Tampilkan postingan dengan label Pertamina - Holding Company BUMN Migas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertamina - Holding Company BUMN Migas. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Holding BUMN Migas, Jangan Sampai Ketinggalan Kereta (Lagi)

Holding BUMN Migas,
Jangan Sampai Ketinggalan Kereta (Lagi)
Rhenald Kasali  ;   Akademisi dan Praktisi Bisnis yang juga Guru Besar bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
                                               KOMPAS.COM, 31 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Memasuki penghujung tahun 2016, kami di kampus Magister Manajemen, Universitas Indonesia, menggelar diskusi tentang value creation dari pembentukan holding company BUMN. Salah satu fokus diskusi kami adalah tentang peran BUMN migas dalam ketahanan energi. 

Entah mengapa hanya holding migas yang selalu bikin heboh. Padahal saat ini ada 6 holding yang sedang dipersiapkan Mentri BUMN. Dan semuanya sama pentingnya, termasuk pangan, keuangan dan perumahan rakyat yang bertahun-tahun diabaikan negara. 

Risaulah Selagi  Murah

Mungkin karena ini amat vital. Siapa yang tidak risau dengan kondisi ketahanan energi kita. Bicara angka, misalnya, cadangan minyak bumi kita hanya akan bertahan untuk sekitar 11 tahun ke depan. Sementara, kita sama sekali belum menunjukkan gelagat untuk menekan konsumsi minyak secara signifikan dan menyimpan sisa cadangannya bagi generasi mendatang.

Kita masih dimanjakan oleh lebih murahnya biaya produksi dan pengadaan minyak dibandingkan dengan sumber energi yang lain, sehingga enggan beralih. Upaya kita untuk mengubah kebiasaan dari konsumsi energi dari minyak ke gas belum berkembang secara signifikan. Lihatlah kendaraan yang kita pakai. Sebagian besar masih berbasis minyak.

Baiklah, pada waktunya kita terpaksa memakai gas. Amankah cadangannya? Juga tidak. Tanpa ada penemuan baru, cadangan gas kita diperkirakan hanya bakal bertahan untuk 30 tahun ke depan. 

Bayangkan saat kita menemukan cadangan gas terbesar dunia di Arun- Lhokseumawe (1971) dengan perkiraan cadangan mencapai 17,1 triliun kaki kubik yang kabarnya akan habis dalam 25 tahun ke depan. Nyatanya ia terus menyusut akan berakhir begitu saja pada tahun 2018.
Jika itu terjadi, benar-benar habis dan matilah segala industri, termasuk pabrik pupuk yang dibangun bersebelahan. 

Bagaimana dengan batu bara? Memang, batu bara kita cadangannya masih cukup hingga lebih dari 75 tahun ke depan. Meski begitu energi batubara sangat polutif. Belum ada teknologi yang secara signifikan mampu menekan efek polutif dari batu bara.

Kecemasan lainnya adalah karena porsi perusahaan minyak nasional-nya (National Oil Company/NOC) terhadap produksi migas di negaranya cukup tinggi, sementara porsi Pertamina relatif sedikit.

Lihat saja angkanya. NOC asal Brasil, Petrobras, menguasai 90 persen dari total produksi migas nasional. Di China, BUMN migasnya menguasai 89%. Lalu, Statoil, BUMN migas asal Norwegia, menguasai lebih dari 62 persen.

Sekarang kita ke negara tetangga. Petronas dari Malaysia menguasai 46% dari total produksi migas di negaranya. Ada PTT asal Thailand yang rasionya mencapai 32 persen.

Berapa porsi yang dikuasai Pertamina? Hanya berkisar 24 persen, meski kabarnya sekarang sudah naik menjadi 28 persen, karena produksi secara nasionalnya turun.

Pertamina Masih Kecil

Sumber kecemasan lainnya adalah banyak NOC yang diperintahkan pemerintahnya untuk memburu cadangan migas ke luar negara asalnya. BUMN China berburu hingga ke Venezuela, Sudan dan lebih dari 50 negara lainnya. Petronas sudah menjelajah hingga ke lebih dari 16 negara.

