Tampilkan postingan dengan label Jeffrey D Sachs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeffrey D Sachs. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Perang Melawan Penyakit Mematikan

Perang Melawan Penyakit Mematikan
Jeffrey D Sachs ;   Guru Besar Kebijakan dan Manajemen Kesehatan,
Direktur Earth Institute pada Columbia University
TEMPO.CO, 04 November 2013

Salah satu keberhasilan paling mengesankan dalam program bantuan internasional pada dekade yang lalu adalah apa yang dicapai oleh Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis, and Malaria. Dana bantuan global ini telah menyelamatkan jutaan nyawa dan membantu negara di seantero dunia mengalahkan tiga penyakit yang epidemik. Sekarang ia menyeru pemerintah dan sektor swasta di dunia untuk menyumbangkan dana bagi tiga tahun ke depan, sementara pemerintah dari berbagai negara yang akan menentukan besarnya bantuan ini, siap memutuskan pendanaan lebih lanjut tersebut awal Desember ini di Washington, DC.

Pada 2000, epidemi HIV/AIDS melanda negara-negara miskin di dunia, terutama di Afrika. Obat-obatan antiretroviral baru telah dikembangkan dan digunakan di negara-negara kaya, tapi terlalu mahal bagi jutaan rakyat miskin. Jutaan rakyat miskin meninggal karena AIDS, walaupun obat-obat yang baru itu sebenarnya bisa menyelamatkan nyawa mereka.

Dua penyakit pembunuh lainnya, yaitu malaria dan TBC, juga meningkat. Kematian akibat malaria melonjak karena dana yang tersedia untuk layanan kesehatan di negara-negara miskin sangat tidak memadai dan juga karena parasit malaria sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga resistan terhadap obat-obatan biasa. Namun potensi melawan malaria ini meningkat berkat perkembangan teknologi-teknologi baru, termasuk kelambu dengan insektisida yang melindungi mereka yang tidur di dalamnya dari gigitan nyamuk, serta diagnosis yang lebih baik dalam mengenali infleksi, dan generasi baru obat-obat yang sangat efektif.

Kembali pada 2000, negara-negara kaya tidak mengambil langkah yang memadai untuk melawan AIDS, TBC, dan malaria. Arus bantuan sangat kecil. Pada waktu itu, saya baru saja ditunjuk oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) untuk membantu mengusahakan pertemuan menteri keuangan dan menteri kesehatan dari berbagi negara guna menentukan apa yang bisa dilakukan dengan segera maupun dalam jangka panjang.

Kelompok penasihat kami, yang dikenal sebagai Commission on Macroeconomics and Health, merekomendasikan agar negara-negara kaya meningkatkan bantuan layanan kesehatan kepada negara-negara miskin, termasuk upaya melawan AIDS, TBC, dan malaria. Bantuan akan menyelamatkan nyawa, meningkatkan kesejahteraan, dan mendorong pembangunan ekonomi.

Mantan Perdana Mengerti Norwegia Gro Harlem Brundtland-Direktur Jenderal WHO pada waktu itu-sangat mendukung rekomendasi tersebut. Dalam konferensi AIDS internasional di Durban, Afrika Selatan, pada Juli 2000, saya menggambarkan mengapa suatu dana global yang baru diperlukan untuk melawan AIDS. Pada awal 2001, mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan mengeluarkan seruan untuk dibentuknya Global Fund. Para pemimpin dari seluruh dunia merespons seruan Anna. Dalam waktu beberapa bulan sesudah itu, terbentuklah Global Fund. Saya ingat hari-hari itu dengan jelas. Para pakar kesehatan masyarakat menyambut lahirnya Global Fund.

Namun ada juga frustrasi dan kebingungan sementara mereka yang vokal anti-diluncurkannya bantuan luar negeri mulai menentang ditingkatkannya dana untuk melawan penyakit-penyakit itu. Beberapa ekonom yang tidak banyak mengetahui soal kesehatan masyarakat menjadi penentang yang lantang. Mereka mengajukan argumentasi berdasarkan ideologi pasar bebas, bukan berdasarkan bukti-bukti. Mereka mengatakan bantuan luar negeri selalu gagal.

Untung, para pemimpin dunia mendengarkan suara pakar-pakar kesehatan masyarakat dan bukan suara mereka yang skeptis itu. Pemerintahan Presiden AS George W. Bush memberikan dukungan yang kuat kepada Global Fund-dan meluncurkan program bantuan AS untuk melawan AIDS dan malaria. Menjelang paruh kedua 2000-an, program melawan ketiga penyakit pembunuh utama itu diberlakukan di seantero dunia. Kendati ditentang para skeptis itu, Global Fund memberikan dukungan finansial bagi dibagikannya secara cuma-cuma kelambu-kelambu anti-nyamuk, diagnosis, dan obat-obatan untuk melawan malaria.

Lihat saja hasilnya. Untuk pertama kalinya dalam suatu generasi, kematian akibat malaria di Afrika mulai turun (dengan tajam di beberapa daerah). Ratusan ribu nyawa, terutama anak-anak di Afrika, diselamatkan setiap tahun. Anak-anak ini diselamatkan bukan saja dari kematian, tapi juga dari infeksi yang melumpuhkan, sehingga mereka bisa ke sekolah dan menjalani kehidupan yang lebih produktif di masa depan.

Hal yang sama terjadi dengan HIV/AIDS dan TBC. Kembali pada 2000, sebelum dibentuknya Global Fund, orang-orang yang terinfeksi di negara-negara berkembang meninggal karena AIDS tanpa kesempatan menerima obat antiretroviral yang bisa menyelamatkan mereka. Menjelang 2010, lebih dari 6 juta orang di negara-negara berkembang mendapat pengobatan antiretroviral. Begitu juga pemeriksaan kesehatan dan pengobatan bagi penderita TBC meningkat tajam, termasuk di beberapa negara yang terkena infeksi yang meluas di Asia.

Mereka yang skeptis terbukti salah. Bantuan untuk kesehatan terbukti berhasil. Dunia telah memperoleh manfaat yang besar dari kemurahan hati, profesionalisme, kebaikan bersama, dan good sense.

