Tampilkan postingan dengan label Al Quran - Tema-tema Pokok Alquran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Quran - Tema-tema Pokok Alquran. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2018

Tema-Tema Pokok Alquran (II)

Tema-Tema Pokok Alquran (II)
Ahmad Syafii Maarif  ;   Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
                                                     REPUBLIKA, 20 Maret 2018



                                                           
Kedua, manusia sebagai individu. Manusia adalah ciptaan Allah seperti makhluk ciptaan lainnya. Tetapi, kelebihan manusia dengan makhluk yang lain karena Tuhan “meniupkan roh-Nya kepadanya” (Q 15:29; 38:72; 32:9). Menurut F Rahman, Alquran tampaknya tidak mendukung teori dualisme jiwa-raga secara radikal, karena dua entitas itu dalam satu perpaduan, tidak bisa dipisahkan.

Dalam kehidupan dunia, manusia diperintahkan untuk melakukan perjuangan moral tanpa henti. Dalam perjuangan ini, Tuhan bersama manusia dengan syarat manusia sebagai wakil Tuhan dengan pilihan bebasnya mau melakukan segala upaya yang perlu, demi terciptanya sebuah tatanan moral sosial di bumi (hlm 18).

Untuk menghadapi setan sebagai kekuatan jahat, manusia perlu mengembangkan perilaku takwa (upaya melindungi diri seseorang menghadapi konsekuensi-konsekuensi berbahaya atau buruk dari perbuatan seseorang) (hlm 29). Setan adalah kekuatan anti-manusia, bukan anti-Tuhan. Tugasnya untuk memperdaya manusia agar tergelincir dari jalan yang lurus.

Takwa memberikan kestabilan kepada manusia dalam menentukan pilihan moralnya. Di akhirat nanti, manusia mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia di depan Tuhan sendiri-sendiri. Dengan demikian, hidup yang hanya sekali ini sangat menentukan nasib manusia di akhirat kelak.

Ketigam manusia dalam masyarakat. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan utama Alquran adalah membangun sebuah tatanan sosial yang dapat berlangsung terus di atas bumi yang didasarkan pada prinsip keadilan dan etika. Tidak pernah ada dalam sejarah manusia, individu tanpa masyarakat. Dalam perspektif ini, konsep perbuatan manusia, khususnya yang menyangkut takwa hanyalah punya arti dalam konteks sosial (hlm 37).

Tujuan Alquran tentang sebuah tatanan etika, egalitarian, dan adil diumumkan bersamaan dengan penolakan keras terhadap ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang marak dalam masyarakat komersial Makkah pada saat itu. Merebaknya penyalahgunaan anak-anak perempuan, anak yatim, dan kaum perempuan, serta adanya lembaga perbudakan memerlukan perubahan yang berani (ibid.) Maka doktrin tauhid (monoteisme) yang diajarkan Alquran bertaut rapat dengan perjuangan menegakkan keadilan dalam masyarakat.

“Menghidupkan kesadaran khususnya kesadaran kolektif menjadi sangat penting," tulis Barlass, dalam komentarnya terhadap karya F Rahman ini. “Manusia dan masyarakat adalah tunggal, berkerja menuju sebuah tujuan yang lebih tinggi,” tulis Barlass. (Lihat Mohammad Mosa Barlass, Major Themes of the Qur’an dalam http:www.montly-renaisance.com/issue/content.aspx?id=188#1,  April 2014, hlm 3).

Keempat, alam semesta. Pembicaraan tentang kosmogeni tidak banyak dalam Alquran. Berbeda dengan manusia dengan hak pilihan bebasnya, alam semesta hanya punya satu pilihan, yaitu tunduk kepada Tuhan melalui hukum-hukum yang telah ditetapkan. Itulah sebabnya alam semesta dikatakan Muslim, karena ketaatan dan ketundukannya kepada kemauan Tuhan.

Alam semesta ini tidak bisa menjelaskan dirinya, tetapi ia “adalah sebuah tanda yang menunjuk kepada sesuatu ‘di luar’ dirinya, sesuatu yang tanpa itu alam semesta, dengan segala sebab alamiahnya, akan menjadi tiada dan hampa" (Lihat F.Rahman, Major, hlm 69).

Alam semesta dengan segala keteraturannya diciptakan untuk kepentingan manusia, tetapi tujuan manusia sendiri tidak lain selain untuk mengabdi kepada Tuhan, untuk berterima kasih kepada-Nya, dan hanya semata-mata untuk menyembah-Nya (Ibid, hlm 79).

Berterima kasih dan menyembah Tuhan bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan sepenuhnya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dan Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang serius, bukan untuk permainan.

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami [untuk dimintai pertanggungjawaban?]” (Q 23: 115).

Kelima, kenabian dan wahyu. Bab ini memaparkan kenabian dan wahyu sebagai fenomena universal. Di seluruh dunia telah diutus rasul-rasul Allah, baik yang disebut maupun yang tidak disebut dalam Alquran (Q 40:78; 4: 164). Sebagian rasul itu terbatas untuk lingkungan kaumnya saja, tetapi pesan yang disampaikan itu tidak bersifat lokal, tetapi punya makna universal yang mesti dipercayai dan diikuti oleh seluruh manusia.

Inilah yang dimaksud dengan konsep kesatuan kenabian. Melalui pesan kenabian, kesadaran manusia akan meningkat tinggi sehingga mereka akan mampu melihat secara jelas Tuhan sebagai Tuhan dan setan sebagai setan (Ibid, hlm 80).

Dari daftar para nabi dan rasul yang panjang itu, Muhammad adalah nabi penutup, dan tidak akan muncul lagi nabi sesudahnya, dan Alquran sebagai wahyu terakhir. Ini menjadi tanggung jawab berat bagi mereka yang mengaku Muslim (Ibid, hlm 81) untuk meneruskan risalah kenabian itu, demi kepentingan manusia sejagat. ●

Tema-Tema Pokok Alquran (I)

Tema-Tema Pokok Alquran (I)
Ahmad Syafii Maarif  ;   Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
                                                     REPUBLIKA, 13 Maret 2018



                                                           
“Resonansi” ini adalah revisi dan pengayaan dari materi yang saya sampaikan di Forum Kajian Eksekutif di Jakarta pada 21 Februari 2018, sebuah forum warisan alm Prof Dr Nurcholish Madjid dan kemudian diikuti diskusi dengan tema serupa oleh Penerbit Mizan di kampus UIN Sunan Kalijaga pada 28 Februari 2018.

Tema-Tema Pokok al-Qur’an karya Fazlur Rahman (1919-1988) ini terbit pertama kali tahun 1980 (lih Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an. Minneapolis-Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980). Sejauh bacaan saya, pendekatan terhadap Alquran jenis ini belum pernah ada dalam khazanah literatur Islam di mana pun dan di zaman apa pun.

Umumnya Alquran diterjemahkan dan ditafsirkan ayat demi ayat, dan bila perlu diberi ulasan panjang atau singkat agar pembaca lebih memahami ayat-ayat yang ditafsirkan itu.

Keunikan karya ini terletak pada kemampuan penulisnya untuk memetakan pesan-pesan Alquran itu secara sintetik berdasarkan tema-tema utama tentang: Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia dalam Masyarakat, Alam, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, dan Bangkitnya Komunitas Muslim sebagaimana yang akan dibicarakan secara singkat berikut ini berdasarkan karya aslinya di atas dalam bahasa Inggris.

Harapan saya agar para pembaca punya minat untuk setidak-tidaknya mengikuti terjemahan oleh Ervan Nurtawab dan Ahmad Baiquni dari Penerbit Mizan tahun 2018 dari edisi terbitan The University of Chicago Press 2009 dengan judul di atas.

Dijelaskan bahwa karya ini merupakan jawaban mendesak sebagai sebuah pengantar tentang tema-tema utama Alquran yang tidak dijumpai dalam karya-karya yang ditulis sekian jauh oleh para sarjana Muslim dan sarjana non-Muslim. Tujuannya agar orang dapat mengenal tema-tema di atas dengan membiarkan Kitab Suci berbicara sendiri tentang dirinya (hlm vi).

Tentu saja pemahaman penulisnya tentang Alquran tidak lepas dari pengaruh latar belakang pendidikan dan pengalaman dan pengembaraan spiritual dan intelektualnya yang panjang, baik di Pakistan, di Universitas Cambridge, Inggris, dan kemudian melalui interaksinya yang luas dan intens dengan peradaban Barat modern.