Statoil punya cadangan minyak di 14 negara. Petrobras beroperasi di 10 negara. PTT ada di delapan negara. Bahkan PetroVietnam asal Vietnam sudah beroperasi di empat negara. Pertamina?

Sampai saat ini baru di lima negara yang sudah benar-benar terbukti punya cadangan migas yang diharapkan. Jadi siapa yang tak cemas melihat Pertamina seakan-akan ketinggalan kereta. Kita butuh modal besar untuk membawa pulang energi itu dan mengamankan pasokan jauh ke depan.

Tanpa energi bukan cuma tak akan ada industri dan lapangan pekerjaan, melainkan juga kita tak bisa menyimpan vaksin karena lemari pendingin tak bisa bekerja. Dan mana bisa kita berkomunikasi kalau listriknya tak punya bahan bakar.

Untung belakangan, seiring dengan merosotnya harga minyak mentah di pasar dunia, Pertamina malah semakin agresif memburu minyak di luar wilayah Indonesia. Pada tahun 2015, misalnya, aset-aset Pertamina ada di tiga negara, yakni Aljazair, Malaysia dan Irak. 

Lalu sepanjang 2016, lokasi aset-aset baru Pertamina lebih bervariasi. Ada dua di Eropa, yakni Prancis dan Italia, dua di kawasan Amerika, yakni di Kanada dan Kolombia. Lalu, ada satu di Myanmar, dan empat lainnya di Afrika, yakni di Namibia, Tanzania, Nigeria dan Gabon. 

Saya senang dengan agresivitas Pertamina dalam dua tahun belakangan ini. Secara bisnis, langkah Pertamina sudah benar. Kita memang harus selalu bergerak di depan kurva, bukan di belakangnya. Ketika pasar melemah, kita masuk. Bukan sebaliknya, ketika pasar menguat baru masuk. Kalau itu yang kita lakukan, biayanya menjadi sangat mahal dan bisa ketinggalan kereta lagi.

Meski begitu semua upaya tersebut belum cukup. Dalam banyak kesempatan dan tulisan, saya selalu menyebutkan bahwa ukuran Pertamina masih terlalu kecil. Jangankan dibandingkan dengan International Oil Company (IOC), dengan sesama NOC di sebelah kita yang negaranya kecilpun Pertamina terbilang mini.

Mari kita bandingkan. Pendapatan Pertamina pada tahun lalu berkisar 41,76 miliar dollar AS. Mau tahu berapa pendapatan IOC? Royal Dutch Shell asal Belanda (bayangkan Belanda, negara yang luas wilayahnya masih kalah dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur, punya IOC sebesar itu) mencapai 272,16 miliar dollar AS atau 6,5 kali lipat lebih besar dibanding Pertamina.

Exxon Mobil dari Amerika Serikat pendapatannya 246,2 miliar dollar AS (hampir 6 kali lipat), BP asal Inggris 225,9 miliar dollar AS (hampir 5,4 kali lipat), atau Total SA dari Prancis 143,4 miliar dollar AS (hampir 3,5 kali lipat).

Pertamina terlihat lebih kecil lagi kalau dibandingkan dengan NOC dari China. Misalnya, dengan China National Petroleum yang pendapatannya hampir mencapai 300 miliardollar AS (7,2 kali lipat lebih besar dibandingkan Pertamina), atau Sinopec 294,3 miliar dollar AS (7 kali lipat). Begitu juga jika dibandingkan dengan Petrobras, Petronas atau PTT, ukuran Pertamina tetap lebih kecil.      

Anda tahu, kalau ukuran perusahaan kita terlalu kecil, ke mana-mana geraknya serba terbatas. Mau berkongsi dengan perusahaan lain—apalagi sekelas multinasional, dipandang sebelah mata. Mau cari pinjaman ke luar negeri, dapatnya juga tak seberapa.

Efek Sinergi

Maka, diholdingkan dua BUMN migas, yakni Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGN) menjadi solusi agar kita memiliki NOC yang ukurannya lumayan besar. Pendapatan Pertamina, itu tadi, 41,76 miliar miliar dollar AS,  sementara PGN 3,07 miliar dollar AS. Jika digabung seolah-olah “hanya” menjadi 44,83 miliar dollar AS. Masih kalah dibandingkan dengan Petrobras (97,31 miliar dollar AS), Petronas (63,5 miliar dollar AS) atau PTT (59,2 miliar dollar AS).