Namun perjuangan memobilisasi pendanaan yang memadai terus berlangsung. Banyak di antara mereka yang skeptis itu mengulangi lagi tentangan mereka yang melelahkan tersebut tanpa merujuk pada dekade bukti keberhasilan. Sungguh mengejutkan bagaimana fundamentalisme pasar bebas mereka (atau sederhananya oposisi ideologis mereka terhadap bantuan macam apa pun) bisa membutakan mata mereka akan kebutuhan hidup-mati dan keampuhan pendekatan praktis yang sudah dikenali mereka yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat. (Mereka juga buta terhadap metode profesional di bidang-bidang lainnya, seperti produksi pangan.)

Global Fund dengan mendesak menyerukan tersedianya setidak-tidaknya US$ 5 miliar setiap tahun untuk masa tiga tahun yang akan datang. Jumlah yang kecil dikaitkan dengan ekonomi dunia (dan setara dengan kira-kira US$ 5 per orang di negara-negara berpendapatan tinggi). Ia bisa dengan bijaksana menggunakan dua kali jumlah itu.

Tampaknya kemungkinan besar pemerintah AS akan sepakat menyumbang sepertiga dari jumlah US$ 5 miliar itu jika negara-negara lain di dunia menyumbang sisanya. Inggris baru-baru ini sudah mengumumkan janji bantuan dan dunia menunggu pengumuman dari Jerman, Kanada, Australia, Jepang, serta negara-negara donor yang lama dan baru di Eropa, Timur Tengah, serta Asia. Hidup atau matinya jutaan orang di seantero dunia bakal bergantung pada apa yang akan diputuskan pemerintah negara-negara tersebut pada Desember ini. Semoga mereka dan kita memilih hidup.  ●

Selasa, 12 Februari 2013

Akankah Datang Era Baru Amerika yang Progresif?


Akankah Datang Era Baru Amerika yang Progresif?
Jeffrey D Sachs ;   Guru Besar Pembangunan Berkelanjutan,
Direktur Earth Institute Pada Columbia University,
Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB mengenai Millennium Development Goals
KORAN TEMPO, 11 Februari 2013



Pada 1981, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan memulai jabatannya dengan ucapannya yang terkenal bahwa, "Pemerintah bukan solusi yang menyelesaikan masalah. Pemerintah adalah masalah itu sendiri." Tiga puluh dua tahun dan empat presiden kemudian, pidato pelantikan Barack Obama sebagai presiden yang mendukung peran pemerintah yang lebih besar dalam menghadapi tantangan paling urgen yang dihadapi Amerika--dan dunia--tampaknya akan mengakhiri Era Reagan tersebut di atas.
Pernyataan Reagan pada 1981 itu luar biasa. Pernyataan itu menegaskan bahwa, sebagai Presiden Amerika yang baru, ia tidak berminat menggunakan pemerintah untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat, melainkan lebih tertarik memangkas pajak, terutama untuk kepentingan orang-orang kaya. Lebih penting lagi, ia mulai dengan "revolusi" politik konservatif--terhadap rakyat miskin, lingkungan, serta sains dan teknologi--yang berlangsung selama tiga dekade. Kebijakan ini dilanjutkan, kurang-lebih, oleh semua mereka yang mengikutinya: George H.W. Bush, Bill Clinton, George W. Bush, dan, dalam beberapa hal, oleh Obama pada masa jabatannya yang pertama.
Ada empat komponen utama dalam "Revolusi Reagan" ini: pengurangan pajak bagi orang-orang kaya, pengurangan belanja untuk pendidikan, infrastruktur, energi, perubahan iklim, dan pelatihan kerja; peningkatan anggaran pertahanan yang masif; dan deregulasi ekonomi, termasuk penswastaan fungsi-fungsi inti pemerintah, serta pengoperasian pangkalan dan penjara militer. Diagung-agungkan sebagai revolusi "pasar bebas" karena ia menjanjikan pemangkasan peran pemerintah, dalam prakteknya ia merupakan awal dari serangan terhadap kelas menengah dan rakyat miskin oleh kepentingan-kepentingan khusus orang-orang kaya.
Kepentingan-kepentingan khusus ini termasuk Wall Street, Big Oil, raksasa asuransi, dan pembuat senjata. Mereka menuntut pengurangan pajak, dan dikabulkan; mereka menuntut dihentikannya program perlindungan lingkungan, dan dikabulkan; mereka menuntut dan diberikan hak menyerang serikat pekerja; dan mereka menuntut diberikannya kontrak-kontrak pemerintah yang menggiurkan, bahkan untuk operasi paramiliter, dan dikabulkan juga. 
Selama lebih dari tiga dekade, tidak seorang pun benar-benar mempertanyakan akibat dari penyerahan kekuasaan politik kepada peserta lelang dengan penawaran tertinggi ini. Sementara itu, Amerika terperosok dari suatu masyarakat kelas menengah menjadi masyarakat yang semakin terpecah-belah antara yang kaya dan yang miskin. Direktur-direktur utama perusahaan yang dulu menerima gaji 30 kali gaji buruh pada umumnya sekarang menerima gaji 230 kali lebih besar. Dulu pemimpin dunia melawan degradasi lingkungan, sekarang Amerika merupakan negara paling belakang yang mengakui realitas perubahan iklim. Deregulasi keuangan memperkaya Wall Street, tapi berujung pada krisis ekonomi global melalui penipuan, pengambilan risiko yang berlebihan, ketidakmampuan, dan insider dealing.
Mungkin, mungkin saja, pidato pelantikan Obama baru-baru ini menandai bukan saja berakhirnya agenda Regan yang destruktif itu, tapi juga dimulainya suatu era baru. Sesungguhnya, Obama mencurahkan hampir seluruh pidatonya pada peran positif pemerintah dalam menyediakan pendidikan, melawan perubahan iklim, membangun kembali infrastruktur, memperhatikan nasib rakyat miskin, dan secara umum melakukan investasi untuk masa depan. Pidato ini merupakan pidato pelantikan pertama semacam ini sejak Reagan memisahkan Amerika dari pemerintah pada 1981.
Jika pidato Obama itu ternyata menandai dimulainya era baru politik yang progresif di Amerika, maka ia sesuai benar dengan pola yang dikaji salah seorang sejarawan Amerika yang terkenal, Arthur Schlesinger, Jr., yang mendokumentasikan selang 30 tahunan antara apa yang dinamakannya periode private interest dan periode public purpose.
Pada akhir 1800-an, Amerika mengalami Zaman Bersepuh Emas, dengan dibangunnya industri-industri baru yang besar oleh "baron-baron perampok" di era tersebut yang diiringi ketidaksetaraan dan korupsi yang masif. Era Progresif yang terjadi berikutnya diikuti oleh kembalinya untuk sementara plutokrasi pada 1920-an.
Kemudian tiba Depresi Besar, New Deal-nya Franklin Roosevelt, dan 30 tahun lagi politik progresif dari 1930-an sampai 1960-an. Tahun-tahun 1970-an merupakan periode transisi ke Era Reagan--30 tahun politik konservatif yang dipimpin kepentingan-kepentingan korporat yang kuat.
Yang pasti, sudah saatnya sekarang bagi lahirnya kembali public purpose dan kepemimpinan pemerintah di Amerika Serikat untuk melawan perubahan iklim, menolong masyarakat miskin, memajukan teknologi berkelanjutan, dan memodernisasikan infrastruktur Amerika. Jika Amerika mewujudkan langkah-langkah yang berani ini melalui kebijakan publik yang tegas tujuannya, seperti yang dikemukakan Obama, maka sains yang inovatif, teknologi yang baru, dan efek yang kuat yang ditimbulkannya bakal membawa manfaat bagi negara-negara di seluruh dunia.
Memang terlalu dini untuk mendeklarasikan lahirnya suatu Era Progresif yang baru di Amerika. Kelompok-kelompok kepentingan masih terlalu kuat, yang pasti di dalam Kongres--dan bahkan di dalam Gedung Putih. Kelompok-kelompok dan individu-individu yang kaya ini mengobral miliaran dolar kepada calon-calon mereka dalam kampanye pemilihan baru-baru ini, dan mereka mengharapkan imbalan yang setimpal atas sumbangan yang mereka berikan. Lagi pula, 30 tahun pemangkasan pajak telah menguras sumber daya keuangan pemerintah Amerika Serikat yang dibutuhkan untuk melaksanakan program-program yang efektif di bidang-bidang utama, seperti transisi ke energi rendah karbon.
Meski demikian, Obama telah dengan bijak melemparkan tantangan, menyerukan dimulainya era baru pemerintah yang aktif. Ia benar berbuat demikian karena banyak di antara tantangan-tantangan yang krusial hari ini--menyelamatkan bumi dari ekses ulah kita sendiri, menjamin agar kemajuan teknologi memberikan manfaat kepada semua anggota masyarakat, dan membangun infrastruktur baru yang kita butuhkan, baik dalam lingkup nasional maupun global bagi suatu masa depan yang berkelanjutan--menuntut adanya solusi bersama.
Pelaksanaan kebijakan publik sama pentingnya bagi tata kelola pemerintahan yang baik seperti visi yang mendasarinya. Maka itu, tugas kita berikutnya adalah merancang program-program yang bijaksana, inovatif, dan cost effective untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Sayangnya, ketika menyangkut program-program yang berani dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang kritis ini, Amerika akhir-akhir tidak memiliki kesempatan untuk membiasakan dirinya. Sekaranglah saatnya untuk memulainya, dan visi progresif yang ditegaskan Obama itu menunjukkan arah yang benar yang harus ditempuh Amerika. ●

