Tampilkan postingan dengan label Kisah Soegijapranata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Soegijapranata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Romo Soegijo


Romo Soegijo
Arswendo Atmowiloto ; Budayawan
SUMBER :  KOMPAS, 09 Juni 2012


Saya membaca judul film Soegijo dengan tambahan Romo dalam hati. Juga dalam percakapan, dalam ingatan, dan terutama dalam kesadaran. Bukan semata karena merasa kurang hormat tidak menyebut predikat, melainkan karena keromoan dan kesoegijoan sudah menyatu, bulat tak terceraikan.

Sebagaimana kredo nasionalisme yang sakti, tag line yang abadi. ”Seratus persen Indonesia, seratus persen Katolik”. Seratus persen berlaku selama masih ada Indonesia, masih ada Katolik.

Sebagaimana hubungan istri-suami, tak selalu harus disebutkan dengan urutan suami-istri, yang satu jua adanya, tanpa kehilangan identitas diri masing-masing. Keutuhan—yang sekilas paradoksal—adalah dinamika dari realitas empiris yang telah terbuktikan.

Dua Sisi Mata Uang

Bahkan, pengakuan pertama atas kemerdekaan Indonesia oleh Vatikan adalah buah utuh karakter dan integritas seorang Monsinyur Albertus Soegijapranata. Rasanya sulit terjadi kalau yang melakukan diplomasi itu Romo yang bukan manusia Indonesia. Sama sulit membayangkan orang Indonesia yang bukan Romo yang mengakui dan diterima dalam hierarki di Vatikan.

Demikian juga ketika pada masa revolusi, yang menentukan mati-hidup dan legitimasi, keuskupan pusat dipindahkan ke Yogyakarta dari Semarang lantaran Ibu Kota berpindah dari Jakarta. Semua hanya dimungkinkan karena menyatunya antara keromoan dan keindonesian seorang bernama Soegijo. Tidak mungkin muncul dari satu kekuatan saja, tetapi kekuatan dua sisi mata uang.

Ini mata uang yang sama ketika Romo Mangunwijaya ikut dalam genangan air mata duka di Kedung Ombo.

Tindakan dan sikap yang terungkap dari keromoan sekaligus juga kemangunan, yang menyingkap energi yang berlebih, lebih dari sekadar mengutamakan kepentingan pribadi. Justru sebaliknya, menyatu dengan kondisi dan keberadaan umat yang menderita, yang terluka.

Sebagai pribadi, beliau-beliau ini sebetulnya bisa menikmati berada dalam zona aman. Namun, mereka justru tetap memilih bersama umat yang tersisih, yang sedih, dan butuh kasih teladan berwujud pada harapan nyata. Bahkan, sudah jadi kenyataan sejarah: Romo Soegijo menghardik tentara Jepang atau memaksakan perundingan gencatan senjata.

Inilah yang membedakan Romo Soegijo mengapa tak harus ikut memanggul senapan atau berhenti menuliskan refleksi dalam puisi, misalnya. Inilah yang membedakan dengan sosok yang lain, tanpa meniadakan peran satu dengan lainnya, tanpa menjadi siapa yang harus nomor satu.

Kadang terpikir mengapa (film itu) tak dijuduli Romo Soegijo atau Romo Kanjeng; gelaran hormat dari masyarakat. Atau mengapa harus dihilangkan keromoannya. Adakah perhitungan komersial—yang juga tidak salah meski belum tentu benar menguntungkan—lebih dipentingkan?

Kalau jawabannya iya, bisa dimaklumi meskipun tidak selalu berarti tidak diterima. Kalau jawabannya karena faktor lain, apakah rendah hati atau takut ”pada bayangan hitam di bulan”, ini semakin memperkeruh kisruh komunikasi yang sedang berlangsung di negeri ini.

