tidak datang dengan hawa yang sama. Di Tunisia, Musim Semi cukup berbunga setelah Presiden Ben Ali ditampung Arab Saudi. Di Yaman, dunia-terutama Saudi-berjasa penting dalam mengatasi kebuntuan politik menjelang lengsernya Presiden Ali Abdullah Saleh. Di Mesir, kekuasaan Husni Mubarak diambil alih Dewan Tinggi Militer, dan kita tahu kisahnya kini. Di Libya, Muammar Qadhafi tumbang lewat aksi bersenjata NATO dan dunia dengan mudah memakluminya.

Tapi di Suriah, Musim Semi tidak mudah dan mengalami kebuntuan yang nyata. Dunia seolah tak berdaya mencarikan pemecahan masalah. Ada apa? Jelas kini, Presiden Bashar al-Assad semakin paham betapa lemah para pemimpin negara jirannya dalam menanggapi aspirasi perubahan. Mereka seakan tak punya kawan yang rela membela dalam senang dan susah. Assad bisa saja disetarakan Qadhafi dalam menyikapi momen ini sebagai pertarungan hidup-mati. Bedanya, Assad lebih mampu beraliansi sekalipun harus berperang sebagai proxy bagi kekuatan-kekuatan besar di belakangnya.

Iran sampai kini berada di balik Suriah karena khawatir, bila sekutunya itu tumbang, berarti jalan bagi pelemahan posisinya di kawasan kian terbuka. Sokongan Saudi terhadap oposisi Suriah lebih merefleksikan kekhawatiran regional karena terkepungnya negara Wahabi itu oleh negara-negara berbasis Syiah. Bayangkan saja, di timur Saudi, ada konsentrasi Syiah yang sedang marah. Di selatan, terdapat Yaman selatan, yang juga berpopulasi mayoritas Syiah. Di Barat, ada pergolakan Syiah Bahrain dan musuh bebuyutan Saudi, Iran sendiri. Irak pasca-Saddam di utara, kini didominasi Syiah; sementara Libanon dan Suriah pun kuat dipengaruhi Negeri Para Mullah.

Kekuatan-kekuatan global pun terpilah dalam permusuhan geopolitik antara Saudi dan Iran ini. Dalam kasus Suriah, yang terjadi bukan lagi pertarungan rezim Assad melawan aspirasi kebebasan yang didambakan rakyatnya. Pertarungan geopolitik dan buntunya diplomasi di antara kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam persengketaan ini membuat dunia seakan hanya punya opsi Thariq bin Ziyad di kantong mereka. Dampaknya, tatkala gajah-gajah belum rampung bertarung, rakyat Suriah hanyalah para pelanduk yang terjepit dalam sengit pertarungan itu.

Mana jalan ketiga?

Menyaksikan pertarungan global di Suriah, saya tak melihat kuatnya inisiatif jalan ketiga. Padahal Suriah kini bukan lagi sedang bergeliat dalam pertarungan menuju demokrasi. Dan rakyat Suriah kini telah seperti "kumpulan yatim dalam perjamuan orang-orang tanpa empati". Anak-anak yatim Suriah itu kini berjibaku dalam memproteksi diri dengan cara melarikan diri (displacement) dari konflik, dan hanya itulah cara bertahan yang kini diterapkan oleh tak kurang dari sepertiga mereka (sekitar 6 juta orang).

Jika obyektif melihat krisis Suriah, rakyat Suriah kini sesungguhnya menunggu jalan ketiga. Sebab, andai saja Assad tumbang, mereka pun terancam seperti keluar dari mulut singa untuk masuk ke moncong buaya. Laporan-laporan internasional kini menyebutkan, kubu oposisi yang berupaya menjungkalkan Assad pun didominasi kaum mujahid ekstrem bentukan Saudi, Turki, dan negara-negara Teluk. Ungkapan filsuf Slovenia, Slavoj Žižek, benar belaka bahwa kasus Suriah adalah pertarungan yang lancung (pseudo-struggle), dan tak sulit menebak arah angin Suriah pasca-Assad: Afganistan era Taliban! (The Guardian, 6 September 2013). 