Selasa, 04 September 2012

Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan


Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan
Jeffrey D Sachs ;  Guru Besar Ekonomi Dan Direktur The Earth Institute
pada Columbia University,
Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB Mengenai Millennium Development Goals
KORAN TEMPO , 03 September 2012


Perubahan besar dalam masyarakat terjadi melalui beberapa jalan. Terobosan teknologi-mesin uap, komputer, dan Internet-mungkin memainkan peran utama. Tokoh-tokoh berpandangan jauh, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., dan Nelson Mandela, mungkin memberi inspirasi perjuangan dalam menuntut keadilan. Tokoh-tokoh politik mungkin memimpin gerakan perubahan, seperti Franklin Roosevelt, dengan kebijakan New Deal-nya.

Generasi kita sendiri perlu mendorong lahirnya era perubahan sosial yang baru lagi. Kali ini, kita mesti bertindak menyelamatkan planet bumi dari bencana yang mengancam lingkungan, karena ulah manusia sendiri.

Kita semua merasakan tantangan ini hampir setiap hari. Gelombang panas, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, gunung es yang meleleh, sungai yang tercemar, dan badai ekstrem melanda planet bumi dengan laju yang dramatis akibat berbagai kegiatan manusia. Ekonomi global senilai US$ 70 triliun per tahun itu telah menekan lingkungan dengan beban yang belum pernah seberat saat ini. Kita perlu teknologi, perilaku, dan etika yang baru, yang didukung bukti-bukti yang solid untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon telah menerima tantangan besar ini dari posisinya yang unik dalam persimpangan jalan politik dan masyarakat global. Pada tingkat politik, PBB merupakan tempat bertemunya 193 negara anggota untuk merundingkan dan menciptakan hukum internasional, seperti traktat mengenai perubahan iklim pada KTT Bumi di Rio de Janeiro pada 1992. Pada tingkat masyarakat global, PBB mewakili warga dunia, "kami rakyat-rakyat", seperti tercantum dalam Piagam PBB. Pada tingkat kemasyarakatan, PBB berarti hak dan tanggung jawab dari kita semua, termasuk generasi yang akan datang.

