Sabtu, 30 Desember 2017

Belajar dari Grenfell

Belajar dari Grenfell
Neli Triana ;  Wartawan Kompas
                                                    KOMPAS, 26 Desember 2017



                                                           
Kelalaian hampir selalu berujung musibah. Kelalaian menata kota terbukti memicu bencana kemanusiaan. Jangan mau terus terulang. Mari belajar dari tragedi di sepanjang 2017 ini.

Menara Grenfell di Kensington North, London barat, Inggris, terbakar hebat di pertengahan tahun ini. Kompleks apartemen milik pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah itu dilalap api dan menewaskan sekitar 80 penghuninya.

Saat ini, para penghuni yang selamat didukung sebagian masyarakat Inggris dan pemerhati masalah keamanan publik memperjuangkan penegakan hukum atas tragedi Grenfell. Tragedi yang diyakini disebabkan oleh kelalaian pengelolaan, pembangunan, juga pengawasan terhadap kelaikan gedung tinggi untuk hunian publik itu.

Bukti kelalaian itu antara lain dipaparkan dalam artikel ”Building Regulations Unfit for Purpose, Grenfell Review Finds” di The Guardian, 18 Desember lalu, yang membahas laporan ”Building a Safer Future, Independent Review of Building Regulations and Fire Safety: Interim Report” oleh Dame Judith Hackitt. Laporan Hackitt yang baru saja dipublikasikan bulan ini merupakan sebuah tinjauan peraturan bangunan yang dilakukan setelah kebakaran di Grenfell. Hackitt menemukan bahwa sistem di London berjalan tak sesuai dengan tujuan dan terbuka terhadap penyalahgunaan oleh ”mereka” yang berusaha menghemat uang. Mereka yang dimaksud adalah kontraktor, pengelola, pengawas, dan instansi pemerintah terkait.

Menara Grenfell didirikan tahun 1974 dan baru selesai direnovasi dengan biaya sekitar 10 juta poundsterling tahun 2016. Diyakini, kontraktor menggunakan bahan yang tidak aman, seperti pelapis fasad yang justru meningkatkan intensitas jalaran api. Para penghuni, mayoritas imigran, yang mendiami 120 unit apartemen Grenfell tercatat sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada manajemen soal kekhawatiran akan risiko kebakaran.

Puncaknya, pada 14 Juni 2017 subuh itu, api sedemikian cepat merambat dari lantai 2 ke lantai 24 dan sangat sulit dipadamkan. Gedung ini ternyata juga hanya memiliki satu pintu masuk dan keluar sehingga menyulitkan evakuasi.

Dalam kata pengantar laporannya, Hackitt mengatakan terkejut terhadap beberapa praktik yang telah dia temukan. ”Pola pikir melakukan hal-hal semurah mungkin dan melemparkan tanggung jawab atas masalah dan kekurangan kepada orang lain harus dihentikan,” tulisnya.

Penggunaan pelapis tembok seperti di Grenfell juga ditemukan di beberapa gedung tinggi lain di London. Hal ini mengundang tekanan kepada pemerintah pusat dan kota untuk berbenah. Korban Grenfell yang selamat didukung masyarakat terus mendesak hingga akhirnya pemerintah pusat memutuskan ada investigasi publik atas bencana mengerikan ini.

Perjalanan mungkin masih panjang bagi korban Grenfell untuk mendapatkan keadilan. Namun, warga kota London yang paham hak dan tanggung jawabnya tak lelah berupaya agar masyarakat, khususnya mereka yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah, tidak terus jadi korban ketidakadilan kebijakan pemerintah.

Tragedi Kosambi

Bagaimana dengan Indonesia, khususnya metropolitan Jakarta dan sekitarnya?

Tragedi tak kalah buruk menimpa pada Kamis, 26 Oktober 2017, sekitar pukul 09.00. Pabrik pembuatan kembang api di Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang terletak tak jauh dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, meledak dan membunuh sedikitnya 48 pekerja serta melukai 46 orang lainnya. Sebagian korban tewas adalah pekerja usia remaja.