Tapi, ingat bahwa pembentukan holding company akan menciptakan sinergi. Kalau bicara sinergi, 1 + 1 tidak sama dengan 2, tetapi bisa 10 atau bahkan 100. Dari mana saja datangnya sinergi?

Menurut saya, setidak-tidaknya bakal ada lima area yang terbuka peluangnya untuk sinergi. Lima area itu meliputi konsolidasi pembangunan infrastruktur LNG dan mini LNG, fasilitas regasifikasi, pembangunan pipanisasi, jaringan distribusi serta biaya pengadaan barang dan jasa.

Jadi, kelak pembangunan infrastruktur migasnya tidak lagi tumpang tindih. Cukup dilakukan oleh Pertamina saja, atau PGN. Dari sini saja jelas sudah akan ada penghematan biaya. Lalu, keduanya juga bisa sama-sama meningkatkan utilisasi dari aset-aset yang ada.

Dari sisi bisnis, Pertamina akan lebih baik jika berkonsentrasi pada sektor hulu migas, sementara PGN fokus pada distribusinya. Sinergi ini juga akan meningkatkan kapasitas investasi dari keduanya, Pertamina dan PGN.

Selain itu, ini yang ingin saya tekankan, sinergi keduanya juga bakal memberi banyak manfaat bagi para stakeholders, terutama konsumen gas. Saya berharap, setelah keduanya digabungkan—PGN menjadi anak usaha Pertamina dan Pertagas akan digabung ke PGN--harga gas bisa ditekan menjadi lebih murah.

Tapi ini bukan akhir, masih banyak PR untuk mengawal tahap eksekusinya, dengan disruptive mindset tentunya. Kalau ini bisa direalisasikan, tentu dampaknya bakal sangat positif. Banyak industri, yang selama ini tertekan akibat mahalnya harga gas, bakal tertolong.
Begitulah kalau Pertamina dan PGN bisa digabungkan, sinergi dari keduanya akan menciptakan daya ungkit untuk meningkatkan kinerja. Akan terjadi lompatan. Bukan saja bagi keduanya, Pertamina dan PGN, tetapi juga bagi perekonomian nasional.

Maka, jangan sampai pembentukan holding company ini kandas dan hanya tinggal angan-angan. ●

Kamis, 22 Desember 2016

Sinergi dan Putar Arah Industri Migas

Sinergi dan Putar Arah Industri Migas
Rhenald Kasali  ;   Pendiri Rumah Perubahan
                                              KORAN SINDO, 22 Desember 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ini cerita dari negeri seberang yang saya baca di berbagai situs. Begini kisah ringkasnya. Sekitar awal tahun 1990-an di sebuah kota di Negeri Donald Duck, St Louis, ada seorang penjual es krim. Sebutlah namanya Lucas.

Ia menjual es krim dengan mangkuk. Suatu ketika panas menyengat melanda St Louis. Untuk menyegarkan tubuh, banyak warga kota—termasuk para pendatang, menyerbu kedai es krim milik Lucas. Laris manis. Namun, banyaknya pelanggan membuat Lucas repot setengah mati sebab jumlah mangkuk yang ia sediakan terbatas. Akibatnya setiap kali sejumlah pelanggan selesai makan es krim, Lucas harus berhenti sejenak melayani calon pembeli untuk mencuci mangkuk.

Sementara itu, antrean kian memanjang. Calon pembeli yang kurang sabar akhirnya memilih untuk meninggalkan kedai Lucas. Di sisi lain, di sebelah kedai es krim Lucas, ada Tim yang pedagang cone dan roti. Di kedai Tim, penjualan rotinya lumayan, tetapi cone-nya kurang begitu laris. Suatuhari, ketika kedainya sedang sepi, Lucas dan Tim berbincang.