Inilah yang menjelaskan mengapa Amerika dan sekutunya begitu enggan terlibat langsung dalam intervensi bersenjata. Penggunaan senjata kimia sebagai garis merah (red lines) yang dipatok Presiden Barack Obama untuk terlibat dalam opsi bersenjata di Suriah bisa dibaca sebagai bentuk keengganan Obama kembali melakukan kesalahan fatal pendahulunya dalam kasus Irak. Namun kini, lain Washington lain pula niat Riyadh dan Ankara. Kini, Kerajaan Saudi dan Turki adalah dua negara yang paling bersemangat mengipas-ngipasi Amerika untuk turun kancah langsung di Suriah.

Aliansi tak suci

Namun kini, dunia pun terfokus pada proposal Rusia, yang dituding menunda ajal rezim Assad, yang dikonfirmasi PBB telah menggunakan senjata kimia dalam sengketa. Tapi bukankah konflik ini telah dua tahun lebih? Wajarlah bila sinisme muncul: Assad hanya haram menggunakan senjata kimia, sementara senjata jenis lainnya seolah absah digunakan Assad ataupun para mujahid penentangnya. Yang kini paling miris adalah kasus Suriah, di mana kewajiban moral dunia untuk melindungi warga sipil dalam situasi konflik dan perang (responsibility to protect) atau R2P yang disahkan PBB pada 2005 kini seakan alpa dari perdebatan para pemimpin dunia (Elizabeth Ferris, Brooking.Edu, 10 September 2013).

Dalam kasus Suriah kini, dunia perlu opsi ketiga di luar "lautan" dan "musuh" yang ditawarkan ilustrasi Thariq bin Ziyad tadi. Dunia perlu ketok palu, Suriah adalah kasus Musim Semi yang gagal tumbuh dan bersemi. Kini tiba saatnya menjamin seluruh tumpah darah Suriah untuk kembali ke masa transisi lewat perundingan semua pihak yang bertali-temali dengan sengketa berdarah ini. Inisiatif tersebut hanya mungkin ditempuh dengan melibatkan Iran dan Rusia sebagai patron Assad, Saudi dan Turki sebagai patron mujahid, serta Amerika dan Eropa sebagai "pihak penengah". 


Jika inisiatif ini tidak terealisasi, berarti telah terjadi aliansi tak suci di antara kekuatan-kekuatan jahat yang menginginkan perang lebih dahsyat lagi. Aliansi tak suci itu melibatkan Saudi, Turki, lobi Israel (AIPAC), yang kini giat mendorong Obama untuk melancarkan aksi militer ke Suriah, juga Iran dan Rusia yang keras kepala. Jika aliansi itu yang menang, dunia sungguh telah disuguhi tontonan tentang "perjamuan orang-orang tanpa empati" di tengah lapar sengsara "anak-anak Yatim Suriah" yang tak jelas masa depannya. Rasanya, Indonesia pun punya kewajiban moral untuk ikut mendorong proses ini agar nurani dunia tetap menyala.  

Senin, 02 September 2013

Dua Membaca Timur Tengah

Dua Membaca Timur Tengah
Novriantoni Kahar ;   Dosen Paramadina, Pengamat Timur Tengah
KORAN TEMPO, 02 September 2013