Penyebab peristiwa ini, menurut penyelidikan polisi, adalah aktivitas tukang las di atap tepat di atas timbunan bahan utama kembang api. Percikan api dari alat las memicu ledakan dan kebakaran hebat yang nyaris meluluhlantakkan keseluruhan bangunan pabrik seluas lebih dari 500 meter persegi dengan lebih dari 100 pekerja itu. Getaran ledakan dirasakan oleh warga yang bermukim di sekitar pabrik produsen puluhan hingga ratusan ton kembang api per hari tersebut.

Polisi menetapkan tiga tersangka atas kasus Kosambi. Pemilik pabrik, direktur operasional, dan tukang las. Dua tersangka kini diproses hukum, sementara tukang las turut menjadi korban meninggal dalam kobaran api.

Tiga bulan berlalu usai bencana Kosambi. Tak terdengar lagi kelanjutan investigasi kasus itu. Padahal, kasus ini diyakini merupakan dampak kesemrawutan pemerintah daerah dalam mengelola dan menerbitkan izin di sentra industri. Di luar pabrik yang hangus terbakar, PT Panca Buana Cahaya Sukses tetap menjalankan aktivitasnya di kantor pusat dan pabrik cabang yang disebut-sebut berada di Jakarta Barat. Padahal, perusahaan itu terbukti lalai menjaga keselamatan pekerjanya, bahkan merekrut pekerja di bawah umur. Di samping itu, tidak ada tuntutan hukum bagi aparat pemerintah yang tidak menyediakan infrastruktur memadai di wilayahnya.

Catatan Kompas menunjukkan, dalam 17 tahun terakhir terjadi 10 kali kebakaran besar di Kecamatan Kosambi. Di Desa Belimbing saja, hingga saat ini terdapat 75 pabrik dan 30 gudang. Belum pabrik dan gudang di desa-desa lain di Kosambi juga kawasan lain yang berbatasan dengannya yang masuk wilayah kota tetangga, Kota Tangerang. Karena itu, sebagian warga berpindah mata pencarian dari petani menjadi buruh pabrik. Penduduk pendatang dari daerah lain berdatangan ke Kosambi dan sekitarnya. Hal itu ditandai menjamurnya rumah petak kontrakan.

”Saya melihat pelayanan pemerintah daerah sangat minim. Kapasitas jalan di sentra industri kurang. Apakah pemda hanya mengambil pemasukan dari penerbitan izin?” kata anggota Komisi VIII DPR, Diah Pitaloka, seperti dikutip harian ini pada Senin, 30 Oktober 2016.

Mursan (55), warga Desa Belimbing, yang tinggal di wilayah itu selama 30 tahun, mengatakan, tidak pernah ada pencegahan kebakaran dari pemilik pabrik dan gudang ataupun pemerintah daerah. Padahal, sebagian besar pabrik dan gudang di desa ini berbatasan langsung dengan permukiman warga. Selain itu, pipa aliran gas ke Bandara Soekarno-Hatta juga ditanam di sini. Hanya ada beberapa papan peringatan bahaya kebakaran di bahu Jalan Salembaran Pipa, Desa Belimbing.

Prosedur administrasi perizinan pabrik kembang api pun nyaris tak disentuh untuk diinvestigasi. Bahan utama kembang api yang jelas mudah meledak bisa begitu banyak terkumpul di satu tempat dan tak terjelaskan berasal dari mana.

Penataan kawasan Kosambi dan kawasan sekitarnya yang berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta, tepatnya dengan Jakarta Barat, juga dipertanyakan. Bagaimana kawasan pabrik dan pergudangan menyatu dengan permukiman yang kelengkapan infrastruktur seperti akses jalan sempit dan peralatan antisipasi kebakaran minim.