Dari segi pemberitaan, identitas yang merupakan bagian dari data dan fakta yang adalah nyawa berita terpangkas sehingga tafsiran berkembang. Misal saja penyerbuan—kata ini pun bisa dipertanyakan—suatu ormas, tanpa menyebutkan ormas apa yang menyerbu dan atau diserbu. Atau kasus geng motor—padahal mereka mungkin penjahat yang mengendarai motor—yang ketika melibatkan nama angkatan, tak jelas angkatan mana atau aparat apa.

Kita menjadi ketakutan sebagai mana dulu nenek moyang takut bayangan hitam di bulan lantaran tak mengetahui mengapa terlihat hitam. Dalam perilaku lain, kisruh komunikasi menemukan diri dari persoalan yang hangat.

Kasus Lady Gaga membuktikan bahwa kita tak belajar apa-apa dan akhirnya akan mengulang hal yang sama. Apakah Lady Gaga ditolak karena terlalu erotis atau karena menganjurkan memuja setan—perlu klarifikasi dari setan untuk kepastian atau hal lain. Justru yang menjadi penyelesaian adalah karena izin tidak ada atau pembatalan. Padahal, bukan itu jawaban yang bisa menjadi pegangan bersama.

Kasus grasi yang diberikan kepada ratu narkoba, Corby, juga menyisakan pertanyaan yang sama. Tanpa jawaban yang bisa dijadikan pegangan atau perbandingan perkara yang lebih-kurang sama. Kasus lain soal lahan—baik perkebunan maupun tempat peribadatan yang sempit—semakin mempersulit mencari jawaban yang baik dan benar.

Bandara Soekarno-Hatta

Alangkah memedihkan kalau judul film ini juga bagian dari ketakutan yang dibenarkan sebagai tahu diri atau istilah sopan apa pun yang digunakan sebagai topeng penyembunyi kebenaran. Banyak kasus, apalagi yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), tiba-tiba harus tidak jelas identitasnya.

Alhasil, yang menjelas justru keremangan persoalan. Dan, dengan demikian, kita tak pernah menuntaskan persoalan yang ada selain lama-kelamaan semakin takut, semakin mengerut, dan pokok persoalannya tetap nglemeng. Ibarat suhu badan antara panas dan dingin, suam-suam kuku.

Rasanya bukan suatu dosa, juga bukan kesalahan, kalau kita menyebut Romo Soegijo atau ada yang memeluk agama Katolik. Rasanya, dalam surat penetapan sebagai pahlawan nasional, uskup pertama dari tanah ini juga tak dituliskan dalam sepenggal nama.

Dia bukanlah nama yang harus disamarkan sebagaimana media massa menyebutkan nama ”mawar” untuk korban pemerkosaan atau melindungi di balik sebutan oknum.
Barangkali ini saat yang baik untuk membuka diri, mengakui keimanan dan cara beriman, tanpa beban berlebihan meskipun tetap waspada dan berhati-hati. Barangkali hanya masalah judul, akan tetapi saya merasa ada yang lebih memprihatinkan.
Barangkali berlebihan, seperti saya merasa tak nyaman menyebut bandara di Cengkareng itu sebagai Soetta. Apalah salahnya mengucap Bandara Soekarno-Hatta secara lengkap sebagai tanda hormat kita kepada proklamator yang dengan gagah berani menyatakan kemerdekaan negeri ini. Apa ruginya menyatakan terima kasih dan kekaguman dengan sebutan lengkap dibandingkan dengan singkatan ”Soetta” yang tidak menyapa kebanggaan dan kebangsaan kita?
Dan, kemerdekaan, bagi Romo Soegijo yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, adalah gugatan untuk diri sendiri. ”Apa artinya terlahir sebagai bangsa merdeka jika gagal untuk mendidik diri sendiri.” Termasuk mendidik tidak menjadi takut atau ikut mengingkari jati diri. ●

Kamis, 07 Juni 2012

Semarang Rumah (Film) Soegija


Semarang Rumah (Film) Soegija
Budi Widianarko ; Rektor Unika Soegijapranata Semarang
SUMBER :  SUARA MERDEKA, 7 Juni 2012