Jika ingin membaca ke mana arah Musim Semi Arab setelah tumbangnya Muhammad Mursi di Mesir dan kian memprihatinkannya kondisi Suriah saat ini, ada baiknya Anda teroka lewat kacamata dua figur penting ini: Yusuf al-Qardlawi dan Tariq Ramadan. Al-Qardlawi adalah ulama Sunni paling ternama yang dianggap sebagai pemimpin spiritual Al-Ikhwan al-Muslimun (selanjutnya sebut saja Ikhwan) Mesir saat ini. Sedangkan Tariq Ramadan adalah cucu pendiri Ikhwan, Hassan al-Banna, yang kini mengajar studi Islam di Universitas Oxford, Inggris.
Pembacaan mereka atas Musim Semi Arab itu, sederhananya saya petakan menjadi dua: pembacaan yang optimistis naif dan pembacaan yang optimistis mawas. Al-Qardlawi mewakili simbol pembacaan yang optimistis naif, sementara Ramadan adalah simbol pembacaan yang optimistis mawas. Keduanya sama-sama punya latar belakang Islamisme yang kental dan terpaksa hidup di pengasingan karena latar belakang Ikhwan mereka. Keduanya juga telah mengabdikan diri untuk melakukan kritik internal terhadap Ikhwan. 
Buku Al-Qardlawi tentang fikih kenegaraan (Min Fiqh ad-Daulah fi al-Islam) dan pentingnya moderasi beragama (Al-Shahwah al-Islamiyyah baina al-Juhud wa al-Tatharruf), saya kira, telah ikut mendorong Ikhwan untuk menerima demokrasi dan menolak ekstremisme beragama ala kaum ultrakonservatif salafi. Sumbangsih pikiran dan aktivisme Ramadan pun tak kalah besarnya, terutama bagi kaum muslim diaspora Eropa dan Amerika. 
Yang relevan untuk kritik internal terhadap Ikhwan adalah tiga bukunya, Radical Reform: Islamic Ethic and Liberation; The Quest for Meaning: Developing the Philosophy of Pluralism; dan The Arab Awakening: Islam and The Middle East. Ulasan-ulasan Ramadan tentang perkembangan Musim Semi Arab pun sangat bernas dan mungkin saja dapat membuat Ikhwan cukup waspada kala berkuasa. Namun apa daya….
Di balik kesamaan itu, keduanya banyak pula berbeda. Terhadap Ikhwan, Al-Qardlawi tampak cenderung romantis dan lebih aktivis ketimbang Ramadan. Keduanya memang menaruh optimisme pada perubahan penting Timur Tengah, tapi Al-Qardlawi agak naif dan cenderung emosional, sementara Ramadan cenderung waspada dan lebih rasional. Hal ini terlihat dari sikap keduanya dalam merespons tumbangnya Husni Mubarak pada 25 Januari 2011. Sejurus setelah Mubarak tumbang, Al-Qardlawi segera pulang ke ibu pertiwi-nya di Mesir dan ikut tampil sebagai simbol kemenangan melawan Mubarak.
Ramadan mengambil sikap berbeda dan tidak larut dalam euforia. Dalam berbagai wawancara, dia menyatakan enggan segera kembali ke tanah leluhurnya, Mesir. Bagi Ramadan, sekalipun Mubarak telah tumbang dan Ikhwan mulai berkuasa, situasi Mesir tetap rawan untuk kembali jatuh ke jurang otoritarianisme. Dalam wawancara dengan Le Parisien (18 Agustus 2013), Ramadan menyatakan telah menyimpan optimisme yang mawas (cautious optimism) dalam menghadapi situasi perubahan Timur Tengah yang begitu dinamis. 
Berdasarkan bacaannya terhadap konstelasi global dan regional, Ramadan justru khawatir kalau-kalau pergolakan yang begitu dinamis itu justru lebih banyak mengganggu stabilitas kawasan daripada meratakan jalan bagi demokrasi. Bahkan secara satiris, Ramadan menyebut pergolakan Timur Tengah ini bukanlah pertanda musim semi telah tiba, melainkan tiada lebih kicau burung pembangun gairah di pagi buta. 
Manakah di antara kedua bacaan itu yang lebih akurat? Sejauh ini, jelas bacaan Ramadan tampak lebih valid ketimbang Al-Qardlawi. Hal ini terlihat dari pembalikan situasi di Mesir yang begitu cepat, beberapa kisruh di Tunisia, serta darah dan air mata yang terus tumpah di Suriah. Pertanyaannya, kenapa Ramadan bisa lebih cermat dibanding Al-Qardlawi? Bagi saya, ada beberapa penjelasan.
