Tampilkan postingan dengan label Setio Boedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setio Boedi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Desember 2013

Surat Cinta kepada Caleg

Surat Cinta kepada Caleg
Setio Boedi  ;   Penikmat Budaya, Tinggal di Semarang
SUARA MERDEKA,  19 Desember 2013
  


Anggota legislatif (caleg), baik untuk DPR, DPD, maupun DPRD: meskipun saat ini Saudara belum menjadi wakil rakyat, sesungguhnya bila niat disertai hati bersih untuk memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, itu adalah niat mulia.

Apalagi di tengah potret buram lembaga legislatif yang terus terpuruk di mata masyarakat lewat keterbongkaran berbagai skandal, kepercayaan publik kepada lembaga ini seperti terjun bebas.

Tak banyak orang berani membuang diri ke sana, untuk siap berkeringat dan berdarah- darah menyuarakan tangis rakyat kecil. Dari antara orang yang tak banyak itulah, Saudara salah satu di antara mereka. Itu sebabnya saat waktu pemilu terus berlari makin dekat, sekitar 4 bulan lagi detik-detik proses demokrasi segera terjadi, saya memberanikan diri menulis surat cinta ini.

Saudara yang mulia, calon wakil kami di lembaga legislatif, izinkanlah pada awal surat ini, saya bertanya, “Apa motivasi Saudara yang mulia mengajukan diri sebagai caleg, apa pun kendaraan Saudara dalam perjalanan menuju pemilu?” Tolong dijawab dengan jujur dan hati bersih. Andai bermotivasi mencari uang, menambah pundi-pundi kekayaan, maaf betapa celaka hasil kerja Saudara yang mulia.

Itu adalah orientasi demi mengeruk keuntungan pribadi, termasuk demi kelompok sendiri. Jadi, semua fungsi lembaga legislatif (legislasi, penganggaran, dan pengawasan) akan diupayakan mendapatkan keuntungan materi. Bukankah sejarah di depan mata menyatakan demikian? Sebagai lembaga yang membuat/menentukan undang-undang ataupun perda, godaan uang sangat besar ada pada lembaga itu.

Pertanyaan awal ini merupakan lonceng penentu keberhasilan Saudara sebagai wakil rakyat alias penyambung lidah penderitaan rakyat, bukan majikan rakyat. Itu sebabnya dalam proses perjalanan menuju pemilu nanti, hendaklah Saudara tidak terlalu boros mengobral uang untuk memajang wajah di perempatan jalan, di kaca mobil, di warung kaki lima. Itu semua menghabiskan uang besar. Belum lagi jika harus mencari orang-orang yang bertugas sebagai pengumpul suara, yang jelas jasa mereka tidak gratis.

Kian besar pengeluaran ada kecenderungan makin besar pula niatan Saudara untuk tak hanya mengembalikan modal, tapi juga mengeruk keuntungan. Betapa tega bila demikian, dengan metafora wakil rakyat tetapi sejatinya memperalat rakyat demi kenikmatan perut sendiri. Cerdaslah dalam mengenalkan diri kepada rakyat, kehidupan Saudara selama ini adalah buku terbuka bagi masyarakat di dapil Saudara.

Saya berharap yang terpilih nanti adalah orang yang punya jiwa pelayan masyarakat, yang peka terhadap detak jantung rakyat kecil. Yang berprinsip, tak harus studi banding ke luar negeri untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, cukup ke desa-desa tertinggal.

Terus memelihara semangat, gairah setelah terpilih menjadi wakil rakyat seperti ketika masa pengenalan kepada masyarakat, semasa berkampanye. Artinya, tak ada lagi anggota DPR atau DPRD sering membolos, ngantukan, bahkan tidur di ruang sidang. Saat Saudara absen, atau tidur di tengah persidangan, uang rakyat tetap menggaji Saudara.

Tak lagi membuka situs porno saat sidang, karena bukan hanya Saudara yang menanggung malu ketika Saudara dipermalukan dengan perbuatan semacam ini. Harapan yang rasanya sulit tetapi tetap saya bangun adalah kiranya Saudara yang mulia benar-benar menjauhkan diri, bahkan kalau pun hendak berniat, langsung alergi terhadap suap/korupsi.

