Tampilkan postingan dengan label Damin Hartono R. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Damin Hartono R. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2015

Jurus Tekan Harga Beras

Jurus Tekan Harga Beras

Damin Hartono R  ;  Kepala Perum Bulog  Divre Jawa Tengah,
Pemerhati Masalah Pangan dan Pertanian
SUARA MERDEKA, 06 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                

BEBERAPA tahun terakhir ini harga pokok pembelian (HPP) beras mengacu Inpres Nomor 3 Tahun 2012 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah. Regulasi itu menentukan HPP Rp 6.600/kg. seiring dengan kenaikan inflasi selama 4 tahun di Indonesia, patokan harga tersebut sudah tidak sesuai, karena kini beras di pasaran bisa mencapai Rp 10.000, bahkan Rp 13.000.

Jika harga beras naik hingga 30% seperti belakangan ini maka hukum supply and demand pun berlaku.  Ada beberapa faktor penyebab kenaikan harga beras. Pertama; tidak ada penyaluran raskin pada November dan Desember 2014 mengingat sudah diberikan pada Februari-Maret 2014. Kedua; penyaluran raskin alokasi Januari 2015 pun menunggu keputusan pemerintah terkait wacana menggantinya dengan E-money.

Ketiga; musim paceklik lebih panjang. Biasanya Januari sudah mulai panen padi hingga panen raya pada Maret. Tahun ini panen padi baru dimulai Februari dan panen raya diperkirakan pada April hingga Maret. Masa panen raya juga mundur karena pengaruh cuaca terkait El Nino tahun lalu.

Keempat; produksi padi turun (tidak sesuai sasaran). Tahun 2014, menurut BPS produksi padi nasional turun 0,63% dibanding sebelumnya. Penurunan produksi gabah tahun lalu disebabkan iklim kemarau basah yang tidak cocok untuk padi sehingga luas panen padi menurun 0,30% atau 41.600 ha, dan produktivitas menurun 0,17 kuintal/ha.

Produksi padi 2014 hanya 70,83 juta ton gabah kering giling (GKG) atau berkurang 440.000 ton dibanding tahun sebelumnya: 71,27 juta ton. Di Jateng luas panen padi 2014 turun 2,42%, dari 1.840.000 ha tahun 2013 menjadi 1.800.000. Produktivitas juga menurun 4,65% dari 56,06 kuintal/ha menjadi 53,57 kuintal. Produksi padi di Jateng 2014 hanya 9.650.000 ton GKG atau turun 6,73% dibanding tahun sebelumnya: 11.636.965 ton.

Penyebab siginifikan kenaikan harga beras juga karena tidak adanya penyaluran raskin selama tiga bulan. Tiap bulan Bulog menggelontorkan 232 ribu ton raskin, dan untuk Jawa 37.233 ton. Kita bisa membayangkan bila tidak ada penyaluran raskin 3 bulan, padahal kebutuhan makan tidak bisa ditunda. Untuk mencukupi kebutuhan makan, orang yang biasanya menerima raskin ikut membeli beras di pasar.

Sekarang ini masa paceklik juga cukup panjang, mulai Agustus 2014 hingga Februari 2015, padahal  biasanya hanya sampai Januari. Untuk itu, perlu mencari jurus ampuh guna menekan harga beras melalui percepatan penyaluran raskin dan operasi pasar (OP). Setelah pemerintah memastikan program raskin tahun 2015 dilanjutkan, Bulog Divisi Regional Jawa Tengah melakukan percepatan penyalurannya.

Mengisi Stok

Penyaluran untuk alokasi Januari dilakukan mulai minggu I Februari. Untuk jatah Februari, dilakukan minggu II dan III bulan itu. Adapun untuk Maret diberikan pada minggu I dan III bulan itu. Hasil strategi percepatan raskin, cukup mengembirakan karena harga beras premium mendekati normal, semula Rp 13.000/kg turun jadi Rp 9.500-Rp 10.500. Beras medium setara beras raskin yang awalnya Rp 11.000 jadi Rp 7.300-Rp 8.000.

Upaya lain meredam harga beras adalah lewat OP dengan menjual beras eceran ke pasaran umum, langsung ke konsumen atau ke pedagang beras guna mengisi kekosongan stok di pasar. Namun berdasarkan Permendag No 04/M-Dag/ Per/1/2012, OP masih terkendala beberapa hal, salah satunya mekanisme/prosedur yang tidak sederhana.

Artinya, lebih dulu ada kajian tim pemkab/pemkot yang menyatakan terjadi kenaikan harga beras 10% selama sepekan dibanding rata-rata harga tiga bulan. Berdasarkan kajian itu, bupati/wali kota membuat usulan ke gubernur, yang selanjutnya meneruskan ke Mendag dengan tembusan ke Mentan selaku Dewan Ketahanan Pangan Nasional. Mendaglah yang memutuskan perlunya OP dengan memerintahkan Bulog.

Ke depan, perlu menyederhanakan birokrasi itu supaya bisa memberikan ruang bagi Bulog untuk cepat berinisiatif melakukan OP. Hal itu butuh regulasi yang bisa langsung mengamanatkan Bulog mengambil tindakan guna menekan harga. Selain itu, pemerintah harus menganggarkan cadangan beras pemerintah (CBP) melalui APBN. Upaya itu supaya ada stok beras yang sewaktu-waktu bisa digunakan.

Setelah kita bisa menekan harga beras, ke depan perlu mengupayakan peningkatan  kualitas. Saat ini produksi beras tidak perlu diragukan, namun kualitas kadang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini karena sarana produksi padi dan peralatan/ mesin-mesin penggilingan yang dipakai belum memenuhi standar sehingga terjadi susut pascapanen hingga 23%.

Masyarakat masih mengandalkan sistem geplokan untuk merontokkan padi dari tangkainya. Hal itu perlu perbaikan melalui mekanisasi alat mesin pertanian (alsintan) supaya bisa menimalisasi susut pascapanen sekaligus mendukung percepatan swasembada beras.

Sabtu, 26 Juli 2014

Komitmen Jaga Stabilitas Harga

                               Komitmen Jaga Stabilitas Harga

Damin Hartono R  ;   Kadivre Perum Bulog Jateng,
Pemerhati Masalah Pangan dan Pertanian
SUARA MERDEKA, 25 Juli 2014
                                                


"Ke depan perlu ada komitmen menjaga koordinasi yang baik antara pemerintah dan pihak-pihak terkait"

MENJELANG Ramadan, dan terutama mendekati Lebaran, selalu terjadi gejolak kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Realitas itu dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat berkait Idul Fitri. Kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat kadang bukan disebabkan tidak tersedianya pasokan melainkan bisa jadi karena ulah spekulan. Pemburu rente tersebut menimbun komoditas kebutuhan pokok masyarakat supaya bisa mengeruk sebesar-besarnya keuntungan.

Mencermati yang terjadi akhir-akhir ini, publik bisa melihat ada yang berbeda dari Ramadan dan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, kendati hampir mendekati Lebaran, tidak terjadi lonjakan harga-harga seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun ada, angkanya tidak signifikan, dalam arti tak ada lonjakan harga yang terlalu tinggi untuk sejumlah bahan pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Sebut saja harga komoditas seperti beras, gula pasir, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, hingga bumbu, yang hingga mendekati Lebaran masih terkendali dan cukup stabil. Bila ada kenaikan harga, itu masih dalam batas wajar sehingga tetap membuat masyarakat tenang menjalankan ibadah pada bulan suci. Lalu, sebenarnya fenomena apa ini? Semua itu tidak terlepas dari hukum permintaan dan penawaran.

Fenomena yang terjadi sekarang dipengaruhi oleh beberapa faktor pengendali, yakni pemerintah dan sejumlah pihak sudah merencanakan jauh-jauh hari. Mereka mengamankan pasokan pangan dan kebutuhan pokok masyarakat sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu tinggi berkait momen Hari Raya. Terlebih, semua pihak rupanya menghayati 2014 adalah tahun politik. Jadi penjabarannya, supaya tak menambah persoalan, apalagi menimbulkan konflik maka persediaan dan keterjangkauan pangan diamankan dan diinformasikan jauh-jauh hari. Berbagai rencana mengamankan harga dan pasokan ketersediaan pangan pun sudah dijalankan sekarang, semisal menggelar pasar murah atau operasi pasar pada Ramadan hingga menjelang Lebaran.