Pertama, jika mengunjungi website pribadi Al-Qardlawi, Anda segera tahu bahwa ulama besar ini masih terjebak dalam pembacaan teologis yang simplistis terhadap gelombang perubahan yang kini terjadi di Timur Tengah. Sedangkan Ramadan, bacaannya beranjak dari pengamatan yang mendalam dan utuh terhadap konstelasi kekuatan global dan regional Timur Tengah yang kini sedang bergulat. 
Kedua, selain mencermati berbagai kompleksitas transisi demokrasi di berbagai negara, Ramadan memahami persoalan Mesir secara mendalam. Ramadan tahu betul, naiknya Ikhwan ke tampuk kekuasaan lewat cara demokratis tidak serta-merta membuatnya mampu menguasai keadaan. Mereka harus ekstra-hati-hati berhadapan dengan lapisan serat-serat kenegaraan yang membentuk suatu struktur negara di dalam negara (deep state). Ketidakmampuan mengelola lapisan-lapisan itu (birokrasi, tentara, dan kepolisian) akan mampu membuat siapa pun tersandung kapan saja. Kini politik menjadi tragedi bagi Ikhwan: dari penguasa menjadi tertuduh perongrong negara.
Ketiga, dalam konteks Timur Tengah, rezim stabilitas status quo politik-ekonomi, bagi Ramadan, masih sangat dominan dan digdaya. Rezim stabilitas yang tajir, seperti Saudi dan negara-negara Teluk, sangat cemas serta waspada menghadapi pergolakan kawasan. Setelah menyaksikan otokrat Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman tumbang begitu hina, mereka siap mengorbankan apa saja untuk bertahan. Karena itu, dukungan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait terhadap kudeta atas Mursi di Mesir (3 Juli) lewat kucuran dana empat kali lipat lebih besar daripada bantuan Amerika dan Uni Eropa (US$ 12 miliar berbanding US$ 2,8 miliar) bisa dibaca sebagai pukulan balik rezim stabilitas terhadap tunas-tunas muda demokrasi. 
Strategi utama rezim stabilitas menghadapi Musim Semi Arab tunggal belaka: memperkuat stabilitas dalam negeri sembari mempertontonkan dan atau membantu kacaunya perubahan di luar negeri. Di negara-negara yang menapaki jalan demokrasi, seperti Tunisia, Mesir, dan Libya, rezim stabilitas membantu kalangan ultrakonservatif Islam menunjukkan betapa dangkalnya demokrasi dan betapa kacaunya percobaan hidup di alam terkutuk itu.
Muara dari semua ini tidak lain untuk menunjukkan kepada rakyat di negara masing-masing betapa kejamnya azab sengsara yang menimpa mereka-mereka yang menaruh aspirasi kebebasan dan keadilan. Strategi inilah yang ditangkap dan dicermati Ramadan serta luput dari bacaan Al-Qardlawi, yang justru ikut di dalam arus anti-Syiah dalam menyikapi perang saudara di Suriah. Ramadan sadar, sikap sektarian yang juga sempat diidap Mursi tatkala berkuasa tidak akan membawa Arab ke jantung peradaban, melainkan justru melenakan mereka dari aspirasi sentral mereka: perjuangan kebebasan dan keadilan.
Ringkasnya, aspirasi demokrasi yang dibawa angin Musim Semi Arab ini adalah monster yang sangat menakutkan bagi semua rezim stabilitas Timur Tengah. Mulus-suksesnya proses ini dapat menjadi preseden bagi upaya penumbangan rezim di negara lainnya. Karena itu, apa yang tampak sebagai dukungan Saudi terhadap stabilitas Mesir pasca-kudeta, pada hakikatnya, adalah upaya menghentikan aspirasi serupa di dalam negeri. Masih harus dilihat lagi, apakah percaturan ini telah dimenangi rezim stabilitas atau hanya merupakan tikungan-tikungan tajam Timur Tengah dalam menapaki jalan demokrasi. ●  