Spirit dan Nyali

Semoga Saudara yang mulia adalah caleg yang visioner, berani memperjuangkan kebenaran tetapi juga berada dalam kebenaran. Siap sendirian ketika memperjuangkan kebenaran itu, bahkan ditinggalkan teman-teman dekat sekalipun. Saudara yang mulia, ingatkah dengan Yap Thiam Hien? Seorang advokat yang nasionalismenya tidak diragukan.

Dia advokat yang berani mendampingi Soebandrio dalam sidang Mahmilub dengan dakwaan terlibat dalam peristiwa 30 September 1965. Kesaksian hidupnya yang lain yang menyatakan sebagai advokat yang tidak pandang bulu adalah tatkala mendampingi Basoeki, terdakwa kasus peledakan beberapa kantor Cabang BCA di Jakarta Barat, pada 4 Oktober 1984. Meskipun kasus yang ditangani bernuansa SARA, Yap tetap profesional. Bahkan Basoeki sebelum meninggal, menulis tentang Yap, “Yap Thiam Hien, yang berani menegakkan keadilan hukum di Indonesia.” (Yap Thiam Hien-100 Tahun Sang Pendekar Keadilan, KPG-Tempo 2013).

Yang akan saya sampaikan justru tahukah Saudara yang mulia jika Yap pernah menjadi anggota Konstituante hasil Pemilu 1955? Tahun 1959 nama dia mencuat karena terlibat perdebatan sengit di Konstituante. Ia satu-satunya anggota Konstituante yang menentang UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan konsep kepresidenan yang terlampau kuat.

Beranikah Saudara yang mulia memiliki spirit dan nyali seperti Yap? Yang meski ditinggalkan rekan-rekan dekat tetap teguh berjuang demi kebenaran? Selamat berjuang Saudara-saudaraku. Jika gagal tidak perlu depresi, apalagi bunuh diri. Pengabdian kepada Indonesia tidak terbatas di gedung parlemen.

Selasa, 12 November 2013

Menyongsong Kepahlawanan Sejati

Menyongsong Kepahlawanan Sejati
Setio Boedi  ;   Penikmat Budaya, Tinggal di Semarang
SUARA MERDEKA,  11 November 2013

  
"Memiliki hati untuk rela berkorban demi rakyat adalah syarat mutlak bagi seorang yang berjiwa pahlawan"

SUKA atau tidak suka, mau atau tidak mau, dalam tiap peradaban sebagaimana sejarah, citra kepahlawanan dari seseorang bergantung pada sang pemenang alias rezim penguasa saat itu. Berkait Hari Pahlawan yang baru saja diperingati segenap anak bangsa ini, kita pun kembali diusik untuk merenungkan lebih dalam mengenai hakikat kepahlawanan sejati.

Betapa mahal sebuah kemerdekaan ketika sudah diproklamirkan oleh Bapak Bangsa maka tiada kesempatan lagi bagi penjajah untuk kembali. Pertempuran di Surabaya, 10 November 1945 adalah terbesar setelah kemerdekaan RI. Inggris bersama India datang atas nama Sekutu dengan misi melucuti Jepang dan memulangkannya, juga membebaskan tawanan Dai Nippon.

Namun mereka juga berkehendak mengembalikan Indonesia kepada Belanda, dengan  Netherlands Indies Civil Administration (NICA) sebagai pembonceng gelap. Tentu rakyat kita melawan. Dipimpin banyak tokoh masyarakat dan agama, seperti Bung Tomo dan KH Hasyim Asy’ari, rakyat melawan kolonial. Inilah yang melatarbelakangi pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Tapi bukankah yang bergelar pahlawan tak hanya yang gugur dalam peristiwa ìSoerabaia  1945î? Ada pahlawan Indonesia yang ”menakjubkan”. Dia Ernest Douwes Dekker. Kendati dalam tubuhnya mengalir darah  Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, ke mana-mana ia selalu mengaku orang Jawa.