Dalam dua dekade terakhir ini, pemerintah di berbagai negara tidak mampu memberi solusi dalam mengatasi ancaman-ancaman terhadap lingkungan. Para politikus telah gagal melaksanakan dengan baik traktat-traktat yang sudah disepakati pada KTT Bumi di Rio de Janeiro pada 1992. Ban Ki-moon sadar akan pentingnya tindakan yang tegas oleh pemerintah. Tapi ia juga mengakui bahwa masyarakat madani harus memainkan peran yang lebih agresif, terutama karena banyaknya pemerintah dan politikus yang merasa berutang budi kepada kelompok-kelompok kepentingan, sedangkan tidak banyak politikus yang berpikir dalam kerangka waktu melintas dalam pemilihan berikutnya. 

Untuk memberdayakan masyarakat global agar mampu bertindak, Ban Ki-moon telah melancarkan prakarsa global baru yang berani, di mana saya berterima kasih karena bisa ikut di dalamnya. UN Sustainable Development Solutions Network (Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB) merupakan upaya besar untuk mengerahkan ilmu pengetahuan global guna menyelamatkan planet bumi. 

Gagasannya adalah menggunakan jaringan ilmu pengetahuan dan tindakan global untuk menyelamatkan planet bumi dan mengidentifikasi serta menunjukkan pendekatan-pendekatan baru yang tajam terhadap pembangunan berkesinambungan di seantero dunia. Jaringan ini akan bekerja sama dengan dan mendukung pemerintah, badan-badan PBB, organisasi-organisasi masyarakat madani, serta sektor swasta. 

Umat manusia perlu mempelajari cara-cara baru dalam menghasilkan dan menggunakan energi rendah karbon, menanam bahan pangan secara berkelanjutan, dan membangun kota-kota layak huni, serta mengelola lautan, keberagaman hayati, dan atmosfer. Tapi waktu untuk itu makin tipis. 

Kota-kota besar di dunia saat ini, misalnya, sudah dihadapkan pada gelombang panas, meningkatnya permukaan laut, badai yang semakin ekstrem, kemacetan yang parah, serta polusi udara dan air. Kawasan-kawasan pertanian perlu dibuat lebih ampuh untuk mengatasi ketidakpastian iklim yang makin meningkat. Dan, sementara satu kawasan di satu bagian dunia merancang cara yang lebih baik dalam mengelola angkutan, kebutuhan energi, pasokan air, atau pasokan pangannya, keberhasilan-keberhasilan itu harus dengan cepat menjadi bagian dari basis ilmu pengetahuan global, sehingga memungkinkan kawasan-kawasan lain dapat menarik manfaatnya dengan cepat pula. 

Perguruan-perguruan tinggi memainkan peran khusus dalam jaringan ilmu pengetahuan PBB yang baru ini. Tepat 150 tahun silam, Abraham Lincoln memberikan hibah lahan bagi pembangunan universitas-universitas untuk membantu masyarakat setempat meningkatkan produksi pertanian dan mutu kehidupan melalui ilmu pengetahuan. 

Hari ini kita perlu membangun universitas-universitas di seluruh bagian dunia untuk membantu masyarakat menghadapi tantangan pengentasan warga dari kemiskinan, energi yang bersih, pasokan pangan yang berkelanjutan, dan lain-lain. Dengan terhubung bersama, dan meletakkan kurikulumnya secara daring, universitas-universitas di dunia bahkan bisa lebih efektif dalam menemukan dan memajukan solusi berbasis ilmu pengetahuan atas masalah-masalah yang kompleks.

Sektor korporat di dunia juga punya peran penting dalam pembangunan berkelanjutan. Sekarang sektor korporat memiliki dua wajah. Ia merupakan gudang penyimpanan teknologi berkelanjutan, pelopor penelitian dan pengembangan, manajemen kelas dunia, serta kepemimpinan dalam keberlanjutan lingkungan. Namun, pada saat yang sama, sektor korporat juga melobi dengan agresif untuk menghambat undang-undang yang mengatur lingkungan, memotong tarif pajak, dan menghindarkan diri dari tanggung jawab mereka atas kerusakan lingkungan. Kadang-kadang perusahaan yang sama beroperasi di kedua sisi ini. 

Kita, dengan mendesak, perlu perusahan-perusahaan yang berpandangan jauh untuk ikut serta dalam Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan ini. Perusahaan-perusahaan ini menempati kedudukan yang unik untuk mendorong gagasan-gagasan dan teknologi-teknologi baru ke dalam proyek-proyek percontohan tahap awal, sehingga mempercepat siklus pembelajaran global. 

Tidak kurang pentingnya, kita perlu suatu sekelompok inti pemimpin-pemimpin sektor korporat yang disegani untuk menekan sejawat-sejawatnya menghentikan lobi anti-lingkungan dan praktek pengumpulan dana kampanye pemilihan yang telah membuat pemerintah tidak berdaya mengambil tindakan.

Pembangunan berkelanjutan merupakan tantangan bergenerasi, bukan tugas jangka pendek. Penemuan kembali sistem energi, angkutan, pangan, dan sistem-sistem lainnya akan memakan waktu puluhan tahun, bukan tahunan. Tapi sifat jangka panjang dari tantangan ini jangan meninabobokan kita untuk tidak bertindak. Kita harus mulai menemukan kembali sistem kita yang produktif sekarang juga, justru karena jalan perubahan yang harus ditempuh bakal begitu panjang. Sementara bahaya yang mengancam lingkungan sudah mendesak. 

Pada KTT Rio+20 pada Juni lalu, pemerintah dari berbagai negara sepakat mengadopsi suatu sasaran baru pembangunan berkelanjutan untuk periode sesudah 2015, guna melanjutkan keberhasilan yang sudah dicapai dalam Millennium Development Goals dalam mengentaskan warga dari kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. 

Dalam era setelah 2015 nanti, perjuangan melawan kemiskinan dan perjuangan melindungi lingkungan bakal bergandeng tangan dan saling memperkokoh diri. Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon sudah memprakarsai beberapa proyek global untuk membantu menetapkan sasaran-sasaran baru setelah 2015 secara terbuka, partisipatif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Sustainable Development Solutions Network, yang dilancarkan oleh Sekretaris Jenderal PBB, tepat waktu. Tidak hanya dunia bakal mengadopsi serangkaian sasaran baru dalam mencapai pembuangan berkelanjutan, tapi juga bakal memiliki suatu jaringan kepakaran yang baru untuk membantu mencapai sasaran yang sangat penting itu.