Sabtu, 20 Juli 2013

Keluar dari Kutukan Mubarak

Keluar dari Kutukan Mubarak
Novriantoni Kahar ;   Dosen Paramadina, Pengamat Timur Tengah
MAJALAH TEMPO, 15-21 Juli 2013


 isis Mesir pasca-kudeta atas Presiden Muhammad Mursi, 3 Juli 2013 lalu, tampaknya kian rumit dan mulai berdarah-darah. Kerumitan ini hanya bisa dipahami jika kita mampu menelusuri pangkal masalahnya. Bagi saya, ini soal transisi yang tidak mudah dari otokrasi menuju demokrasi. Sejak menegara 6000 tahun silam, Mesir sudah mapan dengan kepemimpinan “raja separuh dewa” (al-malik al-ilah) yang menghadirkan rasa gentar, sakral, dan menuntut kepatuhan. Musim Semi Arab menggoyang kemapanan itu. Sejak 2011 lalu, tembok-tembok ketakutan, kesakralan, dan kepatuhan rakyat Mesir telah goyah (Saad Eddin Ibrahim, 2013).

Namun, di kancah politik Timur Tengah, Mesir terlalu penting untuk berubah secara radikal. Menjelang Husni Mubarak tumbang, aspirasi rakyat yang terkuat adalah berakhirnya otokrasi dan tegaknya demokrasi. Husni Mubarak secara salah kaprah terlanjur dilabeli, mengutip peneliti Timur Tengah dari Universitas Durhan, Khalil al-Anani, “otokrat liberal”, bukan sosok otoriter yang absolut. Celakanya, mitos “otokrasi liberal” Mubarak itulah yang dianggap paling pas untuk negara sepenting Mesir. Dalam sistem otokrasi itu, politik tetap didominasi penguasa tunggal yang selalu pandai melakukan manipulasi. Doktrin utamanya: katakan saja apa yang kau suka, aku (penguasa) akan mengerjakan apa yang aku mau.

Selama 3 dekade, itulah yang ditempuh Mubarak. Sang otokrat terus mengkhianati rakyatnya sembari menipu dunia dengan pilihan ganda: terima otokrasiku atau demokrasi akan membawa Mesir jatuh ke pangkuan fundamentalisme! Sang otokrat menyembunyikan fakta bahwa dari rahimnyalah fundamentalisme dibuahi dan alternatifnya—seperti gerakanKifayah yang telah menyemai benih-benih kaum demokrat lintasfaksi—berguguran mati. Namun apa daya, ramalan Mubarak sahih dan kini menjadi semacam kutukan. Alternatif dirinya adalah fundamentalisme al-Ikhwan al-Muslimun selaku kekuatan politik tergigih selama dia memerintah.

Peran Amerika sebagai broker politik masa transisi menjadi relevan di titik ini. Yang saya pahami, kepentingan Amerika di masa peralihan Mesir ini cuma dua. Pertama, Mesir tetap menjadi penyeimbang kawasan agar radikalisme menentang Israel tidak menguat. Kedua, Mesir tetap serta dalam perang global melawan terorisme. Di luar dua kepentingan itu, seperti pemenuhan tuntutan para pejuang Tahrir, hampir pasti bersifat sekunder belaka.

Dari dua kepentingan itulah muncul ide reformasi terkendali (orderly reform) yang disuarakan Presidan Amerika, Barack Obama tatkala Mubarak sudah tak tertolong lagi. Ketika itu, kudeta dianggap aksi penyelamatan negara. Mandat perubahan dititipkan kepada tentara sebagai partner jangka panjang Amerika. Dan berbekal platform itulah Dewan Tinggi Militer Mesir bekerjasama dengan faksi-faksi konservatif dalam melucuti tuntutan revolusi Tahrir. Kisah pengkhianatan itu berlanjut ke era Mursi yang diharapkan menyingkirkan otokrasi lewat jalur demokrasi. Abang Sam kini lebih pusing lagi. Lalu muncul ilusi: otokrasi mungkin saja dipertahankan dengan wajah yang lebih agamis.

Setelah menolak hasil demokrasi di Gaza, Amerika justru dihadapkan pada leluhur Hamas di Negeri Kinanah Mesir. Para Ikhwan ini terlalu besar untuk ditolak walau tak terlalu hebat untuk gagal. Pilihan logis adalah memberi mereka peluang memerintah sembari menitipkan dua agenda: amannya hubungan Mesir dengan Israel dan penanggulangan terorisme. Bagi kaum muda Tahrir, kedua agenda itu berhasil dijalankan Mursi dengan tangkasnya.

Konstelasi global ini penting disebut meski bukan faktor terpenting kejatuhan Mursi. Sejak Mursi memerintah, semua mafhum bahwa warisan otokrasi Mesir jauh lebih parah dari Tunisia, bahkan Libya. Yang paling mencolok misalnya misalnya, 40% penduduk masih buta huruf. Authoritarian legacy yang parah itulah yang memungkinkan faksi-faksi politik paling konservatif, seperti Ikhwan dan Salafi, naik tahta. Namun kekuasaan tak selamanya berkah, bahkan dapat menjadi kutukan dalam situasi-situasi yang payah. Rasa gentar, sakralitasasi, dan ketaatan rakyat Mesir terhadap penguasanya kini sudah tak ada lagi.

