Jumat, 07 April 2017

Menguatkan Akar Pendidikan dari Rumah

Menguatkan Akar Pendidikan dari Rumah
Muazzah Muhammad  ;  Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh;
Mahasiswa Program Master Bidang Pendidikan Tempere University, Finlandia
                                              MEDIA INDONESIA, 03 April 2017

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

BERADA tiga pekan di Tampere, Finlandia, bersama 29 teman guru Sekolah Sukma Bangsa membuat saya takjub. Berbagai konfirmasi atas ung­gulnya sistem pendidikan Finlandia saya dapatkan selama melakukan kunjungan ke be­be­rapa sekolah, mulai pendidikan dini usia hingga tingkat atas. Sistem pendidikan sangat matang dan sangat pantas diadopsi di RI untuk memperbaiki tatanan pendidikan dan aspek kehidupan lainnya.

Menempatkan pendidikan se­bagai megaproyek yang ter­integrasi dengan berbagai bidang lainnya menjadi priori­tas ‘Negeri Seribu Danau’ ini. Setiap sekolah terintegrasi pa­da sistem penunjang, seperti ke­sehatan, telekomunikasi, dan transportasi. Tidak main-main, semua jenjang pendidik­an digratiskan, bahkan buku teks, alat tulis, hingga makan siang disediakan percuma un­tuk siswa pendidikan dasar. Banyaknya kemudahan dan fasilitas untuk siswa jelas membutuhkan biaya besar dan hal itu ditutupi pajak negara yang cukup tinggi.

Berbeda dengan Indonesia, pendidikan hanya menjadi bis­nis kementerian pendidikan dan sekolah sehingga semua kebutuhan pendukung lainnya harus dipikirkan dan ditanggung sendiri oleh penanggung jawab pendidikan. Karena itu, wajar jika sekolah tidak mam­pu men-capture semua kebutuhan siswa mereka. Anggaran yang diberikan pusat untuk sekolah juga ‘pukul rata’ tanpa melihat secara detail kebutuhan tiap sekolah. Sebaliknya, di Finlandia, sekolah mendapatkan anggaran dari pemerintah tidak hanya berdasarkan jumlah siswa, tetapi juga berdasarkan kebutuhan spesifik sekolah-sekolah itu.

Fasilitas untuk keluarga

Setiap sekolah di Finlandia dilengkapi health care, yang secara rutin memeriksa status kesehatan anak sejak masih da­lam kandungan ibunya. Bahkan lebih dari itu, setiap ibu hamil diberi tun­jangan jika mendaftarkan diri di klinik ke­sehatan sekolah terdekat. Tidak sekadar memeriksa kehamil­an, si ibu juga diberi berbagai pengetahuan seputar kehamilan dan pascapersalinan. Dengan begitu, setiap anak akan punya catatan kesehatan yang lengkap dan dapat digunakan sebagai data penunjang saat mengenyam pendidik­an.

Health care juga concern pada pendidikan kesehatan ba­gi orangtua: ibu dan ayah. Selain itu, konsultasi bersama psikolog dan terapis juga disediakan bagi orangtua yang kesulitan dalam pengasuhan dan pendampingan belajar anaknya. Selanjutnya, bagi anak berkebutuhan khusus, fasilitas pendukung seperti kur­si roda, buku audio, dan kompu­ter tunanetra juga disediakan Negara.

Selain fasilitas itu, setiap anak sekolah di Finlandia ju­­ga mendapatkan sarapan un­tuk siswa PAUD dan TK, ma­­kan siang bagi siswa SD, SMP, dan SMA. Karena pemerin­tah sadar, bahwa orangtua anak-anak itu juga bekerja me­layani banyak orang. Sa­ling support di seluruh aspek kehidupan membantu guru dan profesi lainnya lebih fokus pada pekerjaan mereka.

Melibatkan keluarga

Sekolah-sekolah di Finlandia melibatkan orangtua dalam proses pendidikan anak. Di setiap awal tahun ajaran ba­ru, orangtua mendapatkan informasi lengkap tentang ma­teri dan kegiatan yang akan dilakukan anak mereka se­lama setahun. Setiap anak akan diberi lesson plan tersen­diri, tidak sama dengan teman-te­­mannya. Hal itu disebabkan setiap anak punya kebutuhan berbeda dengan anak lainnya.