Sabtu, 23 Juni 2012

Rio+20 dan Pembangunan Berkesinambungan


Rio+20 dan Pembangunan Berkesinambungan
Jeffrey D Sachs ;  Guru Besar Ekonomi dan Direktur Earth Institute di Columbia University, Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Millennium Development Goals
Sumber :  KORAN TEMPO, 22 Juni 2012


Salah satu penerbitan ilmiah terkemuka di dunia, Nature, baru saja merilis rapor sekolah yang pedas menjelang dibukanya Konferensi Tingkat Tinggi Rio+20 mengenai pembangunan berkesinambungan. Nilai yang diberikan pada pelaksanaan ketiga traktat yang ditandatangani pada akhir KTT Bumi Rio pada 1992 adalah sebagai berikut: perubahan iklim F, keanekaragaman hayati F, dan upaya mengatasi desertifikasi F. Apakah umat manusia sebagai sang murid masih bisa mengelak dikeluarkan dari sekolah?

Kita sudah mengetahui setidak-tidaknya selama satu generasi bahwa dunia membutuhkan jalan menuju koreksi. Bukannya menggerakkan ekonomi dunia dengan bahan bakar fosil, kita perlu menggunakan lebih banyak tenaga alternatif rendah karbon, seperti tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga panas bumi. Bukannya berburu, menangkap ikan, dan membuka lahan tanpa mengindahkan dampaknya terhadap spesies lainnya, kita perlu mengatur laju produksi pertanian, perikanan, serta penebangan hutan kita sesuai dengan daya dukung lingkungan. Bukannya membiarkan masyarakat paling rentan di dunia tanpa akses layanan keluarga berencana, pendidikan, dan kesehatan dasar, kita perlu mengakhiri kemiskinan ekstrem serta menurunkan angka kesuburan yang terus melonjak di negara-negara miskin di dunia.

Singkatnya, kita perlu mengakui, dengan jumlah penduduk 7 miliar saat ini, dan 9 miliar menjelang pertengahan abad ini, semua saling terkait dalam suatu ekonomi global yang high-tech serta padat energi, kemampuan kolektif kita untuk menghancurkan sistem yang mendukung keberlanjutan hidup kita (life support system) sungguh luar biasa. Namun konsekuensi dari tindakan yang kita lakukan tidak kita sadari sehingga, tanpa disadari pula, kita sudah berada di tepi jurang kehancuran.

Ketika kita menyalakan komputer dan lampu, kita tidak menyadari emisi karbon yang dihasilkannya. Ketika kita bersantap di meja makan, kita tidak menyadari penggundulan hutan akibat pertanian yang tidak berkesinambungan. Dan ketika miliaran tindakan yang kita lakukan itu bersatu menciptakan kelaparan serta banjir di sebagian dunia lainnya, mendera rakyat miskin di Mali dan Kenya yang rentan kekeringan, tidak banyak di antara kita yang menyadari bahaya keterkaitan global ini.

Dua puluh tahun yang lalu, dunia mencoba menangani realitas ini melalui serangkaian traktat dan undang-undang internasional. Perjanjian yang ditandatangani pada KTT Rio yang pertama itu sungguh menjanjikan: arif, berpandangan jauh ke depan, bersemangat publik, dan berfokus pada prioritas global. Namun kesepakatan ini belum berhasil menyelamatkan kita.

Traktat-traktat itu hidup dalam bayangkan siklus politik, imajinasi, dan media sehari-hari kita. Para diplomat datang ke konferensi yang diadakan tahun demi tahun untuk melaksanakan perjanjian itu, tapi hasil utama yang dicapainya adalah pengabaian, penundaan, dan percekcokan mengenai penafsiran hukum. Dua puluh tahun sudah berlalu, kita cuma memperoleh tiga angka F untuk dibanggakan.

Adakah jalan lainnya? Jalan melalui undang-undang internasional melibatkan pakar hukum dan diplomat, tapi tidak melibatkan pakar rekayasa, ilmuwan, serta tokoh masyarakat di garis depan pembangunan berkesinambungan. Di jalan ini berserakan rintangan tersembunyi mengenai pemantauan, kewajiban yang mengikat, negara-negara yang masuk Lampiran I dan non-Lampiran II, serta ribuan penafsiran hukum lainnya, tapi gagal memberikan bahasa yang membahas kelanjutan hidup umat manusia itu sendiri.

Kita punya ribuan dokumen, tapi tidak berhasil berbicara dengan jelas satu sama lain. Apakah kita mau menyelamatkan diri kita sendiri dan anak cucu kita? Mengapa kita tidak berkata demikian? Pada KTT Rio+20, kita harus berkata demikian, dengan jelas, tegas, dan dengan cara yang berujung pada penyelesaian masalah serta pengambilan tindakan, bukan cekcok serta membela diri. Karena politikus mengikuti opini, bukan memimpin opini publik, publik itu sendiri yang menuntut kelanjutan hidupnya sendiri, bukan para pejabat terpilih yang seharusnya menyelamatkan kita. Tidak banyak pahlawan dalam bidang politik, dan menanti datangnya politikus bakal memakan waktu terlalu lama.

Maka hasil paling penting yang diharapkan dari Rio bukan berupa traktat, klausul yang mengikat, atau komitmen politik lagi, melainkan harus merupakan seruan global diambilnya tindakan. Di seantero dunia, desakan terus meningkat untuk menempatkan pembangunan berkesinambungan pada pusat pemikiran dan tindakan global, terutama untuk membantu generasi muda menghadapi tiga tantangan mendasar--kesejahteraan ekonomi, kebersinambungan lingkungan, dan inklusivitas sosial--yang bakal menandai era mereka. Rio+20 bisa membantu mereka menghadapi tantangan ini.