Saat memerintah, Presiden Mursi tak lagi diperkenankan berdalih tentang buruknya warisan era otokrasi. Terlebih, kekuasaan ini juga dipandang sebagai doa mustajab para pejuang Ikhwan dari balik jeruji penjara (Shadi Hamid, 2012). Namun karena perubahan menaruh ekspektasi tinggi, minimnya visi adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dan Mursi membuat begitu banyak blunder sehingga dijuluki sebagai sosok paling piawai dalam seni menghimpun musuh (Fawaz Gerges, 2013). Arogansi dan ketidakmampuan menjalin koalisi justru menumpuk tanggungjawab era transisi di pundak Ikhwan yang sesungguhnya lemah.

Kesediaan dan kepandaian berbagi tanggungjawab (power sharing) itulah yang membedakan Ikwan Mesir dengan an-Nahdlah Tunisia. Di Tunisia, an-Nahdlah punya sosok Rashid al-Ghannushi yang dianggap sedikit berkaliber Nelson Mandela (Noah Feldman dan Fareed Zakaria, 2013). Sadar akan beratnya tantangan memerintah, al-Ghannushi justru memelopori rekonsiliasi nasional dengan konsesi-konsesi yang menyakitkan. Dia misalnya meyakinkan elit partai dan konstituennya untuk tidak bermain-main dengan isu syariah dan atau mengutak-utik Undang-Undang Perkawinan Tunisia yang sangat progresif.

Itulah yang tak dilakukan Mursi dan Ikhwani. Relatif mulusnya langkah Tunisia menjalankan masa transisi, antara lain, karena sudah terjalinnya kesepahaman antar berbagai faksi politik Tunisia. Di Mesir, tingginya polarisasi dan kecurigaan antar elit politik justru mengukuhkan persepsi bahwa demokrasi bukanlah the only game in town dan kudeta absah saja untuk membendung munculnya apa yg disebut Abdurrahman al-Qardlawi sebagai firaun-firaun belia.

Ironisnya, kudeta justru memupus peluang Mesir untuk “menghukum” inkompetensi Ikhwan pada pemilu berikutnya. Ikhwan kini bisa berdalih bahwa mereka bukannya gagal dalam uji coba “Islam adalah solusi”, melainkan dirongrong konspirasi tentara sebagai pemegang mandat pokok Amerika. Narasi palsu ini akan berdengung dalam waktu yang lama dan itu sulit disanggah kaum muda Tahrir. Fakta bahwa Gedung Putih sampai kini enggan menyebut ini sebagai kudeta memberi dalih tambahan bagi Ikhwan untuk berapologia.

Dampak krisis Mesir ini hampir pasti meradikalisasi kelompok Ikwan. Tapi yang paling mematikan adalah krisis legitimasi politik yang akan berkepanjangan. Pemerintahan interim pasca-kudeta takkan mudah menyusun roadmap transisi tanpa tercapainya kompromi antar semua faksi politik yang bertikai. Dan jika kudeta diniatkan untuk menyingkiran Ikhwan dari dunia politik, itu tentu hanya ilusi. Saya yakin, jika dalam waktu dekat Ikhwan kembali ikut pemilu, mereka akan tampil sebagai pemenang lagi.

Jika itu yang terjadi, Mesir akan kembali lagi ke titik nol demokrasi, bahkan bisa balik ke otokrasi. Kemajuan demokrasi Mesir hanya akan tercapai bila pemilu menghasilkan kekuatan yang makin imbang, atau Ikhwan tampil dengan kubu reformis yang menggantikan faksi pragmatisme konservatif saat ini. Ikhwan perlu meninggalkan romantisisme islamis Turki era Erbakan, lalu beranjak ke reformisme ala Erdogan. Manuver tentara tentu penting juga dalam menentukan nasib demokrasi Mesir ke depan. Tapi yang lebih vital lagi adalah kemampuan kekuatan-kekuatan non-Ikhwan dan non-Salafi dalam menjungkalkan mereka lewat korak suara. Sungguh misi yang tidak mudah!