Dengan aksi tersebut, secara otomatis spekulan tak berani menimbun stok bahan pangan. Perum Bulog, sebagai penyedia bahan pangan masyarakat di antaranya beras, gula pasir, minyak, hingga daging sapi pun berperan aktif mengendalikan harga jauh-jauh hari dengan membuka outlet di seluruh kantor dan gudang. Hasilnya, bisa kita nikmati sekarang, yakni tak terjadi lonjakan harga tinggi sebagaimana umumnya Ramadan, apalagi menjelang Lebaran. Perum Bulog Divre Jateng, berkait momen itu atas permintaan pemda mempercepat penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) pada bulan Juli, untuk dua alokasi Juli-Agustus. Kebijakan itu membuat warga yang kurang mampu tercukupi pasokan bahan pangan pokoknya dalam menghadapi Lebaran. Ketercukupan warga kurang mampu akan kebutuhannya secara otomatis meminimalisasi pengeluaran anggaran untuk membeli beras. Stok Cukup Faktor lain sebagai pendukung kestabilan harga pangan pada Ramadan dan Lebaran kali ini adalah bersamaannya dengan musim panen.

Panen dalam konteks ini bukanlah panen raya serentak di seluruh daerah melainkan secara sporadis, lumintu atau terus-menerus sepanjang tahun. Kendati kemarau tahun ini diperkirakan disertai gejala El Nino, kondisi cuaca basah sangat mendukung untuk mencukupi kebutuhan beras bagi masyarakat. Begitu pun produksi gula, yang saat ini bertepatan dengan musim giling sehingga produksi dan pasokan sangat terjamin guna mencukupi kebutuhan masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu bersyukur mengingat mereka menyambut Idul Fitri bersamaan dengan musim panen. Harga beras premium super jenis C4 yang umumnya dikonsumsi masyarakat, pada awal Juni sebelum Ramadan Rp 8.000/kg. Saat ini, setelah memasuki akhir Ramadan bahkan mendekati Lebaran, masih terkendali pada kisaran harga Rp 8.500/kg, yang berarti terjadi kenaikan ’’hanya’’Rp 500. Perum Bulog Divre Jateng mencatat stok raskin atau beras medium masih mencukupi hingga 9 bulan ke depan sampai panen tahun 2015. Saat ini, stok di gudang Bulog tersedia 318 ribu ton, dari pengadaan selama semester I tahun 2014 sebesar 342 ribu ton. Adapun beras yang sudah disalurkan 343 ribu ton, sedangkan penyaluran tiap bulan 37.232 ton untuk dibagikan kepada 2.482.157 rumah tangga sasaran (RTS), dan tiap rumah tangga mendapat jatah 15 kg/bulan. Sementara untuk beras premium, stok per bulan 75 ton hingga 100 ton, sementara 1.000 ton stok gula pasir tersimpan di gudang Bulog se-Jateng. Supaya fenomena harga stabil dan terkendali pada Ramadan dan Lebaran bisa kembali dinikmati oleh masyarakat pada tahun-tahun mendatang, ke depan perlu ada komitmen untuk menjaga koordinasi yang baik antara pemerintah dan pihak-pihak terkait.

Selain itu, meningkatkan pemantauan rutin oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), dan pemda pun diharapkan merencanakan sedini mungkin program-program, seperti ketersedian, keterjangkauan, kelancaran, dan terinformasikannya masalah pangan. Yang tak kalah penting adalah memfasilitasi dan memperluas operasi pasar dan pasar murah untuk masyarakat. Bahkan percepatan penyaluran raskin pada hari-hari besar keagamaan seperti sekarang ini harus kembali dilaksanakan pada tahun-tahun depan. Aksi nyata di lapangan dan koordinasi yang baik sesuai kewenangan masing-masing akan membuat spekulan tidak bisa bergerak. ●