Tidak hanya itu, saran dan masukan orangtua juga sangat dipertimbangkan karena sekolah sadar bahwa orang yang paling mengerti si anak ialah orangtuanya. Bahkan saat sekolah ingin mengambil keputusan tentang pencapai­an dan penempatan kelas seorang anak, keputusan orangtualah yang menjadi penentu akhir.

Namun begitu, pihak sekolah tetap memberikan saran, gam­­baran, dan berbagai pertimbangan lainnya. Hal itu sangat bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia karena se­kolah terlalu sering dan me­rasa paling tahu tentang pen­capaian seorang siswa.

Mendengarkan sen­di­ri pe­nu­turan dari seorang guest lec­ture yang merupakan ibu ti­ga anak yang berkebutuhan khu­sus, pada sa­lah satu mata kuliah yang saya ikuti, semakin memperkuat evidence betapa mapannya sistem pendidikan di Finlandia. Sang guru tamu memaparkan cara pendampingan dan kerja sama keluarganya yang begitu intens dengan pihak sekolah putra-putra mereka. Diagnosis tentang ketiga anaknya didapat sejak usia dini, melalui pemantauan dan hasil pemeriksaan pihak sekolah dan paramedis.

Memiliki anak-anak dengan gangguan konsentrasi dan a­ten­si/ADHD, autis, dan epilepsi tidak menjadikannya minder. Bahkan memicu semangat belajarnya hingga ia memutuskan melanjutkan pendidikan di bidang pendidikan inklusif, berhenti bekerja sebagai engineer, dan terus belajar agar mampu mendampingi anaknya dengan benar.

Ia hanya satu dari banyaknya ibu hebat dan mau terus belajar untuk mendukung pendidikan anak-anak mere­ka. Ada banyak ibu dan ayah muda yang berkuliah sambil membawa anak ke kampus. Day care disediakan untuk membantu para ibu tetap mampu menempuh pendidikan tingginya. Seperti kita tahu bahwa ibu adalah ‘awalul madrasah’ bagi semua anaknya. Karena itu, tidak heran jika mutu pendidikan di Finlandia unggul dan patut dicontoh.

Memberikan kesempatan se­­tinggi-tingginya bagi setiap warga negara untuk memperka­ya diri dengan ilmu akan menjadikan setiap keluarga memiliki akar pendidikan sangat kuat. Gagal di bidang pendidikan akan menyebabkan kegagalan pada semua aspek kehidupan. Semoga keluarga-keluarga di RI mampu mengikuti jejak keluarga-keluarga di Finlandia dalam kecintaannya menuntut ilmu sehingga generasi berikutnya semakin unggul dan siap menghadapi kemajuan dan persaingan globalisasi.

Selain itu, saya juga berha­rap pemerintah Indonesia me­lalui Kementerian Pendidik­an dan Kebudayaan terus menginisiasi program penguatan kapasitas orangtua untuk peduli dengan pendidikan anak-anak mereka. Ketiadaan program parenting education di tingkat sekolah yang disatukan dengan skema pembiayaan sekolah berbasis sekolah perlu dimulai.

Agar segitiga stakeholder pendidikan, yaitu orangtua, se­kolah, dan pemerintah, dapat menjalankan fungsi mereka sesuai dengan kapasitas, hak dan tanggung jawab mereka. Jika itu dilakukan, tak akan ada lagi orangtua yang takut akan kegagalan anak-anak mereka.

Tak mudah menjadi orangtua dan guru, apalagi di zaman seperti sekarang ini ketika da­­ya kritis dan fantasi anak ber­­kembang lebih cepat daripa­­da masa dulu. Karena itu, baik juga bagi kita untuk merenungkan nasihat Rachel Carson: “If a child is to keep alive his in­born sense of wonder, he needs the companionship of at least one adult who can share it, re­discovering with him the joy, excitement and mystery of the world we live in.”

Dalam mendidik, membiar­kan anak menerawang dan berangan-angan ialah salah sa­tu kunci sukses bahwa seorang anak memiliki mimpi dan cita-cita. Namun, seperti kutipan itu, kita tak seharusnya membiarkan angan-angan mereka berkeliaran secara liar tanpa pendampingan yang cukup dalam rangka membimbing angan-angan itu. Karena itu, tugas kita sebagai orangtua dan guru memberikan res­pons yang positif, termasuk di antaranya memberikan kritik dan pengingat jika angan-angan itu berlebihan.