Presiden Joko Widodo pernah menitahkan agar ada penyelidikan tuntas atas musibah ini. Di akhir tahun ini, baru ada kabar rencana penataan ruang kembali di pesisir Pantai Utara Kabupaten Tangerang, termasuk Kosambi. Apakah ini reaksi atas musibah Kosambi dan upaya antisipasi pertumbuhan kota agar lebih terkendali? Sepertinya, masih belum jelas.

Perjuangkan hak

Ketidakjelasan pengelolaan kota ini sebelumnya telah mengemuka ketika pusat perbelanjaan Cinere Bellevue Mall, Kota Depok, terbakar pada 4 Oktober 2017. Api berasal dari ruang trafo di lantai basement yang merambat ke lantai dasar dan lantai 1 serta berpotensi menjalar ke apartemen. Api baru bisa diatasi setelah sekitar 24 jam petugas pemadam berjuang di lokasi.

Terhitung hingga di pengujung tahun ini, Jakarta dengan 10 juta jiwa penduduknya dan bertaburan gedung jangkung dengan ketinggian di atas 100 meter baru memiliki satu mobil tangga pemadam dengan tinggi maksimal 90 meter. Peralatan pemadam lainnya pun terbatas jumlahnya, apalagi di kota-kota di sekitarnya.

Di luar keamanan gedung tinggi, pemadaman di perumahan atau kampung tak luput dari kekurangan. Ruas-ruas jalan sempit susah ditembus mobil pemadam dan keterbatasan sumber air untuk pemadaman. Juga minim sanksi atas kurangnya kesadaran masyarakat dan instansi terkait dalam pemasangan dan perawatan instalasi listrik nyaris tak berubah sejak 5-10 tahun lalu. Rata-rata terjadi 1-3 kebakaran tiap hari di Jakarta.

Kerugian, keluhan, dan ketidakpuasan warga terkait tipisnya upaya antisipasi kebakaran tidak pernah maksimal tertangani. Belum muncul kesadaran massal menuntut pertanggungjawaban pihak berwenang.

Jadi, inilah wajah metropolitan kita. Begitu cemerlang dengan kehadiran bangunan-bangunan tinggi menjulang berlapis dinding kaca, jalan-jalan tol mulus terus dibangun, kawasan-kawasan elite bermunculan hampir di setiap sudut Jabodetabek. Di kawasan sekitar Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, direncanakan menjadi aerocity atau aetropolis, kota berbasis pengembangan bandara.

Namun, di depan mata pula, ketidakseimbangan berlangsung. Infrastruktur mendasar penjamin keselamatan warga belum terbangun. Antisipasi kebakaran hanyalah satu dari sekian banyak infrastruktur pelayanan kebutuhan warga sekaligus menjamin keamanannya.

Padahal, Shakespeare, seperti dikutip dalam buku The City Reader, menulis ”the people are the city". Masyarakat yang dimaksud jelas merujuk pada semua orang penghuni kota, tak peduli latar belakangnya. Kebutuhan merekalah yang mutlak harus dipenuhi oleh pengelola kota. Saatnya berani bersuara, perjuangkan hak. Jangan kalah dengan korban Grenfell. ●

1 komentar:

  1. ||Satu Akun semua jenis Game ||

    Game Populer:
    =>>Sabung Ayam S1288, SV388
    =>>Sportsbook,
    =>>Casino Online,
    =>>Togel Online,
    =>>Bola Tangkas
    =>>Slots Games, Tembak Ikan, Casino
    Permainan Judi online yang menggunakan uang asli dan mendapatkan uang Tunai
    || Online Membantu 24 Jam
    || 100% Bebas dari BOT
    || Kemudahan Melakukan Transaksi di Bank Besar Suluruh INDONESIA

    Pakai Pulsa Tanpa Potongan
    Juga Pakai(OVO, Dana, LinkAja, GoPay)
    Support Semua Bank Lokal & Daerah Indonesia

    WhastApp : 0852-2255-5128

    BalasHapus