Lahir di Pasuruan, 8 Oktober 1879 (tahun yang sama dengan kelahiran RA Kartini), dan pada  20 Mei 1908 juga hadir dalam Kongres I Boedi Oetomo. Dia pula bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara membidani  kelahiran Indische Partij, partai politik pertama Hindia Belanda, yang beranggaran dasar pada 25 Desember 1912.

Yang menarik, Douwes Dekker harus mengalami sesaknya penjara di beberapa negara akibat perjuangannya. Dia kerap menjadi objek buruan Belanda. Bagi Belanda, ia dianggap sebagai pengkhianat negara. Tetapi bagi Indonesia dia pahlawan bangsa, dan itu sebabnya ketika meninggal (28 Agustus 1950), ia dimakamkan  di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung.

Bandingkan dengan mantan penguasa Orba, Soeharto, yang 32 tahun memimpin negeri ini. Sampai sekarang dia belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional, meski saat berkuasa gelar Bapak Pembangunan dan Jenderal Besar dianugerahkan kepadanya. Jadi, benarlah ucapan Napoleon Bonaparte, ”Sejarah itu ditulis oleh para pemenang”.

Banyak sekali nilai-nilai kepahlawanan yang bisa diteladani dari pahlawan bangsa kita. Namun dari semua nilai-nilai mulia kepahlawan, bisa kita peras dalam satu nilai agung: rela berkorban. Pahlawan sejati punya hati untuk rela berkorban. Sangatlah sederhana membedakan antara pahlawan dan pengkhianat karena mudah alat ukurnya.

Pahlawan berkorban diri pribadi demi kepentingan banyak orang atau rakyat, sebaliknya pengkhianat mngorbankan banyak orang atau rakyat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dari sini terlihat jelas yang manakah pahlawan andai kita diperhadapkan pada dua sosok.

Pertama; seorang  guru yang setia mengabdi di daerah pedesaan, bahkan pulau terluar di Indonesia, dengan imbalan hanya ratusan ribu rupiah tiap bulan. Kedua; pejabat pemerintah yang bergaji belasan, bahkan ”hanya” puluhan juta rupiah, tetapi tetap bisa mengoleksi rumah dan mobil mewah. Mana yang sebenar-benarnya pahlawan?

Syarat memiliki hati rela berkorban adalah mutlak bagi seorang yang berjiwa pahlawan. Dari zaman kapan pun sampai masa kapan pun. Bahkan ungkapan bijak menyatakan ”tak ada yang baru di bawah matahari ini, polanya sama”. Karena itu pula, kita saat ini pun bisa membuat daftar bayangan terhadap orang-orang yang sering muncul di media massa, apakah mereka pahlawan ataukah pengkhianat?

Pahlawan 2014

Negara kita sebentar lagi mempunyai hajat besar, membelanjakan triliunan rupiah untuk proses demokrasi ini. Menurut jadwal Pemilu 2014 dilaksanakan dua kali, yakni Pemilu Legislatif (Pileg) pada 9 April 2014 yang akan memilih anggota legislatif dan Pemilu Presiden (Pilpres) pada 9 Juli 2014 yang akan memilih Presiden.

Mulai sekarang banyak orang yang punya kepentingan terkait dengan tahun depan setor wajah di jalanan dan media massa. Hati-hati, jangan terkecoh. Pengalaman membuktikan bahwa orang acap berbaik-baik bila punya maksud tersembunyi. Alat ukurnya tetap sangat sederhana. Pertama; mari kita kenali mereka. Bagaimana mungkin kita memilih orang-orang yang tidak kita kenal?

Seperti saat ujian, bila kita menjawab soal-soal yang tidak kita ketahui jawabannya; akhirnya seusai ujian, deg-degan karena bersandar pada faktor untung-untungan. Lebih baik tidak mengisi jawaban ketimbang menjawab tetapi seandainya salah, nilai kita dikurangi. Betapa konyol bila memilih wakil rakyat (alias kita sendiri) yang sama sekali tidak kita kenal.

