Tampilkan postingan dengan label Argumen Ketuhanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Argumen Ketuhanan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Argumen Teologi

Argumen Teologi
Komaruddin Hidayat ;  Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 28 Juni 2013



Dalam filsafat ketuhanan dikenal banyak argumen rasional untuk memperkuat keyakinan, mengapa orang percaya kepada Tuhan. Berbagai argumen ini jika berdiri sendiri akan segera terlihat sisi kekurangan atau kelemahannya sehingga mereka yang tidak percaya kepada Tuhan (ateis) akan selalu berusaha mematahkan atau meremehkan keyakinan keagamaan melalui sisi lemahnya itu. 

Namun jika sekian banyak argumen ketuhanan itu digabung menjadi satu, akan terlihat bahwa argumen tentang adanya Tuhan yang Hidup jauh lebih kuat ketimbang argumen yang dibangun kalangan ateisme atau antiteisme. Dari sekian banyak argumen itu salah satunya adalah argumen teleologi. Dalam bahasa Yunani, telos artinya tujuan akhir, bahwa semua yang hidup itu secara intrinsik selalu mengarah pada tujuan yang pasti (final cause). 

Jadi, argumen teleologi tentang Tuhan merupakan bangunan pemikiran berdasarkan keteraturan dan kebertujuan kehidupan di alam semesta ini yang semuanya mengarah pada kondisi tertentu yang sudah final. Pemikiran ini mulai dikembangkan Plato dan Aristoteles, jauh sebelum Masehi. Konon ceritanya Aristoteles mengamati tanaman yang tumbuh di kebun. 

Suatu hari dia mengumpulkan berbagai biji pohon, lalu dia sebar. Aristoteles terus mengamati pertumbuhan biji itu sampai jadi pohon. Suatu saat dia terhenyak berpikir, mengapa biji yang hampir serupa itu ketika tumbuh jadi pohon berbedabeda batangnya, daunnya, bunganya, dan buahnya? Lalu siapa yang mengatur dan mengarahkan sehingga biji itu tumbuh mengarah pada bentuk yang sudah pasti? Semuanya terlihat memiliki arah dan tujuan masingmasing sesuai dengan potensi yang sudah terkandung di dalam biji. 

Dari sini Aristoteles menerawang lebih luas lagi mengamati fenomena semesta. Apakah semesta ini terjadi secara acak dan kebetulan ataukah ada kekuatan yang mengaturnya? Is there any Great Designer of the universe? Argumen teleologi ini sekarang semakin kuat ketika diarahkan untuk mengkaji keajaiban tubuh manusia. Para ahli biomolekuler menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat sejumlah 60 triliun–100 triliun sel. Di dalam otak saja terdapat sekitar 4 triliun sel. 

Di dalam sel terdapat inti sel (nukleus), di dalam nukleus terdapat gen atau DNA (deoxyribo-nucleic acid). Yang sungguh membuat kagum para peneliti, triliunan sel itu memiliki pembagian tugas. Misalnya saja, ada sel yang membuat rambut. Tapi rambut pun dibagi lagi karena tubuh manusia memiliki beragam rambut. Lagilagi, subhanallah, sel-sel itu sudah tahu tugasnya, jenis rambut seperti apa dan berapa panjangnya yang mesti dia buat. 

Bayangkan, betapa rumitnya organ manusia dan triliunan sel itu siap dengan tugas masingmasing. Jadi, setiap sel itu menyimpan informasi, mereka akan melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian dan mandat yang telah tertuliskan di dalam sel itu. Pertanyaan yang muncul, siapa yang mengatur triliunan sel itu dan siapa yang menyusun dan menuliskan informasi sebagai panduan tugasnya? Di sinilah teori evolusi Darwinian menjadi diragukan validitasnya. 