"Ungkapan Mgr Soegija, ”100% Katolik, 100% Indonesia” menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu tokoh nasionalis utama"

”...Pada jam 12.35 pesawat Hercules yang membawa rombongan jenazah mendarat di lapangan terbang Kalibanteng Semarang, di mana sudah ditunggu oleh para penjemput, baik dari fihak pemerintah daerah maupun dari fihak umat Katolik serta masyarakat yang bukan Katolik.” (
Sr Henricia Moeryantini CB, 1975)


NUKILAN itu menggambarkan peristiwa bersejarah kedatangan jenazah Mgr Albertus Soegijapranata SJ, yang berpulang di Steyl Tegelen Negeri Belanda pada 22 Juli 1963, ke Semarang. Siang (29/03/1963) itu, iring-iringan mobil yang panjang bergerak dari Kalibanteng ke Katedral Randusari untuk penerimaan jenazah oleh Keuskupan Agung Semarang.

Setelah disemayamkan selama beberapa jam, termasuk pelaksanaan misa besar requiem pada jam 18.00, peti jenazah diserahkan kepada pemerintah diwakili Panglima Kodam VII (kini Kodam IV)/Diponegoro Brigjen Sarbini. Jenazah disemayamkan ke Gedung DPRGR Daswati I Jateng Jalan Taman Menteri Supeno. Tuguran semalam suntuk dilaksanakan di tempat itu. .

Seperti ditulis oleh Sr Henricia, kota Semarang mendadak mengalami kesibukan luar biasa. Ada arus masuk rombongan dari berbagai kota menggunakan bus dan mobil pribadi. Esoknya (30/03/1963), jenazah diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal. Di tempat itu berlangsung dua upacara; gerejani dan militer. Perkabungan dua hari itu membawa kesan mendalam bagi pelayat.

Sr Henricia menuliskan, ”Di mana ada negara yang baru 1% penduduk katoliknya memberikan penghormatan sedemikian besar dengan mempersembahkan upacara kenegaraan yang istimewa kepada seorang uskup?” Lebih lanjut ia menuliskan,” Sejauh saya dengar memang baru di Indonesia, hal yang demikian dapat terjadi”.

Kini, hampir setengah abad setelah peristiwa pemakaman yang penuh kesan mendalam itu, serentak di berbagai penjuru Tanah Air pada 7 Juni 2012  film Soegija tayang perdana. Kota Semarang mendapat kehormatan untuk gala premiere film itu dua minggu sebelumnya (21/05/12).

Semarang layak mendapat kehormatan karena kota ini adalah tapak tempat Mgr Soegijapranata berkarya nyata, memainkan peran cantik nan berimbang antara pemuka agama Katolik di satu sisi dan tokoh kebangsaan di sisi yang lain. Tidak berlebihan jika Kota semarang di-daphuk menjadi rumah bagi film Soegija.

Pahlawan  Nasional

Penetapan Mgr Albertus Soegijapranata SJ sebagai pahlawan nasional tidak lama setelah ia mangkat, berdasarkan SK Presiden Nomor 152 Tahun 1963 menyiratkan ketokohannya. Mgr Soegija adalah pastor pribumi pertama yang ditahbiskan sebagai Uskup menjelang kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa baru.

Segera setelah ditahbiskan sebagai Uskup untuk Vikaris Apostolik Semarang pada 6 November 1940 Mgr Soegija harus berhadapan dengan masa yang penuh tantangan menuju Perang Dunia II, hingga pendudukan Jepang tahun 1942 dan kecamuk revolusi kemerdekaan. Ketokohannya  tumbuh subur di tengah situasi yang penuh ketidakpastian saat itu.