Kedua; tengok rekam jejak mereka selama ini. Adakah hati pahlawan dalam diri mereka? Bukan hanya dalam setahun terakhir, melainkan juga waktu-waktu yang lalu. Hati pahlawan tak pernah berubah, ia mau mengorbankan diri demi kepentingan rakyat. Bukan sebaliknya, mengorbankan rakyat demi kepentingan diri atau kelompoknya. Mari kita songsong pahlawan sejati 2014. Selamat Hari Pahlawan. ●

Rabu, 30 Oktober 2013

Perlindungan bagi Koruptor

Perlindungan bagi Koruptor
Setio Boedi   Penikmat Budaya, Tinggal di Semarang
SUARA MERDEKA, 29 Oktober 2013


NYATALAH adagium ”Mens Sana in Corpore Sano”, ungkapan terkenal Bahasa Latin yang sering diterjemahkan menjadi ”A Healthy Mind in a Healthy Body” (”Di Dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Kuat”) makin rontok setelah diuji oleh lamanya waktu. Di negara kita mayoritas pelaku tindak pidana, khususnya korupsi, adalah orang yang secara jasmani sehat. Bahkan ketika tampil di media, bisa seperti selebriti.

Tak ada korelasi sebab-akibat untuk urusan jasmani dengan jiwa. Banyak orang yang secara fisik mengalami kekurangan tetapi kesaksian hidupnya banyak melakukan perbuatan mulia. Thomas Alfa Edison, sampai usianya yang ke-84, mematenkan lebih dari 1.000 karya penemuannya. Padahal dia lemah dalam pendengaran. Juga motivator kelas dunia, yang memiliki keterbatasan fisik pada kaki dan tangan, Nick Vujicic, yang kehadirannya dirindukan banyak orang.

Untuk menjadi koruptor, tak perlu menanti sakit atau cacat tubuh. Karena  justru dengan badan sehat, pelaku bisa lincah lari ke sana  ke mari untuk bertransaksi. Kegeraman masyarakat terhadap koruptor paling tidak terwakili ketika Akil Mochtar di hadapan beberapa pekerja pers (12/3/12) menyampaikan, ”Miskinkan koruptor dan potong jari tangannya!”

Tiga Area

Kita perlu mewaspadai tiga areal yang memungkinkan terjadinya korupsi. Pertama; kemampuan. Hanya orang yang memiliki kekuasaan/wewenang  yang bisa menyimpangkan aturan (power tends to corrupt). Jika berada pada posisi pemegang kekuasaan, waspadalah karena Anda termasuk sasaran empuk virus korupsi. Tak ada orang yang imun terhadap serbuan dari virus ini jika  dia tidak memberi dirinya antibodi yang baik. 

Kedua; kemauan. Meskipun orang memiliki kekuasaan, kesempatan untuk korupsi, tapi bila ia tak mau melakukan, tidak akan terjadi peristiwa korupsi. Masih banyak orang yang memegang tampuk kekuasaan lokal dan nasional bisa tetap bekerja dengan jujur dan rajin. Godaan materialisme tidak  membuatnya lupa diri.

Ketiga; rasa malu. Secara sosiologis inilah benteng terakhir untuk membendung tsunami gelombang korupsi. Di tengah erosi budaya malu bagi para petinggi, terekspresi tetap percaya diri saat tampil di banyak media ketika tertangkap atau setelah duduk di kursi pesakitan, saat ini merupakan tugas kita masing-masing untuk menata ulang puing-puing rasa malu.

Bila kekuasaan berada di tangan kita, artinya kita punya kemampuan untuk korup dan pada saat yang sama pun tergoda (kemauan) menerima uang yang bukan hak kita, tiba-tiba roh rasa malu memantik hati untuk tidak melanjutkan. Pada zaman online seperti saat ini, hukuman kepada koruptor (yang tertangkap) sangatlah berat. Ketika tertangkap tangan, ia langsung ditayangkan di televisi atau media online. Posisi terhormat sebagai pemegang kekuasaan langsung runtuh. Harusnya rasa malu kepada rekan kerja, tetangga, dan keluarga besar sangat menekan pelaku tindak pidana ini.