Tanpa adanya The Great and Smart Designer tidak mungkin semuanya itu berlangsung dengan sendirinya. Sel-sel itu layaknya flashdisk atau thumbdrive komputer. Bayangkan saja, flashdisk dengan kekuatan seribu giga kalau saja penuh dengan informasi, jika dicetak akan melahirkan ribuan buku. Sementara flashdisk yang berisi dan yang kosong jika ditimbang beratnya sama. 

Dengan demikian, informasi itu bersifat immateri, merupakan quantum energy, yang berada di luar jangkauan wilayah paham Darwinisme-materialisme. Meminjam istilah Bibel, semua realitas ini pada mulanya adalah firman. Idea dan informasi. Dalam diksi Alquran, semua wujud ini adalah firman “Kun! Jadilah!” Maka setelah melalui proses panjang menjadi “Fayakun, terwujudlah”. 

Argumen teleologi ini sesungguhnya juga mirip dengan argumen kosmologi. Kosmos (kosmetik) artinya indah dan teratur, kebalikan dari chaos, disorder. Tanpa adanya pencipta, pengatur, dan pengendali, semesta ini tidak terwujud sedemikian indah dan teraturnya. Dalam skala kecil memang terjadi chaos. Tapi jika dikaji secara mendalam, semuanya itu terjadi dan berproses menurut kaidah dan hukum semesta yang berlaku. 

Lalu, siapa yang mengendalikan perilaku semesta ini kalau bukan Yang Maha Kreatif, Maha Indah, dan Maha Pengatur? Demikianlah sekelumit tentang argumen teleologi. Tentu saja keyakinan dan iman kepada Tuhan tidak ditentukan oleh kedalaman sebuah argumen. Namun argumen berupa penalaran yang logis dan solid akan membantu kadar keimanan seseorang. 

Sabtu, 22 Juni 2013

Argumen Ketuhanan

Argumen Ketuhanan
Komaruddin Hidayat ;   Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
KORAN SINDO, 21 Juni 2013



Ketika diajarkan agama, anak kecil seringkali melontarkan pertanyaan spontan yang sangat logiskritis sehingga orang tua terhenyak dan sulit menjawab. 

Maka itu, ada ungkapan, setiap anak terlahir membawa kapasitas sebagai filsuf, yang senang bertanya secara radikal, tanpa beban apa pun, termasuk soal Tuhan. Pertanyaan radikal ini justru seringkali terhalangi dan kemudian melemah karena sikap orang tua yang melarang. Alasannya bisa macam-macam, pokoknya jangan bertanya soal agama dan Tuhan. Nanti Tuhan marah. 

Jadi, sejak kecil anak sudah dikenalkan Tuhan yang pemarah ketika tidak melaksanakan salat misalnya, padahal usia anak-anak belum diwajibkan salat dan puasa. Itu semua semata sebagai proses pendidikan. Dalam tradisi filsafat dan teologi dikenal istilah “argumen ketuhanan” yang perlu dibedakan dari kata “bukti”. Argumen mengenai ada Tuhan dan sifat-sifat-Nya misalnya mendasarkan pada konstruksi pemikiran logis berdasarkan premis-premis yang ada, baik premis yang diambil dari kitab suci maupun hasil penalaran. 

Sedangkan bukti biasanya berlaku pada wilayah empiris yang bisa dibuktikan dengan pancaindra. Karena berbicara tentang Tuhan yang menjadi objek bahasannya bersifat abstrak, metafisis, supragaib, metaempiris, baik yang percaya ada Tuhan maupun yang mengingkarinya masing-masing memiliki argumen yang logis. Dengan demikian, percaya pada Tuhan semata mengandalkan argumen filosofis mesti siap dikritik titik lemah bangunan argumennya. 