Bukannya traktat yang baru, tapi marilah kita mengadopsi dari Rio+20 ini serangkaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang bakal menginspirasi suatu generasi untuk bertindak. Seperti Millennium Development Goals yang membuka mata kita akan kemiskinan ekstrem, dan yang memajukan aksi global memerangi AIDS, tuberkulosis, serta malaria, SDGs bisa membuka mata generasi muda hari ini terhadap perubahan iklim, punahnya keanekaragaman hayati, dan bencana penandusan lahan. Kita masih bisa mewujudkan ketiga traktat Rio itu dengan menempatkan masyarakat di garis depan upaya ini.

SDGs untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem; membebaskan sistem energi dari karbon; memperlamban laju pertumbuhan populasi; memajukan pasokan pangan yang berkesinambungan; melindungi lautan, hutan, dan daratan kering; serta menangani ketidaksetaraan masa ini bisa memperkokoh suatu generasi yang menyelesaikan masalah. Para pakar rekayasa dan teknologi dari Silicon Valley sampai Sao Paolo, Bangalore, dan Shanghai punya gagasan menyelamatkan dunia yang masih mereka rahasiakan. Universitas di seantero dunia merupakan rumah dari ribuan siswa serta tenaga pengajar yang berniat mengatasi masalah praktis di lingkungan komunitas dan negeri mereka. Dunia usaha, setidak-tidaknya yang baik, sadar bahwa mereka tidak bisa berkembang dan memotivasi para pekerja dan konsumen kecuali mereka menjadi bagian dari solusi itu sendiri.

Dunia sudah siap bertindak. Rio+20 bisa membantu menggerakkan satu generasi yang akan mengambil tindakan itu. Masih ada cukup waktu bagi umat manusia untuk mengubah nilai F menjadi A dalam rapor sekolahnya dan lulus dalam ujian akhirnya nanti. ●

Selasa, 05 Juni 2012

Bantuan Melawan Penyakit Terbukti Berhasil


Bantuan Melawan Penyakit Terbukti Berhasil
Jeffrey D Sachs ; Guru Besar Ekonomi dan Direktur Earth Institute di Columbia University, Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Millennium Development GOALS
SUMBER :  KORAN TEMPO, 4 Juni 2012


Salah besar mereka yang mengecam bantuan luar negeri sebagai upaya yang sia-sia. Semakin banyak data yang menunjukkan tingkat kematian di banyak negara miskin menurun dengan tajam, dan program-program yang didukung bantuan luar negeri dalam penyediaan layanan kesehatan telah memainkan peran penting dalam menyelamatkan jutaan nyawa manusia.

Salah satu studi paling baru yang dilakukan Gabriel Demombynes dan Sofia Trommlerova menunjukkan angka kematian bayi di Kenya (kematian di bawah usia 1 tahun) menurun tajam pada tahun-tahun terakhir ini berkat tersedianya secara besar-besaran kelambu yang melindungi rakyat miskin dari serangan nyamuk malaria. Temuan ini konsisten dengan studi mengenai tingkat kematian akibat malaria yang dilakukan Chris Murray dan para peneliti lainnya, yang juga menemukan penurunan angka kematian akibat malaria yang cepat setelah 2004 di kawasan sub-Sahara Afrika, berkat langkah-langkah mengendalikan malaria dengan bantuan luar negeri.

Marilah kita kembali ke 12 tahun silam. Pada 2000, Afrika menghadapi tiga epidemi utama. AIDS membunuh lebih dari 2 juta orang setiap tahun, dan menyebar dengan cepat. Malaria merebak di mana-mana karena semakin kuatnya resistansi parasit terhadap obat-obat standar yang ada pada saat itu. Tuberkulosis juga demikian halnya, sebagian akibat epidemi AIDS dan sebagian lagi juga karena munculnya jenis TBC yang resistan terhadap obat. Di samping itu, setiap tahun ratusan ribu wanita meninggal saat melahirkan karena tidak memperoleh akses melahirkan di puskesmas atau rumah sakit atau bantuan darurat bila diperlukan.

Berbagai krisis yang saling terkait ini mendorong diambilnya tindakan. Pada September 2000, negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Millennium Development Goals (MDGs). Tiga dari delapan sasaran MDGs--menurunkan angka kematian anak, angka kematian ibu saat melahirkan, dan sebaran penyakit-penyakit yang epidemis--berfokus langsung pada upaya peningkatan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Sedunia telah mengeluarkan seruan ditingkatkannya bantuan pembangunan di bidang kesehatan. Dan para pemimpin Afrika, di bawah pimpinan Presiden Nigeria waktu itu, Olusegun Obasanjo, menerima tantangan melawan penyakit epidemis yang menyerang benua itu. Nigeria menjadi tuan rumah dua konferensi tingkat tinggi yang bersejarah, mengenai malaria pada 2000 dan mengenai AIDS pada 2001, yang merupakan pendorong utama diambilnya tindakan.

Pada konferensi tingkat tinggi yang kedua, Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kofi Annan, menyerukan dibentuknya Global Fund to Fight AIDS, TB, and Malaria (Dana Global Melawan AIDS, TBC, dan Malaria). Dana global ini mulai bekerja pada 2002 untuk membiayai program pencegahan, pengobatan, dan perawatan ketiga penyakit tersebut. Negara-negara dengan pendapatan yang tinggi juga akhirnya sepakat mengurangi utang yang ditanggung negara-negara miskin, sehingga memungkinkan mereka meningkatkan belanja induk program kesehatan dan mengurangi belanja untuk membayar utang mereka kepada kreditor.

Amerika Serikat juga mengambil tindakan dengan mengadopsi dua program utama MDGs. satu untuk melawan AIDS dan satu kainnya untuk melawan malaria. Pada 2005, Millennium Project PBB merekomendasikan pendekatan khusus dalam meningkatkan layanan primer kesehatan di negara-negara miskin. Negara-negara yang berpendapatan tinggi membantu menutup biaya yang diperlukan untuk ini yang tidak mampu ditanggung sendiri oleh negara-negara miskin. Majelis Umum PBB mendukung banyak di antara rekomendasi yang diajukan Millennium Project itu, yang kemudian mulai dilaksanakan di sejumlah negara berpendapatan rendah.