Tekanan-tekanan hidup kepada koruptor tidak hanya terhadap dirinya tapi juga pada istri/suami, dan anak. Itu berarti lingkungan pergaulan keluarga (pekerjaan, di tempat ibadah, di sekolah atau masyarakat) seakan-akan mendera tiada henti. Label sebagai koruptor, istri/suami koruptor, atau anak koruptor, sulit dihapuskan dari lingkungan sekitar.

Bahkan yang sulit diukur adalah hukuman dari media massa. Teringat ucapan Arswendo Atmowiloto, saat tersandung kasus Tabloid Monitor tahun 1990-an. Dia yang juga wartawan senior tahu benar detak jantung pers, saat itu dia  berujar, ”Saya ngeri. Betapa tajamnya pena wartawan. Judul ‘Arswendo Diseret ke Pengadilan’ saja sungguh sangat menekan saya.”

Pelindung Sejati

Belum hukuman formal yang diketokkan hakim. Bayangkan semula menjadi raja kecil di lingkungannya, selalu dilayani, kini jadi warga binaan di lembaga pema0syarakatan. Sesungguhnya hukuman bagi koruptor sangat berat jika mereka semua masih memiliki urat malu. Apalagi bila imbauan Akil Mochtar itu diterapkan.

Kepada siapakah koruptor berlindung ketika semua sudah terbongkar? Sulit mencari pelindung sejati. Justru teman-teman baik akan pergi, minimal enggan mendekat, takut kalau-kalau ikut terjerat. Sebuah kisah klasik  bertutur, suatu saat guru yang bijak tiba di sebuah kampung. Dia didatangi beberapa orang yang membawa seorang perempuan yang tertangkap tangan berzinah. ”Guru, apa yang harus kita lakukan kepadanya?”

Sang guru menulis dengan jari ke tanah dan berkata, ”Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.” Apa yang terjadi? Pergilah mereka satu per satu meninggalkan kerumunan dan perempuan itu. Tidak ada penghukuman terhadap perempuan itu.


Kisah ini menjadi menarik bukan hanya mengungkap perlindungan kepada sosok perempuan (karena tiap terjadi perzinahan tentu ada dua orang lawan jenis), melainkan juga ucapan guru itu kepadanya, ”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan mengulangi lagi!”
Apa korelasi kisah itu dengan  pertanyaan ”kepada siapa koruptor berlindung”? Jelas koruptor tidak bisa lepas dari jerat hukum. Hadapilah sebagai seorang kesatria yang menerima tiap konsekuensi tindakan. Tetapi tetaplah berlindung kepada Tuhan, Pencipta dan Pemelihara seluruh kehidupan. ”Pergilah (dari perilaku korup) dan jangan mengulangi lagi!”

Kamis, 06 September 2012

Media Massa dan Antikorupsi


Media Massa dan Antikorupsi
Setio Boedi ;  Penikmat Budaya, Tinggal di Semarang
SUARA MERDEKA, 06 September 2012


"Media massa saat ini harus benar-benar bebas dari kekuasaan, baik dari kekuasaan politik maupun ekonomi"

TIADA kejahatan yang begitu dahsyat dan berbahaya di negeri kita saat ini, kecuali korupsi. Karena dengan korupsi, sendi-sendi bangsa terus digerogoti secara pelan dan pasti sampai darah dan kekayaan negeri ini habis. Lihatlah, betapa mengerikannya gerak penghancuran bangsa ini, semua lini berebutan memanfaatkan kesempatan demi perut sendiri, keluarga, dan kelompoknya.

Tak ada lagi budaya malu. Meski pejabat terhormat bahkan di area yang tampaknya steril dari korupsi (Departemen Agama), tercengkeram oleh ketamakan. Korupsi adalah vampir. Seperti vampir yang selama ini kita kenal, akan tampil anggun pada siang hari tapi segera mengerikan pada malam hari.

Ada beberapa wilayah yang harus mendapat perhatian utama dalam membangun semangat pantang korupsi ini. Sebut saja keluarga. Sebagai institusi terkecil, keluarga adalah lahan paling subur untuk membangun hidup jujur dan tidak bermental maling. Berikutnya adalah sekolah, kapan tiap sekolah di Indonesia mengajarkan tentang bahayanya korupsi? Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat pernah menyatakan bahwa pendidikan antikorupsi telah menjadi bagian dalam kurikulum UIN.  