Tim mengusulkan cone dari kedainya dijadikan wadah es krim, untuk pengganti mangkuk. Setelah diskusi sekian lama, dan melakukan uji coba, Lucas setuju. Begitulah, ketika panas kembali melanda St Louis, calon pembeli menyerbu kedai Lucas. Kini, Lucas tak repot lagi mencuci mangkuk. Malahkonsumen senang dengan cone sebagai pengganti mangkuk.

Ada kenikmatan tersendiri ketika cone tersebut digigit. Renyah. Berkat adanya cone, penjualan es krimdi kedai Lucas meningkat. Bukan hanya dua kali lipat, tetapi berlipat-lipat. Bukan cuma keuntungan bagi Lucas, juga bagi pelanggannya yang dapat kenikmatan lebih, tapi harga jualnya tak naik. Begitu pula penjualan cone dikedaiTimmelonjak mengikuti penjualan es krim. Keduanya tentu sama-sama senang. Dan, begitulah hasil dari sinergi yang benar.

Bukan 1 + 1 = 2

Kisah tadi bicara soal sinergi. Kata Stephen Covey, “Synergy is what happens when one plus one equals ten or a hundred or even a thousand! “ Itu benar. Jadi, kalau ada sinergi, 1 + 1 bukan 2, tetapi bisa puluhan dan bahkan ratusan. Itulah kekuatan sinergi. Bicara soal ini, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu topik yang sedang ramai jadi pembicaraan di negeri ini.

Ini bukan soal pilkada (di Provinsi DKI Jakarta yang paling ramai) atau fatwa MUI tentang penggunaan atribut berbau Natal, tetapi tentang pembentukan holding company sebagai salah satu cara untuk menciptakan sinergi di kalangan BUMN. Salah satunya holding company untuk industri minyak dan gas (migas). Yang namanya perubahan, sudah pastilah heboh. Demikian juga pembentukan holding company.

Cuma aneh memang yang paling ramai diributkan cuma pembentukan holding company migas, padahal ia hanya melibatkan dua perusahaan. Sementara pembentukan holding company lainnya, yanglebihrumit danmelibatkan lebih dari sepuluh perusahaan, tenang-tenang saja. Padahal, business model masing-masing perusahaan tetap sama, cuma di-holding-company-kan saja. Namun, holding company untuk industri migas, menurut saya, agak sulit untuk ditawartawar lagi.

Kita memerlukan BUMN migas yang berukuran besar yang lincah. Mengapa? Pertama, produksi minyak mentah kita terus berkurang, sementara kebutuhannya terus meningkat. Misalnya, tahun 2009 konsumsi minyak mentah kita masih 1,33 juta barel per hari (bph). Lihatlah lima tahun kemudian, angka sudah menjadi 1,64 juta bph. Itu artinya tumbuh di atas 20%. Angka konsumsi ini, saya yakin, akan terus meningkat.

Padahal produksi minyak mentah kita bergerak ke arah yang sebaliknya. Jika tahun 2009 masih 994.000 bph, pada 2014 terpangkas menjadi tinggal 882.000 bph. Artinya menyusut lebih dari 10%. Dan, saya juga yakin, volume produksi ini sulit untuk naik lagi. Kedua, jelas sekali cadangan minyak mentah kita sudah sangat terkuras. Contohnya, tahun1994 cadangan terbukti dari minyak mentah kita masih mencapai 5 miliar barel.

Lalu, 20 tahun kemudian volume cadangannya sudah jauh berkurang menjadi tinggal3,7miliarbarel. Ituartinya menyusut sebanyak 26%. Itu artinya untuk menjamin ketahanan energi, yang posisinya sudah sangat merisaukan, kita tak bisa lagi mengandalkan dari cadangan minyak di dalam negeri. Kita harus mencari cadangan-cadangan minyak di luar negeri. Bagaimana caranya? Kita mesti mengakuisisi cadangan-cadangan minyak yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing.

Dan, sekarang ini adalah momen terbaik untuk melakukan itu. Sebab seiring dengan masih rendahnya harga minyak, berkisarUSD50perbarel, banyak perusahaanminyakdiluarnegeri yang terlilit kesulitan. Anda tahu, banyakperusahaan minyak asing yang biaya produksinya bahkan di atas USD60 per barel. Jadi, kalau harga minyak mentah di pasaran internasional kurang dari USD50 per barel, mereka sungguh sengsara.

Rugi. Contohnya, hanya selama kuartal IV-2015, Chevron di Amerika Serikat (AS) sudah merugi hingga USD588 juta. Apache, juga perusahaan migas di AS, selama periode itu bahkan membukukan kerugian hingga USD7,2 miliar. Menurut laporan Energy Information Administration (EIA) di AS, 40 produsen minyak di AS merugi hingga USD67 miliar. Itu sebabnya banyak perusahaan di luar sana, bukan hanya di AS, melainkan juga di belahan dunia lainnya, yang angkat tangan. Mereka tak sanggup lagi melanjutkan operasinya.

Merebut Peluang

Peluang inilah yang, saya kira, perlu diambil oleh Pertamina. Apalagi kinerja keuangan BUMN migas terbilang sehat. Sepanjang Januari-September 2016 misalnya, laba bersih Pertamina mencapai USD2,83 miliar, atau tumbuh 209% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Saya kira ini bisa menjadi modal yang bagus bagi Pertamina untuk melakukan ekspansi.

Dengan modal tersebut, saya kira, kita perlu mendorong perusahaan migas kita untuk lebih agresif lagi mengambil alih ladang-ladang minyak di luar negeri. Hanya untuk bisa melakukan itu kita harus membuat Pertamina menjadi jauh besar dan kuat dibandingkan ukurannya yang sekarang. Sebab dengan ukurannya yang sekarang, Pertamina terlihat jauh lebih kecil dibandingkan raksasaraksasa migas asal China, Eropa dan AS.

Selain itu, sekarang ini Pertamina hanya menguasai 21% dari total produksi migas nasional, dan hanya memiliki 26% dari total cadangan migas nasional. Ini jelas terlalu sedikit. Maka sudah saatnya kita menjadikan Pertamina, BUMN, dan sekaligus representasi negara, sebagai operator dan tuan rumah untuk dengan upaya maksimal membangun ketahanan dan kemandirian energi nasional. Masalah lainnya, mata rantai nilainya (value chain) terputus.

Antara hulu-hilir tidak sinergis. Makanya sulit untuk menjadi besar. Jangankan sinergi keuangan untuk me-leverage kemampuan finansial saat menguasai tambang-tambang besar di luar negeri, sinergi pemasaran saja sulit. Itu sebabnya kalau disatukan, bisa jadi mereka tak perlu meminjam uang dari luar. Surplus di kantong kanan bisa dialihkan ke kantong kiri.

Semudah itu. Belum lagi sinergi manajemen. Padahal mereka bukan kompetitor, melainkan komplementer. Maka dibutuhkan orkestrator dalam sektornya. Apalagi kalau di-merger juga tak mau? Jadi, alternatifnya sudah pasti pembentukan holding company . Persis seperti PT Astra International Tbk yang juga holding company . Kalau change management-nya jalan, perusahaan seperti Astra International bisa sehat juga.

Untuk itu, menurut saya, setidak-tidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan agar powerhouse energi kita cepat besar, tetap lincah dan kuat. Ibarat pemain basket NBA yang jauh lebih tinggi dan lebih besar dari pemain-pemain basket kita. Jari-jarinya saja sebesar pisang Ambon, tapi bisa tetap lincah. Bahkan lebih gesit dari pemain-pemain kita. Ini karena lemaknya tidak banyak.

DNAnyalah yang memang dirancang menjadi DNA Powerhouse yang besar. Jadi, pertama, pilihannya, segera jadikan Pertamina sebagai holding company untuk BUMN-BUMN kita di industri minyak dan gas (dan, kelak di bisnis EBT atau Energi Baru Terbarukan). Kedua, kalau dulu Petronas belajar dari Pertamina, kini kita perlu belajar kembali dari Petronas.

Ini tentu soal politik atau strategi industri. Soal pilihan, bukan soal selera. Di sana, pemerintah Malaysia menyerahkan hak untuk mengelola ladang-ladang migas di dalam negeri ke Petronas. Kita dulu pernah melakukannya, tapi kemudian berbelok. Sekarang, menurut saya, saatnya untuk kita kembali memutar arah sebelum tersesat terlalu jauh.