Tak ada argumen yangsempurnadanmemuaskan semua pihak. Sepanjang sejarah pemikiran ketuhanan dan keagamaan para sarjana, ulama, teolog, dan filsuf selalu terlibat dalam adu argumen dan kita mewarisi kekayaan intelektual yang amat kaya dan beragam. Hanya, kita seringkali tidak siap mental dan intelektual untuk menerima dan melihat kekayaan penafsiran serta argumen keagamaan sehingga muncul konflik karena perbedaan keyakinan. 

Ketika berbicara keyakinan, sesungguhnya sudah melangkahi wilayah argumen penalaran karena di situ sudah melibatkan keyakinan hati dan emosi yang ikut berperan. Dalam bahasa Arab maupun Inggris terdapat beberapa istilah dan kata kerja yang menarik direnungkan ketika berbicara soal ketuhanan misalnya:          I argue, I think, I believe, I guess, I perceive, I know, I trust, dan sebagainya. 

Keyakinan dan kepercayaan pada Tuhan selalu memerlukan argumen penalaran, tetapi wilayahnya sudah melampaui kekuatan argumen. Immanuel Kant berkata: My belief starts when my reason stops. Dia ingin menekankan tentang kekuatan dan sekaligus keterbatasan nalar ketika memasuki wilayah ketuhanan. Ini bisa dibaca dalam bukunya: The Limit of Pure Reason dan The Practical Reason. 

Jadi, dalam kehidupan beragama yang akarnya pada kepercayaan dan keyakinan pada Tuhan, penalaran itu sangat diperlukan untuk membangun argumentasi mengapa seseorang bertuhan. Mengapa kita percaya pada keabadian jiwa. Mengapa kita percaya ruh tidak mati. Mengapa nanti mesti ada hari pengadilan dengan hakim yang maha-adil. 

Berbagai argumentasi filsafat membantu menjawab berbagai pertanyaan fundamental itu secara logis rasional, namun pada akhirnya kekuatan agama berada pada wilayah keyakinan. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang masuk ke wilayah keyakinan dengan fanatik dan emosional, sementara apa yang diyakini bertentangan dengan hasil kajian penalaran kritis. Manusia hidup tidak mungkin lepas dari kepercayaan dan keyakinan pada kekuatan di luar dirinya. 

Contoh yang riil, kita mesti yakin dan percaya pada dokter ketika hendak berobat. Kita mesti percaya pada apoteker ketika membeli obat bahwa yang diberikan bukanlah racun. Kita mesti percaya pada pilot ketika hendak naik pesawat. Kita mesti percaya dan yakin ketika menyimpan uang di bank akan kredibilitasnya. Seseorang tidak mungkin hidup dalam keraguan terus-menerus.

 Bisa sakit jiwa. Tetapi, mesti diingat, tidak semua kepercayaan dan keyakinan yang dibela mati-matian itu mesti benar. Maka itu, ada orang yang merasa tertipu dan menjadi korban atas keyakinannya. Sejarah banyak mengajarkan pada kita dalam keyakinan yang salah ini. Dulu orang yakin bahwa bumi itu datar. Ternyata ilmu pengetahuan membuktikan keyakinan itu salah. Karena kekuatan ilmu pengetahuan dan penalaran, banyak kemudian kepercayaan seputar ketuhanan yang berguguran. 

Terjadi evolusi, kritik, perubahan, dan penalaran ulang tentang ketuhanan. Dulu ada orang mempertuhankan planet-planet dan yang dianggap paling besar adalah matahari sehingga muncul kata “Sunday”. Hari libur untuk menyembah dewa matahari. Ada juga Saturday, hari untuk menyembah dewa Saturnus. Kalau Monday, berarti hari bulan. 

Demikianlah seterusnya, semua keyakinan ketuhanan dan keagamaan akan selalu dihadapkan pada kekuatan ilmu pengetahuan dan penalaran logis. Kepercayaan dan keyakinan pada Tuhan tidak akan mati, tapi alur argumentasinya akan selalu berkembang sehingga sangat mungkin memengaruhi persepsi objek atau sosok yang diyakininya. ●