Minggu, 17 Desember 2017

Adicerita Hamka (2)

Adicerita Hamka (2)
Azyumardi Azra ;  Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta;
Anggota Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
                                                 REPUBLIKA, 30 November 2017



                                                           
Hamka dengan sosok intelektual dan aktivisme meninggalkan adicerita  yang direkonstruksi James Rush amat baik: Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia (edisi Inggris 2016; Indonesia 2017). Buya A Syafii Maarif dalam pengantar menegaskan, karya Rush perlu dikaji para ahli secara khusus.
Adicerita. Inilah salah satu fokus utama pembahasan //Hamka’s Great Story// dalam seminar internasional yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Profesor DR Hamka (22/11/17).

Di mana terletak adicerita Hamka yang tercakup dalam judul buku ini? Rush menjelaskan, Hamka yang banyak bicara, banyak berpendapat, serta perasa mendapatkan banyak pembaca [dan pengikut]. Meski gaya tulisannya menghibur dan populer, dia membahas perkara-perkara serius. Pembaca [dan pengagumnya] bertanya kepada dia, meminta bimbingan dalam hal-hal penting dalam kehidupan mereka.

Menurut Rush, memang bagi jutaan Muslim Indonesia, Hamka menjadi juru cerita utama generasi mereka; pencipta narasi besar atau adicerita yang menurut Robert Berkhofer menata masa lalu, menafsir masa kini, dan memperkirakan masa depan.

Dalam suatu adicerita, yang penting bukan hanya tema-tema besar—seperti soal Nabi Muhammad, tauhid, rukun Islam, Quran dan hadis, dan juga Indonesia—tapi juga hal-hal kecil. Yang terakhir ini misalnya tentang kisah penjahat dan pahlawan, pepatah, kiasan, sejarah lokal, gosip, dan lelucon yang bisa menghibur dan sekaligus menyakitkan.

Dalam kerangka itu, adicerita Hamka memberikan banyak jawaban atas pertanyaan besar semacam: Bagaimana saya harus hidup? Apa artinya menjadi Muslim? Apa artinya menjadi Indonesia?

Namun,Hamka tidak berhenti sampai di situ. Dia juga memberikan banyak jawaban atas pertanyaan yang bagi sebagian orang mungkin remeh temeh semacam “bolehkah makan margarin?”

Memperjelas lebih jauh tentang adicerita, Buya Syafii mengutip edisi Inggris paragraf terakhir Rush: “Di sinilah terletak kisah besar [adicerita]nya hari ini, sambil membingkai masa lampau dan masa kini bagi jutaan manusia yang, tanpa mengenali suara Hamka yang membentuknya, meliputi rasa percaya dirinya yang luar biasa pada kekuatan manusia; kepercayaannya pada Islam sebagai agama pembebas dan impiannya untuk mengisi kehidupan Indonesia modern dan bangsa dengan kearifan dan kebenarannya.”

Masih terkait adicerita itu, James Rush mencatat, Hamka memberikan “kepada kami, para peneliti Indonesia, barang langka yang mungkin unik; riwayat hidup penuh karya tulis, serta sudut pandang dan pengaruh pentingnya sebagai cendekiawan Muslim pada masa pembentukan negara [Indonesia]. Meresapi adicerita Hamka berarti memasuki wacana yang didalami satu bagian besar masyarakat Indonesia modern”.

Apa warisan  Buya Hamka untuk Indonesia [modern] hari ini dan masa depan? Bagi Rush, Hamka dengan segala kekuatan dan kelemahannya telah bersatu dengan keindonesiaan. “Karena itu, bagi Indonesia yang masih gamang dalam merumuskan jati dirinya setelah merdeka 71 [72] tahun, karya-karya Hamka perlu disebarluaskan terus-menerus karena di dalam berhimpun, pesan abadi untuk kebesaran dan kedaulatan bangsa ini.

Hamka sangat mencintai Indonesia. Jiwa juang Hamka pasti berontak menyaksikan sebagian anak bangsa yang sampai hati melukai Indonesia dengan tangan kumuh berlumur darah.”

Pernyataan Rush ini segera mengingatkan orang pada tantangan yang dihadapi Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir. Tantangan itu terkait kegamangan yang terjadi di Indonesia. Ada perubahan cepat Indonesia menjadi demokrasi. Pada saat yang sama juga terlihat meningkatnya gejala sebagian warga Muslim yang kehilangan cinta pada Indonesia dengan melukai Indonesia lewat berbagai bentuk aksi kekerasan.

Sebaliknya, Hamka tidak pernah berhenti mencintai Indonesia. Dia tegas menyatakan “Saya akan jadi Hamka dari Indonesia”, bukan dari tempat-tempat lain di dunia Muslim di luar Indonesia. Dengan begitu, Hamka menolak transnasionalisme dalam berbagai bentuknya.

Hamka pernah mengalami masa sulit di masa Jepang, di awal kemerdekaan dan di masa Orde Lama Presiden Sukarno. “Namun, semua realitas pahit itu ... membuat dia menjadi lebih serius dan makin fokus ke satu tujuan. Tujuan itu adalah penyebaran adiceritanya, di mana Indonesia, suatu negara modern, bakal bersatu di sekeliling nilai dan ajaran Islam.”

Bagaimana membangun Indonesia modern dalam pemikiran Hamka? Pertama, dia mengingatkan, sejarah politik Islam tidak memberikan jawaban. Hamka mengungkapkan, selama berabad-abad di bawah kekuasaan negara Islam, umat Muslim hidup di bawah “khalifah” [dan sultan] yang berkuasa penuh. Mereka bekerja sama dengan ulama menindas pemikiran bebas dan membuat umat memasuki zaman taklid yang gelap. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar