Jelang peringatan ke-91 Hari Sumpah Pemuda, saya jadi teringat pada satu perjamuan makan yang ”menggelisahkan” jelang Sumpah Pemuda ke-90 tahun lalu.
Kenapa menggelisahkan? Karena saya makan malam dengan sepasang suami-istri ahli kecerdasan buatan asal Indonesia dan ahli linguistik dari luar negeri yang sedang meneliti bahasa-bahasa Dayak. Karena bahasa anak kandung sejarah budaya, kalimat merupakan anak kandung logika dan kata merupakan anak kandung emosi pengucapnya. Saya tiba-tiba mengendus aroma sepanjang makan malam. Aroma sensasional yang lebih dari sekadar sensasi putra-putri cerdas, anak kandung pasangan Homo sapiens (manusia bijak) dan Homo datum (manusia data) ini.