WAWANCARA (2)
Jika
Waktu Berulang, BTP Tetap Ingin Masuk Penjara
Oleh : ANDY RIZA HIDAYAT
KOMPAS,
1 Februari 2019 10:23 WIB
Sejak keluar dari penjara, pada 24 Januari lalu, mantan
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias BTP belum pernah sekali pun
melakukan wawancara resmi dengan media. Harian Kompas berkesempatan secara
eksklusif mewawancarai Basuki saat dia mengunjungi sahabatnya, Banu Astono,
wartawan Kompas yang tinggal di Cimanggis, Kota Depok Jawa Barat, Rabu
(30/1/2019).
Kepada Banu, Basuki menuturkan, hidup di penjara tidak
membuat pikirannya terpenjara. Dia merenungi perjalanan hidupnya setelah berada
di sana. Tidak ada yang perlu disesali. Basuki justru mensyukuri sempat hidup
di penjara. Bahkan, jika waktu bisa diputar ulang, dia tetap ingin hidup di
penjara.
Mengapa demikian? Simak bagian kedua wawancara eksklusif
dengan Basuki.
Pelajaran
apa yang Anda dapat selama di penjara?
Di penjara itu ibarat mengikuti program master. Ada teman
bertanya, apakah mau jadi gubernur lagi jika waktu diputar ulang? Jujur saya
bilang, jika waktu diputar balik dan menjadi gubernur pun, saya mau pilih masuk
penjara.
Jika jadi gubernur, saya hanya menguasai Balai Kota
Jakarta dalam lima tahun. Mungkin tambah percaya diri, tambah arogan, tidak
sempat baca buku, tidak sempat berpikir holistik. Saya kerja dari 04.00 hingga
23.00, belum lagi bangun dini hari mengecek pasukan biru dan pasukan oranye
melalui telepon genggam. (Sebagai gubernur) Saya mesti menyapa mereka. Selamat
pagi, hati-hati kerja. Itu yang saya sampaikan setiap hari.
Tetapi, jika di penjara saya bisa menguasai diri sendiri.
Jika tidak dapat menguasai diri, hidupmu akan sesak. Sebab, banyak hal yang
tidak akan kamu terima. Seperti saya, jika tidak menguasai diri, saya akan
terus bertanya, apa salah saya masuk penjara. Mana ada gubernur aktif ditangkap
masuk penjara. Ini cuma ada di agresi militer Belanda. Memang saya penjahat?
Jika dipikir panjang, ini tidak masuk akal. Jika saya ada kebencian, saya tidak
akan datang ke rumah ini. Karena itu, jika Anda menghadapi kesulitan, harus
dihadapi dengan perspektif yang benar. Ini penting.
Apakah
Anda menaruh dendam kepada mereka yang pernah ikut andil memenjarakan Anda?
Tidak.
Bagaimana
Anda bisa berpikir seperti itu?
Saya banyak belajar dari orang-orang yang datang ke
penjara, dari buku, dan dari perenungan saya. Sekarang saya tidak perlu
berpikir macam-macam menghadapi perbedaan pandangan. Buat apa saya meladeni,
untungnya apa.
Misalnya, ada perdebatan antara sebuah gagasan. Dahulu
(sebelum masuk penjara), saya dulu tertantang untuk meminta penjelasan orang
yang berbeda pendapat dengan lawan debat berjam-jam. Sekarang tidak lagi. Buat
apa.
Jika cara berpikirnya berbeda, buat apa diperdebatkan.
Apakah
ada buku yang menginspirasi Anda terkait pandangan Anda saat ini?
Saya banyak baca buku, salah satunya buku yang bercerita
tentang biksu. Dia dituduh membunuh tetangganya. Orang-orang menuding biksu itu
pembunuh tetangganya sendiri. Tetapi, dia tidak membantah tudingan itu. Dia
hanya mengatakan, ”Baiklah.” Hingga kemudian terbukti orang yang membunuh
tetangganya bukan si biksu itu. Orang yang dulu menuduhnya meminta maaf kepada
biksu. Biksu tetap seperti sikapnya semula, ”Baiklah.”
Apa
artiya ini?
Jika Anda difitnah, pasti itu atas seizin Tuhan. Jika
Anda menggugat, Anda lama-lama akan menggugat telur burung unta pertama kali di
mana, kasih tahu saya. Ini tidak akan selesai. Makanya, ada pertanyaan dalam
diri saya apakah mau belajar atau tidak? Buku-buku itu membuat saya
tercerahkan.
Hal
apa yang sekarang ada dalam pikiran Anda?
Saya berusaha untuk mengurangi kebencian. Jika dibiarkan,
nanti sesak hidup ini. Di salah satu buku yang saya baca, ada kalimat yang
mencerahkan saya. Jika kamu memaafkan seseorang, sebenarnya kamu melepaskan
seseorang dalam penjara, dan tahanan itu adalah kamu sendiri. Saya pikir ini
benar.
Sekarang, saya sedih tidak terlalu sedih, seneng tidak
terlalu seneng, wajar-wajar saja. Saat di penjara, saya tidak pernah lihat TV.
Setelah keluar, keluarga membelikan TV baru, anehnya saya tidak ingin melihat
TV, apalagi bingung memainkan tombol remote.
Dulu saya sering lihat HP (telepon seluler) jika jalan.
Sekarang saya pusing lihat HP jika jalan di mobil. Saya pakai jam tangan yang
bisa nyambung dengan sistem HP.
Apa
saja rencana Anda dalam waktu dekat ini?
Saya mau jalan-jalan, berangkat Februari pulang akhir
April atau awal Mei. Paling lama saya akan pergi ke Jepang. Saya, kan,
dipenjara 21,5 bulan. Saya pergi selama itu wajar dong. Di Jepang mau lihat
bunga sakura mekar, di Malaysia mau makan durian. Sebelumnya, saya mau pulang
ke Belitung dan periksa gigi. Saya sekarang sudah punya SIM jadi mau mencoba
mobil baru dulu.
Tidak terasa obrolan kami berlangsung 1 jam 30 menit,
padahal hari itu Basuki berencana ingin menemui sejumlah orang. Banu Astono
selaku tuan rumah meminta maaf tidak dapat menyambut kebebasan Basuki dari Mako
Brimob. Namun, dia yakin persahabatan tak lekang oleh waktu. Basuki akan
menemui para sahabatnya pada kesempatan berikutnya. ***