Karya yang kita bicarakan ini ditulis saat F Rahman bertugas sebagai guru besar pada Universitas Chicago sejak 1969 sampai wafat pada 1988. Di kampus inilah F Rahman berhasil mengembangkan pemikiran keislamannya secara bebas dan berani, sesuatu yang tidak didapatinya di Pakistan.

Dikatakan oleh penulisnya bahwa melalui hanya pemaparan sintetik ini sajalah sebagai satu-satunya cara yang dapat memberikan kepada pembaca cita-rasa sejati terhadap Alquran sebagai perintah Tuhan untuk manusia (hlm vii). Karya-karya sarjana Barat, sekalipun berguna untuk diikuti, pendekatan yang mereka gunakan tidak memungkinkan pembaca memahami dan menghayati Alquran secara benar, jujur, dalam, dan komprehensif.

Sama halnya, tafsir-tafsir Alquran oleh kalangan sarjana Muslim lainnya akan berbeda sama sekali pendekatannya dibandingkan dengan karya F Rahman ini. Sayang, usia F Rahman tidak cukup panjang untuk menulis sebuah karya yang lebih luas tentang pandangan dunia Alquran, sesuatu yang sebenarnya juga mendesak untuk menembus jalan buntu yang tengah dihadapi peradaban Muslim kontemporer.

Selanjutnya, berikut ini tema-tema utama Alquran itu kita coba membicarakannya, sekalipun pasti tidak akan mencakup substansinya secara utuh.

1. Tuhan. Alquran adalah sebuah dokumen yang benar-benar ditujukan untuk manusia, atau sebagai “petunjuk bagi manusia” (Q 2: 185). Dengan demikian, petunjuk itu sepenuhnya bersifat fungsional, punya nilai praktikal, baik untuk kehidupan perorangan maupun untuk kehidupan kolektif.

Alquran bukanlah sebuah risalah tentang Tuhan dan sifat-Nya. Dia Pencipta, Pemelihara alam semesta dan manusia, dan khususnya Pemberi petunjuk kepada manusia dan pada saatnya mengadilinya, baik perorangan maupun kolektif, dengan keadilan yang penuh kasih sayang. Dia Tunggal, tidak berbagi dengan yang lain. “Dia adalah dimensi yang membuat dimensi-dimensi yang lain menjadi mungkin” (hlm 4).

Mengapa harus Tuhan? Mengapa alam semesta, isi, dan prosesnya tidak berjalan dengan sendirinya tanpa menyambungkannya dengan wujud yang lebih tinggi-sesuatu yang hanya memperumit realitas dan meletakkan beban yang tidak perlu atas intelek dan jiwa manusia?

Alquran menyebut ini sebagai “keyakinan dan kesadaran tentang yang gaib.” Tetapi, yang gaib ini sampai kadar tertentu bagi orang-orang khusus seperti nabi menjadi “nyata” melalui wahyu, sekalipun hakikat wahyu ini tidak bisa diketahui sepenuhnya oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan.

Kehadiran Tuhan dapat dirasakan oleh mereka yang melakukan perenungan, yaitu “orang yang takut kepada Yang Maha Pengasih dalam keadaan gaib dan menghadap dengan hati yang bertobat.”(QS 50: 33). Kasih sayang Tuhan tidak saja ditunjukkan dalam pengampunan-Nya terhadap dosa manusia, tetapi juga melalui apa yang dikurniakan-Nya kepada kita dalam bentuk bumi dan seisinya.

Maka seluruh rantai—penciptaan—pemeliharaan—petunjuk—pengadilan, yang semuanya sebagai perwujudan kasih sayang Tuhan—menjadi sangat masuk akal sehingga Alquran menyatakan keheranannya mengapa masalah ini dipersoalkan. Dua masalah yang sering dipertanyakan adalah yang awal dan yang akhir: peran Tuhan sebagai Pencipta dan peran-Nya sebagai Hakim (hlm 9).

Manurut Alquran, hanya tersedia satu jalan lurus menuju Tuhan, sedangkan yang lain itu bengkok (QS 16:9). Kepada jalan lurus inilah umat manusia diarahkan oleh Alquran. ●