Bantuan donor mulai meningkat dengan tajam berkat upaya-upaya ini. Pada 1995, total bantuan untuk layanan kesehatan mencapai sekitar US$ 7,9 miliar. Menjelang 2000, jumlah yang tidak mencukupi ini kemudian perlahan-lahan meningkat sampai US$ 10,5 miliar. Menjelang 2005, bantuan setiap tahun untuk layanan kesehatan ini naik US$ 5,9 miliar lagi, dan menjelang 2010, jumlahnya bertambah US$ 10,5 miliar, sehingga mencapai US$ 26,9 miliar pada tahun itu.

Bertambahnya dana memungkinkan dilakukannya kampanye besar-besaran melawan AIDS, TBC, dan malaria, serta ditingkatkannya upaya penyelamatan kelahiran anak dan ketersediaan vaksin, termasuk untuk polio yang hampir telah berhasil diberantas sama sekali. Banyak teknik layanan kesehatan masyarakat yang inovatif telah dikembangkan dan diadopsi. Dengan 1 miliar penduduk yang hidup di negara-negara berpendapatan tinggi, jumlah bantuan dari negara donor ini pada 2010 mencapai sekitar US$ 27 per orang-–jumlah yang kecil bagi mereka, tapi yang sangat berarti dalam menyelamatkan banyak nyawa rakyat di negara-negara miskin.

Keberhasilan di bidang kesehatan masyarakat sekarang bisa dilihat di banyak bidang. Pada 1990, sekitar 12 juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal. Menjelang 2010, angka ini turun menjadi sekitar Rp 7,6 juta-–masih terlalu tinggi, tapi jelas merupakan kemajuan bersejarah. Kematian akibat malaria di kalangan anak-anak di Afrika menurun dari angka tertinggi sekitar 1 juta pada 2004 menjadi sekitar 700 ribu menjelang 2010, dan di seluruh dunia, kematian di kalangan wanita hamil menurun hampir separuh antara 1990 dan 2010, dari perkiraan sebanyak 543 ribu menjadi 287 ribu.

Dengan bantuan per tahun US$ 10-15 miliar lagi (artinya US$ 10-15 miliar lagi bantuan per orang di negara-negara berpendapatan tinggi), sehingga total bantuan mencapai sekitar US$ 40 miliar per tahun, kemajuan yang lebih besar lagi diharapkan terjadi pada tahun-tahun yang akan datang. MDGs untuk kesehatan bisa terwujud bahkan di banyak negara paling miskin di dunia.

Sayangnya, pada setiap langkah yang diambil selama dekade yang lalu-–dan masih juga sampai hari ini-–ada suara yang skeptis mengenai bantuan yang dibutuhkan ini. Mereka berkali-kali mengatakan bahwa bantuan itu sia-sia; dana itu terbuang percuma; kelambu antimalaria tidak bisa diberikan kepada masyarakat miskin karena mereka tidak akan menggunakannya; masyarakat miskin tidak akan menggunakan obat anti-AIDS dengan benar; dan seterusnya. Kecaman mereka gencar (saya sendiri mengalaminya).

Para penentang bantuan tersebut bukan hanya salah besar. Antagonisme mereka yang vokal itu masih mengancam pendanaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas kemanusiaan ini, untuk menurunkan angka kematian anak dan ibu yang cukup dengan tercapainya sasaran MDGs menjelang 2015 di negara-negara miskin. Dan sesudah itu melanjutkannya guna menjamin semua orang di mana pun berada pada akhirnya memperoleh akses layanan dasar kesehatan ini.

Sepuluh tahun kemajuan yang telah dicapai di bidang kesehatan membuktikan kelirunya mereka yang skeptis itu. Bantuan luar negeri untuk layanan kesehatan berhasil--dengan baik-–dalam menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kehidupan. Marilah kita terus mendukung program yang menyelamatkan nyawa manusia ini, yang menjunjung tinggi harkat dan kesejahteraan semua orang di muka bumi ini. ●

Senin, 02 April 2012

Terobosan Kepemimpinan Bank Dunia


Terobosan Kepemimpinan Bank Dunia
Jeffrey D Sachs, Guru Besar Ekonomi dan Direktur The Earth Institute di Columbia University, Penasihat Khusus Sekjen PBB Mengenai Millennium Development Goals
SUMBER : KORAN TEMPO, 02 April 2012



Bulan lalu saya menyerukan agar Bank Dunia dipimpin oleh seorang tokoh pembangunan global, bukan seorang bankir atau politikus dari dalam. "Bank Dunia memerlukan seorang profesional yang tangguh yang siap menangani tantangan besar pembangunan berkesinambungan dari hari pertama," demikian saya tulis. Karena sekarang Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah mencalonkan Jim Kim untuk jabatan itu, dunia bakal memperoleh persis apa yang saya usulkan: seorang tokoh pembangunan yang luar biasa.

Obama telah menunjukkan kepemimpinan yang riil dengan mencalonkan Kim. Ia telah meletakkan pembangunan di barisan depan ketika mengatakan, "Sudah saatnya seorang profesional pembangunan memimpin lembaga keuangan yang paling besar di dunia ini." Dicalonkannya Kim merupakan terobosan bagi Bank Dunia, yang saya harap bakal dilakukan juga pada lembaga-lembaga global lainnya. Sampai saat ini, Amerika memiliki semacam carte blanche untuk menunjuk siapa saja yang dimauinya guna menduduki kursi kepemimpinan Bank Dunia. Itulah bagaimana Bank Dunia akhirnya memperoleh pemimpin yang tidak tepat, termasuk bankir dan politikus dari dalam yang tidak memiliki pengetahuan dan minat memimpin perjuangan melawan kemiskinan.

Untuk mendobrak tradisi itu dan menggarisbawahi pentingnya Bank Dunia menempatkan seorang tokoh pembangunan guna memimpin Bank Dunia, saya telah ikut dalam kampanye pemilihan itu sendiri, dan saya merasa sangat terhormat atas dukungan publik yang saya terima dari selusin negara, dan banyak lagi dukungan pribadi. Dicalonkannya Kim merupakan kemenangan bagi semua, dan saya dengan gembira telah menarik diri dari pencalonan saya guna memberikan dukungan kepada Kim.