Kisah Tragis Akhi Mursi

Kisah Tragis Akhi Mursi
Novriantoni Kahar ;   Dosen Paramadina, Pengamat Timur Tengah
KORAN TEMPO, 08 Juli 2013
  

Ini kisah tragis presiden pertama yang terpilih demokratis. Namanya Muhammad Mursi, naik singgasana 30 Juni. Baru setahun lalu akhi (saudaraku) memerintah. Jutaan rakyatnya memberontak dalam aksi tamarrud yang artinya pembangkangan. Itulah mukaddimah bagi tentara untuk kembali tampil ke muka sejarah. Mereka seakan diberi mandat kudeta. Akhi pun dipaksa turun tahta. Padahal, dia diamanatkan untuk menjadi jembatas emas bagi tercapainya impian-impian rakyatnya.

25 Januari 2011 lalu, rakyat itu baru menumbangkan tiran yang terlalu lama bertahta. Husni Mubarak namanya. Dia bukan akhi. Ketika itu, tuntutan rakyat empat perkara. Perkara pertama, tersedianya pangan yang pokok, yakni roti (isyh), dengan harga murah. Kedua, semakin terbukanya ruang kebebasan (hurriyyah) warga negara. Maklumlah, mereka sudah dewasa; tak sepantasnya terus-menerus dipatronase pemipin berlagak pengembala.

Terangkatnya kehormatan insani (karamah insaniyyah) tuntutan ketiga mereka. Terakhir barulah soal keadilan sosial (adalah insaniyyah) yang mereka rasa kian payah dan parah. Demi empat perkara itulah mereka marah. Demi itu pula mereka rela menyabung nyawa walau tiran manapun takkan rela tatanan mereka yang sudah mapan digoyah. Ajaib, mereka berhasil, akhi Mursi dan kawan-kawan agak telat mendukung mereka.

Itu harus kau kenang, ya akhi! Untuk mewujudkan empat tuntutan itulah rezim lama mereka tumbangkan, tatanan baru mereka harap-tegakkan. Pemilu pun diselenggarakan agar muncul pemimpin yang absah. Mujur bagimu, mekanisme syubuhat itulah yang mengantarkanmu bertahta. Engkau mungkin bingung, baru setahun memerintah, ketidakpuasan atasmu langsung memunca. Salah apa?

Menurutku, mungkin karena eforiamu ketika berkuasa dan kurangnya muhasabah. Apakah aku terlalu menyederhakan masalah? Yang kutahu, tak ada transisi demokrasi yang mudah. Engkau dan partaimu mungkin lena ketika mendapatkan bola muntah untuk berkuasa dan menggusur rezim lama yang mati-matian memusuhimu. Seingatku juga, eforiamu di kekuasaan bermula dari ihwal menyalahi janji.

Semoga engkau belum lupa, akhi! Mulanya, partaimu berikrar tak akan mengusung calon presiden supaya tidak memicu fobia-Ikhwani. Tapi mungkin partaimu silau dan sedikit loba. Setelah pemilu legislatif, engkau pun diusung menggantikan sobatmu yang didiskualifikasi karena itu-ini. Kini engkaulah yang justru tampak loba. Dan yang pasti: ingkar janji.

Feelingku, dari situlah kepercayaan, tsiqah kaum muda yang heroik menumbangkan pendahulumu memudar seketika. Sekali berkhianat janji, seterusnya engkau dan partaimu dikutuk curiga. Tak hanya buruk-sangka. Mereka, kaum muda penuh gelora, juga merasa revolusi mereka telah dirampas orang-orang yang punya agenda. Tak hanya kau, mungkin, tapi engkau dan partaimu-lah yang paling kentara dan kena getahnya.

Konon, sabar di kala sebal pun kebajikan penting dalam berdemokrasi. Engkau yang absah memerintah, pantas diberi masa menunaikan impian mereka. Tapi rupanya, dalam waktu setahun saja, yang tampak pada mereka hanya inkompetensimu dalam memerintah. Perekonomian tak terurus secara becus. Membeli roti harus antri. Gas tak sampai ke rumah. Bensin sering tak tersedia. Listrik pun sering tak menyala.

Kau pasti tahu, akhi, di tengah musim panas nan terik, matinya pendingin udara rumah-rumah mereka adalah titah untuk berhamburan ke luar rumah. Dan mereka marah. Berapa yang marah dan banyak mana dengan simpatisanmu ditanya usah. Jutaan mereka memenuhi Tahrir demi menuntut tanggungjawabmu. Apa salahmu? Menurut Blomberg.com 2 Juli, ada 10 blunder yang kau lakukan, akhi! 10 dosa—maaf, meminjam bahasamu—itulah yang membuat dunia seperti berkonspirasi menjatuhkanmu.