Ungkapan Mgr Soegija, ”100% Katolik, 100% Indonesia” terus terngiang hingga saat ini. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu tokoh nasionalis utama. Ia berhasil mengajak segenap umat Katolik untuk menjadi bagian pergerakan kemerdekaan. Dalam konfrontasi Indonesia dan Belanda ia berhasil menempatkan umat Katolik Indonesia dalam posisi tegas. Di satu pihak, gereja Katolik bersifat supranasional , di lain pihak orang-orang Katolik mendukung sepenuhnya perjuangan adil bangsa Indonesia.

Dalam sebuah artikel pada Majalah Commonwealth (edisi Desember 1948) yang terbit di Amerika Serikat, Mgr Soegijapranata menyatakan blokade terhadap pusat kekuasaan Republik Indonesia di Yogyakarta dan sekitarnya yang dilakukan Belanda bukan hanya berdampak ekonomi tetapi juga telah memengaruhi pikiran warga Indonesia.

Akibat blokade itu sejumlah warga mulai termakan pengaruh komunis. Ketiadaan sandang dan papan dimanfaatkan oleh kaum komunis untuk mengumbar janji. Berkenaan dengan keadaan itu, Mgr Soegijapranata mengimbau pembaca warga AS untuk mencari jalan menghentikan blokade Belanda atas Indonesia. Sedikit banyak, tulisannya ikut membukakan mata dunia terhadap situasi di Indonesia, hingga berujung pada Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia  (A History of Christianity in Indonesia, Aritonang & Steenbrink; 2008).

Di Kota Semarang sendiri, jejak kepahlawanan Mgr Soegija terekam dalam catatan Pertempuran Lima Hari pada 14 Oktober 1945. Ketika itu, para pemuda sudah kehilangan kesabaran menyaksikan perilaku tentara Jepang yang masih tetap menduduki Semarang, padahal Jepang sudah kalah perang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah terjadi.

Dipancing

Para pemuda dipancing untuk menyerang Kota Semarang dan memusatkan diri di kawasan Jurnatan. Di lokasi itulah rencananya para pemuda kita akan dihabisi oleh berondongan mitraliur yang sudah disiapkan oleh Jepang. Mgr Soegija berjuang keras untuk mewujudkan gencatan senjata, sehingga meyelamatkan pemuda pemuda Indonesia dari rencana pembunuhan besar-besaran oleh Jepang (baca buku Sr. Henricia, 1975).

Pascawafatnya, Mgr Soegijapranata banyak meninggalkan jejak di Semarang. Cungkup makamnya yang khas di TMP Giri Tunggal adalah jejak fisik utama. Sebagai pahlawan nasional, namanya diabadikan sebagai nama jalan utama antara Wisma Perdamaian (rumah dinas Gubernur Jateng di Tugumuda) dan Jembatan Banjirkanal Barat. Bahkan sisa dana pembangunan cungkup di TMP Giri Tunggal pun menjadi benih sebuah yayasan sosial yang menyandang namanya. Karya Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) kini mencakup banyak bidang, seperti panti jompo, panti asuhan cacat ganda, permukiman, penjahitan, balai poliklinik dan lainnya.

Sejak 1982, Soegijapranata juga dipilih sebagai nama perguruan tinggi di Semarang, yaitu Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata. Kami, civitas academica Unika merasa yakin bahwa menyandang nama Mgr Soegija adalah sebuah tanggung jawab sejarah. Untuk terus menggali dan mengkaji nilai-nilai Soegijaparanata yang relevan, baik dalam kerangka historis maupun kekinian, Unika telah mendirikan The Soegijapranata Institute (TSI).

Patut disyukuri, TSI telah menapaki satu langkah kecil yang membuka pintu bagi langkah besar mendatang, yaitu digitalisasi semua tulisan, pidato, dan catatan Mgr Soegija. Dalam spirit yang sama, film Soegija yang disutradarai dan diperankan oleh Garin Nugroho dan Nirwan Dewanto — yang kebetulan bukan pemeluk Katolik— adalah pertanggungjawaban sejarah dalam bentuknya yang paling indah. Inilah taman sari keindonesiaan. ●