Kim adalah salah seorang pemimpin terkemuka di dunia di bidang kesehatan masyarakat. Ia telah bekerja dengan seorang tokoh kesehatan masyarakat lainnya, Paul Farmer, dalam memelopori penyampaian layanan perawatan bagi para penderita AIDS, tuberkulosis, dan penyakit-penyakit lainnya di kalangan rakyat miskin di dunia. Belum lama ini ia diangkat sebagai Rektor Dartmouth College, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Amerika. Maka ia menggabungkan pengalaman profesional, pengalaman global, dan know-how manajemen yang luas--semuanya kredensial yang sempurna untuk jabatan Ketua Bank Dunia.

Saya telah bekerja dan mengenal dengan dekat Kim selama beberapa tahun. Ia seorang visioner yang melihat kemungkinan memberi perhatian yang belum diberikan. Ia seorang yang berani, siap menghadapi tantangan. Dan ia seorang yang sangat sistematis, yang merancang protokol-protokol baru dan sistem penyampaiannya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ia memimpin upaya Bank Dunia meningkatkan perawatan AIDS di negara-negara yang berpenghasilan rendah, dan apa yang ia lakukan itu patut menjadi contoh.

Dicalonkannya Kim oleh Amerika ini bukan akhir cerita. Dua puluh lima orang Direktur Eksekutif Bank Dunia, yang mewakili 87 negara anggota, sekarang harus menentukan pilihan mereka dari tiga calon. Kim menghadapi tantangan dari Menteri Keuangan Nigeria yang terkemuka, Ngozi Okonjo-Iweala, dan Menteri Keuangan Kolombia Jose Antonio Ocampo. Tapi Kim merupakan favorit untuk jabatan yang diperebutkan itu, terutama karena rekor pencapaian globalnya yang cemerlang.

Bulan lalu saya telah juga mengingatkan mengapa Bank Dunia begitu berarti, dan mengapa saya menekankan pentingnya profesionalitas kepemimpinan Bank Dunia. Tragis bahwa pemerintah Mali baru saja digulingkan dalam suatu kup. Ironisnya, suatu pemilihan umum sudah dijadwalkan musim semi ini, jadi negeri itu seyogianya bakal memiliki pemerintah yang baru. Saya mengaitkan kup ini dengan Bank Dunia karena alasan berikut: Mali adalah suatu contoh lainnya dari suatu negara dengan kemiskinan ekstrem, penyakit, kekeringan, dan kelaparan telah menimbulkan ketidakstabilan politik serta kekerasan.

Saya mengenal baik negeri ini. Sesungguhnya Earth Institute (yang saya pimpin) memiliki kantor yang besar di Mali. Beberapa tahun yang lalu pemerintah Mali memohon kepada saya agar mengusahakan bantuan guna memerangi kemiskinan yang makin buruk di negeri itu, tapi Bank Dunia dan pihak-pihak lainnya hampir sama sekali tidak memberikan respons. Mereka tidak melihat bahaya yang begitu gamblang bagi semua di antara kita yang bekerja di desa-desa negeri itu.

Sudah tentu kemiskinan bukan satu-satunya penyebab ketidakstabilan Mali. Perpecahan etnis, maraknya pasar penjualan senjata, sebagai limpahan kekerasan yang terjadi di Libya, dan faktor-faktor lainnya memainkan peran besar. Tapi, di seantero dunia, kemiskinan merupakan kondisi dasar yang mempercepat dan meningkatkan kekerasan.
Kekeringan yang terjadi tahun ini membuat situasi di Mali yang sudah buruk semakin buruk. Saya sudah mengatakan dan menulis selama bertahun-tahun bahwa kawasan-kawasan lahan kering yang membentang dari barat ke timur--dari Senegal ke Mali, Niger, Chad, Sudan, Somalia, Yaman, Irak, Iran, Pakistan, dan Afganistan--merupakan bom waktu, dengan perubahan cuaca, kekeringan, kelaparan, dan pertumbuhan penduduk yang telah menciptakan ketidakstabilan yang semakin besar.

Ketidakstabilan itu mencetuskan perang saudara dengan frekuensi yang mengerikan. Sebagai spesialis yang bekerja di lapangan di kawasan-kawasan lahan yang kering ini, saya tahu solusi militer tidak bisa menstabilkan kawasan yang luas ini selama rakyat tetap lapar, menghadapi kelaparan, kekurangan air, dan tanpa mata pencaharian dan harapan. Pembangunan berkelanjutan merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Pemerintah Amerika akhirnya menyadari realitas yang mengerikan ini. Suatu laporan penilaian oleh badan intelijen Amerika, yang dirilis Februari lalu, mengatakan, "Selama 10 tahun yang akan datang, masalah air bakal menyumbang bagi ketidakstabilan di negara-negara yang penting bagi keamanan nasional Amerika." Sudah tentu, bukan hanya kepentingan dan keamanan nasional Amerika, tapi juga kepentingan serta keamanan global dan kesejahteraan jutaan orang. Dan tidak perlu menunggu 10 tahun yang akan datang: kenyataan mengerikan yang diprediksi dalam laporan itu sudah berada di tengah-tengah kita.

Semua ini menggarisbawahi pentingnya Bank Dunia dan peran Kim di puncak pimpinan. Bank Dunia bisa menjadi tempat dunia bersidang untuk menangani masalah-masalah pembangunan berkelanjutan yang berat tapi bisa dipecahkan ini, yang menyatukan pemerintah, ilmuwan, pakar, organisasi masyarakat madani, dan publik untuk mewujudkan tujuan itu. Ini adalah sesuatu yang mutlak diwujudkan, dan kita semua bisa menyumbang bagi terwujudnya tujuan ini dengan memastikan Bank Dunia merupakan lembaga yang benar-benar untuk dunia yang dipimpin dengan kepakaran dan integritas. Pencalonan Kim merupakan langkah besar ke arah tercapainya tujuan itu. ●