Bahkan ada berita yang menggembirakan bahwa Binus University sejak tahun lalu menerapkan kebijakan akan mencabut ijazah kesarjanaan lulusannya  yang terbukti korupsi. Sungguh melegakan bila ada lembaga pendidikan yang ikut terbebani moral dalam memperbaiki bangsa ini dari wabah korupsi.

Yang ketiga adalah tempat ibadah. Silakan pembaca menebak isi pikiran kaum ateis ketika melihat bangsa Indonesia, yang begitu terkenal sebagai bangsa religius, tempat ibadahnya selalu penuh apalagi bila hari raya masing-masing agama, tetapi ironisnya sekaligus sebagai bangsa yang  terpenjara oleh budaya korupsi. Kita semua menanti peran pemimpin semua agama untuk aktif memerangi korupsi dari mimbar masing-masing.

Yang keempat adalah media massa alias pers. Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan singkat ini. Apa  peran media dalam membangun iklim bangsa yang sedang memberantas korupsi?

Pramoedya Ananta Toer, pengarang hebat kelas dunia kelahiran Blora, dalam karyanya banyak menyampaikan tentang peran penting surat kabar, terutama dalam menyadarkan  bangsa yang lama sekali ditekan oleh penjajah. Dari salah satu bukunya yang terkenal, Anak Semua Bangsa (Hasta Mitra, 1981 hal. 179-180), Kommer salah satu tokoh yang ditulisnya berkata kepada  Minke, pemilik koran Medan, ’’Pengarang (bisa dibaca penulis-Red) yang baik, Tuan Minke, seyogianya dapat memberikan kegembiraan kepada pembacanya, bukan kegembiraan palsu... Berilah harapan kepada pembaca Tuan... Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.’’

Kebebasan Media

Bukankah korupsi itu bukan bencana alam? Itu berarti bagi Pram, korupsi bisa dilawan oleh manusia.

Prof Koh Young Kun, anggota staf pengajar di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Seoul, Korea menggarisbawahi dalam bukunya Pramoedya Menggugat ñ Melacak Jejak Indonesia (Gramedia, 2011). Dia menulis, ’’Pramoedya adalah seorang pengamat yang peka terhadap perubahan zaman dalam sejarah bangsanya... Melalui ruangan sastra ’Lentera’ di surat kabar Bintang Timur, Pramoedya menyalurkan esai-esainya yang bersifat peninjauan kembali tentang sejarah modern Indonesia yang ditulis oleh murid-muridnya serta beberapa penulis lain...(hal. 218)

Pramoedya memakai media untuk mempengaruhi bangsa, bagaimana dengan media kita saat ini? Apakah  terus mengasah pisau kepekaan terhadap perubahan zaman yang terjadi? Betapa memprihatinkan jika media sekarang masih saja lebih menekankan kepada sisi industrialisasi daripada area idealisme. Masihkah kita bisa berharap dari media massa?

Harapan yang seperti apa?  Pertama; media yang berani menyampaikan fakta adalah fakta. Kalaupun memasukkan interpretasi, semua berdasarkan data objektif. Kedua; media yang bukan hanya menerima fakta dan memberitakannya, melainkan juga investigasi.

Media saat ini tidak  masanya lagi hanya mengandalkan informasi dari meja jumpa pers atau dengan  andalan data singkat konservatif, 5 W + 1 H tetapi harus dipikirkan pula what is next? Ketiga; media benar-benar bebas dari kekuasaan, baik dari kekuasaan politik maupun ekonomi.

Jika media kita mau menerjunkan diri  turut ambil bagian dalam pemberantasan korupsi, dia harus rela melakukan tiga hal itu secara terus-menerus. Dengan demikian pers benar-benar menjadi agen perubahan masyarakat yang lebih baik, membangkitkan nasionalisme sejati. Melalui pers pula bangsa ini makin memahami bahwa nasionalisme alias mencintai Tanah Air yang sejati adalah tidak melakukan korupsi.