Pertama, engkau ingkar janji. Kedua, tak mampu berkoalisi. Ketiga, miskalkulasi terhadap tentara. Keempat, Konstitusimu dituduh condong Ikhwani. Kelima, tak mampu memulihkan wibawa polisi. Keenam, suplai rotimu pakai antri. Ketujuh, kurang lihai membujuk oposisi. Kedelapan, terhadap sektarianisme, engkau tak perduli. Kesembilan, kebebasan media mulai kau kekang. Kesepuluh, listrik dan bensinmu korslet dan itu membakar kemarahan massal.

Kombinasi semua itulah yang berkonspirasi menjatuhkanmu, akhi! Mereka tak mau paham betapa susahnya kau menangani masa transisi. Yang mereka mau, engkau perlu menyewa Yusuf dan Musa. Yusuf menjadi penasehatmu bidang ekonomi, Musa membebaskan mereka dari tirani. Soal kehormatan insani, tuntutan ketiga mereka, engkau hanya perlu rendah hati dan menghindari arogansi. Perkara keadilan sosial tentu tak mungkin terwujud seketika; mereka maklum belaka.

Di hari-hari puncak kemarahan mereka, tahtamu mungkin saja terselamatkan andai kau mau rendah hati dan cepat bermuhasabah. Sayang, pidatomu 1 Juli memastikan kepada mereka bahwa engkau tak punya visi dan tidak pula tertarik islah. Apakah terpendam semacam arogansi padamu, akhi? Kau kan tahu, rakyatmu sudah tak mungkin lagi takut akan gertakan dan sergahan!

Oh ya, sesalku sungguh karena telat menyampaikan pesan tentang Durrahman. Andai sajak itu cepat sampai padamu, mungkin akhir kisahmu takkan sesakit jatuh terkudeta. Andai, ya akhi, puisi ini yang kau baca dalam pidato itu:

“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden/ yang telah kuperintahkan untuk turun tahta/ sebab tubuhku terlalu lapang baginya. Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya akan kubereskan sekarang juga.” (Durrahman, Joko Pinurbo, 2010).

Sesalku tinggi, akhi. Kini entah kisah apa yang bisa kutulis lagi tentang diri dan kaummu. Perih hatiku mengingat 80 tahun lamanya engkau dan kaummu direpresi amn daulah (tentara) tiada henti. Lebih sedih lagi membayangkan nasib apa yang akan menimpa bayi demokrasi yang dikandung negerimu yang diuntit fitnah dan tirani. Ironis, rakyatmu dulu bersorak tatkala tentara yang cerdik—atau culas?—melengserkan penindasmu, kini sukacita pula merayakan tumbangnya engkau. Malang nian nasibmu, akhi!

Aku kini tak tahu berkisah apa. Kata orang, kudeta takkan seketika menstabilkan suatu negeri, apalagi memuluskan jalan demokrasi. Aku pun belum tahu, apakah manuver tentara itu demi vendetta terhadapmu dan jemaahmu atau benar-benar ingin menyelamatkan bangsa. Dunia pun menunggu cemas: apakah bayi demokrasi itu kelak mampu berdiri atau justru terbunuh mati di perang saudara atau medan tirani.

Alah, kenapa pula engkau bilang siap mati demi legitimasi, ya akhi?! Aku sungguh kuatir pengikutmu akan sembrono menerapkan seruan heroik itu. Jika itu yang berlaku, makin genaplah alasan tentara untuk mengekang kebebasan rakyatmu. Tak hanya kau dan pengikutmu yang akan ditumpas, tapi semua mungkin terimbas.

Aku sungguh berharap, engkau dan teman-temanmu kini hanya ditahan demi penataan hidup baru. Baik sangkaku, engkau diberi waktu bermuhasabah agar kelak kembali ke kancah dengan mental yang sudah berubah. Mungkin tak mudah menyembuhkan luka. Tapi perlu kau tahu, engkau dan kaummu tertikam, rakyakmu juga sangat terancam kelam. Berdoalah agar niat baik senantiasa menyertai kisah negerimu dan engkau tampil pulih kapan waktu.